TheHOPE.id – Aku menyitir kalimat yang dibuat Albert Einstein dalam mengawali tulisan ku untuk mencurahkan pemikiranku yang sederhana ini dan membagikan kepada kita. Aku tahu ini terlalu naif, namun bagi kamu yang setuju tulisan terkesan polos, terimakasih telah menikmatinya. Sebagai seorang yang memiliki hobi menulis dan bercita-cita menjadi host layaknya yaa… di Kick Andy memang tidaklah mudah. Namun itu mimpiku. Aku akan terus menulis, menulis dan menulis serta belajar , belajar dan sampai tulisanku, berkenan kamu baca. Hmm… ini tidak mudah dan butuh kegigihan dan ekstra keberanian.
Karna bagiku, setiap hari, hidup itu adalah mujizat. Mulai aku terlahir dari ketidak mungkinan keadaan, namun selalu saja Tuhan menyisipkan mujizat; aku diinjinkan hidup. Membuka mata untuk meneruskan hidup ini. Langkah hidup terus sampai ceritera yang tak kuketahui alurnya, hidup ini selalu ada mujizat Tuhan yang mengarahkan alurnya. Sampai hidup itu seperti perahu yang bergoncang, tiang layarnya berderak derik dipermainkan ombak. Maju selangkah mundur dua langkah kemudian terseok-seok, maju lagi. Langkah nyaris putus asa. Kembali lagi mujizat-Nya menuntun, mesti tak kusadari datang menghampiri. Lalu, aku dipertemukan teman-teman yang bersama-sama diajak untuk menulis.
Maka hari-hari yang ada adalah sebuah kesempatan bagi diriku untuk bisa terus melanjutkan mimpiku.
Terlalu banyak waktu yang terus terbiarkan mengilas dan menghanyutkan kesempatan, tak sempat bagiku berlama-lama untuk menyesalinya, sebab bagiku untuk waktu menyesali, merenungkan yang sudah terlanjur salah dalam bertindak dan mengabaikannya adalah mungkin. Semua kujadikan yang sia-sia itu menjadi bagian cara Tuhan untuk merenda hari-hariku dengan mujizat-Nya. Sehingga kita kadang tidak menyadari mujizat yang sedemikian nyata dan ada di sekitar kita untuk kita syukuri, tapi kita diam, bisu dan seolah Ia tidak menyapanya dengan mujizat-Nya. Malahan mujizat itu seolah tidak ada dan hanya sewaktu waktu saja.
Tuhan memberi kita untuk pelajaran yang indah, yaitu untuk mengetahui dan peka bahwa hidup tidak hanya menggelinding dan yang kita harap itu belum ada. Tidak, dan itu adalah tidak mungkin. Hidup adalah menanggapi Tuhan menyediakan mujizat dengan cara kesediaan kita bekerja, berkarya dengan hati yang tulus dan kadang pengorbanan yang ikhlas.
Di masa-masa pandemi, selalu saja ada moment yang luar biasa; kita masih hidup dan bisa bekerja, ditempat lain ada yang harus kehilangan pekerjaan, usahanya tutup. Belum lagi datang Omicron, lalu tiba-tiba minyak goreng menguap dari pasaran dan menjadi mahalnya, tahu tempe, daging dan kebutuhan pokok lain di bumi Ungaran, tempat tinggal daerahku. Media menumpahkan berita orang antri untk beli minyak goreng dimana-mana. Di kota besar kota kecil, di daerah ibu kota DKI sampai pelosok negeri. Gelombang gerutuan, omelan serta rasa marah. Padahal mereka yang baru saja tersenyum gembira karena survey prestasi pemerintah; berhasil. Suasana berganti cepat, hawa kenyinyiran. Rasa omelan karana kebutuhan minyak menghalangi kita semua atau setidaknya yang termakan kenyataan itu termasuk diriku, sulit melihat hidup adalah mujizat Tuhan. Seperti bangsa Israel yang marah, nyinyir karena air minum habis, dan cepat melupakan mujizat yang sudah sudah. Akibatnya, aku harus memutar otak kembali. Dalam kengiluan tubuh dan sendi-sendi tulang ini. Di situ aku belajar apa artinya berdoa. Mujizat bukan tidak ada tapi kita tidak mau tahu itu ada. Bagi orang dewasa yang lain, naiknya harga kebutuhan “pokok” tidak masalah tapi jangan minyak goreng, seakan menggucangkan sendi ekonomi dan membuat orang murka. Sungguh ironi.
Kepekaan akan kehadiran Tuhan dengan mujizat-Nya, seperti dikatakan FX Nguyen Van Thuan, “Allah ada di dalam aku dan dekat maka ada kebahagian meski keadaan yang sulit”. Dengan kata lain, Allah selalu dekat dan ada mujizat supaya aku bisa menyelesaikan karyaku ini untuk rekan-rekan semua.
Kutegaskan diriku dengan menyakini kutipan Albert Einstein, hidup ada munjizat. Meraih sarjana, terlalu tinggi harapanku itu, seperti katak merindukan bulan kata ayahku. Di tengah-tengah peristiwa meninggalnya adikku di pulau Batam yang mustahil kuurus sendirian sampai kubawa pulang di Salatiga bersamaan dengan berkejaran dengan batas waktu untuk berjuang menyelesaikan studi. Kembali aku menyadari mujiazat hidup itu adalah wujud dari bagian anugerah-Nya. Hampir saja dalam kurun waktu 9.5 tahun aku menjadi mahasiswa abadi di kampusku. Semua berkuliah maksimal 4 sampai 5 tahun dan aku hampir 10 tahun.
Aku diingatkan kembali, waktu-waktu yang berlalu dan akan datang, Tuhan terus melatih langkahku, mentalku dan semuanya yang diperlukan hidup ini. Gagal berhasil, mengerti dan lagi kesulitan untuk bisa mengulang belajar, seperti anak diajar naik sepeda, jatuh dan kembali tegak lagi belajar sampai untuk mengerti bagaimana mengendarainya. Dan dari semua peristiwa itu sang ayah ada di sisinya sehingga belajar itu terlatih tidak terhenti. Sekali lagi, semua karena rencana Tuhan, akhirnya gelar sarjana aku sandang.
Aku belajar sesuatu dalam hal ini, bahwa proses apapun yang kita jalani itu tidaklah luput dari pandangan mata Tuhan dan mujizatnya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah dalam rancangan-Nya yang indah dan ada mujizat selalu.
Sekalipun kemarin adalah waktu yang tidak mudah. Saya optimis tahun ini tahun depan, terus ada kebaikan-kebaikan Tuhan dan ada mujizat di dalam hidup ini bagi kita semua. “Hope springs eternal in the human breast. Man never is, but always to be blest – Harapan terpancar abadi di dada manusia. Manusia tidak pernah ada, tetapi selalu diberkati.” Alexsandar Pope. Amin – dy