Sinode Gereja Isa Almasih

GIA Barutikung

GIA Dr. Cipto, Sub-Wilayah Bandarharjo, Semarang

Ditempa menjadi Jemaat yang Kuat

Oleh: Thomas Esha
Dalam menghadapi penganiayaan, ketidaktahuan dan pemusuhan, Gereja perlu mempertahankan praktek hidup dan imannya, The Story of Christianity
Terang Injil ada di daerah ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’


Barutikung. Tepatnya Kampung Barutikung, di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, tahun 1970-1980, kampung yang dikenal sebagai kantong kriminal, sarang penjahat, sarang preman, dan memiliki slogan ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’.

Sejak awal, Gereja berhadapan dengan berbagai tantangan, tulis Michael Collins seorang peneliti dan sejarahwan gereja dari American University di Roma. Rupanya tantangan yang hebat itu mulai diawali karena ada benih gereja yang tertabur oleh berita Injil di daerah Kampung Baru Tikung. Berita Injil lewat persekutuan doa yang terdiri dari lima keluarga dari Bala Keselamatan Korps Semarang II, jl. Dr. Cipto 64 Semarang. Mereka ingin berbakti di Bandarharjo karena jarak yang cukup jauh dari jalan dr. Cipto. Kerinduan selama
empat tahun yang tak terwujud, mereka berinisiatif untuk berkumpul dan mengadakan kebaktian di rumah salah seorang jemaat, bapak Jumeno jl. Lodan Raya 13. Selama lima tahun mereka dilayani
secara konsulen oleh Pdt. Soetojo dari Gereja Baptis Citarum Semarang. Sejak saat itu, daerah yang kental dengan teriakan kebencian dan sumpah serapah, ada suara “Halleluya, puji Tuhan”. Suara pujian bagi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan itu seperti sinar terang menyuarak di kegelapan Kampung Baru Tikung, Bandarharjo.

D
Awal tidak mudah tapi bukan mustahil

Allah tidak pernah berjanji akan selalu memberi kemudahan di setiap gerak anak-anak Tuhan, tetapi Dia berjanji akan selalu memberi kekuatan untuk menghadapi tantangan. Dari persekutuan keluarga yang mengalami tempaan keras oleh lingkungan Kampung Baru Tikung, kehidupan mulai memancarkan kasih Kristus dan hanya karena kemurahan-Nya, kekristenan itu tumbuh. “Dalam niat mulia mendirikan sebuah gereja, di tengah alam ‘liar’ orang orang yang anti gereja. Menyebut nama wilayah itu, orang sudah bergidik; seram. Sebab identik dengan kata yang tidak sedap di dengar preman”, tutur Erry Suryo salah seorang saksi sejarah sekaligus salah seorang pendiri gereja GIA Baru Tikung. Tidak mudah namun tidak mustahil.

Meski badai cercaan bertubi menghantam keluarga demi keluarga, seperti batang besi ditempa secara terus menerus untuk tujuan menjadi alat yang mulia, demikianlah keluarga bakal jemaat gereja yang ada di Baru Tikung di tempa. Bersama ayahanda bapak Urip Suryo yang lebih 40 tahun yang lalu, terus melangkah pasti, menata gereja dari bentuk hanya berupa benih persekutuan keluarga menjadi sebuah gereja dalam arti yang sesungguhnya; persekutuan orang-orang percaya dan bernaung dalam wadahnya karena Tuhan yang mengulurkan tangan-Nya bekerja dan menjadikan Gereja ada di daerah Baru Tikung. Puji Tuhan!

Dengan tidak adanya hamba Tuhan yang tetap semua kegiatan berjalan apa adanya. Dalam situasi seperti itulah Tuhan menggerakan hati ibu Lydia, seorang guru agama Kristen SD Barutikung II, terbeban melayani di tempat ini. Perkenalan ibu Lydia dengan Pdt. Andreas Kristianto pada waktu mengikuti mengikuti training guru-guru agama sekolah dasar yang diadakan oleh GIA dr. Cipto membawa bapak Pdt. Andreas Kristianto membantu pelayanan di tempat ini. Pada tahun 1980, secara resmi jemaat Bandarharjo memisahkan diri dari Gereja Baptis Citarum dan bergabung dengan GIA dr. Cipto dengan jumlah anggota 20 jiwa sebagai Pos PI Barutikung.

Seiring dengan perkembangan struktur organisasi pusat, Pos PI ini berubah menjadi Permata (Persekutuan Rumah Tangga), dan kemudian meningkat menjadi Gereja Sub Wilayah,. Pdt. Andreas Kristianto dibantu bapak Pdt. Yonathan Yamidi (alm), dan ibu Lydia mengembangkan pelayanan setempat dengan membuka Kebaktian Anak-Anak dan Pemuda. Antara tahun 1983-1986 berturut-turut ada di bawah tanggung jawab Pdt. Jairus Hasugian, bapak Paulus Soepeno, Pdt. Stefanus Soebiyantoro, Pdt. Titus Suheri dan bapak Herry Dwi Soetrina. Sejak tahuh 1986 Jemaat Bandarharjo digembalakan oleh Pdt. (alm) Kartomo Suryo Nugroho. Dengan program- program yang lebih mantap dan terarah, jemaat dibawa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengiring Yesus.

Seiring dengan kesungguhan dalam mengiring Yesus. Mulailah tantangan dan kesulitan hebat yang ditimbulkan oleh penduduk sekitar. Intimidasi tak henti henti menimpa jemaat. Lemparan, maaf, kotoran manusia sering dialami. Kalau jemaat tidak berakar sangat dalam di dalam Kristus, iman mereka bisa goyah. Salah satu resep yang dimunculkan juga adalah kerendahan hati berupa; mengalah dan bersikap ramah disamping Allah terus bekerja dengan luar biasa. Ini terlihat saat suasana menimbulkan ketegangan, manakala tempat untuk beribadah dilempar dengan kotoran. Ingin hati membalas, namun tentu bukan itu teladan yang dikehendaki Tuhan. Roh Tuhan terus bekerja, membuat hati jemaat sedia mengalah bukan berarti kalah sebab itulah terladan Kristus saat sudah di salib masih menghadapi olokkan, dan Yesus di kayu salib itu mengampuninya. Dan luar biasa, dengan prinsip yang terasa aneh bagi dunia, mereka bukannya lemah tetapi semakin kuat dan terus bertumbuh. Saat itu jemaat sudah bertambah menjadi 140 jiwa.

Dalam masa kepemimpinan Pdt. Kartomo Suryo Nugroho, mulai direncanakan pembangunan gereja. Ijin sudah didapat, namun warga menolak. Penolakan warga sangat kuat karena dimotori oleh Camat setempat. Tapi, Tuhan yang ada bagi Gereja-Nya membela, jemaat mulai tekun berdoa. Akhirnya, tahun 1998, gereja pun berdiri. Tokoh tokoh yang menolak gereja, di’aman’kan sendiri oleh Tuhan. Ada yang meninggal, dipindahkan, sakit, dan sebagainya. Bapak Yesaya Sampan, salah seorang jemaat yang sudah 33 tahun turut berjuang di sana, menyaksikan kehebatan kuasa Tuhan. Pelopor doa pagi ini menuturkan bagaimana Tuhan bekerja menjangkau jiwa-jiwa di tengah lingkungan yang keras. Sebagai tukang becak beliau dengan cara yang unik mengajak sesama pembecak ikut doa malam di GIA dr. Cipto tiap Kamis malam. Dan merekapun bertobat menjadi anak-anak Tuhan yang setia.

Setelah Pdt. Kartomo dipanggil Tuhan, penggembalaan dipegang oleh beberapa hamba Tuhan, sampai akhirnya putra almarhum yaitu Pdt. Victor menjadi Gembala Jemaat sampai sekarang. Jemaat tercatat 300 orang. Kehadiran rata rata 150 orang.
Sebuah monumen


Sebuah tanda berupa “monumen” penolakan warga masih berdiri sampai sekarang berupa wc umum dan tempat pembuangan sampah dibangun tepat di depan gereja. Tak terbayang, rasa hati saat beribadah, bau tak sedap dan pemandangan kurang nyaman menghantar jemaat datang kepada Tuhan. Namun realita yang menyakitkan itu, tidak menyurutkan niat hati jemaat untuk bertemu Tuhan dan mengasihi sekitarnya. Maka tak heran, tiap kali ada aksi sosial, jemaat selalu memberi bingkisan atau pengobatan gratis dengan kasih dan ketulusan.

Doa adalah penopang dan yang melekat dalam hidup jemaat maka predikat sebagai jemaat yang menjadi pendoa, terus berlanjut. Mereka tidak memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk berdoa dan mencari Tuhan. Kesadaran hati, betapa Tuhan telah membayar harga yang tak ternilai, menyediakan rumah yang kekal, di surga yang mulia, lewat tetes tetes darah di Golgota, mendorong jiwa lebih mengasihi- Nya.

Gereja sering mengadakan bakti sosial, pengobatan gratis, bazar murah dll. Juga PPA. Warga dengan antusias menyambut dan merespon.

Emil Brunner menulis, agama-agama lain memberi kita perendahan paling besar dengan menelanjangi dan menyatakan diri gagal total di hadapan Allah, tetapi kita tak punya hasrat yang lebih besar dari pada yang disaksikan oleh Paulus; “Aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,… Galatia 6:14. -te

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.