Kita harus menerima kekecewaan yang terbatas, tetapi kita jangan pernah kehilangan harapan yang tak terbatas.Martin Luther King. Jr., Aktivis Hak-Hak Sipil
Sejarah adalah rangkaian yang tak pernah putus meski harus melewati suatu masa yang nampak samar dan tersembunyi. Demikian akan halnya perjalanan Majalah Sinode Gereja Isa Almasih. Dalam catatan kecil, Sinode Gereja Isa Almasih, ada masa yang baru dalam membuat media bacaan. Awalnya, tahun 1990 Ketua umum MPH Sinode GIA dijabat oleh Pdt Andreas Kristianto dari tahun 2005-2008, mengumpulkan segelintir orang yang dianggap memiliki hati di media bacaan khususnya majalah. Dalam kelompok kecil itu terdiri dari Semarang dan Jakarta, ditugaskan untuk membidangi majalah. Sedang bentuk yang lama bulletin harus ditanggalkan. Namanya majalah Sinode yaitu Majalah Sinode 20. Performanya tabloid 4 halaman. Seiring perkembangan waktu, media ini berubah menjadi berbentuk tabloid yang dicetak berukuran 21 cm X 29,30 cm dan berwarna.
Nama Sinode20 diambil dari alamat lokasi kantor Majelis Pusat Harian (MPH) Sinode di Jl. Pringgading Nomor 20, Semarang. Majalah Sinode20 kemudian menjadi bagian dari Departermen Penelitian, Pengembangan, Komunikasi (PIK) Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih, dengan ketua departemen Bapak Sudarto Salim.
Majalah Sinode20 mulai berkembang. Pada tahun 2010 Departermen PIK mengadakan Seminar Jurnalistik dengan narasumber dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Kompas. Di seminar itulah narasumber memberi komentar terhadap kehadiran Majalah Sinode20, bahwa sudah layak disebut sebagai majalah. Sejak itulah dalam penerbitan selanjutnya dari wajah tabloid Sinode20 berubah menjadi Majalah Sinode20 dengan format isi lebih berbeda dan ukuran menjadi 18,5 cm X 25 cm.
Majalah Sinode20 terus berjalan mengikuti zamannya. Tema bahasan lebih cenderung mengupas tema gereja, menyisakan warta sekitar Sinode. Majalah Sinode20 terus berpacu dengan waktu tetapi lebih merasa melihat bahasan bersifat tema gereja seperti apa itu paskah, natal dan dibahas mulai dari apa dan mengapa.
Era yang baru datang dengan cepat memasukit dunia informasi digital dan menimbulkan perubahan disegala bidang, zaman yang disebut era disruption. Secara garis besar, pengertian disrupsi (disruption) adalah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan baru. Disrupsi bisa dilihat sebagai sesuatu yang positif karena merupakan sebuah inovasi yang dinamis.
Ketua departemen PIK, waktu itu bapak Pdt. Yusuf Tedjosusilo dan team radaksi majalah Sinode telah memikirkan hal itu dan mencoba mengantisipasinya. Dalam rapat Team Redaksi Majalah dan Rencana Program Kerja Semarang, Selasa, 31 Oktober 2017, salah satu agenda kerjanya adalah studi Penjajakan Media Elektronik dan Kepenulisan bersifat Website. Target; Oktober 2018, oleh team redaksi, juga ditegaskan dalam hasil Open House 2018, yang mengusulkan dan membahas perubahan format cetak kertas ke dalam format digital.
Ketua department PIK Pdt. Martinus Duryadi dengan team perumus redaksi majalah diundang rapat MPH Sinode guna dengar pendapat majalah digital. Dalam rapat tersebut, MPH dan team Majalah Sinode mengenai bentuk cetak ke dalam format digital belum menemui kesepakatan, dan diusulkan format seperti warta jemaat, namun semua perfoma digital.
Tahun 2020, permulaan tahun menjadi era pandemic covid 19 mulai muncul di Indonesia meskipun beritanya sudah merebak di China di akhir tahun 2019, ditambah dengan masalah prioritas biaya untuk pembangunan kantor sinode maka pembicaraan mengenai Majalah Sinode seperti terhenti. Pdt. Yusuf Tejosulilo salah satu penasehat MPH dan anggota team redaksi yang gigih berjuang untuk bentuk format digital, meninggal dunia.
Dalam masuk suasana pandemic covid 19, suatu suasana yang “tidak ada kegiatan jounarlis”, tgl. 23 November 2020, salah seorang anggota mengusulkan kegiatan journalis kecil-kecilan dalam wadah group WhatsApp diberi nama “Hope”. Dalam group itu ada kegiatan menulis, antara lain saudara Eka, Dian, Pdt. Nehemia, Pdt. Yotam Sugihyono, Pdt. Agus Santoso, dan Pdt. Yonathan Subur yang terus dikembangkan walau bersifat sekedar mengisi kegiatan menulis.
Pada tanggal 4 Maret 2022, Pdt. Daniel Dwi Sumantoro sebagai ketua department PIK yang baru, mengusulkan rapat dalam rangka konsolidasi dengan mengingat kegiatan di departement tersebut terhenti. Tanggal 7 Maret 2022, rapat digelar dan nama Hope mengemuka kembali. Bulan Paskah, nama Hope menjadi the HOPE, setelah dikonsultasikan seorang guru bahasa. The HOPE menjadi satu satunya harapan yang difinitif. Jadi nama Majalah Sinode20 resmi berganti The HOPE dan soft opening tgl. 17 April 2022, dengan format digital, menyebarkan informasi harapan kepada setiap orang yang membutuhkan kepastian harapan di dalam Kristus dan di dalam iman kepada-Nya.
(Team redaksi)
Alone we can do so little; together we can do so much.
Pemimpin Redaksi: Royce Yuli Setio Putro
Penasehat: MPH Sinode GIA
Penulis:
Nehemia Sulistyo
Agus Santoso
Daniel Dwi Sumantoro
Dian Yuliani
Thomas Esha
Editor:
Pdt. Yonathan Subur
Pdt. Yotam Sugihyono
Publikasi & Sekretariat:
Sara Yanuari
Graphic Designer:
Eka Pusaka Dharma