Apa yang kita ingat dari seorang tokoh bernama Elkana dalam 1 Samuel 1? Mungkin kita akan menjawab bahwa Elkana adalah seorang suami yang memiliki dua istri. Ya itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Elkana beristrikan Hana dan Penina. Jika kita membaca 1 Samuel 1:3, maka kita dapat melihat bahwa Elkana adalah kepala keluarga yang rajin datang kepada Tuhan.
Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.1 Samuel 1:3
Pada akhirnya, Tuhan menjawab seruan doa Hana dan memberikan anak kepadanya. Lalu Hana menyerahkan anak itu kepada Tuhan untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan.
Dari kehidupan dan pergumulan yang dihadapi keluarga ini. Ada beberapa hal yang patut menjadi pembelajaran bagi setiap kita.
Kesetiaan kepada Tuhan seharusnya mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita. Janganlah kita seperti Penina! Memang ia setia beribadah, tetapi sikapnya tidak menunjukkan perubahan dari tahun ke tahun, karena ia terus menyakiti hati orang lain. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita. Jangan sampai kita setia datang kepada Tuhan, tetapi sikap kita masih saja buruk, tidak memperlihatkan adanya perubahan. Jangan sampai kesetiaan kita datang kepada Tuhan hanya sebatas formalitas, karena tuntutan beribadah setiap hari minggu, karena tuntutan kegiatan kerohanian. Seharusnya kesetiaan kita datang kepada Tuhan mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita.
Jangan menyerah dengan situasi. Hana yang terus disakiti oleh Penina, ia tetap menunjukkan sikap yang baik bahkan tidak meninggalkan Tuhan. Biarlah kita belajar dari Hana, jangan menyerah dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini. Sepedih apa pun keadaan yang kita alami. Sebanyak apa pun pergumulan yang sedang kita hadapi, tetaplah datang kepada Tuhan, berserulah kepada-Nya dan jangan tinggalkan Tuhan.