Lubov Ivanivna (62) berjalan tertatih memasuki bangunan lumbung gandumnya. Kemudian ia berhenti, menunjukkan hasil panennya gandumnya yang membusuk, (Kompas, 5/7/2022). Dari 70 ton stok hasil panen gandumnya, 50 ton membusuk dan sisa 20 ton menunggu nasip yang sama dialami oleh negara pengekpor gandum terbesar, Ukrania. Itu baru satu petani gandum dari sekian yang ada. Perang Ukrania-Rusia telah membuat lumbung gandung rusak. Sekitar 22 juta ton hasil panen gandum tertahan di pelabuhan Ukrania. Ukraina keranjang roti Eropa, dengan ladang yang luas dan dikenal sebagai negara pekerja keras. Hal itu menempatkannya di tempat keenam sebagai produsen gandum top di dunia, setelah menghasilkan lebih dari 29.171.000 metrik ton tahun lalu SINDOnews.com,15/4/2022).
Perang Ukrania-Rusia, bukan lagi menyengsarakan rakyatnya tapi juga ancaman rantai makanan bagi dunia. Dunia menjerit karena rantai pasok pangan dunia terganggu sehingga ada bagian di dunia yang tak mampu beli gandum terancam kelaparan. Sementara negara adi daya “membakar uang” untuk keperluang perang itu. Dilansir New York Times, Sabtu (23/4) Zelenzky mengungkapkan kepada kepada World Bank bahwa Ukraina membutuhkan sekitar US$7 miliar atau Rp101 triliun per bulan hingga ratusan miliar dolar untuk memulihkan Ukraina.
Sementara keadaan ini, menjadi keprihatinan bersama seperti yang dikemukakan Sri Mulyani dalam seminar Internasional Securitization Summit 2022 (Kompas/7/7/2022) “Perang membuat rantai pasok pangan dan pupuk terganggu. Beberapa negara sudah mengalami kenaikan harga pangan secara segnifikan”.
Itulah keadaan dunia realitas saat ini. Baik yang terjadi secara dunia global, regional maupun local. Adakah harapan untuk damai dan kehidupan ini? Adakah berita yang disampaikan para hamba Tuhan saat ini, menjadi berita penuh harapan? Dunia menjerit, dan ingat bukan dunia saja, sekitar kita menjerit; soal minyak, harga kebutuhan yang dikatakan jadi “pokok”. Adakah gereja mendekat untuk memberi harapan. Ingat, Sidang Sinode Gereja Isa Almasih, tanggal 26-28 Juli 2022, di GIA Pegangsaan, Jakarta, tidak bisa dilepaskan dari situasi krisis yang ada saat ini. Seperti yang dikatakan Francis Shaeffer dalam tulisannya, “Walking Through The Mud”, Francis Shaeffer, menulis demikian;” It is difficult for a Christian to walk through the mud without getting dirty” (Shaeffer,1993:53). Ini mengingatkan Gereja bahwa adalah mustahil bagi gereja yang ada di tengah-tengah dunia namun tak bersentuhan dengan mereka yang hidup dan tinggal di dunia bersama segala bentuk masalah dan kekotorannya.
Redaksi menurunkan tulisan, artikel bulan Juli untuk menambah wawasan dan memperlengkapi kita dalam melayani dan kehidupan memuliakan Tuhan.