Sinode Gereja Isa Almasih

Walking with God through Pain and Suffering

TheHope.id – Dalam bulan Juli, ada peristiwa penuh ratap, tangis kedukaan. Sebagai seorang hamba Tuhan yang harus mengambil bagian untuk tugas menghibur dan menguatkan. Buku Timothy Keller menghibur dan menguatkan saya secara pribadi. Maka resensi buku yang sederhana ini, kiranya dapat menganguatkan kita.

Kehidupan di dunia yang telah jatuh dalam dosa, membuat manusia penuh keluhan dan tangisan. Keluhan, tangisan dan penderitaan ini dapat kita jumpai di mana-mana, manusia berada. Timothy Keller dengan sangat baik menuliskan bukunya yang berjudul “Walking with God through Pain and Suffering”, (2015). Tim Keller menuliskan bukan hanya sebagai hamba Tuhan yang mumpuni tetapi juga yang sedang mengalami apa yang sesungguhnya penderitaan di tengah pelayanannya – ia menderita kangker saat ini.

Penulisan secara bijak, hati-hati dan tanpa menghakimi tapi pemikiran dari kebenaran Alkitab. Ia menuliskan yang terjadi pada manusia umumnya juga orang Kristen pada umumnya, saat mengalami penderitaan, seperti pertanyaan ini mengapa ini terjadi padaku? Dimana Tuhan saat aku mengalami ini dan itu? Mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami hal yang berat dan menyakitkan seperti ini? Dan bukankah pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang normal ditanyakan oleh hampir seluruh umat manusia? Inilah penderitaan, tanpa definisi kita sudah tahu bahkan sudah mengalaminya.

Penderitaan di tangan Allah dapat menjadi sesuatu yang berbeda, penderitaan yang tak bermakna dan menyusahkan dapat menjadi hal yang paling bermakna dan meneguhkan iman, penderitaan yang merugikan bisa menjadi sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya, bahkan penderitaan inilah yang dapat menjadi salah satu jalan terbaik untuk dapat mengenal Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah yang diajarkan Tim Keller, mutiara-mutiara kehidupan yang ada dalam penderitaan itu.

Tim Keller membagi bukunya menjadi 3 bagian besar. Ia membandingkan Kekristenan dengan filosofi sekular barat dan juga filosofi agama-agama timur seperti Buddhisme, Hinduisme (Karma), termasuk ajaran-ajaran filsafat Yunani (Stoa) dalam meresponi sebuah penderitaan. Meskipun singkat, hanya dalam beberapa bab saja, namun Tim Keller menjelaskan perbedaan dan keunggulan filosofi Kristen dibanding filosofi-filosofi lain dengan sangat baik dan meyakinkan.

Ia juga mengulas mengenai masalah kejahatan (problem of evil) yang bukan hanya beban bagi Kekristenan saja untuk memberikan penjelasan, namun juga pada orang-orang yang memegang keyakinan berbeda dengan Kekristenan. Sekilas problem kejahatan tetap ada dan tetap belum terselesaikan saat kita menyangkali keberadaan Allah.

Menyangkali Allah yang di perkenalkan oleh Alkitab tidak menyelesaikan problem kejahatan dan penderitaan ini, penyangkalan ini malah akan membuat kita kehilangan sumber kekuatan terbesar untuk bertahan dan melihat hal-hal buruk tersebut sebagai hal yang bermakna dalam hidup kita. Dan luar biasanya lagi, Allah Kekristenan selalu mempunyai cara yang luar biasa untuk membuat kita dapat bertahan di tengah badai kehidupan yang pasti ada dalam kehidupan kita. Malahan penderitaan dan kejahatan dapat menjadi bukti yang kuat akan keberadaan Allah.

Pada bagian kedua, Tim Keller banyak mengajarkan pada kita untuk melihat penderitaan sebagai sebuah perapian; rasa sakit fisik atau mental yang tak tertahankan, inilah cara-Nya memurnikan hati kita. Satu-satunya yang dapat membuat kita kuat saat berada dalam perapian adalah pengetahuan, keyakinan, dan kesadaran bahwa Allah sendiri juga pernah merasakannya. Allah merasakan perapian yang sungguh besar, yang tidak pernah mungkin bisa kita tanggung, dan itu Ia lakukan untuk kita, umat-Nya. Inilah Allah kita dalam Yesus Kristus, Allah yang menderita bersama-sama dengan kita. Allah belajar kemanusiaan melalui penderitaan-Nya saat Ia berinkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus, begitupula kita, melalui penderitaan kita dapat mengenal siapa Allah kita. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Fil 3:10). Ayat ini seperti harta dan terindah saat orang percaya menderita bersama Kristus, Tuhannya. Namun ini sungguh kebenaran menghiburkan, memang kita, manusia mana yang nyaman dengan penderitaan?

Penghiburan dari semua ini adalah menyadari bahwa Tuhan kita pun membenci penderitaan dan kejahatan yang menyakiti umat-Nya, tapi Dia memilih untuk merengkuh penderitaan itu, menderita bersama kita, dan menderita untuk kita. Ia memulihkan relasi kita dengan diri-Nya sendiri. Dan perbuatan apalagi yang lebih hebat dan besar selain menyadari bahwa Allah yang berdaulat pencipta segala sesuatu, memilih membatasi kuasanya untuk menderita bagi kita.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita, para pembaca, pada bagian ketiga dalam bukunya tentang bagaimana kita berjalan dalam perapian kesusahan dan penderitaan hidup bersama Allah. Mau tak mau kita harus berjalan, kita tak dapat berhenti dan menolak penderitaan. Tuhan kita saja menjalani penderitaan dengan hati yang rela, dan bukankah Dia teladan bagi kita?

Ada juga momen-momen di mana kita hanya bisa menangis mengeluhkan semua perkara kita pada Tuhan, kita menyatakan dengan jujur emosi kita pada Tuhan. Tuhan tahu seperti apa kita, kita dikenal oleh-Nya, Tuhan mau mendengar keluhan kita bahkan keluhan-keluhan kita yang mungkin terkesan kasar atau emosional. Karena bukankah ini yang dilakukan Ayub, ia jujur dengan perasaan dan keadaannya, Tuhan tidak marah, Tuhan malah meneguhkan dan menguatkan dia. Pengalaman kesedihannya berujung menjadi pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan yang di ingat oleh hampir miliaran orang yang membaca kisahnya.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita untuk tetap berdoa dan percaya sekalipun kita menderita. Ia mengutip John Newton yang berkata, “Jika anda merasa tidak mendapat apa-apa saat berdoa dan mendekatkan diri dari Tuhan, lebih lagi saat anda berusahan menjauh dari-Nya.” Ia tetap berharap pada Allah, ia tetap berdoa, ia mengeluh dalam doa sekalipun perasaannya tidak sesuai dengan kebenaran.

Sebagai musafir menuju negeri kekekalan, dunia ini bukan tujuan kita. Dunia ini hanya persinggahan saja oleh karena itu tidak boleh sedikitpun kita menyerah atau terpaku untuk tinggal selama-lamanya di dunia ini. Oleh karena itu walaupun hidup ini tidak pernah tenang, ada tangisan, ada penderitaan dan masalah silih berganti mencoba menggugurkan panggilan hidup di dalam Kristus, di dunia ini, namun ada sesuatu yang lain yang ada di dalam diri orang percaya yaitu sukacita di dalam Roh Tuhan yang terus setia menghibur dan memimpin hidup kita (bd. 1Tesalonika 1:6).

Buku ini luar biasa, membahas masalah penderitaan dari pikiran hingga ke hati. Buku ini menguatkan, menghibur dan meneguhkan orang percaya. Patut dibaca oleh orang Kristen, kalimat-kalimat mendatangkan penghiburan yang menyegarkan akal, hati dan kehidupan yang penuh sukacita besar, yang membuat Kekristenan sangat superior dibanding yang lain. Tuhan Yesus sungguh luar biasa.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.