Penulisan secara bijak, hati-hati dan tanpa menghakimi tapi pemikiran dari kebenaran Alkitab. Ia menuliskan yang terjadi pada manusia umumnya juga orang Kristen pada umumnya, saat mengalami penderitaan, seperti pertanyaan ini mengapa ini terjadi padaku? Dimana Tuhan saat aku mengalami ini dan itu? Mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami hal yang berat dan menyakitkan seperti ini? Dan bukankah pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang normal ditanyakan oleh hampir seluruh umat manusia? Inilah penderitaan, tanpa definisi kita sudah tahu bahkan sudah mengalaminya.
Penderitaan di tangan Allah dapat menjadi sesuatu yang berbeda, penderitaan yang tak bermakna dan menyusahkan dapat menjadi hal yang paling bermakna dan meneguhkan iman, penderitaan yang merugikan bisa menjadi sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya, bahkan penderitaan inilah yang dapat menjadi salah satu jalan terbaik untuk dapat mengenal Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah yang diajarkan Tim Keller, mutiara-mutiara kehidupan yang ada dalam penderitaan itu.
Tim Keller membagi bukunya menjadi 3 bagian besar. Ia membandingkan Kekristenan dengan filosofi sekular barat dan juga filosofi agama-agama timur seperti Buddhisme, Hinduisme (Karma), termasuk ajaran-ajaran filsafat Yunani (Stoa) dalam meresponi sebuah penderitaan. Meskipun singkat, hanya dalam beberapa bab saja, namun Tim Keller menjelaskan perbedaan dan keunggulan filosofi Kristen dibanding filosofi-filosofi lain dengan sangat baik dan meyakinkan.
Ia juga mengulas mengenai masalah kejahatan (problem of evil) yang bukan hanya beban bagi Kekristenan saja untuk memberikan penjelasan, namun juga pada orang-orang yang memegang keyakinan berbeda dengan Kekristenan. Sekilas problem kejahatan tetap ada dan tetap belum terselesaikan saat kita menyangkali keberadaan Allah.
Menyangkali Allah yang di perkenalkan oleh Alkitab tidak menyelesaikan problem kejahatan dan penderitaan ini, penyangkalan ini malah akan membuat kita kehilangan sumber kekuatan terbesar untuk bertahan dan melihat hal-hal buruk tersebut sebagai hal yang bermakna dalam hidup kita. Dan luar biasanya lagi, Allah Kekristenan selalu mempunyai cara yang luar biasa untuk membuat kita dapat bertahan di tengah badai kehidupan yang pasti ada dalam kehidupan kita. Malahan penderitaan dan kejahatan dapat menjadi bukti yang kuat akan keberadaan Allah.
Pada bagian kedua, Tim Keller banyak mengajarkan pada kita untuk melihat penderitaan sebagai sebuah perapian; rasa sakit fisik atau mental yang tak tertahankan, inilah cara-Nya memurnikan hati kita. Satu-satunya yang dapat membuat kita kuat saat berada dalam perapian adalah pengetahuan, keyakinan, dan kesadaran bahwa Allah sendiri juga pernah merasakannya. Allah merasakan perapian yang sungguh besar, yang tidak pernah mungkin bisa kita tanggung, dan itu Ia lakukan untuk kita, umat-Nya. Inilah Allah kita dalam Yesus Kristus, Allah yang menderita bersama-sama dengan kita. Allah belajar kemanusiaan melalui penderitaan-Nya saat Ia berinkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus, begitupula kita, melalui penderitaan kita dapat mengenal siapa Allah kita. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Fil 3:10). Ayat ini seperti harta dan terindah saat orang percaya menderita bersama Kristus, Tuhannya. Namun ini sungguh kebenaran menghiburkan, memang kita, manusia mana yang nyaman dengan penderitaan?
Penghiburan dari semua ini adalah menyadari bahwa Tuhan kita pun membenci penderitaan dan kejahatan yang menyakiti umat-Nya, tapi Dia memilih untuk merengkuh penderitaan itu, menderita bersama kita, dan menderita untuk kita. Ia memulihkan relasi kita dengan diri-Nya sendiri. Dan perbuatan apalagi yang lebih hebat dan besar selain menyadari bahwa Allah yang berdaulat pencipta segala sesuatu, memilih membatasi kuasanya untuk menderita bagi kita.
Tim Keller juga mengajarkan pada kita, para pembaca, pada bagian ketiga dalam bukunya tentang bagaimana kita berjalan dalam perapian kesusahan dan penderitaan hidup bersama Allah. Mau tak mau kita harus berjalan, kita tak dapat berhenti dan menolak penderitaan. Tuhan kita saja menjalani penderitaan dengan hati yang rela, dan bukankah Dia teladan bagi kita?
Ada juga momen-momen di mana kita hanya bisa menangis mengeluhkan semua perkara kita pada Tuhan, kita menyatakan dengan jujur emosi kita pada Tuhan. Tuhan tahu seperti apa kita, kita dikenal oleh-Nya, Tuhan mau mendengar keluhan kita bahkan keluhan-keluhan kita yang mungkin terkesan kasar atau emosional. Karena bukankah ini yang dilakukan Ayub, ia jujur dengan perasaan dan keadaannya, Tuhan tidak marah, Tuhan malah meneguhkan dan menguatkan dia. Pengalaman kesedihannya berujung menjadi pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan yang di ingat oleh hampir miliaran orang yang membaca kisahnya.
Tim Keller juga mengajarkan pada kita untuk tetap berdoa dan percaya sekalipun kita menderita. Ia mengutip John Newton yang berkata, “Jika anda merasa tidak mendapat apa-apa saat berdoa dan mendekatkan diri dari Tuhan, lebih lagi saat anda berusahan menjauh dari-Nya.” Ia tetap berharap pada Allah, ia tetap berdoa, ia mengeluh dalam doa sekalipun perasaannya tidak sesuai dengan kebenaran.
Sebagai musafir menuju negeri kekekalan, dunia ini bukan tujuan kita. Dunia ini hanya persinggahan saja oleh karena itu tidak boleh sedikitpun kita menyerah atau terpaku untuk tinggal selama-lamanya di dunia ini. Oleh karena itu walaupun hidup ini tidak pernah tenang, ada tangisan, ada penderitaan dan masalah silih berganti mencoba menggugurkan panggilan hidup di dalam Kristus, di dunia ini, namun ada sesuatu yang lain yang ada di dalam diri orang percaya yaitu sukacita di dalam Roh Tuhan yang terus setia menghibur dan memimpin hidup kita (bd. 1Tesalonika 1:6).
Buku ini luar biasa, membahas masalah penderitaan dari pikiran hingga ke hati. Buku ini menguatkan, menghibur dan meneguhkan orang percaya. Patut dibaca oleh orang Kristen, kalimat-kalimat mendatangkan penghiburan yang menyegarkan akal, hati dan kehidupan yang penuh sukacita besar, yang membuat Kekristenan sangat superior dibanding yang lain. Tuhan Yesus sungguh luar biasa.