Oleh Yonathan Subur P.
"Ada mitos menyedihkan yang beredar hari ini - mitos netralitas. Menurut mitos ini, dunia sekuler memberi setiap sudut pandang kesempatan yang sama untuk didengar. Dan itu bekerja dengan cukup baik - kecuali jika Anda seorang Kristen."Francis Schaeffer
TheHope.id – Di opini Kompas tanggal 26 Oktober 2015, Daoed Joesoef, melemparkan pemikirannya yang diberi judul Ekonomika SDG. Dalam pemikirannya, beliau mengingatkan kita tentang pilihan yang ditetapkan dalam mengambil jalan ekonomi untuk mencapai kemakmuran setinggi-tingginya. Kemakmuran yang tinggi akan bisa terpenuhinya kebutuhan yang sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, beliau memberi peringatan, bahwa gaya ekonomi tersebut terlihat dalam gejala globalisasi ekonomi dalam pencapaian kemakmuran setinggi-tingginya tidak menampik lebih banyak krisis yang ditemukan. Sebab krisis kehidupan justru ditemukan dalam kehidupan manusia.
Pertanyaannya, bukankah ekonomi yang baik akan berimpas pada kemakmuran? Mengapa pencapaian kemakmuran justru menimbulkan krisis kehidupan? Sebab kemakmuran tidak sama dengan kebahagiaan. Dalam teori ekonomi istilah kebahagiaan itu tidak ada dan tidak diketemukan.
Dalam mengadakan investigasi intensif mengenai kaitan antara kebahagiaan dan kehidupan. Daoed Joesoef menyitir kesimpulan Richard Layard, dalam bukunya yang best seller, “Happiness: Lessons from a New Science”, (2005),”There is a paradopx at the heart of our lives. Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier…if we can give no further external reason. It just obviously does matter”
Apa kaitannya dengan keluarga?, dalam buku “Belajar Menjadi Manusia”, Bernard Haring, menggaris bawahi kata “pilihan”. Sebab menjadi manusia ciri utama adalah manusia bebas memilih. Perhatikan pemikiran Daoed Joesoef, beliau memakai kata “pilihan”sangat penting dalam menegaskan kritik yang ditawarkan soal jalan ekonomi global masa kini. Bukankah sejak awal manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi kebebasan manusia untuk memilih? “Tetapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakankannya, pasti engkau mati” Kej 2:17. Perhatikan kebebasan memilih sekaligus akibatnya diperlihatkan Allah kepada manusia.
Dalam perikop Lukas 11:14-23. Konteks di mana Tuhan Yesus berbicara mengenai pertentangan antara Kerajaan Allah dan kuasa-kuasa kejahatan. Ini merupakan pertentangan di mana tidak ada seorangpun boleh bersikap netral, seseorang harus memilih. Karena Tuhan Yesus ditunjuk untuk memimpin peperangan melawan kuasa-kuasa kejahatan, maka barangsiapa ingin melihat kemenangan peperangan Allah, orang harus memilih; mengikuti Dia. Bila tidak demikian, maka apapun penilaian mereka tentang hidup ini, mereka tentu ada di pihak lawan.
Kata yang kemudian mengikuti pernyataan Tuhan Yesus tentang keberpihakan adalah “mengumpulkan” dan “mencerai-beraikan”. “Mengumpulkan” ialah pekerjaan Allah sedang “mencerai-beraikan” adalah pekerjaan Iblis. Apa yang menjadi tantangan rumah tangga masa kini? Memudarnya sikap untuk tetap memilih satu hati, satu tujuan berumah tangga sesuai dengan awalnya Allah membentuk rumah tangga. Saat membangun rumah tangga diawali dengan pernikahan kudus, dalam pemberkatan yang didasari firman Tuhan. Biasanya awal sesuatu tak terkecuali rumah tangga berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Setelah itu, dengan mengalirnya waktu dan kesibukan, rumah tangga tersebut berubah sebagai alat hanya untuk mencapai pemenuhan ekonomika saja. Dengan keyakinan, pencapaian ekonomika rumah tangga yang berhasil maka akan terpenuhinya kebutuhan hidup yang sebaik-baiknya. Dengan demikian seluruh anggota rumah tangga akan bahagia. Padahal tercapainya kemakmuran tidak secara otomatis meraih kebahagiaan. Rupanya pengaruh yang kuat dari filosofi ekonomika secara pelan namun pasti menekuk pemikiran sehat dan jernih dalam keutuhan manusia yaitu bahwa kemakmuran dan kebahagiaan itu adalah dua hal yang berbeda.
Rumah tangga bukan rumah-rumahan karena itu, jika pemikiran ekonomika secara perlahan merasuk dalam hidup keluarga kristen maka orang-orang di dalamnya hanya sekadar hidup berteduh tanpa hati dan tujuan yang Allah ingin dalam membangun rumah tangga.
Jadi dari hasil investigasi Daoed Joesoef soal pencapaian ekonomika dan kebahagiaan kehidupan terbukti tidak berbanding lurus artinya pencapaian kemakmuran tidak otomatis mencapai bahagia. Maka akibat kuatnya ekonomika bagi kehidupan keluarga, seperti perceraian diam-diam, anak-anak bukan berkumpul tapi tercerai dan masih banyak lagi makin kental terasa, seperti yang disimpulkan Richard Layard diatas, “,…Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier.” -ys