SEMARANG, TheHope.id – Waktu menunjukkan pukul 20.20 wib, Kamis, 7 Juli 2022, saat usai doa malam di GereJa Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang baru selesai. Kami dari team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA mengikuti langkah Pdt. Goenawan Susanto sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih sekaligus juga sebagai Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang. Kami diterima di salah satu ruangan dalam gereja untuk melakukan wawancara khusus. Malam itu masih terdengar suara perbincangan beberapa jemaat yang baru saja selesai mengikuti ibadah doa malam. Suara itu semakin lama semakin terdengar lamat-lamat karena mereka menuju tempat parkir untuk meninggalkan gereja pulang ke rumah masing-masing. Suasana doa yang masih terasa masuk menyelimuti pertemuan kami. Ruangan pertemuan untuk wawancara itu seperti tidak menjadi kaku, meskipun suasananya sepi. Gaya ‘semarangan’ mulai terasa saat Pdt. Goenawan Susanto menempati tempat duduk santai dan rileks.
Team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA, mulai mewawancarai Pdt. Goenawan Susanto menjelang akhir masa tugas jabatannya sebagai ketua Sinode Gereja Isa Almasih dalam Sidang Sinode ke 23 tanggal 26-28 Juli di Gereja Isa Almasih Jemaat Pegangsaan Jakarta. Topik yang kami angkat adalah “LEADERSHIP DI LINGKUP SINODE GEREJA ISA ALMASIH”. Sinode Gereja Isa Almasih adalah salah satu Lembaga Gereja yang besar yang berada di Indonesia dengan 156 jemaat lokal dewasa dan sudah berusia lebih dari tiga perempat abad. Saat ini memiliki jemaat lokal dewasa yang tersebar di dalam negeri dan di luar negeri. Kita tahu peran seorang pemimpin sangat menentukan perjalanan suatu sinode yang dipimpinnya.
Pdt. Goenawan Susanto selanjutnya redaksi menyingkat PGS untuk keperluan peredaksian sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih yang menjabat selama 4 tahun ditambah perpanjangan selama 2 tahun akibat pandemic virus Covid 19.
Kepemimpinan di lingkup Gereja Isa Almasih itu bersifat jamak, artinya kepemimpinan satu team, tidak satu orang oleh sebab itu sebaiknya pemimpin yang akan datang itu mempunyai kesatuan. Khususnya Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus orang yang satu visi, satu hati, punya chemistry yang sama, kalau sampai tidak cocok sungguh akan sangat merepotkan sekali. Sebaiknya dalam pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus menjadi satu paket sama seperti pemilihan Presiden dan Wakil Presiden jangan di pilih sendiri-sendiri.
Dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih selama ini Ketua Umum dan Sekretaris Umum terjadi pemilihan sendiri-sendiri, sehingga Ketua Umum belum tentu akan cocok dengan Sekretaris umumnya, meskipun kalau sudah terpilih harus berusaha untuk bisa cocok dan sejalan. Tetapi lebih baiknya dari awal pemilihan sudah menjadi satu paket antara Ketua Umum dan Sekretaris Umum sehingga bisa lebih mudah untuk sejalan dan bekerja sama. Kemudian ketua-ketua departemen yang lainnya harus mengikuti kebijkan ketua umum dan sekretaris umum. Jangan membuat kebijakan sendiri serta berjalan sendiri-sendiri, karena mereka dipilih oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Mereka harus mengikuti arahan dari Ketua umum dan Sekretaris umum. Itulah yang sama alami selama menjabat sebagai Ketua Umum selama ini, ujar bapak PGS yang memiliki dua orang putri.
Sebagai pendeta juga Sarjana Psikologi ini mengatakan, bahwa Sidang Sinode ke 23 sangat penting untuk memperkuat persatuan secara organisasi. Sidang Sinode yang dilakukan selama 4 tahun sekali ini paling tidak akan menentukan masa depan Gereja Isa Almasih lewat keputusan-keputusan bersama dalam sidang. Sayangnya karena masih suasana pandemi covid, maka jumlah pesertanya sangat dibatasi, maksimal dua peserta buat setiap gereja lokal dan waktunya juga diperpendek hanya 3 hari saja. Sayang sekali masih banyak juga gereja lokal yang tidak bisa hadir untuk mengutus wakilnya.
Sambil membetulkan letak duduknya, melanjutkan bahwa pengakuan iman Gereja Isa Almasih dan komitmen untuk mendukung Sinode harus kembali diingatkan kepada masing-masing gereja lokal dalam lingkup Sinode Gereja Isa Alamsih. Hal ini sesuai dengan hasil kesepatan kita bersama dalam bersinode.
Kata bapak PGS, pertama masalah komitmen yang kurang. Juga karena ada sakit hati dimasa lalu. Misalnya, ada pemimpin Gereja Lokal yang merasakan sakit hati, terus menutup diri terhadap kepemimpinan sinode yang ada. Hal ini menunjukkan pemimpin yang tidak dewasa kalau hal seperti itu dibiarkan terjadi, masalalu biarlah berlalu, kita saat ini harus melihat kie depan karena ini pekerjaan Allah bukan perasaan pribadi. Pemimpin tidak boleh mengikuti perasaan sendiri. Komitmen sebagai bagian dari Sinode, tentu harus mendukung sinode.