TheHope.id- Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar dengan langkah tegang.
“Istri Anda dalam keadaan baik . Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan . Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini”, setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang minus memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.
Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang mulutnya terbuka, gemetar setelah menerima berita itu. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Jakunnya bergerak naik turun. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata;
“Dokkkkter, …mmm… bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa”.
Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju, lalu sang dokter itu bergegas pergi.
Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu . Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tanganya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasana kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
“Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, tapi sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya.”. Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.
Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crottt.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya, keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging,, utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.
Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah itu terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.
Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak yang bentuknya agak aneh. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas bulan telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannyapun miring seperti tiang hampir roboh.
Kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal. Manusia telah menyimpulkan bahwa hidup William Cutts sudah pada titik, namun Tuhan justru sedang memulai hal yang baru.
“Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada”, demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya.
Tepat pada waktu-Nya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, “Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna”, II Korintus 12: 9. Inilah dasar pengharapan baginya.
Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janji-Nya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.
Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya-sekarang namanya Papua, Indonesia. Papua yang masih berhutan, bukit dan lembah dengan sungainya, dijelajah oleh William Cutts yang jalannya miring dengan segala kelemahannya.Tuhan meneguhkan janji-Nya, dalam kelemahan kuasa-Nya nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. (ys)