Sinode Gereja Isa Almasih

Mengenal Lebih Dekat GIA Jemaat Genurid

Oleh Thomas Esha & Eka Pusaka Dharma

"Jika Anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Jika Anda tidak dapat melakukannya dengan cinta yang besar, lakukan dengan sedikit cinta. Jika Anda tidak bisa melakukannya dengan sedikit cinta, lakukan saja."
Ibu Teresa
TheHope.id – Tas ransel segera kukenangkan. Pak Thomas anggota team redaksi telah bersiap diri di depan kemudi. Bunyi mesin kendaraan yang akan membawa kami berdua terasa kurang sabar menanti. Akhirnya dari kota Semarang, kami meluncur ke desa Genurid. Sudah satu jam perjalanan kami dengan kendaraan roda empat menuju GIA Genurid, Ungaran. Kami berdua seperti menelusur jalan yang berhias aneka pohon layaknya desa di Jawa Tengah, hhmm…asri. Dalam perjalanan banyak disuguhkan pemandangan yang luar biasa terutama di jalan toll Banyumanik, kanan kiri sisi jalan yang memukau mata kami karena melewati lembah dan perbukitan. Saat keluar toll Banyumanik perjalanan dilanjutkan menuju Ungaran, memasuki jalan yang hanya bisa dilalui oleh dua kendaraan yang berlawanan dan melewati perkebunan karet yang sangat asri dan memukau mata.

Sambutan ‘Selamat Datang’ dari Gapura Desa Kawengen membuat kami harus segera bersiap-siap karena akan segera tiba ke tempat yang akan kami kunjungi. Kawengen adalah sebuah desa di kecamatan Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Di Desa Kawengen inilah lebih spesifik ada suatu kawasan bernama Genurid. Tibalah kami ke tempat yang kami kunjungi yaitu Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid. Udara desa Genurid menerpa tubuh kami, rasa segar dan terasa sapaan kasih dari saudara yang menyambut kami.

Gereja Genurid adalah benih perjuangan iman dan ketaatan untuk memberitakan berita injil. Berawal dari pengabaran Injil seorang pendeta dari Ungaran di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo sebagai pelindung GIA Jemaat Pringgading sekitar tahun 1977 yang melayani di daerah Genurid melalui sebuah persekutuan di rumah kepala dusun. Seiring berjalannya waktu persekutuan ini harus dihentikan karena dianggap kegiatan yang liar dan gelap, karena tidak memiliki ijin dari bapak lurah setempat. Pdt. Paulus yang melakukan perintisan di Genurid dari GIA Jemaat Sidomulyo meyakinkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter demi kesejahteraan masyarakat dengan membangun mental yang baik.

Setelah melalui pergumulan doa dan tindakan kasih, benih iman dan penginjilan mulai menampakkan hasilnya. Dimulai dari tetangga yang mulai merasakan kasih dan sukacita dari Tuhan yang disaksikan. Bersyukur ada tetangga-tetangga yang bersedia meminjamkan tempatnya untuk dapat melaksanakan kegiatan ibadah kalaupun para tetangga ini non Kristen. Misalkan Minggu ini di rumah Pak Sadini, lalu Minggu berikutnya di rumah Pak Sukardi. Satu tahun lamanya harus melaksanakan kegiatan ini berpindah-pindah. Akhirnya merasa bahwa tempat yang dipakai pada waktu itu bukan tempat untuk ibadah, maka tempat permanen menjadi pergumulan utama pada saat itu. Puji Tuhan, ada jawaban atas pergumulan doa, hingga akhirnya sekitar tahun 1978 ada lahan yang dapat dibangun walau sederhana menggunakan kayu dan bilik dari anyaman bambu.

Yahya Sawab seorang pemuda berasal dari desa tersebut dan aktif yang sejak awal mengikuti kegiatan ini merasa terpanggil oleh Tuhan untuk belajar theologia pada tahun 1981 di Sekolah Tinggi Theologia Berea, Salatiga dan selesai hingga tahun 1984. Pada tahun 1982, Bapak Slamet seorang Hamba Tuhan yang selama ini melayani di Tempat Pembinaan Iman (TPI) Genurid harus pindah pelayanannya ke GIA Jemaat Bawen, Semarang.

Akhirnya pada tahun 1982 setelah dua tahun belajar di STT Berea, Yahya Sawab harus bersedia bolak balik dari Salatiga ke Genurid setiap minggunya untuk membantu melayani TPI Genurid yang pada saat itu mengalami Pada saat itu, dana yang harus dimiliki oleh jemaat untuk membangun rumah ibadah setelah dianggarkan sebesar Rp. 19 juta. Angaran tersebut ditolak oleh gereja yang menuangi karena terlalu besar.

Tak habis akal, masalah tersebut dikomunikasikan dengan Pak Suh yang hamba Tuhan dari Korea, supaya lebih sering berkhotbah di TPI Genurid. Lalu dibuatlah jadwal yang rutin supaya dapat melayani di sana. Untuk mewujudkan pergumulan ini, pak Suh menyarankan supaya membangun sekolah Taman Kanak-kanak (TK) terlebih dahulu. Hal ini karena untuk membangun rumah Taman Kanak-kanak (TK) tidak terlalu besar anggarannya, baru selanjutnya fokus kepada gereja.
Pdt. Yahya Sawab
Pada tahun 1992 pembangunan TK mulai dilaksanakan dan menghabiskan anggaran sekitar 2,8 juta. Setelah pembangunan TK selesai mulailah fokus pembangunan gereja. Segeralah dibuat panitia pembangunan gereja. Kembali lagi, jemaat yang kecil berdoa kepada Allah yang besar yang empunya langit dan bumi serta Allah mereka.

Ketika pembangunan gereja selesai, sekitar 60 orang rombongan misi Korea hadir untuk meresmikan gereja sekaligus memberikan persembahan kasih untuk mendirikan pastori. Puji Tuhan di luar dugaan, selain membangun TK ternyata dalam satu tahun bisa membangun gereja bahkan sekaligus secara bertahap membangun pastori hingga selesai awal tahun 1993. TPI Genurid yang secara langsung di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo dan didukung oleh GIA Jemaat Pringgading didewasakan menjadi GIA Jemaat Genurid pada tahun 2007 dengan Gembala Jemaat pertama Pdt. Yahya Sawab. Jumlah jemaat saat itu berjumlah sekitar200 orang yang terdaftar walau yang aktif sekitar 80 orang jemaat.

Berbaur dengan masyarakat sekitar adalah juga hal yang utama supaya dapat terus diterima di tengah masyarakat. Turut aktif dalam kegiatan sosial menjadi hal yang penting seperti bermain bola voli yang dilakukan oleh Yahya Sawab, bahkan pernah juga diikutsertakan untuk menjadi calon lurah. Satu hal yang unik yang dimiliki oleh GIA Jemaat Genurid dan mungkin tidak ada di gereja lainnya adalah adanya speaker Toa yang dipasang di atap gereja dan berfungsi untuk mengumumkan hal-hal yang penting untuk masyarakat sekitar seperti berita dukacita dan pengumuman-pengumuman lainnya.

Gereja ini dibangun dengan kerukunan, segala hal yang ada di desa ini selalu dilakukan secara bersama-sama baik orang Kristen maupun non Kristen. Bahkan masyarakat sekitar menerima dan mendukung keberadaan gereja ini. Tak hanya itu, TK yang dibangun pun banyak anak-anak non Kristen yang belajar di tempat ini turut mengikuti kegiatan belajar secara Kristiani. Kerukunan memang menjadi hal yang utama di desa ini.

Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid telah belajar tumbuh bersama Tuhan Yesus Kristus yang Empunya jemaat Genurid, sampai sekarang dan yang akan datang. Beberapa waktu yang lalu ketika tulisan ini akan dimuat dalam artikel profil gereja, Gembala Jemaat GIA Genurid bapak Pdt. Yahya Sawab, berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menyambutnya, “Sabaslah hamba-Ku yang setia”. (te-epd)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.