Penulis: Apakah ada yang menonjol di gereja yang bapak pimpin ini? Motto hidup dan ayat favorit, yang sekiranya dapat dibagikan untuk para pembaca?
Sekum: Penekanan di dalam pelayanan di GIA Jemaat Banyumanik adalah pemuridan, karena dengan pemuridan, kerohanian jemaat akan bertumbuh dan mampu menjadi dewasa dalam iman, sehingga mereka bisa terlibat dalam pelayanan. (Ini yang menolong dalam tugas sehari-hari secara khusus dalam tugas baru kami sebagai sekum sinode, Tuhan seperti menyiapkan segala sesuatu dengan indah pada waktu-Nya). Saat awal pelayanan, Tuhan mempercayakan sekitar 70-an jemaat, sekarang sudah berkembang menjadi hampir 300-an. Kebaktian yang dulunya hanya sekali, sekarang sudah 3 kali, jam 07, jam 09 dan jam 17. Jadi di GIA Banyumanik, yang menonjol adalah pemuridan yang melibatkan sebanyak mungkin jemaat untuk terlibat di dalam pelayanan. Dan itu sangat efektif. Khotbah minggu atau persekutuan sudah bisa dilayani oleh jemaat.
Motto hidup saya adalah melakukan apa yang dipercayakan Tuhan dan mengerjakan sebaik baiknya tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan. Artinya saya berusaha melakukan yang terbaik, supaya berkenan dihadapan Tuhan.
Sedang ayat favorit saya adalah seperti yang dikatakan Rasul Paulus: Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Seperti Ahok, ‘cletuk’ penulis sambil tersenyum, dan diiyakan oleh beliau. Sejak awal dalam segala perjuangan karena saya tahu Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang akan menolong dan bertanggung jawab atas kehidupan saya dan juga akan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Jika memang Tuhan panggil, mati pun saya siap. Ada pengalaman saya saat penginjilan di daerah Baduy, Bandung. Saya memang gemar mengabarkan Injil, saat ditangkap polisi dan diinterogasi, dimarahi bahkan dimaki-maki, tetapi saat itu saya tidak takut kalau harus mengalami kematian. Tetapi pada saat Tuhan masih memberikan kepercayaan untuk saya hidup, saya akan berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pelayanan. Saya meninggalkan pekerjaan dan usaha saya dengan tujuan melayani Tuhan oleh sebab itu saya akan melakukan apa yang terbaik bagi Kemuliaan nama Tuhan.
Pdt. Andreas Mulyadi didampingi oleh istri yang bernama Erna Noviati dikaruniai dua orang anak, yang sulung Agatha Christian Bella Mulder yang bungsu Yeshua Christian Arauna Mulder. Si Sulung, Aga panggilan akrabnya, sekolah di Abdiel semester 7, sedang yang bungsu, Yesa panggilan akrabnya masih SMK kelas 1 atau kelas 10.
Hidup saya yang berlatar belakang menjadi pengusaha ayam potong terbilang sukses. (terdiam sejenak sambil menerawang ke depan)
Tetapi dalam hati suara panggilan melayani Tuhan terus menerus semakin kuat maka langkah pertama, usahanya harus ditinggakan meski itu tidak mudah. Akibatnya, setelah itu, saya sering menyendiri di tepi sungai Kenci Ungaran untuk menyendiri dalam pergumulan. Ada perasaan bergejolak dalam hati menyesali, rasa bersalah dan keputusan yang sudah saya buat, tapi disana Tuhan berbicara bahwa ini merupakan proses Tuhan untuk membentuk dan mengarahkan terhadap rencana Tuhan dalam kehidupan.
Dalam pembentukan itu ada harga yang harus dibayar dan harganya sangat mahal. (Dalam kasih Tuhan yang mengarahkan ke jalan dan cara-Nya yang tak pernah keliru atau salah, Dia di dalam waktu-Nya dan cara-Nya memimpin juga mempelengkapinya selalu baik dan sempurna untuk masa kini dan nanti).
Singkat cerita saat itu saya mendapat tawaran untuk melayani di pusat rehabilitasi narkoba, tawaran yang sangat mengerikan bagi saya, terpaksa saya menerimanya karena memang tawaran itu adalah satu- satunya kesempatan untuk saya. Melalui pelayanan di pusat rehabilitasi ini dan perjalanan yang cukup panjang akhirnya, pada waktu-Nya, saya diangkat Tuhan menjadi Gembala di GIA Jemaat Banyumanik. “Sekarang malah jadi Sekum ya pak Mul” ujar penulis yang disambut tertawa oleh bapak Gembala yang juga penggemar swieke ini.
Sebagai Sekum, apakah majelis dan jemaat GIA Banyumanik tidak berkeberatan, lanjut penulis
Dengan lugas, beliau menegaskan bahwa majelis dan jemaat GIA Banyumanik tidak berkeberatan bahkan mendukung saya menjadi Sekum, apalagi sekum sekarang ini tidak fulltime, tetapi parttime, sehingga saya bisa mengatur waktu sebagai Gembala dan Sekum. Ditambah Jemaat Banyumanik yang sudah mengikuti program pemuridan sehingga lebih mandiri dalam setiap pelayanan.
Apa yang menjadi prioritas sebagai Sekum
Saya memprioritaskan untuk membenahi team saya di Sinode, baik itu staf ataupun pengurus. Saya memperjelas jobdisc masing masing supaya tidak terjadi salah paham dalam bekerja. Tugas sekum yang sangat kompleks dan berat, akan menjadi ringan pada saat seluruh team bekerja dengan solid. Kemudian sebagai prioritas kedua adalah melaksanakan apa yang sudah dimandatkan dalam Sidang Sinode yang ke-23, berkenaan dengan amandemen tata gereja dan sinkronisasi keputus keputusan sidang.
Kemudian juga bagaimana jemaat jemaat lokal yang saat ini saya lihat acuh tak acuh dan agak tidak peduli dengan sinode, bagaimana membuat mereka mencintai sinode, demikian juga sebaliknya sinode dapat lebih berkiprah pada jemaat lokal, artinya bisa betul betul berkarya bagi mereka. Itu yang menjadi prioritas ke dalam. Untuk keluar saya mencoba membina hubungan dengan organisasi organisasi di luar, seperti dengan Korea atau dengan sinode gereja lain. Kita bisa belajar dari mereka yang sudah lebih berpengalaman.
Gembala jemaat lulusan Abdiel ini, telah banyak berperan dalam tugas-tugas di jemaat, salah satu yang berat adalah menjadi ketua panita pembangunan gereja yang harus menyelesaikan pembangunan yang terkatung-katung karena ada berbagai masalah. Dengan iman, kesatuan hati dan hati yang murni, pembangunan bisa diselesaikan.
Pernah terpikirkan menjadi Sekum sebelumnya?
“Saya tidak pernah bermimpi menjadi Sekum,” ujar beliau sambil tertawa. Tetapi dalam benak pikiran saya, apa yang sudah dipercaya oleh Tuhan, saya akan lakukan dengan sebaik-baiknya, dan saya juga yakin Tuhan pasti akan menolong saya dan memberi kemampuan.”
Bagaimana dengan prakteknya dalam keseharian tugas Sekum dan Gembala?
Dalam praktek sebagai Sekum dan Gembala, bagi beliau tidak bermasalah. Karena Sekum hanya sebagai partime, disamping ada teknologi yang memudahkan untuk berkomunikasi. “Saya dapat melakukan pekerjaan dari Banyumanik. Lewat WhatsApp saya bisa memberi tugas pada staf di MPH. Saya ke kantor cukup seminggu dua kali. Sehingga saya tetap dapat melakukan tugas sebagai Gembala. Mengunjungi jemaat dll .“
Sekum adalah jabatan strategis, ia menjadi “mata dan tangan“ sinode keseharian. Komentar Anda?
Memang benar, sekum adalah jabatan strategis, sebagai motor penggerak organisasi. Sebelum jadi sekum, saya sudah biasa berkecimpung dalam organisasi, sebagai ketua panitia atau sekretaris. Pada intinya, tugas sebagai ketua atau sekretaris adalah sama, sehingga saya sudah terbiasa . Artinya pekerjaan sebagai sekum, merupakan pekerjaan yang biasa dilakukan sebelumnya. Jadi Tuhan sudah menyiapkan sebelumnya, sehingga saya mudah beradaptasi dan menjalan tugas sebagai seorang sekum, tentu dengan pertolongan Tuhan.
Anda belum pernah menjabat tugas pemimpin dalam lingkungan Sinode – MPH, komentar Anda?
Meskipun saya belum pernah menjabat di lingkungan sinode, tetapi saya sudah biasa berorganisasi di luar. Pada prinsipnya organisasi dimana- mana sistem dan bentuknya hampir sama.
Apa perlu meminta nasehat dari mantan sekum? Apakah ada sinyal akan hal itu?
Saya orangnya terbuka dan siap berkomunikasi dengan siapapun. Bila menghadapi kesulitan, saya tidak segan untuk meminta nasehat dan masukan dari sekum yang lama. Terlebih saya dekat dengan beliau, saat di Abdiel saya dan beliau satu angkatan.
GIA Banyumanik ada semacam tradisi menjadi Sekum? Menurut Anda?
Sebetulnya bukan tradisi, hanya kebetulan saja, Gembala Jemaat sebelum saya pernah menjabat jadi Sekum.
Tantangan sekaligus peluang era informasi. Melihat di lingkup Gereja Isa Almasih yang masih banyak gaptek di era informasi khususnya “dikalangan kota kecil” bagaimana disingkapinya?
Sebenarnya bukan hanya di kota kecil jemaat yang gaptek, dikota besar pun banyak yang masih gaptek. Teknologi memang sangat mendukung kemajuan dalam pelayanan. Merupakan sarana kerja yang sangat efektif, karena jangkauannya sangat luas, kerjanya sangat cepat dan biaya sangat murah. Disatu sisi juga kalau diperhatikan gembala jemaatnya banyak yang sudah sepuh, kalau dipaksakan mereka bisa stress.
Sebagai solusi kita harus mempersiapkan generasi milenial, generasi alpha.
Bagi mereka akan enjoy dalam dunia digital saat ini, sehingga Sinode GIA ke depan bisa lebih maju. Orientasi kita saat ini bukan pada generasi tua, tetapi pada generasi muda. Kita harus memaksimalkan mereka.
Pada saat kita membina mereka, bukan saja kita bisa memakai sarana tersebut, kita malah bisa memanfaatkan sarana-sarana yang ada, bisa mendulang keuangan, kekayaan dan sebagainya. Generasi muda tersebut meskipun tidak bekerja di perusahaan, dengan adanya teknologi yang ada mereka bisa menghasilkan pasif income atau penghasilan tetap tanpa harus kerja keras, tetapi kerja cerdas.
Tantangan yang utama dan terus menjadi motivasi untuk terus berbenah
Tantangan yang utama adalah sikap terhadap teknologi. Teknologi atau gadget bisa membuat orang meninggalkan gereja, bahkan meninggalkan Tuhan. Karena melihat gadget jauh lebih menyenangkan daripada aktivitas di gereja. Terlebih lagi tontonan atau game di gadget bisa menyesatkan orang yang terikat. Sekarang bagaimana kita bisa mengembalikan jemaat untuk intim dengan Tuhan, membangun jemaat untuk tetap beriman kepada Tuhan. Gadget dapat membuat jemaat tersesat dan semakin jauh dari Tuhan. Terlebih sesudah Covid, jemaat terbiasa ibadah lewat online yang lebih santai. Mengembalikan jemaat untuk ibadah di gereja tidaklah mudah, membutuhkan perhatian khusus.
Apa pemikiran yang bisa bapak berikan?
Pemikiran saya untuk menghadapi tantangan yang ada, kita harus fokus didalam pengajaran dan pembinaan kepada jemaat. Sinode harus memiliki peran yang besar dalam menghadapai tantangan tersebut.
Jadi gereja-gereja lokal penekanannya pada action-nya atau tinggal mempraktekkan apa yang telah disiapkan oleh sinode. Dengan cara tersebut, gereja bisa melakukan antisipasi pada pengajaran-pengajaran yang menyesatkan lewat teknologi digital yang setiap hari dinikmati oleh jemaat.
Kalau tidak diantisipasi Iman jemaat bisa menyimpang, bukan lagi pada Tuhan tetapi pada teknologi. Lewat pembinaan dan pemuridan Iman jemaat dapat dibimbing dijalan yang benar. Teknolgi hanya berfungsi sebagai saranan saja, bukan sebagai fokus dalam kehidupan, sehingga melalui pembinaan yang mempergunakan teknologi bisa menyegarkan jiwa dan mengembalikan hubungan yang intim dengan Tuhan.
Apa yang masih perlu bapak sampaikan khususnya dalam kesinodean Gereja Isa Almasih?
Masalah kesinodean yang perlu mendapat perhatian yaitu kita seringkali meributkan sesuatu yang tidak penting, sehingga energi positif kita habis untuk meributkan sesuatu yang tidak penting tersebut. Kita harus meningkatkan persatuan untuk kemajuan Sinode. Thema Sidang yang lalu, menjadi kirbat dan anggur yang baru benar-benar dapat kita terapkan bersama.
Mungkin ada rencana bagi GIA Banyumanik membuat semacam proyek pelayanan atau apa, agar nilai yang didapat ditularkan.
Proyek yang sedang saya bidik dan sedang saya kerjakan adalah pemuridan. Karena di dalam pemuridan selain ada pembinaan tetapi juga salah satu bentuk perhatian, karena semua orang membutuhkan perhatian, cinta kasih, dan pada saat setiap orang bisa tercover, dia tidak akan cari yang lainnya.
Kalau gereja tidak menerapkan pemuridan dan membiarkan jemaat hanya datang beribadah, maka terjadi kekeringan pada jemaat. Jemaat tidak bertumbuh dengan baik, tidak menjadi jemaat yang dewasa. Paket komplit dalam pemuridan, ada pembinaan, pendampingan, perhatian, cinta kasih dan keteladaan.
Kalau sinode dapat menerapkan sistem pemuridan ini pada semua gereja gereja lokal, maka pertumbuhan jemaat akan lebih baik.
Bagaimana dengan acara libur bersama dengan keluarga untuk menyegarkan diri bersama-sama?
“Kalau libur keluarga tidak pernah saya lakukan,” ujar pak Andre, panggilan akrab lainnya. Saya lebih suka makan bareng di angkringan sambil ngobrol. Itu lebih asik buat kami. Lebih menyegarkan, kata beliau mengakhiri wawancara.
Latar belakang Pdt. Andreas Mulyadi dari GKJ- Gereja Kristen Jawa, gereja yang tertata rapi dan teratur. Berbeda dengan Gereja Isa Almasih, menurutnya. Tetapi apa yang tidak disukai justru Tuhan mengarahkannya kesana, dan akhirnya studi di Abdiel dan melayani di Gereja Isa Almasih Banyumanik sampai jadi Gembala Jemaat.
Jam menunjukkan pukul 18.30, waktu sudah menunjukkan batas perbincangan telah habis. Segera kami pun mengakhiri pertemuan itu. Wawancara penuh rasa kekeluargaan dan ada tertawa itu berakhir dengan santap malam bersama di warung ayam goreng pinggir jalan. Ehmm.. enak juga makan malam bersama pak Sekum yang baru itu. (-te)