Sinode Gereja Isa Almasih

Kurengkuh Daun Itu

“Little Totto Chan tidak tahu arti di balik kata-kata ini, tapi dia menanamkan kata-kata ini dalam dirinya sendiri, yang mengejutkan Totto Chan dewasa, yang baru saja menyadari pemahaman ini”. Novel Totto Chan, karya Tetsuko Kuroyanagi

Oleh Dian Yuliani

Angin pagi mendesah. Suaranya pelan meniup daun-daun singkong yang kudekati. Bau aneka tanaman bersorak sepertinya keceriaan pagi, masing-masing menabur aromanya di antara puluhan pohon singkong. Aku menarik kedua pipiku untuk membuat segaris senyuman dan desah suara yang hampir tak terdengat keluar dari sela-sela bibir ini:”Alangkah bersyukurnya tanaman singkong yang tumbuh ini” Sambil aku terus melangkah makin dekat ke arah batang singkong yang tumbuh. Ingatanku akan masa-masa pertumbuhanku dan itu mulai bergulung berlari dalam benak ini.

Aku mulai tahun yang disebut tahun resesi tahun 1997-1998. Manusia memang mudah mengingat pristiwa yang membuat sejarah dalam hidupnya. Tahun resesi itu mengingatkanku akan sulitnya hidup di masa remajaku, sekalipun sejak kecil aku begitu mengenal apa artinya hidup berkekurangan. Namun tahun 1997-1998 itu merupakan tahun yang tidak mudah bagiku dan mungkin bagi banyak orang yang terbelenggu masa resesi ekonomi. Sambil menghela nafas panjang, “hhmm…aku merangkak untuk melewati waktu 25 tahun itu”. Aku sungguh bersyukur. Ada banyak hal yang harus kupilih untuk hidup yang menghantarku sampai saat ini. Tentu saja pilihanku itu pasti ada yang salah, keliru dan menyesatkan. Tapi melalui banyak moment ada yang menunjukkan untuk kembali bahkan mengoreksi langkah hidup ini untuk masuk jalur yang benar.

Tangan kananku memegang daun singkong terjulur. Ada angin yang bertiup sedikit terasa dikulitku. Jika dulu singkong menjadi makanan pokok keluarga kami, saat ini di lahan seluas 6 hektar ini singkong ditanam, singkong menjadi berbagai cemilan diwaktu sore hari dan ketika hujan menghampiri bukit ini. Bertapa bersyukurnya aku makin belajar akan tanaman ciptaan-Mu.

Ingatanku bergulung kembali. Seperti angin yang mulai agak kencang bertiup menyapu dedaunan pohon singkong dan pohan lainnya yang tadi hanya bergoyang pelan tapi angin itu mulai bisa sedikit bergesekan. Ingatanku pada awal pandemi. Aku awali misi pertamaku saat perusahaan hanya bisa memperkerjakan kami 3-4 hari dalam seminggu. Kembali aku menyapa pohon singkong. Mulai kami yang tinggal di sebuah perbukitan, dimana aku ditempatkan, membuka lahan yang selama ini hanya sebagai pelengkap saja. Kali ini lahan ini harus dibuka untuk jembatan kehidupan. Ketahanan pangan harus di mulai. Sekalipun pandemi mengganas yang butuh dua tahun, singkong menjadi teman setia bagi kami. Namun bukan menggatikan makanan pokok yang kami bayang tapi sekadar camilan namun begitu ia setia untuk bisa hadir terhidang.

Kami melihat dengan terkagum atas pemeliharaan-Nya, kami masih bisa makan nasi dengan lauk 3 kali dalam sehari. Kembali aku bersyukur. “Badai kelaparan karena banyak petani yang sulit gengupayakan sawahnya kami dengar rupanya tidak sengeri yang kami bayangkan” pikirku. Namun badai pandemi yang merampas kesehatan yang sesekali membuat panik , takut dan gentar. Ketika kami harus terserang covid yang di takuti seluruh dunia, bahkan banyak dari kenalan kami harus meregang nyawa. Kami sangat sedih, terpukul dan kehilangan mereka ini. Namun kami ingat kehidupan harus terus berjalan, seperti dedaunan menguning dan jatuh namun yang hijau menggantikannya. Hidup memang harus dijalani dengan penuh percaya dan dijalani dengan tulus ikhlas penuh syukur sebab tidak ada hidup yang sia-sia karena Tuhan memberikan masing-masing indah.

Dengan berdamai dengan keadaan yang kental virus covid, waktu selama masa-masa transisi berdampingan dengan virus. Terus kulangkahkan kakiku mengejar waktu dimana aku harus bergegas ke kantor. Menata impian yang sekian bulan seperti membeku bahkan hampir setahun tertunda, kami dikantor mulai bergairah mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan menjual sepatu dengan hasil sale cukup besar. Atas persetujuan perusahaan akhirnya kutargetkan niatku untuk mencapai omset setidaknya bisa untuk menolong perusahaan untuk menggajiku. Ternyata rancanganku bukanlah rancangan-Nya, aku harus meninggalkan perusahaan di bulan yang ke 11 di penghujung tahun tepatnya. Bukan karena rencanaku namun sudah bagian dari skenario-Nya, Sang pencipta waktu berdaulat mengatur keadaan dan situasi yang ada di dalam kendali-Nya. Aku harus memulai babak baru dengan pekerjaan baru. Ia sempurna dalam rencana dan waktu kapan aku harus melangkah. Seperti selembar daun yang kupungut dan kuamati. Semua ukiran daun sempurna dan bermakna.

Saatnya memimpin dengan hati…hidup seperti daun daun yang menjulur karena bagian terkecil dan sistemnya berusaha sesuai dengan fungsinya.

Hampir satu tahun persis, aku bekerja di lingkungan perbukitan ini, membantu dan bekerja di lingkungan yang baru. Dalam lingkungan yang baru itu aku coba membangun budaya atau etos kerja baru yang saling membutuhkan layaknya keluarga. Saya merasakan tuntunan Tuhan begitu nyata. Namun hal baru di pekerjaan, tidak berlansung mudah!

Aku berusaha dengan kemampuan yang ku miliki. Bertemu berbagai rekan kerja baru, orang baru dan usaha menyatukan dalam ikatan keluarga pengerja, rupanya itu langkah sulit namun tidak mustahil diwujudkan . Semua berpulang dariku, akan aku apakan semua itu? Tuhan terus mangajarku, ketika bonus diberikan itu jadi sarana untuk memberkati karyawan, dengan memperhatikan hidupnya sehari-hari.

Selama pandemi berlangsung dan mulai berkurang, Tuhan menjadi sandaran kami, firman-Nya sebagai pelita dalam kami berjalan. Nasehat saudara di dalam Tuhan yang mengelilingi kami, sepertinya tidak lupakan. Memberi makan sekalipun nampaknya kamu kekurangan. Tepat sesuai kehendak Tuhan kami lakukan memberi sepiring dua piring nasi untuk sekitar kami, kami tidak pernah menjadi kekurangan hingga saat ini. Sekalipun sama di penghujung tahun masih sama dengan situasi masih berdampingan dengan virus corona juga berita resesi yang akan terjadi dan melanda dunia secara global, nampaknya aku harus bersiap mental kembali. Apakah Tuhan ijinkan kami bisa melewati lagi, badai-badai kehidupan ini? Aku sering bertanya pada Tuhan, ” Mengapa penderitaan erat sekali dengan perjalanan manusia? Hmm…supaya aku bisa menyumbangkan makna hidup walau hanya sejumput”.

Kurengkuhkan kedua tangan pada pucuk daun singkong yang ada di depanku. Angin berhembus mengoyang dedaunan pohon-pohon singkong yang ada di ladang. Bunyi suara lembut gesesekan daun-daun singkong itu seolah mereka dengan daunnya bersama-sama mau melakukan apa yang akan kulakukan. Kedua tanganku secara bersamaan merengkuh daun itu dan kedua mataku kupejamkan dan bibirku menyatakan,”Tuhan Yesus terimakasih, dan terimakasih untuk tanaman singkong dan tanaman lainnya yang Engkau ciptakan memberi makna demikian dalam dihidupku”. (dy)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.