Sinode Gereja Isa Almasih

TEROPONG

Menyeberang dan
Tolonglah Kami

Seperti halnya hasrat petugas penyelamat jiwa yang berusaha menolong jiwa terkena musibah, yang berteriak, “Menyeberanglah, tolonglah kami”.
“God doesn’t waste anything even our sin”
David Roper
Oleh Daniel Dwi Sumantoro

Hasrat pencarian dan penyelamatan jiwa manusia diancam celaka adalah berharga dan sampai bisa menjangkaunya itulah adalah sukacita tersendiri.

TheHOPE.id – Dalam bukunya “Datang, Jadilah Cahaya-Ku”, ibu Teresa menceriterakan kesaksian panggilannya. Ia berusia 36 tahun, saat itu 10 September 1946 dan pergi retreat tahunan di adakan di Loreto di Dareeling. Ia mengungkapkan untuk “menyeberang”meningglkan Loreto dan mengikuti jalan-Nya memperlihatkan kawasan kumuh. Ia diminta menolong memberikan hatinya untuk mereka itu. Maka hasrat yang kuat dari Allah untuk mencintai dan dicintai di daerah paling kumuh.

Hasrat yang kuat dari Allah untuk mencintai dan dicintai oleh ibu Teresa terus dilakukan dan dinyatakan kepada orang-orang mulai anak sampai oran tua yang membutuhkan dicintai. Sampai orang itu merasakan dicintai Tuhan melalui orang-orang biarawan Cinta Kasih yang menunjukkan tindakannya.

Seperti halnya hasrat petugas penyelamat jiwa yang berusaha menolong jiwa terkena musibah, yang berteriak, “Menyeberanglah, tolonglah kami”. Bagi orang yang terpanggil menolong menyelamatkan jiwa, dengan berusaha sekuat tenaga dan upaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan jiwa terancam tersebut. Itu sebabnya orang yang bekerja melayani di Team SAR (Search and Rescue-Pencarian dan Penyelamatan) terlatih di medan yang sukar. Suatu kegiatan mencari, menolong dan menyelamatkan jiwa dalam bahaya adalah panggilan.

Hasrat pencarian dan penyelamatan jiwa manusia diancam celaka adalah berharga dan sampai bisa menjangkaunya itulah adalah sukacita tersendiri. Tentu saja manusia yang terpanggil untuk menyelamatkan manusia adalah orang yang memiliki hati kasih. Manusia yang memiliki hati kasih yang ilahi. Karena hati yang mempunyai kasih yang ilahi yang paling bisa melihat dan mendengar teriakan “Menyeberanglah dan tolonglah kami”.

Menyeberang dan Tolonglah Kami

Rasul Paulus bersama tim pelayan Injil seperti tertulis di dalam Kisah Para Rasul (KPR) 16:1-40 mencoba melakukan terobosan baru untuk memperluas misi pengabaran Injil ke daerah daerah di sekitar Asia pada masa perjalanan penginjilan kedua. Mengapa? Rasul Paulus dan tim pelayan Injil merencanakan untuk menolong jemaat-jemaat yang tinggal di daerah-daerah di sekitar Asia, sebab mereka melihat bahwa orang-orang Asia sedang in dalam menerima berita Injil. Di ayat 5 Kisah Para Rasul Pasal 16, Alkitab menuliskan bahwa jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. Namun, ternyata rencana besar dan nyaman serta terukur tim penginjilan Rasul Paulus dan kawan kawan mendapatkan penolakan dari Roh Kudus dan Roh Yesus, “Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.

Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka (KPR 16:6). Dalam kegalauan tim merespon penolakan dari Tuhan terhadap rencana pekabaran Inijil mereka, Rasul Paulus berusaha berpikir kritis dan akhirnya mereka menerima tugas baru dari Tuhan dengan tanda penglihatan seorang Makedonia yang berseru, “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!”. Penglihatan itu mendorong Paulus dan team untuk kesempatan agar bisa memberitakan Injil. Sepertinya mereka berfikir, mencari jalan agar bisa menjawab tantangan itu demi jiwa yang perlu Injil. Apakah orang Kristen sekarang seperti semangat team SAR, jiwa yang terhilang untuk diselamatkan agar masuk sorga? Jhon Stott dalam bukunya berjudul Mengapa Saya Seorang Kristen, menulis dengan memiliki kobaran hati yang membara penuh kasih ilahi yang menyatakan;”Hidup adalah mengasihi dan tanpa kasih kepribadian manusia terpisah dan mati”.

Ketaatan Paulus dan kawan-kawan terhadap perintah Tuhan dalam melaksanakan tugas penginjilan ke daerah-daerah baru di benua Eropa menimbulkan dampak yang luar biasa. Di derah-daerah baru tersebut Tuhan juga berkarya secara luar biasa. Lidya seorang penjual kain ungu dari Tiatira bersama keluarganya bertobat dan percaya Kristus. Dan Kepala Penjara di kota tersebut juga dimenangkan hatinya bersama seluruh anggota keluarganya. Artinya banyak orang di daerah tersebut yang hatinya telah Tuhan siapkan dan siap percaya Tuhan Yesus ketika firman Tuhan ditaburkan.

Mempercayai suatu hal yang baru memang tidak selalu mudah namun dibutuhkan keberanian mencoba hal yang baru berpotensi memperoleh hasil yang maksimal dibandingkan dengan metode yang sebelumnya.

Vera Wang merupakan salah satu desainer gaun pengantin langganan para selebriti Hollywood. Vera Wang memiliki nama asli Vera Ellen Wang, yang lahir pada 27 Juni 1949 Siapa sangka, saat muda ia adalah seorang pemain skating hingga beberapa kali mengikuti U.S. National Championships. Tapi, ia gagal menembus tim United State of America Olympics hingga membuatnya merasa perlu alih profesi. Ia pun meninggalkan kariernya tersebut. Baru pada usianya yang ke-40, Vera Wang merintis bisnis fashion. Setelahnya, wanita berambut panjang ini menuai banyak prestasi di dunia fashion. Wajahnya juga pernah muncul dalam tayangan “Project Runaway” sebagai bintang tamu (2006), “Ugly Betty” (2007), dan “The Apprentice” (2008). Vera Wang berpotensi meraih hasil baik sebagai atlit skating. Namun hasil ini hanya menumpuk gengsi dan martabat untuk diri sendiri. Dengan menyeberang ke ranah profesi yang lain sebagai desainer, terbukti karya Vera Wang tidak hanya menaikan derajad diri sendiri tetapi memberkati dan berguna bagi banyak orang dengan karya-karyanya di bidang fashion yang luar biasa.

Segala hal yang baru

Beresiko

Mencoba hal yang baru memang penuh resiko dan menakutkan bukan?, apalagi zaman banjir informasi dan media saat ini namun bagi hati yang penuh belas kasihan serta murni untuk jiwa-jiwa yang berteriak “ Menyeberanglah dan tolonglah kami” perlu sedia mengambil resiko yang sudah dipikirkan bersama, perlu keberanian untuk melangkahkan kaki dengan iman kepada Kristus Yesus Tuhan. Lihatlah Maggie Gobran atau Mama Maggie, seorang dari Ortodoks Koptik, Mesir mengjangkau dengan penuh kasih ratusan anak-anak di daerah kumuh bagi Kristus. Maggie dulunya seorang menengah ke atas, pengajar dengan gelar professor, ia tergerak hatinya untuk anak-anak yang membutuhkan kasih berteriak “Menyeberanglah dan tolonglah kami”.

Dan kisah Annahita Parsan yang melarikan diri dari Iran melalui pegunungan sebagai pengungsi Muslim, hingga menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan dipenjara di Turki, sebelum berhasil mengukir sebuah kehidupan yang baru menjadi seorang pendeta di Swedia. Ia menjadi pendeta melalui perjuangan yang menyakitkan dan penuh resiko sampai ada orang yang melawatnya dan memberi sebuah Alkitab kecil. Dari dalam tempat pengusian Parsan dibimbing dan Tuhan terus menumbuhkan imannya, sekarang ada 1.500 jiwa yang dimenangkan. Ada banyak yang orang yang hatinya telah menerima Kasih Tuhan untuk mentaati panggilan Kristus bagi jiwa yang berteriak “Menyeberanglah dan tolonglah kami”, apapun resikonya.

Joanne Shetler, dalam bukunya Firman itu Datang Dengan Penuh Kuasa yang menjadi rujukan misi saat ini, menuliskan demikian,

“Berungkali Allah mengajak kita agar mau mengambil risiko dan mempercayakan diri kepada-Nya dan firman-Nya. Ia memandang kita sebagaimana kita ada dengan pengetahuan yang terbatas tentang diri sendiri serta dunia sekeliling kita. Apabila kita percaya kepada Allah, Ia menarik kita lebih dekat kepada-Nya dan kita akan lebih banyak belajar kuasa dan kasihnya”. Selamat bermisi (dds)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.