Petang itu dibungkus kabut. Seorang pemuda berjalan gontai di tepian jembatan sungai Themes, London –Inggris. Ia berdiri mematung. Kepalanya ditundukan. Bahunya terguncang-guncang. Rupanya, ia menangis.
Selang beberapa waktu, kereta yang di tarik kuda melintas. Entah apa yang membuat sang kusir memperhatikan pemuda yang berdiri di tepian jembatan tersebut. Di bawah jembatan, arus sungai Themes pelan, dingin hampir membeku.
Mata sang kusir melihat gelagat yang mencurigakan dari pemuda tersebut. Ia segera turun dari keretanya. Ia berdiri beberapa meter dari pemuda yang nampak linglung tersebut. Tiba-tiba pemuda tersebut, berusaha melompat pagar jembatan. Rupanya ia ingin mengakhiri hidup dengan terjun ke sungai Themes. “Tunggu, ini aku!”, seru sang kusir sambil berlari lalu mendekap pemuda itu. Tubuh pemuda itu meronta-ronta. “Tenanglah anak muda, tenang. Jangan akhiri hidupmu, bukankah masih ada hari esok, “ hibur sang kusir itu. Pemuda itu menangis dalam pelukannya. Malam itu juga sang kusir mengantar sosok pemuda itu ke apartemennya yang sederhana di pingiran kota London.
Gagal menjadi mahasiswa hukum, karena tidak sangup mengikuti perkuliahaan yang ketat dan penuh disiplin. Selang beberapa waktu, ia memutuskan bertunangan dengan kekasihnya. Sayang, lamarannya ditolak oleh orang tua kekasihnya. Ayah dari kekasihnya menolak mentah-mentah anak gadisnya bertunangan dengan pemuda yang tidak jelas masa depannya. Padahal ia telah berusaha keras menabung untuk membeli sebuah cincin pertunangan. Ia menjadi pecundang. Belum cukup, hanya dalam hitungan hari, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai sekretaris di salah satu kantor pemerintah. Dalam waktu singkat ia kehilangan kariernya dan menjadi penggangguran.
Kuliahnya berantakan, pertunangannya gagal, kehilangan pekerjaan dan kariernya tamat. Lengkap sudah kehancuran hidup yang dialami. Ia seperti bejana yang dihantam palu bertubi-tubi, remuk, hancur dan tak ada puing secuil pun yang tersisa.Tak tahan menghadapi kenyataan tersebut, jiwanya terguncang dan nyaris gila.
Dalam keputusaan, ia berniat bunuh diri, terjun ke sungai Themes. Merasa hidupnya masih bisa “diselamatkan” orang, ia beralih dengan cara minum obat (overdosis). Ia sudah sampai tahap sekarat. Namun, nasib berkata lain, tetangganya menyelamatkan. Ia di rawat di rumah sakit. Ia selamat yang kedua kali.
Dalam kondisi masih dirawat di rumah sakit, ia melarikan diri. Tiba di rumah, ia mencoba bunuh diri untuk ke tiga kalinya, kali ini dengan menjatuhkan dirinya di atas pisau roti yang mata pisaunya sengaja di arahkan ke bagian perutnya sedang bagian gagangnyaa sengaja ditancapkan di sela-sela tempat tidurnya. Dan brakkk, tubuhnya menindih pisau roti. Ia sempat mengerang kesakitan, sayang, pisau patah!. Ia selamat untuk ketiga kalinya.
Merasa gagal, ia mencoba untuk terakhir kalinya, gantung diri!. Ia mengikat lehernya dengan tali tambang yang di ikatkan di kusen pintu. Dan rrrttt…, tubuhnya mengelantung. Lehernya tercekik tambang, nafasnya mulai tersekat. Dalam kondisi antara hidup dan mati, seorang pengatar koran masuk rumahnya dan menyelamatkan. Ia gagal bunuh diri keempat kalinya!. Pemuda itu bernama Willam Cowper, anak seorang pendeta yang saleh.
Hidup William Cowper menghadapi keruntuhan. Tidak ada sisa kekuatan yang bisa menopangnya . Runtuh, jatuh dan tidak mampu bangkit lagi.
Untuk pertama kalinya William Cowper menangis seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya. Dan itulah saat yang tepat bagi Tuhan untuk menjamah hatinya. Ia bisa saja lari dari hadapan Tuhan namun Tangan Tuhan selalu menjamahnya. Allah yang penuh kasih justru sedang memulai sebuah renca-Nya di tengah puing kehancuran hidup William Cowper. Melalui kebenaran firman-Nya yang direnungkan William Cowper; ”Aku telah di salibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”. (Gal 2: 19)
Firman Tuhan yang direnungkan itu seperti suara yang terus dibisikkan dari kalimat dari ayat itu. Tuhan memperdengarkan kata demi kata dari ayat tersebut seacara terus menerus sampai menembus hati nuraninya yang terdalam. “Aku telah disalibkan…,” dan kata “aku” menunjuk dirinya. Kristus telah disalibkan bagi dirinya. William Cowper telah disalibkan dengan Kristus. Dan hidup sekarang ini adalah hidup yang tidak sendirian, Kristus hidup di dalamnya.
Dalam hidupnya ada Kristus yang tak terbatas, sedang dirinya terbatas. Di dalam hidupnya ada Yesus yang sempurna sedang dirinya penuh cacat cela. Di dalam dirinya ada Tuhan yang berkuasa, sementara dirinya selama ini tak berdaya. Dan yang paling menggetarkan hatinya, adalah di dalam dirinya ada Yesus Tuhan yang hidup, yang sanggup memulihkan, menjadikan baru dan menyempurnakan. Yesus telah memberikan fajar pengharapan. Ia tidak sendirian. Ia ada di mana Kristus ada. Dan hal itu hanya dapat dimengerti dengan iman!
Hidup bukan soal “berjalan”. Bukan soal berhasil atau gagal. Melainkan di mana ada Kristus di dalam hidup itu, hidup menjadi berbeda. Hidup yang rapuh namun di dalamnya ada Kristus yang berkuasa. Hidup yang tidak bermakna menjadi bermakna karena Kristus.
Ya, di dalam dirinya ada Kristus Tuhan yang hidup. Ini luar biasa dan sulit dicerna oleh pikirannya yang terbatas. Itu sebabnya Paulus menambahkan, ”hidup sekarang hanya dengan iman” (Gal 2:20b), percaya akan Yesus dapat mengerjakan segala sesuatu baginya.
William Cowper percaya hal itu. Dan di dalam kerapuhannya, hidupnya saat ini ada di dalam kuasa Allah yang luar biasa.
Pengalaman perjumpaan dengan Kristus, dituliskan dalam sebentuk puisi. Sebuah puisi yang menyaksikan kasih Tuhan dalam hidupnya. Dan kasih itu yang disaksikan bagi orang-orang yang gagal seperti dirinya.
Ia memberi judul puisinya
KJ. 35 – Tercurah Darah Tuhanku
Syair: There is a Fountain Filled with Blood, William Cowper, 1771
Terjemahan: Yamuger, 1977
Lagu: Lowell Mason, 1830
do = c 4 ketuk
(Redaksi hanya menuliskan dua lirik lagu dari empat lirik secara keseluruhan)
1. Tercurah darah Tuhanku di bukit Golgota;
yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya,
terhapus dosanya, terhapus dosanya
yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya.
Za 13:1; Ibr 9:11-14; 1 Yoh 1:7
2. Penyamun yang disisi-Nya
Dibri anugerah
Dan aku yang penuh cela, dibasuh darah-Nya
Dibasuh darah-Nya, dibasuh darah-Nya
Dan aku yang penuh cela, di basuh darah-Nya
Dua bait lirik lagu yang lahir dari pengalaman hidupnya; gagal bunuh diri empat kali dan sekarang ada Kristus, jadikan hidupnya berarti.
Sewaktu saya ikut melayani di gereja kecil di desa Junggo, Batu – Malang, di kawasan pegunungan di Jawa Timur, lagu pujian tersebut dikumandangankan dalam mengiringi sakramen perjamuan kudus. Pujian ini turut menjadikan pesan sakramen tersebut begitu kuat.
Saya merenungkan kembali keajaiban yang luar biasa dari hidup yang Tuhan anugerahkan. Untuk hidup yang luar biasa itu, Yesus Tuhan bukan hanya menyelematkan dari kesia-sian karena akibat dosa manusia akan tetapi juga Ia tidak akan pernah membatalkan rencana-Nya yang tak kalah indahnya bagi setiap manusia, termasuk dalam hidup Anda!
Jadi, ingatlah di dalam diri Anda ada Yesus yang sanggup menjadikan segala sesuatu baru. Bagaimana Anda dapat memahaminya? Satu jawaban, percaya Ia ada di dalam hidup Anda! (ys)