Setelah Paskah dan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, biasanya gereja-gereja Isa Almasih mengadakan doa sepuluh hari sesuai dengan yang tertulis dari Alkitab. Dalam acara doa sepuluh hari itu atau hari Pentakosta. Masing-masing gereja Isa Almasih ada warna ibadah Pentakosta. Tentu saja hal warna tersebut amat dipengaruhi oleh gembala gerejanya. Terlepas dari semua itu, ada baiknya kita merenungkan kembali makna Pentakosta dari sisi Lukas sang penulis Kisah Para Rasul yang menyaksikan Pentakosta.
Pentakosta adalah moment sekaligus gerakan yang munculnya pembaharuan di dunia religius untuk pertama kalinya seperti yang di kisah dalam Kisah Para Rasul 2. Orang-orang yang hadir di Yerusalem dari segala penjuru kolong langit, yang menyaksikan peristiwa Pentakosta. Peristiwa itu kemudian menjadi gerakan dari kesaksian para murid dan orang percaya bersaksi tentang Kristus Tuhan dan orang percaya menjadi berkembang.
Dalam sejarahnya, gerakan orang percaya mengadakan moment Pentakosta yang terus bergerak dan timbulah apa yang dinamakan Gerakan Pentakosta. Para ahli sejarah gereja, yang disebut Gerakan Pentakosta lahir pada tahun 1901. Ini berarti gerakan ini baru berusia sekitar 105 tahun; sebuah usia yang relative muda bila dibandingkan dengan mereka (Katolik, Refomed, Mennonite, dan Wesleyan). Meski demikian, gerakan ini, dan juga turunannya yaitu gerakan Karismatik, telah memberikan dampak yang sensasional bagi kekristenan hari ini. Kedua gerakan ini telah menjadi salah satu daya tarik utama kekristenan di kala banyak orang mulai jemu dengan kelesuan dan kekakuan gereja-gereja baru arus utama.
Walau begitu, gerakan ini pernah mengalami pasang surut bahkan masa kelam di mana mereka dikucilkan, ditolak bahkan dianggap bidat oleh saudara-saudara seiman. Hal ini dapat di mengerti akibat berbagai alasan dan ekses yang membuat gereja terpecah dan kesaksian-kesaksian yang miring dan palsu ( Dirangkum detikcom, Rabu (27/2/2019), klaim Lukau diberitakan berbagai media. Dilansir AFP dan BBC, video Lukau menghidupkan orang meninggal viral di medsos/ https://news.detik.com/internasional/d-4447285/geger-terkuaknya-kebohongan-pendeta-hidupkan-orang-mati.).
Pengalaman tersebut tampaknya membuat gerakan ini banyak berbenah dan perlahan mulai meninggalkan bias anti-intelektualitas mereka. Mereka mulai memformulasikan dasar teologis dan biblikal atas keyakinan iman mereka (khususnya Pneumatologi-Roh Kudus), bahkan mulai menghasilkan sarjana-sarjana besar yang mampu berbicara di dalam kancah akademis, seperti halnya Gordon Fee, Craig Keener, Simon Chan.
Perlu diketahui Roger Stronstad (penulis buku ini) sendiri adalah sarjana dari Gerakan kharismatik yang banyak berpengaruh dikalangan akademis. Di dalam karyanya setebal enam bab ini, ia kembali menunjukkan bahwa kelompok Pentakosta tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Oleh karena itu buku ini merupakan hasil modifikasi tesisnya di Regent College yang menunjukkan aspek penting yang terlewatkan oleh pemahaman dewasa ini.
Stronstad mulai dengan mengkritisi metodologi yang kerap digunakan para sarjana ketika membaca tulisan Lukas. Ia mengritik pembacaan mayoritas yang cenderung memandang Lukas dengan kacamata Paulus. Dalam hal ini, ia bergantung kepada Howard Marshall yang menegaskan bahwa Lukas bukanlah sekadar sejarawan. Ia juga seorang teolog. Oleh sebab itu, tidak seharusnya ia dibaca dengan kacamata Paulus, sebaliknya para penafsir harus mulai menghargai keunikan teologis yang hendak disampaikan Lukas melalui narasinya.
Ia menggunakan istilah khas LXX (Septuaginta) untuk menunjukkan bahwa karya Roh Kudus di dalam tulisannya merupakan kelanjutan dari karya Roh di dalam Perjanian Lama. Stronstad lantas menemukan bahwa di dalam Perjanjian Lama, karya Roh pada dasarnya bersifat Karismatik, yang terdiri atas tiga motif, yakni motif transfer (memberi kemampuan untuk tanggung jawab kepemimpinan), motif tanda (menegaskan pemilihan atas seseorang), dan motif panggilan (memberi kemampuan untuk menjalankan sebuah panggilan). Karya ini berhenti pada masa intertestamental. Itu sebabnya tidak ada lagi Kitab Suci pada masa itu. Namun demikian, karya ini akan direstorasi ketika Sang Mesias hadir.
Di dalam bab tiga, Stronstad menunjukkan bahwa Lukas sedang menampilkan Yesus sebagai Mesias, Sang Nabi Eskatologis yang akan memulihkan karya Roh di dalam Perjanjian Lama. Stronstad juga melihat bahwa di dalam Injilnya, Lukas nampak memainkan semacam tipologiterhadap Yesus. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus ditampilkan oleh Lukas sebagai (1) nabi yang seperti Musa, (2) seperti Yesaya, (3) seperti Elia dan Elisa, (4) nabi yang tertolak, dan (5) nabi seperti Daud. Semua ini membawa Stronstad berkesimpulan bahwa Yesus menurut Lukas adalah seorang Nabi Kharismatik: Ia menggenapi karya para Nabi Karismatik di dalam Perjanjian Lama.
Di dalam bab empat, Stronstad berpendapat bahwa peristiwa Pentakosta sebenarnya bukan sebuah kisah mengenai kelahiran gereja. Sebaliknya, ia melihat bahwa Lukas menampilkan peristiwa Pentakosta sebagai pemulihan karya Roh sekaligus lahirnya komunitas Karismatik.
Ini jelas terlihat karena, alih-alih mengutip nubuatan Yehezkiel atau Yesaya mengenai zaman baru, Lukas justru mengaitkan turunnya Roh Kudus dengan nubuatan Yoel mengenai pencurahan karunia.
Di dalam bab lima, Stronstad melihat bahwa turunnya Roh Kudus di dalam komunitas Karismatik tidak memiliki kaitan dengan masalah soteriologis. Meskipun anugerah Karismatik diberikan kepada orang-orang yang sudah diselamatkan, tetapi tujuan utamanya ialah memampukan mereka menjadi saksi dalam bermisi. Menariknya, Stronstad juga melihat bahwa pengalaman Karismatik gereja perdana sebenarnya memberi sebuah pola yang harus diikuti oleh gereja kemudian. Terakhir, Stronstad merangkumkan semua pembahasannya di dalam bab keenam.
Buku ini sebenarnya merupakan apologia (pembelaan) Stronstad sebagai seorang Pentakosta terhadap validitas pengalaman Karismatik. Kita diingatkan bahwa sepanjang sejarah timbulnya berbagai isme yang ada di kekristenan, salah satunya adalah kelemahan dari umat manusia yang lemah dan rapuhnya pemahaman akan pengertian identitas serta jati dirinyanya sebagai orang Kristen. Dengan mengutip pemikiran Horald A Nedland dalam bukunnya Religius Experience and The Knowledge of God, pengalaman religious dalam kekristenan termasuk hal karismatik adalah pengalaman pribadi yang sadar dan nyata bersama-berjumpa dengan Tuhan dalam kesucian dan ke mahaannya. Kekristenan bukan hanya dipahami sebagai pengetahuan, aktivitas gereja atau kegiatan atas nama keagamaan Kristen tetapi miskin perjumpaan dengan Tuhan. Atau kegiatan gerejawi yang padat namun sangat miskin atau tidak pernah mengalami apa itu pengalaman hati-roh yang merupakan inti dan dasar dari tindakan kekristenan. Pengalaman ini menjadi pangalaman yang hidup personal bersama dengan Yesus Kristus melalui karya Roh Kudus sebagai tanda kesaksian kebenaran dari Bapa. Bagaimana dengan kita? (red)