Sinode Gereja Isa Almasih

- OPINI -

“Ketidaktahuan” sebagai Problem Dasar Manusia

kisah ayub

"(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (3) Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. (4) Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. (5) Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (6) Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

Ayub 42:1-6

Kitab Ayub menyajikan cerita tentang pendertaan yang dalam manusia. Keadaan Ayub sendiri mendorong terjadinya serangkaian percakapan yang dituls dalam bentuk puisi. Percakapan antara Ayub dan sahabt-sahabatnya serta TUHAN ini berpusat pada pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang sulit. Kitab Ayub berbicara tentang penyebab penderitaan manusia dan peran TUHAN dalam penderitaan ini. Ayub sebagai pemeran utama dalam cerita ini digambarkan sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia percaya kepada TUHAN dan diberkati dengan anak yang banyak, kesehatan, dan kekayaan. Namun, ketika Ayub kehilangan semuanya dan sangat menderita, kitab ini memusatkan perhatian terhadap pertanyaan: “Mengapa seorang yang saleh dan seta seperti Ayub harus menderita?” Tokoh-tokoh lainnya dalam cerita ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan sejenis: “Apakah semua penderitaan disebabkan oleh dosa manusia? Apakah TUHAN menyebabkan manusia menderita? Mengapa?” Kitab Ayub mengajak para pembaca menggumuli pertanyaan-pertanyaan klasik ini bersama tokoh yang ada di dalamnya.

Pada zaman dahulu diceritakan pada suatu masa sebelum bangsa Israel ada, ada seorang bernama Ayub dari tanah Uz yang terletak di wilayah Edom di utara Arab, sebab Uz didaftarkan di antara keturunan Edom. Seorang kaya raya yang hidupnya saleh, jujur, taut akan TUHAN dan menjauhi kejahatan. Namun, “tanpa sepengetahuan” Ayub, pada suatu hari diadakanlah sebuah sidang lah di surga. Dalam sidang itu, datang juga Iblis yang mengajukan pertanyaan kritis sehubungan dengan kesalehan Ayub. Pertanyaan itu dijawab TUHAN dengan memberikan ijin kepada Iblis agar mendatangkan ujian bagi Ayub. Bencana pun menimpa Ayub, sehingga ia harus kehilangan harta kekayaannya dan anak-anaknya. Dari bencana yang pertama ini Ayub terbukti lolos uji. Namun, Iblis masih meragukan kesalehan Ayub dan ingin sekali lagi menguji kesalehan Ayub. TUHAN pun kembali memberikan ijin kepada Iblis untuk melaksanakan programnya Kali ini Ayub harus kehilangan kesehatan tubuhnya. Dalam situasi seperti ini, Ayub masih mencoba untuk bertahan dengan kesalehannya.

Kemudian datanglah tiga orang teman Ayub: Elifas dari Teman, Bildad dari Suah, dan Zofar dari Naama. Mereka datang untuk menghibur Ayub. Ketiga temannya yang terdekat mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya. Pada awalnya ketiga teman itu hanya bisa menangis dan kemudian duduk menemani Ayub tujuh hari tujuh malam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Motivasi mereka baik dan memiliki kasih yang tulus dan kepedulian terhadap Ayub. Penampilan Ayub tampak begitu menyedihkan sehingga ia sulit dikenali. Teman-temannya sukup disiplin untuk tidak mengatakan apa pun selama tujuh hari penuh.

Ingatlah, berkata-katalah sesedikit mungkin terhadap orang yang berada dalam suatu kesukaran yang besar. Jangan menjemukan mereka dan jangan menanyakan banyak pertanyaan kepada mereka. Berdoalah dengan suara yang lembut.

Sebagai tokoh utama, Ayub tampil sebagai sosok orang benar yang menderita. Meskipun pada awalnya dia mencoba untuk bersabar dengan situasi penderitaannya, namun toh kemudian Ayub memuntahkan segala pahit getir penderitaan yang dia rasakan. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Ayub angkat bicara, Ayub yang saleh itu mengutuki hari kelahirannya dan menginginkan kematian segera datang. Teman-temannya pun memberikan respon, sehingga terjadilah sebuah dialog panjang antara Ayub dengan ketiga temannya. Dalam dialog ini, Ayub tampil tidak lagi sebagai seorang saleh yang serba bisa menerima segala kemalangan yang menimpa dirinya, namun sebagai seorang pemberontak yang memprotes dan mempertanyakan mengapa dia yang meskipun hidup dalam kesalehan harus mengalami berbagai penderitaan. Di mata Ayub, tiga teman Ayub tampil sebagai pembela TUHAN dengan berpijak pada “hukum pembalasan” (tabur tuai / transaksional), bahwa TUHAN membalaskan kebaikan bagi orang yang saleh, dan membalaskan keburukan bagi orang yang jahat.

“Apa yang ada di dalam ini bagiku? Berapa banyak keuntungan yang dapat aku peroleh dari hal ini bagi diriku sendiri? Seberapa sedikit usaha dan pengorbanan yang diperlukan, untuk menerima balasan yang sebanyak-banyaknya bagi diriku sendiri? Sikap seperti ini merupakan gejala dari yang disebut “Kekristenan yang nyaman”. Kekristenan yang nyaman pada masa kini adalah suatu mentalitas yang dikhotbahkan dari atas mimbar, suatu mentalitas yang memperalat Allah sebagai suatu jalan agar kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan terpenuhi. Hal ini benar-benar berlaku atas beberapa orang Kristen, karena kita dapati dalam Yohanes 6:26-27 bahwa orang banyak mengikut Yesus hanya karena Ia sedang memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebanyakan dari mereka meninggalkan-Nya ketika ujian-ujian kehidupan menerpa mereka.

Di mata tiga teman Ayub, TUHAN adalah TUHAN yang adil. Tidak mungkin TUHAN salah dalam memberikan ganjaran bagi setiap orang sesuai dengan perbuatannya. Menurut mereka, penderitaan Ayub pasti disebabkan oleh dosa yang telah diperbuatnya. Teman-teman Ayub tidak peka terhadap keputusan Ayub, merasa terhina, dan kemudian seluruh percakapan mereka menjadi keluar dari kontrol. Emosi dan keangkuhan menimbulkan semua pihak.

Suatu peringatan, segala sesuatu yang teman-teman Ayub katakan akan masuk ke dalam satu dari tiga kategori:
1. Beberapa yang mereka ucapan benar.
2. Beberapa yang mereka ucapkan salah (beberapa di antaranya sangat keliru).
3. Beberapa yang merea ucapan tidak sesuai dengan keadaan Ayub meskipun itu adalah pernyataan-pernyataan yang benar.

Di sini Ayub mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat lagi dijawab/dibantah oleh tiga temannya yang tampil sebagai figur orang berhikmat. Gambaran ini nampak melalui akhir dialog di mana Bildad berbicara sangat singkat dan setelah itu Zofar tidak lagi angkat bicara. Masing-masing pihak berpegang pada pendiriannya sehingga dialog itu pun berakhir dengan tanpa penyelesaian. Perkataan-perkataan Ayub telah membawa hikmat tradisional sampai pada batasnya. Hikmat tradisional tidak lagi mampu memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub. Di sini terlihat bahwa “ketidaktahuan” telah berlaku sebagai batas dari hikmat. Tradisi hikmat Israel berusaha untuk merangkumkan prinsip tatanan dunia/hidup dan memahami hukum pembalasan (hukum tabur tuai / hukum transaksional) sebagai prinsip tatanan dunia yang pasti. Kasus Ayub orang benar yang menderita menjelaskan bahwa pemahaman itu bagaimanapun tidak berlaku.

Ayub adalah sosok manusia yang berada di atas panggung dunia ini. Yang dia tahu adalah bahwa dirinya orang benar, yang telah menjalankan semua tuntutan keagamaan maupun sosialnya. Ayub pun kembali angkat bicara dalam sebuah monolog panjang. Dalam pemahaman dirinya sebagai orang benar, tentu saja, yang dia tahu adalah bahwa sudah seharusnya dia menerima ganjaran-ganjaran kebaikan dari Allah. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, yang Ayub tahu kemudian adalah bahwa meskipun dia hidup benar, tetap saja dia ditimpa oleh bencana dan kemalangan yang sangat berat. Ayub berkesimpulan TUHAN telah bertindak tidak adil terhadap dirinya. Ketidakadilan TUHAN membuat Ayub mengeluh dalam kepahitan jiwanya. Keluhan Ayub berubah menjadi pemberontakan yang terarah bukan kepada manusia, melainkan kepada TUHAN. Ayub ingin mencari keadilan dan ingin membawa kasusnya melawan TUHAN di depan pengadilan. Klimaks dari pencarian Ayub tersebut berakhir dengan ketidaktahuannya, di manakah TUHAN ditemukan. Di mana-mana Ayub mencari TUHAN tetapi TUHAN tidak ada.

Dalam suatu ujian kita paling menderita:
1. Allah berdam diri.
2. Teman-teman salah paham.
3. Kita mempunyai tekanan dari suatu akibat yang tidak menentu.
4. Tekanan-tekanan fisik dan mental dari ujian iitu melelahkan kita.

Keputusasaan selalu merupakan hasil dari mempercayai sesuatu yang tidak TUHAN katakan tentang kita atau tentang situasi kita. Karakter dibuktikan dari reaksi-reaksi kita dalam tekanan dan kesesakan. Karakter selalu dihubungkan dengan kesesakan. Siapa pun dapat memuji TUHAN tatkala segalanya berjalan lancar, namun apa yang kita lakukan ketika panas terik menerpa? Ini menentukan apakah kita seorang yang berkarakter atau tidak. Apakah kita akan mencari TUHAN untuk memperoleh kasih karunia ketika kita memerlukannya? Atau kita akan menjadi pahit hati? TUHAN sedang dengan seksama mencari orang yang bersungguh hati kepada-Nya.

Tiga teman Ayub nampaknya sudah tidak mampu lagi memberikan tanggapannya kepada Ayub sehingga tampillah teman keempat bernama Elihu dari Bus. Elihu adalah orang keempat yang pendiam. Ia jauh lebih muda daripada tiga teman Ayub lainnya, meskipun demikian ia lebih mendalam dalam hal-hal rohaniah. Roh TUHAN turun atasnya dan ia mulai berbicara atas nama TUHAN. Ia adalah seorang nabi dan juga benar-benar merupakan seorang tipe Kristus. Elihu adalah sebuah lambang Kristus. TUHAN menjadi seorang manusia. Ia mengalami pencobaan dalam segala hal (penderitaan bahkan kematian) sama seperti manusia. Tidak dapat dikatakan tentang TUHAN bahwa Ia tdak memahami manusia. Penjelmaan yang Ia lakukan telah membuat TUHAN menjadi sama dengan manusia. Manusia tidak pernah dapat berkata TUHAN tidak mengerti. TUHAN sungguh-sungguh pernah menjadi manusia. Elihu mencoba menjelaskan makna penderitaan Ayub sebagai cara TUHAN berkomunikasi dengan manusia. Penderitaan orang benar bukanlah tanda ketidakadilan TUHAN, melainkan sebuah didikan dari TUHAN. Semua kesulitan yang telah datang menimpa Ayub bukanlah disebabkan oleh perbuatannya yang salah. Namun, selama ujian itu berlangsung Ayub telah mengatakan beberapa hal yang salah (tidak homat) tentang TUHAN dan kepada TUHAN. Dalam hal ini Ayub tidak benar. Elihu sedang menyentuh akar persoalan Ayub yang sebenarnya. Dalam ujiannya Ayub menemukan kesalahan dalam TUHAN namun tdak menyadari kesalahannya sendiri; dengan demikian ia menempatkan dirinya lebh benar daripada TUHAN. Ayub tidak tahu kesalahannya sendiri. Dan inilah akar pergumulan manusia, Ketidaktahuan manusia tidak dapat melihat problem manusia sendiri.

Setelah semua pihak terdiam dan setelah lama TUHAN berdiam, maka TUHAN mulai berbicara (walau Ia telah berbicara melalui Elihu). Dua kali TUHAN menjawab Ayub dari balik badai dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayub. Apa yang TUHAN katakan kepada Ayub akan meneguhkan segala nasihat yang baru saja diberikan Elihu. TUHAN menanyakan sekitar delapan puluh pertanyaan kepada Ayub. Ayub tidak dapat berkata apa-apa untuk menjawab-Nya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampaknya mustahil untuk dapat dijawab, sehingga Ayub pun menutup perkataannya dengan dengan mengatakan: “Aku tahu… bahwa aku tidak tahu.” Setiap kali TUHAN menanyakan suatu pertanyaan kepada manusia, itu bukan berarti TUHAN tidak tahu jawabnnya, melainkan agar manusia dapat melihat sesuatu melalui pertanyaan itu. Ayub melihat TUHAN dengan matanya sendiri.

Hikmat atau Kebijaksanaan berarti kemudian bukan lagi “saya tahu tatanan dunia ini”, “saya tahu rahasa Ilahi”, atau “saya tahu rumus hidup”, yang dengannya orang dapat hidup bahagia, kalau orang mengikuti rumus tersebut. Hikmat adalah “aku tahu… bahwa aku tidak tahu”. Berhadapan dengan TUHAN manusia mengakui keterbatasannya. Pada batas ini manusia bertemu dengan ketidaktahuannya. Namun, di wilayah ketidaktahuan manusia, TUHAN ada di sana. TUHAN menjawab Ayub dari balik badai dan berbicara tentang hal-hal yang tidak mampu dipahami oleh manusia.

Pengalaman penderitaan yang Ayub alami dalam pemahaman dirinya sebagai orang yang saleh membuat Ayub memahami bahwa hidup manusia tidak dapat diprediksikan, dan hukum pembalasan (hukum tabur tuai / hukum transaksional) seperti yang diyakini oleh tiga temannya tidak sepenuhnya berlaku. Pengalaman ini membawa Ayub pada sebuah situasi batas rasionalitasnya, di mana Ayub sebagai manusia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menjadi rencana dan keputusan Sang Ilahi. Ketidakahuan Ayub menjadi takut dan gentar kepada TUHAN. Dari tahtanya yang tidak terlihat oleh manusia, TUHAN telah menetapkan nasib setiap individu. TUHAN melakukan apa yang Dia mau dan tidak seorangpun dapat menggoyahkan TUHAN untuk mengubah keputusan-Nya. Bahkan ketaatan Ayub terhadap segala hukum TUHAN tidak dapat menjamin bahwa TUHAN pasti akan memberikan hidup bahagia kepadanya. Perbuatan TUHAN tidak dapat diprediksikan dan TUHAN akan menggenapi rencana-Nya. Ayub kemudian sanggup memahami penderitaan orang lain setelah ia sendiri mengalami berada dalam keadaan yang begitu rendah. Berapa banyak kemampuan untuk memahami orang lain yang kita miliki? Berapa dalamkah kita pernah dhempaskan?

Akhir cerita ditutup dengan sebuah keputusan TUHAN yang mengejutkan pembaca, karena TUHAN justru membenarkan Ayub yang memprotes dan memandang bersalah tiga teman Ayub yang telah berusaha membela TUHAN. Setelah Ayub berdoa untuk teman-temannya, TUHAN pun mengembalikan dua kali lipat harta kekayaan Ayub. Berdoa bagi teman-teman (orang-orang) yang salah paham atau salah menilai situasi kita, menolong kita memperoleh kebebasan dari kepahitan. Daripada marah terhadap mereka, lebih baik kita menyadari bahwa TUHAN ingin menolong mereka bebas dari roh suka menghakimi. Dengan menjaga agar sikap kita tetap benar, kita akan membuka pintu bagi TUHAN untuk berhadapan dan menolong mereka. Manusia memiliki suatu tanggung jawab terhadap orang lain yang telah menyakitinya. Namun jika kepahitan menguasai, manusia akan kehilangan kemampuan untuk menghadapinya secara kepala dingin. TUHAN membebaskan Ayub dari penawanannya (ujian penderitaan) dan memulihkan keadaan Ayub setelah ia berdoa bagi teman-temanya. Pengampunan merupakan suatu aksi kehendak dalam diri manusia, bukan perasaan manusia. Ketika TUHAN membebaskan Ayub dari penawanan ujian dan penderitaannya, TUHAN menjadikan segala sesuatu baru, TUHAN bukan hanya menyembuhkan secara jasmani, tetapi juga memulihkan semua hubungannya (hubungan antara dia dan istrinya, antara teman-temannya dan keluarganya, dan semua kenalan lamanya). Semua kesalahapahaman diluruskan kembali. TUHAN melimpahkan kehormatan yang begitu besar kepada Ayub, bahkan dua kali lebih besar dari kehormatannya sebelum diuji. TUHAN mengijinkan penderitaan-penderitaan hanya agar Ia dapat mengerjakan karya penyempurnaan yang abadi dalam diri manusia. Ia menyembuhkan. Segala yang TUHAN lakukan dikerjakan-Nya dalam kasih setia dan belas kasihan.

Sumber:
Aris Margiyanto,
Ketidaktahuan Sebagai Problem Dasar Manusia: Makna Kematian Yesus dalam Perspektif Makna Kematian dalam Kitab Ayub. Jurnal Abdiel – Jurnal Teologi Sosial Pentakostal, Volume 6 No. 2, Oktober 2015, Ungaran: STT Abdiel, hlm. 1-22.

Paul G. Caram,
Kitab Ayub: Mengubah Kutuk Menjadi Berkat, Seri Kedewasaan Kristen – 3, Jakarta: Yayasan Graha Kasih Agape, 1993

Lembaga Alkitab Indonseia,
Alkitab Edisi Studi, Edisi Kedua, 2012

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

MENJADI HAMBA YANG BERKENAN: MOMENTUM ROHANI DALAM FELLOWSHIP HAMBA TUHAN GIA DAERAH IV

Suasana penuh kehangatan dan sukacita mewarnai pelaksanaan Fellowship Hamba Tuhan Gereja Isa Almasih Daerah IV yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Isa Almasih Barukan ini menjadi momentum berharga bagi para pendeta dan pendeta muda untuk saling memperkuat, berbagi, dan diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka. Sejak awal acara dimulai, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di Daerah IV mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh semangat dan sapaan hangat satu sama lain mencerminkan kerinduan untuk bersekutu dalam kasih Kristus. Fellowship ini bukan hanya sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan ruang pembaruan rohani bagi para pelayan Tuhan yang setiap hari bergumul dalam ladang pelayanan masing-masing. Dalam kesempatan ini Pdt. Filipus Ratmaka selaku Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Selorejo, dipercayakan untuk menyampaikan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam penyampaiannya beliau mengangkat tema tentang panggilan untuk menjadi hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan, Pdt. Filipus Ratmaka mengingatkan bahwa keberkenanan di hadapan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan pelayanan secara lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan, kerendahan hati, serta ketaatan dalam menjalankan kehendak-Nya. Ia menekankan pentingnya integritas pribadi, kehidupan doa yang konsisten, dan hati yang tetap melekat kepada Tuhan di tengah dinamika dan tantangan pelayanan masa kini. “Pelayanan bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil, tetapi siapa yang tetap setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu penegasan yang menggugah hati para peserta. Suasana ibadah pun terasa khidmat, beberapa peserta tampak terharu dan merenungkan kembali panggilan pelayanan mereka. Melalui fellowship ini, para Pendeta dan Pendeta muda diteguhkan untuk terus melayani dengan hati yang murni dan motivasi yang benar. Pertemuan ini juga sekaligus mempererat kebersamaan antar hamba Tuhan dan memperkuat sinergi pelayanan di wilayah Daerah IV. Kegiatan Fellowship Hamba Tuhan ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan komitmen setiap pelayan Tuhan untuk terus bertumbuh dalam karakter Kristus, sehingga pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh memuliakan nama Tuhan dan membawa dampak bagi jemaat serta masyarakat luas.

GIA Pandean Lamper Bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan Gelar Pasar Murah, 1.000 Paket Sembako Ludes Terjual

Gereja Isa Almasih  (GIA) Pandean Lamper bekerja sama dengan Yayasan HTE serta Kelurahan Peterongan menggelar kegiatan Pasar Murah sebagai wujud pelayanan sosial kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 31 Januari 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di GIA Pandean Lamper, Kota Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh jemaat GIA Pandean Lamper, pengurus Yayasan HTE, perwakilan Kelurahan Peterongan, serta masyarakat sekitar yang tampak antusias sejak pagi hari. Kegiatan ini bertujuan Holistik Mission, yaitu misi gereja untuk menjangkau jiwa-jiwa sekaligus berbagi secara nyata kepada masyarakat melalui pelayanan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pasar Murah menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini. Panitia menyediakan 1.000 paket sembako murah yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp40.000 per paket. Seluruh paket sembako tersebut habis terjual dalam waktu singkat, menandakan tingginya kebutuhan serta antusiasme warga Kelurahan Peterongan terhadap kegiatan ini. Tak hanya Pasar Murah, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan panggung gembira, layanan cukur rambut gratis, pijat gratis, pengobatan gratis, serta berbagai tenant kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Panitia juga membagikan doorprize dan berbagai hadiah kepada warga yang mengikuti rangkaian acara panggung gembira, menambah semarak dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Panitia bersyukur atas kelancaran acara yang didukung oleh cuaca yang cerah sepanjang kegiatan berlangsung. Antusiasme warga Kelurahan Peterongan terlihat sangat baik, baik dalam pembelian paket sembako maupun partisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sosial yang disediakan. Melalui kegiatan ini, GIA Pandean Lamper bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, mempererat hubungan antara gereja dan warga, serta menghadirkan kasih melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (1) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (8) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (7) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (6) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (5)