Kitab Ayub menyajikan cerita tentang pendertaan yang dalam manusia. Keadaan Ayub sendiri mendorong terjadinya serangkaian percakapan yang dituls dalam bentuk puisi. Percakapan antara Ayub dan sahabt-sahabatnya serta TUHAN ini berpusat pada pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang sulit. Kitab Ayub berbicara tentang penyebab penderitaan manusia dan peran TUHAN dalam penderitaan ini. Ayub sebagai pemeran utama dalam cerita ini digambarkan sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia percaya kepada TUHAN dan diberkati dengan anak yang banyak, kesehatan, dan kekayaan. Namun, ketika Ayub kehilangan semuanya dan sangat menderita, kitab ini memusatkan perhatian terhadap pertanyaan: “Mengapa seorang yang saleh dan seta seperti Ayub harus menderita?” Tokoh-tokoh lainnya dalam cerita ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan sejenis: “Apakah semua penderitaan disebabkan oleh dosa manusia? Apakah TUHAN menyebabkan manusia menderita? Mengapa?” Kitab Ayub mengajak para pembaca menggumuli pertanyaan-pertanyaan klasik ini bersama tokoh yang ada di dalamnya.
Pada zaman dahulu diceritakan pada suatu masa sebelum bangsa Israel ada, ada seorang bernama Ayub dari tanah Uz yang terletak di wilayah Edom di utara Arab, sebab Uz didaftarkan di antara keturunan Edom. Seorang kaya raya yang hidupnya saleh, jujur, taut akan TUHAN dan menjauhi kejahatan. Namun, “tanpa sepengetahuan” Ayub, pada suatu hari diadakanlah sebuah sidang lah di surga. Dalam sidang itu, datang juga Iblis yang mengajukan pertanyaan kritis sehubungan dengan kesalehan Ayub. Pertanyaan itu dijawab TUHAN dengan memberikan ijin kepada Iblis agar mendatangkan ujian bagi Ayub. Bencana pun menimpa Ayub, sehingga ia harus kehilangan harta kekayaannya dan anak-anaknya. Dari bencana yang pertama ini Ayub terbukti lolos uji. Namun, Iblis masih meragukan kesalehan Ayub dan ingin sekali lagi menguji kesalehan Ayub. TUHAN pun kembali memberikan ijin kepada Iblis untuk melaksanakan programnya Kali ini Ayub harus kehilangan kesehatan tubuhnya. Dalam situasi seperti ini, Ayub masih mencoba untuk bertahan dengan kesalehannya.
Kemudian datanglah tiga orang teman Ayub: Elifas dari Teman, Bildad dari Suah, dan Zofar dari Naama. Mereka datang untuk menghibur Ayub. Ketiga temannya yang terdekat mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya. Pada awalnya ketiga teman itu hanya bisa menangis dan kemudian duduk menemani Ayub tujuh hari tujuh malam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Motivasi mereka baik dan memiliki kasih yang tulus dan kepedulian terhadap Ayub. Penampilan Ayub tampak begitu menyedihkan sehingga ia sulit dikenali. Teman-temannya sukup disiplin untuk tidak mengatakan apa pun selama tujuh hari penuh.
Ingatlah, berkata-katalah sesedikit mungkin terhadap orang yang berada dalam suatu kesukaran yang besar. Jangan menjemukan mereka dan jangan menanyakan banyak pertanyaan kepada mereka. Berdoalah dengan suara yang lembut.
Sebagai tokoh utama, Ayub tampil sebagai sosok orang benar yang menderita. Meskipun pada awalnya dia mencoba untuk bersabar dengan situasi penderitaannya, namun toh kemudian Ayub memuntahkan segala pahit getir penderitaan yang dia rasakan. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Ayub angkat bicara, Ayub yang saleh itu mengutuki hari kelahirannya dan menginginkan kematian segera datang. Teman-temannya pun memberikan respon, sehingga terjadilah sebuah dialog panjang antara Ayub dengan ketiga temannya. Dalam dialog ini, Ayub tampil tidak lagi sebagai seorang saleh yang serba bisa menerima segala kemalangan yang menimpa dirinya, namun sebagai seorang pemberontak yang memprotes dan mempertanyakan mengapa dia yang meskipun hidup dalam kesalehan harus mengalami berbagai penderitaan. Di mata Ayub, tiga teman Ayub tampil sebagai pembela TUHAN dengan berpijak pada “hukum pembalasan” (tabur tuai / transaksional), bahwa TUHAN membalaskan kebaikan bagi orang yang saleh, dan membalaskan keburukan bagi orang yang jahat.
“Apa yang ada di dalam ini bagiku? Berapa banyak keuntungan yang dapat aku peroleh dari hal ini bagi diriku sendiri? Seberapa sedikit usaha dan pengorbanan yang diperlukan, untuk menerima balasan yang sebanyak-banyaknya bagi diriku sendiri? Sikap seperti ini merupakan gejala dari yang disebut “Kekristenan yang nyaman”. Kekristenan yang nyaman pada masa kini adalah suatu mentalitas yang dikhotbahkan dari atas mimbar, suatu mentalitas yang memperalat Allah sebagai suatu jalan agar kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan terpenuhi. Hal ini benar-benar berlaku atas beberapa orang Kristen, karena kita dapati dalam Yohanes 6:26-27 bahwa orang banyak mengikut Yesus hanya karena Ia sedang memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebanyakan dari mereka meninggalkan-Nya ketika ujian-ujian kehidupan menerpa mereka.
Di mata tiga teman Ayub, TUHAN adalah TUHAN yang adil. Tidak mungkin TUHAN salah dalam memberikan ganjaran bagi setiap orang sesuai dengan perbuatannya. Menurut mereka, penderitaan Ayub pasti disebabkan oleh dosa yang telah diperbuatnya. Teman-teman Ayub tidak peka terhadap keputusan Ayub, merasa terhina, dan kemudian seluruh percakapan mereka menjadi keluar dari kontrol. Emosi dan keangkuhan menimbulkan semua pihak.
Suatu peringatan, segala sesuatu yang teman-teman Ayub katakan akan masuk ke dalam satu dari tiga kategori:
1. Beberapa yang mereka ucapan benar.
2. Beberapa yang mereka ucapkan salah (beberapa di antaranya sangat keliru).
3. Beberapa yang merea ucapan tidak sesuai dengan keadaan Ayub meskipun itu adalah pernyataan-pernyataan yang benar.
Di sini Ayub mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat lagi dijawab/dibantah oleh tiga temannya yang tampil sebagai figur orang berhikmat. Gambaran ini nampak melalui akhir dialog di mana Bildad berbicara sangat singkat dan setelah itu Zofar tidak lagi angkat bicara. Masing-masing pihak berpegang pada pendiriannya sehingga dialog itu pun berakhir dengan tanpa penyelesaian. Perkataan-perkataan Ayub telah membawa hikmat tradisional sampai pada batasnya. Hikmat tradisional tidak lagi mampu memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub. Di sini terlihat bahwa “ketidaktahuan” telah berlaku sebagai batas dari hikmat. Tradisi hikmat Israel berusaha untuk merangkumkan prinsip tatanan dunia/hidup dan memahami hukum pembalasan (hukum tabur tuai / hukum transaksional) sebagai prinsip tatanan dunia yang pasti. Kasus Ayub orang benar yang menderita menjelaskan bahwa pemahaman itu bagaimanapun tidak berlaku.
Ayub adalah sosok manusia yang berada di atas panggung dunia ini. Yang dia tahu adalah bahwa dirinya orang benar, yang telah menjalankan semua tuntutan keagamaan maupun sosialnya. Ayub pun kembali angkat bicara dalam sebuah monolog panjang. Dalam pemahaman dirinya sebagai orang benar, tentu saja, yang dia tahu adalah bahwa sudah seharusnya dia menerima ganjaran-ganjaran kebaikan dari Allah. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, yang Ayub tahu kemudian adalah bahwa meskipun dia hidup benar, tetap saja dia ditimpa oleh bencana dan kemalangan yang sangat berat. Ayub berkesimpulan TUHAN telah bertindak tidak adil terhadap dirinya. Ketidakadilan TUHAN membuat Ayub mengeluh dalam kepahitan jiwanya. Keluhan Ayub berubah menjadi pemberontakan yang terarah bukan kepada manusia, melainkan kepada TUHAN. Ayub ingin mencari keadilan dan ingin membawa kasusnya melawan TUHAN di depan pengadilan. Klimaks dari pencarian Ayub tersebut berakhir dengan ketidaktahuannya, di manakah TUHAN ditemukan. Di mana-mana Ayub mencari TUHAN tetapi TUHAN tidak ada.
Dalam suatu ujian kita paling menderita:
1. Allah berdam diri.
2. Teman-teman salah paham.
3. Kita mempunyai tekanan dari suatu akibat yang tidak menentu.
4. Tekanan-tekanan fisik dan mental dari ujian iitu melelahkan kita.
Keputusasaan selalu merupakan hasil dari mempercayai sesuatu yang tidak TUHAN katakan tentang kita atau tentang situasi kita. Karakter dibuktikan dari reaksi-reaksi kita dalam tekanan dan kesesakan. Karakter selalu dihubungkan dengan kesesakan. Siapa pun dapat memuji TUHAN tatkala segalanya berjalan lancar, namun apa yang kita lakukan ketika panas terik menerpa? Ini menentukan apakah kita seorang yang berkarakter atau tidak. Apakah kita akan mencari TUHAN untuk memperoleh kasih karunia ketika kita memerlukannya? Atau kita akan menjadi pahit hati? TUHAN sedang dengan seksama mencari orang yang bersungguh hati kepada-Nya.
Tiga teman Ayub nampaknya sudah tidak mampu lagi memberikan tanggapannya kepada Ayub sehingga tampillah teman keempat bernama Elihu dari Bus. Elihu adalah orang keempat yang pendiam. Ia jauh lebih muda daripada tiga teman Ayub lainnya, meskipun demikian ia lebih mendalam dalam hal-hal rohaniah. Roh TUHAN turun atasnya dan ia mulai berbicara atas nama TUHAN. Ia adalah seorang nabi dan juga benar-benar merupakan seorang tipe Kristus. Elihu adalah sebuah lambang Kristus. TUHAN menjadi seorang manusia. Ia mengalami pencobaan dalam segala hal (penderitaan bahkan kematian) sama seperti manusia. Tidak dapat dikatakan tentang TUHAN bahwa Ia tdak memahami manusia. Penjelmaan yang Ia lakukan telah membuat TUHAN menjadi sama dengan manusia. Manusia tidak pernah dapat berkata TUHAN tidak mengerti. TUHAN sungguh-sungguh pernah menjadi manusia. Elihu mencoba menjelaskan makna penderitaan Ayub sebagai cara TUHAN berkomunikasi dengan manusia. Penderitaan orang benar bukanlah tanda ketidakadilan TUHAN, melainkan sebuah didikan dari TUHAN. Semua kesulitan yang telah datang menimpa Ayub bukanlah disebabkan oleh perbuatannya yang salah. Namun, selama ujian itu berlangsung Ayub telah mengatakan beberapa hal yang salah (tidak homat) tentang TUHAN dan kepada TUHAN. Dalam hal ini Ayub tidak benar. Elihu sedang menyentuh akar persoalan Ayub yang sebenarnya. Dalam ujiannya Ayub menemukan kesalahan dalam TUHAN namun tdak menyadari kesalahannya sendiri; dengan demikian ia menempatkan dirinya lebh benar daripada TUHAN. Ayub tidak tahu kesalahannya sendiri. Dan inilah akar pergumulan manusia, Ketidaktahuan manusia tidak dapat melihat problem manusia sendiri.
Setelah semua pihak terdiam dan setelah lama TUHAN berdiam, maka TUHAN mulai berbicara (walau Ia telah berbicara melalui Elihu). Dua kali TUHAN menjawab Ayub dari balik badai dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayub. Apa yang TUHAN katakan kepada Ayub akan meneguhkan segala nasihat yang baru saja diberikan Elihu. TUHAN menanyakan sekitar delapan puluh pertanyaan kepada Ayub. Ayub tidak dapat berkata apa-apa untuk menjawab-Nya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampaknya mustahil untuk dapat dijawab, sehingga Ayub pun menutup perkataannya dengan dengan mengatakan: “Aku tahu… bahwa aku tidak tahu.” Setiap kali TUHAN menanyakan suatu pertanyaan kepada manusia, itu bukan berarti TUHAN tidak tahu jawabnnya, melainkan agar manusia dapat melihat sesuatu melalui pertanyaan itu. Ayub melihat TUHAN dengan matanya sendiri.
Hikmat atau Kebijaksanaan berarti kemudian bukan lagi “saya tahu tatanan dunia ini”, “saya tahu rahasa Ilahi”, atau “saya tahu rumus hidup”, yang dengannya orang dapat hidup bahagia, kalau orang mengikuti rumus tersebut. Hikmat adalah “aku tahu… bahwa aku tidak tahu”. Berhadapan dengan TUHAN manusia mengakui keterbatasannya. Pada batas ini manusia bertemu dengan ketidaktahuannya. Namun, di wilayah ketidaktahuan manusia, TUHAN ada di sana. TUHAN menjawab Ayub dari balik badai dan berbicara tentang hal-hal yang tidak mampu dipahami oleh manusia.
Pengalaman penderitaan yang Ayub alami dalam pemahaman dirinya sebagai orang yang saleh membuat Ayub memahami bahwa hidup manusia tidak dapat diprediksikan, dan hukum pembalasan (hukum tabur tuai / hukum transaksional) seperti yang diyakini oleh tiga temannya tidak sepenuhnya berlaku. Pengalaman ini membawa Ayub pada sebuah situasi batas rasionalitasnya, di mana Ayub sebagai manusia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menjadi rencana dan keputusan Sang Ilahi. Ketidakahuan Ayub menjadi takut dan gentar kepada TUHAN. Dari tahtanya yang tidak terlihat oleh manusia, TUHAN telah menetapkan nasib setiap individu. TUHAN melakukan apa yang Dia mau dan tidak seorangpun dapat menggoyahkan TUHAN untuk mengubah keputusan-Nya. Bahkan ketaatan Ayub terhadap segala hukum TUHAN tidak dapat menjamin bahwa TUHAN pasti akan memberikan hidup bahagia kepadanya. Perbuatan TUHAN tidak dapat diprediksikan dan TUHAN akan menggenapi rencana-Nya. Ayub kemudian sanggup memahami penderitaan orang lain setelah ia sendiri mengalami berada dalam keadaan yang begitu rendah. Berapa banyak kemampuan untuk memahami orang lain yang kita miliki? Berapa dalamkah kita pernah dhempaskan?
Akhir cerita ditutup dengan sebuah keputusan TUHAN yang mengejutkan pembaca, karena TUHAN justru membenarkan Ayub yang memprotes dan memandang bersalah tiga teman Ayub yang telah berusaha membela TUHAN. Setelah Ayub berdoa untuk teman-temannya, TUHAN pun mengembalikan dua kali lipat harta kekayaan Ayub. Berdoa bagi teman-teman (orang-orang) yang salah paham atau salah menilai situasi kita, menolong kita memperoleh kebebasan dari kepahitan. Daripada marah terhadap mereka, lebih baik kita menyadari bahwa TUHAN ingin menolong mereka bebas dari roh suka menghakimi. Dengan menjaga agar sikap kita tetap benar, kita akan membuka pintu bagi TUHAN untuk berhadapan dan menolong mereka. Manusia memiliki suatu tanggung jawab terhadap orang lain yang telah menyakitinya. Namun jika kepahitan menguasai, manusia akan kehilangan kemampuan untuk menghadapinya secara kepala dingin. TUHAN membebaskan Ayub dari penawanannya (ujian penderitaan) dan memulihkan keadaan Ayub setelah ia berdoa bagi teman-temanya. Pengampunan merupakan suatu aksi kehendak dalam diri manusia, bukan perasaan manusia. Ketika TUHAN membebaskan Ayub dari penawanan ujian dan penderitaannya, TUHAN menjadikan segala sesuatu baru, TUHAN bukan hanya menyembuhkan secara jasmani, tetapi juga memulihkan semua hubungannya (hubungan antara dia dan istrinya, antara teman-temannya dan keluarganya, dan semua kenalan lamanya). Semua kesalahapahaman diluruskan kembali. TUHAN melimpahkan kehormatan yang begitu besar kepada Ayub, bahkan dua kali lebih besar dari kehormatannya sebelum diuji. TUHAN mengijinkan penderitaan-penderitaan hanya agar Ia dapat mengerjakan karya penyempurnaan yang abadi dalam diri manusia. Ia menyembuhkan. Segala yang TUHAN lakukan dikerjakan-Nya dalam kasih setia dan belas kasihan.