Ayat di atas adalah doa untuk “menyelamatkan Israel” yang kemungkinan berasal dari masa ketika banyak orang Israel berada di pembuangan di Babel. Pemazmur meratapi kondisi masyarakat yang sedemikian bobrok dan melihat bahwa kebobroka manusia itu bersumber dari pengingkaran manusia terhadap keberadaan Allah. Ketika manusia meniadakan Allah di dalam kehidupannya, ketika manusia menganggap Allah tidak lagi mampu mengintervensi sejarah manusia, maka perbuatan manusia itu pastulah busuk dan menjijikan. Doa dalam Mazmur ini menyerukan bahwa Allah akan memulihkan keadaan umat-Nya ― membawa kembali umat-Nya dari tawanan/buangan ― karena Sang Penebus akan naik ke tempat tinggi, dan membawa tawanan-tawanan, dan Israel akan bersorak-sorai. Kemenangan Sion akan menjadi sukacita.
Sukacita ini juga dirasakan oleh rakyat Indonesia beberapa hari ini dan masih kita rasakan semaraknya. Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dirayakan setiap tahunnya tentu memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Indonesia, salah satunya adalah perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai negara yang sudah merdeka, tentu terdapat rangkaian cerita yang panjang hingga Indonesia dapat memproklamirkan kemerdekannya. Membutuhkan waktu yang cukup lama dan usaha yang lebih untuk mencapai kemerdekaan yang tidak datang dengan mudah.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang berpenduduk terbesar keempat dunia adalah negara yang multi agama ― Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, dan Kong Hu Cu dan juga berbagai aliran kepercayaan ― dan multi kultural yaitu beragam etnik yang tinggal di pulau-pulau yang terbesar (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua) maupun di pulau-pulau terpencil. Penduduk yang mempunyai latar belakang suku, agama, bahasa yang berbeda, menjadikan Indonesia menjadi satu negara yang mempunyai semboyan “Bhineka Tunggal Ika”
(unity in diversity).
Indonesia telah mengalami banyak konflik, antara lain yang diakibatkan oleh penjajahan dari bangsa lain juga disebabkan oleh konflik internal bangsa, telah membawa malapetaka besar bagi bangsa Indonesia dan telah mengakibatkan korban manusia yang tidak sedikit. Setelah kemerdekaan, banyak juga kasus yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) yang terjadi hingga masih dapat dirasakan sampai hari ini. Semua itu mengakibatkan ketidakstabilan pemerintahan dan ketidaknyamanan rakyat. Korban berjatuhan di pihak yang lemah dan orang-orang yang dianggap minoritas. Juga terjadi korban di pihak rakyat akibat permainan politik yang memecah belah dan masih dapat dirasakan saat ini menjelang Pemilu yang akan dilaksanakan di tahun 2024 nanti. Belum dampak krisis ekonomi dan finansial dampak dari pandemi covid-19 yang terjadi di seluruh dunia dua tahun belakangan ini.
Tahun ini, Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-78. Artinya, sudah 78 tahun Indonesia merdeka. Sebagai rakyat Indonesia terutama generasi penerus bangsa, sudah semestinya memiliki pemahaman yang baik tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Dengan begitu, kita akan dapat lebih menghormati perjuangan para pahlawan dan memastikan bahwa kemerdekaan akan terus hidup dalam setiap generasi.
Dilansir dari Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia pada Senin (14/8/2023), tema peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2023 adalah “Terus Melaju untuk Indonesia Maju.” Tema tersebut merefleksikan semangat kolektif, berharmoni, berkolaborasi serta sinkronisasi irama gerak dan sinergi pikiran dari seluruh rakyat Indonesia. Tujuan dari tema tersebut adalah mengajak seluruh elemen bangsa untuk melaju bersama dan menggelorakan semangat perjuangan yang belum berakhir. Hal ini adalah energi gerak untuk bangsa Indonesia agar laju momentum ini terus melaju untuk Indonesia maju.
Pidato kenegaraan dalam siding tahunan MPR RI bersama DPR dan DPD RI dalam rangka HUT ke-78 RI, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menyerukan agar membangunkan nurani bangsa untuk bersatu menjaga moralitas ruang publik, bersatu menjaga mentalitas masyarakat, sehingga bisa tetap melangkah maju, menjalankan transformasi bangsa menuju Indonesia Maju, menuju Indonesia Emas 2045.
Indonesia saat ini punya peluang besar untuk meraih Indonesia Emas 2045, meraih posisi menjadi negara 5 besar kekuatan ekonomi dunia. Bonus demografi yang akan mencapai puncak di tahun 2030-an adalah peluang besar pertama untuk meraih Indonesia Emas 2045. Enam puluh delapan persen adalah penduduk usia produktif. Peluang besar yang kedua adalah international trust yang dimiliki Indonesia saat ini, Dengan international trust yang tinggi, kredibilitas kita akan lebih diakui, kedaulatan kita akan lebih dihormati. Suara Indonesia akan lebih didengar sehingga memudahkan kita dalam setiap bernegosiasi.
Sekarang ini, budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa ini tampak mulai hilang. Kebebasan dan demokrasi digunakan untuk melampiaskan kedengkian dan fitnah. Polusi di wilayah budaya ini sangat melukai keluhuran budi pekerti bangsa Indonesia. Tinggal apakah kita mau memfokuskan energi kita untuk bergerak maju, atau justru membuang energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif, yang memecah belah, bahkan yang membuat kita melangkah mundur.
Bagaimana respon orang percaya? Bagaimana respon Gereja? Gereja seharusnya berteriak kepada Allah memohon pertolongan-Nya, namun bukan teriakan keputusasaan, melainkan teriakan yang mengungkapkan keyakinan kita seperti pemazmur bahwa Allah akan bertindak pada waktunya dan Dialah tempat perlindungan kita. Namun ini belum cukup, sebab kondisi masyarakat yang demikian tidak dapat dibiarkan karena mengakibatkan kehancuran bangsa dan Negara. Karea itu orang peraya atau Gereja harus berjuang keras untuk mengupayakan dan membangun nurani bangsa, bersatu menjaga moralitas ruang publik, bersatu menjaga mentalitas masyarakat, berbalik kepada budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa.
Merdeka!