Gereja Isa Almasih (GIA) Jatinegara menjadi saksi sejarah sebuah peristiwa rohani yang penuh makna, yakni Ibadah Penahbisan Pendeta Muda atas diri Sidiria Waruwu, M.Th. Ibadah kudus ini berlangsung pada hari Sabtu, 21 Juni 2025, bertempat di gedung gereja yang berlokasi di Jalan Jatinegara Timur II No. 30A, Jakarta Timur.
Acara ini dihadiri oleh ratusan jemaat, segenap majelis gereja, para gembala dari Daerah VII Sinode Gereja Isa Almasih, serta tamu-tamu terhormat baik dari dalam maupun luar negeri. Nuansa ibadah terasa syahdu sejak awal, ketika hadirin menaikkan pujian dan penyembahan yang membawa suasana gereja dalam hadirat Tuhan.
Khotbah Peneguhan: Memberitakan Firman dengan Setia di Tengah Tantangan
Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Erwin, selaku Ketua Majelis Daerah VII GIA, yang juga bertindak sebagai pelayan firman dalam ibadah penahbisan tersebut. Ia mengangkat perikop dari 2 Timotius 4:1–5, yang menekankan pentingnya seorang hamba Tuhan untuk berdiri teguh dalam panggilannya, memberitakan firman dengan kesungguhan, serta memiliki keteguhan hati dalam menghadapi penderitaan dan tantangan demi kebenaran Injil.
“Menjadi hamba Tuhan bukanlah sekadar jabatan, tetapi panggilan untuk hidup melayani, siap menderita, dan setia hingga akhir,” tegas Pdt. Erwin dalam khotbahnya yang menggugah.
Pesan firman ini menjadi penguatan tersendiri bagi Pendeta Muda Sidiria Waruwu dan seluruh pelayan Tuhan yang hadir, bahwa pelayanan bukanlah jalan mudah, namun sebuah perjalanan penuh pengorbanan dan kesetiaan yang memerlukan kekuatan ilahi.
Kehadiran Para Misionari Korea: Simbol Kesatuan Gereja Global
Salah satu momen yang sangat diapresiasi dalam acara ini adalah kehadiran para misionaris dari Korea Selatan, yang telah menjadi mitra pelayanan Sinode Gereja Isa Almasih selama bertahun-tahun. Mereka adalah Pdt. Hyun-Jong Jung beserta istri, Pdt. Lee Pyl Hwan beserta istri, dan Pdt. Lee Souk Kie.
Kehadiran para misionaris ini menjadi simbol kuat akan persatuan tubuh Kristus secara global, bahwa pekerjaan Tuhan tidak terbatas oleh bahasa dan budaya. Mereka turut mendoakan dan memberkati perjalanan pelayanan Pendeta Sidiria, meneguhkan bahwa misi Allah dikerjakan bersama oleh gereja di seluruh dunia.
Pertemuan Dua Sahabat: Pdt. Em. Budi Santoso dan Pdt. Joshua Ong
Salah satu momen paling mengharukan dan langka terjadi di sela-sela ibadah penahbisan, yakni pertemuan kembali antara dua sahabat lama, Pdt. Emiritus Budi Santoso dan Pdt. Joshua Ong, setelah lebih dari 50 tahun tidak bertemu. Keduanya adalah alumni Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang pada era 1970-an.
Pdt. Budi Santoso dikenal sebagai Gembala Kedua Gereja Isa Almasih Pegangsaan, sementara Pdt. Joshua Ong adalah pendiri dan tokoh sentral di balik berdirinya STT IMAN Jakarta. Pertemuan ini bukan hanya nostalgia pribadi, namun menjadi pengingat akan pentingnya warisan iman dan pendidikan teologi yang terus diturunkan lintas generasi.
Penahbisan Sejarah: Alumni STT IMAN Pertama dalam Lingkup GIA
Penahbisan Pendeta Muda Sidiria Waruwu juga mencatat sejarah baru bagi gereja dan dunia pendidikan teologi Indonesia. Ia menjadi alumni pertama dari STT IMAN Jakarta yang ditahbiskan sebagai pendeta dalam lingkup pelayanan Sinode Gereja Isa Almasih, sebuah tonggak penting yang memperlihatkan sinergi antara lembaga teologi dan gereja lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa STT IMAN telah dan terus menjadi sarana yang efektif dalam mempersiapkan hamba-hamba Tuhan yang memiliki integritas, kedalaman spiritual, dan kesiapan untuk melayani jemaat di berbagai konteks.
Hadirin dari GIAR Jaboba: Jejak Pelayanan dan Komunitas
Tidak ketinggalan, para murid dan hamba Tuhan dari GIA Rajawali (GIAR) wilayah Jaboba (Jakarta, Bogor, Bandung) juga turut hadir dan memberi dukungan. Mereka adalah orang-orang yang pernah melayani atau sedang melayani di komunitas GIAR.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa penahbisan ini bukan hanya hasil dari pendidikan formal, tetapi juga dari proses pembentukan karakter dan panggilan di tengah pelayanan sehari-hari.
Penutup yang Sarat Sukacita dan Harapan
Ibadah penahbisan ditutup dengan doa syafaat dan penguatan secara simbolis melalui penumpangan tangan oleh para pendeta senior. Setelah ibadah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi foto bersama. Suasana penuh kegembiraan, haru, dan ucapan syukur memenuhi ruangan.
Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa panggilan Tuhan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Kehadiran tokoh-tokoh lintas zaman, kehadiran misionaris dari luar negeri, dan keterlibatan berbagai unsur pelayanan menjadi wujud nyata dari tubuh Kristus yang hidup dan bertumbuh bersama.
“Hari ini bukan hanya penahbisan satu orang, tetapi perayaan akan kesetiaan Tuhan yang bekerja melalui lembaga, gereja, dan persahabatan,” ujar salah satu peserta dengan penuh semangat.
Momentum ini akan terus dikenang sebagai bukti bahwa pelayanan bukanlah kerja individual, tetapi perjalanan kolektif umat Tuhan yang bersatu, bertumbuh, dan melayani dunia dengan kasih Kristus.