Sinode Gereja Isa Almasih

- LINTAS PERISTIWA -

Dukacita yang Terlarang

Aborsi merupakan topik bahasan yang selalu mengundang pro dan kontra.
“Berbagai studi menunjukkan bahwa 65-70% dari mereka yang menggugurkan kandungannya merasa bahwa aborsi sebenarnya salah. Temuan oleh Los Angeles Times dalam suatu poll nasional bahkan mendapat angka 70%, bahwa aborsi adalah “salah secara moral. Tetapi para wanita melakukannya karena tekanan-tekanan yang mereka hadapi: ditinggalkan pasangan, kemiskinan, tidak punya rumah, kekerasan, pendidikan kurang, pengangguran, masalah-masalah emosional, inses, perkosaan, janin cacat, dan sebagainya, dan sebagainya. Mereka tidak memperhitungkan bahwa bagaimana pun juga masih ada suara hati dan naluri keibuan. Bahwa tubuh seorang wanita memang tercipta untuk membuahkan keturunan.”
Theresa Burke bersama David C. Reardon
Oleh: Team Redaksi The Hope

Thehope.id. – Aborsi merupakan topik bahasan yang selalu mengundang pro dan kontra. Masalah ini tak habis habisnya dibahas sehingga redaksi thehope.id perlu mengetengahkan masalah aborsi yang dialami oleh para wanita dan para laki-laki yang ikut bagian yang tak terpisahkan. Berikut team redaksi mengetengahkan masalah tersebut yang belum terselesaikan dalam suatu buku yang menarik dan memberikan pencerahan.

Dalam Buku Forbidden Grief: The Unspoken Pain of Abortion yang ditulis oleh Theresa Burke bersama David C. Reardon. Theresa adalah seorang psikolog pendiri kelompok retret Rachel’s Vineyard, yang khusus menolong perempuan-perempuan dan laki-laki yang pernah menggugurkan kandungannya /kandungan pasangannya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman di Amerika Serikat yang telah melegalisasi aborsi secara luas, sehingga seorang perempuan dapat minta digugurkan kandungannya bila ia menghendaki. Seharusnya mereka bersuka cita karena telah mendapat apa yang diinginkan. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian.

Berbagai studi menunjukkan bahwa 65-70% dari mereka yang menggugurkan kandungannya merasa bahwa aborsi sebenarnya salah. Temuan oleh Los Angeles Times dalam suatu poll nasional bahkan mendapat angka 70%, bahwa aborsi adalah “salah secara moral”. Tetapi para wanita melakukannya karena tekanan-tekanan yang mereka hadapi: ditinggalkan pasangan, kemiskinan, tidak punya rumah, kekerasan, pendidikan kurang, pengangguran, masalah-masalah emosional, inses, perkosaan, janin cacat, dan sebagainya, dan sebagainya. Mereka tidak memperhitungkan bahwa bagaimana pun juga masih ada suara hati dan naluri keibuan. Bahwa tubuh seorang wanita memang tercipta untuk membuahkan keturunan.

Ketika tuntutan legalisasi aborsi dikabulkan, masyarakat tidak mau tahu lagi tentang hal-hal yang tidak diperhitungkan tersebut. Beberapa wanita tidak meragukan pilihannya untuk menggugurkan kandungannya karena merasa sudah sejalan dengan semua keyakinan yang dianutnya. Namun ternyata ini bukan jaminan bahwa ia akan puas seterusnya di kemudian hari. Beberapa wanita dengan pengalaman ini telah datang kepada Theresa.

Perjumpan Theresa dengan wanita-wanita yang menderita dukacita karena aborsi diawali ketika ia sedang dalam pendidikan sebagai psikolog klinis (bidang konseling). Ia mendapat tugas memimpin pertemuan mingguan untuk kelompok wanita dengan gangguan makan. Berbagai topik telah dibahas pada minggu-minggu sebelumnya seperti ibu-ibu, bapak-bapak, masalah berelasi, dinamika berkeluarga, ketergantungan, perceraian, harga diri, stres, ketegasan, konflik seksual, lesbian, depresi dan topik-topik lain yang menimbulkan kecemasan.

Dalam pertemuan kali ini, Debbie yang memulai. Dengan hati-hati dan takut-takut ia mengaku bahwa sering terbayang olehnya kilatan-kilatan saat dilakukan aborsi pada dirinya beberapa tahun yang lalu. Ia juga sering bermimpi buruk tentang seorang bayi. Ingatan ini berpengaruh buruk pada dirinya. Kecemasannya bertambah-tambah karena mantan suaminya sering menelpon dan meninggalkan pesan di mesin penjawab menyebut dirinya sebagai seorang ‘pembunuh’; kemudian menjelaskan secara detail dan mengerikan apa yang terjadi saat dilakukan aborsi. Bukan hanya dirinya yang merasa terganggu, tetapi lebih-lebih ketiga anaknya yang sering mendengar pesan yang masuk.

Sesudah telpon-telpon ini Debbie menjadi sangat gelisah. Sangat sering ia merasa ingin bunuh diri dan ingin melukai dirinya. Berkali-kali ia memotong nadinya dengan pisau silet sehingga berkali-kali pula ia berakhir di unit gawat darurat rumah sakit setempat. Debbie selalu bergumul dengan berat badannya. Tetapi setelah aborsi gangguan makannya memuncak. Ia amat sangat tidak suka makan. Kisah hidupnya ini memancing serangkaian pengakuan dari kelompok ini.

Beth Ann menimpali. Ia memahami apa yang dialami Debbie karena ia pun telah menggugurkan kandungannya. Ia merasa ingin bunuh diri bila seseorang mengingatkan dirinya tentang hal ini karena ia ingin melupakan peristiwa itu. “Suamimu adalah pria yang mengerikan,” katanya dengan jijik.

Serta merta Diana bergabung dengan mendesis jengkel. “….. dia. Kita mempunyai hak untuk mengontrol tubuh kita dan memutuskan bila kita ingin ….. campur tangan mereka pada tubuh kita. Masa bodoh dengan dia!”

Peserta lain berdiam diri. Theresa menegur Diana, “Tampaknya Anda sangat marah, siapa yang telah sedemikian menyakiti hatimu?”

Diana menolak mentah-mentah bahwa seseorang telah menyakitinya. “Tidak seorang pun menyakiti diriku.” “Lebih-lebih seorang pria! Sebab itu aku mengaborsi, agar ….. tidak dapat membuatku gila dan mengacaukan hidupku. Dan kau tahu apa? Itulah hal terbaik yang pernah kulakukan. Mengendalikan hidupmu tidak perlu menimbulkan rasa bersalah dan ….. siapa pun yang mencoba memberitahuku untuk merasa yang sebaliknya ….. mereka semua !”

Pada saat itu, Judit yang tampak sangat bingung bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.

Ketika Judit menutup pintu, Sarah yang biasanya tenang dan terkendali, dengan sopan minta Diana agar menjaga mulutnya karena kata-kata kasar mungkin kurang berkenan untuk orang lain dan menunjukkan diri berasal dari kelas rendahan di masyarakat.

Diana segera menjawab dengan pedas, “….. kamu sok sopan! Laki-laki adalah orang-orang yang ….. mementingkan dirinya sendiri.”

Theresa tidak tahu lagi bagaimana akan melanjutkan pertemuan ini karena merasa seperti sebuah kapal perang yang sedang tenggelam ke dalam laut karena dihantam dengan peluru torpedo. Berminggu-minggu sebelumnya telah dibahas berbagai topik. Tetapi belum ada satu pun yang menciptakan demikian besar rasa permusuhan, takut dan sakit hati pada anggota kelompok. Pertemuan kali ini seperti gunung api yang siap meletus karena para peserta melepaskan perasaan-perasaan yang meracuni dirinya dengan melemparkan kata-kata yang menyerang sesama peserta. Ia hanya ingin agar pertemuan segera berakhir agar dapat pulang ke rumah secepatnya.

Tiba-tiba, Lashira yang biasanya hanya duduk bersandar dan memandangi teman-temannya ikut bersuara. “Tenang! Semua diam!” Matanya bersinar redup menandakan gencatan senjata. “Sukakah kalian dengan sweater-ku?” Ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Maka pertemuan berakhir lebih cepat dari biasanya kali ini.

Sesampai di rumah, Theresa menelpon Judit yang pergi duluan pada pertemuan tadi untuk menanyakan keadaannya, apakah ia baik-baik saja. Judit minta maaf lalu menambahkan bahwa ia tidak suka topik aborsi, maka agar lain kali berbicara tentang gangguan makan saja. Ketika ditanya pernahkan ia menggugurkan kandungannya? Setelah diam cukup lama, Judit mengiakan dengan suara berbisik, bahwa itu sudah terjadi lama sebelumnya, tetapi ia sungguh tidak ingin membicarakannya lagi sekarang.

Pertemuan ini memberatkan pikiran Theresa sepanjang minggu. Kelompok diskusinya hampir-hampir sama sekali tidak dapat menolong seorang pun dari para wanita ini untuk dapat menunjukkan kegelisahan mereka yang luar biasa mengenai aborsi yang telah lama sebelumnya mereka jalani. Hanya permukaannya yang tersentuh. Enam dari delapan wanita dalam kelompok ini telah menggugurkan kandungannya. Dua orang yang lain dilecehkan secara seksual ketika masih anak-anak. Bagi mereka, kejadian ini, baik aborsi maupun pelecehan seksual dalam sejarah hidupnya dirasa sangat memukul, sehingga beberapa orang tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.

Perasaan anggota kelompok diskusi ini sedemikian kuat mengenai aborsi yang telah mereka lakukan, sehingga membuat Theresa ingin mengetahui lebih jauh. Emosi-emosi yang tidak terungkap adalah kunci untuk pengobatan gangguan makan. Wanita dengan gangguan makan dipenuhi dengan keinginan untuk menyenangkan orang lain, maka mereka sering mengingkari dan menekan perasaan mereka yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan dengan membungkus perasaan-perasaan dan kegelisahan-kegelisahan mereka dengan perilaku yang sudah tertata. Gangguan makan mereka adalah perang melawan makanan. Bagi mereka makanan adalah pengganti musuhnya. Makanan adalah lambang perasaan-perasaan negatif seperti dukacita, ketegangan, kemarahan, frustrasi, kejenuhan, dan ketakutan. Dengan penalaran ini, gangguan makan dapat menjadi cara untuk menjauhkan seseorang dari masalah yang tidak sanggup dihadapinya. Maka masuk akal bila Theresa mencurigai bahwa trauma karena aborsi disamarkan dengan gangguan makan. Seperti dikemukakan Sarah pada pertemuan sesudahnya:

“Saya tidak pernah lapar bila saya mabok. …. Saya makan karena saya merasa penuh. Penuh dengan kemarahan, terluka, kesedihan dan kesepian. Saya muntah karena itulah caraku mengosongkan diri dari perasaan-perasaan itu.”

Menyentuh perasaan-perasaan itu adalah cara mendasar untuk sembuh. Meskipun demikian, ini adalah cara yang sulit karena bila sedikit saja tersentuh, berbagai perasaan tak diinginkan menimbulkan penolakan, pengingkaran dan ketakutan yang sangat besar.

Topik aborsi jelas merupakan topik yang menakutkan untuk kelompok ini. Yang dapat berbicara tentang hal ini hanya dapat melakukannya dengan mempersalahkan orang lain dengan amarah. Pada pertemuan berikutnya, keenam wanita menyatakan bahwa aborsi tersebut barangkali merupakan putusan tersulit yang pernah mereka buat. Meskipun pada saat yang sama mereka menyangkal bahwa pengguguran kandungan itu membawa akibat yang jelas pada kehidupannya. Tetapi pernyataan “tidak apa-apa” ini bertolak belakang sangat jelas dengan kuatnya perasaan dan perilaku menghindar yang terlihat. Jelaslah, banyak perasaan belum terjamah dan terselesaikan yang diingkari, ditekan atau disembunyikan.

Namun sayang, Theresa tidak diizinkan mempelajari lebih mendalam mengenai kesulitan-kesulitan yang jelas dihadapi kelompoknya terkait dengan aborsi di masa lampau. Ketika ia menyampaikan temuannya kepada supervisornya, seorang psikiater, supervisornya merasa terganggu dan bersikap defensif. Dengan penuh empati ia memberitahu Theresa agar tidak membongkar aborsi yang telah dilakukan anggota kelompok. Theresa menjelaskan, semua karena Debbie yang mulai mengangkat topik ini disebabkan kilatan-kilatan balik yang dialaminya. Supervisor menegaskan bahwa kilatan-kilatan balik yang dialami Debbie merupakan reaksi psikotik disebabkan obat-obatan yang didapat. Teresa mempertanyakannya dan mengemukakan bahwa aborsi pada Debbie adalah pengalaman yang sangat memukul dirinya, sehingga kilatan-kilatan baliknya lebih tampak sebagai kelainan pasca trauma berat (post traumatic stress disorder). Ketika Theresa mengusulkan bahwa mungkin akan berguna bila bila Debbie membicarakan tentang hal ini, psikiater itu menatap Theresa langsung pada matanya dan berkata, “Ini adalah kelompok pendukung untuk gangguan makan ….. bukan aborsi.” Ia berkeras melarang Theresa mengangkat topik itu lagi.

Dari pengalaman ini Theresa memutuskan untuk menolong dukacita dan trauma pasca aborsi. Sampai sekarang sudah lebih dari 2000 wanita yang sudah ditolongnya. Ia juga mengajar sejumlah terapis untuk menolong isu-isu pasca aborsi. Pada saat ia memulai pekerjaan ini, tidak banyak terapis umum yang tahu mengenai proses dukacita yang menyakitkan dan membingungkan yang mungkin terjadi sesudah aborsi. Sebagai akibatnya, banyak wanita dan pria yang menderita dalam keheningan, sepenuhnya mati rasa, atau berada dalam perasaan takut atau bingung yang dapat membuat mereka menjadi gila. Dukacita sesudah aborsi dapat menjadi sangat rumit dan dapat dialami pada semua tingkatan kepribadian. Bagi banyak wanita, sumber kesedihan mereka dapat berlangsung tanpa dikenali, tidak terucapkan dan tidak terkatakan.

Gejala-gejalanya sangat bervariasi dari satu ke orang lain. Meskipun demikian semuanya berakar pada pengalaman menggugurkan kandungan. Pada banyak orang berawal pada kesedihan tak terselesaikan. Untuk banyak orang lain merupakan peristiwa berat yang merontokkan ketrampilan mereka dalam mengatasi masalah serta mengubah kehidupan dan perilaku mereka dengan cara yang dramatis dan ganjil.

Bila memandang kembali peristiwa yang terjadi dengan kelompok gangguan makan tersebut, tampaklah bahwa karakter-karakter yang berperan merupakan perwakilan keseluruhan masyarakat. Mereka menunjukkan betapa budaya mereka teramat tidak siap untuk menyuarakan, menerima atau bahkan menghargai dukacita pasca aborsi. Semua karakter dalam drama kecil ini mewakili alasan mengapa penyembuhan pasca-aborsi menjadi lebih sulit daripada yang seharusnya.

Pertama-tama, Debbie, dengan berani ia mengungkapkan perasaannya. Tetapi ternyata ia membuat semua menjadi bingung. Maka ia minta maaf karena telah mengganggu ketenangan kelompok. Dari sini ia mendapat pelajaran, bahwa teman, keluarga dan para terapis seringkali memberitahu mereka yang ingin membagikan emosi-emosinya berkenaan dengan aborsi yang telah mereka lakukan sebagai “Anda membuat kami merasa tidak nyaman. Berhentilah memikirkan hal ini dan teruskan hidupmu.” Masyarakat tidak mau mendengar tentang hal itu.

Kedua, Judit. Ia merasa terpaksa melarikan diri dari diskusi. Isu aborsi menyerang terlalu dekat pada rasa sakit yang ia rahasiakan sehingga dirinya sendiri pun tidak terpikr untuk membicarakannya. Kalau harus membicarakan, ia perlu mengeluarkan sejumlah besar tenaga. Akan tetapi usahanya untuk menghindar dari topik ini telah menarik emosinya yang selama ini terpendam sampai-sampai mengubah segi-segi lain dari kehidupannya.

Ketiga, Diana. Ia kebalikan dari Judit yang menarik diri. Ia penuh dengan amarah kepada siapa saja dan semua orang yang menyakiti hatinya sampai-sampai ia merasa jijik kepada mereka yang tidak ikut marah. Ia sampai tidak mempunyai waktu untuk menunjukkan perhatian kepada teman lain yang juga tersakiti. Hampir-hampir dukacita Debbie luput dari perhatiannya. Karena bila mendengar kata aborsi akan memicu kebutuhannya yang luarbiasa besar untuk mengeluarkan perasaan-perasaan amarah dan dipersalahkan.

Keempat, Lashira, yang secara cerdik mengganti topik dengan sesuatu yang sangat biasa – sweater yang dikenakannya. Ia mewakili mereka yang mencari aman dengan cara mengalihkan perhatian. Sementara memang tercapai ketenangan, tetapi isu mendasar tetap tidak terpecahkan dan akan mengejar kembali suatu hari nanti. Mengingkari berarti memberi peluang untuk berulang lagi.

Kelima, adalah mantan suami Debbie. Ia tidak dapat memaafkan dan sewenang-wenang. Tuduhan dan kata-kata bengis, ditambah dengan dukacita mendorong Debbie menjadi putus asa dan ingin bunuh diri. Alih-alih menolong Debbie agar menjadi sembuh, ia mengukuhkan dan mengingatkan Debbie, betapa jahatnya Debbie. Ia memperkuat ketakutan Debbie bahwa mantan istrinya itu tidak mungkin dimengerti atau diampuni orang lain.

Keenam, adalah supervisor Theresa. Ia mewakili ribuan terapis profesional yang akan mendengarkan masalah-masalah pribadi apa pun – kecuali aborsi. Mereka selalu yakin bahwa masalahnya pastilah sesuatu yang lain, bahkan bila kliennya bersikeras bahwa masalah tersebut adalah aborsi. Menurut mereka, aborsi menolong perempuan.

Ketujuh, adalah Theresa. Ia ingin menolong, tetapi tidak tahu harus bagaimana. Hatinya berada di tempat yang benar, tetapi isunya rumit, pengalamannya terbatas, dan tidak mendapat dukungan dari mereka yang seharusnya mendukungnya.

Ketujuh karakter ini menampakkan sketsa kasar keseluruhan masyarakat yang terdiri dari: (1) mereka yang bergumul dengan dukacita ini, (2) mereka yang memperkuat norma-norma masyarakat untuk melarang membuka dukacita ini, (3) mereka yang mencoba menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan menyembuhkan untuk para perempuan dan laki-laki yang sedang bergumul dengan isu-isu pasca-aborsi.

Berdasarkan pengalaman dan wawasan dari ratusan kliennya, Dr. Burke juga menunjukkan bagaimana perasaan tertekan dapat dimanifestasikan melalui perilaku merusak diri sendiri, hubungan yang rusak, obsesi, gangguan makan, kesulitan mengasuh anak, dan masalah emosional atau perilaku lainnya.

Pelajari rahasia yang hanya diceritakan oleh wanita yang pernah melakukan aborsi kepada terapis mereka, tetapi ingin semua orang mengerti.

Pahami bagaimana pengalaman aborsi traumatis dapat terjadi kembali melalui kehamilan berulang, aborsi, penyalahgunaan zat, gangguan makan, dan hubungan yang rusak.

Temukan cara membantu orang terkasih—atau diri Anda sendiri—mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menemukan kesembuhan dan lepas beban.

Duka Terlarang juga menjelaskan cara membantu orang tersayang, atau diri Anda sendiri, cukup dengan lebih memahami sifat dan asal mula masalah aborsi yang belum terselesaikan—dan langkah apa yang akan membantu.

Pengalaman Theresa Burke sungguh berharga untuk diketahui oleh masyarakat atau negara yang belum melegalisasi aborsi seluas seperti telah terjadi di Amerika Serikat atau negara-negara lain. Meskipun aborsi tidak melanggar hukum (legal), tetapi melanggar suara hati dan naluri keibuan yang melekat erat pada diri seorang wanita. Dari kodratnya tubuh seorang wanita tercipta untuk membesarkan generasi penerus manusia yang tercipta di dalam rahimnya.

(sumber: http://www.sayangihidup.org/voice-voiceless.investigasi team thehope.id; ,epd,dy,ys)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

MENJADI HAMBA YANG BERKENAN: MOMENTUM ROHANI DALAM FELLOWSHIP HAMBA TUHAN GIA DAERAH IV

Suasana penuh kehangatan dan sukacita mewarnai pelaksanaan Fellowship Hamba Tuhan Gereja Isa Almasih Daerah IV yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Isa Almasih Barukan ini menjadi momentum berharga bagi para pendeta dan pendeta muda untuk saling memperkuat, berbagi, dan diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka. Sejak awal acara dimulai, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di Daerah IV mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh semangat dan sapaan hangat satu sama lain mencerminkan kerinduan untuk bersekutu dalam kasih Kristus. Fellowship ini bukan hanya sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan ruang pembaruan rohani bagi para pelayan Tuhan yang setiap hari bergumul dalam ladang pelayanan masing-masing. Dalam kesempatan ini Pdt. Filipus Ratmaka selaku Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Selorejo, dipercayakan untuk menyampaikan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam penyampaiannya beliau mengangkat tema tentang panggilan untuk menjadi hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan, Pdt. Filipus Ratmaka mengingatkan bahwa keberkenanan di hadapan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan pelayanan secara lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan, kerendahan hati, serta ketaatan dalam menjalankan kehendak-Nya. Ia menekankan pentingnya integritas pribadi, kehidupan doa yang konsisten, dan hati yang tetap melekat kepada Tuhan di tengah dinamika dan tantangan pelayanan masa kini. “Pelayanan bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil, tetapi siapa yang tetap setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu penegasan yang menggugah hati para peserta. Suasana ibadah pun terasa khidmat, beberapa peserta tampak terharu dan merenungkan kembali panggilan pelayanan mereka. Melalui fellowship ini, para Pendeta dan Pendeta muda diteguhkan untuk terus melayani dengan hati yang murni dan motivasi yang benar. Pertemuan ini juga sekaligus mempererat kebersamaan antar hamba Tuhan dan memperkuat sinergi pelayanan di wilayah Daerah IV. Kegiatan Fellowship Hamba Tuhan ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan komitmen setiap pelayan Tuhan untuk terus bertumbuh dalam karakter Kristus, sehingga pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh memuliakan nama Tuhan dan membawa dampak bagi jemaat serta masyarakat luas.

GIA Pandean Lamper Bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan Gelar Pasar Murah, 1.000 Paket Sembako Ludes Terjual

Gereja Isa Almasih  (GIA) Pandean Lamper bekerja sama dengan Yayasan HTE serta Kelurahan Peterongan menggelar kegiatan Pasar Murah sebagai wujud pelayanan sosial kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 31 Januari 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di GIA Pandean Lamper, Kota Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh jemaat GIA Pandean Lamper, pengurus Yayasan HTE, perwakilan Kelurahan Peterongan, serta masyarakat sekitar yang tampak antusias sejak pagi hari. Kegiatan ini bertujuan Holistik Mission, yaitu misi gereja untuk menjangkau jiwa-jiwa sekaligus berbagi secara nyata kepada masyarakat melalui pelayanan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pasar Murah menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini. Panitia menyediakan 1.000 paket sembako murah yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp40.000 per paket. Seluruh paket sembako tersebut habis terjual dalam waktu singkat, menandakan tingginya kebutuhan serta antusiasme warga Kelurahan Peterongan terhadap kegiatan ini. Tak hanya Pasar Murah, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan panggung gembira, layanan cukur rambut gratis, pijat gratis, pengobatan gratis, serta berbagai tenant kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Panitia juga membagikan doorprize dan berbagai hadiah kepada warga yang mengikuti rangkaian acara panggung gembira, menambah semarak dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Panitia bersyukur atas kelancaran acara yang didukung oleh cuaca yang cerah sepanjang kegiatan berlangsung. Antusiasme warga Kelurahan Peterongan terlihat sangat baik, baik dalam pembelian paket sembako maupun partisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sosial yang disediakan. Melalui kegiatan ini, GIA Pandean Lamper bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, mempererat hubungan antara gereja dan warga, serta menghadirkan kasih melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (1) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (8) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (7) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (6) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (5)