Pada tanggal 27 hingga 29 Maret 2025, telah berlangsung sebuah kegiatan penting dan inspiratif yang mempertemukan para pemuda dan remaja gereja dari berbagai penjuru wilayah Majelis Daerah IX (DAERAH IX) dalam acara Retreat PRBK DAERAH IX. Acara ini diadakan di kawasan wisata alam Henferd Land, Bangkinang, Riau—sebuah tempat yang dikenal dengan suasana alamnya yang tenang, hijau, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suasana ini memberikan nuansa yang sangat kondusif untuk merenung, belajar, mempererat kebersamaan, dan mengalami perjumpaan yang lebih dalam dengan Tuhan.
Partisipasi Gereja-gereja Wilayah DAERAH IX
Kegiatan retreat ini diikuti oleh peserta dari berbagai gereja yang tergabung dalam PRBK (Persekutuan Remaja dan Pemuda Kristen) di bawah naungan GIA (Gereja Injili di Indonesia). Adapun gereja-gereja yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi: PRBK GIA Pekanbaru, PRBK GIA Murini, PRBK Tanjung Medan, PRBK GIA Kasang Bangsawan dan POUK Padasa
Kehadiran peserta dari berbagai gereja ini memperlihatkan semangat keterbukaan dan kolaborasi lintas jemaat yang menjadi ciri khas pelayanan PRBK. Total peserta yang hadir mencapai lebih dari seratus orang, terdiri dari remaja dan pemuda dengan latar belakang, pengalaman, dan karakter yang beragam.
Tujuan dan Semangat Retreat
Retreat ini digagas dengan tujuan utama untuk membekali dan menyinergikan seluruh PRBK GIA yang ada di bawah koordinasi DAERAH IX. Dalam menghadapi tantangan zaman dan dinamika generasi muda masa kini, sinergi antargereja menjadi penting agar pelayanan pemuda tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dan memperkuat dalam visi bersama.
Selain itu, retreat ini juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya peran pemuda Kristen di era digital. Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul generasi muda yang tidak hanya aktif secara rohani, tetapi juga relevan secara sosial dan digital.
Konsep Acara yang Kekinian dan Inklusif
Salah satu keunikan dari retreat ini adalah konsep kegiatan yang sangat ramah Generasi Z. Seluruh peserta dikelompokkan secara acak tanpa mempertimbangkan asal gereja, agar mereka terdorong untuk berbaur dan menjalin relasi lintas komunitas. Proses ini mencairkan sekat-sekat yang ada dan membuka ruang dialog serta keakraban sejak hari pertama.
Rangkaian acara disusun dengan sangat dinamis, memadukan unsur spiritual, edukatif, rekreatif, dan sosial. Panitia dengan cermat merancang setiap sesi agar tidak monoton, melainkan beragam dan interaktif. Mulai dari sesi pembinaan rohani, diskusi kelompok, kuis Alkitab, penampilan bakat (talent show), malam pujian dan penyembahan, hingga turnamen game online yang menjadi magnet tersendiri bagi peserta muda. Turnamen ini dirancang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga untuk menanamkan nilai kerjasama, sportivitas, dan pengelolaan emosi dalam konteks kekristenan.
Materi dan Pembicara
Retreat ini juga menghadirkan dua tokoh penting dalam lingkup pelayanan GIA sebagai pembicara utama, yaitu:
Beliau membawakan materi dengan topik “Dasar-Dasar Iman Kristen”. Dalam penyampaiannya yang lugas dan penuh semangat, Pdt. Ginting menekankan pentingnya pemahaman teologis yang kuat di kalangan generasi muda. Ia mengajak para peserta untuk tidak hanya mengandalkan perasaan atau tradisi, tetapi memahami dan menghidupi kebenaran iman Kristen secara menyeluruh—dari doktrin keselamatan, kejatuhan manusia, karya salib, hingga panggilan hidup sebagai pengikut Kristus.
Membawakan sesi yang sangat relevan berjudul “Garam dan Terang di Era Digital”, Pdt. Nehemia mengajak peserta menyadari bahwa kehadiran media sosial tidak bisa dihindari, tetapi harus diisi dengan nilai-nilai Kristiani. Ia menjelaskan bagaimana seorang pemuda Kristen bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan kabar baik, membangun komunitas sehat, dan menjadi suara kasih di tengah dunia maya yang sering kali penuh ujaran kebencian dan hoaks.
Materi-materi ini tidak hanya informatif tetapi juga transformatif, disampaikan dengan gaya yang dekat dengan anak muda dan dibumbui dengan kisah-kisah nyata serta ilustrasi visual yang menarik.
Suasana dan Kesan Peserta
Selama tiga hari dua malam, para peserta tidak hanya belajar, tetapi juga mengalami transformasi personal dan spiritual. Suasana kekeluargaan begitu terasa di setiap sesi. Tawa, air mata, pelukan, dan doa bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual mereka dalam retreat ini.
Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang iman mereka, dengan relasi yang baru dan berharga, serta dengan semangat yang diperbarui untuk kembali melayani di jemaat masing-masing.
Penutup
Retreat PRBK DAERAH IX bukan sekadar sebuah acara tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kesatuan, pembekalan, dan peneguhan identitas generasi muda Kristen di DAERAH IX. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, pemuda-pemudi GIA semakin disiapkan untuk berdiri teguh sebagai terang dan garam, tidak hanya di gereja, tapi juga di tengah dunia yang mereka hadapi sehari-hari—baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Retreat ini menjadi titik tolak bagi perjalanan PRBK DAERAH IX menuju pelayanan yang lebih bersinergi, inklusif, dan berdampak. Harapannya, benih-benih yang ditabur selama tiga hari ini akan terus bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan para peserta dan komunitas mereka masing-masing.