Sinode Gereja Isa Almasih

RESENSI LAGU

Kehendak Tuhan Laksanakan

“Dalam penyerahan dan kejernihan hati untuk mencari kehendak Tuhan dan melakukankannya, kita dimampukan bukan hanya mengetahui arah yang dikehendaki-Nya tetapi juga beroleh kekuatan baru untuk terus hidup dalam kehendak-Nya” – (ibu Teresa)
Pernahkah Saudara merasa kecewa karena kerinduan Saudara tidak terkabulkan? Padahal kerinduan tersebut sangatlah mulia. Sudah bertanya kepada Tuhan, tetapi belum mendapat jawaban yang diinginkan. Akhirnya tiba pada keputusan : “Apakah saya perlu memaksakan kehendak saya atau berserah kepada pimpinanNya?” Hal itu mirip dengan kisah Adelaide Addison Pollard, seorang pengarang lagu hymne dan gospel.

Adelaide adalah seorang wanita yang punya keinginan yang kuat. Banyak pendapat dan apa yang dilakukannya kadang bertentangan dengan cara berpikir dan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen. Namun demikian, Pollard memiliki satu hal yang sama dengan Saudara-saudara seimannya yaitu ia sungguh ingin supaya kehendak Tuhanlah yang terjadi dalam hidupnya. Keinginannya itu pernah diungkapkannya dalam sebuah nyanyian rohani, yang kini telah menjadi salah satu lagu yang memberkati banyak umat Kristen di seluruh dunia, khususnya dalam hal penyerahan diri. Lagu tersebut diberi judul ‘Have Thine Own Way, Lord’ (Jadilah Tuhan KehendakMu).
Mengikuti Jalannya Sendiri
Adelaide dilahirkan pada tanggal 27 November 1862, di Bloomfield, Iowa, Amerika Serikat. Sejak kecil, wanita yang banyak mengarang lagu Hymne dan Gospel ini rupa-rupanya tidak begitu menghiraukan nasihat orang lain. Ia lebih suka mengikuti jalannya sendiri. Bahkan nama Sarah Addison Pollard yang diberikan oleh orang tuanya itu tidak berkenan di hatinya. Malah ia mengganti namanya menjadi Adelaide Addison Pollard.

Nona Adelaide yang keras kepala itu memang memperoleh pendidikan yang cukup baik di Denmark, Iowa dan Valparaiso, Indiana. Ia juga bersekolah di The Boston School of Oratory (sekolah pidato) di Boston dan di The Moody Bible Institute (sekolah Alkitab) di Chicago, Illinois. Kemudian pada tahun 1880 ia pindah ke Chichago, Illinois dan menjadi guru di beberapa sekolah perempuan di kota tersebut. Ia sangat terkenal sebagai guru Alkitab. Baik Adelaide maupun seluruh keluarga Pollard adalah orang-orang Kristen yang saleh. Namun setelah ia dewasa, Adelaide Pollard jarang bertemu lagi dengan sanak saudaranya. Mungkin penyebabnya ialah karena ia selalu tertarik pada aliran-aliran Kristen yang oleh orang lain dianggap ‘sekte yang aneh-aneh’.

Pernah selama beberapa waktu Adelaide mensupport seorang penginjil John Alexander Dowie yang mengutamakan penyembuhan Illahi. Alexander Dowie menyatakan dokter dan obat-obatan sebagai kejahatan dan melarang anggota jemaat untuk memakainya. Alkohol dan tembakau juga dilarang. Menurut kesaksiannya sendiri, Adelaide Pollard disembuhkan dari penyakit kencing manis (walau pada hakekatnya kesehatannya itu tetap kurang stabil). Kemudian ia beralih kepada seorang penginjil lainnya Stanford, yang mengutamakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Nona Adelaide bekerja sama dengan penginjil itu untuk mengumpulkan dana agar dapat ikut serta dengan suatu rombongan utusan Injil ke benua Afrika. Tetapi usahanya itu gagal.

Dengan kerinduan yang masih terpendam itu, Adelaide Pollard mulai mengajar di sebuah sekolah tinggi tempat latihan untuk para calon utusan Injil di Nyack-Hudson. Baru pada waktu ia sudah setengah umur, akhirnya dapat jadi juga pergi ke Afrika. Tetapi ia hanya sempat melayani di sana selama beberapa bulan saja. Pecahnya Perang Dunia I, memaksanya mengungsi ke negeri Skotlandia. Seusai perang, barulah ia dapat pulang ke negeri asalnya, Amerika. Namun kesehatannya yang makin memburuk cukup menjadi penghalang untuk bekerja sepenuhnya. Sepanjang hidupnya, bahkan pada waktu ia sudah mulai berusia lanjut, Nona Adelaide terus mengembara sambil mengabarkan Injil dan mengajarkan isi Alkitab. Hanya pada saat kondisi badannya lemah saja, ia pulang ke keluarganya, sampai kesehatannya agak pulih kembali, dia baru pergi lagi.

Menjelang Natal tahun 1934, ketika umurnya 72 tahun, Adelaide Pollard yang sakit-sakitan, pergi ke stasiun di New York untuk membeli sehelai karcis kereta api, karena hendak pergi ke Philadelphia untuk berperan serta di kebaktian gereja di sana. Tetapi wanita yang sudah tua itu jatuh sakit ketika menunggu kereta api dan batal ke Philadelphia. Karena sakitnya itu, akhirnya Adelaide A. Pollard meninggal pada tanggal 20 Desember 1934, ketika itu ia berada di London, Inggris dan di kuburkan di Elmwood Cemetery, Fort Madison, Iowa.

Mengikuti Jalan Tuhan
Mungkin cara hidup Adelaide A. Pollard itu boleh dianggap agak aneh. Namun demikian, sebenarnya ia adalah seorang wanita Kristen yang rajin dan setia dalam melayani Tuhan. Dalam beberapa hal ia memang bersikeras mengikuti jalannya sendiri. Tetapi dalam hal yang sungguh berarti, ia selalu berusaha mengikuti jalan Tuhan. Adelaide, sama seperti ibunya dulu, suka mengarang syair-syair rohani. Walaupun ia sendiri tidak tahu berapa banyak karangannya, karena ia tidak pernah mengharapkan apalagi minta imbalan untuk karya-karyanya itu. Bahkan ia tidak suka membubuhi namanya pada semua hasil karyanya. Sebagian besar tulisan-tulisannya ditandatangani hanya dengan inisial A.A.P. Ada yang menghitung lebih dari 100 lagu Hymne dan lagu Gospel telah dibuatnya. Satu di antaranya adalah lagu ‘Have Thine Own Way, Lord’.

Ketika Adelaide memiliki beban besar bagi Afrika, ia ingin sekali pergi ke sana sebagai misionaris. Tetapi dana yang dibutuhkan tidak mencukupi. Ia merasa sedih sekali dan pada waktu hatinya diliputi rasa kecewa, ia menghadiri suatu pertemuan doa. Hadir juga pada saat itu seorang wanita Kristen yang sudah lanjut usianya. Dalam doanya Wanita tua itu berkata;”Tuhan asal aku dalam kehendak-Mu. Aku akan taat.” Nah, isi doa orang tua tersebut lah yang menginspirasikan Adelaide Pollard untuk mengarang lagu ‘Have Thine Own Way, Lord’.

Permohonan yang sederhana itu sangat berkesan di hati Adelaide Pollard. Ia merasa terdorong untuk memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan. Kalau memang bukan kehendak Tuhan supaya ia pergi ke Afrika, maka hal itu tidaklah menjadi soal. Buku Story Behind The Songs terbitan Yis Production menjelaskan lebih lengkap berikut foto-fotonya.

Sepulangnya dari pertemuan doa itu, Adelaide membuka Alkitab dan membaca Yeremia 18:3-4 : “Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. Ayat tersebut memberikan kepada Adelaide Pollard suatu pandangan yang baru : “Rupa-rupanya hingga kini Tuhan telah membentuk hidupku, seperti tanah liat di dalam tangan-Nya. Tetapi mungkin kemauan keras hendak pergi ke Afrika itu telah membuat hidupku rusak, sehingga Tuhan harus membentuknya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya”. Cukup lama Adelaide merenungkan kata-kata itu. Ketika dia memahami, rasa damai menenangkan jiwanya. Pada malam itu juga ia mengambil kertas dan menulis keempat bait dari nyanyian ‘Have Thine Own Way’ seperti yang dinyanyikan umat Kristen hingga sekarang.

Dinyanyikan pertemakali Tahun 1907
Beberapa waktu kemudian, syair-syair lagu yang dibuat Adelaide A. Pollard itu dilengkapi melodinya oleh George Coles Stebbins, salah satu musisi Injil terkemuka abad ini. Ia dilahirkan pada 26 Februari 1846, di negara bagian Orleans County, New York, Amerika Serikat. Pada umur 13 tahun ia sempat mengikuti suatu kursus musik di Buffalo dan Rochester, New York, kemudian menjadi guru vocal. Pada tahun 1869 ia pindah ke kota besar Chicago, Illinois yang menandai awal karir musiknya. Di sana ia bergabung dengan perusahaan musik ‘The Ly­on and Hea­ly’ sebagai anggota staf dan merangkap menjadi direktur (pemimpin) musik di Gereja Baptis Pertama tahun 1870. Selama di Chicago itu ia berkenalan dengan para pemimpin yang berkecimpung dalam musik gereja, antara lain : Dwight L. Moody, Ira D. Sankey, George Root dan juga dengan Philip P. Bliss dan Mayor D.W. Whittle.

Pada usia 28 tahun, Stebbins pindah ke Boston, Massachusetts dan menjadi direktur musik di Gereja Baptis Claredon Street, dimana yang menjadi pendetanya adalah Dr. Adoniram J. Gordon. Dua tahun kemudian yaitu tahun 1876, Stebbins menjadi direktur musik di Tremont Candi di Boston. Setelah beberapa tahun menjadi pemimpin musik di gereja yang besar, pada musim gugur ia mengundurkan diri. Kemudian ia menjadi pemimpin musik dalam kampanye-kampanye kebangunan rohani yang diadakan bukan hanya di Amerika, melainkan juga di Eropa dan Asia. Di samping itu, ia pun mengarang beratus-ratus lagu rohani.

Pada musim gugur tahun 1890, ia bersama Elma Miller, istrinya dan juga anaknya, pergi ke India untuk bekerja di antara penduduk yang berbahasa Inggris dari negara itu. Selama mereka tinggal di sana, Stebbins dan istri serta anak mereka memberi pelayanan musik di beberapa kota utama negara itu. Sekitar tahun 1900, Stebbins menghabiskan tahun-tahun hidupnya sebagai penginjil di India, Mesir, Italia, Palestina, Perancis dan Inggris.

Baru pada tahun 1907 George C. Stebbins menerbitkan salah satu dari beberapa buku kumpulan nyanyian pujian yang pernah disusunnya. Untuk koleksi yang baru itu, ia mengarang sebuah melodi yang digabungkannya dengan sebuah syair karangan Adelaide A. Pollard. Maka terbentuklah ‘Have Thine Own Way‘ yang telah menjadi salah satu lagu favorit umat Kristen sampai saat ini, baik di Indonesa maupun di beberapa negara lainnya.

Stebbins meninggal pada 6 Oktober 1945, di kota Catskill, New York, di usia 99 tahun. Dan dikubur di Lawn Cemetery Maple, Kew Gardens, Brooklyn, New York. Sekeras apapun juga sifat yang Saudara miliki, jika dibawa dan diserahkan ke dalam tanganNya, maka Tuhan Sang Khalik itu akan membentuknya menjadi seseorang yang berguna bagi sesama dan kerajaanNya. Rasa kecewa, patah hati, pahit dan perasaan sejenisnya yang Saudara alami merupakan dari proses pembentukanNya. Hiduplah dalam penyerahan kepadaNya, bukan hanya karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi karena kita tahu bahwa Dia adalah Penjunan yang handal dan dapat dipercaya. Di saat Saudara tidak kuat berdoalah: “Sabarlah Tuhan, karena aku belum selesai…” (Sumber: Praise #16)
Have Thine own way, Lord
Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Thou art the Potter, I am the clay.
Mold me and make me after Thy will,
While I am waiting, yielded and still.

Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Search me and try me, Master, today!
Whiter than snow, Lord, wash me just now,
As in Thy presence humbly I bow.

Have Thine own way, Lord!
Have Thine own way!
Wounded and weary, help me, I pray!
Power, all power, surely is Thine!
Touch me and heal me, Savior divine.

Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Hold o’er my being absolute sway!
Fill with Thy Spirit till all shall see
Christ only, always, living in me.
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
‘Kaulah Penjunan, ‘ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka-Mu,
‘kan ‘ku nantikan dan berserah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku
dan di depanMu, ‘ku menyembah.

Jadilah Tuhan Kehendak-Mu
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tolong, ya Tuhan, ‘ku yang lemah!
Segala kuasa di tangan-Mu;
jamahlah aku, sembuhkanlah!

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
S’luruh hidupku kuasailah.
Berilah Roh-Mu kepadaku,
agar t’rang Kristus pun nyatalah.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.