WAWANCARA EKSLUSIF

Leadership di Lingkup Sinode GIA

Wawancara Eksklusif Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih, Pdt. Dr. Goenawan Susanto M.Th.
(Periode 2016-2020 dan penambahan masa jabatan 2020-2022, karena masa Covid-19)
Oleh Agus Santoso & Thomas Esha
“Pemimpin ke depan, sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan pendekatan ke gereja gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabar dan bertahan”.
Pdt. Dr. Goenawan Susanto, M.Th
Ketum MPH Sinode GIA 2015-2020 + 2021-2022

SEMARANG, TheHope.id – Waktu menunjukkan pukul 20.20 wib, Kamis, 7 Juli 2022, saat usai doa malam di GereJa Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang baru selesai. Kami dari team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA mengikuti langkah Pdt. Goenawan Susanto sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih sekaligus juga sebagai Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang. Kami diterima di salah satu ruangan dalam gereja untuk melakukan wawancara khusus. Malam itu masih terdengar suara perbincangan beberapa jemaat yang baru saja selesai mengikuti ibadah doa malam. Suara itu semakin lama semakin terdengar lamat-lamat karena mereka menuju tempat parkir untuk meninggalkan gereja pulang ke rumah masing-masing. Suasana doa yang masih terasa masuk menyelimuti pertemuan kami. Ruangan pertemuan untuk wawancara itu seperti tidak menjadi kaku, meskipun suasananya sepi. Gaya ‘semarangan’ mulai terasa saat Pdt. Goenawan Susanto menempati tempat duduk santai dan rileks.

Team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA, mulai mewawancarai Pdt. Goenawan Susanto menjelang akhir masa tugas jabatannya sebagai ketua Sinode Gereja Isa Almasih dalam Sidang Sinode ke 23 tanggal 26-28 Juli di Gereja Isa Almasih Jemaat Pegangsaan Jakarta. Topik yang kami angkat adalah “LEADERSHIP DI LINGKUP SINODE GEREJA ISA ALMASIH”. Sinode Gereja Isa Almasih adalah salah satu Lembaga Gereja yang besar yang berada di Indonesia dengan 156 jemaat lokal dewasa dan sudah berusia lebih dari tiga perempat abad. Saat ini memiliki jemaat lokal dewasa yang tersebar di dalam negeri dan di luar negeri. Kita tahu peran seorang pemimpin sangat menentukan perjalanan suatu sinode yang dipimpinnya.

Menurut bapak, apa kerinduan mengenai pemimpin yang akan datang secara khusus visi dan misinya bagi Gereja Isa Almasih?

Pdt. Goenawan Susanto selanjutnya redaksi menyingkat PGS untuk keperluan peredaksian sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih yang menjabat selama 4 tahun ditambah perpanjangan selama 2 tahun akibat pandemic virus Covid 19.
Kepemimpinan di lingkup Gereja Isa Almasih itu bersifat jamak, artinya kepemimpinan satu team, tidak satu orang oleh sebab itu sebaiknya pemimpin yang akan datang itu mempunyai kesatuan. Khususnya Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus orang yang satu visi, satu hati, punya chemistry yang sama, kalau sampai tidak cocok sungguh akan sangat merepotkan sekali. Sebaiknya dalam pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus menjadi satu paket sama seperti pemilihan Presiden dan Wakil Presiden jangan di pilih sendiri-sendiri.

Dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih selama ini Ketua Umum dan Sekretaris Umum terjadi pemilihan sendiri-sendiri, sehingga Ketua Umum belum tentu akan cocok dengan Sekretaris umumnya, meskipun kalau sudah terpilih harus berusaha untuk bisa cocok dan sejalan. Tetapi lebih baiknya dari awal pemilihan sudah menjadi satu paket antara Ketua Umum dan Sekretaris Umum sehingga bisa lebih mudah untuk sejalan dan bekerja sama. Kemudian ketua-ketua departemen yang lainnya harus mengikuti kebijkan ketua umum dan sekretaris umum. Jangan membuat kebijakan sendiri serta berjalan sendiri-sendiri, karena mereka dipilih oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Mereka harus mengikuti arahan dari Ketua umum dan Sekretaris umum. Itulah yang sama alami selama menjabat sebagai Ketua Umum selama ini, ujar bapak PGS yang memiliki dua orang putri.

Praktisnya bagaimana?
PGS hening sejenak. Bapak PGS yang berkacamata plus dan gemar membaca buku ini melanjutkan pembicaraannya sambil sekali-kali membetulkan letak kaca matanya.

Selanjutnya dalam konteks saat ini, masalah yang menghadang atau menjadi tantangan terbesar adalah pemimpin gereja Lokal yang merasa memiliki otonomitas besar maunya berjalan sendiri-sendiri, kurang mengikuti arahan Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih. Juga ada kepentingan-kepentingan pribadi yang kadang lebih menonjol dari pada kepentingan bersama, sehingga sering kali muncul konflik-konflik di gereja lokal. Konflik antara Gembala Jemaat dengan Majelis atau dengan jemaatnya. Tidak jarang konflik ini bisa memicu perpecahan Gereja atau eksedus ke Gereja yang lain. Bahkan membuat Gereja tandingan. Kemudian kesulitan lainnya adalah masalah ketaatan dalam memberi persepuluhan dari Gereja Lokal kepada Sinode Gereja Isa Almasih. Tidak semua Gereja Lokal taat dalam memberi persepuluhan. Demikian pula apabila ada tenaga aktivisnya diminta untuk melayani di tingkat Sinodal. Mereka cenderung memiliki keberatan dan menutup diri terhadap hal ini.
Bagaimana seharusnya pemimpin Sinode ke depan itu?
Pemimpin ke depan sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah-tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan-pendekatan ke gereja-gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabra dan bertahan.
Dalam dunia yang serba tsunami informasi tentu bukan hal mudah, kecil dan sederhana. Ketermasing-masingan atau polarisasi dalam pengajaran, masalah pengajaran, masalah pembinaan generasi muda dan masalah visi Isa Almasih di masing masing gereja menjadi tantangan, adakah yang menjadi pandangan bapak untuk diharapkan bagi pemimpin kedepan itu?
PGS, memang di dunia sekarang ini banyak orang bisa mengikuti pengajaran-pengajaran yang sangat mudah diperoleh melalui medsos, youtube dan lain-lain. Pengajaran-pengajaran tersebut tidak bisa dihindari, tetapi Sinode Gereja Isa Almasih harus memiliki ciri khas dan mempertahankan pengajaran serta pengakuan imannya. Majelis Harian Pusat Sinode Gereja Isa Almasih ke depan harus memperkuat bidang pengajaran atau teologia sehingga ke khasan teologia Gereja Isa Almasih bisa terlihat jelas. Sarana media komunikasi juga penting, seperti majalah sinode, misalnya. Sinode GIA harus memiliki chanel youtube tersendiri yang selalu update, sehingga bisa memberikan ajaran-ajaran atau teologia Gereja Isa Almasih. Saat ini kita masih lemah dalam hal ini tertinggal dari sinode Gereja yang lainnya.
Menurut bapak bagaimana dengan Sidang Sinode ke 23 yang akan datang di Jakarta nanti?

Sebagai pendeta juga Sarjana Psikologi ini mengatakan, bahwa Sidang Sinode ke 23 sangat penting untuk memperkuat persatuan secara organisasi. Sidang Sinode yang dilakukan selama 4 tahun sekali ini paling tidak akan menentukan masa depan Gereja Isa Almasih lewat keputusan-keputusan bersama dalam sidang. Sayangnya karena masih suasana pandemi covid, maka jumlah pesertanya sangat dibatasi, maksimal dua peserta buat setiap gereja lokal dan waktunya juga diperpendek hanya 3 hari saja. Sayang sekali masih banyak juga gereja lokal yang tidak bisa hadir untuk mengutus wakilnya.

Apa yang harus dipegang oleh masing-masing Gereja Isa Almasih saat ini?

Sambil membetulkan letak duduknya, melanjutkan bahwa pengakuan iman Gereja Isa Almasih dan komitmen untuk mendukung Sinode harus kembali diingatkan kepada masing-masing gereja lokal dalam lingkup Sinode Gereja Isa Alamsih. Hal ini sesuai dengan hasil kesepatan kita bersama dalam bersinode.

Apakah dukungan gereja lokal kepada Sinode karena kurangnya komitmen atau karena tidak ada dana yang disediakan sehingga mempengaruhi ketaatan mereka?

Kata bapak PGS, pertama masalah komitmen yang kurang. Juga karena ada sakit hati dimasa lalu. Misalnya, ada pemimpin Gereja Lokal yang merasakan sakit hati, terus menutup diri terhadap kepemimpinan sinode yang ada. Hal ini menunjukkan pemimpin yang tidak dewasa kalau hal seperti itu dibiarkan terjadi, masalalu biarlah berlalu, kita saat ini harus melihat kie depan karena ini pekerjaan Allah bukan perasaan pribadi. Pemimpin tidak boleh mengikuti perasaan sendiri. Komitmen sebagai bagian dari Sinode, tentu harus mendukung sinode.

Sebagai Ketua Sinode yang harus meletakan jabatannya, apa rencana bapak dan bagi Gereja Isa Almasih dr. Cipto Semarang?
Dalam candaan yang halus, penulis mengatakan kemungkinan bapak Goen, panggilan akrab sehari-harinya dari beliau, bisa jadi dapat terpilih kembali sebagai ketua sinode.

PGS berujar sambil tertawa dengan ciri khasnya menjawab candaan tersebut, tetap rendah hati meskipun menjadi ketua sinode adalah merupakan orang tertinggi dalam lingkup Gereja Isa Almasih. Begitulah beliau menanggapi candaan dengan hanya senyuman.Kita hanya mereka-reka arti senyuman itu yang ada di bibir pria yang memang selalu nampak low profile.

Banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah di Gereja Isa Almasih dr. Cipto yang belum diselesaikan, ujar suami dari Ibu Evi ini, seorang wanita yang sudah sekian puluh tahun setia mendampingi. Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan seperti program pemuridan yang belum berjalan dengan baik. Banyak hal yang harus dibenahi pada gereja ini. Saya harus konsentrasi, gantian orang lain yang harus memimpin Sinode Gereja Isa Almasih, ujarnya.
Dalam Sidang Sinode di Pontianak 6 tahun lalu, ada agenda yang disusun, berapa persenkah dari agenda tersebut yang berhasil dilaksanakan?
PGS, berujar agak sulit dibuat prosentase karena ada agenda yang merupakan proses, seperti menyatukan Gereja-Gereja Lokal. Yang penting agenda tersebut sudah dikerjakan semaksimal mungkin. Disamping itu juga kita tidak mempunyai pejabat sinode yang fulltime. Sehingga sulit untuk diharapkan keberhasilan utuh dalam melaksanakan agenda yang sudah disusun.Demikian ucapan beliau, mengakhiri wawancara.

Malam telah berlari membuat gelapnya suasana di luar Gereja mulai dirasakan. Kami berdoa Bersama dan saling bersalaman untuk berpamitan. Kami melangkahkan kaki keluar ruangan Gereja yang mulai sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 wib. Kami jadi teringat kepada kata-kata Neale Donald Walsch, “Pemimpin sejati bukan orang yang mempunyai banyak pengikut, tetapi yang menciptakan banyak pemimpin.” Kiranya menjadi penyemangat dalam suasana sidang sinode ke 23 yang akan berlangsung di akhir juli nanti di Jakarta. (-as/te)

Baca juga artikel lainnya