Acara yang dihadiri oleh seluruh jemaat usia emas dari berbagai kota di Daerah VI Jawa Barat ini mengusung tema “Sukacita Kebangkitan Kristus.” Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta Henrawaty Siregar dengan penuh semangat dan penguatan iman.
Dalam khotbahnya, Pendeta Henrawaty menekankan bahwa kebangkitan Kristus adalah sumber pengharapan sejati bagi setiap orang percaya, terlepas dari usia dan kondisi kehidupan. Ia mengajak para jemaat untuk tidak larut dalam kekhawatiran, kesepian, atau ketakutan menghadapi usia senja, melainkan menaruh harap sepenuhnya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut.
“Jangan pernah merasa sendiri atau tidak berguna. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa di dalam Dia, hidup kita selalu berarti. Di masa muda, di usia emas, bahkan hingga Tuhan memanggil kita pulang, hidup kita tetap memancarkan sukacita dan kasih-Nya,” tutur Pendeta Henrawaty di hadapan jemaat.
Beliau juga mengingatkan agar para jemaat terus meneladani kehidupan Kristus dengan saling menguatkan dan mendoakan, menjadi teladan iman bagi generasi yang lebih muda, serta terus bersaksi tentang kasih Tuhan di keluarga maupun lingkungan sekitar.
“Kiranya di usia kita saat ini, kita tetap menjadi garam dan terang dunia. Jangan padamkan sukacita itu, sebab Kristus sudah bangkit, dan kebangkitan-Nya memberi kita semangat baru setiap hari,” tambahnya.
Suasana ibadah semakin berkesan karena seluruh jemaat hadir mengenakan busana khas era 1960-an. Nostalgia kian terasa dengan persembahan tari rock and roll yang dibawakan dengan semangat, mengingatkan pada masa muda yang penuh warna namun tetap dilandasi kasih Kristus.
“Ini menjadi momen yang membahagiakan. Kami bisa bernostalgia, bersukacita bersama, sekaligus mengingat bahwa hidup kami masih berarti di hadapan Tuhan,” ujar salah seorang jemaat yang tak kuasa menahan senyum.
Acara yang dihadiri oleh seluruh jemaat usia emas dari berbagai kota di Daerah VI Jawa Barat ini mengusung tema “Sukacita Kebangkitan Kristus.” Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta Henrawaty Siregar dengan penuh semangat dan penguatan iman.
Dalam khotbahnya, Pendeta Henrawaty menekankan bahwa kebangkitan Kristus adalah sumber pengharapan sejati bagi setiap orang percaya, terlepas dari usia dan kondisi kehidupan. Ia mengajak para jemaat untuk tidak larut dalam kekhawatiran, kesepian, atau ketakutan menghadapi usia senja, melainkan menaruh harap sepenuhnya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut.
“Jangan pernah merasa sendiri atau tidak berguna. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa di dalam Dia, hidup kita selalu berarti. Di masa muda, di usia emas, bahkan hingga Tuhan memanggil kita pulang, hidup kita tetap memancarkan sukacita dan kasih-Nya,” tutur Pendeta Henrawaty di hadapan jemaat.
Beliau juga mengingatkan agar para jemaat terus meneladani kehidupan Kristus dengan saling menguatkan dan mendoakan, menjadi teladan iman bagi generasi yang lebih muda, serta terus bersaksi tentang kasih Tuhan di keluarga maupun lingkungan sekitar.
“Kiranya di usia kita saat ini, kita tetap menjadi garam dan terang dunia. Jangan padamkan sukacita itu, sebab Kristus sudah bangkit, dan kebangkitan-Nya memberi kita semangat baru setiap hari,” tambahnya.
Suasana ibadah semakin berkesan karena seluruh jemaat hadir mengenakan busana khas era 1960-an. Nostalgia kian terasa dengan persembahan tari rock and roll yang dibawakan dengan semangat, mengingatkan pada masa muda yang penuh warna namun tetap dilandasi kasih Kristus.
“Ini menjadi momen yang membahagiakan. Kami bisa bernostalgia, bersukacita bersama, sekaligus mengingat bahwa hidup kami masih berarti di hadapan Tuhan,” ujar salah seorang jemaat yang tak kuasa menahan senyum.
Selain ibadah dan persembahan tari, acara juga diwarnai ramah tamah, saling berbagi cerita, serta makan bersama yang menambah kehangatan suasana. Para peserta berharap perayaan Paskah Usia Emas ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud syukur dan sarana mempererat persaudaraan di antara jemaat Daerah VI Jawa Barat.
Perayaan Paskah Usia Emas ini bukan sekadar sebuah acara tahunan, tetapi menjadi pengingat yang hidup bahwa sukacita dalam Kristus tidak pernah mengenal usia. Kebangkitan-Nya memberi makna baru, harapan baru, dan semangat baru bagi setiap pribadi, termasuk mereka yang kini memasuki masa emas kehidupannya.
Mari terus melangkah dengan iman dan sukacita, meneladani Kristus dalam keseharian, serta menjadi terang dan garam bagi generasi setelah kita. Jangan biarkan api pengharapan padam, sebab Kristus yang bangkit adalah sumber kekuatan kita hari demi hari. Sampai jumpa dalam perayaan berikutnya—tetap kuat, tetap bersinar, dan tetap bersukacita di dalam Tuhan!