Sinode Gereja Isa Almasih

http://en.wikipedia.org/wiki/Braille
Dunia orang buta dibatasi oleh jangkauan sentuhannya, dunia orang bebal dibatasi oleh jangkauan pengetahuannya, dunia orang besar dibatasi oleh jangkauan visinya.
E. Paul Hovey

Saat Ku Buta

Oleh Yotam Sugihyono
(Diambil dari Warrior of Life)

Sebuah kecelakaan membuatnya buta total untuk selamanya. Saat berusia 3 tahun secara tidak sengaja ia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang sepatu milik ayahnya.

Kejadian yang lebih tragis kembali terjadi saat matanya yang satu terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata satunya.

Anak yang malang ini bernama Louis Braille. Ia dilahirkan 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah kota kecil di dekat Paris, Perancis. Ketika ia mengalami dunia yang gelap, ia tidak meratapi nasibnya walaupun ia bisa saja melakukannya karena ia memiliki seribu satu alasan untuk dikasihani. Di usianya yang masih belia, saat berumur 10 tahun ia memperoleh bea siswa untuk belajar pada Royal Institution for Blind Youth di Paris, sebuah lembaga pendidikan khusus untuk anak-anak tunanetra. Namun saat berada di sana ia mengalami kesulitan dalam membaca buku karena sejumlah tanda timbul pada buku tersebut memiliki ukuran huruf yang besar, sehingga bukunya pun terbilang besar dan harganya sangat mahal. Sementara itu, sekolahnya hanya memiliki empat belas buku seperti ini. Walaupun demikian, ia tetap berhasil dalam semua pelajarannya.

Louis Braille merasakan kesulitan dalam membaca buku-buku tersebut karena ia membutuhkan beberapa detik untuk membaca setiap satu huruf dan sering lupa akan huruf pada awal kalimat sebelumnya. Maka ia berpikir untuk dapat membuat huruf timbul yang lebih mudah dipahami oleh orang buta sepertinya.

Tahun 1821, saat Louis Braille berusia dua belas tahun, seorang kapten angkatan bersenjata Prancis, Charles Barbier berkunjung ke sekolahnya. Barbier menunjukkan penemuannya yang dinamakan night writing (tulisan malam), yang mengembangkan kode-kode timbul sebagai sandi untuk dibaca dalam kegelapan bagi prajuritnya. Dari sanalah Louise Braille mendapatkan ide untuk mengembangkan sistem huruf yang lebih sederhana.

Hanya dalam waktu tiga tahun saja, akhirnya ia berhasil membangun satu sistem ideal yang sekarang dinamakan huruf Braille dan kala itu ia baru berusia lima belas tahun! Huruf ini menggunakan satu sel yang terdiri dari 6 titik dan didasarkan pada ejaan normal. Pada tahun 1829 saat ia berusia dua puluh tahun, ia menerbitkan buku Braille pertamanya. Tak puas hanya sampai disitu, ia pun kemudian membuat simbol-simbol lain yang digunakan untuk mempermudah mempelajari matematika dan musik.

Namun penemuannya yang sangat brillian itu tidak serta merta dapat diterima di masyarakat. Setelah kepala sekolah yang sebelumnya dipimpin oleh DR. Pignier dan mengupayakan dukungan untuk Louis diganti oleh DR. Dufau, maka sekolah melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis dan menghukum murid yang tertangkap menggunakan huruf ciptaannya. Penolakan terhadap ide brillian ini tidak hanya berhenti sampai di situ, mereka bahkan juga membakar semua buku-buku yang sempat ditulis oleh Louis yang telah memenuhi perpustakaan sekolahnya.

Seorang guru lain bernama DR. Joseph Gaudet melihat dengan obyektif bahwa ternyata sistem tulisan yang diajarkan oleh Louis sangat membantu para murid tuna netra dibandingkan dengan tulisan sebelumnya yang mereka ajarkan. Setelah melalui diplomasi yang sangat baik, DR. Joseph Gaudet berhasil meyakinkan Dufau untuk menjadi orang pertama yang memberlakukan sistem alfabeth baru ciptaan Louis di sekolah mereka.

Karena kepentingan untuk dikenal inilah akhirnya pada tahun 1844 Dufau yang sebelumnya melarang kini mendemonstrasikan penggunaan alfabeth ciptaan Louis. Louis yang berusia 35 tahun waktu itu begitu gembira mendengarnya karena ciptaannya dapat membantu begitu banyak orang cacat seperti dirinya.

Saat ia berusia 43 tahun, Louis yang masih relatif muda dan telah mencelikkan mata orang-orang buta menderita penyakit TBC yang kemudian membuatnya meninggal dunia. Penemuannya membuat orang buta tetap dapat “melihat” dengan rabaan jari-jarinya. Penemuannya justru didapatkan ketika ia mengalami kebutaan total. Ada banyak hal yang membuat kita tetap dapat berprestasi dan melakukan sesuatu bahkan saat kita mengalami kemalangan sekalipun. Asal mau menerima kelemahan fisik dan membuat kekurangan menjadi kelebihan yang dapat kita munculkan, maka kita akan menjadi orang yang unggul melebihi orang lain.
Baca juga artikel lainnya