Era kebisingan
Dalam era tsunami informasi ini, salah satu yang menjadi ciri utama atau penting dari manusia adalah tidak mau diam. Diam adalah keadaan yang membuat manusia tersiksa atau meronta. Sebab di era informasi ini diam yang katanya mahal atau emas yaitu berdiam diri. Penulis artikel yang sangat terkenal dalam situs, Desiring God, John Piper, berjudul The Diffucult Habbit of Quiet, menjelaskan bahwa manusia saat sangat sulit berdiam diri dan tidak memiliki kebiasaan berdiam atau tenang. Berdiam diri dipadang kemunduran.
Ciri manusia modern adalah kesibukan yang luar biasa, aktivitasnya yang meningkat tajam tetapi juga kegaduhan, keriuhan yang membuat manusia tidak bisa membedakan dan mengenali dari mendengar suara yang patut didengar dan mana suara yang berupa kebisingan dari aktivitas yang meningkat. Harian Wall Street melaporkan sebagai hearing to much.
Sebuah lagu rohani dengan bunyi syair, “Tenanglah kini hatiku Tuhan memimpin langkahku di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya” serasa menyejukan hati setiap manusia yang rindu mendengarkannya dan berani menghayatinya dengan berdiam. Dengan banyaknya ragam permasalahan dibutuhkan ketenangan, dan rasa tenang tersebut berpotensi memunculkan kemampuan laten manusia untuk menumbuhkan kreasi solusi-solusi persoalan yang kekinian dan men-“segar”-kan.
Tenang dan Percaya
Tenang dan percaya adalah sebuah kekuatan. Jika manusia membiasakan kemampuan alaminya dengan meneduhkan hati dan mendengarkan suara Allah yang patut ia dengar dan menyatakan bahwa ada Allah yang mampu mengatasi segenap persoalan (Roma 10:17). Maka hal tersebut menimbulkan iman percayanya yang kemudian berusaha ia pahami bahwa benar adanya dan dipergunakan dalam praktik hidup dalam mengatasi persoalan.
Bukakah dalam berdiam diri pendengaran kita dipertajam untuk mendengar suara Allah?. Para murid Yesus yang mengalami kesulitan yang serius, ketika dalam perjalanannya kapalnya harus berhadapan dengan hantaman ombak. Kapalpun oleng dan nyaris tenggelam terhadap (Markus 4:36-41). Dalam kondisi seperti itu, Yesus berkata kepada badai dan topan itu;”Diam dan Tenanglah”. Dan Yesus berkata kepada murid-Nya adalah supaya mereka dapat tenang dan percaya, dan badai topan itu menjadi teduh taat kepada suara Tuhan.
Tenang dan percaya adalah sebuah kekuatan!. Di tengah kegaduhan, makin maraknya situasi kesulitan saat ini membuat manusia makin berusaha dengan caranya, seperti kata Yesaya, “ Tetapi kamu enggan, kamu berkata kami mau naik kuda dan lari cepat,”(Yes 30:16). Ini ciri manusia yang sudah tenggelam dengan kegaduhan situasi. Bukan suara kebenaran Allah tidak ada tetapi kegaduhan itu justru yang membuatnya tidak bisa berdiam diri dan percaya yang akibatnya berlari dengan cara-cara manusia naik kuda yang bisa berlari dengan cepat akibatnya akan lenyap dia.
Tokoh spiritual kristien Mark Yaconelli memperkenalkan suatu pengalaman yang menarik, bahwa ia melihat orang-orang yang sangat sibuk di Kota Atlanta, Georgia. Dimana ia melihat temannya melempar kepingan uang logam di tempat penyeberangan yang sibuk sekali. Dan heran ada orang yang masih bisa mendengar dan menoleh kepada bunyi uang logam itu. Lalu, ia mencatat kebenaran bahwa telinga manusia akan bisa mendengar suara dalam keriuhan manakala ada “perhatian yang tertuju pada suara itu”. Demikianlah dengan suara Tuhan yang ditujukan kepada orang percaya, hanya ketika orang percaya di tengah kesibukannya ada waktu untuk tertuju pada-Nya.
Bagi orang yang tidak bisa berenang, tercebur ke kolam yang dalam adalah pengalaman yang menakutkan. Orang itu tentu membutuhkan pertolongan. Namun, supaya dapat ditolong dia harus tenang, mendengarkan, dan menurut pada petunjuk penolongnya. Kepanikan hanya akan menambah bahaya baginya.
Kerajaan Yehuda sedang panik. Di tengah krisis, mereka sibuk mencari pertolongan dengan caranya sendiri. Mereka memutuskan untuk berlindung kepada bangsa lain yang mereka pikir lebih kuat daripada bangsa penyerang. Mereka mencari perlindungan kepada Mesir dan melupakan Allah (2). Padahal, Allah menginginkan agar mereka tetap tenang dan percaya kepada-Nya. Firman Allah yang datang kepada mereka mengingatkan bahwa berharap kepada Mesir dan kekuatan perangnya hanya akan membuat mereka malu, sebab Mesir tidak akan berdaya menghadapi Asyur (3, 7). Allah menyebut mereka sebagai anak-anak pemberontak, sebab sekalipun mereka adalah anak-Nya tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara-Nya yang datang melalui nabi-Nya. Justru mereka membungkam dan mengusir nabi itu (10-11). Saat Allah meminta mereka tinggal tenang dan berharap kepada-Nya, Orang-orang Yehuda justru sibuk dengan kepanikannya.
Kita pasti pernah mengalami peristiwa yang berat dalam hidup ini. Pada saat seperti itu, kita punya dua pilihan. Pertama, kita bereaksi terhadap kepanikan dan berpikir pendek mengenai penyelesaian masalah sesegera mungkin. Kedua, kita merespons dengan berhenti sejenak untuk menenangkan diri, berdoa memohon pertolongan Allah dan hikmat-Nya. Cara pertama akan mendorong kita untuk mengambil pilihan yang tidak cermat bahkan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Cara kedua akan memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja menolong dan membuat kita berpikir jernih.
Jadi, seperti kata Maya Anggelo seorang penasehat Gedung Putih, memberi nasehat, semua bergantung pada kita dan bagaimana kita memperlakukan semua tantang dan persolan yang terjadi itu. Kita mau memilih jalannya sendiri? Kemudian mencari jalan yang cepat dan bisa berlari dengan hebat yang seperti dikatakan oleh Yesaya kepada bangsa Israel itu, akhirnya lenyap. Atau dengan pilihan kerendahan hati, memilih dengan bertobat dan berdiam diri, cara ini justru kataTuhan, disitu kekuatanmu. Roh Kudus kiranya terus mengingatkan kita. -dds