Sinode Gereja Isa Almasih

christopher

We walk by faith, not by sight

Oleh Eka Setia Dharma

TheHope.id- Siapapun orangnya kalau melihat sosok bayi terlahir premature, dalam usia 25 minggu, buta dan darahnya tercemar narkotik dan sederet efek lainnya yang ada di tubuhnya. Orang pasti berkata, “Tinggal tunggu waktunya” atau setidaknya;”Siapa yang mau mengasuhnya.”

Bayi tersebut tergeletak dirajang bayi di panti asuhan dinas sosial milik pemerintah AS. Oleh Christine dan Steven Duffley, diambil dan asuhnya dengan penuh kasih. Bayi yang diberi nama Christopher Duffley yang terlahir dari calon adik ipar Christine. Namun sebelumnya, Christine kehilangan kontak selama beberapa bulan dengan adik dan calon adik iparnya itu.

Sampai akhirnya, pada bulan ke 14 pasca kelahiran Christopher, Christine mengetahui dari pihak petugas sosial, bahwa keponakannya itu ada di panti asuhan. Ia buta dan lahir dengan banyak sekali masalah kesehatan, termasuk autis. Christine sempat merasa takut dan bingung mengenai apa yang harus dilakukannya setelah tahu keadaan keponakannya.

Melihat harapan setelah berdoa
Christopher yang terlahir buta, autis dan sederet kelemahan lainya telah membuat Christine takut dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Meskipun begitu, entah mengapa, hati Christine tergerak untuk berdoa pada Tuhan. Dalam doanya, dia bertanya kepada Tuhan. “Tuhan, apa yang Kau ingin aku lakukan?” Melalui hati kecilnya, suara Tuhan datang dan menjawabnya dengan lembut. “Jangan takut, Aku akan mengatur semuanya.” Akhirnya, Christine menganggap keponakannya sebagai anak sendiri. Keajaiban mulai terlihat saat anak tersebut lahir dengan sebuah talenta. Suara selembut malaikat Christopher telah membuat banyak orang tergerak hatinya.

Dalam usianya yang masih lima tahun, ia sudah bisa membaca Alkitab huruf braile. Dan ketika membaca suatu ayat dengan yang nyaring, keras sepenuh hati yang menyaksikan imannya;”We walk by faith, not by sight” – sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. 2 Korintus 5:7. Maka keluarganya yang mendengar hal itu, memastikan diri untuk mengajar dan mengasuh dengan penuh iman meski tidak mudah. Tetapi yang jelas berjalan dengan iman banyak sekali perkara yang terlihat mustahil menjadi tidak mustahil.

Setiap kali Christopher tampil di sebuah pertunjukan, dengan bahasa tubuhnya yang masih kaku dan gagu, suaranya mampu memenuhi setiap sanubari yang mendengarnya dan selalu membuat orang lain memberikan tepuk tangan sambil berdiri yang ditujukan padanya. Christopher menyanyikan pujian ‘Open the eyes of my heart’, orang yang menyaksikan tersentuh dan salah satu wujud hormat berdiri dan salut atas keberanian, keyakinan dan kemampuan Christopher yang jarang dimiliki oleh orang normal sekalipun.

Lewat penampilannya, Christopher menyanyikan lagu ‘I can only imagine’, dia mengajak ibu angkat dan seluruh orang yang menonton penampilannya, untuk melihat sesuatu tidak dengan mata biasa. Namun dengan hati, di mana Tuhan melihat segala sesuatunya. Meskipun dengan bahasa tubuh yang kaku dan gagu, tetapi suaranya memenuhi setiap hati

Hidup untuk Tuhan

Usia Christopher Duffley kini sekitar 14 tahun, dirinya telah menjadi salah satu sosok inspiratif yang membuat mata masyarakat terbuka. Dia menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan kesia-siaan. Semua akibat ada sebabnya, semua keberadaan, ada gunanya. Dan karena itulah, Christopher Duffley ada di dunia. Dia mampu menunjukkan bahwa dirinya sama seperti kita. Bahwa setiap orang lahir dengan kekurangan dan kelebihan, yang penting adalah bagaimana kita dapat menemukan “hadiah” yang diberi Tuhan dalam diri masing-masing.

Christopher Duffley, remaja penyandang autis dan buta yang mendapat perhatian masyarakat Amerika lewat bakat bernyanyinya yang mengesankan. Kini, ia sedang menyelesaikan album pujian terbarunya yang berisi lagu-lagu inspiratif dan patriotik.

Dalam proses produksi, Duffley dibantu oleh produser ternama Steven V. Taylor. Album tersebut akan berisi sejumlah lagu pujian, yakni ‘Open the Eyes of My Heart’, ‘Amazing Grace’ dan ‘I Can Only Imagine’ serta lagu-lagu patriotik dan inspiratif seperti ‘God Bless the USA’ dan ‘Lean on Me’.

Yang menjadikan penggarapan album ini berbeda, bukan karena bakat dan kekuatan suara yang dimilikinya, namun lebih kepada figur Christopher sebagai penyandang autis dan buta. Awal karirnya dimulai lewat video undahannya di Youtube ketika tampil bernyanyi dengan lagu “Open The Eyes of My Heart” di Capitol Center untuk Pertunjukan Seni di Concord, N.H. Video Youtube tersebut mencapai pengunjung sebanyak 2.4 juta, sehingga nama Christopher melejit sangat cepat.

Kondisinya tidak menghentikan bocah yang beranjak remaja ini untuk meningkatkan bakat musiknya. Ia berkata, “Meskipun keadaan sangat sulit dan kita mendapat rintangan, kita telah menemukan kebahagiaan dan begitu banyak berkat. Melalui keadaan itu, Tuhan menggunakan kehidupan ini untuk menyentuh dunia kepada Kristus,” seperti dilansir Christianpost.com, kamis (15/8).

Kekurangan yang dialami Christopher Duffley dipakainya sebagai berkat untuk menyadarkan dunia bahwa kekurangan tidak dapat membatasi manusia untuk melakukan yang terbaik bagi sesama dan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan memakai keadaannya untuk sebuah rencana besar.

Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You
Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You

Apakah kita sungguh ingin melihat Tuhan dengan matahati agar bisa menyembahnya? (esd)

To see You high and lifted up
Melihat Anda tinggi dan terangkat
Shinin’ in the light of Your glory
Shinin ‘dalam terang kemuliaanmu
Pour out Your power and love

Tuangkan kekuatan dan cintamu
As we sing holy, holy, holy
Saat kita bernyanyi suci, suci, suci

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.