Sinode Gereja Isa Almasih

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.
John Piper

Tulisan di bawah ini adalah wawancara dengan John Piper yang dimuat disini. Ini adalah salah satu artikel, di mana ada peserta studi mengambil program D.Th/Ph.D. Berikut di bawah ini adalah terjemahan bebas, ketika di wawancarai:

Sebagai orang yang sudah melewati studi Ph.D, apakah anda akan merekomendasikan hamba Tuhan lain untuk mengambil pendidikan di jalur itu juga?

Maksud anda, hamba Tuhan yang sudah menggembalakan di gereja atau yang masih berencana untuk menggembalakan? Saya John Piper, akan menjawab untuk keduanya.

Jika anda sudah menjadi gembala, saya tidak menyarankan untuk mengambil Ph.D. Anda harus bekerja sangat keras untuk itu dan hasilnya sangat kecil. Sangat kecil.

Ketika saya mengatakan sangat kecil, saya tidak berarti mempelajari Alkitab akan kecil hasilnya. Tetapi karena anda harus membaca begitu banyak sampah untuk mendapatkan Ph.D. Anda harus menjadi ahli dalam apa yang dikatakan oleh orang lain, yang kebanyakan adalah salah.

Kebanyakan yang ditulis di dunia ini tidak benar. Dan seorang Ph.D harus menjadi seorang ahli. Maka anda harus membaca banyak sekali materi yang sama sekali tidak menolong.

Saya pikir harus ada orang yang melakukan itu. Saya senang ada seorang Don Carson yang seperti sudah membaca segala sesuatu di bawah matahari, maka punya kapasitas untuk berespon dengan baik.

Saya sangat setuju ada kebutuhan lapisan akademis yang sadar apa yang terjadi di luar sana dan bisa mengajar dan menulis. Maka, ya dan amin.

Tetapi penggembalan bukanlah itu. Penggembalaan terutama bukanlah tempat dimana anda harus tahu semua hal salah yang pernah dikatakan orang tentang sepotong kecil biblical theology. Penggembalaan adalah menggembalakan orang dari Firman.

Sekarang kembali ke hal yang positif: Jika program Ph.D disusun -dan ada beberapa yang seperti itu!- untuk membuat anda mempelajari Alkitab selama tiga atau empat tahun dan mengerti implikasinya yang lebih besar untuk kehidupan dan realitas, maka, dalam perjalanan anda menuju ke penggembalaan, itu bisa sangat bernilai.

Tapi program Ph.D saya tidak disusun seperti itu. Dan ketika saya selesai dengan tiga tahun itu, saya hanya mendapat selembar kertas, bahasa Jerman, dan apresiasi kepada teologi yang akademis; tetapi saya tidak bertumbuh banyak, kecuali yang saya bisa peroleh sendiri.

Maka adalah mungkin untuk mengambil Ph.D yang bodoh untuk selembar kertas. Saya jauh lebih suka anda mengambil Ph.D yang bijaksana – yaitu, pergi ke tempat dimana mereka mengizinkan anda terutama mempelajari Alkitab. Ya, anda akan harus membaca materi lain. Tetapi anda ingin keluar setelah tiga tahun dengan pengertian yang besar, dalam, kuat, mantap, akan Allah dan jalan-jalanNya di dalam dunia, bukan hanya sepotong kecil apa yang ribuan orang ngaco katakan tentang sepotong kecil ayat di dalam Alkitab. Itu adalah cara menggunakan tiga tahun yang sangat menyedihkan.

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.

Saya bahkan tidak pernah membuka tabung tempat ijazah saya sejak 1974! Saya belum membukanya! Ada di laci. Tidak ada orang yang tanya tentang itu. Itu tidak ada artinya lagi. (Mungkin itu berlebihan).

Di manakah pemikiran kristiani sangat dibutuhkan saat ini?

Saya kira ada sebuah panggilan kekal bagi gereja Kristen untuk menjalani kehidupan intelektual yang alkitabiah, kemudian memahami dan membelanya.

Saya pikir kita mengalami banyak tantangan. Kita mengalami masa ketika Alkitab menimbulkan persoalan. Alkitab dikritik habis-habisan, tetapi Tuhan membangkitkan pembela-pembela. Lalu kita mengalami masa ketika Alkitab bisa diterima apa adanya. Namun, saya kira pasang surut itu pasti terjadi. Kita memerlukan cendekiawan-cendekiawan yang menunjukkan bahwa Alkitab itu riil dan bisa dibuktikan secara ilmiah dan intelektual.

Dan di luar konteks tersebut, saya ingin mengatakan bahwa seluruh aspek kehidupan membutuhkan pemikiran kristiani.

Media menjadi sarana penting, termasuk Internet, komputer, dan email. Bagaimana semua itu bisa mengubahkan gereja dan cara penyembahan? Saya baru saja membaca buku karya Quentin Schultze tentang pemakaian teknologi presentasi yang bijaksana dalam kegiatan penyembahan. Ternyata ada orang yang sungguh-sungguh mendedikasikan kepandaiannya untuk meneliti sesuatu yang dipakai banyak orang, tetapi luput dari perhatian kita. Jadi, seluruh aspek teknologi memengaruhi kerohanian, dan pengaruhnya pada jemaat yang melakukan penyembahan merupakan salah satu aspek dalam pemikiran kristiani.

Namun, sesungguhnya saya masih sulit memahami hal-hal yang lebih spesifik karena mengira bahwa banyak aspek dalam kehidupan masyarakat — seperti politik, hiburan, bisnis, hubungan internasional, peperangan, dan masalah sosial seperti aborsi, kemiskinan, tunawisma, narkotika, dan pernikahan — menuntut pemikiran atau dukungan intelektual. Tidak satu pun yang bisa diselesaikan dengan cara emosional atau represif. Namun, kita seharusnya memiliki orang-orang yang mempelajari Alkitab dan memakai kecerdasan untuk menyampaikan kebenaran dan memberi solusi yang tepat terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dunia.

Jadi, saya hanya ingin mengatakan, marilah kita menghargai kehidupan, kehidupan yang selalu memedulikan setiap aspeknya.

John Piper (@JohnPiper) is founder and teacher of desiringGod.org and chancellor of Bethlehem College & Seminary. For 33 years, he served as pastor of Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. He is author of more than 50 books, including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and most recently What Is Saving Faith?

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.