Thehope.id.– Namanya Darryl Kramer (47 th), ia seorang ibu dari satu anak lelaki, Jimmy (8 th) yang tinggal Canandaigua, NY. Amerika Serikat. Tingginya tidak lebih dari 1.12 cm. Terlahir dengan tubuh cebol, meskipun kedua orang tuanya tubuhnya normal.
Saat lahir, dokter memberi tahu kepada ibunya, bahwa bayinya mengalami anchondroplasia — cebol. Namun demikian, kedua orang tuanya tidak memperlakukan secara istimewa.
Sampai suatu saat, Derryl masuk sekolah. Di sekolah, Derryl tidak tahan diolok-olok teman-temannya. Ia sudah mencoba membalasnya, namun semakin kuat dirinya membalas ejekan dari teman-temannya, semakin kuat pula balasan olokan yang ia terima.
Suatu kali, ibunya menemui Derryl yang sedang menangis. Rupanya, ia kesal, kecewa dan sedih bercampur aduk di benak anak perempuannya. Ibunya mengerti bahwa ia menangis karena diejek terus menerus oleh teman-temannya. Derryl berkeputusan untuk tidak bersekolah lagi. Dengan penuh kasih, ibunya memeluknya sembari memberi nasehat kepadanya, ”Jika kamu melihat keunikan tubuhmu ini sebagai masalah kamu akan terus terganggu, namun jika kamu menerimanya sebagai keunikan, kamu akan bisa tersenyum. Sebab Tuhan menciptakan kamu seperti ini. Tuhan juga menciptakan orang tinggi dan besar, ada pula yang mungil seperti dirimu.”
Darryl tersentuh dengan nasehat ibunya. Ia ingin mengubah sikapnya. Namun hal itu bukan hal yang mudah. Rupanya, ia membutuhkan waktu untuk bisa menerapkan nasehat ibunya. Sebab antara mempercayai apa yang dikatakan ibunya dengan kenyataan yang terjadi membutuhkan perjuangan. Terutama berjuang untuk menerima dirinya sendiri dengan tubuh yang dipandang orang ”aneh”. Ibu Derryl sadar betul akan apa yang dipergumulkan anaknya. Baginya tidak ada jalan lain kecuali menerima anaknya sebagaimana adanya dan mengasihinya dengan porsi yang tepat. Sebagai seorang ibu, menasehati anaknya dengan mengajarkan bahwa Tuhan itu baik dalam membentuk tubuh anaknya itu, ia buktikan dengan perlakuan dan penerimaan diri anaknya termasuk anak-anaknya yang lain.
Derryl mampu melewati masa-masa sulit berkat nasehat ibunya dan dukunganya; ibunya memperlakukan dirinya seperti saudaranya yang lain; “anak normal”.
Saat Derryl menerima keunikannya sebagai keajaiban karya Tuhan, maka ia mulai melihat hidupnya secara baru. Seiring dengan nilai yang benar tentang dirinya ditaburkan, yaitu ; dirinya diciptakan oleh Tuhan dan itu baik. Darryl percaya, jika Tuhan itu baik maka Dia tidak menjadikan dirinya secara keliru. Darryl yang tadinya menolak dan menyesali bentuk tubuhnya, secara pelan namun pasti berubah menjadi menerima dirinya tanpa dalih. Ia melihat hidupnya dari sisi keistimewaan yang Tuhan letakkan di tubuhnya yang mungil itu. Keyakinan yang demikian terus bertumbuh di dalam dirinya. Cara pandang yang baru telah membuat dirinya bersikap ramah terhadap setiap orang yang menanyakan tubuhnya yang ”aneh”.
Sebuah perubahan telah terjadi di dalam dirinya, perubahan itu dimulai dari keyakinan bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan. Dan Tuhan itu baik. Darryl mulai berani menghadapi dunia dengan ramah. Bahkan ia menikah dan melahirkan anak yang tubuhnya normal.
Derryl menjadi orang ramah dan dikagumi oleh setiap orang yang bertemu dengannya. Merry Green yang wartawan Readersdegeits, menulis tentang kehidupan Derryl demikian, ” Ia tidak hanya dikagumi, suami dan anaknya, namun juga orang-orang yang bertemu dengannya memperoleh pelajaran besar dari diri seseorang yang bertubuh mungil.”
Kisah Derryl telah mengajar kan satu hal yang besar kepada kita, bahwa hidup seseorang diubahkan dimulai dari apa yang dipercayainya tentang dirinya, dunianya dan kehidupan ini.
Francis Shaeffer menulis, ”As a man thinketh, so is he” . Manusia itu unik, apa yang ada di dalam pikirannya seperti itulah hidupnya—apa yang dipikirkan mengenai dunianya akan nampak dalam sikap dan tindakannya. Dari pikirannya timbulah keyakinannya tentang hidup ini, nilai-nilai dalam cara ia memandang sekitarnya sampai pada bagaimana ia melihat dunia ini. Inilah yang disebut cara pandang.
Bagaimana Anda memandang hidup ini? Mungkin Anda sudah lama tidak memikirkannya. Atau justru sebaliknya, Anda sedang memikirkannya namun belum menemukan jawabannya.
Sesungguhnya, hidup Anda jauh lebih bernilai dari yang Anda pikirkan atau yakini sampai saat ini. Jauh lebih berharga dari sebuah pencapaian prestasi. Hidup Anda lebih dari sekadar ”alat’’ untuk meraih ambisi. Bahkan lebih hebat dari impian Anda yang paling liar sekalipun.
Anda bisa saja telah meraih apa yang Anda cita-citakan atau menghasilkan sebuah prestasi yang telah lama diidamkan. Namun kehidupan ini sebenarnya lebih dari itu. Alkitab mengatakan Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? , Matius 16:26
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Anda diciptakan oleh Allah, dikasihi-Nya dan Anda adalah manusia yang berharga dan mulia.(Yes 43: 1-7). Ini hal yang luar biasa. Allah tidak hanya menciptakan diri Anda tetapi juga mengasihi dan menghargai. Allah memberikan harkat atau harga diri pada manusia—diri Anda. Ia menciptakan manusia dengan cara yang begitu pribadi. Di mana diri Allah secara pribadi terlibat secara keseluruhan dalam menciptakan diri Anda. Tentu saja Allah tidak menciptakan diri Anda sambil lalu dikarenakan diri-Nya terlalu sibuk dengan mengurus bayi-bayi lain — jumlahnya jutaan — yang harus dilahirkan di dunia ini, sehingga Allah membentuk diri Anda secara sembarangan. Allah yang sempurna selalu berkarya secara sempurna dan bersifat pribadi. Artinya, Allah memiliki hubungan pribadi dengan setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali diri Anda demikian sebaliknya, Anda tidak akan bisa menemukan makna hidup ini sampai diri Anda menemukan hubungan kembali dengan diri Allah. Alkitab menyakan hal ini,” … segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”.( Kolose 16b)
Segala sesuatu ada karena diciptakan-Nya. Dan kita ada karena Dia. Demikian juga tidak ada ciptaan-Nya yang memiliki makna jika tanpa ada hubungan dengan Allah yang memberikan makna dari setiap cipataan-Nya. Menemukan makna hidup oleh Victor Frankl dipandang sebagai ”motivasi dasar dari kehidupan manusia” (Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning, New York:Simon & Schuster, 1984, p:48)
Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal itu bisa saya percayai? Hidupku tidak memperlihatkan sesuatu yang luar biasa bahkan jauh dari berharga dan mulia. Karya mulia Allah di dalam diri Anda, tidak dinilai dari hanya ada sesuatu yang spektakuler yang terjadi dalam hidup ini. Atau menunggu Anda dikagumi banyak orang, lalu Anda bisa dikatakan hidup Anda berharga dan dikasihi-Nya.
Doroty Sayers, seorang penulis yang dikagumi banyak orang. Orang tidak pernah menyangka bahwa masa lalunya teramat suram dan menyedihkan. Ia terlahir dengan kecerdasan alami. Ia memperoleh bea siswa Oxford. Namun begitu ia merasa hidupnya ada sesuatu yang sulit untuk diterima; ia merasa kecantikannya di bawah rata-rata. Dalam menjalin cinta ia merasa bertepuk sebelah tangan. Karena frustasi, ia berkencan dengan pemuda pemabuk yang hidupnya berantakan, sampai melahirkan anak. Setelah berpisah, ia menikah dengan duda. Sayang pria ini pun tidak membuatnya bertambah baik.
Doroty telah berusaha sekuat tenaga untuk berjuang dengan tujuan memberi makna bagi hidupnya. Ia telah mencoba menerapkan berbagai pemikiran manusia yang terbaik dalam hidupnya. Namun yang dia rasakan kehidupannya makin jauh dari bermakna. Ia haus akan makna hidup. Doroty mengalami jatuh bangun; kecewa, dan gagal dalam usaha memaknai hidupnya. Sampai akhirnya ia menemukan kasih setia dari Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Pengalaman yang luar biasa tersebut, menuntun dirinya kepada lembaran hidup baru. Doroty sadar bahwa hanya di dalam Yesus saja kehidupannya menemukan makna. Doroty yang pecundang telah menemukan makna kehidupannya Dalam bukunya, ”The Mind of the Maker”, menuliskan demikian;
”Tuhan tidak berjanji untuk memecahkan semua masalah kita, sekurang-kurangnya tidak dengan cara pemecahan yang kita inginkan. (tidak ada tokoh di Alkitab yang hidupnya steril dari masalah). Bagi-Nya semua permasalahan yang sedang kita hadapi dapat dijadikan sebagai bahan mentah. Katakanlah bahan mentah itu berupa kegagalan, aib, otak yang pas-pasan, ketidak puasan, kepedihan,gerutuan kita kepada Tuhan. Atau berupa cacad fisik, kedunguan yang menjengkelkan orang. Semua itu bisa digunakan untuk membangun dan membentuk hidup kita dalam hal-hal yang paling berarti bagi Tuhan.” (Dorothy Sayers, The Mind of the Maker, London:Methuen, 1959:152)
Doroty Sayers melihat hidup secara baru. Sebab Allah telah menaruh nilai keyakinan baru mengenai hidupnya. Di dalam kasih Allah, hidup menemukan maknanya. Sejak Kristus di dalam hidupnya, ia melihat kekayaan kehidupan yang telah dianugerahkan kepadanya. Ia melihat hidup dari cara Allah melihat hidup ini; dikasihi dan amat berharga.
Dalam kasih setia Tuhan pula, Doroty Sayers belajar menerima semua tragedi yang paling pahit sekalipun. Dalam menerima keadaannya, ia bisa melihat makna. Dalam menerima ia bisa mengampuni. Dalam menerima hidup ini, ia bisa melihat karya Kristus di salib bagi semua kepahitan hidupnya. Dari titik ini, ia belajar melihat tragedi hidup dalam bingkai kebaikan-Nya walaupun penderitaan belum tuntas berakhir. Sikap menerima keadaan diri masih baru dijalani. Bagi Doroty, segalanya diawali dengan keyakinan bahwa Tuhan itu baik yang menolong dirinya untuk bisa menikmati semua yang pahit dalam hidup ini agar menghasilkan karya bagi kemulian-Nya. Sebaliknya, jika makna hidup seperti yang diukurkan oleh para pemikir dan perumus sukses hidup yang sedang trend saat ini, hidup Doroty tidak masuk hitungan. Maka hidup adalah hal yang pahit, menyakitkan tak bisa diubah apalagi memiliki makna.
Doroty Sayers menyimpulkan demikian karena ia sendiri mengalaminya, dua kali gagal menikah meninggalkan aib, terlibat dalam kehidupan yang bebas. Kegagalan, kesalahan dan dosa, seperti lekat dalam hidupnya. Namun ketika Kristus memulihkan hidupnya, semua tragedi yang dialaminya menjadi bahan mentah untuk menghasilkan karya bagi kemulian-Nya. Buku-buku hasil karangannya banyak dibaca orang dan menyegarkan jiwa, memberi harapan dan yang penting orang menemukan rahmad yang baru dari Tuhan.
Jadi, jika Anda ingin menemukan makna hidup yang penuh kelimpahan dalam Tuhan, mulailah dengan Dia; Yesus Kristus. Anda akan melihat kehidupan ini secara baru. Bersama Allah yang menjadikan hidup Anda, menjalani hidup secara baru dan melihat kehidupan sekitar Anda secara baru pula. Keyakinan ini akan membuat Anda berbeda. Anda dibentuk oleh apa yang Anda percayai!. (ys)