Thehope.id – Berdasarkan studi pada fakta dan data di bulan Juni lalu sampai sekarang Agustus 2023 maka redaksi perlu menurunkan berita sangat penting tentang pemanasan global makin parah. Tengoklah di Jakarta sekarang, permulaan bulan Juli sampai bulan Agustus 2023 hampir tiap hari penghuninya, menghirup udara yang dari langit wilayah Jakarta yang kelam dan berwarna abu-abu agak pekat. Gambar kondisi udara Jakarta yang demikian kurang sehat dan agaknya sulit hilang berganti cerah karena faktor cuaca, polusi dan faktor lainnya lagi.
Bagi orang yang sensitive, terasa sesak untuk menghiruf udara Jakarta yang sedang cemar dan sakit ini. Tapi bagi mereka yang sedang bisa bertahan akan banyak keluhan mulai dari gangguan mata, kulit dan pernafasan serta batuk-batuk. Akhirnya beberapa hari yang lalu , KOMPAS.com – DKI Jakarta menjadi kota dengan kualitas udara terburuk nomor dua di dunia hari ini, Selasa (15/8/2023) pagi. Dikutip dari situs pemantau kualitas udara IQAir, pukul 05.43 WIB, indeks kualitas udara di Ibu Kota berada di angka 165 AQI US. Jakarta yang sudah mencapai batas daya tahan akibat polusi udara makin pekat, pemerintah harus bertindak. Berita lainya, berdasarkan informasi yang dapat dipercaya dari CNBC Indonesia iklim dan pemanasan global kini menjadi isu yang penting dibahas untuk kelanjutan kehidupan di Bumi.
Laporan terbaru PBB menyatakan pemanasan global melampaui 1,5 derajat Celcius dalam 10 tahun ke depan. Batas 1,5 derajat Celcius adalah batas bencana pemanasan global yang dampaknya ke Bumi sudah tidak bisa diperbaiki.
Dalam laporan tersebut, Panel Antar-pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan kondisi ini berarti warga Bumi berhadapan dengan dekade paling penting dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, PBB mengimbau agar penduduk dunia segera mengurangi emisi pemanasan global secara drastis. Sejumlah tanda-tanda ‘kiamat’ belakangan ini tak hanya nampak jelas di permukaan bumi saja, melainkan kini tanda-tanda ‘kiamat’ sudah mulai terlihat juga di langit. Adapun tanda ‘kiamat’ tersebut merujuk kepada perubahan iklim ekstrem yang semakin terlihat jelas.
Terbaru dalam laporannya, CNBC International menyebut sumber daya air di Eropa kini semakin langka karena keadaan darurat iklim yang semakin parah. Suhu yang memecahkan rekor selama musim semi dan gelombang panas telah memicu kekeringan.
Waduk di negara-negara Mediterania seperti Italia telah jatuh dalam kekeringan. Ini akhirnya telah mengancam produksi pertanian, sementara protes karena kekurangan air telah terjadi di Prancis dan Spanyol.
Data satelit yang dianalisis oleh para peneliti dari Universitas Graz Austria pada awal tahun juga menemukan bahwa kekeringan berdampak pada Eropa dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan para peneliti sebelumnya.
Studi tersebut diterbitkan setelah para peneliti Uni Eropa (UE) menemukan bahwa Benua Biru mengalami musim panas terpanas tahun lalu, dengan kekeringan hebat yang dianggap sebagai yang terburuk yang pernah dialami wilayah itu setidaknya dalam 500 tahun.
Para peneliti di University of Graz mengatakan Eropa telah menderita kekeringan parah sejak 2018, dengan efeknya menjadi jelas tahun lalu karena surutnya air mendatangkan malapetaka bagi produksi makanan dan energi. Selain itu, banyak spesies air kehilangan habitatnya.
“Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan bahwa air akan menjadi masalah di Eropa, terutama di Jerman atau Austria,” kata Torsten Mayer-Gürr, penulis utama studi satelit tersebut dalam laporan Senin, dikutip Minggu (11/6/2023).
“Kami benar-benar mendapat masalah dengan pasokan air di sini. Kami harus memikirkannya,” tegasnya.
Sementara itu, hal serupa juga terjadi di langit. Tingkat karbon dioksida (CO2) yang diukur di atas gunung berapi Hawaii memperpanjang kenaikannya mencapai 50% lebih tinggi daripada permulaan era industri.
Mengutip Reuters, kadar CO2 di Mauna Loa Atmospheric Baseline Observatory Hawaii mencapai 424 bagian per juta (ppm) pada bulan Mei. Ini naik 3 ppm dari tahun sebelumnya dan melanjutkan kenaikan ke kisaran dari era jutaan tahun yang lalu.
Administrator di Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat (AS), Rick Spinrad, mengatakan peningkatan ini merupakan bagian dari akibat langsung dari aktivitas manusia. Ia mengatakan pos Mauna Loa telah mengukur CO2 di atmosfer sejak 1958, ketika levelnya kurang dari 320 ppm.
Tren naik dikenal sebagai Kurva Keeling untuk bagaimana pendakian digambarkan dalam grafik dan dinamai menurut David Keeling, yang memulai pengukuran untuk lembaga studi Scripps pada tahun 1958.
Program Scripps sekarang dijalankan oleh putra Keeling, ahli geokimia Ralph Keeling. Ia mengatakan situasi saat ini sebagai kondisi yang sangat tidak baik.
“Ini menunjukkan bahwa sebanyak yang telah kami lakukan untuk memitigasi dan mengurangi emisi, jalan kami masih panjang,” pungkasnya.
Merujuk pada website PBB, perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Pergeseran ini terjadi secara alami, seperti melalui variasi siklus matahari.
Namun sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yangBumi sekarang 1,1°C lebih hangat daripada di akhir tahun 1800-an. Dekade terakhir (2011-2020) adalah rekor terpanas. (red.dari berbagai sumber)