Sinode Gereja Isa Almasih

Ibadah Penahbisan Pdm. Yehuda di GIA Krangkeng: Simbol Kesatuan dalam Keragaman

Sebuah momen bersejarah dan penuh makna digelar di GIA Krangkeng, Salatiga, pada Minggu, 7 September 2025. Ibadah Penahbisan Pdm. Yehuda resmi dilaksanakan dengan khidmat, dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam lingkup pelayanan Gereja Isa Almasih (GIA), serta menampilkan semangat inklusivitas melalui kehadiran jemaat difabel dari Gereja Difabel TPI Bendosari, Salatiga.Acara ini turut dihadiri oleh Anggota Majelis Daerah IV, Departemen Kesaksian dan Pengabdian Sinode GIA, serta perwakilan dari gereja-gereja se-wilayah pelayanan. Ibadah penahbisan menjadi momentum spiritual dan organisasi yang mempertegas komitmen gereja terhadap pelayanan yang merangkul semua kalangan.

Dalam ibadah tersebut, Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Andreas Dwi Nugraha, yang mengangkat tema: “Jangan Membeda-bedakan”. Melalui pesan tersebut, umat diajak untuk hidup dalam kasih Kristus yang melampaui batas-batas perbedaan, termasuk perbedaan kemampuan fisik. Beliau menekankan bahwa iman yang sejati tidak boleh disertai sikap membeda-bedakan, baik berdasarkan status sosial, latar belakang, maupun kondisi fisik. Justru, kasih Kristus seharusnya membawa gereja untuk merangkul yang terpinggirkan, memperhatikan yang terabaikan, dan memulihkan yang terluka.

Hal yang sangat menyentuh dalam ibadah ini adalah kehadiran jemaat difabel dari Salatiga, yang tidak hanya menjadi tamu, tetapi juga bagian integral dari ibadah. Untuk menjembatani komunikasi, ibadah ini disertai dengan penerjemah bahasa isyarat, menandai langkah nyata gereja dalam membangun pelayanan yang inklusif dan ramah disabilitas.Penahbisan ini bukan hanya pelantikan seorang pelayan Tuhan, tetapi juga perayaan akan keberagaman tubuh Kristus.

Pdm. Yehuda, yang kini resmi diteguhkan dalam pelayanannya di GIA Krangkeng, menyampaikan rasa syukur dan tekad untuk melayani dengan hati yang terbuka kepada siapa pun. “Saya percaya, gereja bukan hanya untuk yang kuat dan sempurna secara fisik, tetapi justru untuk semua yang rindu akan kasih dan keselamatan Kristus,” ujarnya usai prosesi penahbisan. Dengan terselenggaranya ibadah ini, GIA Krangkeng telah meneguhkan posisinya sebagai bagian dari gereja yang aktif membangun pelayanan yang inklusif, setara, dan penuh kasih, sejalan dengan semangat pelayanan Kristus yang menyentuh semua lapisan masyarakat.