Thehope.id. Jika jalan mencapai apa yang diinginkan seperti berhadapan dengan tembok tinggi dan tebal, mengapa tidak menempuh jalan yang lain meski dengan jalan memutar? Jika cara menempuh jalannya tidak diijinkan dengan berperahu, mengapa tidak dengan berenang meski tampak lebih beresiko, sulit dan terlihat lama. Itu seperti jalan carita hidup Jenice Anngelica. Jalan dalam hidupnya yang ingin bercita-cita menggeluti dunia keartisan dan keinginannya justru ditolak oleh orang tuanya. Ditolak orang tuanya tak lantas putus asa, Jenice menempuh jalan mewujudkan cita-citanya dengan jalan lain untuk bisa hidup menggeluti dunia keartisan malahan mengantarnya bisa jadi sutradara.
Semula Janice Angelica (27) bercita-cita menjadi artis, lalu ditentang orangtuanya. Kebanyakan anak muda melihat hal itu jadi patah arang dan apatis. Berbeda dengan Jenice yang kemudian berbelok membangun mimpi sebagai sutradara film, karier yang kemudian dia kejar sampai ke negeri China. Jejak prestasinya kian terang, terutama setelah mendapat Bucheon Award di Busan International Film Festival.
Janice duduk di ruang Asian Contents & Film Market dalam acara Bifan Goedam Campus Pitching, bagian dari Busan International Film Festival, Senin (9/10/2023). Dia mempersiapkan strategi melawan sembilan kompetitornya. Setelah tujuh peserta presentasi, giliran Janice naik panggung. Wajah Janice dengan senyum mengembang penuh percaya diri. Dia kemudian menjelaskan tentang proyek filmnya, Makwan City of Dreams: Nenek.
Menimba ilmu di negeri Tiongkok
Menimba ilmu di Tiongkok dan berprestasi di sana. Perempuan satu ini juga tak hanya berhasil mengharumkan nama Indonesia di sana, tapi juga turut mempromosikan pariwisata Tanah Air lewat filmnya yang mengambil lokasi syuting di Bali. Itulah karya dari Janice Angelica.
Sebagai produser, perempuan berusia 26 tahun itu tak pernah tanggung-tanggung dalam berkarya. Salah satu karyanya, ‘Little Giant’, berhasil meraih predikat ‘Best Film’ dan ‘Best Cinematography’ di ajang kompetisi film yang digelar CCTV China September lalu.
Film fantasi epik tersebut diproduksi oleh rumah produksi STONJAUS. Itu bukan pertama kali karya Janice dan STONJAUS mendapat penghargaan. Film pendek bergenre horor ‘Play with Me’ yang diproduserinya juga sukses merebut penghargaan CCTV 48 Hours Competition 2016 untuk kategori ‘Excellent Film’, ‘The Best Cinematography’, dan ‘Best Sound’.
Kedua film tersebut digarapnya bersama sutradara Bing Bang. CCTV China memang selalu menggelar kompetisi film yang mengajak sutradara dan dewan juri dari berbagai negara ke satu tempat. Tahun ini CCTV membawa para peserta ke Kawasan Suqian. Dewan juri menetapkan satu topik yang mewajibkan peserta lomba berkompetisi menulis cerita, mengambil gambar, dan menyuntingnya dalam waktu 48 menit.
“Lomba seperti ini selalu menantang lantaran banyak tim profesional yang ikut. Ada beberapa tim juga yang punya sutradara terkenal di industri perfilman Tiongkok,” kata Janice, seperti dikutip dari laman stonjaus.com.
Terus berkarya yang terbaik
Saat ini Janice baru saja menyelesaikan pengambilan gambar untuk film pendeknya di Bali dengan bantuan sponsor dari Tiongkok dan Red and White. Tak dapat ditampik, semangat dan prestasi generasi muda seperti Janice patut ditiru generasi muda lainnya.
Janice dan timnya, Stonjaus, meraih penghargaan kategori “Best Film” dan “Best Cinematography” melalui film pendek garapannya berjudul “Little Giant”, demikian pernyataan tertulis Red and White, perusahaan patungan Indonesia-Cina yang memfasilitasi pelaku industri perfilman di kedua negara tersebut kepada Antara di Beijing, Selasa.
Penghargaan itu bukan pertama kali bagi Janice dan Stonjaus. Pada tahun-tahun sebelumnya mereka juga meraih gelar “Best Sound”, “Best Cinematography”, dan “Best Actress”. Namun, padata tahun ini mereka berhasil membawa pulang penghargaan terbesar, yaitu “Best Film”, kata CEO Red and White, Gandhi Priambodho.
Janice yang berasal dari “Kota Pahlawan” itu merupakan lulusan Beijing Film Academy, sekolah film terbaik di Cina yang banyak menghasilkan sutradara ternama, seperti Zhang Yimou.
Ia telah menyutradari dan memproduksi film pendek lainnya yang sukses di dunia perfilman internasional.
Setiap tahun, CCTV menggelar kompetisi film dengan mengajak para sutradara dan dewan juri dari berbagai negara ke satu tempat.
Lomba seperti ini selalu menantang karena ada banyak tim-tim profesional yang ikut. Ada beberapa tim juga yang punya sutradara terkenal di industri perfilman Cina, kata Janice.
Ia menulis naskah film itu bersama dengan rekan sutradara Bing Bang. Mereka mampu memberikan kejutan kepada penonton atas sesuatu yang belum pernah dilihat. Satu pintu untuk merah cita-cita tertutup, mengapa tidak mencoba pintu yang lain?. Sumber; https://www.kompas.id/baca/hiburan/2023/09/09/sleep (red)