Redaksi thehope.id menurunkan satu karangan berupa kupasan yang diambil dari kata “kebetulan” dari kitab Rut. Kata “kebetulan” jika dikaitkan konteks dengan iman maka ada kesaksian iman dari Penyelenggaraan Ilahi yang dahsyat dan Ajaib.
Pengertian “kebetulan” dalam Rut 2:3
Sebuah tragedi bisa menimpa siapa saja, termasuk keluarga Naomi. Seluruh anak lelaki yang sudah beristri meninggal dunia setelah ayah mereka terlebih dahulu meninggal. Kita tidak tahu apa penyebabnya. Namun yang jelas di tanah asing Moab perantauan itu, keluarga Naomi yang menjadi berantakan itu mulai mengais sisa kekuatan untuk pulang ke Israel karena Naomi mendengar kabar Tuhan telah memperhatikan umat-Nya.
Naomi hanya membawa dirinya dan mungkin sedikit bekal ala kadarnya. Dengan diiringi dua menantunya, kakinyapun melangkah menuju Betlehem-Yehuda. Dalam pemberangkatan itu, Naomi memandang ke dua menantunya yang berjalan beriringan dengan nada bergertar rasa pahit, berkata agar keduanya pulang karena apa yang mereka harapkan dari keberadaan orang yang sudah tua dan tidak memiliki apa-apa ini. Demikianlah Naomi memberi kalimat untuk berpisah dengan kedua menantu yang dicintainya.
Lalu menantunya yang satu bernama Orpha menuruti apa yang dikatakan Naomi yang nampak realistis itu. Ia meninggalkan kedua perempuan yang berdiri mematung. Berbeda dengan Rut yang ingin tetap bersama Naomi kembali ke Betlehem. Bujukan dari Naomi yang sudah menua itu tidak mampu menggoyahkan keteguhan hatinya. Mata Naomi yang sudah menua nampak telihat sisa kejernihan kasih sedang mulutnya tak mampu berucap lagi hanya helaan nafas pelan yang keluar. Hening, angin mengusap kulit kedua pipi wanita itu.Rut hanya nampak berpegang pada pengertian “Allahmulah Allahku” dan seperti tidak hirau dengan berkas tatapan kasih mertuanya Naomi. Rut malahan ingin pengakuannya yang masih misterius itu jadi peta hidup meraih harapan.
Naomi dan Rut setelah tiba kembali di Betlehem berhadapan realita keadaan dan kebutuhan hidupnya. Satu kebutuhan utama yang menghadang mereka berdua. Kenyataan itu menggerakan Rut untuk sedia berjuang demi nasib mertua dan dirinya. Ia sedia menjalani dari keteguhan pilihannya dengan mengadu nasib mencari benih yang tersisa dalam panen raya.
Rut sedia menjalani dari anak tangga yang paling bawah ; sedia membawa hasil memungut sisa benih panen raya. Sebuah peluang yang terlihat untuk menanggalkan semua yang disebut “harga” dan sedia mengambil kerendahan diri dan kejujurannya. Itu langkah awal yang harus ditempuh untuk mewujudkan dari pengakuannya“Allahmulah Allahku” itu adalah benar. Saat langkah yang awal menuju ladang panen itu, jelas tangan-tangan yang tak terlihat sedang bekerja menuntunnya. Langkah-langkahnya dibimbing secara ilahi untuk mewujudkan tujuan dari rencana Tuhan yang dapat terlaksana.
Ini adalah sebuah kebetulan yang muncul, dan mengacu pada nasib, namun semua diatur oleh pemeliharaan Tuhan. Allah dengan bijaksana mengatur peristiwa-peristiwa kecil, bahkan peristiwa-peristiwa yang kelihatannya bergantung sepenuhnya. Banyak peristiwa besar yang terjadi karena ada perubahan kecil, yang tidak disengaja bagi manusia, namun dirancang oleh Allah.
Kerelaan hati sedia merendahkan diri meminta ijin memungut sisa yang sengaja ditinggalkan para pengerja Boas. Matthew Henry mengomentari sebagai berikut;”Semangat yang tinggi lebih memilih kelaparan daripada membungkuk; tidak begitu begitu bagi Rut. Tidak, itu adalah usulannya sendiri. Dia berbicara dengan rendah hati sambil mengharapkan izin untuk memungut”. Selanjutnya ia menambahkan; “Dia senang untuk tidak memakan roti kemalasan. Ini adalah contoh bagi generasi muda. Ketekunan menjanjikan hal yang baik, baik untuk dunia ini maupun dunia yang lain. Kita tidak boleh malu dalam melakukan pekerjaan yang jujur. Tidak ada tenaga kerja yang tercela”.
Walaupun hal itu merupakan suatu kebetulan dan kebetulan baginya, dan apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai keberuntungan, hal itu sesuai dengan tujuannya, dan dengan pemeliharaan serta petunjuk dari Allah maka dia sampai kepada para pemanen di bagian ladang itu. Boas seorang kerabat dekat mertuanya, adalah pemiliknya, dan memberi izin kepada mereka untuk memungut dan mengikuti mereka.
Jejak “kebetulan” yang di tangan Allah
Kata “hap” muncul dalam 1 Samuel 6:9 (‘suatu kesempatan’), 1 Samuel 20:26. Sepanjang cerita, penulis bermaksud agar kita membagikan keyakinannya yang kuat ada Penyelenggaraan Ilahi, yang mengesampingkan tindakan dan perkataan yang tidak disengaja (lih. Rut 2:12; Rut 2:19 f.), dan memberi penghargaan kepada mereka yang memercayainya (Rut 3:4; Rut 3:9; Rut 3:11, Rut 4:6; Rut 4:14). ‘Alam semesta adalah pejuang bagi orang benar,’ kata orang bijak Yahudi, Kebijaksanaan 16:17
Oleh karena itu Rut berinisiatif untuk memungut sisa benih sebagai makanan dari orang yang dengan murah hati mengizinkannya. Niatnya itu ia laksanakan atas izin Naomi, dan kebetulan membawanya ke bagian ladang milik Boas, kerabat Elimelekh, tanpa ia mengetahui pemilik ladang itu, atau sama sekali menyadari hubungannya dengan Elimelekh. מקרה ויּקר, lit., “kesempatannya untuk mencapai lapangan.”
Orang-orang Yahudi memang mempunyai seperangkat peraturan yang fantastis mengenai pemungutan sisa, yang dirinci oleh Maimonides. Salah satunya adalah, jika hanya satu atau dua batang yang jatuh dari sabit atau tangan penuai, maka batang-batang tersebut harus dibiarkan tergeletak di tangan para pemungut; tetapi jika tiga batang tumbang, maka semuanya menjadi milik pemiliknya (lihat ‘Collegium Rabbinico-Biblicum’ karya Carpzov, hal. 242). Beruntung bagi Rut, langkahnya diatur sedemikian rupa sehingga ladang yang dimasukinya sebagai pemungut sisa adalah milik saudara Elimelekh, Boas. Dan kebetulan, menurut cerita, itu adalah bagian dari ladang milik Boas, yang merupakan kerabat Elimelekh. Rut 2:3. Dan Boas orang yang berhak menebus tanah milik Elimelekh yang Naomi dijual maka penyertaan Rut dalam penjualan itu.
Maka tangan Tuhan terus mengarahkan langkah -langkah yang diawali dengan Langkah awal berupa “langkah kebetulan” menuju langkah penggenapan janji Allah yang besar bagi Israel dan dunia. Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia Tuhan perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: ”Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus.
Para wanita tetangga-tetangga mereka menamakan anak itu Obed. Kepada setiap orang mereka berkata, “Naomi sudah mempunyai seorang anak laki-laki!” Obed inilah yang kemudian menjadi ayah dari Isai, dan Isai adalah ayah Daud. Rut 4:13-14,17
Dan bukankah juga di saksikan dari sisilah kitab Matius 1: 5, dari keturunan Rut muncul dan ada dalam sisilah Yesus Kristus sang Juruselamat dunia.
Kesimpulan
Walaupun langkah-langkah dikeyakinan awal itu hanya berupa suatu kebetulan yang dijalani namun Penyelenggaraan Ilahi, yang mengesampingkan tindakan dan perkataan yang tidak disengaja (lih. Rut 2:12; Rut 2:19 f.), dan memberi penghargaan kepada mereka yang memercayainya (Rut 3:4; Rut 3:9; Rut 3:11, Rut 4:6; Rut 4:14). Karena itu tetaplah manyatu dengan pengalaman iman yang sejati. Dengan ketulusan dan kerendahan hati untuk tekun percaya akan keyakinannya bahwa itu hal yang benar. Meskipun awalnya tidak menjanjikan apa-apa, Rut menjalani dengan bertekun. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan bekerja dengan benar memungut sisa panen dan Tangan yang berkuasa atas hidup menuntun dan menggenapi rencana-Nya yang besar atas dunia ini terus bekerja.
Jika yang awal dari iman hanya berupa kebetulan dan hanya berupa mengais sisa hasil panen raya, jangan menyerah dan berhenti untuk percaya bahwa Penyelengara Ilahi tahu benar waktu-Nya yang sempurna untuk menunjukkan pemberian yang terbaik dan sempurna (bd. Yakobus 1:17). (red)