Manusia itu disebut makhluk sosial. Artinya, manusia itu tak dapat hidup dengan dirinya sendiri. Ia membutuhkan orang-orang lain. Tak mengherankan kalau kemudian muncullah organisasi-organisasi persekutuan yang hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarkan diri darinya. Sejak lahir ia lahir sebagai anggota sebuah persekutuan keluarga. Kemudian kalau ia nanti bermain, belajar, bekerja, ia masuk dalam anggota organisasi/persekutuan dengan manusia lainnya. Persekutuan-persekutuan tadi lahir karena kebutuhan manusia untuk bersekutu.
Namun, berjalannya dengan waktu organisasi/persekutuan itu seringkali jatuh kepada pembangunan tembok-tembok pemisah yang diciptakan oleh organisasi/persekutuan itu sendiri. Manusia membangun tembok karena ingin aman, sebagai pertahanan, dsb. Apa akibat kita membangun tembok?
Bagaimanakah dengan kita? Gereja adalah juga salah satu persekutuan manusia. Kita yang sekalipun banyak, adalah satu tubuh.
Masa depan persatuan gereja tergantung dari dua hal:
(1) Tuhan Yesus adalah landasan pemersatu yang kuat (1Kor. 12:12)
(12) Kristus adalah seperti tubuh manusia; tubuh itu satu, tetapi terdiri dari banyak anggota. Semua anggota itu, meskipun banyak, merupakan satu tubuh.
Dapat dikatakan hidup matinya suatu persekutuan tergantung dari kuat lemahnya landasan yang mempersatukan anggota-anggotanya. Dalam organisasi dikenal dengan adanya Anggaran Dasarnya. Kalau landasannya lemah, anggota-anggota itu pun mudah tercerai-berai, dan tamatlah pula riwayat persekutuan itu. Kalau landasannya kuat, anggota-anggota itu pun akan bersekutu erat, dan langgenglah hidup persekutuan itu.
Adakah ia mempunyai landasan pemersatu yang kuat?
Apakah landasan pemersatu itu: Kristus sendiri! Paulus menggambarkannya melalui persekutuan tubuh dan darah Tuhan Yesus Kristus. Roti yang dipecah-pecahkan dan darah yang dicurahkan itu adalah persekutuan dengan tubuh Kristus. (23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor. 11:23-25).
Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.
(2) Menyadari, menghayati, dan menaati Tuhan Yesus sebagai landasan pemersatu (1Kor. 12:13)
Begitu juga kita semua, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, hamba-hamba maupun orang-orang merdeka; kita semua sudah dibaptis oleh Roh yang sama itu, supaya kita dijadikan satu pada tubuh Kristus itu. Kita semua juga mengalami Roh yang satu itu sepenuhnya.
Hidup matinya organisasi/persekutuan itu kemudian tergantung dari besar kecilnya kesadaran dan kemauan anggota-anggota persekutuan itu untuk menyadari, menghayati, dan menaati Tuhan Yesus sebagai landasan pemersatu. Persekutuan itu akan berakhir ketika kesadaran, penghayatan, dan ketaatan anggota-anggota terhadap landasan persekutuan itu juga berakhir.
Adakah kita menyadari, menghayati, dan menaati Tuhan Yesus sebagai landasan pemersatu kita? Seringkali malahan kita sendiri yang menciptakan/membangun tembok-tembok pemisah (ras, suku, kaya, miskin, dll).
Ketika kita menerima Perjamuan Kudus, kita tidak hanya diingatkan bahwa kita sudah ditebus. Tetapi juga mengingatkan akan kesatuan kita. Ketika kita menyadari, menghayati, dan menaati akan Tuhan Yesus sebagai landasan pemersatu maka kesatuan itu akan menghancurkan tembok-tembok pemisah, tidak ada lagi tembok pemisah antara orang Yahudi maupun orang Yunani, hamba-hamba maupun orang merdeka.
(19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, (20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. (Ef. 2:19-21). (ry)