Pekanbaru, 29 Mei 2029; Sebuah lembaran baru terbuka di halaman pelayanan Gereja Isa Almasih (GIA) Pekanbaru. Suasana yang penuh kekhidmatan dan keharuan membungkus seluruh jalannya acara Pentahbisan Pendeta Muda Christo Ginting, S.Th, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Mei 2029 di Gereja Isa Almasih Pekanbaru. Peristiwa ini bukan hanya menjadi sejarah baru bagi jemaat lokal, tetapi juga mencerminkan kesinambungan pelayanan dan pergerakan panggilan ilahi di tengah-tengah gereja masa kini.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak penting dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih, khususnya dari Majelis Daerah IX. Tampak hadir para pemimpin gerejawi, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di wilayah Daerah IX, serta seluruh warga jemaat GIA Pekanbaru yang datang dengan penuh antusias untuk menyaksikan dan mendukung pentahbisan pelayan Tuhan yang baru. Seluruh ruangan ibadah dipenuhi dengan suasana penyembahan dan pengharapan, diselingi dengan alunan pujian yang mengangkat jiwa dan hati umat kepada Allah.
Namun, yang membuat pentahbisan ini terasa sangat emosional dan tidak biasa, adalah sebuah kejadian yang tak terduga: pendeta yang awalnya dijadwalkan untuk menahbiskan berhalangan hadir. Dalam momen yang sangat menentukan itu, tanggung jawab penahbisan diambil alih oleh Pendeta Julianus Ginting, yang tak lain adalah ayah kandung dari Pendeta Muda Christo Ginting. Pendeta Julianus sendiri menjabat sebagai Ketua Majelis Daerah IX sekaligus Gembala Jemaat GIA Pekanbaru, menjadikan momen ini bukan sekadar upacara resmi, melainkan juga sebagai peristiwa warisan rohani dalam lingkup keluarga dan gereja.
Dengan suara mantap dan hati yang penuh kasih, menyampaikan pesan Firman Tuhan bertema: “Menjadi Saksi Kristus” yang diambil dari Matius 28:16-20. Dalam khotbahnya, beliau menekankan bahwa tugas seorang hamba Tuhan bukanlah kehendak pribadi, tetapi perintah langsung dari Sang Raja segala raja. Amanat Agung yang tertulis dalam Injil Matius bukan hanya menjadi seruan bagi para rasul, tetapi juga berlaku untuk setiap pelayan Tuhan di sepanjang zaman.
Tiga alasan mendasar mengapa setiap pelayan Tuhan harus menjadi saksi Kristus dijabarkan dengan tegas:
Beliau juga menyoroti bahwa dalam proses menjadi saksi Kristus, setiap pelayan Tuhan harus belajar percaya dan bersandar penuh pada rencana dan penyertaan Tuhan. Dikutip dari Yeremia 29:11, disebutkan bahwa Allah memiliki rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan, untuk memberi masa depan yang penuh harapan. Dan Yeremia 17:7 meneguhkan bahwa berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan, bukan pada kekuatannya sendiri.
Sebagai penutup, menyampaikan sebuah perumpamaan yang menyentuh hati seluruh jemaat:
“Hidup kita ibarat film, dan kita adalah pemeran utamanya. Namun ingatlah, sutradaranya adalah Tuhan. Film itu akan berjalan dengan baik hanya jika aktor mengikuti arahan Sang Sutradara. Demikian pula hidup kita: akan berjalan sesuai rencana ilahi jika kita hidup taat kepada kehendak Tuhan, bukan menulis skenario kita sendiri.”
Setelah pemberitaan Firman, tibalah pada momen puncak: penumpangan tangan dan doa pentahbisan. Dalam suasana yang sangat syahdu, jemaat menyaksikan seorang ayah yang adalah gembala, menahbiskan anaknya sendiri ke dalam pelayanan penuh waktu sebagai hamba Tuhan. Tangisan haru mengalir di antara jemaat, tidak sedikit yang meneteskan air mata ketika menyaksikan hubungan antara dua generasi pelayan Tuhan dipertemukan dalam satu titik panggilan ilahi yang menggetarkan.
Prosesi pentahbisan ini tidak hanya menjadi simbol seremonial belaka, tetapi juga menjadi tanda bahwa pelayanan terus berlanjut. Estafet panggilan Tuhan berjalan dari generasi ke generasi dan hari itu, tongkat pelayanan itu secara resmi diserahkan kepada Pendeta Muda Christo Ginting.
Dengan semangat yang membara dan dedikasi yang lahir dari iman, Pendeta Muda Christo Ginting diharapkan menjadi teladan baru dalam pelayanan gereja. Kehadirannya menambah kekuatan baru bagi GIA Pekanbaru dan seluruh wilayah pelayanan Majelis Daerah IX.
Acara ini pun ditutup dengan ucapan syukur dari jemaat dan doa berkat bersama. Di tengah dunia yang berubah-ubah, pemanggilan seseorang menjadi pelayan Tuhan tetap menjadi peristiwa ilahi yang mengguncang langit dan menyentuh bumi. GIA Pekanbaru hari itu tidak hanya menyaksikan sejarah, tetapi menghidupinya.