TheHOPE.id – Dunia ini berlari dan terus berlari. Ia kini berlari semakin cepat, melampaui ruang, melewati sang waktu, mendobrak tapal batas, melangkahi segala kemungkinan. Ia, karena tidak pernah merasa puas, kini “berlari” melampaui Tuhan, melampaui “Yang Transenden”. Citra ketuhanan kini tenggelam di antara mesin-mesin keangkuhan dan kesombongan manusia, yang lewat kemajuan sains dan teknologi dapat “menciptakan” dunia tandingan yaitu cyberspace (atau hyperspace), sehingga menganggap dirinya dapat mengambil alih kekuasaan Tuhan di dunia. Dunia yang angkuh itu kini diibaratkan seperti sebuah kereta kencana yang kini dikendalikan oleh tiga “dewa sakti”. Dengan kesaktiannya ia dapat memacu kereta begitu kencang. Ketiga “dewa sakti” itu bernama “kapitalisme”, “post-modernisme”, dan “cyberspace” (IT atau teknologi informasi). Dari dalam diri ketiga “dewa sakti” itu memancar spirit, yang secara bersama-sama membentuk “spirit dunia” atau “spirit global” (spirit of the world) yang mengkonstruksi, mencetak, dan menentukan arah kehidupan dunia/global (life world). Ketiga spirit yang menggerakkan dunia global tersebut disebut sebagai spirit kapitalisme (spirit ekonomi), spirit post-modernisme (spirit budaya), dan spirit cyberspace (spirit teknologi).
Spirit dunia di atas dapat kita rasakan bahkan sampai saat ini. Berawal dari pandemi penyakit akibat virus Corona (Corona Virus Disease 2019, Covid-19) melanda, yang pertama, spirit kapitalisme (spirit ekonomi) semakin jelas menyeret kepada kehidupan ekonomi dunia yang semakin rapuh, banyak negara-negara yang mengalami krisis ekonomi dan bangkrut. Bank Dunia memberikan peringatan terbaru pasca kebangkrutan yang saat ini melanda Sri Lanka. Sejauh ini, lembaga global itu menyebut ada 9 negara yang juga ikut terancam bangkrut. Dalam laporan Crisis Response Group, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Afganistan, Argentina, Mesir, Laos, Lebanon, Myanmar, Pakistan, Turki dan Zimbabwe menjadi negara yang terancam mengalami kebangkrutan.
Saat itu, perekonomian global nyaris berhenti total, sebab banyak negara menerapkan kebijakan lockdown. Hal ini diperparah dengan perang Rusia dengan Ukraina. Sanksi yang diberikan Amerika Serikat dan Sekutu ke Rusia membuat harga minyak mentah melambung, begitu juga dengan gas alam dan batu bara. Krisis energi pun melanda, yang membuat inflasi semakin meninggi. Belum lagi harga pangan yang semakin mahal akibat tersendatnya pasokan pupuk dari Rusia dan Ukraina. Alhasil inflasi menjadi tak terkendali. Di Indonesia sendiri beberapa hari terakhir kita melihat orang mengantri untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena harga yang naik dan kebutuhan pokok (sembako).
Yang kedua, spirit post-modernisme (spirit budaya) bermaksud merevisi kembali paradigma modern. Salah satu karakter dasar postmodernisme yang paling dominan adalah keragaman atau pluralitas, bahkan ke tingkat yang sangat ekstrem sehingga dalam perkembangan selanjutnya cenderung jatuh pada relativisme dan nihilisme, dan dikaitkan dengan wilayah mistis.
Dan yang ketiga, spirit cyberspace (spirit teknologi/IT). Dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), gereja pun terdampak imbasnya dengan mengadakan ibadah secara on-line (youtube, zoominer/webinar, dan media sosial. Mau tidak mau gereja harus dipaksa mengunakan IT yang semakin hari semakin tidak terkendali. Bahkan melalui perkembangan IT saat ini, Spirit Cyberspace semakin berkembang dalam teknologi “virtual reality” atau “metaverse” yaitu dapat melakukan pertemuan tanpa harus bertemu secara fisik, melainkan melakukan pertemuan di dunia maya (digantikan dengan avatar) dan “subdermal implan” yaitu mengubungkan semua perangkat keras teknologi di dalam tubuh manusia dengan menanamkan chip di bagian tubuh manusia atau otak sehingga tubuh jasmani manusia tidak dibutuhkan lagi karena digantikan dengan teknologi digital/data (transhuman) yang dapat terjadi dengan semakin canggihnya teknologi IT seperti yang ditampilkan di film-film.
Gereja harus menerangi dan menggarami IT untuk menjadi alat gereja, bukan memperalat gereja.“Spirit dunia” atau “spirit global” (spirit of the world) yang sangat dahsyat kekuatannya itu membentuk “sebuah dunia yang berlari”; yang berpacu dengan kecepatan yang semakin tinggi; yang bergerak semakin menjauh dari batas ruang dan waktu; yang tidak punya waktu untuk berhenti sejenak, yang selalu bergerak seakan-akan tidak ada tempat untuk kembali, yang bergerak “melampaui” Tuhan yang sebelumnya memberinya batas-batas. Benarlah apa yang dikatakan rasul Paulus di dalam 2 Timotius 3:1-5.
Beberapa pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: ketika dunia ini memasuki milenium ketiga dihitung dari peristiwa Kristus, adalah bagaimana keadaan dunia dilihat dari sudut persoalannya? Dilihat dari jumlahnya, apakah persoalan di dunia ini semakin sedikit atau semakin banyak? Dilihat dari sudut kerumitannya, apakah persoalan dunia ini semakin rumit berkait-kaitan dan semakin sulit pengelolaannya atau semakin sederhana terisolasi satu-satu dan relatif mudah penyelesaiannya? Dilihat dari sudut ukurannya, apakah persoalan-persoalan di dunia ini semakin kecil dan terkelola atau semakin besar dan semakin sulit terkelola? Tentu jawabannya adalah, bahwa dunia pada umumnya dan Indonesia khususnya semakin dirundung oleh semakin banyaknya persoalan yang semakin rumit dan semakin besar.
Lalu apa peran gereja hidup di tengah “spirit dunia” atau “spirit global” (spirit of the world) yang mengkonstruksi, mencetak, dan menentukan arah kehidupan dunia (life world) ini? Gereja atau ekklesia harus menjadi garam dan terang bagi dunia (Matius 5:13-14), bukan menarik diri dari dunia dan menjadi rohani saja. Gereja harus “mentransformasi” dunia. Gereja harus memberikan peringatan-peringatan adanya “bahaya” dan dapat ikut mengambil bagian dalam tugas “mengawal” dunia. Gereja tidak boleh statis, stagnan, atau berdiam diri. Gereja tidak boleh berhenti atau dilarang berhenti, melainkan bergerak dinamis, gesit, cekatan berlari mengejar, mencari, menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya (1Tawarikh 16:11; Mazmur 105:4; Yesaya 55:6) untuk menentukan arah kehidupan dunia ini. (rc)