Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Margin

Rumah Tangga Bukan Rumah-Rumahan

Rumah Tangga Bukan
Rumah-Rumahan

Oleh Yonathan Subur P.

"Ada mitos menyedihkan yang beredar hari ini - mitos netralitas. Menurut mitos ini, dunia sekuler memberi setiap sudut pandang kesempatan yang sama untuk didengar. Dan itu bekerja dengan cukup baik - kecuali jika Anda seorang Kristen."
Francis Schaeffer

TheHope.id – Di opini Kompas tanggal 26 Oktober 2015, Daoed Joesoef, melemparkan pemikirannya yang diberi judul Ekonomika SDG. Dalam pemikirannya, beliau mengingatkan kita tentang pilihan yang ditetapkan dalam mengambil jalan ekonomi untuk mencapai kemakmuran setinggi-tingginya. Kemakmuran yang tinggi akan bisa terpenuhinya kebutuhan yang sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, beliau memberi peringatan, bahwa gaya ekonomi tersebut terlihat dalam gejala globalisasi ekonomi dalam pencapaian kemakmuran setinggi-tingginya tidak menampik lebih banyak krisis yang ditemukan. Sebab krisis kehidupan justru ditemukan dalam kehidupan manusia.

Pertanyaannya, bukankah ekonomi yang baik akan berimpas pada kemakmuran? Mengapa pencapaian kemakmuran justru menimbulkan krisis kehidupan? Sebab kemakmuran tidak sama dengan kebahagiaan. Dalam teori ekonomi istilah kebahagiaan itu tidak ada dan tidak diketemukan.

Dalam mengadakan investigasi intensif mengenai kaitan antara kebahagiaan dan kehidupan. Daoed Joesoef menyitir kesimpulan Richard Layard, dalam bukunya yang best seller, “Happiness: Lessons from a New Science”, (2005),”There is a paradopx at the heart of our lives. Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier…if we can give no further external reason. It just obviously does matter”

Apa kaitannya dengan keluarga?, dalam buku “Belajar Menjadi Manusia”, Bernard Haring, menggaris bawahi kata “pilihan”. Sebab menjadi manusia ciri utama adalah manusia bebas memilih. Perhatikan pemikiran Daoed Joesoef, beliau memakai kata “pilihan”sangat penting dalam menegaskan kritik yang ditawarkan soal jalan ekonomi global masa kini. Bukankah sejak awal manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi kebebasan manusia untuk memilih? “Tetapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakankannya, pasti engkau mati” Kej 2:17. Perhatikan kebebasan memilih sekaligus akibatnya diperlihatkan Allah kepada manusia.

Dalam perikop Lukas 11:14-23. Konteks di mana Tuhan Yesus berbicara mengenai pertentangan antara Kerajaan Allah dan kuasa-kuasa kejahatan. Ini merupakan pertentangan di mana tidak ada seorangpun boleh bersikap netral, seseorang harus memilih. Karena Tuhan Yesus ditunjuk untuk memimpin peperangan melawan kuasa-kuasa kejahatan, maka barangsiapa ingin melihat kemenangan peperangan Allah, orang harus memilih; mengikuti Dia. Bila tidak demikian, maka apapun penilaian mereka tentang hidup ini, mereka tentu ada di pihak lawan.

Kata yang kemudian mengikuti pernyataan Tuhan Yesus tentang keberpihakan adalah “mengumpulkan” dan “mencerai-beraikan”. “Mengumpulkan” ialah pekerjaan Allah sedang “mencerai-beraikan” adalah pekerjaan Iblis. Apa yang menjadi tantangan rumah tangga masa kini? Memudarnya sikap untuk tetap memilih satu hati, satu tujuan berumah tangga sesuai dengan awalnya Allah membentuk rumah tangga. Saat membangun rumah tangga diawali dengan pernikahan kudus, dalam pemberkatan yang didasari firman Tuhan. Biasanya awal sesuatu tak terkecuali rumah tangga berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Setelah itu, dengan mengalirnya waktu dan kesibukan, rumah tangga tersebut berubah sebagai alat hanya untuk mencapai pemenuhan ekonomika saja. Dengan keyakinan, pencapaian ekonomika rumah tangga yang berhasil maka akan terpenuhinya kebutuhan hidup yang sebaik-baiknya. Dengan demikian seluruh anggota rumah tangga akan bahagia. Padahal tercapainya kemakmuran tidak secara otomatis meraih kebahagiaan. Rupanya pengaruh yang kuat dari filosofi ekonomika secara pelan namun pasti menekuk pemikiran sehat dan jernih dalam keutuhan manusia yaitu bahwa kemakmuran dan kebahagiaan itu adalah dua hal yang berbeda.

Rumah tangga bukan rumah-rumahan karena itu, jika pemikiran ekonomika secara perlahan merasuk dalam hidup keluarga kristen maka orang-orang di dalamnya hanya sekadar hidup berteduh tanpa hati dan tujuan yang Allah ingin dalam membangun rumah tangga.

Jadi dari hasil investigasi Daoed Joesoef soal pencapaian ekonomika dan kebahagiaan kehidupan terbukti tidak berbanding lurus artinya pencapaian kemakmuran tidak otomatis mencapai bahagia. Maka akibat kuatnya ekonomika bagi kehidupan keluarga, seperti perceraian diam-diam, anak-anak bukan berkumpul tapi tercerai dan masih banyak lagi makin kental terasa, seperti yang disimpulkan Richard Layard diatas, “,…Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier.” -ys

Baca juga artikel lainnya
Categories
Kupas

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Oleh John Piper

TheHope.id – Merupakan diiadaptasi dari “Don’t Waste Your Cancer,” apendiks dalam Suffering and the Sovereignty of God (Crossway), copyright 2006 oleh Desiring God Penerjemah: Elisabeth Chandra (elsandra@gmail.com) Diterjemahkan dan didistribusikan secara gratis untuk kalangan sendiri dengan izin tertulis dari Desiring God Foundation.

Pengantar Awalnya saya menuliskan perenungan-perenungan ini pada malam sebelum saya menjalani operasi kanker prostat. Saat itu saya percaya – sampai sekarang pun saya masih percaya – pada kuasa Allah yang sanggup menyembuhkan, baik melalui mukjizat maupun melalui pengobatan.

Saya percaya sungguh benar dan baik untuk berdoa bagi kedua cara penyembuhan itu. Kanker bukanlah sesuatu yang sia-sia ketika penyakit itu disembuhkan Tuhan. Dia dimuliakan, dan karena itu kanker diizinkan-Nya ada. Jadi, tidak berdoa untuk kesembuhan justru menyia-nyiakan kanker yang kita alami. Namun, kesembuhan bukanlah rencana Tuhan bagi setiap orang dalam hidup ini. Dan ada banyak cara lainnya untuk menyia-nyiakan kanker yang kita hadapi.
Sembari terus berdoa untuk diri saya sendiri, saya juga berdoa bagi Saudara, supaya kita semua tidak akan menyia-nyiakan penyakit yang kita alami. Lima tahun setelah operasi yang saya jalani hari itu, hasil‐hasil pemeriksaan seolah menunjukkan bahwa penyakit saya telah teratasi oleh tim medis. Namun saya belajar bahwa hari ini kita bisa berpikir bahwa kita baik-baik saja, dan esok harinya kita menemukan kenyataan yang sangat berbeda.

Jadi sekarang, ketika orang bertanya kepada saya, “Bagaimana kondisi kesehatan Anda?” saya pun menjawab, “Saya merasa baik, dan menurut para dokter kondisi saya baik-baik saja.” Yang sebenarnya berarti: “Saya tidak tahu persis bagaimana sebenarnya kondisi saya; hanya Tuhan yang tahu.” Mengetahui bahwa Tuhan memahami, peduli, dan berdaulat atas segala situasi, itu cukup. Satu bagian firman Tuhan yang melintas di benak saya ketika sedang menunggu hasil biopsi adalah 1 Tesalonika 5:9-10: “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” Itu cukup. Allah memilih saya bukan untuk dihukum, tetapi untuk hidup bersama dengan Dia. Sampai kelak kita bertemu dengan Tuhan, biarlah Tuhan menolong kita untuk tidak menyia-nyiakan, baik kesehatan kita maupun penyakit kanker kita.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin yang penuh pengharapan dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Segala penderitaan bermuara pada kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Allah telah membiarkan dunia ini menjadi kesia-sian karena ketidaktaatan manusia itu (Roma 8:20). Jadi, dalam satu pengertian, semua penderitaan adalah penghakiman. Namun, karena Kristus telah menanggung penghakiman kita, penderitaan tidak lagi berarti demikian bagi kita yang sudah percaya kepada-Nya. Bagi kita, segala keluhan karena penyakit telah menjadi “sakit bersalin” dalam penantian akan kelahiran ciptaan yang baru. “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Roma 8:22-23).

Ketika Allah membiarkan dunia ini menjadi kesia‐siaan, Dia melakukannya “dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:21). Jadi, keluhan rasa sakit saat kita mengalami kanker memiliki arti ganda. Rasa sakit itu menunjukkan betapa mengerikannya dosa, sekaligus menunjukkan bahwa kemerdekaan yang mulia kelak akan datang. Kita akan menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin bagi kelahiran ciptaan yang baru. Sakit bersalin menandakan ada sesuatu yang luar biasa yang akan segera datang. Itulah arti kanker kita. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala- galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” (2 Korintus 4:17). Jangan salah mengartikan keluhan Anda sendiri. Jangan sia-siakan kesaksian yang diberitakan oleh kanker Anda sendiri.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak percaya bahwa kanker itu dirancangkan Allah untuk kita Janggal rasanya untuk berkata bahwa Allah hanya menggunakan kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apa yang diizinkan Allah ada, diizinkan-Nya untuk suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangan-Nya. Jika Allah sudah mengetahui sebelumnya bahwa ada sel-sel yang akan berkembang menjadi kanker, Dia dapat menghentikannya atau tidak menghentikannya. Jika Dia tidak menghentikannya, Dia memiliki tujuan. Karena Dia maha bijak, sah‐sah saja kalau kita menganggap tujuan ini sebagai apa yang memang sudah dirancangkan‐Nya.

Iblis benar ada dan bisa menyebabkan banyak kenikmatan serta penderitaan. Namun, ia tidak mahakuasa. Jadi, ketika ia membuat Ayub menderita banyak borok yang busuk (Ayub 2:7), Ayub tetap menganggap penyakit itu datang dari Allah (Ayub 2:10), dan penulis kitab yang diinspirasikan Allah ini juga sependapat: “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancangkan Allah bagi kita, kita akan menyia-nyiakannya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita percaya bahwa kanker itu adalah kutukan, bukan karunia. Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita lebih berusaha mencari penghiburan dari pemikiran kita yang terbatas dan bukan dari Allah.

Seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya bertanya kepada saya, “Dapatkan sebuah keluarga Kristen kena kutuk?” Ada begitu banyak hal yang telah terjadi pada orang ini. Jawaban saya adalah tidak, namun semua yang menimpanya jelas bisa terasa seperti kutukan. Iblis berusaha menghancurkan sebagian dari kita dengan memberikan kesehatan yang baik dan kekayaan yang melimpah, yang dapat menghimpit iman kita (Matius 13:22). Dan, ia juga berusaha untuk menghancurkan sebagian yang lain dengan memperbanyak kesusahan mereka (Lukas 13:16).

Namun alasan saya mengatakan bahwa umat Allah tidak bisa ditimpa kutuk adalah karena Allah sendiri berfirman kepada umat-Nya, “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). Dan yang lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus telah dipersatukan di dalam Dia, dan di dalam Dia tidak ada penghukuman (Roma 8:1). Tidak ada kutukan. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia 3:13). Kristus telah menanggung kutuk penghukuman dan penyakit yang seharusnya menimpa kita. Itu berarti penyakit yang masih harus kita tanggung bukanlah kutukan. Kondisi itu telah diubah dari jalan penghukuman menuju neraka menjadi jalan pemurnian menuju sorga. Kita tidak dikutuk. Sesulit apa pun rasanya, kita percaya bahwa Allah tidak menahan kebaikan. Dia melakukan apa yang baik. Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. (Mazmur 84:12)

Rancangan Allah melalui kanker kita bukanlah untuk melatih kita dalam pemikiran yang rasional dan pertimbangan manusiawi akan suatu masalah. Dunia mendapatkan penghiburan dari pemikiran-pemikirannya sendiri. Orang Kristen tidaklah demikian. Ada orang yang mengandalkan kereta perangnya (kemungkinan bertahan hidup), ada pula yang mengandalkan kudanya (dampak pengobatannya), tetapi kita mengandalkan kuasa TUHAN, Allah kita (Mazmur 20:8). Rancangan Tuhan sangat jelas dalam 2 Korintus 1:9: “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang‐orang mati.” Tujuan Allah melalui kanker kita (di antara ribuan hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan segala hal lain yang kita andalkan dalam hati, supaya kita benar-benar bergantung penuh pada-Nya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menolak untuk memikirkan tentang kematian Kita semua akan mati jika Tuhan Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak memikirkan bagaimana jika kita kelak mati dan bertemu Allah adalah sebuah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”

Bagaimana kita bisa memperhatikannya jika kita bahkan tidak pernah memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari kita berarti memikirkan bahwa hari-hari itu singkat dan akan berakhir. Bagaimana kita dapat memperoleh hati yang bijaksana jika kita tidak mau memikirkan hal ini? Betapa sia-sianya jika kita tidak memikirkan tentang kematian.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita berpikir bahwa “melawan” kanker berarti bertahan hidup, bukannya mengasihi dan bersukacita karena Kristus Iblis dan Allah memiliki rancangan yang berbeda melalui kanker kita. Iblis bermaksud menghancurkan kasih kita kepada Kristus. Allah bermaksud memperdalam kasih kita kepada Kristus. Kanker tidak menang ketika kita mati. Kanker menang ketika kita tidak lagi mengasihi dan bersukacita karena Kristus. Allah bermaksud menyapih kita dari air susu dunia dan membawa kita berpesta dengan segala kelimpahan dalam Kristus.

Melalui kanker Dia menolong kita untuk berkata dan merasakan: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Filipi 3:8) dan karena itu, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menghabiskan terlalu banyak waktu membaca tentang kanker dan tidak punya cukup waktu untuk membaca tentang Allah Tidaklah salah untuk mengetahui seluk beluk kanker. Tidak mau tahu bukanlah sikap yang baik. Namun, besarnya keinginan untuk terus-menerus mencari tahu tentang kanker yang dibarengi dengan kurangnya gairah untuk mengetahui lebih banyak tentang Allah, adalah gejala-gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita tentang siapa Allah. Kanker dimaksudkan untuk meletakkan perasaan dan keinginan di belakang perintah, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN” (Hosea 6:3).

Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita akan kebenaran dari Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksudkan untuk menumbuhkan kita seperti pohon yang kokoh dan tak terguncangkan: “[Orang] yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Betapa kita menyia-nyiakan kanker kita, jika siang malam kita membaca tentang kanker dan bukan tentang Allah.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita membiarkannya membawa kita dalam kesepian dan bukannya memperdalam hubungan-hubungan kita dengan kasih yang nyata. Ketika Efaproditus mengantarkan pemberian jemaat di Filipi bagi Paulus, ia jatuh sakit dan hampir mati. Paulus memberi tahu jemaat di Filipi, “[Efaproditus] sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh sikap yang mengagumkan! Tidak dikatakan di sini bahwa jemaat Filipi bersusah hati karena dia jatuh sakit, tetapi sebaliknya, dikatakan bahwa Efaproditus yang bersusah hati karena mereka mendengar bahwa dia jatuh sakit. Hati semacam inilah yang hendak Allah bentuk melalui kanker: hati yang penuh kasih dan kepedulian bagi sesama. Jangan sia-siakan kanker Anda dengan menarik diri dari orang lain.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita bersedih hati seperti orang yang tidak berpengharapan. Paulus menggunakan ungkapan yang menggambarkan kesedihan hati seperti orang yang tak berpengharapan ini ketika ia berbicara kepada jemaat yang kehilangan orang-orang yang dikasihi mereka: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita saat kematian. Orang percaya sekalipun mengalami kehilangan sementara saat meninggal: kehilangan tubuh, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun dukacita orang percaya berbeda karena dipenuhi dengan pengharapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker dengan berduka sama seperti orang-orang yang tidak memiliki pengharapan ini.

Pikirkanlah juga bagaimana berperang bersama kanker. Segala dosa yang disebutkan tadi adalah musuh-musuh yang lebih berbahaya daripada kanker. Jangan sia- siakan kekuatan kanker yang dapat menghancurkan semua musuh ini. Biarkan sudut pandang kekekalan membuat dosa-dosa tampak tidak menarik sama sekali bagi kita, karena sesungguhnya dosa memang tidak menarik. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita gagal memakainya sebagai sarana untuk menyaksikan kebenaran dan kemuliaan Kristus Orang-orang Kristen tidak pernah ada dalam suatu situasi karena kebetulan. Selalu ada alasan mengapa kita berada di dalam suatu situasi. Pikirkanlah apa yang Yesus katakan mengenai situasi yang tidak enak dan tidak pernah direncanakan para murid: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara- penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Demikian juga kanker. Kanker akan menjadi kesempatan untuk bersaksi.

Kristus sangatlah berharga dan tidak ada bandingannya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa Dia jauh lebih berharga daripada hidup Anda. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ingatlah, Anda tidak dibiarkan sendiri. Anda akan mendapatkan pertolongan yang Anda butuhkan. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Di situs desiringGod.org, Anda akan menemukan hampir semua tulisan dan khotbah John Piper, termasuk lebih dari 30 buku yang dipublikasikannya. Kami telah membuat khotbah-khotbahnya selama 25 tahun tersedia gratis secara online untuk Anda baca, dengar, unduh, dan sebagian lagi dapat dilihat dalam bentuk video.

Baca juga artikel lainnya
Categories
Resensi Buku

Walking with God through Pain and Suffering

Walking with God through Pain and Suffering

TheHope.id – Dalam bulan Juli, ada peristiwa penuh ratap, tangis kedukaan. Sebagai seorang hamba Tuhan yang harus mengambil bagian untuk tugas menghibur dan menguatkan. Buku Timothy Keller menghibur dan menguatkan saya secara pribadi. Maka resensi buku yang sederhana ini, kiranya dapat menganguatkan kita.

Kehidupan di dunia yang telah jatuh dalam dosa, membuat manusia penuh keluhan dan tangisan. Keluhan, tangisan dan penderitaan ini dapat kita jumpai di mana-mana, manusia berada. Timothy Keller dengan sangat baik menuliskan bukunya yang berjudul “Walking with God through Pain and Suffering”, (2015). Tim Keller menuliskan bukan hanya sebagai hamba Tuhan yang mumpuni tetapi juga yang sedang mengalami apa yang sesungguhnya penderitaan di tengah pelayanannya – ia menderita kangker saat ini.

Penulisan secara bijak, hati-hati dan tanpa menghakimi tapi pemikiran dari kebenaran Alkitab. Ia menuliskan yang terjadi pada manusia umumnya juga orang Kristen pada umumnya, saat mengalami penderitaan, seperti pertanyaan ini mengapa ini terjadi padaku? Dimana Tuhan saat aku mengalami ini dan itu? Mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami hal yang berat dan menyakitkan seperti ini? Dan bukankah pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang normal ditanyakan oleh hampir seluruh umat manusia? Inilah penderitaan, tanpa definisi kita sudah tahu bahkan sudah mengalaminya.

Penderitaan di tangan Allah dapat menjadi sesuatu yang berbeda, penderitaan yang tak bermakna dan menyusahkan dapat menjadi hal yang paling bermakna dan meneguhkan iman, penderitaan yang merugikan bisa menjadi sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya, bahkan penderitaan inilah yang dapat menjadi salah satu jalan terbaik untuk dapat mengenal Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah yang diajarkan Tim Keller, mutiara-mutiara kehidupan yang ada dalam penderitaan itu.

Tim Keller membagi bukunya menjadi 3 bagian besar. Ia membandingkan Kekristenan dengan filosofi sekular barat dan juga filosofi agama-agama timur seperti Buddhisme, Hinduisme (Karma), termasuk ajaran-ajaran filsafat Yunani (Stoa) dalam meresponi sebuah penderitaan. Meskipun singkat, hanya dalam beberapa bab saja, namun Tim Keller menjelaskan perbedaan dan keunggulan filosofi Kristen dibanding filosofi-filosofi lain dengan sangat baik dan meyakinkan.

Ia juga mengulas mengenai masalah kejahatan (problem of evil) yang bukan hanya beban bagi Kekristenan saja untuk memberikan penjelasan, namun juga pada orang-orang yang memegang keyakinan berbeda dengan Kekristenan. Sekilas problem kejahatan tetap ada dan tetap belum terselesaikan saat kita menyangkali keberadaan Allah.

Menyangkali Allah yang di perkenalkan oleh Alkitab tidak menyelesaikan problem kejahatan dan penderitaan ini, penyangkalan ini malah akan membuat kita kehilangan sumber kekuatan terbesar untuk bertahan dan melihat hal-hal buruk tersebut sebagai hal yang bermakna dalam hidup kita. Dan luar biasanya lagi, Allah Kekristenan selalu mempunyai cara yang luar biasa untuk membuat kita dapat bertahan di tengah badai kehidupan yang pasti ada dalam kehidupan kita. Malahan penderitaan dan kejahatan dapat menjadi bukti yang kuat akan keberadaan Allah.

Pada bagian kedua, Tim Keller banyak mengajarkan pada kita untuk melihat penderitaan sebagai sebuah perapian; rasa sakit fisik atau mental yang tak tertahankan, inilah cara-Nya memurnikan hati kita. Satu-satunya yang dapat membuat kita kuat saat berada dalam perapian adalah pengetahuan, keyakinan, dan kesadaran bahwa Allah sendiri juga pernah merasakannya. Allah merasakan perapian yang sungguh besar, yang tidak pernah mungkin bisa kita tanggung, dan itu Ia lakukan untuk kita, umat-Nya. Inilah Allah kita dalam Yesus Kristus, Allah yang menderita bersama-sama dengan kita. Allah belajar kemanusiaan melalui penderitaan-Nya saat Ia berinkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus, begitupula kita, melalui penderitaan kita dapat mengenal siapa Allah kita. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Fil 3:10). Ayat ini seperti harta dan terindah saat orang percaya menderita bersama Kristus, Tuhannya. Namun ini sungguh kebenaran menghiburkan, memang kita, manusia mana yang nyaman dengan penderitaan?

Penghiburan dari semua ini adalah menyadari bahwa Tuhan kita pun membenci penderitaan dan kejahatan yang menyakiti umat-Nya, tapi Dia memilih untuk merengkuh penderitaan itu, menderita bersama kita, dan menderita untuk kita. Ia memulihkan relasi kita dengan diri-Nya sendiri. Dan perbuatan apalagi yang lebih hebat dan besar selain menyadari bahwa Allah yang berdaulat pencipta segala sesuatu, memilih membatasi kuasanya untuk menderita bagi kita.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita, para pembaca, pada bagian ketiga dalam bukunya tentang bagaimana kita berjalan dalam perapian kesusahan dan penderitaan hidup bersama Allah. Mau tak mau kita harus berjalan, kita tak dapat berhenti dan menolak penderitaan. Tuhan kita saja menjalani penderitaan dengan hati yang rela, dan bukankah Dia teladan bagi kita?

Ada juga momen-momen di mana kita hanya bisa menangis mengeluhkan semua perkara kita pada Tuhan, kita menyatakan dengan jujur emosi kita pada Tuhan. Tuhan tahu seperti apa kita, kita dikenal oleh-Nya, Tuhan mau mendengar keluhan kita bahkan keluhan-keluhan kita yang mungkin terkesan kasar atau emosional. Karena bukankah ini yang dilakukan Ayub, ia jujur dengan perasaan dan keadaannya, Tuhan tidak marah, Tuhan malah meneguhkan dan menguatkan dia. Pengalaman kesedihannya berujung menjadi pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan yang di ingat oleh hampir miliaran orang yang membaca kisahnya.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita untuk tetap berdoa dan percaya sekalipun kita menderita. Ia mengutip John Newton yang berkata, “Jika anda merasa tidak mendapat apa-apa saat berdoa dan mendekatkan diri dari Tuhan, lebih lagi saat anda berusahan menjauh dari-Nya.” Ia tetap berharap pada Allah, ia tetap berdoa, ia mengeluh dalam doa sekalipun perasaannya tidak sesuai dengan kebenaran.

Sebagai musafir menuju negeri kekekalan, dunia ini bukan tujuan kita. Dunia ini hanya persinggahan saja oleh karena itu tidak boleh sedikitpun kita menyerah atau terpaku untuk tinggal selama-lamanya di dunia ini. Oleh karena itu walaupun hidup ini tidak pernah tenang, ada tangisan, ada penderitaan dan masalah silih berganti mencoba menggugurkan panggilan hidup di dalam Kristus, di dunia ini, namun ada sesuatu yang lain yang ada di dalam diri orang percaya yaitu sukacita di dalam Roh Tuhan yang terus setia menghibur dan memimpin hidup kita (bd. 1Tesalonika 1:6).

Buku ini luar biasa, membahas masalah penderitaan dari pikiran hingga ke hati. Buku ini menguatkan, menghibur dan meneguhkan orang percaya. Patut dibaca oleh orang Kristen, kalimat-kalimat mendatangkan penghiburan yang menyegarkan akal, hati dan kehidupan yang penuh sukacita besar, yang membuat Kekristenan sangat superior dibanding yang lain. Tuhan Yesus sungguh luar biasa.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Margin

Tindakan Bukan Jadi Omongan

Tindakan Bukan Jadi Omongan

Tuhan berilah aku kekuatan untuk meneladani Yesus dihidupku selama Engkau bisa ditiru. Dr. David LivingStone, doanya ketika menebos hutan Afrika

Dalam Story of Amazing Grace, dituliskan, setelah sekian waktu yang berliku dan gelap. William Wilberforce, seorang politikus pejuang kebebasan budak bertemu dengan John Newton. Di ruang kerjanya, John Newton mantan pedagang budak diperlihatkan sudah tua dan hampir buta, dimakan usia itu, berkata kepada William Wilberforce,

“Di sinilah aku tulis pengakuanku. Dengan mataku sendiri melihat, bagaimana manusia yang menjadi budak. Mereka mengalami perlakuan keji, penyiksaan dan kematian lalu di jual sebagai budak. Mereka seperti bukan manusia. Dua hal aku terus ingat dengan jelas bahwa aku adalah pendosa besar dan Kristus Juruselamat yang sejati. Dan anugerah telah mencelikkan mataku. Dulu aku buta sekarang melihat.“

Mulut John Newton masih belum terkatub. Lalu ia berdiri goyah. William Wilberforce menyaksikan hal itu dengan sigap memegang kedua lengannya John Newton. Sedetik kemudian John Newton tangannya menyentuh lembar-lembar kertas yang warnanya kusam, dimakan waktu. Nampaknya kertas dokumen yang berisi catatan nama-nama budak yang pernah dijualnya. Ia menangis dihadapan William Wilberforce, dan dengan suara yang bergetar menitipkan pesan agar dia memperjuangkan penghapusan perbudakan. Perjuangan penghapusan budakpun dimulai.

Tanpa bisa melihat apalagi mengalaminya kasih Allah, mungkinkah orang bahkan orang kristen sekalipun bisa menyatakan kasih? Atau lebih tepatnya buah Roh seperti yang di tulis oleh Paulus, tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan. Mungkinkah bisa diwujudkan apalagi dibagikan dalam kehidupan sehari-hari?. Atau hanya cukup jadi bahan diskusi?.

Seperti halnya pengakuan John Newton, buta tidak bisa melihat manusia itu adalah manusia. Jika manusia masih buta dan lebih tepatnya lagi terbelenggu dosa yang membuatnya buta. Mereka mustahil bisa menyatakan buah Roh dalam perbuatan nyata.

Karena itu Paulus menulis dengan tegas dan jelas; “ Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu…”Galatia 5:1-2. (ys)
Facebook
WhatsApp
Categories
Muda Inspiratif

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

Suster Lucy
Oleh: Eka Setia Dharma

Ia manusia biasa

Era teknologi informasi melahirkan gejala budara crazy rich. Anak-anak muda pada menyenangi dan memuja kaum muda yang suka dan menjadi crazy rich. Kaya, muda dan terkenal. Kemana ia pergi, selalu ada yang memujanya. Budaya crazy rich seolah menawarkan kemudahan dan kekayaan walaupun ada segelintir anak muda yang dikatakan orang crazy rich, namun untuk mereka lain. Mereka ada yang hidup dengan budaya kebersahajaan, salah satu Grace Tahir, orang Glodok menjadi perbincangan publik setelah ayahnya Dato Sri Tahir menduduki peringkat 16 orang terkaya di dunia 2021 versi Forbes.

Namun yang lain dari yang berbeda itu yang mungkin disebut “crazy”, oleh dunia. Lucy Agnes, putri keluarga bos Djarum yang menolak hidup mewah, jadi biarawati di negara termiskin, Timor Leste. Benarlah, nats Alkitab yang menyatakan “Dunia ini tidak layak bagi mereka…(Ibr 11:38). Gadis pemilik nama lengkap Maria Donna Dewiyanti Darmoko ini adalah keponakan dari Robert Budi Hartono pemilik BCA dan Djarum.

Negara tempat Lucy bertugas adalah Timor Leste. Negara tetangga Indonesia itu merupakan salah satu negara termiskin di Asia. Berdasarkan kabar yang beredar, dia dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dengan hanya memiliki dua set pakaian.

Lucy merupakan putri dari Paul dan Cecilia Darmoko. Dia termasuk ke dalam keluarga Hartono dari garis keturunan ibunya yang merupakan saudara sepupu Robert Budi Hartono. Seperti dirilis Grid.ID, ada yang unik dari seorang suster Lucy, bahwa Robert Budi Hartono bos perusahaan rokok terkemuka Djarum, maka Lucy merupakan yang cucu dari pemilik dari konglomerasi Djarum. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah pemilik restoran Ayam Bulungan.

Orang melihat semua ada dan tersedia, namun siapa yang bisa menyediakan apa yang dibutuhkan oleh hati orang. Jika hati orang yang membutuhkan “air yang hidup”, dan jika ia sudah mendapatkan hal itu, mungkinkah ia akan mencari hal lain yang telah melepaskankan dahaga jiwanya? Bahkan di hidupnya air yang hidup itu akan terus mengalir berlimpah dan orang-orang yang kehausan akan membutuhkan air yang hidup itu sedang menantinya? < br>
Maka saat Lucy bertekad untuk menjadi biarawati itu muncul saat dia dan keluarga berlibur ke Hongkong. Dia merasa iba dan hatinya tergerak untuk membantu para tunawisma yang keadaannya memprihatinkan. Keibaan dan tergerak hati membantu mereka sebenarnya itu ada hal yang jauh lebih besar dari rasa iba dan tergerak, yaitu kasih. Kasih bukan kasih manusia yang terbatas, tapi kasih yang membutuhkan jiwa dan hidupnya yang terbakar oleh belas kasihan Tuhan. Dari sinilah kasih Ilahi yang terus mengalir dan mengairi hati manusia yang percaya kepada-Nya.

Menjadi biarawan untuk orang yang tersingkir

Menurut rekan-rekannya, Suster Lucy yang kuliah S2 di Amerika Serikat ini sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya. Di Kalkuta, India, di mana ia pernah menjadi sekretaris pimpinan kongregasi Missionaris Claris , konon Lucy paling sedia jika harus mendampingi orang-orang yang sekarat.

Ia juga tanpa ragu dengan sabar dan kasih mau mencabuti belatung-belatung dari luka-luka membusuk di tubuh dan kepala pasien. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih. Rasa kasih telah membuat dirinya belajar untuk mengerti, saat aku kelaparan, kamu ada memberiku makan. Saat aku menderita kamu datang merawat aku yang luka.

Gadis yang telah akrap dengan kesederhanaan ini yang kerap disapa Suster Lucy itu memilih mengabdikan dirinya untuk membantu orang tidak mampu karena rasa iba melihat banyak tunawisma. Para warganet pun tersentuh melihat kehidupan yang dijalani oleh Lucy. Mereka menilai, kemampuan Lucy dalam mengalahkan nafsu duniawi patut diacungi jempol.

“Aku kagum.. Meninggalkan semua kemewahan dunia memilih jalan Tuhan,” tulis akun di kolom komentar. “Tuhan Memberkati Suster Lucy.tidak perduli dgn harta kekayaan tapi memilih menjadi suster dan melayani bersama,” kata akun TikTok De. Tetapi ia sebenarnya apa yang disaksikan dalam hidupnya dan yang dikerjakan bukan untuk membuat orang kagum atas dirinya karena Kristus Yesus yang Kasih adanya, itulah yang “nampak” dalam semua tindakan dan hidupnya.

Keputusan dan pilihan

Keputusan untuk hidup dan melayani menjadi seorang suster dan membantu banyak orang tidak mampu. Meskipun berasal dari keluarga orang paling kaya di Indonesia, Lucy Agnes nyatanya memilih hidup sederhana dan melayani umat dan bertugas di Timor Timur yang merupakan salah satu negara paling miskin di Asia.

Lucy sempat menjalani pendidikan S2 di Amerika Serikat, ia sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya saat ini. Sekadar diketahui, Biarawati dalam agama Katolik merupakan seorang wanita yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius. Di Indonesia, para biarawati seringkali dipanggil suster yang biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum.

Sifat sederhana Suster Lucy sudah terlihat sejak remaja. “Saat masih SMA, kalau dibelikan orang tuanya tas-tas mahal, dia enggak mau pake,” kata kerabatnya. Seperti Tuhan sedang menyiapkan keadaan untuk hidupnya tapi suatu keadaan bukanlah suatu pilihan untuk panggilan. Setiap kali rasa keterbatasan diri sebagai manusia yang melayani di kalangan orang-orang yang sangat terbatas. Hatinya timbul rasa ketidakmampuan dalam segala hal maka sebagai manusia ia mengingat kembali akan kata-kata ibu Teresa yang disaksikan saat ia melangkah sedia memenuhi panggilannya. “Letakkan tanganmu dalam Tangan-Nya, dan berjalanlah sendirian bersama-Nya”, itu nasehat ibunya kepada seorang anak yang berumur delapan belas tahun yang dikenal sekarang ibu Teresa. Maka tidak ada lagi atau kalau ada ia belajar, melepaskan kepada Kristus. Ya, mungkinkah hati Yesus tidak merasakan kegundahan dan kegelisahan kita? Mustahil, bukan?

Suster Lucy Agnes yang seperti di foto sederhana dalam balutan jubah khas pengikut Bunda Teresa. Terlihat aura kedamaian dari dirinya. Kerabat Suster Lucy Agnes tidak bersedia diekspose jati dirinya. “Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”, ucapnya. Kita bisa menatap bening sinar matanya beningya hati. (ED)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.