Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Sapaan Gembala

Anda Dibentuk-Nya

- SAPAAN GEMBALA -

Anda Dibentuk-Nya

dibentuk-Nya

Allah ingin hidup Anda berhasil! Ya, hidup yang berhasil sesuai dengan rencana-Nya. Keinginan Allah yang utama bagi hidup Anda adalah hidup Anda sesuai dengan tujuan Allah ketika Ia menciptakan Anda. Sebab seluruh alam semesta dan setiap mahluk yang diciptakan-Nya memiliki satu tujuan; memuliakan Allah. Satu tujuan yang telah dirancang dengan sempurna dan yang telah ditetapkan-Nya.

Oleh Yonathan Subur
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekannya untuk kebaikan...
Kejadian 50:20

Penderitaan adalah jalan menuju jiwa besar.- John Milton

Tujuan dari rencana-Nya untuk hidup Anda selalu di atas mimpi-mimpi Anda yang paling liar sekalipun (bd.Yermia 29: 11). Bahkan kalau boleh saya katakan, Anda adalah bagian terpenting dalam rencana-Nya bagi dunia ini, sebelum dunia dunia dijadikan (bd. Efesus 1: 3-14). Suatu kekayaan hidup yang luar biasa !

Sebab selama kita hidup di dunia ini sebenarnya untuk mewujudkan rencana-Nya yang agung. Untuk mewujudkan renacana-Nya Allah bekerja sama dengan Anda. Dan kerjasama itu harus harmonis. Allah tahu hambatan terbesar dalam kerjasama itu adalah karakter kita. Sekali lagi karakter yang mengalir dari hati kita. Sebab dari hati keluar segala sesuatu yang tampak dari siapa kita dalam keseharian. Seperti yang Dallas Willard menyimpulkan ” Kita hidup dari hati kita,” (bd. Mat 15:19). Untuk alasan itu, Allah terus memantangkan karakter, ketaatan dan integritas kita. Agar tujuan yang telah ada di dalam rencana-Nya terwujud dalam hidup kita maka Allah membutuhkan manusia dengan karakter yang diinginkan. Dan cara Allah mengerjakan hidup manusia agar memiliki karakter yang seiring dengan hati-Nya, Ia mengerjakan itu lewat hidup keseharian dan tiap hari.

Allah membentuk hidup ini melewati proses seumur hidup. Proses yang terjadi semata-mata bertujuan untuk membentuk hati Anda agar di dalam hati terpancar kehidupan yang diinginkan-Nya. Walaupun membentuk hati manusia itu suatu pekerjaan yang tidak mudah atau hamper mustahil namun jika dikerjakan oleh kedua tangan Allah yang penuh kasih dan kebaikan maka proses itu bukan masalah sulit bagi-Nya.

Hanya orang yang telah dibentuk, disiapkan dan akhirnya memiliki mata hati yang bisa melihat dan menikmati rencana-Nya itu agung bagi hidupnya. Alkitab menulis banyak contoh dari orang-orang yang dibentuk Allah seperti Abraham dengan penantian yang panjang untuk menerima seorang putra , Yusuf dengan pembuangan sebagai budak di Mesir. Bekerja sebagai budak, difitnah akhirnya penjara, Musa dengan padang gurun Median selama 40 tahun dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya, ketika saya memutuskan untuk menulis pokok ini, ada pergumulan yang tidak mudah. Namun, sebagai orang yang pernah mengalami pembentukan Tuhan dan salah mengerti akan maksud-maksud Tuhan yang baik . Saya merasa perlu menulis pokok ini agar saat bersama Anda dijalan nampak sulit, kita bisa melihat semua itu adalah baik.

Membentuk hati manusia yang di dalam Kristus sebenarnya sedang membentuk karakter atau memiliki jwa besar, seperti yang dikatakan John Milton, dan itu tidak terjadi dalam semalam. Jiwa yang besar tidak dibentuk dalam sebuah kursus kilat. Jiwa yang besar terbentuk selama perjalanan hidup. Maka saya merasa perlu untuk menuliskan kisah ini bagi Anda.

Setahun setelah dirinya diangkat jadi presiden, tepatnya tahun 1995, Mandela mendatangi rumah seorang perempuan berusia 94 tahun-Betsie Verwoerd-yang tak lain adalah janda dari HF Verwoerd, salah satu tokoh utama apartheid yang pernah menjadi Perdana Menteri Afrika Selatan. Kedatangan Mandela untuk minum teh di rumahnya benar-benar dirasakan sebagai kemurahan hati. Sebab ia tahu bahwa Mandela adalah dari salah satu dari korban apartheid yang amat menyakitkan.

Kunjungan Mandela telah membuka mata seluruh penduduk negara Afrika Selatan yang telah puluhan tahun jiwanya tersayat-sayat ketidakadilan, dendam dan kepahitan karena masalah politik segregasi atau di kenal apartheid yang sudah mandarah daging. Sebenarnya populasi orang kulit putih hanya sekitar 13 persen sedangkan 75 persen berkulit hitam, sisanya etnis india dan pendatang lainnya. Walaupun hanya 13 persen, berkat politik apartheid, orang kulit putih telah mengoyak-ngoyak penduduk negeri Afrika Selatan itu.

Sebagai orang kulit hitam, Mandela menentang keras apartheid. Aksinya dijalankan dengan pembangkangan sesuai jiwanya sewaktu belum dipenjara. Mandela di tangkap dan menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster. Selama tahun-tahun pemenjaraannya yang pahit dan gelap bagi jiwa karekter dan hatinya justru mengubahkan hidup Mandela menjadi baru. Bagi Mandela memperjuangkan negara Afrika Selatan yang tak ada lagi sistem apartheid dan tanpa pertumpahan darah bagi adalah mungkin.

Tak boleh ada sebutir peluru yang meledak. Tak boleh ada ucapan kata-kata kebencian. Dan semua aksi kekerasan ditolaknya. Ia hanya menentang perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan ras dengan jalan damai. Mandela percaya, “Untuk menjadi bebas bukan hanya untuk melepaskan belenggu seseorang, tetapi untuk hidup dengan cara yang menghormati dan meningkatkan kebebasan orang lain”. Dan ia tahu semua itu berawal dari hati yang bisa mengalirkan nilai kemanusiaan yang hakiki.

Mandela yang mengunjunginya tampil bersahaja. Ia tampil diri dengan ramah sopan menyapa dan menyalami Betsie Verwoerd yang tampak kikuk dan gemetar. Suasana hati Mandela yang tampak di raut wajahya tulus, bersahabat dan hadir disuasana minum teh itu telah meruntuhkan rasa takut dan curiga akan balas dendam terhadap Betsie Verwoerd dan keluarganya. Ketakutan yang bertahun-tahun akan dendam akibat apartheid telah perlahan mulai lenyap. Mandela telah menerima lebih dari 260 penghargaan selama 40 tahun, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian pada 1993.

Hidup yang berbeda adalah hidup yang menyerupai Kristus (Roma 8: 29). Totalitas hidup yang seperti Kristus. Inilah rancangan agung yang Tuhan telah rancang bagi semua anak-anak-Nya. Sebab rancangan Allah bagi hidup Anda adalah rancangan yang sempurna dan spesial. Dalam rancangan-Nya yang sempurna hidup Anda dijadikan penuh damai sejahtera. (Yermia 29: 11). Damai sejahtera adalah sikap di mana hati yang bisa tetap bersyukur, tenang dan tinggal percaya saat keadaan tidak seperti yang diharapkan. Singkatnya damai sejahtera adalah sikap yang di atas keadaan. Dan bukan keadaan yang menguasahi sikap hidupnya. ” Sikap yang demikian hanya bisa jika orang percaya sedia belajar untuk hidup melampaui keadaan,” Charles Swindol menyimpulkan . Inilah kualitas damai sejahtera yang Tuhan berikan ini dan menjadi milik Anda.

Damai sejahtera adalah berkat yang menetap dalam hidup ini. Karena itu damai sejahtera adalah kenyataan yang ada dalam hidup setiap orang yang dikasihi Allah. (ys)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

MENJADI HAMBA YANG BERKENAN: MOMENTUM ROHANI DALAM FELLOWSHIP HAMBA TUHAN GIA DAERAH IV

Suasana penuh kehangatan dan sukacita mewarnai pelaksanaan Fellowship Hamba Tuhan Gereja Isa Almasih Daerah IV yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Isa Almasih Barukan ini menjadi momentum berharga bagi para pendeta dan pendeta muda untuk saling memperkuat, berbagi, dan diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka. Sejak awal acara dimulai, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di Daerah IV mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh semangat dan sapaan hangat satu sama lain mencerminkan kerinduan untuk bersekutu dalam kasih Kristus. Fellowship ini bukan hanya sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan ruang pembaruan rohani bagi para pelayan Tuhan yang setiap hari bergumul dalam ladang pelayanan masing-masing. Dalam kesempatan ini Pdt. Filipus Ratmaka selaku Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Selorejo, dipercayakan untuk menyampaikan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam penyampaiannya beliau mengangkat tema tentang panggilan untuk menjadi hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan, Pdt. Filipus Ratmaka mengingatkan bahwa keberkenanan di hadapan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan pelayanan secara lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan, kerendahan hati, serta ketaatan dalam menjalankan kehendak-Nya. Ia menekankan pentingnya integritas pribadi, kehidupan doa yang konsisten, dan hati yang tetap melekat kepada Tuhan di tengah dinamika dan tantangan pelayanan masa kini. “Pelayanan bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil, tetapi siapa yang tetap setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu penegasan yang menggugah hati para peserta. Suasana ibadah pun terasa khidmat, beberapa peserta tampak terharu dan merenungkan kembali panggilan pelayanan mereka. Melalui fellowship ini, para Pendeta dan Pendeta muda diteguhkan untuk terus melayani dengan hati yang murni dan motivasi yang benar. Pertemuan ini juga sekaligus mempererat kebersamaan antar hamba Tuhan dan memperkuat sinergi pelayanan di wilayah Daerah IV. Kegiatan Fellowship Hamba Tuhan ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan komitmen setiap pelayan Tuhan untuk terus bertumbuh dalam karakter Kristus, sehingga pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh memuliakan nama Tuhan dan membawa dampak bagi jemaat serta masyarakat luas.

GIA Pandean Lamper Bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan Gelar Pasar Murah, 1.000 Paket Sembako Ludes Terjual

Gereja Isa Almasih  (GIA) Pandean Lamper bekerja sama dengan Yayasan HTE serta Kelurahan Peterongan menggelar kegiatan Pasar Murah sebagai wujud pelayanan sosial kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 31 Januari 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di GIA Pandean Lamper, Kota Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh jemaat GIA Pandean Lamper, pengurus Yayasan HTE, perwakilan Kelurahan Peterongan, serta masyarakat sekitar yang tampak antusias sejak pagi hari. Kegiatan ini bertujuan Holistik Mission, yaitu misi gereja untuk menjangkau jiwa-jiwa sekaligus berbagi secara nyata kepada masyarakat melalui pelayanan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pasar Murah menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini. Panitia menyediakan 1.000 paket sembako murah yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp40.000 per paket. Seluruh paket sembako tersebut habis terjual dalam waktu singkat, menandakan tingginya kebutuhan serta antusiasme warga Kelurahan Peterongan terhadap kegiatan ini. Tak hanya Pasar Murah, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan panggung gembira, layanan cukur rambut gratis, pijat gratis, pengobatan gratis, serta berbagai tenant kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Panitia juga membagikan doorprize dan berbagai hadiah kepada warga yang mengikuti rangkaian acara panggung gembira, menambah semarak dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Panitia bersyukur atas kelancaran acara yang didukung oleh cuaca yang cerah sepanjang kegiatan berlangsung. Antusiasme warga Kelurahan Peterongan terlihat sangat baik, baik dalam pembelian paket sembako maupun partisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sosial yang disediakan. Melalui kegiatan ini, GIA Pandean Lamper bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, mempererat hubungan antara gereja dan warga, serta menghadirkan kasih melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (1) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (8) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (7) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (6) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (5)

Categories
Sapaan Gembala

Anda Diingat Tuhan

- SAPAAN GEMBALA -

Anda Diingat Tuhan

Anda diingat Tuhan
”Ingatlah akan umat-Mu...”
Mazmur 74:2
Oleh: Yonathan Subur

”Dengan ketepatan yang luar biasa, batu-batu ini disusun oleh nenek moyang kami. Anda bisa membuktikan bahwa selembar uang kertas yang anda bawa tak mampu menembus sisi sambungan dari dua batu yang disusun berdampingan, ”, kata pemandu bangga saat menjelaskan tembok Ratapan Yerusalem. Para peziarah hanya manggut-manggut, namun masih menyisakan pertanyaan besar, bagaimana kerja alat nya sehingga bisa membuat susunan batu yang besar memiliki keakuratan yang demikian itu?

Rombongan peziarah itu berjalan beriringan sambil berguman, ”Kami mengerti penjelasan bagaimana batu-batu itu disusun rapi, tetapi kami belum tahu bagaimana cara kerja alat sampai batu itu tersusun sedemikian rupa?”. Saya juga masih belum mengerti. Ini masih teka-teki. Kami keluar dari situs Tembok Ratapan dengan masih menyisakan pertanyaan, bagaimana kerja alatnya untuk menyusun batu-batu yang beratnya mencapai puluhan ton tersebut?

Ada pertanyaan yang mirip dengan kasus di atas, yang juga mengusik orang-orang kristen jika menghadapi realita kehidupan seperti, vonis dokter di hadapan pria, bahwa istrinya mengindap kanker stadium empat. Atau seorang ayah yang baru tahu kalau anaknya pemakai narkoba. Bahkan ada keluarga dengan keuangan yang morat-marit serta sejumlah kepelikan hidup ini. Manakala kepelikkan hidup yang demikian menghadang maka munculah satu pertanyaan, ”Ya kami tahu bagaimana kehidupan harus dipenuhi Roh Kudus, hidup benar dan saling mengasihi. Akan tetapi kami masih bertanya-tanya, bagaimana cara kerja semua yang engkau ajarkan itu?” Iman menjadi seperti teka-teki seperti yang dikatakan John Updike dalam A Month of Sundays, ”Aku punya iman. Atau tepatnya, aku punya iman, tetapi tampaknya itu tidak bisa diterapkan.”

Di Alkitab, ada kitab Zakharia. Setelah membacanya, saya sedikit bisa meraba hati Zakharia, saat ia menyerukan isi hati Tuhan untuk umat-Nya Israel. Tuhan ingin memulihkan keadaan umat-Nya sampai ke generasi mudanya. Barangkali orang yang mendengarkan seruannya, (waktu itu, bisa juga saat ini) mulutnya menganga lantas mengeryitkan jidatnya. ”Ya, saya tahu pemulihan akan berlangsung sedemikian baiknya. Saya bisa mengerti dan mempercayai. Tapi tolong kami untuk mempercayai bagaimana cara kerja dari kebenaran yang kau sampaikan itu dalam hidup kami, Zakharia? ” Reaksi ini bukan menggiring orang percaya waktu itu untuk meragukan kebenaran tersebut. Akan tetapi realita kehidupan telah mengajak langkah mereka terhenti karena jalan yang dilaluinya itu bercabang. Satu cabang, bernama ’realita hidup’ yang satu cabang lain bernama ’kebenaran’ yang harus diyakini. Dan celakanya, makin berjalan maju, belum nampak ujungnya itu menyatu. Justru sebaliknya, ke dua cabang dari jalan itu terlihat makin menjauh. Singkatnya realita hidup waktu itu nyaris membuat kebenaran sulit dipercayai!

Pada titik ini, Zakharia memperkenalkan perjalanan mengenal akan Tuhan. Zakharia – Allah mengingat mereka- itulah tema besar kitab ini Maka dalam peliknya keadaan waktu itu, Zakharia mengajarkan kebenaran bahwa hubungan dengan Tuhan tidak selalu sepasti dua kali dua ada empat, seperti yang dituliskan oleh Augustinus dalam bukunya Confessions,”Aku selalu menjumpai misteri tentang hal hubungan Tuhan”. Akan tetapi ada satu hal yang pasti yaitu, Allah selalu mengingat umat-Nya. Ia bisa mewujudkan janji-Nya- yaitu, pemulihan umat-Nya. Bagaimana cara Tuhan mewujudkan itu? Ini pertanyaan yang digelisahkan banyak orang percaya, seperti pertanyaan tentang bagaimana cara kerja dari apa yang kita percayai?”. Ini membingungkan sekaligus menimbulkan keraguan . Dalam kumpulan surat Ibu Theresia yang dibukukan oleh Brian Kolodiejchuk dengan judul Come be may Light, ibu Theresa menulis demikian, ”Kadang aku merasa Kristus amat jauh dariku. Dan aku bertanya-tanya, mengapa Engkau menjauh ya Tuhan. Akan tetapi hatiku tetap percaya Dia tak pernah jauh. Itu hanya masa di mana aku perlu belajar percaya pada perkataan-Nya bukan perasaanku.”Kolumnis The New York Times, Andrew Greely menyimpulkan demikian, ” Jika orang kristen ingin menghapuskan tahap keraguan dan kebingungan dalam hal percaya, lupakan hal itu.” Ini mengisyaratkan kepada setiap orang percaya bahwa pengalaman mengenal Tuhan dan mepercayainya itu tidak akan menghapus kenyataan yang ada di dalam diri kita, yaitu satu sisi kita memegang keyakinan yang kuat akan Tuhan pada sisi yang lain diri kita ada. Bagaimanapun juga, kita harus tetap memegang keyakinan atau belajar mempercayai setiap perkataan_Nya dengan kuat !

Sebenarnya, dalam kitab Zakharia, Allah memiliki cara tersendiri untuk mewujudkan; pemulihan bagi umat-Nya, dan tentu saja, cara tersebut bukanlah urusan umat-Nya, yang menjadi ”urusan” umat Tuhan adalah mengerjakan setahap demi setahap, hari lepas hari untuk membangun Bait Allah dan mengajak beribadah serta mengatur kehidupan sebagaimana seharusnya. Sebab membangun Bait Allah adalah membangun peribadahan. Dan membangun peribadahan adalah membangun masa depan!

Allah mengingat anda! Ia punya cara memulihkan hidup anda. Bagaimana cara Allah mewujudkan hal itu? Ia punya langkah tersendiri. Lantas tugas kita?. ”Tugas Anda adalah; kerjakan panggilan Anda sebaik-baiknya. Allah ada di awal jalan, sepanjang jalan dan di ujung jalan. Dalam proses berjalan menempuhnya, Ia menyertai kita,” tulis Brian Kolodiejchuk, dalam menyimpulkan perjuangan dan perjalanan ibu Theresia. (ys)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

MENJADI HAMBA YANG BERKENAN: MOMENTUM ROHANI DALAM FELLOWSHIP HAMBA TUHAN GIA DAERAH IV

Suasana penuh kehangatan dan sukacita mewarnai pelaksanaan Fellowship Hamba Tuhan Gereja Isa Almasih Daerah IV yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Isa Almasih Barukan ini menjadi momentum berharga bagi para pendeta dan pendeta muda untuk saling memperkuat, berbagi, dan diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka. Sejak awal acara dimulai, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di Daerah IV mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh semangat dan sapaan hangat satu sama lain mencerminkan kerinduan untuk bersekutu dalam kasih Kristus. Fellowship ini bukan hanya sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan ruang pembaruan rohani bagi para pelayan Tuhan yang setiap hari bergumul dalam ladang pelayanan masing-masing. Dalam kesempatan ini Pdt. Filipus Ratmaka selaku Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Selorejo, dipercayakan untuk menyampaikan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam penyampaiannya beliau mengangkat tema tentang panggilan untuk menjadi hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan, Pdt. Filipus Ratmaka mengingatkan bahwa keberkenanan di hadapan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan pelayanan secara lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan, kerendahan hati, serta ketaatan dalam menjalankan kehendak-Nya. Ia menekankan pentingnya integritas pribadi, kehidupan doa yang konsisten, dan hati yang tetap melekat kepada Tuhan di tengah dinamika dan tantangan pelayanan masa kini. “Pelayanan bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil, tetapi siapa yang tetap setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu penegasan yang menggugah hati para peserta. Suasana ibadah pun terasa khidmat, beberapa peserta tampak terharu dan merenungkan kembali panggilan pelayanan mereka. Melalui fellowship ini, para Pendeta dan Pendeta muda diteguhkan untuk terus melayani dengan hati yang murni dan motivasi yang benar. Pertemuan ini juga sekaligus mempererat kebersamaan antar hamba Tuhan dan memperkuat sinergi pelayanan di wilayah Daerah IV. Kegiatan Fellowship Hamba Tuhan ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan komitmen setiap pelayan Tuhan untuk terus bertumbuh dalam karakter Kristus, sehingga pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh memuliakan nama Tuhan dan membawa dampak bagi jemaat serta masyarakat luas.

GIA Pandean Lamper Bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan Gelar Pasar Murah, 1.000 Paket Sembako Ludes Terjual

Gereja Isa Almasih  (GIA) Pandean Lamper bekerja sama dengan Yayasan HTE serta Kelurahan Peterongan menggelar kegiatan Pasar Murah sebagai wujud pelayanan sosial kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 31 Januari 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di GIA Pandean Lamper, Kota Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh jemaat GIA Pandean Lamper, pengurus Yayasan HTE, perwakilan Kelurahan Peterongan, serta masyarakat sekitar yang tampak antusias sejak pagi hari. Kegiatan ini bertujuan Holistik Mission, yaitu misi gereja untuk menjangkau jiwa-jiwa sekaligus berbagi secara nyata kepada masyarakat melalui pelayanan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pasar Murah menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini. Panitia menyediakan 1.000 paket sembako murah yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp40.000 per paket. Seluruh paket sembako tersebut habis terjual dalam waktu singkat, menandakan tingginya kebutuhan serta antusiasme warga Kelurahan Peterongan terhadap kegiatan ini. Tak hanya Pasar Murah, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan panggung gembira, layanan cukur rambut gratis, pijat gratis, pengobatan gratis, serta berbagai tenant kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Panitia juga membagikan doorprize dan berbagai hadiah kepada warga yang mengikuti rangkaian acara panggung gembira, menambah semarak dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Panitia bersyukur atas kelancaran acara yang didukung oleh cuaca yang cerah sepanjang kegiatan berlangsung. Antusiasme warga Kelurahan Peterongan terlihat sangat baik, baik dalam pembelian paket sembako maupun partisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sosial yang disediakan. Melalui kegiatan ini, GIA Pandean Lamper bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, mempererat hubungan antara gereja dan warga, serta menghadirkan kasih melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (1) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (8) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (7) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (6) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (5)

Categories
Sapaan Gembala

Move on and Go on

- SAPAAN GEMBALA -

Move on and Go on

Bagaimana seseorang dapat bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan dengan memilih yang terbaik dan bertindak untuk menghadapi tantangan hidup. Dalam artikel ini, terdapat contoh nyata dari Azie Taylor Morton dan juga kisah sukses Daud dari Alkitab. Dengan mengambil pelajaran dari kedua tokoh ini, pembaca diharapkan dapat memotivasi diri untuk Move on and Go on menghadapi segala tantangan hidup.

Move on and go on, bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan dengan memilih yang terbaik dan bertindak untuk menghadapi tantangan hidup.
Oleh: Yosafat Sugeng

Pada masa kepemimpinan Presiden Jimmy Charter tahun 1977-1981, Amerika memiliki seorang Menteri Keuangan kulit hitam keturunan Afrika-Amerika yang namanya melegenda karena kisah kehidupannya yang luar biasa. Dia adalah Azie Taylor Morton, Azie dilahirkan dari seorang ibu yang bernama: Fleta Hazel Taylor. Azie adalah seorang anak yang sangat tidak beruntung secara sosial-psikologis maupun secara ekonomis. Dia dilahirkan oleh seorang ibu yang difabel (bisu dan tuli) serta miskin. Azie tidak tahu ayah biologisnya karena ia adalah anak hasil pemerkosaan. Ibunya yang miskin dan cacat itu melahirkan Azie di kebun karena rasa malu dan tanpa pertolongan bidan. Alhasil, Azie tumbuh dengan beban mental yang sangat berat. Ia dibuli oleh teman-temannya karena keadaannya, sampai-sampai Azie ingin mengakhiri hidupnya karena rasa putus asa.

Dalam keputus asaannya, Azie berjumpa dengan seorang pendeta. Pendeta itu berkata kepada Azie, “Azie….tahukah kamu bahwa hidup ini adalah anugerah nak? Tuhan memberikan kamu kebebasan untuk memilih. Mau tetap mengeluh seperti ini atau bangkit dari kemiskinan. Pilihan itu ada di tanganmu. Rencana Tuhan atasmu bukan bukan rencana kecelakaan, melainkan hari depan yang penuh harapan. Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik.” Kata-kata lembut Sang pendeta berbicara kuat dalam jiwa Azie. Ia bangkit dari keterpurukan mental dan ia bekerja giat untuk menghidupi ibunya yang stroke serta biaya sekolahnya. Akhir ceita, Azie berhasil diterima di perguruan tinggi khusus orang kulit hitam dan Azie berhasil meraih gelar sarjana dengan nilai cumlaude. Dalam karirnya, selain sebagai Menteri Keuangan pada masa kepemimpinan Jimmy Charter, Ia juga pernah menjabat di Komite Presiden John F. Kennedy tentang kesempatan kerja yang setara, asisten khusus untuk Robert Schwarz Strauss, Ketua komite Nasional Demokrat, sebagai pengamat pemilihan presiden di Haiti, Senegal dan Republik Dominika dan masih banyak jabatan lainnya yang diembannya. Dari seorang anak yang sangat tidak beruntung dan tidak memiliki pengharapan muncul “seorang Wonder Woman” yang berhasil mengalahkan “kutuk kegelapan” berhasil memancarkan “terang kemuliaan” di panggung sejarah bangsa Amerika.

Banyak manusia seringkali meratapi hidupnya karena merasa hidupnya tidak seberuntung orang lain sehingga mereka lebih gampang menyalahkan: orang tuanya, orang lain, dirinya sendiri bahkan Tuhan. Manusia dalam kefatalannya sering berfikir bahwa Tuhan sengaja menciptakan dirinya dalam kesengsaraan sehingga mereka susah untuk bangkit dari keterpurukan hidupnya, padahal Tuhan menciptakan manusia dengan nature yang sama (menurut gambar dan rupa Allah) serta mandat yang sama (penuhilah bumi, dan takhlukkan serta berkuasalah…….) [Kejadian 1:26-28]. Tetapi banyuak manusia yang tidak menyadari akan hal itu sehingga manusia sulit untuk bangkit serta bertindak untuk berani menghadapi semua tantangan hidup yang selama ini dirasa sebagai “tali yang membelenggunya”. Akhirnya manusia seperti itu hanya bisa merenungi nasibnya dan tidak pernah bisa Mo on and Go on untuk meraih sukses di masa yang akan datang. Ingat; Tuhan tidak menentukan seseorang hidup dalam kesengsaraan, hidup adalah pilihan! Manusia yang sadar bahwa hidup adalah pilihan, dia akan memilih yang terbaik walau mengandung banyak resiko daripada menyerah kepada keadaan.

Saudara termasuk tipe manusia yang mana? Manusia yang berani memilih yang terbaik dengan segala resiko yang harus dihadapi untuk beroleh kesuksesan di masa yang akan datang atau tipe manusia yang hidup dalam fatalism yang pasif dan menyerah dengan keadaan? Itu adalah pilihan masing-masing individu, tetapi setiap pilihan pasti mengandung resiko. Kalau masing-masing mengandung resiko mengapa tidak harus memilih yang terbaik? Mari kita belajar dari tokoh Alkitab yang jauh lebih spektakuler daripada Azie Taylor Morton, dia adalah Daud.

Dari seorang Gembala domba menjadi seorang Raja, itulah kisah spektakuler Daud. Daud bisa mencapai sukses karena ia tidak mau menyerah kepada keadaan dan tidak puas dengan keadaan, tetapi ia adalah pribadi yang berani bergerak dan berani mengambil segala resiko yang harus ia hadapi, baik secara sosial, psikologis bahkan keselamatan jiwanya sekalipun. Daud yang awalanya adalah seorang gembala domba tetapi ia memiliki mental seorang pemenang. Status gembala domba yang disandangnya tidak lantas ia berpuas diri atau berserah diri dengan keadaan tetapi ia menggunakan setiap kesempatan yang mengandung resiko dengan sikap optimisme. Daud tidak hanya berani meninggalkan zona nyaman di ladang gembalaan yang penuh ketenangan di tengah-tengah domba gembalaannya tatapi dia berani pergi dan maju berperang dengan The Giant/Raksasa yang bernama Goliat, sementara semua orang Israel bahkan Raja Saulpun ketakutan menghadapi Giliat. Daud sekali lagi, berani mati! Ada beberapa point yang bisa kita pelajari dari seorang Daud sebelum dia menjadi “The best leader” dalam sejarah bangsa Israel.

Melupakan masa lalu

Rick Warren, pemimpin Gereja Sadle Back Community USA, mengatakan, “Kita adalah produk dari masa lalu, tetapi kita tidak harus menjadi tawanannya”. Seringkali yang membuat seseorang tidak bisa move on dalam kehidupan yang dijalani saat ini adalah dia tidak bisa keluar dari “tawanan masa lalunya” yang selalu menghantui hari-hari hidupnya. Orang yang seperti itu tidak akan pernah bisa memiliki dan merasakan kemerdekaan dalam jiwanya. Dalam kronologi waktu kita tidak dapat menghapus sejarah masa lalu dalam kehidupan kita, tetapi sejarah masa lalu adalah catatan penting untuk bisa kita jadikan pelajaran untuk menjalani serta menghadapi hari-hari hidup selanjutnya. Menjadi tawanan masa lalu atau tidak atas diri kita, itu adalah pilihan hidup masing-masing pribadi. Orang yang bijak akan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran yang berarti tetapi seorang “Pecundang” akan menjadikan masa lalu sebagai jeruji besi yang selalu “memasung hari-hari hidupnya”. Drew Barrymore berkata, “Saya bukan seseorang yang malu dengan masa lalu saya. Saya sebenarnya sangat bangga. Saya tahu saya membuat banyak kesalahan, tetapi itu semua, pada gilirannya, adalah pelajaran hidup saya”. Raja Daud pada saat dia berdoa kepada Tuhan, dia menyadari dan mengakui siapa dirinya pada masa lalu, dia adalah seorang gembala domba, tetapi karena kasih karunia Tuhan, Tuhan angkat Daud menjadi seorang raja atas seluruh Israel (1 Tawarikh 17:16-22).

Kesalahan fatal yang sering tidak disadari kebanyakan orang adalah: banyak orang menutupi masa lalunya yang penuh dengan catatan kehidupan dan mengarang cerita yang indah-indah yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dengan harapan banyak orang lain menaruh hormat kepada dirinya. Tetapi dia tidak menyadari saat dia menutup rapat-rapat masa lalunya adalah sama saja dia menyimpan bangkai bagi dirinya sendiri, sehingga dia tidak pernah merasakan kebebasan dalam hidup. Daud walaupun sudah menjadi orang nomor satu di Israqel tetapi dia tidak melupakan masa alalunya tetapi dia tidak pula terpenjara oleh masa lalunya. Sebaliknya, dia jadikan masa lalunya sebagai catatan emas yang menjadikan dia seorang pribadi yang luar biasa.

Melupakan masa lalu adalah suatu komitmen dalam jiwa agar masa lalu itu tidak menjadi beban kehidupan di masa sekarang dan masa-masa yang akan datang. Melupakan masa lalu tidak berarti lupa masa lalu, karena itu sebuah kemustahilan. Untuk bisa move on and go on, kita harus bisa melupakan masa lalu tanpa kita harus lupa masa lalu. Artinya, masa lalu harus kita jadikan pelajaran yang sangat berharga dan bukan menjadi beban psikologis bagi hidup kita sekarang dan yang akan datang.

Lepas dari belenggu masa lalu.

Siapa di antara semua manusia yang tidak memiliki “sisi gelap” masa lalu? Kalau mau jujur, tidak seorangpun berani berkata dengan sombongnya, “Aku tidak memiliki, semua kehidupanku di masa lalu baik-baik saja”. Itu adalah kesombongan diri. Daud pernah melakukan dosa sosial yang besar saat dia mengambil Basyeba. Saat dia diperingatkan oleh nabi Nathan, dia sadar akan kesalahannya dan minta ampun kepada Tuhan. Tetapi setelah dia menerima konsekwensi dan hukuman dari Tuhan, Daud tidak terbelenggu dengan sisi gelap masa lalunya. Orang yang tidak bisa lepas dari belenggu masa lalu adalah orang tidak pernah merasakan kebebasan dalam jiwanya. Orang yang masih terbelenggu dengan masa lalunya adalah orang yang menyia-nyiakan banyak kesempatan dalam perjalanan kehidupannya.

Ada dua kelompok orang yang kurang beruntung dalam hidupnya. Satu, kelompok orang yang selalu dibayang-bayangi ketakutan di masa lalu. Kelompok ini akan menciptakan pribadi-pribadi yang selalu pesimis dan unconfident dalam menjalani hidup. Kedua, kelompok orang yang selalu membangga-banggakan kejayaan masa lalunya. Kelompok ini akan menciptakan pribadi-pribadi yang over confident sehingga dia lupa bahwa semua kejayaannya sudah berlalu. Orang bijak akan selalu berfokus pada peristiwa hidup hari ini dan merancang hari esok bersama Tuhan.

Jangan merasa dirimu tidak berarti

Menurut sejarah penciptaan dalam Alkitab, manusia diciptakan berharga di mata Tuhan, karena Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupaNya (Kejadian 1:26). Kalau kita mengikuti teori penciptaan sesuai dengan kisah Alkitab maka tidak ada alasan untuk kita mengutuki hari kelahiran kita. Terlepas kita dilahirkan dalam bentuk fisik yang bagaimana, dari keluarga seperti apa, dari suku apa, dll. Berbeda dengan orang-orang yang menganut teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera. Bagi kita para theism tidak ada alasan untuk minder apapun alasannya.

Pada saat Daud dikata-katai oleh ketiga kakaknya: Eliab Abinadab dan Syama, yang adalah para tentara Raja Saul, agar Daud pulang untuk menggembalakan yang dua-tiga ekor kambing-domba ayahnya, Daud tidak lantas “baper”, bawa perasaan dan mengalami “mental down” yang membuat Daud lantas pulang kembali ke ladang domba gembalaannya. Daud terus mencari tahu dan ingin tahu siapa itu Goliat (1 Samuel 17-30). Bukan hanya ketiga kakanya yang menganggap remeh Daud, tetapi Isai ayahnya, raja Saul juga Goliat. Mereka memandang remeh Daud, tetapi Daud tidak terpengaruh dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.

Ketidak berartian diri tidak dibentuk oleh orang lain lain ataupun lingkungan apalagi Tuhan. Ketidak berartian hidup dibentuk oleh diri kita sendiri. Orang lain boleh berkata apa saja tentang diri kita karena kita tidak dapat melarang mereka untuk berkata apapun juga tentang kita. Tetapi kita juga berhak untuk tidak mempedulikan apa yang orang lain katakan tentang kita. Kita tidak dapat menunggu orang lain untuk menghargai kita, tetapi penghargaan diri itu sepenuhnya tergantung pada diri kita masing-masing. Orang yang menghargai dirinya adalah orang yang bisa menerima dirinya apa adanya dan merasakan bahwa keberadaan dirinya adalah istimewa karena masing-masing orang Tuhan ciptakan berbeda.

Hidup adalah pilihan

Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang sesuai dengan kapasitas dan passion masing-masing orang. Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30; Lukas 19:12-27), Tuhan Yesus memberi gambaran bahwa masing-masing orang diberi ada yang lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Tetapi pada akhir perumpamaan tersebut dikisahkan bahwa orang yang menerima satu talenta tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan kepercayaan yang diberikan oleh tuannya, sebaliknya, dia menyembunyikan talenta yang hanya satu itu dan saat tuannya datang, dia kembalikan talenta itu sambil menghakimi tuannya dengan kata-kata yang tidak elok. Akhir kisah tersebut, orang yang menerima satu talenta kehilangan segalanya. Tetapi sebaliknya, kedua orang yang menerima lima dan dua talenta diberi kepercayaan yang lebih besar lagi.

Sebenarnya inti dari pelajaran tersebut adalah bagaimana kita mempertanggung jawabkan kepercayaan yang diberikan kepada kita secara maksimal. Masalah hasil adalah nomor kesekian dan hasil itu adalah dampak dari passion kita. Masing-masing pilihan pasti mengandung resiko. Semakin berat pilihan kita semakin besar pula hasil yang kita dapatkan. Daud dihadapkan dengan dua pilihan: tetap nyaman menjadi seorang Penggembala domba dengan resiko yang relatif kecil atau maju berperang dan meraih kemengan dan menjadi seorang Raja dengan resiko yang sangat tinggi, bahkan kematian. Daud bisa hidup nyaman dan aman bahkan kaya dengan menjadi seorang Penggembala domba tetapi Daud memilih menjadi seorang Fighter yang tidak takut mati.

Untuk menjadi seorang Pemenang diperlukan mental fighter dalam menghadapi hidup ini. Seorang Fighter tidak akan pernah menyerah dengan keadaan seberat apapun yang harus dihadapinya. Kalau kita diberi pilihan dalam hidup ini, semaksimal mungkin pilihlah pilihan yang terbaik karena setiap pilihan pasti ada resiko yang harus kita tanggung.

Hidup berfokus kepada Tuhan

Kata-kata ini sekilas terkesan klise dari kaca mata manusia modern dengan paham rasionalismenya. Sehingga Tuhan dijadikan bahan ejekan bagi kaum “modern atheism”, yakni kaum yang mengaku adanya Tuhan tetapi tidak percaya akan kuasa dan karya-karya Tuhan dalam kehidupan manusia. Daud saat dia menjadi raja atas Israel yang popularitasnya dan keberaniannya sangat tinggi tetapi sepanjang hidupnya Daud adalah sosok yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Secara politis Daud bisa menggerakkan para prajuritnya saat menghadapi musuh-musuhnya, tetapi dalam setiap tindakannya selalu didahului dengan “berkonsultasi” dengan Tuhan terlebih dahulu. Kalau kita mempelajari biografi Daud dari awal sampai akhir hidupnya, dia menyuguhkan pengalaman hidup yang begitu indah. Berangkat dari bukan siapa-siapa (penggembala domba) menjadi seorang raja, dia adalah sosok yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.

Mengapa kita harus mengandalkan Tuhan dalam hidup ini? Jawabnya adalah sederhana, karena kita adalah hasil karya tanganNya dan kita ada oleh karena kehendakNya, maka selayaknya kalau kita kembalikan kehidupan kita kepada yang Empunya kehidupan ini. Tetapi jangan kita menjadi seorang fatalis yang menyerah kepada keadaan secara pasif karena kita berfikir bahwa kita adalah milik Tuhan dan semua adalah atas penentuan Tuhan. Tetapi sebaliknya, kita harus melakukan apa yang menjadi bagian kita secara maksimal karena Tuhan sudah memberikan kita banyak kelebihan dan selanjutnya kita serahkan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian Tuhan. (-ysg)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

MENJADI HAMBA YANG BERKENAN: MOMENTUM ROHANI DALAM FELLOWSHIP HAMBA TUHAN GIA DAERAH IV

Suasana penuh kehangatan dan sukacita mewarnai pelaksanaan Fellowship Hamba Tuhan Gereja Isa Almasih Daerah IV yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Isa Almasih Barukan ini menjadi momentum berharga bagi para pendeta dan pendeta muda untuk saling memperkuat, berbagi, dan diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka. Sejak awal acara dimulai, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di Daerah IV mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh semangat dan sapaan hangat satu sama lain mencerminkan kerinduan untuk bersekutu dalam kasih Kristus. Fellowship ini bukan hanya sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan ruang pembaruan rohani bagi para pelayan Tuhan yang setiap hari bergumul dalam ladang pelayanan masing-masing. Dalam kesempatan ini Pdt. Filipus Ratmaka selaku Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Selorejo, dipercayakan untuk menyampaikan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam penyampaiannya beliau mengangkat tema tentang panggilan untuk menjadi hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan, Pdt. Filipus Ratmaka mengingatkan bahwa keberkenanan di hadapan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan pelayanan secara lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan, kerendahan hati, serta ketaatan dalam menjalankan kehendak-Nya. Ia menekankan pentingnya integritas pribadi, kehidupan doa yang konsisten, dan hati yang tetap melekat kepada Tuhan di tengah dinamika dan tantangan pelayanan masa kini. “Pelayanan bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil, tetapi siapa yang tetap setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu penegasan yang menggugah hati para peserta. Suasana ibadah pun terasa khidmat, beberapa peserta tampak terharu dan merenungkan kembali panggilan pelayanan mereka. Melalui fellowship ini, para Pendeta dan Pendeta muda diteguhkan untuk terus melayani dengan hati yang murni dan motivasi yang benar. Pertemuan ini juga sekaligus mempererat kebersamaan antar hamba Tuhan dan memperkuat sinergi pelayanan di wilayah Daerah IV. Kegiatan Fellowship Hamba Tuhan ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan komitmen setiap pelayan Tuhan untuk terus bertumbuh dalam karakter Kristus, sehingga pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh memuliakan nama Tuhan dan membawa dampak bagi jemaat serta masyarakat luas.

GIA Pandean Lamper Bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan Gelar Pasar Murah, 1.000 Paket Sembako Ludes Terjual

Gereja Isa Almasih  (GIA) Pandean Lamper bekerja sama dengan Yayasan HTE serta Kelurahan Peterongan menggelar kegiatan Pasar Murah sebagai wujud pelayanan sosial kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 31 Januari 2026, pukul 08.00–11.30 WIB, bertempat di GIA Pandean Lamper, Kota Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh jemaat GIA Pandean Lamper, pengurus Yayasan HTE, perwakilan Kelurahan Peterongan, serta masyarakat sekitar yang tampak antusias sejak pagi hari. Kegiatan ini bertujuan Holistik Mission, yaitu misi gereja untuk menjangkau jiwa-jiwa sekaligus berbagi secara nyata kepada masyarakat melalui pelayanan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pasar Murah menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini. Panitia menyediakan 1.000 paket sembako murah yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp40.000 per paket. Seluruh paket sembako tersebut habis terjual dalam waktu singkat, menandakan tingginya kebutuhan serta antusiasme warga Kelurahan Peterongan terhadap kegiatan ini. Tak hanya Pasar Murah, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan panggung gembira, layanan cukur rambut gratis, pijat gratis, pengobatan gratis, serta berbagai tenant kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Panitia juga membagikan doorprize dan berbagai hadiah kepada warga yang mengikuti rangkaian acara panggung gembira, menambah semarak dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Panitia bersyukur atas kelancaran acara yang didukung oleh cuaca yang cerah sepanjang kegiatan berlangsung. Antusiasme warga Kelurahan Peterongan terlihat sangat baik, baik dalam pembelian paket sembako maupun partisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sosial yang disediakan. Melalui kegiatan ini, GIA Pandean Lamper bersama Yayasan HTE dan Kelurahan Peterongan berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat sekitar, mempererat hubungan antara gereja dan warga, serta menghadirkan kasih melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (1) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (8) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (7) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (6) PASAR MURAH GIA PANDEAN LAMPER (5)

Penahbisan Pdm di GIA Jemursari Surabaya Tekankan Kepemimpinan yang Melayani

Gereja Isa Almasih (GIA) Jemursari Surabaya menggelar acara Penahbisan Pendeta Muda (Pdm) atas diri Sdr. Elsa Krisman Klinton Halawa dan Sdri. Arnetty Maduwu, pada Minggu, 11 Januari 2026, bertempat di gedung gereja GIA Jemursari Surabaya. Ibadah penahbisan berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita, dihadiri oleh jajaran pimpinan Sinode GIA Daerah V, para hamba Tuhan, jemaat, serta tamu undangan. Hadir dalam kesempatan tersebut Pdt. Kukuh Priyono, Pdt. Jacob Setyabudi, Pdt. Yosia Nugroho Adi, dan Pdt. Yoanda Nancy selaku jajaran Pimpinan Sinode GIA Daerah V, bersama gembala serta jemaat GIA Jemursari Surabaya yang memberikan dukungan dan doa bagi kedua Pdm yang ditahbiskan. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Kukuh Priyono dengan mengangkat tema “Kebutuhan Gereja Saat Ini Adalah Kepemimpinan yang Benar di Hadapan Tuhan.” Dalam khotbahnya, Pdt. Kukuh menegaskan bahwa di tengah dunia yang menawarkan beragam model kepemimpinan, Tuhan Yesus memberikan teladan kepemimpinan yang sejati, yaitu kepemimpinan yang melayani. Ia mengutip Matius 9:36, yang menggambarkan belas kasihan Yesus kepada orang banyak, sebagai fondasi utama dalam kepemimpinan Kristen. Lebih lanjut disampaikan bahwa gereja masa kini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya memiliki perasaan simpati dan empati, tetapi juga hati yang bertindak nyata. Hamba Tuhan dan jemaat diajak untuk dengan sungguh-sungguh melihat kebutuhan pelayanan yang ada, menjawabnya dengan sepenuh hati, serta memperlengkapi diri dengan kompetensi yang diperlukan untuk dipersembahkan bagi kemuliaan nama Tuhan. Penahbisan Pdm ini menjadi momen penting bagi perjalanan pelayanan Sdr. Elsa Krisman Klinton Halawa dan Sdri. Arnetty Maduwu, sekaligus peneguhan panggilan mereka untuk melayani Tuhan dan jemaat dengan kerendahan hati dan tanggung jawab. Hal menarik dalam rangkaian ibadah penahbisan ini adalah seluruh lagu-lagu pujian yang dibawakan diambil dari Nafiri Sion, yang menambah nuansa kekhidmatan serta membawa jemaat pada suasana penyembahan yang mendalam. Melalui penahbisan ini, GIA Jemursari Surabaya berharap lahirnya pemimpin-pemimpin rohani yang setia, berintegritas, dan siap melayani sesuai dengan kehendak Tuhan, guna membangun gereja dan menjawab tantangan pelayanan di masa kini dan yang akan datang. Penahbisan Pdm GIA Jemursari (9) Penahbisan Pdm GIA Jemursari (8) Penahbisan Pdm GIA Jemursari (7) Penahbisan Pdm GIA Jemursari (3) Penahbisan Pdm GIA Jemursari (10)

Dies Natalis ke-59 STT Abdiel dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel Periode 2026–2030 Berlangsung Khidmat

Sekolah Tinggi Teologi (STT) Abdiel memperingati Dies Natalis ke-59 yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026–2030. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, 20 Januari 2026, bertempat di Aula STT Abdiel, dan berlangsung dengan meriah serta penuh kekhidmatan. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain Bupati Kabupaten Semarang, perwakilan Bimas Kristen Provinsi Jawa Tengah, Bimas Kristen Kabupaten Semarang, jajaran pimpinan MPH Sinode GIA, Pembina dan Pengurus Yayasan STT Abdiel, serta mitra-mitra dan undangan lainnya. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Semarang menyampaikan apresiasi atas kontribusi STT Abdiel selama hampir enam dekade dalam mencetak pemimpin rohani dan pelayan masyarakat yang berintegritas. Kehadiran langsung Bupati dalam acara ini menjadi salah satu hal unik dan istimewa, sekaligus menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan teologi dan pembinaan nilai-nilai moral di tengah masyarakat. Momentum Dies Natalis ke-59 ini mengusung tujuan utama untuk mengukuhkan fondasi iman, ilmu, dan keteladanan di tengah krisis nilai dan kemanusiaan yang semakin kompleks. STT Abdiel diharapkan terus menjadi pusat pendidikan teologi yang relevan, kontekstual, dan berdampak bagi gereja maupun bangsa. Puncak acara ditandai dengan pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026–2030, yang berlangsung secara khidmat dan penuh makna. Pelantikan ini menjadi simbol estafet kepemimpinan sekaligus komitmen baru dalam melanjutkan visi dan misi STT Abdiel ke depan. Inilah Daftar Pimpinan STT Abdiel yg baru dilantik : Ketua : Pdt. Dr. Christine Sri Rahayu, M.Pd. Waket I : Pdt. Sianny Astuti, M.Pd. Waket II : Pdt. Dr. Slamet Santoso, M.Th. Waket III : Pdt. Nefry Christoffel Benyamin, M.Th. Dir. Pasca Sarjana : Pdm. Dr. Mianto Nugroho Agung, M.Th. Suasana acara semakin bermakna dengan persembahan pujian dari Paduan Suara STT Abdiel, yang menghadirkan nuansa rohani mendalam dan menambah kekhidmatan seluruh rangkaian kegiatan. Melalui peringatan Dies Natalis ke-59 dan pelantikan pimpinan baru ini, STT Abdiel menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam membangun generasi yang beriman teguh, berilmu, dan menjadi teladan di tengah tantangan zaman. Diesnatalis STT Abdiel ke-59 dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026-2030 (4) Diesnatalis STT Abdiel ke-59 dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026-2030 (5) Diesnatalis STT Abdiel ke-59 dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026-2030 (6) Diesnatalis STT Abdiel ke-59 dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026-2030 (7) Diesnatalis STT Abdiel ke-59 dan Pelantikan Pimpinan STT Abdiel periode 2026-2030 (8)

Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung

Gereja Isa Almasih (GIA) Maleer Bandung telah menyelenggarakan Ibadah Penahbisan Pendeta sebagai ungkapan syukur atas panggilan dan penetapan hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan gerejawi. Dalam ibadah tersebut, telah ditahbiskan Pdt. Agung Setyo S., S.Th. dan Pdt. Samuel Hamonangan Bringin Marbun, S.Th. sebagai pendeta dalam lingkup pelayanan Sinode Gereja Isa Almasih. Ibadah penahbisan ini dihadiri oleh perwakilan Majelis Pusat Harian (MPH) Sinode Gereja Isa Almasih, yaitu Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th., Pdt. Andreas Mulyadi, M.Th., dan Pdt. Benaya Dwi Cahyono, M.Th. Firman Tuhan dalam ibadah penahbisan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono, M.Th. yang mengangkat tema “Mengenal dan Merespon Panggilan Allah” (Kisah Para Rasul 26:14-18). Ia menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk melayani. Melayani adalah anugerah dari Tuhan, panggilan untuk melayani harus direspon dengan perubahan hidup yang nyata, kesediaan membayar harga serta ketaatan dan kesetiaan sampai akhir. Dalam kesempatan ini juga kotbah perdana disampaikan oleh Pdt. Samuel Hamonangan Bringin Marbun, S.Th., yang menekankan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan kita tapi Tuhan juga memiliki panggilan atas hidup kita (Yeremia 1:4-5). Tuhan mengenal kita terlebih dahulu, Tuhan memanggil kita dalam keterbatasan. Tuhan tidak pernah salah memilih, saat kita mau maka Ia akan terus memampukan. Tuhan yang memanggil, Ia akan terus menyertai. Pernyataannya yang menguatkan adalah “Jika Tuhan yang utus, maka Ia juga yang akan urus.” Kiranya melalui penahbisan ini, Pdt. Agung Setyo, S.Th. dan Pdt. Samuel Hamonangan Bringin Marbun, S.Th. semakin diteguhkan oleh Tuhan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pelayanan, serta dapat menjadi berkat bagi jemaat, gereja, dan masyarakat luas. Kiranya Tuhan meneguhkan dan memimpin langkah pelayanan mereka agar setia hingga akhir dalam melaksanakan panggilan-Nya. Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung (9) Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung (8) Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung (7) Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung (6) Ibadah Penahbisan Pendeta Gereja Isa Almasih Maleer Bandung (3)

Natal Bersama GIA Daerah VI Penuh Sukacita dan Kebersamaan

Suasana penuh sukacita dan kebersamaan mewarnai perayaan Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih yang digelar pada Minggu, 21 Desember 2025, bertempat di Sudirman Grand Ballroom, Bandung. Acara ini dihadiri oleh anggota-anggota Gereja Isa Almasih dari seluruh wilayah Daerah VI, serta dilayani oleh para pelayan Tuhan dari gereja-gereja yang tergabung dalam wilayah tersebut. Mengusung tema “UNITY – All In God’s Life”, perayaan Natal tahun ini menekankan pentingnya persatuan umat dalam kehidupan yang berpusat pada Allah. Tema tersebut disampaikan secara mendalam melalui khotbah yang dibawakan oleh Pdt. Elia Setiawan, yang mengingatkan jemaat akan panggilan untuk kembali bersatu dengan Bapa di Surga. Dalam pesannya, ditegaskan bahwa hanya melalui Kristus, manusia diperdamaikan dengan Bapa, sehingga persatuan sejati berakar pada iman kepada Yesus Kristus. Selain ibadah dan penyampaian firman, hal yang menjadi sorotan utama dalam perayaan ini adalah terbentuknya kebersamaan yang kuat antar pelayan Tuhan dari berbagai gereja di Daerah VI. Kolaborasi lintas gereja terlihat nyata, baik dalam pelayanan ibadah maupun dalam rangkaian kegiatan yang disusun bersama, mencerminkan semangat persatuan yang menjadi inti tema perayaan. Acara semakin semarak dengan berbagai penampilan rohani yang luar biasa, mulai dari pujian dan penyembahan hingga persembahan kreatif lainnya, yang seluruhnya dipersembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Penampilan-penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari para hadirin dan menambah kekhidmatan suasana Natal. Perayaan Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat ini diharapkan tidak hanya menjadi momen seremonial tahunan, tetapi juga memperkuat komitmen umat dan para pelayan Tuhan untuk terus hidup dalam kesatuan, kasih, dan pelayanan, membawa damai Natal ke tengah kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih (1) Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih (4) Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih (5) Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih (6) Natal Bersama Daerah VI Jawa Barat Gereja Isa Almasih (7)

Natal Gabungan Pria–Wanita Daerah VII GIA Berlangsung Meriah di Pegangsaan

Suasana penuh sukacita dan kebersamaan mewarnai perayaan Natal Gabungan Pria–Wanita Daerah VII Gereja Isa Almasih (GIA) yang diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2025, bertempat di GIA Pegangsaan. Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota Pria dan Wanita Daerah VII Gereja Isa Almasih yang datang dengan antusias untuk merayakan makna Natal bersama. Perayaan Natal tahun ini berlangsung dengan khidmat sekaligus meriah. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Gunawan Hartono dengan tema “Keajaiban Natal”, yang menekankan makna kelahiran Yesus Kristus sebagai wujud kasih Allah yang nyata dan membawa pengharapan bagi umat percaya. Dalam khotbahnya, Pdt. Gunawan mengajak seluruh jemaat untuk mengalami keajaiban Natal tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai pengalaman iman yang mengubahkan kehidupan sehari-hari. Selain ibadah dan penyampaian Firman Tuhan, acara ini juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari kaum wanita Daerah VII. Persembahan pujian, tarian, dan kreativitas lainnya seperti permainan angklung berhasil menciptakan suasana penuh kegembiraan dan mempererat kebersamaan antarjemaat. Jemaat yang hadir tampak larut dalam pujian dan perayaan, mencerminkan semangat Natal yang penuh kasih dan sukacita. Panitia Natal Gabungan menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh anggota Pria dan Wanita Daerah VII yang telah mendukung terselenggaranya acara ini dengan baik. Diharapkan, melalui perayaan Natal bersama ini, persatuan dan pelayanan di lingkungan Gereja Isa Almasih Daerah VII semakin kuat, serta semangat Natal dapat terus hidup dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Perayaan Natal Gabungan Pria–Wanita Daerah VII GIA ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan dan meneguhkan iman jemaat dalam menyambut Natal dengan penuh sukacita dan pengharapan. natal gabungan pria wanita D VII (2) natal gabungan pria wanita D VII (5) natal gabungan pria wanita D VII (7) natal gabungan pria wanita D VII (8) natal gabungan pria wanita D VII (9)

Penahbisan Pendeta Muda GIA Galunggung Teguhkan Panggilan Pelayanan

Gereja Isa Almasih Galunggung, Kota Bandung, menggelar acara Penahbisan Pendeta Muda pada 30 November 2025. Ibadah penahbisan yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di gedung Gereja GIA Galunggung dan dihadiri oleh jajaran pimpinan serta anggota Majelis Daerah VI Sinode GIA, bersama seluruh Jemaat GIA Galunggung. Acara penahbisan menjadi momentum penting bagi gereja dalam meneguhkan panggilan pelayanan hamba Tuhan di tengah tantangan zaman. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Elia Setiawan, dengan mengangkat tema “Faithful to the Call” yang bersumber dari 1 Tesalonika 5:24. Dalam khotbahnya, Pdt. Elia menegaskan bahwa menjadi seorang hamba Tuhan adalah panggilan khusus dari Tuhan, yang menuntut kesetiaan, ketaatan, dan kepercayaan penuh kepada Dia yang memanggil.“Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan melakukannya,” demikian pesan firman yang ditekankan, sebagai penguatan bagi para pelayan Tuhan agar tetap teguh dalam menjalankan tugas pelayanan. Salah satu momen yang paling berkesan dalam rangkaian acara ini adalah khotbah perdana yang disampaikan oleh pendeta muda yang baru ditahbiskan, Pdm. Yusuf Sudarmanto, S.Th Dalam khotbah perdananya, Pdm. Yusuf mengajak seluruh jemaat untuk hidup setia dalam panggilan Tuhan, baik dalam pelayanan gerejawi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dengan penuh kerendahan hati dan semangat pelayanan, mencerminkan komitmen seorang hamba Tuhan yang siap melayani dengan setia di ladang Tuhan. Begitupun juga dengan Pdm. Gilbert Sianturi, S.Sn yang juga ditahbiskan untuk melayani di GIA Galunggung dan menjadi semangat yang baru bagi rekan sepelayanan disana dalam pelayanan bidang musik. Melalui penahbisan ini, GIA Galunggung berharap lahirnya generasi pelayan Tuhan yang tetap berpegang teguh pada panggilan ilahi, setia dalam iman, dan berdampak bagi gereja serta masyarakat luas. Acara ditutup dengan doa dan ucapan syukur, menandai awal perjalanan pelayanan Pdm. Yusuf Sudarmanto sebagai pendeta muda di lingkungan Sinode GIA.   GIA JG Penahbisan Pendeta Muda 30112025 (7) GIA JG Penahbisan Pendeta Muda 30112025 (8) GIA JG Penahbisan Pendeta Muda 30112025 (9) GIA JG Penahbisan Pendeta Muda 30112025 (1) GIA JG Penahbisan Pendeta Muda 30112025 (2)

Penahbisan Pendeta dan Gembala GIA Karangkates Berlangsung Khidmat

Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Karangkates menggelar acara Penahbisan Pendeta dan Gembala pada Minggu (14/12/2025) pukul 15.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di gedung GIA Karangkates ini dihadiri oleh jajaran pimpinan MPH Sinode GIA, para pendeta Daerah V, pendeta-pendeta sekitar, serta seluruh jemaat GIA Karangkates. Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita sebagai penanda penting dalam perjalanan pelayanan GIA Karangkates. Prosesi pembukaan diawali dengan tarian tradisional “Cucuk Lampah”, sebuah tarian yang sarat makna filosofis tentang perjalanan kehidupan yang berserah dan dipimpin oleh Tuhan. Tarian ini menjadi simbol penyerahan pelayanan gereja dan gembala yang ditahbiskan ke dalam pimpinan Allah. Firman Tuhan dalam ibadah penahbisan disampaikan oleh Pdt. Andreas Mulyadi, M.Th. Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa penyertaan Allah tidak hanya bersifat janji, tetapi nyata bagi umat-Nya. “Allah menyertai kita, menyertai pelayanan kita, dan menyertai gereja-Nya. Penyertaan Tuhan adalah kekuatan utama dalam menjalankan panggilan pelayanan,” ujarnya di hadapan jemaat. Momentum bersejarah ini juga ditandai dengan khotbah perdana dari gembala jemaat yang baru ditahbiskan, Pdt. Yosia Nugroho Adi, S.Th., S.Pd. Mengambil dasar firman dari Matius 1:23b, ia menekankan bahwa Allah yang disembah umat Kristen adalah Allah yang hadir secara nyata. “Tuhan bukan sekadar konsep, melainkan Allah yang hidup dan menyertai kita dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, serta pelayanan di GIA Karangkates,” ungkapnya. Penahbisan ini menjadi tonggak baru bagi GIA Jemaat Karangkates untuk semakin dewasa dalam iman, kokoh dalam pelayanan, dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Dengan dukungan sinode, para hamba Tuhan, dan jemaat, diharapkan pelayanan gereja ke depan semakin bertumbuh dan memuliakan nama Tuhan. Pendewasaan Gereja dan Penahbisan Gembala GIA Karangkates (3) Pendewasaan Gereja dan Penahbisan Gembala GIA Karangkates (4)

Ibadah Syukur HUT GIA GOMBONG “Berbuah Banyak Di Dalam Dia” Menjadi Panggilan Bersama Jemaat

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai Ibadah Syukur Hari Ulang Tahun ke-21 Gereja Isa Almasih (GIA) Gombong yang digelar pada Minggu, 30 November 2025. Perayaan berlangsung di gedung GIA Gombong dengan dihadiri seluruh jemaat serta para tamu undangan yang datang dari berbagai wilayah. Ibadah syukur dibuka dengan pujian dan penyembahan oleh tim musik gereja, membawa seluruh jemaat memasuki momen ibadah yang penuh ucapan syukur atas penyertaan Tuhan selama 21 tahun pelayanan GIA Gombong. Puncak ibadah ditandai dengan penyampaian Firman Tuhan oleh Gembala Jemaat GIA Gombong, Pdt. Yotam Andreas Suwarno, S.Th, yang membawakan khotbah bertema “Berbuah Banyak di Dalam Dia” yang terambil dari Yohanes 15:5. Dalam renungannya, Pdt. Yotam menegaskan pentingnya setiap jemaat tinggal dalam Kristus agar hidup dapat menghasilkan buah yang baik, baik dalam pelayanan maupun keseharian. Ia mengajak jemaat untuk terus bertumbuh, berakar kuat dalam firman, serta menjadi berkat bagi sesama. Selain ibadah syukur, momen paling berkesan dalam perayaan HUT ke-21 ini adalah pelaksanaan baptisan air bagi lima jemaat baru yang resmi bergabung dalam keluarga besar GIA Gombong. Prosesi baptisan yang dilakukan setelah ibadah firman menjadi simbol komitmen iman dan langkah awal untuk bertumbuh bersama dalam Kristus. Jemaat menyambut para peserta baptisan dengan sukacita dan doa, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari tubuh Kristus di GIA Gombong. Rangkaian acara ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama, menandai perjalanan dua dekade lebih GIA Gombong dalam melayani dan membawa damai sejahtera bagi masyarakat sekitar. Dengan semangat tema tahun ini, seluruh jemaat diharapkan terus melangkah bersama, berbuah banyak, dan menjadi terang bagi lingkungan di mana mereka ditempatkan.GIA Gombong 21 Tahun Melayani, Makin Berbuah di Dalam Dia. Ibadah Syukur HUT 21 GIA GOMBONG (10) Ibadah Syukur HUT 21 GIA GOMBONG (9) Ibadah Syukur HUT 21 GIA GOMBONG (7) Ibadah Syukur HUT 21 GIA GOMBONG (8) Ibadah Syukur HUT 21 GIA GOMBONG (6)

Categories
Sapaan Gembala

Siap Menghadapi Tantangan

- SAPAAN GEMBALA -

Siap Menghadapi Tantangan

Menghadapi tahun 2023 yang penuh dengan ketidakpastian dan ketakutan, bagaimana Alkitab menangani perasaan keraguan dan ketakutan pada umat beriman?

Image source - pixelbay.com
Oleh Daniel Dwi Sumantoro

“Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka“(Lukas 2:20)

“Saya tidak tahu bagaimana jenis iman yang disyaratkan bagi kehidupan Kristen abad ke 20 atau 21 ini, bahkan bisa masih ada, jika tidak didasari pengalaman ketidak-percayaan”. Tulis novelis Flannery O Connor. Setiap orang, ya setiap orang tanpa kecuali jika akan memasuki tahun 2023 yang di dahului dengan gambaran-gambara realita oleh para ahli dan pemimpin dunia yang menyimpulkan tentang ketidak pastian, muram dan sangat tidak pasti. Kesimpulnya; sulit dan menakutkan. Melihat hal itu, orang pasti mengalami ketakutan dan merasa cemas. CS Lewis membuka dengan pertanyaan pertama “Di manakah Tuhan di saat kita menderita dan takut?”. Pertanyaan ini juga yang diajukan Claudia Claxton seorang artis yang ditinggal kekasihnya yang tenggelam di laut, Joni Eareckson Tada yang menderita kelumpuhan dan masih banyak lagi. Lalu semua itu diperhadapkan dengan tantangan misteri tahun 2023, satu kata; pasti takut!.

Alkitab melihat dan menuliskan semua takut manusia secara khusus manusia yang percaya dan beriman. Alkitab justru merekam dengan jujur bahwa keraguan, ketakutan seringkali akan menemukan mereka tumbuh ke dalam iman yang melampauhi keraguhan itu. Bagaimana hal itu terjadi?

Mengubah tantangan menjadi peluang

Galileo Galilei (1564-1642 M) adalah seorang astronom dan dianggap kadang-kadang disebut “bapak metode ilmiah”. Dia terkenal karena berargumen bahwa Bumi mengorbit Matahari, sebuah proposal yang menimbulkan tentangan ilmiah dan agama yang sengit. Nicolaus Copernicus telah mengusulkan model heliosentris pada abad keenam belas Masehi, tetapi Galileo memiliki bukti kuat, karena telah membuat teleskopnya sendiri dan mengamati bulan yang mengorbit Jupiter daripada Bumi. Inkuisisi Romawi menganggap teorinya bodoh, absurd, dan sesat, dan mengutuk Galileo menjadi tahanan rumah selama sisa hidupnya. Tapi idenya tetap hidup, dan kita tahu sekarang dia benar selama ini. Galileo Galilei dan Nicolas Copernicus sanggup mengubah tantangan yang mengancam kehidupan mereka menjadi sebuah peluang untuk tampil menjadi manusia-manusia yang berguna bagi umat manusia (bandingkan perspektif Paulus akan hal ini-1 Korintus 16:9).

Cermati Cara Melihat

Kisah religius yang tertulis di Lukas 2:8-20, menampilkan para gembala yang menjaga kawanan ternak yang dijumpai oleh seorang malaikat Tuhan dan sinar kemuliaan Tuhan bersinar melingkupi mereka, lalu apa yang terjadi, ternyata mereka sangat ketakutan. Dibalik rasa sangat ketakutan yang dialami para gembala pada akhir kisah mereka dilanda sukacita yang meluap-luap yang diikuti dengan tindakan pengucapan syukur dan pujian pemuliaan mereka kepada Allah.

Cara melihat sesuatu sangat penting untuk memberikan makna positif ataupun makna negatif. Yesus berkata, “Mata adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.” (Lukas 11:34).

Para gembala adalah orang-orang Yahudi. Mereka kenal dengan paham bahwa jika manusia ditemui malaikat maka hal-hal jahat akan segera terjadi (bandingkan dengan peristiwa kematian anak-anak sulung di Mesir pada zaman Musa ataupun kisah Bileam dan keledainya). Namun setelah mereka melihat yang mendatangi mereka bukan hanya seorang malaikat Tuhan, mereka bahkan melihat langit terbuka dan sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, maka lunturlah ketakutan besar yang ada di hati mereka.

Cermati Cara Mendengar

Cara mendengar sesuatu sangat penting untuk merespon sebuah peristiwa. Pada awal kisah para gembala melihat seorang malaikat Tuhan mendatangi mereka, dan rasa sangat ketakutanlah yang mereka alami. Namun, setelah mereka mendengar malaikat Tuhan tersebut menyampaikan pesan Tuhan tentang penggenapan janji Tuhan akan datangnya seorang raja penyelamat umat manusia (Yeremia 23:5-6), rasa ketakutan di benak mereka menjadi sirna. Para penggembala kawanan ternak paham nubuatan Hukum Taurat tentang nubuatan para nabi mereka pada masa lalu. Hal inilah yang mengubah perspektif religius mereka tentang ancaman buruk jika manusia ditemui oleh malaikat Tuhan. Rasa kepercayaan mereka terhadap pemberitaan Injil dari malaikat Tuhan sudah bangkit di hati mereka. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Roma 10:17; Filipi 1:27).

Cermati hasil dari melihat dan mendengar kemudian membuktikannya

Tantangan kehidupan yang dihadapi manusia harus terus dihadapi dan bukan dihindari, karena memang hal itu tidak lah mungkin terjadi. Sebab memang tantangan adalah sebuah obat yang baik terhadap kesehatan mental dan spiritual manusia.

Para penggembala kawanan ternak menyikapi tantangan kehidupan mereka secara baik. Setelah ketakutan yang amat sangat mereka alami manakala seorang malaikat Tuhan mendatangi mereka. Mereka mengolah apa-apa yang malaikat sampaikan ke indera penglihatan dan indera pendengaran mereka, langkah terakhir dalam mengatasi permasalahan para gembala adalah mereka harus menuntaskannya melaui sebuah pembuktian (Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita-Lukas 2:15).

Para gemabal tidak hanya berhasil mengatasi tantangan kehidupan yang mereka hadapi. Mereka tidak mengalami kesukaan besar dari iman mereka terhadap berita Injil, mereka harus juga membagi berkat mereka kepada banyak orang. Mereka bersemangat secara giat segera ingin menjumpai bayi Raja Penyelamat dunia dan kemudian bersemangat menceriterakan berita besar tersebut kepada Maria, Yusuf, dan orang-orang yang ada di sekitar bayi tersebut.

Jadilah orang yang siap menghadapi tantangan sebesar apapun. Terimalah tantangan, jadikanlah dia sebuah peluang kehidupan lalu bagikanlah berkat itu kepada semua orang. -dds

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Sapaan Gembala

Kasih Tanda Kehidupan

- SAPAAN GEMBALA -

Kasih Tanda Kehidupan

Kasih adalah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Kesadaran sebagai sesama manusia seringkali sudah cukup sebagai alasan untuk saling mengasihi. Relasi yang unik antara dua orang, entah hubungan darah atau pertalian kasih, menjadi landasan yang kuat untuk saling mencintai.
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
1 Yohanes 4:9
Oleh: Yonathan Subur
Karena Allah yang kasih itu menjadikan kita maka manusia yang adalah ciptaan-Nya bisa saling mengasihi. Kasih itu nyata ada. Kasih itu dapat dilihat, dirasakan dan dipegang. Kasih bukan suatu yang abstrak sehingga sulit dimengerti. Adanya kasih karena kasih itu diwujudkan dalam tindakan. Ibu Baselia Sclink berkata, dimana ada perbuatan kasih Tuhan turut hadir. Jadi perbuatan kasih itu seturut dengan Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya bukan apa yang tidak dikehendakinya.

Walaupun demikian, bukan kasih secara umum yang sedang dibicarakan di 1 Yohanes 4:7-12. Kasih di sini bersifat theosentris (berpusat pada Allah). Setiap kali seseorang mempraktekkan kasih ini, orang lain akan tahu bahwa orang itu lahir dari Allah dan mengenal Allah (ayat 7). Kasih berasal dari Allah (ayat 7a), sehingga siapa saja yang berasal dari Allah, kehidupannya pasti akan diwarnai dengan kasih.

Sebaliknya, apabila seseorang tidak menunjukkan kasih ini kepada orang lain, hal itu membuktikan bahwa ia tidak (atau belum) mengenal Allah (ayat 8a). Peringatan ini perlu digarisbawahi. Kesejatian iman tidak hanya dilihat dari kebenaran doktrinal (4:1-6), melainkan juga kesungguhan kasih (4:7-8).

Allah adalah kasih

Dengan mengatakan “Allah adalah kasih,” Allah yang hidup itu mengasihi dan terlihat nyata dalam peristiwa natal. Dan hal itu sekarang terjadi dalam hidup manusia yang percaya. Jadi, Allah adalah kasih, terlihat dan dirasakan dalam hidup orang-orang percaya yang saling mengasihi. Dalam kasih orang percaya bisa belajar menyaksikan “bahwa Anak-Nya, yang tunggal itu, Allah telah utus ke dalam dunia”.

Namun dalam dalam mengasihi Allah itu kehidupan orang percaya bukan menunggu sampai jadi sempurna. Tapi mengasihi Allah dan terus percaya dan saling mengasihi sesama dalam ketidak sempurnaan agar orang percaya terus belajar percaya dan bertindak kasih.

Dalam hal mewujudkan kasih, sering kali Tuhan memakai bahasa yang bisa dimengerti manusia, salah satunya “tangan”, untuk menyatakan kepedulian kasih dan kuasa-Nya. Kata ”tangan-Ku” sebagai bentuk ungkapan Diri Allah bahwa Ia adalah seorang pribadi—ungkapan ini jangan ditafsirkan secara hurufiah bahwa Allah itu sungguh memiliki tangan seperti halnya manusia, ungkapan ini hanyalah cara Tuhan dalam menyatakan diri-Nya kepada manusia yang dikasihi-Nya. Dalam bahasa theologia disebut antropormorsis; suatu cara memperkenalkan Diri-Nya seperti layaknya manusia.

Tangan Tuhan

Apa maknanya ”tangan Tuhan ” bagi kita? Kata ”tangan” disini adalah penjelasan akan tindakan-Nya. Allah yang kasih itu bertindak!. Allah bukan berdiam diri atau berpangku tangan. Ia selalu ada di sini dan tidak berdiam diri apalagi jauh, tulis Schaeffer, seorang filsuf dan theolog kristen.

Tidak ada tempat yang terlalu jauh yang tidak dapat dijangkau oleh Tangan-Nya. Tidak ada bagian yang paling rumit di alam semesta ini yang membuat Tangan Tuhan yang penuh kasih itu tidak mampu menyentuhnya. Dan tidak ada persoalan manusia yang paling sulit dan rumit membuat Allah harus angkat tangan. Tidak ada kejadian yang tidak mampu dikontrol-Nya, seperti yang tertulis di Alkitab, ”Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu”. Matius 10:29. Itulah Allah kita, Allah yang kasih, menyertai dan bertindak bagi kita.

Alkitab dengan jelas tertulis bahwa oleh tangan Tuhan pula seluruh alam semesta di jadikan (Yes 45: 12). Apa artinya? Seluruh alam semesta ini ciptaan-Nya maka Dia sanggup mengendalikannya. Demikian halnya hidup manusia yang dijadikan oleh Tuhan dan dalam kendali-Nya! (bd. Daniel 5:23).

Tangan Allah yang Agung itu lah yang juga merenda tiap sel kehidupan dalam tubuh Anda. Dari tiap sel sampai tumbuh menjadi sebagaimana Anda saat ini, tangan Tuhan tak berhenti berkarya di dalam hidup Anda. Karya dari tangan Tuhan tidak terbatas hanya soal tubuh ini saja bahkan lebih dari itu, tanga-Nya berkenan ”mengenyangkan” hari-hari Anda (Maz 145: 15-16). Singkatnya, Tuhan Allah tidak menjadikan segala sesuatu kosong, demikian halnya dengan hidup Anda. Tidak ada kehidupan yang dijadikan dari dalam kekosongan. Tangan-Nya menjadikan segala sesuatu di dalam ruang dan waktu. Allah melakukan semua itu seorang diri (Maz 136: 1-4). Jadi sejak dahulu, sekarang dan yang akan datang, kehidupan manusia tidak lepas dari karya tangan Tuhan, demikian pula dengan kehidupan Anda. Mungkin hal ini terlalu sulit untuk Anda mengerti, jangan risau. Sebab hal-hal yang ajaib dan luar biasa hanya bisa dimengerti melalui langkah awal yaitu mempercayainya (bd. Maz 139: 1-4, Ibr 11: 3).

Jadi, dalam membicarakan tetang kasih Allah atau tepatnya Allah yang kasih dan berkuasa yang sedia merendahkan diri, ada satu hal yang ada di dalam manusia dan mungkin tidak ada hasrat alamiah yang lebih sukar untuk ditaklukkan dari pada keangkuhan. Benyamin Franklin menuliskan tentang hal itu demikian,”Disamarkan. Dilawan. Ditekan. Dikekang setengah mati. Namun tetap hidup, dan sesekali muncul untuk memperlihatkan diri…Bahkan jika aku mengira telah berhasil mengalahkannya, mungkin aku sedang menyombongkan kerendah-hatiku”.

Peristiwa Kelahiran

Dalam peristiwa natal yang Mahatinggi sedia merendahkan diri, menjumpai manusia dengan tanpa kebesaran Sorgawinya tetapi ketidak berdayaan, kehinaan yang tanpa pengawal dan kemengahan tempat untuk Dia terlahir, melaikan dipalungan kendang yang hina. Agar manusia yang sulit merendahkan diri bisa mengerti apa artinya kerendahan hati tanpa dalih.

Akhirnya, natal adalah Allah yang kasih itu, mendatangi manusia yang hidupnya merasa tersingkir dan tak mempunyai harapan. Ignace Jan Pederewski, pianis komponis termasyur, mengadakan pertunjukan di balai konser besar di Amerika. Di antara yang hadir ada seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang berumur sembilan tahun. Anak itu duduk dengan gelisah karena bosan menunggu.

Diam-diam, ia menyelinap pergi dari sisi ibunya. Ia tertarik dengan piano Steinway yang besar nampak anggun dengan warna hitam mengkilap berdiri di atas panggung dan disorot lampu khusus. Dasar anak, tidak puas hanya dengan melihat, maka jari tangan pun bermain di atas tuts piano sang maestro. Ia hanya memainkan ”chopsticks”.-asal bunyi. Serentak penonton wajahnya dipalingkan ke arah panggung. Rasa kesal terlontar dari beberapa orang karena kekurang ajaran anak itu, dan mereka berteriak;

”Anak siapa yang kurang ajar itu!”
”Cepat singkirkan anak itu!”
”Tolong hentikan anak itu!”
”Siapa ibu yang membawa anak itu!”


Di belakang panggung, sang maestro mendengar suara-suara ribut yang merusak suasana, dengan cepat memikirkan sesuatu untuk mengubahnya. Ia belari ke arah panggung. Kemudian ia membungkukkan badannya. Kedua tangan sang maestro memainkan tuts-tuts piano guna membuat improvisasi kontra melodi untuk meningkatkan permainan anak yang asal bunyi tersebut. Sementara keduanya main bersama, Pederewski terus berbisik ke telinga anak itu:

”Terus bermain. Jangan berhenti, Nak. Terus bermain…jangan berhenti…jangan berhenti”

Tepuk tangan kembali dari penonton membahana. Permainan ”chopstick” dari anak itu rupanya menjadi sebuah dentingan melodi yang luar biasa di tangan sang maestro. Demikian halnya dengan hidup kita. Kita terus menerus mengerjakan apa yang menjadi bagian hidup kita, hasilnya seperti nada ”chopstick”. Nada sumbang yang terdengar. Mengecewakan. Kita tidak puas, kesal dan putus asa dan tersingkir dan berpengharapan. Tolong, jangan menyerah. Jika hidup ini kita pandang tak pernah lepas dari Tangan Sang Maestro kehidupan yaitu Tuhan Allah; mainkan kembali dawai kehidupan ini dengan semangat. Percayalah tangan Allah tidak pernah lelah untuk membuat improvisasi dalam hidup Anda.

Di tangan-Nya hidup yang demikian ”chopstick” bisa dijadikan melodi yang luar biasa. Sebab tangan Allah ahli dalam menangani hal-hal yang demikian. Di belakang hidup orang percaya ada Allah yang mengasihinya sehingga ketika orang percaya saling mengasihi walaupun kasihnya tidak sempurna bahkan ada cacad celanya, Allah tetap menyatukan mereka dengan kasih-Nya yang sempurna. Selamat Natal dan Selamat saling mengasihi.(ys)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Sapaan Gembala

Ironi

Ironi

TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ”Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek." Mazmur 110:4
Mazmur 110 : 4
TheHOPE.id – “Ia hanya seekor panda”, ujar guru Shifu kepada para muridnya dengan nada sinis. Ironi yang diperlihatkan film animasi ”Kungfu Panda” mengenai sosok panda bernama Po, gendut, tak memenuhi kriteria sebagai jagoan kungfu namun takdir telah memimpinnya menjadi ”the Dragon Warrior”.

Plot yang sama berlaku dalam hubungan dengan Tuhan. Dalam metode ”ironi” Tuhan, apa yang dipandang dunia sebagai kriteria yang ideal justru ditolaknya. Ia meninggikan seorang anak muda, gembala domba bernama Daud yang terlihat lugu, berkulit bayi kemerahan, yang lebih akrap dengan kecapinya. Metode Tuhan demikian, peninggian justru dilakukan-Nya melalui orang-orang yang tidak masuk hitungan.

Steves Perowne, dalam bukunya berjudul The Book of Psalms, ”Mazmur 110 memiliki identifikasi yang kuat dalam memperlihatkan lagu pujian buat sang Massias yang akan datang, justru diilhamkan Tuhan kepada sosok yang dahulu tidak diperhitungkan”. Bacalah Mazmur 110 ini, rabalah hati Daud saat menyayikan mazmur tersebut. Bayangkan jemarinya saat memetik dawai kecapi. Dan lihatlah dengan mata imajinasi anda, apakah pengagungan sang Meassias oleh Daud hanya berlangsung biasa-biasa?. Ia pasti menyentakkan tubuh dan jiwanya bergetar saat mengangungkan sang Messias- Kristus, ”Engkau adalah iman untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek”(ayt.4)

Kidner melihat sisi lain, dalam bukunya, A Psalm of David, menulis demikian, ”Saat menulis Mazmur ini suasana amatlah kontras. Satu sisi, Daud yang merindukan dirinya bisa mengawali pembuatan Rumah Tuhan akan tetapi Tuhan justru menundanya sebab bukan Daud tetapi keturunnya yang akan ditunjuk Tuhan untuk membangun, (II Sam 7: 11-16)”. Dari suasana yang demikian Daud diperlihatkan akan Messias-orang yang diurapi-raja segala Raja yang akan muncul dari keturunannya. Melihat hal tersebut Daud dengan kerendahan hati mengagungkannya. Daud menyadari siapa dirinya. Ia bukan raja di atas segala raja. Ia bukan Messias. Ia hanya orang yang penerima anugerah-Nya.

Ketika kita sedia mengakui bahwa segala kebanggaan, keinginan bahkan gelegak ambisi yang paling liar menjadi absurd jika diperhadapkan dengan Kristus sang Raja di atas segala raja maka kita bisa menyembah-Nya dengan kesungguhan hati. Karena kita menyadari ukuran kita memuliakan-Nya bukanlah terpenuhinya suatu keinginan dalam hidup yang fana ini, betapun baiknya sebuah keinginan tersebut. Akan tetapi semata-mata memang Ia layak dimuliakan karena kita sadar bahwa kita ini bisa menyatakan Allah adalah Messias semata-mata karya penebusan. Maka dengan seruan yang berlinang air mata, Thomas Cahill mengingatkan kepada semua orang demikian dalam sebuah drama tragis di masa lalu, entah yang nyata maupun yang di atas panggung, kita menditeksi pola yang sama: sang pahlawan, apakah ia Aleksander atau Oedipus, mencapai puncak kegemilangan hanya untuk kemudian direndahkan. Hanya dalam drama hidup Yesus terdapat pola yang terbalik: sang Pahlawan direndahkan untuk ditinggikan. ys

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Categories
Sapaan Gembala

Ngopi bersama Paulus

Ngopi bersama Paulus

Tahu ngak sehh… aku kemaren ngopi bersama dengan Rasul Paulus di warung ketan susu daerah Kebon Kosong, Kemayoran Jakarta. Waktu itu, menjelang sore hari sekitar jam empat lebih seperempat.
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus…
2 Korintus 5:20
Oleh: Yonathan subur
”Lho adik tho, ayo ngopi, ”sapanya lembut, lalu mempersilahkan aku untuk duduk di sebelahnya. Benar kata pengupas teks Alkitab, Paulus orangnya berwajah keras matang kehidupan tapi santun dan bicara lembut menyejukkan. Matanya tajam memancarkan kemurnian hati. Wajah dan beberapa kulit tangannya yang tak terbungkus jubah, ada beberapa tanda bekas luka.

”Terimakasih, pak Rasul..” sahutku agak gugup campur heran, koq Rasul yang terkenal itu ngopi dipinggiran jalan yang jadi manggkalnya orang pinggiran.

”Panggil saja pak Paulus, bagaimana kabarmu? Senang bertemu denganmu,”

”Beginilah, sedang dalam perjuangan”, jawabku sekenanya, sementara ketan plus susu kental dan kopi terhidang di depan saya. Aroma kopi itu telah membuat aku langsung menyeruput kopi dicangkir itu.

”Ayoo, nikmati dik, jangan berjuang terus. Jangan tarik terus semangatmu nanti bisa putus.” jawabnya disertai senyumnya yang lembut menyejukkan hatiku yang terasa kemrungsung dengan persoalan tugas.

”Aku tahu dik, orang kristen selalu berkata, zaman sekarang hidup sebagai orang kristen susah. Padahal tidak juga. Setiap generasi memiliki tantangannya tersendiri. Tak ada yang lebih berat. Sebagai sahabat, aku hanya memberimu hal kecil untuk hal itu; jika kita mencintai Kristus dan mencintai hidup dan panggilannya seperti kita mencintai Kristus. Kita akan dapat menikamati semua hal dengan rasa syukur dan antusias. Seperti halnya, perjuangan di pelayanan yang kamu hadapi saat ini. Aku diam berteduh dalam kata-katanya yang penuh sarat makna dan kasih. Tak ada sebuah huruf atau kata yang dibiarkan kosong meluncur.

Hidup pria ini sudah terpatri kuat dengan panggilan hidupnya. Paulus adalah seorang penginjil dan penginjilan adalah hidup Paulus. Sebagai utusan Kristus dalam misi lintas budaya, ia faham benar bahwa tugasnya bukan semata menyuarakan berita Injil, akan tetapi hidup Kritus harus menjadi saraf penggerak untuk menghidupkan berita yang disampaikan. Ia sungguh utuh dalam menjalani hidupnya sebagai utusan Kristus. Utuh, karena pikiran dan tindakannya hanya untuk mewujudkan dirinya adalah utusan Kristus. Tak ada niat sekecil apapun untuk mencari kehormatan, pengakuan dan keuntungan. Baginya air mata, luka dan aniaya serta penderitaan adalah hal yang harus dirangkul dan dicintai sama seperti ia mencintai Yesus, Tuhannya. Sebab jika orang ingin mencintai Kristus, ia harus mencintai juga penolakkan hidup seperti Kristus di dunia ini.

Maka saat ia memperkenalkan dirinya sebagai ”Kami adalah utusan Kristus”, ia tak hendak berbasa-basi. Paulus hanya menampilkan sebagai hamba-Nya Kristus yang hanya punya maksud kasih dalam kebenaran, yang oleh Farnciskus Assisi diterjemahkan demikian;

Tuhan, jadikan aku alat pendamaianMu

Di mana ada kebencian

Kami menabur kasih

Di mana ada kebencian,

Kami menabur pengampunan

Dimana ada kekwatiran,

Kami menabur keyakinan

Dimana ada kepedihan,

Kami menabur sukacita.

Sruttttpt…, aku menyeruput sisa kopi yang ada di cangkir, rasa kopi tubruk hanyut ditenggorokan terasa nikmat. Lalu kedua mataku memandang sosok tubuh Rasul Paulus yang berjalan pincang berlalu dari warung kopi itu. Langkahnya menjauh dari warung, pergi entah ke mana. Aku sekilas tertegun dan sekejab kemudian tersadar, merogoh dampet yang menipis untuk membayar kopi ketan susu. ”Ohhh sudah dibayar dik..eh pak sama bapak tadi.” Aku tertegun sejenak, hari gini ditrarktir Paulus. Ohh my God -ys

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Sapaan Gembala

Ketakutan di dalam Pikiran

Ketakutan di dalam Pikiran

Oleh: Yonathan Subur
"Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku"
Mazmur 94:19
TheHOPE.id – Dalam suatu pertemuan, Gus Dur ditanya oleh seseorang ; “ Gus, apa kuncinya Bahagia itu”

“Jangan memikirkan apa yang kamu tidak tahu”

Kalau sudah diketahui, Gus.

“Lha kalau sudah tahu buat apa dipikir”

Manusia sering masuk perangkap memikirkan yang belum waktunya dan tidak akan terjadi. Seorang ibu berkata kepada temanya, “Kalau nanti lulus lalu kerja di mana? Berapa gajinya. Dan misalnya sudah kerja bisa untuk membantu tidak”

“Saya apa bisa hidup dengan penghasilan segini, nanti belum beli beras , beli laukpauknya dan kebutuhan lainnya. Sumpek, pusing dan ngak tahu saya”. Sambil ngedumel, ibu ini ngeloyor pergi.

Ada kata yang menarik ditulis demikian, “perhatikanlah” (94:8) untuk semua kecemasamu itu. Pemazmur membuka pemikiran kita untuk mengerti akan maksud dan pemikiran pemazmur yang tegas;”perhatikanlah…”. Mazmur inilah yang mengajak pembacanya atau pelantunnya untuk memperhatikan bahwa untuk mengerti segala sesuatu yang dituliskan dan masalah yang dihadapi manusia dan manusia yang percaya kepada Tuhan Allah, pemikirannya harus di bawah Pemikiran Tuhan Allah.

Sebab pikiran manusia itu sepertinya percaya atau beranggapan Tuhan tidak tahu apa-apa dan tidak memahami apa yang harus diperbuat bagi bangsa atau orang perorang (ayt.9-11), apalagi orang percaya. Baginya orang hanya tercipta dan hidup sedangkan orang percaya nasipnya sama. Benarkah? Orang yang percaya sebagai mana mazmur ini diciptakan dan dinyanyikan serta di ajarkan bahwa hari harinya ada dalam pengawasan Tuhan dan Tuhan mengerti apa yang dibutuhkan juga disaat dalam malapetaka, “untuk menangkan diri dia terhadap hari sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya” (ayt. 12-14).

Karena itu, jangan menumpuk kecemasanmu dalam tubuh dikehidupan ini. Jangan menambah segala sesuatu yang makin membuatmu gelisah tetapi tenangkanlah dirimu di dalam Tuhan yang hidup dan mengetahuinya serta bertindak dengan cara-Nya.

Jadi, rambut dikepalamu sudah dihitung semua jangan takut. Semua hari-harimu diketahui Tuhan.

Jadi, sebelum semuanya terwujud, kita ingin bertobat dari yang benih pemikiran yang jahat mulai tumbuh. Apalagi jika ada kesempatan untuk melakukannya maka dengan secepat kilat kaki kita melakukannya dan akibatnya adalah dosa mencengkeram dan jerat hidup kita. Jadi pikiran kitalah yang membuat kita menjadi orang jahat yang memunculkan rupa-rupa perbuatan dosa atau cemas serta melihat semuanya serba tertutup, tidak harapan.

Di dalam pikiran kita, bahwa Tuhan tidak peduli, tidak mampu dan Tuhan tidak sanggup serta Tuhan jauh meninggalkan, lawanlah dengan kebenaran-Nya yang seperti tertulis, “Siapakah yang bangkit bagiku…Jika bukan Tuhan yang menolong aku, …Ketika aku berfikir, “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. Ingatlah baik-baik, kita hanya bisa tenang karena percaya dan mempercayai Tuhan dalam segala keadaan dan bahkan secara khusus hari-hari dalam malapetaka, semua harga naik dan tiap orang hanya memegang jidatnya sambil berkeluh kesah, belum lagi pandemic covid 19.

Kadangkala kita tidak mengolah pikiran kita dengan baik, pikiran kita cenderung melakukan kejahatan dan buah dari ketakutan atau kekwatiran semata-mata. Oleh sebab itu pikiran kita harus menjadi satu dengan pikiran Allah di dalam Yesus Kristus supaya apa yang kita pikirkan bukan saja kebutuhan kita melainkan pikiran kita berpadan dengan pikiran Kristus dan pikiran kita hanya melakukan Firman Tuhan, Sebab TUHAN tidak membuang umat-Nya, milik-Nya…tidak akan ditinggalkan-Nya;

Pemikiran manusia yang terbatas, cemas dan tak mampu lagi, maka TUHAN mengerti dan memahami memberikan jaminan-Nya yang di luar batas kemampuannya, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

Helen Roseveare seorang dokter lulusan Universitas Cambridge yang melayani di negara Zaire Afrika yang dulunya bernama Congo, dengan segala keterbatasannya. Suatu kali ia harus melayani ibu yang hamil dan akan melahirkan. Kecemasannya dirasakan seorang anak perempuan yang bernama Ruth berumur 10 tahun, menjadi pendoa bersama anak anak lainnya. Walau usaha Helen telah sekuat tenaga, ibu yang hamil meninggal dunia, dan bayi yang selamat tapi karena kondisinya, butuh botol pemanas badan yang terbuat dari karet. Helen hanya memiliki satu alat itu untuk bayinya, itupun dalam kondisi yang agak rusak.

Ruth gadis kecil itu, merasakan kecemasannya. Ia berdoa meminta alat kompres;”Tolonglah Tuhan kirimkan alat kompres, kami butuh alat kompres dan boneka kecil untuk kakaknya yang menangis sedih, Tuhan untuk menghiburnya ”. Sesuatu permintaan doa yang tidak mungkin dan mustahil. Itu hanya doa anak-anak, pikir Helen. Sebab bagaimana tidak, jika bantuan datang dari Inggris, membutuhkan waktu tiga bulan. Dan kondisi bayi yang butuh botol itu sangat mendesak. Besok siang, ada pengumuman ada paket datang. Dan Helen menangis. Ketika paket di buka, satu-persatu isinya di keluarkan; satu botol pemanas. Helen tidak berani untuk meminta itu secara langsung pada Tuhan, tetapi Ruth yang melakukannya.

Ruth berkata, “Bila Tuhan mengirimkan alat pemanas berarti Dia juga mengirimkan sebuah boneka!” Dia membongkar semua isi paket dan akhirnya dia menemukan sebuah boneka cantik. Mata Ruth bersinar dan dia berkata, “Dapatkah kita menemui gadis kecil itu dan memberikan boneka ini sehingga dia tahu bahwa Yesus mengasihinya?”. Jalan yang tadinya penuh kemustahilan dan menjadi tidak mustahil bagi orang percaya.

Tuhan mengerakkan Roh Kudus-Nya untuk memberikan segala kekuatan pemikiran, bertindak, bertahan dan kekuatan untuk bertidak. Tuhan memberikan melalui kuasa Roh Kudusnya, segala kekuatan yang dibutuhkan untuk bertindak dengan sebaik-baiknya dan terus belajar menata pikiran diselimuti kebenara firman Tuhan dan tidak cemas sebagai anak-anak Tuhan di tengah dunia ini.

Mengutamakan pikiran dan menyatukan pikiran kita dengan pikiran Allah di dalam Kristus Yesus memang tidak semudah kita bicara, tetapi dengan pertolongan dari Roh Kudus maka tidak ada yang mustahil.

Jadi, bacalah Firman-Nya dan jangan tinggalkan persekutuan dengan sesama orang percaya. Lewat pujian dan Firman kita akan memperoleh penghiburan Tuhan. Tidak jarang Tuhan pun menghibur hati lewat orang lain; akan ada hal kecil yang dilakukan orang yang membuat kita terhibur.

Kita tidak lagi meratapi hidup dan mempertanyakan kemungkinan yang ada; kita percaya bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna. Iman dasar akan menerima penghiburan dari Tuhan. Karena itu, mari kita satukan pikiran kita kepada Kristus supaya kita senantiasa memikirkan apa yang Firman Tuhan katakan dan tidak memberi kesempatan sekecilpun bagi sijahat untuk tampil dan menggocoh hidup kita. -ys

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Sapaan Gembala

Olimpiade Kehidupan

Olimpiade Kehidupan

Apakah ada di antara kita yang menyaksikan perhelatan olahraga terbesar di dunia yaitu Olimpiade 2020 yang bertempat di Tokyo? Setidaknya ada 8 (delapan) cabang olahraga baru yang dipertandingkan disana: skateboard, surfing, baseball, softball, karate, climbing, basket 3x3 dan BMX freestyle. Setiap perhelatan Olimpiade ada saja cabang baru, namun bukan itu yang menjadi sorotan dalam Olimpiade 2020.

Oleh: Steeven Adrian
Secara luar biasa Cina berhasil keluar sebagai juara umum Olimpiade 2020, tercatat sebagai negara dari Benua Asia yang berhasil menjadi juara umum, bukan 1 kali, tetapi 2 kali (terakhir tahun 2008). Olimpiade yang berawal dari tahun 1896, sudah 28 kali olimpiade dilaksanakan dan juara umum didominasi oleh negara Amerika yang menjadi juara umum sebanyak 17 kali. Amerika sudah siap juara umum di tahun 2020 namun kemudian disusul Cina. Mengapa bisa demikian? Kalau kita mencari dari berbagai media di internet banyak artikel yang mengulas bagaimana negara Cina mempersiapkan atlet-atlet ini sejak kecil. Mereka ‘dipaksa’ sedemikian rupa untuk menjadi yang terbaik. Didikan yang keras namun demi sebuah hasil yang terbaik. Olimpiade Tokyo 2020 menjadi saksi keberhasilan didikan calon-calon atlet Cina.

Sebagaimana perhelatan olimpiade, bukankah hidup kita pun seringkali diasosiasikan sebagai gelanggang pertandingan? Apakah kita cukup mempersiapkan diri kita untuk memenangi pertandingan itu dan layak untuk menerima mahkota kehidupan yang tersedia bagi kita? Jawaban hal-hal tersebut ada dalam pertanyaan: “Apakah kita menerima didikan Allah dengan baik?”, 1 Korintus 11:32 menyatakan, “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Ada didikan-didikan Tuhan dalam hidup ini. Firman Tuhan yang kita baca dan renungkan setiap hari adalah patokan untuk kita dapat memenangkan pertandingan hidup. Namun seringkali ada kalanya kita keluar dari patokan tersebut sehingga Tuhan harus ‘menghajar’ kita bukan untuk menghancurkan hidup ini, melainkan untuk mendidik kita supaya di kemudian hari kita keluar sebagai pemenang-pemenang.

Di dalam ayat yang yang kita renungkan tersebut, nampak sekali bahwa Tuhan sangat tidak mau kita kalah dan kemudian dihukum bersama-sama dengan dunia ini. Ia mau kita menang dan bersama-sama merayakan kemenangan itu di Surga yang kekal. Kuncinya hanya satu: yaitu terima didikan dari Allah dengan respon yang benar, dan semoga kita dapat memenangkan perhelatan ‘olimpiade’ hidup ini dan keluar sebagai orang-orang yang bukan hanya menang, namun mengukir sejarah yang akan diteruskan sebagai warisan iman bagi generasi-generasi selanjutnya.
Facebook
WhatsApp
Categories
Sapaan Gembala

Keluarga Elkana

Keluarga Elkana

Oleh: Stefani Dyah Wiworo

Apa yang kita ingat dari seorang tokoh bernama Elkana dalam 1 Samuel 1? Mungkin kita akan menjawab bahwa Elkana adalah seorang suami yang memiliki dua istri. Ya itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Elkana beristrikan Hana dan Penina. Jika kita membaca 1 Samuel 1:3, maka kita dapat melihat bahwa Elkana adalah kepala keluarga yang rajin datang kepada Tuhan.

Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1 Samuel 1:3
Apa yang kita ingat dari seorang tokoh bernama Elkana dalam 1 Samuel 1? Mungkin kita akan menjawab bahwa Elkana adalah seorang suami yang memiliki dua istri. Ya itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Elkana beristrikan Hana dan Penina. Jika kita membaca 1 Samuel 1:3, maka kita dapat melihat bahwa Elkana adalah kepala keluarga yang rajin datang kepada Tuhan.

Bagaimana sikap Hana terhadap situasinya tersebut? Hana tidak membalas perbuatan Penina. Hana justru berseru kepada Tuhan di dalam kepedihan hatinya itu. Ia terus-menerus berdoa kepada Tuhan. Lalu bagaimana dengan Elkana, apakah ia tidak tahu kondisi hati Hana? Sejauh yang kita baca dari 1 Samuel 1:8 sepertinya Elkana kurang menyadari kondisi hati Hana, bahwa ia tidak hanya sedih karena belum memiliki anak. Hati Hana begitu pedih dan sakit oleh karena sikap dan perkataan Penina yang terus-menerus menyakiti hatinya.

Pada akhirnya, Tuhan menjawab seruan doa Hana dan memberikan anak kepadanya. Lalu Hana menyerahkan anak itu kepada Tuhan untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan.

Dari kehidupan dan pergumulan yang dihadapi keluarga ini. Ada beberapa hal yang patut menjadi pembelajaran bagi setiap kita.

Kesetiaan kepada Tuhan seharusnya mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita. Janganlah kita seperti Penina! Memang ia setia beribadah, tetapi sikapnya tidak menunjukkan perubahan dari tahun ke tahun, karena ia terus menyakiti hati orang lain. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita. Jangan sampai kita setia datang kepada Tuhan, tetapi sikap kita masih saja buruk, tidak memperlihatkan adanya perubahan. Jangan sampai kesetiaan kita datang kepada Tuhan hanya sebatas formalitas, karena tuntutan beribadah setiap hari minggu, karena tuntutan kegiatan kerohanian. Seharusnya kesetiaan kita datang kepada Tuhan mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita.

Jangan menyerah dengan situasi. Hana yang terus disakiti oleh Penina, ia tetap menunjukkan sikap yang baik bahkan tidak meninggalkan Tuhan. Biarlah kita belajar dari Hana, jangan menyerah dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini. Sepedih apa pun keadaan yang kita alami. Sebanyak apa pun pergumulan yang sedang kita hadapi, tetaplah datang kepada Tuhan, berserulah kepada-Nya dan jangan tinggalkan Tuhan.