Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Liputan Seputar Sinode

Pelantikan Panitia Sidang Sinode ke-XXIV GIA Digelar di Surabaya

Pelantikan Panitia Sidang Sinode ke-XXIV GIA Digelar di Surabaya

Kesiapan Rohani dan Organisasi Menuju Sidang Sinode yang Bermakna dan Terarah

Surabaya, Minggu, 15 Juni 2025 Gereja Isa Almasih Jemaat Surabaya menjadi saksi sejarah baru dalam perjalanan Sinode Gereja Isa Almasih (GIA) melalui terselenggaranya Pelantikan Panitia Sidang Sinode ke-XXIV yang berlangsung dalam suasana ibadah khusus dan penuh sukacita. Kegiatan ini dimulai pada pukul 16.00 WIB, dengan dihadiri oleh Pimpinan Majelis Pusat Harian Sinode, para panitia terpilih, serta jemaat dan pelayan Tuhan dari berbagai penjuru GIA Daerah V.

Sidang Sinode merupakan agenda tertinggi dalam sistem tata kelola Sinode Gereja Isa Almasih, yang menjadi forum pengambilan keputusan rohani dan organisasi untuk kemajuan pelayanan gereja secara menyeluruh. Oleh karena itu, pelantikan panitia merupakan tahapan krusial yang menandai dimulainya seluruh rangkaian persiapan menuju perhelatan tersebut.

Ibadah Khusus: Fondasi Rohani Sebelum Mengemban Tugas Besar

Ibadah pelantikan dipimpin langsung oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono, selaku Pimpinan Majelis Pusat Harian (MPH) Sinode Gereja Isa Almasih, yang juga menyampaikan Firman Tuhan. Dengan mengangkat Yesaya 43:1–7 sebagai dasar khotbahnya, beliau mengajak seluruh panitia dan jemaat yang hadir untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang penyertaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan dan pelayanan.

Dalam pesannya, Pdt. Budi menekankan tiga pokok penting:

Pertama, Menegaskan Kepemilikan Tuhan atas Hidup Kita Manusia yang ditebus adalah milik Allah yang sah. Dalam tugas pelayanan, kesadaran bahwa kita dimiliki Tuhan akan memampukan kita untuk tetap rendah hati dan bergantung penuh kepada-Nya. Kedua, Keyakinan bahwa Tuhan Lebih Besar dari Apapun Tugas kepanitiaan bukan tanpa tantangan, namun kita diingatkan untuk percaya bahwa Tuhan yang menyertai adalah jauh lebih besar dari setiap pergumulan, keterbatasan, atau kesulitan yang akan dihadapi. Dan ketiga Peneguhan Bahwa Tuhan Akan Menyatakan Pemeliharaan dan Pertolongan-Nya Tuhan tidak hanya memanggil, tetapi juga memelihara dan menolong mereka yang dipanggil untuk melayani. Ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi setiap panitia yang ditetapkan.

Suasana ibadah berlangsung dengan penuh kehangatan dan kekhidmatan, ditandai dengan pujian dan penyembahan yang dinaikkan bersama, serta respons iman dari seluruh hadirin yang mengungkapkan kesiapan mereka untuk taat pada kehendak Allah.

Pelantikan Panitia: Penetapan Resmi dan Komitmen Pelayanan

Setelah penyampaian Firman, dilakukan prosesi pelantikan panitia Sidang Sinode ke-XXIV secara resmi oleh Pimpinan MPH. Dalam momen ini, para panitia yang berasal dari lintas jemaat di lingkungan Daerah V dipanggil satu per satu untuk berdiri di hadapan jemaat sebagai bentuk simbolik peneguhan dan pernyataan komitmen pelayanan.

Para panitia yang terdiri dari berbagai unsur pelayanan baik gembala jemaat, penatua, pengurus organisasi, hingga profesional gerejawi menyatakan janji mereka untuk bekerja sama, menjaga integritas, serta melayani dengan semangat kasih dan ketulusan. Pelantikan ini menjadi bukti nyata sinergi lintas wilayah dalam tubuh Kristus yang bersatu dalam satu tujuan mulia.

Arahan Strategis dari Majelis Pusat Harian

Usai pelantikan, acara dilanjutkan dengan sesi pengarahan teknis dan motivasional dari Majelis Pusat Harian, yang menyoroti pentingnya tata kelola organisasi yang tertib dan pelayanan yang berlandaskan kasih Kristus. Dalam pengarahan tersebut, ditekankan bahwa Sidang Sinode bukan hanya sekadar forum formal tahunan, tetapi juga ruang untuk merefleksikan arah pelayanan GIA secara menyeluruh baik secara teologis, pastoral, maupun administratif.

Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain: Pertama, Perlunya kerja sama lintas bidang agar koordinasi antarpanitia berjalan efektif. Kedua, Komitmen terhadap jadwal kerja dan timeline program, agar setiap tahap persiapan berjalan tepat waktu. Dan ketiga, Penekanan pada integritas, transparansi, dan kerendahan hati, sebagai nilai utama dalam pelayanan gereja masa kini.

Dengan adanya arahan ini, seluruh panitia diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana teknis, tetapi juga pemimpin rohani yang membawa dampak positif dan membangun suasana pelayanan yang sehat.

Kebersamaan yang Menyatukan

Pelantikan ini menunjukkan wajah Gereja Isa Almasih yang inklusif dan partisipatif. Kehadiran para pelayan dari berbagai latar belakang dan jemaat mencerminkan semangat kebersamaan dan kesatuan tubuh Kristus. Momen ini bukan hanya pelantikan struktur organisasi, tetapi juga bentuk nyata dari persekutuan yang hidup, penuh kasih, dan berorientasi pada pertumbuhan gereja di masa depan.

Setiap panitia yang hadir membawa harapan baru, ide segar, dan kesiapan untuk menjawab tantangan zaman. Dalam suasana penuh semangat, panitia menyambut tugas ini sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab yang luhur kepada Tuhan dan jemaat.

Penutup: Bersama Tuhan Menyongsong Sidang Sinode ke-XXIV

Pelantikan Panitia Sidang Sinode ke-XXIV di Gereja Isa Almasih Jemaat Surabaya telah menjadi tonggak awal yang kuat dan penuh makna dalam perjalanan pelayanan Sinode. Dengan dasar Firman Tuhan, arahan yang strategis, dan semangat kolaboratif, para panitia kini siap melangkah dalam persiapan Sidang Sinode yang akan datang.

Seperti yang disampaikan dalam khotbah hari itu, “Jangan takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” (Yesaya 43:1) inilah janji yang menjadi kekuatan rohani bagi setiap pelayan Tuhan. Bersama Tuhan, Sidang Sinode ke-XXIV bukan hanya akan terselenggara, tetapi akan menjadi momentum pembaruan rohani dan pelayanan yang relevan di tengah dunia yang terus berubah.

Dengan tekad dan iman yang teguh, Gereja Isa Almasih melangkah maju: melayani, memimpin, dan membawa terang Kristus bagi bangsa dan dunia.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Momen Bersejarah Penahbisan Pendeta Muda Sidiria Waruwu, M.Th. Di GIA Jatinegara

Momen Bersejarah Penahbisan Pendeta Muda Sidiria Waruwu, M.Th. Di GIA Jatinegara

Gereja Isa Almasih (GIA) Jatinegara menjadi saksi sejarah sebuah peristiwa rohani yang penuh makna, yakni Ibadah Penahbisan Pendeta Muda atas diri Sidiria Waruwu, M.Th. Ibadah kudus ini berlangsung pada hari Sabtu, 21 Juni 2025, bertempat di gedung gereja yang berlokasi di Jalan Jatinegara Timur II No. 30A, Jakarta Timur.

Acara ini dihadiri oleh ratusan jemaat, segenap majelis gereja, para gembala dari Daerah VII Sinode Gereja Isa Almasih, serta tamu-tamu terhormat baik dari dalam maupun luar negeri. Nuansa ibadah terasa syahdu sejak awal, ketika hadirin menaikkan pujian dan penyembahan yang membawa suasana gereja dalam hadirat Tuhan.

Khotbah Peneguhan: Memberitakan Firman dengan Setia di Tengah Tantangan

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Erwin, selaku Ketua Majelis Daerah VII GIA, yang juga bertindak sebagai pelayan firman dalam ibadah penahbisan tersebut. Ia mengangkat perikop dari 2 Timotius 4:1–5, yang menekankan pentingnya seorang hamba Tuhan untuk berdiri teguh dalam panggilannya, memberitakan firman dengan kesungguhan, serta memiliki keteguhan hati dalam menghadapi penderitaan dan tantangan demi kebenaran Injil.

“Menjadi hamba Tuhan bukanlah sekadar jabatan, tetapi panggilan untuk hidup melayani, siap menderita, dan setia hingga akhir,” tegas Pdt. Erwin dalam khotbahnya yang menggugah.

Pesan firman ini menjadi penguatan tersendiri bagi Pendeta Muda Sidiria Waruwu dan seluruh pelayan Tuhan yang hadir, bahwa pelayanan bukanlah jalan mudah, namun sebuah perjalanan penuh pengorbanan dan kesetiaan yang memerlukan kekuatan ilahi.

Kehadiran Para Misionari Korea: Simbol Kesatuan Gereja Global

Salah satu momen yang sangat diapresiasi dalam acara ini adalah kehadiran para misionaris dari Korea Selatan, yang telah menjadi mitra pelayanan Sinode Gereja Isa Almasih selama bertahun-tahun. Mereka adalah Pdt. Hyun-Jong Jung beserta istri, Pdt. Lee Pyl Hwan beserta istri, dan Pdt. Lee Souk Kie.

Kehadiran para misionaris ini menjadi simbol kuat akan persatuan tubuh Kristus secara global, bahwa pekerjaan Tuhan tidak terbatas oleh bahasa dan budaya. Mereka turut mendoakan dan memberkati perjalanan pelayanan Pendeta Sidiria, meneguhkan bahwa misi Allah dikerjakan bersama oleh gereja di seluruh dunia.

Pertemuan Dua Sahabat: Pdt. Em. Budi Santoso dan Pdt. Joshua Ong

Salah satu momen paling mengharukan dan langka terjadi di sela-sela ibadah penahbisan, yakni pertemuan kembali antara dua sahabat lama, Pdt. Emiritus Budi Santoso dan Pdt. Joshua Ong, setelah lebih dari 50 tahun tidak bertemu. Keduanya adalah alumni Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang pada era 1970-an.

Pdt. Budi Santoso dikenal sebagai Gembala Kedua Gereja Isa Almasih Pegangsaan, sementara Pdt. Joshua Ong adalah pendiri dan tokoh sentral di balik berdirinya STT IMAN Jakarta. Pertemuan ini bukan hanya nostalgia pribadi, namun menjadi pengingat akan pentingnya warisan iman dan pendidikan teologi yang terus diturunkan lintas generasi.

Penahbisan Sejarah: Alumni STT IMAN Pertama dalam Lingkup GIA

Penahbisan Pendeta Muda Sidiria Waruwu juga mencatat sejarah baru bagi gereja dan dunia pendidikan teologi Indonesia. Ia menjadi alumni pertama dari STT IMAN Jakarta yang ditahbiskan sebagai pendeta dalam lingkup pelayanan Sinode Gereja Isa Almasih, sebuah tonggak penting yang memperlihatkan sinergi antara lembaga teologi dan gereja lokal.

Hal ini menunjukkan bahwa STT IMAN telah dan terus menjadi sarana yang efektif dalam mempersiapkan hamba-hamba Tuhan yang memiliki integritas, kedalaman spiritual, dan kesiapan untuk melayani jemaat di berbagai konteks.

Hadirin dari GIAR Jaboba: Jejak Pelayanan dan Komunitas

Tidak ketinggalan, para murid dan hamba Tuhan dari GIA Rajawali (GIAR) wilayah Jaboba (Jakarta, Bogor, Bandung) juga turut hadir dan memberi dukungan. Mereka adalah orang-orang yang pernah melayani atau sedang melayani di komunitas GIAR.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa penahbisan ini bukan hanya hasil dari pendidikan formal, tetapi juga dari proses pembentukan karakter dan panggilan di tengah pelayanan sehari-hari.

Penutup yang Sarat Sukacita dan Harapan

Ibadah penahbisan ditutup dengan doa syafaat dan penguatan secara simbolis melalui penumpangan tangan oleh para pendeta senior. Setelah ibadah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi foto bersama. Suasana penuh kegembiraan, haru, dan ucapan syukur memenuhi ruangan.

Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa panggilan Tuhan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Kehadiran tokoh-tokoh lintas zaman, kehadiran misionaris dari luar negeri, dan keterlibatan berbagai unsur pelayanan menjadi wujud nyata dari tubuh Kristus yang hidup dan bertumbuh bersama.

“Hari ini bukan hanya penahbisan satu orang, tetapi perayaan akan kesetiaan Tuhan yang bekerja melalui lembaga, gereja, dan persahabatan,” ujar salah satu peserta dengan penuh semangat.

Momentum ini akan terus dikenang sebagai bukti bahwa pelayanan bukanlah kerja individual, tetapi perjalanan kolektif umat Tuhan yang bersatu, bertumbuh, dan melayani dunia dengan kasih Kristus.

Categories
Seputar Sinode

Ibadah Penahbisan Penuh Sukacita: Bp. Daniel Kuswanto, S.Th Ditetapkan Sebagai Pendeta Muda di GIA Jemaat Purwodadi

Ibadah Penahbisan Penuh Sukacita: Bp. Daniel Kuswanto, S.Th Ditetapkan Sebagai Pendeta Muda di GIA Jemaat Purwodadi

Purwodadi, 5 Juni 2025 Suasana syahdu dan penuh kekhidmatan terasa kuat di Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Purwodadi pada hari Kamis, 5 Juni 2025. Dalam balutan ibadah yang penuh penghayatan dan sukacita rohani, dilaksanakan prosesi Ibadah Penahbisan Pendeta Muda atas diri Sdr. Daniel Kuswanto, S.Th. Acara yang dimulai tepat pukul 17.00 WIB ini menjadi sebuah momentum yang tidak hanya sakral tetapi juga bersejarah bagi jemaat dan keluarga besar GIA Jemaat Purwodadi.

Kehadiran Unsur Pimpinan Gereja dan Dukungan Jemaat

Ibadah penahbisan ini dihadiri oleh berbagai kalangan penting dalam tubuh gereja, antara lain Pengurus Majelis Daerah III (MD 3) yang mewakili struktur kepemimpinan regional dalam Sinode Gereja Isa Almasih, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat se-Purwodadi, serta para gembala jemaat dan diaken. Tak ketinggalan, seluruh jemaat GIA Jemaat Purwodadi serta keluarga besar dari Sdr. Daniel Kuswanto turut hadir memberikan dukungan penuh dalam acara ini.

Kehadiran yang masif ini mencerminkan betapa penting dan berharganya momen penahbisan sebagai wujud pengakuan gereja terhadap panggilan ilahi atas seseorang untuk melayani secara penuh dalam kapasitas sebagai pendeta.

Makna Penahbisan: Peneguhan Panggilan dan Amanat Pelayanan

Prosesi ibadah penahbisan dimulai dengan pujian penyembahan, dilanjutkan dengan penyampaian Firman Tuhan yang membawa pesan peneguhan panggilan dan kesetiaan dalam pelayanan. Dalam kotbah yang ditekankan bahwa menjadi pendeta bukanlah sekadar jabatan atau profesi, tetapi merupakan tanggapan atas panggilan Tuhan yang kudus dan tak terbantahkan.

Bp. Daniel Kuswanto, yang telah menyelesaikan studi teologinya dan menjalani masa pembentukan serta pelayanan selama beberapa waktu, secara resmi diteguhkan dan ditahbiskan menjadi pendeta muda. Melalui penumpangan tangan dan doa peneguhan yang dipimpin oleh Pengurus Majelis Daerah  III, disaksikan oleh para hamba Tuhan dan seluruh jemaat, ia dinyatakan sah untuk menggembalakan jemaat dan melayani dalam kapasitas penuh sebagai hamba Tuhan di GIA Jemaat Purwodadi.

Sebuah Momen Unik dan Menyentuh: Turut Bernyanyi Sebelum Ditahbiskan

Ada hal yang sangat menarik dan menjadi sorotan dalam ibadah ini. Sebelum prosesi penahbisan dimulai, Sdr. Daniel Kuswanto justru turut mengambil bagian dalam penampilan paduan suara jemaat. Dalam balutan busana koor, ia berdiri sejajar bersama rekan-rekan pelayan, menaikkan pujian bersama sebelum ia sendiri menerima penumpangan tangan penahbisan.

Tindakan ini menggambarkan kerendahan hati dan semangat melayani dari dalam hati, sebuah teladan bagi jemaat bahwa pelayanan bukan tentang posisi, tetapi tentang kerelaan hati untuk menjadi alat Tuhan dalam segala hal, kecil maupun besar.

Serah Diri Pelayanan dan Doa Pengutusan

Setelah prosesi penahbisan, dilanjutkan dengan momen serah diri pelayanan, di mana Pendeta Muda Daniel Kuswanto berdiri di depan altar, didampingi oleh keluarganya. Ia menyampaikan pernyataan komitmen pelayanan di hadapan jemaat, menyatakan kesediaannya untuk menjadi teladan iman.

Disambut dengan doa bersama dari jemaat, acara diakhiri dengan doa pengutusan, sebagai simbol bahwa gereja tidak hanya menerima pelayanan sang pendeta, tetapi juga turut mendoakan, menopang, dan berjalan bersama dalam pertumbuhan jemaat ke depan.

Pesan Sukacita dan Harapan dari Gereja

Dalam sambutannya, perwakilan dari Majelis Daerah III menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan. “Penahbisan hari ini adalah awal dari perjalanan panjang dalam pelayanan. Kami percaya Tuhan yang memanggil juga akan memperlengkapi. Dan kiranya jemaat senantiasa menopang dengan doa serta semangat kebersamaan.”

Tidak hanya itu, Gembala Jemaat GIA Purwodadi menyatakan sukacitanya atas kehadiran seorang pendeta muda di tengah jemaat. “Kami melihat Daniel sebagai pribadi yang memiliki semangat, dedikasi, dan kerendahan hati. Ia adalah jawaban doa jemaat untuk pemimpin rohani yang membumi dan rohani.”

Penutup: Sebuah Awal Baru dalam Ladang Tuhan

Ibadah penahbisan ini ditutup dengan nyanyian pengutusan dan pelukan hangat dari jemaat. Air mata haru mengalir bukan sebagai tanda perpisahan, tetapi sebagai ungkapan sukacita atas dimulainya sebuah panggilan pelayanan yang baru.

Dengan ditahbiskannya Sdr. Daniel Kuswanto, S.Th sebagai Pendeta Muda, Gereja Isa Almasih Jemaat Purwodadi memasuki babak baru dalam pelayanannya. Kiranya kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah pelayanan beliau, dan semoga kehidupan serta pelayanannya menjadi berkat yang besar bagi jemaat dan masyarakat luas.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Ibadah Penahbisan Pendeta Suyoto, S.Th Di Gereja Isa Almasih Jemaat Randugunting

Ibadah Penahbisan Pendeta Suyoto, S.Th Di Gereja Isa Almasih Jemaat Randugunting

“Ditetapkan untuk Melayani Sang Setia”

Randugunting, Jawa Tengah Minggu, 25 Mei 2025 menjadi hari bersejarah dan penuh makna bagi seluruh jemaat Gereja Isa Almasih Jemaat Randugunting. Bertempat di gedung gereja yang megah dan bersahaja, dilangsungkan Ibadah Penahbisan Pendeta Suyoto, S.Th yang kini resmi melayani sebagai pendeta dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih. Ibadah dimulai tepat pukul 16.00 WIB, disambut dengan banyaknya jemaat dan tamu undangan.

Acara ini dihadiri oleh jajaran Majelis Pusat Harian (MPH) sebagai perwakilan tertinggi Sinode, Majelis Daerah II, para Pendeta dan tokoh gereja dari wilayah sekitar, serta seluruh Majelis dan jemaat GIA Randugunting. Tak hanya itu, panitia pelaksana yang bekerja keras mempersiapkan acara dan perangkat desa dari wilayah Randugunting juga turut hadir dan memberikan dukungan penuh, memperlihatkan sinergi luar biasa antara gereja dan masyarakat.

Suasana Penuh Penghayatan: Dari Penyembahan Hingga Penumpangan Tangan

Ibadah diawali dengan puji-pujian dari tim musik dan paduan suara jemaat yang mengangkat tema kesetiaan Tuhan dan panggilan pelayanan, menciptakan suasana khidmat yang mengarahkan hati seluruh hadirin kepada Tuhan.

Puncak acara adalah momen penumpangan tangan dan doa penahbisan oleh jajaran MPH dan MD II kepada Bapak. Suyoto, S.Th. Prosesi ini disertai dengan pengakuan iman dan komitmen pelayanan dari yang ditahbiskan. Momen tersebut berlangsung dengan penuh haru, saat keluarga, rekan sepelayanan, dan jemaat menyaksikan peneguhan panggilan ilahi yang telah diterima oleh Pdt. Suyoto.

Pesan Penguatan: “Ditetapkan Untuk Melayani Sang Setia”

Dalam pesan yang dibawakan oleh Pdt. Andreas Mulyadi, M.Th, mewakili Majelis Pusat Harian, disampaikan sebuah penegasan yang kuat:

“Saudara Suyoto tidak hanya ditahbiskan oleh gereja, tetapi telah ditetapkan oleh Tuhan sendiri untuk melayani Sang Setia, yaitu Tuhan Yesus Kristus.”

Pesan ini bukan sekadar seruan, tetapi sebuah pengingat bahwa menjadi pendeta adalah perjalanan panggilan hidup yang lahir dari ketaatan kepada Kristus, bukan hanya dari kehendak manusia. Pelayanan pendeta bukanlah profesi biasa, melainkan respons kepada panggilan ilahi yang penuh tantangan sekaligus berbuah kekekalan.

Perangkat Desa Turut Meriahkan: Kolaborasi Yang Menguatkan Komunitas

Salah satu momen menarik dan menyentuh dalam penahbisan ini adalah kehadiran perangkat desa dari wilayah Randugunting. Keterlibatan aktif mereka, mulai dari dukungan kehadiran hingga partisipasi simbolik dalam acara, mencerminkan eratnya hubungan antara gereja dan pemerintah lokal.

Kebersamaan ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa terlibat aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Keguyuban dan kolaborasi antara gereja dan desa menjadi bukti nyata bahwa keberadaan gereja dapat memberi dampak yang positif dan membangun komunitas secara menyeluruh.

Harapan Ke Depan: Pelayanan Yang Berakar, Berbuah, Dan Berdampak

Penahbisan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pelayanan yang lebih luas. Bagi Pdt. Suyoto, ini menjadi momentum penting untuk menjalani tugas penggembalaan dengan penuh integritas, kasih, dan kesetiaan. Harapan besar juga hadir dari jemaat agar gereja terus bertumbuh dalam kekudusan, pengajaran yang sehat, dan penginjilan yang berdampak.

Seluruh rangkaian acara diakhiri dengan ramah tamah sederhana yang penuh sukacita, di mana seluruh tamu, majelis, dan jemaat dapat berbagi kebahagiaan bersama.

Penutup

Penahbisan Pendeta Suyoto, S.Th. menjadi saksi nyata dari kesetiaan Tuhan yang terus menumbuhkan pemimpin-pemimpin rohani di tengah-tengah gereja-Nya. Acara ini tidak hanya menyentuh aspek rohani, tetapi juga memperlihatkan kekuatan kebersamaan lintas lembaga.
Selamat melayani, Pdt. Suyoto. Kiranya Tuhan Yesus yang telah memanggil akan menyertai dan memperlengkapi pelayanan Saudara hingga akhir.

Categories
Liputan Seputar Sinode

TIGA MAHKOTA ROHANI DI GIA LAWANG: PENAHBISAN PENDETA, ULANG TAHUN GEREJA KE-60, DAN LAWATAN ROH KUDUS DALAM SATU IBAHDAH PENUH KEMULIAAN

TIGA MAHKOTA ROHANI DI GIA LAWANG: PENAHBISAN PENDETA, ULANG TAHUN GEREJA KE-60, DAN LAWATAN ROH KUDUS DALAM SATU IBAHDAH PENUH KEMULIAAN

Sebuah perayaan agung membahana di kota Lawang, Malang. Pada hari Minggu, 8 Juni 2025, Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Lawang menyelenggarakan ibadah luar biasa yang mencakup tiga peristiwa rohani penting: Penahbisan Pendeta Baru, Ulang Tahun ke-60 Gereja, dan Pencurahan Roh Kudus. Acara ini berlangsung penuh sukacita, kekhidmatan, dan semangat kebangunan yang membara di tengah-tengah umat Tuhan.

Persiapan yang Matang, Jemaat yang Antusias

Berlokasi di Jl. Ngamarto No. 5, Lawang, Malang, gereja telah dipersiapkan dengan sangat rapi. Suasana sudah dipenuhi dengan keceriaan dan semangat rohani. Jemaat dari berbagai daerah, hamba-hamba Tuhan, serta perwakilan gereja GIA lainnya hadir memenuhi setiap bangku yang tersedia.

Tampak hadir pula Pimpinan Pusat Harian (MPH) Sinode Gereja Isa Almasih, para pendeta dari Daerah V Sinode GIA, dan para tamu undangan terhormat lainnya. Suasana menjadi semakin hangat dengan sambutan hangat dan pelayanan dari para panitia yang mengarahkan dan menyambut setiap tamu dengan penuh kasih.

Penahbisan Pendeta Baru: Lahirnya Pelayan Tuhan yang Baru

Salah satu inti acara hari itu adalah penahbisan pendeta baru, yang dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan menurut tata gereja GIA. Ibadah ini menjadi momen yang penuh haru dan harapan, ketika dua orang hamba Tuhan resmi ditahbiskan menjadi pendeta, yaitu:

  • Pdt. Yoanda Nancy, S.Th., M.Pdk
  • Pdt. Timotius Haryoni, S.Th., M.Ag. Cand.

Dengan disaksikan banyak anggota jemaat dan pemimpin gereja, kedua pendeta ini menerima pengutusan dan tanggung jawab ilahi untuk menggembalakan umat Tuhan. Prosesi penahbisan dilakukan melalui penumpangan tangan, doa pengutusan, dan pernyataan sumpah pelayanan — menandai awal dari pelayanan mereka sebagai gembala sidang yang sah dalam tubuh Gereja Isa Almasih.

Ulang Tahun Gereja ke-60: Jejak Kesetiaan Tuhan Tak Pernah Berhenti

Usai penahbisan, ibadah dilanjutkan dengan perayaan Ulang Tahun ke-60 Gereja Isa Almasih Lawang. Selama enam dekade, gereja ini telah menjadi tempat pertumbuhan rohani, pelayanan kasih, dan saksi Kristus di tengah masyarakat Lawang.

Dalam kilas balik sejarah gereja yang ditampilkan lewat media visual dan kesaksian para jemaat senior, tampak betapa besar kesetiaan Tuhan dalam menjaga, menumbuhkan, dan memperluas pelayanan di tempat ini. Sejarah GIA Lawang ditandai oleh kerendahan hati para pelayan, semangat jemaat, dan pertolongan Tuhan yang tidak pernah berhenti.

 

Firman Tuhan: Roh Kudus Membawa Revival bagi Gereja-Nya

Puncak ibadah semakin terasa ketika Ketua Sinode Gereja Isa Almasih, Pdt. Budi Cahyono Hartono, menyampaikan Firman Tuhan bertema “Lawatan Roh Kudus Membawa Revival bagi Gereja-Nya.”

Dalam pesan yang kuat dan menyentuh, beliau menyampaikan bahwa revival bukanlah semata program gereja, melainkan hasil dari lawatan Roh Kudus yang bekerja di hati umat yang haus dan rindu akan hadirat-Nya.

Beberapa poin utama khotbah:

  • Revival terjadi saat gereja hidup dalam kehausan rohani, bukan rutinitas.
  • Lawatan Roh Kudus menghidupkan kembali panggilan pelayanan gereja.
  • Revival yang sejati menghasilkan buah: kesatuan, pelayanan, dan keberanian bersaksi.

Pdt. Budi juga menegaskan bahwa usia 60 tahun bukanlah akhir, melainkan permulaan baru bagi GIA Lawang untuk memasuki musim pelayanan yang lebih kuat dan penuh kuasa.

Tiga Momen Sakral, Satu Kehendak Ilahi

Hal yang sangat unik dari ibadah kali ini adalah tiga peristiwa besar bersatu dalam satu momen kudus:

  1. Penahbisan Pendeta Baru, sebagai simbol regenerasi dan keberlanjutan pelayanan gereja.
  2. Perayaan Ulang Tahun Gereja ke-60, yang mengingatkan jemaat akan kesetiaan dan penyertaan Tuhan.
  3. Pencurahan Roh Kudus, sebagai tanda dimulainya era kebangunan rohani dan pergerakan baru dalam tubuh Kristus.

Perpaduan tiga momen ini menjadi penanda bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang luar biasa bukan hanya bagi GIA Lawang, tetapi bagi seluruh jemaat di bawah naungan Sinode Gereja Isa Almasih.

Penutup: Gereja yang Siap Menyala dan Dipakai Tuhan

Setelah seluruh rangkaian ibadah usai, acara ditutup dengan pemotongan tumpeng ulang tahun, foto bersama, dan makan kasih bersama seluruh jemaat dan tamu undangan. Suasana penuh damai dan sukacita, namun juga sarat dengan semangat dan tekad baru untuk memasuki musim yang lebih besar dalam pelayanan.

Hari itu, GIA Lawang bukan hanya merayakan sejarah. Mereka merespon panggilan untuk menjadi gereja yang bersinar, dipenuhi kuasa Roh Kudus, dan berjalan dalam rancangan Tuhan yang lebih tinggi.

Dengan lahirnya pendeta-pendeta baru, usia gereja yang semakin matang, serta pencurahan Roh Kudus yang nyata, GIA Lawang melangkah dengan percaya bahwa masa depan gereja akan semakin terang, berbuah, dan berdampak bagi kota dan bangsa.

Categories
Liputan Seputar Sinode

MOMEN PENUH PENGURAPAN DI PEKANBARU: PENDETA MUDA CHRISTO GINTING, S.Th DITAHBISKAN DALAM UPACARA KHIDMAT YANG SARAT MAKNA ROHANI

MOMEN PENUH PENGURAPAN DI PEKANBARU: PENDETA MUDA CHRISTO GINTING, S.Th DITAHBISKAN DALAM UPACARA KHIDMAT YANG SARAT MAKNA ROHANI

Pekanbaru, 29 Mei 2029; Sebuah lembaran baru terbuka di halaman pelayanan Gereja Isa Almasih (GIA) Pekanbaru. Suasana yang penuh kekhidmatan dan keharuan membungkus seluruh jalannya acara Pentahbisan Pendeta Muda Christo Ginting, S.Th, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Mei 2029 di Gereja Isa Almasih Pekanbaru. Peristiwa ini bukan hanya menjadi sejarah baru bagi jemaat lokal, tetapi juga mencerminkan kesinambungan pelayanan dan pergerakan panggilan ilahi di tengah-tengah gereja masa kini.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak penting dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih, khususnya dari Majelis Daerah IX. Tampak hadir para pemimpin gerejawi, para hamba Tuhan dari berbagai jemaat di wilayah Daerah IX, serta seluruh warga jemaat GIA Pekanbaru yang datang dengan penuh antusias untuk menyaksikan dan mendukung pentahbisan pelayan Tuhan yang baru. Seluruh ruangan ibadah dipenuhi dengan suasana penyembahan dan pengharapan, diselingi dengan alunan pujian yang mengangkat jiwa dan hati umat kepada Allah.

Namun, yang membuat pentahbisan ini terasa sangat emosional dan tidak biasa, adalah sebuah kejadian yang tak terduga: pendeta yang awalnya dijadwalkan untuk menahbiskan berhalangan hadir. Dalam momen yang sangat menentukan itu, tanggung jawab penahbisan diambil alih oleh Pendeta Julianus Ginting, yang tak lain adalah ayah kandung dari Pendeta Muda Christo Ginting. Pendeta Julianus sendiri menjabat sebagai Ketua Majelis Daerah IX sekaligus Gembala Jemaat GIA Pekanbaru, menjadikan momen ini bukan sekadar upacara resmi, melainkan juga sebagai peristiwa warisan rohani dalam lingkup keluarga dan gereja.

Dengan suara mantap dan hati yang penuh kasih, menyampaikan pesan Firman Tuhan bertema: “Menjadi Saksi Kristus” yang diambil dari Matius 28:16-20. Dalam khotbahnya, beliau menekankan bahwa tugas seorang hamba Tuhan bukanlah kehendak pribadi, tetapi perintah langsung dari Sang Raja segala raja. Amanat Agung yang tertulis dalam Injil Matius bukan hanya menjadi seruan bagi para rasul, tetapi juga berlaku untuk setiap pelayan Tuhan di sepanjang zaman.

Tiga alasan mendasar mengapa setiap pelayan Tuhan harus menjadi saksi Kristus dijabarkan dengan tegas:

  1. Karena itu adalah amanat agung, perintah langsung dari Tuhan sendiri (Matius 28:19). “Tugas seorang hamba adalah melakukan kehendak Tuannya,” ujar Pendeta Julianus dengan nada tegas namun penuh kasih.
  2. Bersaksi bukanlah opsi, melainkan kewajiban yang melekat pada panggilan pelayanan (Matius 28:20). Menyampaikan Injil adalah bentuk ketaatan yang tak bisa dinegosiasikan.
  3. Melayani bukanlah beban, tetapi kehormatan mulia yang dipercayakan oleh Tuhan kepada manusia biasa (Matius 28:18). Bahwa Allah memilih kita untuk menjadi alat-Nya adalah suatu anugerah besar.

Beliau juga menyoroti bahwa dalam proses menjadi saksi Kristus, setiap pelayan Tuhan harus belajar percaya dan bersandar penuh pada rencana dan penyertaan Tuhan. Dikutip dari Yeremia 29:11, disebutkan bahwa Allah memiliki rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan, untuk memberi masa depan yang penuh harapan. Dan Yeremia 17:7 meneguhkan bahwa berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan, bukan pada kekuatannya sendiri.

Sebagai penutup, menyampaikan sebuah perumpamaan yang menyentuh hati seluruh jemaat:
“Hidup kita ibarat film, dan kita adalah pemeran utamanya. Namun ingatlah, sutradaranya adalah Tuhan. Film itu akan berjalan dengan baik hanya jika aktor mengikuti arahan Sang Sutradara. Demikian pula hidup kita: akan berjalan sesuai rencana ilahi jika kita hidup taat kepada kehendak Tuhan, bukan menulis skenario kita sendiri.”

Setelah pemberitaan Firman, tibalah pada momen puncak: penumpangan tangan dan doa pentahbisan. Dalam suasana yang sangat syahdu, jemaat menyaksikan seorang ayah yang adalah gembala, menahbiskan anaknya sendiri ke dalam pelayanan penuh waktu sebagai hamba Tuhan. Tangisan haru mengalir di antara jemaat, tidak sedikit yang meneteskan air mata ketika menyaksikan hubungan antara dua generasi pelayan Tuhan dipertemukan dalam satu titik panggilan ilahi yang menggetarkan.

Prosesi pentahbisan ini tidak hanya menjadi simbol seremonial belaka, tetapi juga menjadi tanda bahwa pelayanan terus berlanjut. Estafet panggilan Tuhan berjalan dari generasi ke generasi dan hari itu, tongkat pelayanan itu secara resmi diserahkan kepada Pendeta Muda Christo Ginting.

Dengan semangat yang membara dan dedikasi yang lahir dari iman, Pendeta Muda Christo Ginting diharapkan menjadi teladan baru dalam pelayanan gereja. Kehadirannya menambah kekuatan baru bagi GIA Pekanbaru dan seluruh wilayah pelayanan Majelis Daerah IX.

Acara ini pun ditutup dengan ucapan syukur dari jemaat dan doa berkat bersama. Di tengah dunia yang berubah-ubah, pemanggilan seseorang menjadi pelayan Tuhan tetap menjadi peristiwa ilahi yang mengguncang langit dan menyentuh bumi. GIA Pekanbaru hari itu tidak hanya menyaksikan sejarah, tetapi menghidupinya.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Penetapan Emiritasi Pdt. Yusak Sutrisno Widodo: Keteladanan dalam Iman dan Pengabdian di GIA Pandean Lamper

Penetapan Emiritasi Pdt. Yusak Sutrisno Widodo: Keteladanan dalam Iman dan Pengabdian di GIA Pandean Lamper

Suasana haru dan penuh penghormatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pandean Lamper, Kota Semarang, saat digelar Ibadah Penetapan Emiritasi bagi salah satu tokoh pelayan Tuhan yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan jemaat dan gereja, Pdt. Yusak Sutrisno Widodo. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 18 Mei 2025, dan menjadi momen penting dalam perjalanan spiritual dan organisasi GIA, khususnya di wilayah Daerah II.

Dalam ibadah yang penuh dengan nuansa syukur dan refleksi ini, hadir berbagai pihak sebagai bentuk penghormatan dan dukungan, antara lain Majelis Pusat Harian Gereja Isa Almasih, Majelis Daerah II, jemaat GIA Pandean Lamper, serta para hamba-hamba Tuhan dari berbagai gereja di wilayah tersebut.

Emiritasi: Bukan Akhir, Tetapi Musim Baru Pelayanan

Tujuan utama dari ibadah ini adalah penetapan emiritasi atas Pdt. Yusak Sutrisno Widodo, seorang gembala yang telah menunjukkan dedikasi, integritas, dan kasih dalam melayani jemaat selama puluhan tahun. Keputusan emeritasi ini diberikan oleh Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih, setelah melalui proses pertimbangan yang mendalam dan bijaksana, terutama terkait kondisi kesehatan beliau yang secara realistis sudah tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan secara maksimal.

Namun, yang menjadi sorotan istimewa dalam momen ini adalah sikap ketulusan dan kerelaan hati dari Pdt. Yusak dalam menerima keputusan emeritasi ini. Dalam penyampaiannya di hadapan jemaat, beliau menyatakan bahwa emeritasi bukanlah akhir dari panggilan hidup, melainkan sebuah peralihan musim pelayanan, di mana ia tetap ingin menjadi berkat bagi tubuh Kristus, meskipun tidak lagi secara aktif menggembalakan.

“Saya tidak melihat ini sebagai akhir, tetapi awal dari peran baru untuk terus mendukung pelayanan dalam kapasitas yang Tuhan izinkan,” ujar Pdt. Yusak dengan penuh kerendahan hati. Pernyataan ini disambut dengan tepuk tangan dan air mata haru dari jemaat yang telah lama menjadi saksi pelayanan beliau.

Ibadah Penuh Penghormatan dan Spirit Kesatuan Tubuh Kristus

Ibadah penetapan ini berlangsung dalam suasana yang sakral dan menyentuh. Berbagai elemen liturgi dirancang untuk memberikan ruang bagi refleksi rohani, pengakuan atas pengabdian, dan juga pernyataan pengutusan untuk musim hidup yang baru. Sambutan dari Majelis Pusat dan Daerah menegaskan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh Pdt. Yusak merupakan teladan bagi semua pelayan gereja: mendahulukan kepentingan pelayanan dan kesejahteraan jemaat di atas kepentingan pribadi.

Pdt. Yusak dikenal sebagai sosok yang membangun hubungan yang kuat dengan jemaat, rendah hati, dan konsisten dalam mengajarkan nilai-nilai kasih Kristus. Tidak sedikit dari anggota jemaat yang menyampaikan kesaksian pribadi tentang bagaimana hidup dan pelayanannya telah menjadi inspirasi dan penguat iman.

Keteladanan dalam Kerelaan: Teladan untuk Generasi Pelayan Selanjutnya

Penetapan emiritasi ini menjadi contoh konkret kepemimpinan yang bertanggung jawab dan sadar akan batas, sekaligus membuka ruang regenerasi yang sehat di dalam tubuh gereja. Di saat banyak orang berjuang untuk mempertahankan posisi, Pdt. Yusak menunjukkan kerelaan hati untuk menepi demi kelangsungan pelayanan yang efektif dan sehat, tanpa kehilangan semangat untuk terus melayani dalam bentuk yang baru.

Sikap ini menjadi pesan kuat bagi seluruh pelayan dan pemimpin rohani di Indonesia bahwa panggilan pelayanan tidak berhenti pada jabatan atau gelar, tetapi terus berlangsung selama hidup masih ada dan hati tetap tertuju pada Tuhan.

Penutup: Warisan Rohani yang Hidup

Ibadah ditutup dengan doa syafaat dan pengutusan simbolis bagi Pdt. Yusak Sutrisno Widodo, sebagai bentuk pengakuan gereja atas karya pelayanannya. Seluruh jemaat berdiri dan memberikan penghormatan terakhir secara simbolis kepada beliau sebagai gembala yang telah menyelesaikan tugasnya dengan setia.

Melalui kegiatan ini, Gereja Isa Almasih kembali menegaskan nilai-nilai dasar dalam pelayanannya: kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat melayani dalam kasih dan kebenaran. Emiritasi bukanlah sebuah titik akhir, melainkan transisi dalam panggilan yang kekal, di mana Tuhan terus memakai hidup umat-Nya dalam berbagai musim dan cara.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Fellowship Pria Kristen Yosua GIA Daerah V Satukan Semangat Kebersamaan: Pria-Pria Tuhan dari Jawa Timur Penuhi GIA Klayatan

Fellowship Pria Kristen Yosua GIA Daerah V Satukan Semangat Kebersamaan: Pria-Pria Tuhan dari Jawa Timur Penuhi GIA Klayatan

Sebuah persekutuan yang penuh semangat dan kehangatan iman terjadi di Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Klayatan, Kota Malang, pada hari Kamis, 01 Mei 2025. Banyak pria dari berbagai jemaat Gereja Isa Almasih yang tergabung dalam wilayah Majelis Daerah V Sinode GIA berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Fellowship Persekutuan Pria Kristen Yosua”. Acara ini menjadi momentum penting dalam mempererat persaudaraan di antara kaum pria Kristen yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan di gereja dan keluarga.

Diselenggarakan oleh Majelis Daerah V, kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai jemaat di Jawa Timur, di antaranya: GIA Klayatan sebagai tuan rumah, GIA Anambas, GIA Sukun, GIA Karangkates, GIA Lawang, GIA Lumajang, GIA Mojosari, GIA Kediri, GIA Darmo Surabaya, dan GIA Plaosan. Total keterlibatan jemaat yang luar biasa ini mencerminkan besarnya antusiasme kaum pria dalam membangun kesatuan dan komitmen dalam pelayanan Kristen di wilayah ini.

Persekutuan Pria Kristen Yosua: Teguh, Bersatu, dan Penuh Inisiatif

Dengan tema besar “Kebersamaan dalam Tuhan Menjadi Kekuatan”, kegiatan ini menjadi ruang pembaruan semangat dan penguatan identitas pria Kristen dalam panggilan hidup mereka baik di keluarga, gereja, maupun masyarakat. Tujuan utama dari persekutuan ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan di antara pria-pria Kristen GIA di Daerah V, sekaligus menjadi forum berbagi pengalaman rohani, tantangan, dan inspirasi antarjemaat.

Yang menjadi sorotan unik dalam kegiatan ini adalah keterlibatan spontan dan aktif dari hampir seluruh peserta, terutama dari jemaat-jemaat GIA yang berada di wilayah Jawa Timur. Tanpa dikomando, para pria saling menawarkan diri untuk mengisi acara, memimpin pujian, berbagi kesaksian, hingga membantu logistik kegiatan, menciptakan suasana yang hidup dan penuh kekeluargaan. Hal ini mencerminkan semangat pelayanan yang tumbuh bukan karena programisasi formal, tetapi karena kesadaran spiritual dan kerinduan untuk membangun tubuh Kristus.

Wadah Persekutuan yang Membentuk Karakter Pemimpin Kristen

Dalam salah satu sesi refleksi, perwakilan Majelis Daerah V menyampaikan bahwa kaum pria Kristen memegang peran vital sebagai pemimpin rohani dalam keluarga dan gereja, namun mereka juga menghadapi tantangan zaman yang kompleks. Oleh sebab itu, fellowship semacam ini menjadi oase rohani dan forum pembentukan karakter, di mana para pria tidak hanya berkumpul, tetapi diperlengkapi secara rohani dan emosional untuk terus bertumbuh dalam panggilan mereka.

Acara ini tidak hanya berupa ibadah dan sesi firman, tetapi juga diisi dengan diskusi kelompok, sharing pengalaman pelayanan, dan sesi doa antarpria yang saling mendoakan dalam pergumulan mereka. Suasana saling membuka hati ini menciptakan iklim yang aman dan mendalam bagi pemulihan serta pertumbuhan iman pribadi.

Kebersamaan Nyata, Di Atas Segala Perbedaan

Hal yang paling terasa dari persekutuan ini adalah kebersamaan yang melampaui batas geografis, usia, dan latar belakang masing-masing jemaat. Dari pria muda hingga lansia, dari pendeta hingga jemaat biasa, semua membaur dalam semangat satu tubuh di dalam Kristus. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, yang terlihat hanya wajah-wajah penuh sukacita dan semangat pelayanan yang diperbarui.

Bahkan di luar sesi formal, suasana kekeluargaan terasa sangat hangat. Para peserta duduk bersama menikmati makanan sederhana yang disediakan oleh panitia, berbincang ringan hingga tertawa lepas sebuah gambaran kecil dari kerajaan Allah yang hadir di tengah komunitas yang bersatu dalam kasih.

Langkah Awal Menuju Jejak yang Lebih Besar

Di akhir kegiatan, panitia menyampaikan harapan agar Fellowship Pria Kristen Yosua ini tidak berhenti sebagai acara tahunan, tetapi menjadi gerakan rohani yang terus berdenyut di setiap jemaat. Beberapa jemaat bahkan mulai merencanakan untuk mengadakan pertemuan lanjutan dalam skala lokal atau regional.

Kegiatan ini juga menjadi panggilan bagi para pria Kristen untuk lebih aktif dalam pelayanan, lebih dekat satu sama lain, dan lebih peka terhadap kehendak Tuhan dalam setiap musim kehidupan mereka.

Kesimpulan: Suatu Gerakan, Bukan Sekadar Kegiatan

Fellowship Persekutuan Pria Kristen Yosua Majelis Daerah V di GIA Klayatan menjadi tonggak penting dalam memperkuat jaringan pelayanan pria di lingkungan GIA, khususnya di Jawa Timur. Dengan antusiasme tinggi, keterlibatan aktif, dan suasana yang penuh ketulusan, acara ini membuktikan bahwa gereja yang kuat dimulai dari pria-pria yang mau dibentuk dan dipakai Tuhan.

Ini bukan sekadar kegiatan, melainkan ini adalah gerakan spiritual yang membangkitkan kembali kesadaran akan panggilan sebagai pria Kristen: kuat, rendah hati, dan setia dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama.