Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Lagi Viral

Bahaya Data Pribadi

Bahaya Data Pribadi

Redaksi TheHOPE.id, menyarankan hati-hati dengan peringatan bahaya akan data kita. Eehhh, malah diabaikan. Gimana tuhh kalau peringatan akan iman kita dalam bahaya karena ulah kita akankah ditindak lanjuti???

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Data Pribadi Johnny G. (Menkominfo) Bocor! Warganet Malah Lakukan Ini”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/alfaridzi1826/631c67ab4addee283e2af4d4/data-pribadi-johnny-g-menkominfo-bocor-warganet-malah-lakukan-ini
Kreator: AL Faridzi

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Muda Inspiratif

Waspadai Generasi Sandwich

Waspadai Generasi Sandwich

“Beban Berat “Generasi Sandwich”, oleh surat kabar nasional Kompas, dijadikan head line berita, Kamis, 8 September 2022, kemudian diulas lagi dalam opini harian surat kabar yang sama, Selasa, 13 September 2022, dengan judul “Beban Generasi “Sandwich” dan Peluang Bonus Demografi”. Suatu pemaparan yang sangat serius, sehingga Kompas merasa perlu menyerukan fenomena generasi sandwich ini. Apakah generasi sandwich sungguh serius sehingga perlu diperhatihan dengan sungguh-sungguh? Apakah generasi Sandwich itu?
Oleh: Team Redaksi theHOPE.id
Majalah theHOPE.id, merasa terpanggil untuk mengupas sedikit banyak tentang generasi Sandwich ini. Berikut dua orang yang merupakan wajah generasi Sandwich yang sempat memberikan kisahnya.

“Saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayah meninggal beberapa hari setelah saya lulus kuliah, sehingga saya berkewajiban membiayai kebutuhan keluarga. Tak ada sepeser pun warisan untuk saya. Semua tagihan otomatis menjadi tanggung jawab saya” ujar Joko yang berusia 35 tahun, dikenal generasi Sandwich.

“Saya tidak punya cukup uang untuk itu, terutama mengingat betapa masih ada tanggungan. Tapi saya masih membantu mereka. Misalnya, kalau minyak goreng, sabun cuci, beras dan gula kopi yang mulai sudah mau habis, saya yang akan membelinya. Ayah masih bekerja meski sudah tua. Kenyataan hidup mengharuskan mereka untuk terus bekerja. Jadi saya pasti akan membantu kalau ada yang bisa dibantu. Saya juga tidak pernah minta ini-itu kepada orang tua,” ujar Lily berusia 26 tahun.

Gambaran percakapan dua generasi Sandwich yang menerima kenyataan hidup dan terus berjuang untuk bisa mempertahankan eksistensinya. Sebenarnya apa itu generasi Sandwich itu?
Asal mula istilah generasi Sandwich
Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1981 oleh seorang Profesor sekaligus direktur praktikum University Kentucky, Lexington, Amerika Serikat bernama Dorothy A. Miller. Generasi sandwich merupakan generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya.

Kondisi tersebut dianalogikan seperti sandwich dimana sepotong daging terhimpit oleh 2 buah roti. Roti tersebut diibaratkan sebagai orang tua (generasi atas) dan anak (generasi bawah), sedangkan isi utama sandwich berupa daging, mayonnaise, dan saus yang terhimpit oleh roti diibaratkan bagai diri sendiri.

Dikutip dari berbagai sumber, generasi Sandwich terjadi pada seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki rentan umur dari 30 hingga 40 tahun. Namun ada pula yang menyebutkan rentang umur antara 30 hingga 50 tahun. Namun, seorang Aging and Elder Care Expert (seniorliving.org) bernama Carol Abaya mengkategorikan generasi Sandwich menjadi tiga ciri berdasarkan perannya.
1. The Traditional Sandwich Generation
Orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.

2. The Club Sandwich Generation
Orang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).

3. The Open Faced Sandwich Generation
Siapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.
Jika dilihat dari bebannya saja, dari sini kita sudah bisa merasakan bahwa generasi ini memiliki beban hidup yang cukup bahkan sangat berat. Lantas, mengapa generasi sandwich ini dapat terjadi?

Banyak faktor yang melatarbelakanginya, namun pada umumnya ini terjadi karena kegagalan finansial orang tua. Bukan maksud menyalahkan sepenuhnya, tapi orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya akan berpotensi besar untuk membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya. Dan selanjutnya sang anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai orang tua yang tidak mandiri di masa tuanya, dan pada akhirnya berlanjut begitu seterusnya.
Menjadi perhatian bersama
Posisi generasi sandwich sebagai tulang pungung keluarga menempatkan mereka dalam tekanan dan impitan. Di satu sisi, mereka mesti memikul kebutuhan keluarga, satu sisi harus ikut menopang kehidupan generasi di atasnya, terutama orangtua. Sebagian dari mereka juga mesti membantu menutupi kebutuhan saudara kandung dan keluarga besar lainnya.

Dalam banyak kasus, mereka harus bekerja ekstra keras tanpa memiliki ruang untuk merancang masa depan keluarganya sendiri, yang bisa lebih sejahtera.

Jajak pendapat generasi sandwich Indonesia
Generasi Baby Boomer dan Silent >55 tahun…7.5%
Generasi X, 40-50 tahun,…32.6%
Generasi Y, 24-39 tahun,…43.6%
Generasi Z , <24 tahun,…16.5%

Ikut memberi bantuan ekonomi
Ya, memberi bantuan…67% dan tidak memberi bantuan 33%

Status ekonomi
Menengah atas…16.3%
Menengah bawah…44.8%
Bawah…36,2%
Sumber limbang Kompas/AVN/RFC/ 8 September 2022

Seperti mengutip dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas, pada 9-11 Agustus 2022 kepada 504 responden di 34 propinsi. Hasilnya jajak pendapat menunjukkan 67% responden mengaku menanggung beban sebagai generasi sandwich.

Bagi generasi sandwich yang sudah berumah tangga, dampak yang paling terasa adalah dampak ekonomi. Hal ini karena seiring bertambahnya usia dan kebutuhan perawatan, orang tua harus berkompetisi dengan kebutuhan cucunya, seperti biaya pendidikan. Padahal, sumber daya yang dimiliki anak mereka dalam rumah tangga dapat dibilang masih terbatas.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa generasi sandwich juga dapat menderita konsekuensi psikologis. Dampaknya antara lain adalah stres, depresi, minim pola hidup sehat, bahkan sampai meningkatnya ketidakpuasan pada hubungan pernikahan.


Frustrasi sosial
Menurut Tantan Hermansah sosiolog dari Universitas Islam Negeri Jakarta, mengatakan, nasib generasi sandwich di Indonesia, terutama yang berpendapatan rendah, amat memprihatikan. Mereka dipaksa keadaan untuk bekerja keras tanpa pernah mencapai tingkat kesejahteraan yang memadai.
Penghasilan mereka habis untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan keluarga besarnya. Mereka tidak ada ruang untuk menabung atau beriventasi. Mereka juga tidak ada sempat untuk lari dari tekanan hidup seperti rekreasi atau sekedar melepaskan kepenatan. Tekanan hidup makin kuat dan memuncak manakala harga-harga kebutuhan bahan pokok dan bahan bakar naik. Kenaikan harga yang kian menambah frustrasi ketika inflasi naik, beruntung ada bantuan pemerintah. Sementara itu, apa yang dilihat di media sosial gaya hidup yang serba wah dan aksi-aksi yang membuat mereka frustrasi.

Apa yang dilakukan gereja
Telah menjadi kebiasaan yang baik adalah gaya hidup gereja mula-mula, yaitu untuk mengasihi, saling peduli, merangkul satu dengan yang lain dengan bantuan sesuai dengan kebutuhan (Kis 2:41-47, 4:32-37). Ketika jaman guncang, gaya hidup yang diwariskan dan diteladankan oleh jemaat mula-mula atau gereja mula-mula tak akan goyah ataupun surut oleh waktu dan zaman.
Tindakan kepeduliaan ini bukan dibicarakan tapi dilakukan. Tindakan kasih dalam perbuatan itu dipraktekan dalam perbuatan ke dalam dan keluar. Artinya, perbuatan kasih itu mulai dari diri sendiri dan mengalir keluar bagi orang lain. Orang yang mengerti kasih di dalam dirinya, ia akan mengalirkan perbuatan kasih bagi sesamanya. Bukankah Tuhan hadir ditengah-tengah orang saling berbuat kasih? (red)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Resensi Buku

Kehendak Tuhan Laksanakan

RESENSI LAGU

Kehendak Tuhan Laksanakan

“Dalam penyerahan dan kejernihan hati untuk mencari kehendak Tuhan dan melakukankannya, kita dimampukan bukan hanya mengetahui arah yang dikehendaki-Nya tetapi juga beroleh kekuatan baru untuk terus hidup dalam kehendak-Nya” – (ibu Teresa)
Pernahkah Saudara merasa kecewa karena kerinduan Saudara tidak terkabulkan? Padahal kerinduan tersebut sangatlah mulia. Sudah bertanya kepada Tuhan, tetapi belum mendapat jawaban yang diinginkan. Akhirnya tiba pada keputusan : “Apakah saya perlu memaksakan kehendak saya atau berserah kepada pimpinanNya?” Hal itu mirip dengan kisah Adelaide Addison Pollard, seorang pengarang lagu hymne dan gospel.

Adelaide adalah seorang wanita yang punya keinginan yang kuat. Banyak pendapat dan apa yang dilakukannya kadang bertentangan dengan cara berpikir dan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen. Namun demikian, Pollard memiliki satu hal yang sama dengan Saudara-saudara seimannya yaitu ia sungguh ingin supaya kehendak Tuhanlah yang terjadi dalam hidupnya. Keinginannya itu pernah diungkapkannya dalam sebuah nyanyian rohani, yang kini telah menjadi salah satu lagu yang memberkati banyak umat Kristen di seluruh dunia, khususnya dalam hal penyerahan diri. Lagu tersebut diberi judul ‘Have Thine Own Way, Lord’ (Jadilah Tuhan KehendakMu).
Mengikuti Jalannya Sendiri
Adelaide dilahirkan pada tanggal 27 November 1862, di Bloomfield, Iowa, Amerika Serikat. Sejak kecil, wanita yang banyak mengarang lagu Hymne dan Gospel ini rupa-rupanya tidak begitu menghiraukan nasihat orang lain. Ia lebih suka mengikuti jalannya sendiri. Bahkan nama Sarah Addison Pollard yang diberikan oleh orang tuanya itu tidak berkenan di hatinya. Malah ia mengganti namanya menjadi Adelaide Addison Pollard.

Nona Adelaide yang keras kepala itu memang memperoleh pendidikan yang cukup baik di Denmark, Iowa dan Valparaiso, Indiana. Ia juga bersekolah di The Boston School of Oratory (sekolah pidato) di Boston dan di The Moody Bible Institute (sekolah Alkitab) di Chicago, Illinois. Kemudian pada tahun 1880 ia pindah ke Chichago, Illinois dan menjadi guru di beberapa sekolah perempuan di kota tersebut. Ia sangat terkenal sebagai guru Alkitab. Baik Adelaide maupun seluruh keluarga Pollard adalah orang-orang Kristen yang saleh. Namun setelah ia dewasa, Adelaide Pollard jarang bertemu lagi dengan sanak saudaranya. Mungkin penyebabnya ialah karena ia selalu tertarik pada aliran-aliran Kristen yang oleh orang lain dianggap ‘sekte yang aneh-aneh’.

Pernah selama beberapa waktu Adelaide mensupport seorang penginjil John Alexander Dowie yang mengutamakan penyembuhan Illahi. Alexander Dowie menyatakan dokter dan obat-obatan sebagai kejahatan dan melarang anggota jemaat untuk memakainya. Alkohol dan tembakau juga dilarang. Menurut kesaksiannya sendiri, Adelaide Pollard disembuhkan dari penyakit kencing manis (walau pada hakekatnya kesehatannya itu tetap kurang stabil). Kemudian ia beralih kepada seorang penginjil lainnya Stanford, yang mengutamakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Nona Adelaide bekerja sama dengan penginjil itu untuk mengumpulkan dana agar dapat ikut serta dengan suatu rombongan utusan Injil ke benua Afrika. Tetapi usahanya itu gagal.

Dengan kerinduan yang masih terpendam itu, Adelaide Pollard mulai mengajar di sebuah sekolah tinggi tempat latihan untuk para calon utusan Injil di Nyack-Hudson. Baru pada waktu ia sudah setengah umur, akhirnya dapat jadi juga pergi ke Afrika. Tetapi ia hanya sempat melayani di sana selama beberapa bulan saja. Pecahnya Perang Dunia I, memaksanya mengungsi ke negeri Skotlandia. Seusai perang, barulah ia dapat pulang ke negeri asalnya, Amerika. Namun kesehatannya yang makin memburuk cukup menjadi penghalang untuk bekerja sepenuhnya. Sepanjang hidupnya, bahkan pada waktu ia sudah mulai berusia lanjut, Nona Adelaide terus mengembara sambil mengabarkan Injil dan mengajarkan isi Alkitab. Hanya pada saat kondisi badannya lemah saja, ia pulang ke keluarganya, sampai kesehatannya agak pulih kembali, dia baru pergi lagi.

Menjelang Natal tahun 1934, ketika umurnya 72 tahun, Adelaide Pollard yang sakit-sakitan, pergi ke stasiun di New York untuk membeli sehelai karcis kereta api, karena hendak pergi ke Philadelphia untuk berperan serta di kebaktian gereja di sana. Tetapi wanita yang sudah tua itu jatuh sakit ketika menunggu kereta api dan batal ke Philadelphia. Karena sakitnya itu, akhirnya Adelaide A. Pollard meninggal pada tanggal 20 Desember 1934, ketika itu ia berada di London, Inggris dan di kuburkan di Elmwood Cemetery, Fort Madison, Iowa.

Mengikuti Jalan Tuhan
Mungkin cara hidup Adelaide A. Pollard itu boleh dianggap agak aneh. Namun demikian, sebenarnya ia adalah seorang wanita Kristen yang rajin dan setia dalam melayani Tuhan. Dalam beberapa hal ia memang bersikeras mengikuti jalannya sendiri. Tetapi dalam hal yang sungguh berarti, ia selalu berusaha mengikuti jalan Tuhan. Adelaide, sama seperti ibunya dulu, suka mengarang syair-syair rohani. Walaupun ia sendiri tidak tahu berapa banyak karangannya, karena ia tidak pernah mengharapkan apalagi minta imbalan untuk karya-karyanya itu. Bahkan ia tidak suka membubuhi namanya pada semua hasil karyanya. Sebagian besar tulisan-tulisannya ditandatangani hanya dengan inisial A.A.P. Ada yang menghitung lebih dari 100 lagu Hymne dan lagu Gospel telah dibuatnya. Satu di antaranya adalah lagu ‘Have Thine Own Way, Lord’.

Ketika Adelaide memiliki beban besar bagi Afrika, ia ingin sekali pergi ke sana sebagai misionaris. Tetapi dana yang dibutuhkan tidak mencukupi. Ia merasa sedih sekali dan pada waktu hatinya diliputi rasa kecewa, ia menghadiri suatu pertemuan doa. Hadir juga pada saat itu seorang wanita Kristen yang sudah lanjut usianya. Dalam doanya Wanita tua itu berkata;”Tuhan asal aku dalam kehendak-Mu. Aku akan taat.” Nah, isi doa orang tua tersebut lah yang menginspirasikan Adelaide Pollard untuk mengarang lagu ‘Have Thine Own Way, Lord’.

Permohonan yang sederhana itu sangat berkesan di hati Adelaide Pollard. Ia merasa terdorong untuk memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan. Kalau memang bukan kehendak Tuhan supaya ia pergi ke Afrika, maka hal itu tidaklah menjadi soal. Buku Story Behind The Songs terbitan Yis Production menjelaskan lebih lengkap berikut foto-fotonya.

Sepulangnya dari pertemuan doa itu, Adelaide membuka Alkitab dan membaca Yeremia 18:3-4 : “Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. Ayat tersebut memberikan kepada Adelaide Pollard suatu pandangan yang baru : “Rupa-rupanya hingga kini Tuhan telah membentuk hidupku, seperti tanah liat di dalam tangan-Nya. Tetapi mungkin kemauan keras hendak pergi ke Afrika itu telah membuat hidupku rusak, sehingga Tuhan harus membentuknya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya”. Cukup lama Adelaide merenungkan kata-kata itu. Ketika dia memahami, rasa damai menenangkan jiwanya. Pada malam itu juga ia mengambil kertas dan menulis keempat bait dari nyanyian ‘Have Thine Own Way’ seperti yang dinyanyikan umat Kristen hingga sekarang.

Dinyanyikan pertemakali Tahun 1907
Beberapa waktu kemudian, syair-syair lagu yang dibuat Adelaide A. Pollard itu dilengkapi melodinya oleh George Coles Stebbins, salah satu musisi Injil terkemuka abad ini. Ia dilahirkan pada 26 Februari 1846, di negara bagian Orleans County, New York, Amerika Serikat. Pada umur 13 tahun ia sempat mengikuti suatu kursus musik di Buffalo dan Rochester, New York, kemudian menjadi guru vocal. Pada tahun 1869 ia pindah ke kota besar Chicago, Illinois yang menandai awal karir musiknya. Di sana ia bergabung dengan perusahaan musik ‘The Ly­on and Hea­ly’ sebagai anggota staf dan merangkap menjadi direktur (pemimpin) musik di Gereja Baptis Pertama tahun 1870. Selama di Chicago itu ia berkenalan dengan para pemimpin yang berkecimpung dalam musik gereja, antara lain : Dwight L. Moody, Ira D. Sankey, George Root dan juga dengan Philip P. Bliss dan Mayor D.W. Whittle.

Pada usia 28 tahun, Stebbins pindah ke Boston, Massachusetts dan menjadi direktur musik di Gereja Baptis Claredon Street, dimana yang menjadi pendetanya adalah Dr. Adoniram J. Gordon. Dua tahun kemudian yaitu tahun 1876, Stebbins menjadi direktur musik di Tremont Candi di Boston. Setelah beberapa tahun menjadi pemimpin musik di gereja yang besar, pada musim gugur ia mengundurkan diri. Kemudian ia menjadi pemimpin musik dalam kampanye-kampanye kebangunan rohani yang diadakan bukan hanya di Amerika, melainkan juga di Eropa dan Asia. Di samping itu, ia pun mengarang beratus-ratus lagu rohani.

Pada musim gugur tahun 1890, ia bersama Elma Miller, istrinya dan juga anaknya, pergi ke India untuk bekerja di antara penduduk yang berbahasa Inggris dari negara itu. Selama mereka tinggal di sana, Stebbins dan istri serta anak mereka memberi pelayanan musik di beberapa kota utama negara itu. Sekitar tahun 1900, Stebbins menghabiskan tahun-tahun hidupnya sebagai penginjil di India, Mesir, Italia, Palestina, Perancis dan Inggris.

Baru pada tahun 1907 George C. Stebbins menerbitkan salah satu dari beberapa buku kumpulan nyanyian pujian yang pernah disusunnya. Untuk koleksi yang baru itu, ia mengarang sebuah melodi yang digabungkannya dengan sebuah syair karangan Adelaide A. Pollard. Maka terbentuklah ‘Have Thine Own Way‘ yang telah menjadi salah satu lagu favorit umat Kristen sampai saat ini, baik di Indonesa maupun di beberapa negara lainnya.

Stebbins meninggal pada 6 Oktober 1945, di kota Catskill, New York, di usia 99 tahun. Dan dikubur di Lawn Cemetery Maple, Kew Gardens, Brooklyn, New York. Sekeras apapun juga sifat yang Saudara miliki, jika dibawa dan diserahkan ke dalam tanganNya, maka Tuhan Sang Khalik itu akan membentuknya menjadi seseorang yang berguna bagi sesama dan kerajaanNya. Rasa kecewa, patah hati, pahit dan perasaan sejenisnya yang Saudara alami merupakan dari proses pembentukanNya. Hiduplah dalam penyerahan kepadaNya, bukan hanya karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi karena kita tahu bahwa Dia adalah Penjunan yang handal dan dapat dipercaya. Di saat Saudara tidak kuat berdoalah: “Sabarlah Tuhan, karena aku belum selesai…” (Sumber: Praise #16)
Have Thine own way, Lord
Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Thou art the Potter, I am the clay.
Mold me and make me after Thy will,
While I am waiting, yielded and still.

Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Search me and try me, Master, today!
Whiter than snow, Lord, wash me just now,
As in Thy presence humbly I bow.

Have Thine own way, Lord!
Have Thine own way!
Wounded and weary, help me, I pray!
Power, all power, surely is Thine!
Touch me and heal me, Savior divine.

Have Thine own way, Lord! Have Thine own way!
Hold o’er my being absolute sway!
Fill with Thy Spirit till all shall see
Christ only, always, living in me.
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
‘Kaulah Penjunan, ‘ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka-Mu,
‘kan ‘ku nantikan dan berserah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku
dan di depanMu, ‘ku menyembah.

Jadilah Tuhan Kehendak-Mu
Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tolong, ya Tuhan, ‘ku yang lemah!
Segala kuasa di tangan-Mu;
jamahlah aku, sembuhkanlah!

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
S’luruh hidupku kuasailah.
Berilah Roh-Mu kepadaku,
agar t’rang Kristus pun nyatalah.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Muda Inspiratif

Aku, Gereja, dan Alam

Aku, Gereja, dan Alam

Kalian sadar ga sih, kalau intensitas bencana hidrometeorologi semakin meningkat belakangan ini? Banjir bandang, badai tropis, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan terjadi di Indonesia dan bahkan di seluruh belahan dunia. Semua bencana ini memang diakibatkan oleh hal yang alamiah, tapi semuanya ini diperparah dengan adanya faktor pemanasan global yang disebabkan oleh manusia, termasuk kita. Sebagai generasi muda Kristen, apa sih yang bisa kita lakukan?
Oleh: Fransiscus Litani Santoso (@fransiskus_ls)
TheHOPE.id – Kalian sadar ga sih, kalau intensitas bencana hidrometeorologi semakin meningkat belakangan ini? Banjir bandang, badai tropis, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan terjadi di Indonesia dan bahkan di seluruh belahan dunia. Semua bencana ini memang diakibatkan oleh hal yang alamiah, tapi semuanya ini diperparah dengan adanya faktor pemanasan global yang disebabkan oleh manusia, termasuk kita. Sebagai generasi muda Kristen, apa sih yang bisa kita lakukan?

Jujur terkadang aku merasa sedih karena banyak sekali Gereja yang tidak mengajarkan betapa pentingnya menjaga alam dan lingkungan yang kita tinggali ini. Sedikit sekali kotbah yang berisi tentang alam dan lingkungan. Bukankah salah satu tujuan awal mula Tuhan menciptakan manusia adalah untuk menjaga dan merawat Taman Eden?

“Tuhan mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” – Kejadian 2:15

Bahkan sesimpel untuk membuang sampah pada tempatnya saja kita masih belum disiplin. Coba kalian perhatikan sehabis kebaktian selesai deh, biasanya banyak sampah yang berserakan di bangku Gereja, di halaman parkir, dan di kantin Gereja kan? Aku cukup sering menegur orang-orang yang membuang sampah sembarangan, dan responsnya mayoritas ada tiga: (1) Nanti ada petugas yang bersihin kok, (2) Orang lain juga begitu kok, (3) Emangnya kamu siapa, kok ngatur-ngatur saya?

“Alam semesta dan segala isinya adalah milik Tuhan” – Mazmur 24:1

Bukankah seharusnya sebagai orang Kristen kita harus bisa menjaga alam yang notabene adalah milik Tuhan? Ayo teman-teman generasi muda Kristen, mari kita cintai alam Indonesia yang begitu indah ini. Mulailah dari hal yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat pemakaian listrik dan air, mengurangi penggunaan plastik, dan sebisa mungkin menggunakan transportasi publik. Jangan takut juga untuk menegur orang lain yang lebih tua, yang terpenting adalah kita harus menegur mereka dengan kasih.

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” – 1 Timotius 4:12

Apabila semua orang menuntut orang lain untuk berubah terlebih dahulu, maka tidak akan ada seorang pun yang akan memulainya. Oleh karena itu, jika kita ingin mengubah dunia, mulailah dari diri kita sendiri. Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan.

“Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” – 1 Timotius 4:15

Kita sebagai generasi muda Kristen harus menjadi agen perubahan di Gereja, agar Gereja tempat kita bertumbuh juga bisa menjadi saksi bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Aku, Gereja, dan Alam. -fls
Fransiskus Litani Santoso, adalah putra pertama Pdt. DR. Agus Santoso, baru menyelesaikan sarjana di Jerman dan sekarang melanjutkan pasca sarjana di tempat yang sama.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Seputar Sinode

Menghadirkan Keharuman Kristus

Menghadirkan Keharuman Kristus

Sematan kalung bunga pada kedua hamba Tuhan, menjadi tanda sukacita yang diungkapkan dalam ibadah penahbisan Pendeta dan Pendeta Muda pada tanggal 22 September 2022 di Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Barukan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Kedua hamba Tuhan yang ditahbis adalah Bapak Diwoko, M. Mis sebagai pendeta dan Bapak Panggih Susanto, S. Si. Theol. sebagai pendeta muda. Pendeta Diwoko, M. Mis. akan melanjutkan pelayanan di GIA Jemaat Barukan TPI Kebon Pete. Sementara Pendeta Muda Panggih Susanto, S. Si. Theol. akan membantu pelayanan di GIA Jemaat Barukan.

Bunga adalah simbol keharuman dan keindahan. Kiranya langkah kedua hamba Tuhan ini juga menghadirkan keharuman dan keindahan Kristus di tempat mereka melayani. Allah Tritunggal senantiasa memimpin dan menyertai.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Seputar Sinode

Dilayakkan untuk Melayani

Dilayakkan untuk Melayani

Sebuah peristiwa yang membangkitkan rasa syukur ketika kita sebagai manusia berdosa, dipanggil, dipilih dan dilayakkan untuk melayani Tuhan. Itulah yang memenuhi suasana Ibadah Penahbisan Pendeta dan Pendeta Muda di Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bumirejo, Karangawen, Demak, pada Senin, 19 September 2022.
TheHOPE.id – Koor Wanita GIA Jemaat Bumirejo melantunkan lagu Pakai Aku Tuhan sebagai ungkapan kesiapan kedua hamba Tuhan yang ditahbis untuk melayani. Kedua hamba Tuhan tersebut adalah Yosua Hadi Kartono, S. Th yang ditahbis sebagai pendeta, dan Andrias Putut Teguh Mulyono, S. Th. yang ditahbis sebagai pendeta muda. Pdt. Yosua Hadi Kartono, S. Th. akan melanjutkan pelayanan di GIA Jemaat Bumirejo – TPI Muaro, Jambi. Sementara Pdm. Andrias Putut Teguh Mulyono, S. Th. akan melayani di GIA Jemaat Bumirejo, Karangawen, Demak. Selamat untuk kedua hamba Tuhan yang ditahbis. Kiranya Allah Tritunggal senantiasa menuntun dalam pelayanan di tempat yang dipercayakan-Nya. (ns)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Sapaan Gembala

Ketakutan di dalam Pikiran

Ketakutan di dalam Pikiran

Oleh: Yonathan Subur
"Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku"
Mazmur 94:19
TheHOPE.id – Dalam suatu pertemuan, Gus Dur ditanya oleh seseorang ; “ Gus, apa kuncinya Bahagia itu”

“Jangan memikirkan apa yang kamu tidak tahu”

Kalau sudah diketahui, Gus.

“Lha kalau sudah tahu buat apa dipikir”

Manusia sering masuk perangkap memikirkan yang belum waktunya dan tidak akan terjadi. Seorang ibu berkata kepada temanya, “Kalau nanti lulus lalu kerja di mana? Berapa gajinya. Dan misalnya sudah kerja bisa untuk membantu tidak”

“Saya apa bisa hidup dengan penghasilan segini, nanti belum beli beras , beli laukpauknya dan kebutuhan lainnya. Sumpek, pusing dan ngak tahu saya”. Sambil ngedumel, ibu ini ngeloyor pergi.

Ada kata yang menarik ditulis demikian, “perhatikanlah” (94:8) untuk semua kecemasamu itu. Pemazmur membuka pemikiran kita untuk mengerti akan maksud dan pemikiran pemazmur yang tegas;”perhatikanlah…”. Mazmur inilah yang mengajak pembacanya atau pelantunnya untuk memperhatikan bahwa untuk mengerti segala sesuatu yang dituliskan dan masalah yang dihadapi manusia dan manusia yang percaya kepada Tuhan Allah, pemikirannya harus di bawah Pemikiran Tuhan Allah.

Sebab pikiran manusia itu sepertinya percaya atau beranggapan Tuhan tidak tahu apa-apa dan tidak memahami apa yang harus diperbuat bagi bangsa atau orang perorang (ayt.9-11), apalagi orang percaya. Baginya orang hanya tercipta dan hidup sedangkan orang percaya nasipnya sama. Benarkah? Orang yang percaya sebagai mana mazmur ini diciptakan dan dinyanyikan serta di ajarkan bahwa hari harinya ada dalam pengawasan Tuhan dan Tuhan mengerti apa yang dibutuhkan juga disaat dalam malapetaka, “untuk menangkan diri dia terhadap hari sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya” (ayt. 12-14).

Karena itu, jangan menumpuk kecemasanmu dalam tubuh dikehidupan ini. Jangan menambah segala sesuatu yang makin membuatmu gelisah tetapi tenangkanlah dirimu di dalam Tuhan yang hidup dan mengetahuinya serta bertindak dengan cara-Nya.

Jadi, rambut dikepalamu sudah dihitung semua jangan takut. Semua hari-harimu diketahui Tuhan.

Jadi, sebelum semuanya terwujud, kita ingin bertobat dari yang benih pemikiran yang jahat mulai tumbuh. Apalagi jika ada kesempatan untuk melakukannya maka dengan secepat kilat kaki kita melakukannya dan akibatnya adalah dosa mencengkeram dan jerat hidup kita. Jadi pikiran kitalah yang membuat kita menjadi orang jahat yang memunculkan rupa-rupa perbuatan dosa atau cemas serta melihat semuanya serba tertutup, tidak harapan.

Di dalam pikiran kita, bahwa Tuhan tidak peduli, tidak mampu dan Tuhan tidak sanggup serta Tuhan jauh meninggalkan, lawanlah dengan kebenaran-Nya yang seperti tertulis, “Siapakah yang bangkit bagiku…Jika bukan Tuhan yang menolong aku, …Ketika aku berfikir, “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. Ingatlah baik-baik, kita hanya bisa tenang karena percaya dan mempercayai Tuhan dalam segala keadaan dan bahkan secara khusus hari-hari dalam malapetaka, semua harga naik dan tiap orang hanya memegang jidatnya sambil berkeluh kesah, belum lagi pandemic covid 19.

Kadangkala kita tidak mengolah pikiran kita dengan baik, pikiran kita cenderung melakukan kejahatan dan buah dari ketakutan atau kekwatiran semata-mata. Oleh sebab itu pikiran kita harus menjadi satu dengan pikiran Allah di dalam Yesus Kristus supaya apa yang kita pikirkan bukan saja kebutuhan kita melainkan pikiran kita berpadan dengan pikiran Kristus dan pikiran kita hanya melakukan Firman Tuhan, Sebab TUHAN tidak membuang umat-Nya, milik-Nya…tidak akan ditinggalkan-Nya;

Pemikiran manusia yang terbatas, cemas dan tak mampu lagi, maka TUHAN mengerti dan memahami memberikan jaminan-Nya yang di luar batas kemampuannya, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

Helen Roseveare seorang dokter lulusan Universitas Cambridge yang melayani di negara Zaire Afrika yang dulunya bernama Congo, dengan segala keterbatasannya. Suatu kali ia harus melayani ibu yang hamil dan akan melahirkan. Kecemasannya dirasakan seorang anak perempuan yang bernama Ruth berumur 10 tahun, menjadi pendoa bersama anak anak lainnya. Walau usaha Helen telah sekuat tenaga, ibu yang hamil meninggal dunia, dan bayi yang selamat tapi karena kondisinya, butuh botol pemanas badan yang terbuat dari karet. Helen hanya memiliki satu alat itu untuk bayinya, itupun dalam kondisi yang agak rusak.

Ruth gadis kecil itu, merasakan kecemasannya. Ia berdoa meminta alat kompres;”Tolonglah Tuhan kirimkan alat kompres, kami butuh alat kompres dan boneka kecil untuk kakaknya yang menangis sedih, Tuhan untuk menghiburnya ”. Sesuatu permintaan doa yang tidak mungkin dan mustahil. Itu hanya doa anak-anak, pikir Helen. Sebab bagaimana tidak, jika bantuan datang dari Inggris, membutuhkan waktu tiga bulan. Dan kondisi bayi yang butuh botol itu sangat mendesak. Besok siang, ada pengumuman ada paket datang. Dan Helen menangis. Ketika paket di buka, satu-persatu isinya di keluarkan; satu botol pemanas. Helen tidak berani untuk meminta itu secara langsung pada Tuhan, tetapi Ruth yang melakukannya.

Ruth berkata, “Bila Tuhan mengirimkan alat pemanas berarti Dia juga mengirimkan sebuah boneka!” Dia membongkar semua isi paket dan akhirnya dia menemukan sebuah boneka cantik. Mata Ruth bersinar dan dia berkata, “Dapatkah kita menemui gadis kecil itu dan memberikan boneka ini sehingga dia tahu bahwa Yesus mengasihinya?”. Jalan yang tadinya penuh kemustahilan dan menjadi tidak mustahil bagi orang percaya.

Tuhan mengerakkan Roh Kudus-Nya untuk memberikan segala kekuatan pemikiran, bertindak, bertahan dan kekuatan untuk bertidak. Tuhan memberikan melalui kuasa Roh Kudusnya, segala kekuatan yang dibutuhkan untuk bertindak dengan sebaik-baiknya dan terus belajar menata pikiran diselimuti kebenara firman Tuhan dan tidak cemas sebagai anak-anak Tuhan di tengah dunia ini.

Mengutamakan pikiran dan menyatukan pikiran kita dengan pikiran Allah di dalam Kristus Yesus memang tidak semudah kita bicara, tetapi dengan pertolongan dari Roh Kudus maka tidak ada yang mustahil.

Jadi, bacalah Firman-Nya dan jangan tinggalkan persekutuan dengan sesama orang percaya. Lewat pujian dan Firman kita akan memperoleh penghiburan Tuhan. Tidak jarang Tuhan pun menghibur hati lewat orang lain; akan ada hal kecil yang dilakukan orang yang membuat kita terhibur.

Kita tidak lagi meratapi hidup dan mempertanyakan kemungkinan yang ada; kita percaya bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan sempurna. Iman dasar akan menerima penghiburan dari Tuhan. Karena itu, mari kita satukan pikiran kita kepada Kristus supaya kita senantiasa memikirkan apa yang Firman Tuhan katakan dan tidak memberi kesempatan sekecilpun bagi sijahat untuk tampil dan menggocoh hidup kita. -ys

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Margin

No Problem, Sir!

No Problem, Sir!

Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-rajadi bumi akan membawa kekayaan mereka kepadanya.
Wahyu 21: 24

TheHOPE.id – “No poblem sir…”, jawab guide mantap dan meyakinkan setiap ada permintaan dari turist yang ada dirombongannya. Tidak peduli permintaan itu seperti impossible untuk diwujudkan. Yang penting hati para turist puas terlebih dahulu. Jika usaha sang guide mentok dan tak mampu lagi mewujudkan permintaan tersebut, ia lantas berucap; “I’m very proudly to serve you but I’m sorry…” Amat impressive!.

Dalam buku berjudul, The Incomparable Christ- “Kristus yang tak Tertandingi”, John Stott menulis dengan tajam dan luar biasa mengenai Kristus dalam kitab Wahyu. Ia menulis dengan maksud satu hal; gereja harus siap berkata; “No problem Sir!” dalam melaksanakan seluruh kebenaran-Nya secara khusus di bidang Misi. Jika seorang guide, mengucapkan , no problem sir, dalam motif relasi bisnis maka bukan demikian halnya dengan gereja; misi adalah no problem sekalipun banyak tantangan. Gereja menyatakan kalimat yang tersebut karena ia percaya kepada Siapa yang mengutusnya!.

“ Pada titik ini (ps 21: 22-26)…bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. Tidak ada lagi malam di sana. Sebab kemuliaan Allah meneranginya, tulis Jhon Stott. Lalu ia menambahkan demikian, ”Semua ini oleh kedaulatan Allah. Kristus akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Selanjutnya ia menulis, ” Bangsa-bangsa akan menyembah Dia dan kemuliaan-Nya akan dilihat oleh seluruh umat manusia. Bukan di batasi selubung seperti Musa. Akan tetapi nyata berhadapan dengan muka dengan muka. Dan itulah tujuan utama Allah bagi umat-Nya”. Maka pemberitaan Injil menjadi tugas yang bersifat sukacita bagi gereja, sebab ada bukti kuat bangsa-bangsa telah dibawa ke hadapan Kristus dan mereka menyembah Dia. Inilah yang dikatakan bukti hasil bagi gereja sebelum tugas pemberitaan Injil dilaksanakan oleh gereja-Nya. Selanjut Yohanes menambahkan demikian (ps 22: 1-2) berita salib dengan gambaran ”pohon” – bukan hanya kabar sukacita akan keselamatan bagi Bangsa-bangsa akan tetapi juga menjadi kesembuhan bagi bangsa-bangsa. Luar biasa.

Tak pelak lagi, bahwa sebenarnya dalam studinya pada kitab Wahyu, John Stott ingin menyatakan dengan tegas — kalau tidak boleh dikatakan membakar semangat gereja, bahwa bangsa-bangsa telah dibawa-Nya dan mereka menyembah-Nya. Kristus telah menyatakan kemuliaan-Nya. Tugas gereja-Nya hanya menyatakan Injil yang menyelamatkan dan menyembuhkan itu!. Selanjutnya, biarkan Kristus akan menyatakan terang dan menyatakan kemuliaan-Nya dalam setiap kesaksian gereja akan berita Injil. Maka mewujudkan Amanat Agung dalam memberitakan Injil bukan tugas yang mustahil!. Jadi menyatakan Injil bukan beban tetapi tugas yang menyukakan.

Sampai detik hari ini, Kristus terus ada di balik tugas gereja dalam menyatakan Injil. Maka setiap orang percaya seharusnya menanggapi perintah dalam menyatakan Injil Tuhan dengan antusias menjawab, “No poblem Sir!. -Ys

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Kupas

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.
John Piper

Tulisan di bawah ini adalah wawancara dengan John Piper yang dimuat disini. Ini adalah salah satu artikel, di mana ada peserta studi mengambil program D.Th/Ph.D. Berikut di bawah ini adalah terjemahan bebas, ketika di wawancarai:

Sebagai orang yang sudah melewati studi Ph.D, apakah anda akan merekomendasikan hamba Tuhan lain untuk mengambil pendidikan di jalur itu juga?

Maksud anda, hamba Tuhan yang sudah menggembalakan di gereja atau yang masih berencana untuk menggembalakan? Saya John Piper, akan menjawab untuk keduanya.

Jika anda sudah menjadi gembala, saya tidak menyarankan untuk mengambil Ph.D. Anda harus bekerja sangat keras untuk itu dan hasilnya sangat kecil. Sangat kecil.

Ketika saya mengatakan sangat kecil, saya tidak berarti mempelajari Alkitab akan kecil hasilnya. Tetapi karena anda harus membaca begitu banyak sampah untuk mendapatkan Ph.D. Anda harus menjadi ahli dalam apa yang dikatakan oleh orang lain, yang kebanyakan adalah salah.

Kebanyakan yang ditulis di dunia ini tidak benar. Dan seorang Ph.D harus menjadi seorang ahli. Maka anda harus membaca banyak sekali materi yang sama sekali tidak menolong.

Saya pikir harus ada orang yang melakukan itu. Saya senang ada seorang Don Carson yang seperti sudah membaca segala sesuatu di bawah matahari, maka punya kapasitas untuk berespon dengan baik.

Saya sangat setuju ada kebutuhan lapisan akademis yang sadar apa yang terjadi di luar sana dan bisa mengajar dan menulis. Maka, ya dan amin.

Tetapi penggembalan bukanlah itu. Penggembalaan terutama bukanlah tempat dimana anda harus tahu semua hal salah yang pernah dikatakan orang tentang sepotong kecil biblical theology. Penggembalaan adalah menggembalakan orang dari Firman.

Sekarang kembali ke hal yang positif: Jika program Ph.D disusun -dan ada beberapa yang seperti itu!- untuk membuat anda mempelajari Alkitab selama tiga atau empat tahun dan mengerti implikasinya yang lebih besar untuk kehidupan dan realitas, maka, dalam perjalanan anda menuju ke penggembalaan, itu bisa sangat bernilai.

Tapi program Ph.D saya tidak disusun seperti itu. Dan ketika saya selesai dengan tiga tahun itu, saya hanya mendapat selembar kertas, bahasa Jerman, dan apresiasi kepada teologi yang akademis; tetapi saya tidak bertumbuh banyak, kecuali yang saya bisa peroleh sendiri.

Maka adalah mungkin untuk mengambil Ph.D yang bodoh untuk selembar kertas. Saya jauh lebih suka anda mengambil Ph.D yang bijaksana – yaitu, pergi ke tempat dimana mereka mengizinkan anda terutama mempelajari Alkitab. Ya, anda akan harus membaca materi lain. Tetapi anda ingin keluar setelah tiga tahun dengan pengertian yang besar, dalam, kuat, mantap, akan Allah dan jalan-jalanNya di dalam dunia, bukan hanya sepotong kecil apa yang ribuan orang ngaco katakan tentang sepotong kecil ayat di dalam Alkitab. Itu adalah cara menggunakan tiga tahun yang sangat menyedihkan.

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.

Saya bahkan tidak pernah membuka tabung tempat ijazah saya sejak 1974! Saya belum membukanya! Ada di laci. Tidak ada orang yang tanya tentang itu. Itu tidak ada artinya lagi. (Mungkin itu berlebihan).

Di manakah pemikiran kristiani sangat dibutuhkan saat ini?

Saya kira ada sebuah panggilan kekal bagi gereja Kristen untuk menjalani kehidupan intelektual yang alkitabiah, kemudian memahami dan membelanya.

Saya pikir kita mengalami banyak tantangan. Kita mengalami masa ketika Alkitab menimbulkan persoalan. Alkitab dikritik habis-habisan, tetapi Tuhan membangkitkan pembela-pembela. Lalu kita mengalami masa ketika Alkitab bisa diterima apa adanya. Namun, saya kira pasang surut itu pasti terjadi. Kita memerlukan cendekiawan-cendekiawan yang menunjukkan bahwa Alkitab itu riil dan bisa dibuktikan secara ilmiah dan intelektual.

Dan di luar konteks tersebut, saya ingin mengatakan bahwa seluruh aspek kehidupan membutuhkan pemikiran kristiani.

Media menjadi sarana penting, termasuk Internet, komputer, dan email. Bagaimana semua itu bisa mengubahkan gereja dan cara penyembahan? Saya baru saja membaca buku karya Quentin Schultze tentang pemakaian teknologi presentasi yang bijaksana dalam kegiatan penyembahan. Ternyata ada orang yang sungguh-sungguh mendedikasikan kepandaiannya untuk meneliti sesuatu yang dipakai banyak orang, tetapi luput dari perhatian kita. Jadi, seluruh aspek teknologi memengaruhi kerohanian, dan pengaruhnya pada jemaat yang melakukan penyembahan merupakan salah satu aspek dalam pemikiran kristiani.

Namun, sesungguhnya saya masih sulit memahami hal-hal yang lebih spesifik karena mengira bahwa banyak aspek dalam kehidupan masyarakat — seperti politik, hiburan, bisnis, hubungan internasional, peperangan, dan masalah sosial seperti aborsi, kemiskinan, tunawisma, narkotika, dan pernikahan — menuntut pemikiran atau dukungan intelektual. Tidak satu pun yang bisa diselesaikan dengan cara emosional atau represif. Namun, kita seharusnya memiliki orang-orang yang mempelajari Alkitab dan memakai kecerdasan untuk menyampaikan kebenaran dan memberi solusi yang tepat terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dunia.

Jadi, saya hanya ingin mengatakan, marilah kita menghargai kehidupan, kehidupan yang selalu memedulikan setiap aspeknya.

John Piper (@JohnPiper) is founder and teacher of desiringGod.org and chancellor of Bethlehem College & Seminary. For 33 years, he served as pastor of Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. He is author of more than 50 books, including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and most recently What Is Saving Faith?

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Teropong

Tenang dan Percaya

Tenang dan Percaya

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: ”Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan. Yesaya 30:15

Oleh: Daniel Dwi Sumantoro

Era kebisingan
Dalam era tsunami informasi ini, salah satu yang menjadi ciri utama atau penting dari manusia adalah tidak mau diam. Diam adalah keadaan yang membuat manusia tersiksa atau meronta. Sebab di era informasi ini diam yang katanya mahal atau emas yaitu berdiam diri. Penulis artikel yang sangat terkenal dalam situs, Desiring God, John Piper, berjudul The Diffucult Habbit of Quiet, menjelaskan bahwa manusia saat sangat sulit berdiam diri dan tidak memiliki kebiasaan berdiam atau tenang. Berdiam diri dipadang kemunduran.

Ciri manusia modern adalah kesibukan yang luar biasa, aktivitasnya yang meningkat tajam tetapi juga kegaduhan, keriuhan yang membuat manusia tidak bisa membedakan dan mengenali dari mendengar suara yang patut didengar dan mana suara yang berupa kebisingan dari aktivitas yang meningkat. Harian Wall Street melaporkan sebagai hearing to much.

Sebuah lagu rohani dengan bunyi syair, “Tenanglah kini hatiku Tuhan memimpin langkahku di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya” serasa menyejukan hati setiap manusia yang rindu mendengarkannya dan berani menghayatinya dengan berdiam. Dengan banyaknya ragam permasalahan dibutuhkan ketenangan, dan rasa tenang tersebut berpotensi memunculkan kemampuan laten manusia untuk menumbuhkan kreasi solusi-solusi persoalan yang kekinian dan men-“segar”-kan.

Tenang dan Percaya
Tenang dan percaya adalah sebuah kekuatan. Jika manusia membiasakan kemampuan alaminya dengan meneduhkan hati dan mendengarkan suara Allah yang patut ia dengar dan menyatakan bahwa ada Allah yang mampu mengatasi segenap persoalan (Roma 10:17). Maka hal tersebut menimbulkan iman percayanya yang kemudian berusaha ia pahami bahwa benar adanya dan dipergunakan dalam praktik hidup dalam mengatasi persoalan.

Bukakah dalam berdiam diri pendengaran kita dipertajam untuk mendengar suara Allah?. Para murid Yesus yang mengalami kesulitan yang serius, ketika dalam perjalanannya kapalnya harus berhadapan dengan hantaman ombak. Kapalpun oleng dan nyaris tenggelam terhadap (Markus 4:36-41). Dalam kondisi seperti itu, Yesus berkata kepada badai dan topan itu;”Diam dan Tenanglah”. Dan Yesus berkata kepada murid-Nya adalah supaya mereka dapat tenang dan percaya, dan badai topan itu menjadi teduh taat kepada suara Tuhan.

Tenang dan percaya adalah sebuah kekuatan!. Di tengah kegaduhan, makin maraknya situasi kesulitan saat ini membuat manusia makin berusaha dengan caranya, seperti kata Yesaya, “ Tetapi kamu enggan, kamu berkata kami mau naik kuda dan lari cepat,”(Yes 30:16). Ini ciri manusia yang sudah tenggelam dengan kegaduhan situasi. Bukan suara kebenaran Allah tidak ada tetapi kegaduhan itu justru yang membuatnya tidak bisa berdiam diri dan percaya yang akibatnya berlari dengan cara-cara manusia naik kuda yang bisa berlari dengan cepat akibatnya akan lenyap dia.

Tokoh spiritual kristien Mark Yaconelli memperkenalkan suatu pengalaman yang menarik, bahwa ia melihat orang-orang yang sangat sibuk di Kota Atlanta, Georgia. Dimana ia melihat temannya melempar kepingan uang logam di tempat penyeberangan yang sibuk sekali. Dan heran ada orang yang masih bisa mendengar dan menoleh kepada bunyi uang logam itu. Lalu, ia mencatat kebenaran bahwa telinga manusia akan bisa mendengar suara dalam keriuhan manakala ada “perhatian yang tertuju pada suara itu”. Demikianlah dengan suara Tuhan yang ditujukan kepada orang percaya, hanya ketika orang percaya di tengah kesibukannya ada waktu untuk tertuju pada-Nya.

Bagi orang yang tidak bisa berenang, tercebur ke kolam yang dalam adalah pengalaman yang menakutkan. Orang itu tentu membutuhkan pertolongan. Namun, supaya dapat ditolong dia harus tenang, mendengarkan, dan menurut pada petunjuk penolongnya. Kepanikan hanya akan menambah bahaya baginya.

Kerajaan Yehuda sedang panik. Di tengah krisis, mereka sibuk mencari pertolongan dengan caranya sendiri. Mereka memutuskan untuk berlindung kepada bangsa lain yang mereka pikir lebih kuat daripada bangsa penyerang. Mereka mencari perlindungan kepada Mesir dan melupakan Allah (2). Padahal, Allah menginginkan agar mereka tetap tenang dan percaya kepada-Nya. Firman Allah yang datang kepada mereka mengingatkan bahwa berharap kepada Mesir dan kekuatan perangnya hanya akan membuat mereka malu, sebab Mesir tidak akan berdaya menghadapi Asyur (3, 7). Allah menyebut mereka sebagai anak-anak pemberontak, sebab sekalipun mereka adalah anak-Nya tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara-Nya yang datang melalui nabi-Nya. Justru mereka membungkam dan mengusir nabi itu (10-11). Saat Allah meminta mereka tinggal tenang dan berharap kepada-Nya, Orang-orang Yehuda justru sibuk dengan kepanikannya.

Kita pasti pernah mengalami peristiwa yang berat dalam hidup ini. Pada saat seperti itu, kita punya dua pilihan. Pertama, kita bereaksi terhadap kepanikan dan berpikir pendek mengenai penyelesaian masalah sesegera mungkin. Kedua, kita merespons dengan berhenti sejenak untuk menenangkan diri, berdoa memohon pertolongan Allah dan hikmat-Nya. Cara pertama akan mendorong kita untuk mengambil pilihan yang tidak cermat bahkan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Cara kedua akan memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja menolong dan membuat kita berpikir jernih.

Jadi, seperti kata Maya Anggelo seorang penasehat Gedung Putih, memberi nasehat, semua bergantung pada kita dan bagaimana kita memperlakukan semua tantang dan persolan yang terjadi itu. Kita mau memilih jalannya sendiri? Kemudian mencari jalan yang cepat dan bisa berlari dengan hebat yang seperti dikatakan oleh Yesaya kepada bangsa Israel itu, akhirnya lenyap. Atau dengan pilihan kerendahan hati, memilih dengan bertobat dan berdiam diri, cara ini justru kataTuhan, disitu kekuatanmu. Roh Kudus kiranya terus mengingatkan kita. -dds

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Sinode Gereja Isa Almasih
Jl. Pringgading 20, Semarang,
Jawa Tengah