Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Profil Gereja

Mengenal Lebih Dekat GIA Jemaat Genurid

Mengenal Lebih Dekat GIA Jemaat Genurid

Oleh Thomas Esha & Eka Pusaka Dharma

"Jika Anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Jika Anda tidak dapat melakukannya dengan cinta yang besar, lakukan dengan sedikit cinta. Jika Anda tidak bisa melakukannya dengan sedikit cinta, lakukan saja."
Ibu Teresa
TheHope.id – Tas ransel segera kukenangkan. Pak Thomas anggota team redaksi telah bersiap diri di depan kemudi. Bunyi mesin kendaraan yang akan membawa kami berdua terasa kurang sabar menanti. Akhirnya dari kota Semarang, kami meluncur ke desa Genurid. Sudah satu jam perjalanan kami dengan kendaraan roda empat menuju GIA Genurid, Ungaran. Kami berdua seperti menelusur jalan yang berhias aneka pohon layaknya desa di Jawa Tengah, hhmm…asri. Dalam perjalanan banyak disuguhkan pemandangan yang luar biasa terutama di jalan toll Banyumanik, kanan kiri sisi jalan yang memukau mata kami karena melewati lembah dan perbukitan. Saat keluar toll Banyumanik perjalanan dilanjutkan menuju Ungaran, memasuki jalan yang hanya bisa dilalui oleh dua kendaraan yang berlawanan dan melewati perkebunan karet yang sangat asri dan memukau mata.

Sambutan ‘Selamat Datang’ dari Gapura Desa Kawengen membuat kami harus segera bersiap-siap karena akan segera tiba ke tempat yang akan kami kunjungi. Kawengen adalah sebuah desa di kecamatan Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Di Desa Kawengen inilah lebih spesifik ada suatu kawasan bernama Genurid. Tibalah kami ke tempat yang kami kunjungi yaitu Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid. Udara desa Genurid menerpa tubuh kami, rasa segar dan terasa sapaan kasih dari saudara yang menyambut kami.

Gereja Genurid adalah benih perjuangan iman dan ketaatan untuk memberitakan berita injil. Berawal dari pengabaran Injil seorang pendeta dari Ungaran di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo sebagai pelindung GIA Jemaat Pringgading sekitar tahun 1977 yang melayani di daerah Genurid melalui sebuah persekutuan di rumah kepala dusun. Seiring berjalannya waktu persekutuan ini harus dihentikan karena dianggap kegiatan yang liar dan gelap, karena tidak memiliki ijin dari bapak lurah setempat. Pdt. Paulus yang melakukan perintisan di Genurid dari GIA Jemaat Sidomulyo meyakinkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter demi kesejahteraan masyarakat dengan membangun mental yang baik.

Setelah melalui pergumulan doa dan tindakan kasih, benih iman dan penginjilan mulai menampakkan hasilnya. Dimulai dari tetangga yang mulai merasakan kasih dan sukacita dari Tuhan yang disaksikan. Bersyukur ada tetangga-tetangga yang bersedia meminjamkan tempatnya untuk dapat melaksanakan kegiatan ibadah kalaupun para tetangga ini non Kristen. Misalkan Minggu ini di rumah Pak Sadini, lalu Minggu berikutnya di rumah Pak Sukardi. Satu tahun lamanya harus melaksanakan kegiatan ini berpindah-pindah. Akhirnya merasa bahwa tempat yang dipakai pada waktu itu bukan tempat untuk ibadah, maka tempat permanen menjadi pergumulan utama pada saat itu. Puji Tuhan, ada jawaban atas pergumulan doa, hingga akhirnya sekitar tahun 1978 ada lahan yang dapat dibangun walau sederhana menggunakan kayu dan bilik dari anyaman bambu.

Yahya Sawab seorang pemuda berasal dari desa tersebut dan aktif yang sejak awal mengikuti kegiatan ini merasa terpanggil oleh Tuhan untuk belajar theologia pada tahun 1981 di Sekolah Tinggi Theologia Berea, Salatiga dan selesai hingga tahun 1984. Pada tahun 1982, Bapak Slamet seorang Hamba Tuhan yang selama ini melayani di Tempat Pembinaan Iman (TPI) Genurid harus pindah pelayanannya ke GIA Jemaat Bawen, Semarang.

Akhirnya pada tahun 1982 setelah dua tahun belajar di STT Berea, Yahya Sawab harus bersedia bolak balik dari Salatiga ke Genurid setiap minggunya untuk membantu melayani TPI Genurid yang pada saat itu mengalami Pada saat itu, dana yang harus dimiliki oleh jemaat untuk membangun rumah ibadah setelah dianggarkan sebesar Rp. 19 juta. Angaran tersebut ditolak oleh gereja yang menuangi karena terlalu besar.

Tak habis akal, masalah tersebut dikomunikasikan dengan Pak Suh yang hamba Tuhan dari Korea, supaya lebih sering berkhotbah di TPI Genurid. Lalu dibuatlah jadwal yang rutin supaya dapat melayani di sana. Untuk mewujudkan pergumulan ini, pak Suh menyarankan supaya membangun sekolah Taman Kanak-kanak (TK) terlebih dahulu. Hal ini karena untuk membangun rumah Taman Kanak-kanak (TK) tidak terlalu besar anggarannya, baru selanjutnya fokus kepada gereja.
Pdt. Yahya Sawab
Pada tahun 1992 pembangunan TK mulai dilaksanakan dan menghabiskan anggaran sekitar 2,8 juta. Setelah pembangunan TK selesai mulailah fokus pembangunan gereja. Segeralah dibuat panitia pembangunan gereja. Kembali lagi, jemaat yang kecil berdoa kepada Allah yang besar yang empunya langit dan bumi serta Allah mereka.

Ketika pembangunan gereja selesai, sekitar 60 orang rombongan misi Korea hadir untuk meresmikan gereja sekaligus memberikan persembahan kasih untuk mendirikan pastori. Puji Tuhan di luar dugaan, selain membangun TK ternyata dalam satu tahun bisa membangun gereja bahkan sekaligus secara bertahap membangun pastori hingga selesai awal tahun 1993. TPI Genurid yang secara langsung di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo dan didukung oleh GIA Jemaat Pringgading didewasakan menjadi GIA Jemaat Genurid pada tahun 2007 dengan Gembala Jemaat pertama Pdt. Yahya Sawab. Jumlah jemaat saat itu berjumlah sekitar200 orang yang terdaftar walau yang aktif sekitar 80 orang jemaat.

Berbaur dengan masyarakat sekitar adalah juga hal yang utama supaya dapat terus diterima di tengah masyarakat. Turut aktif dalam kegiatan sosial menjadi hal yang penting seperti bermain bola voli yang dilakukan oleh Yahya Sawab, bahkan pernah juga diikutsertakan untuk menjadi calon lurah. Satu hal yang unik yang dimiliki oleh GIA Jemaat Genurid dan mungkin tidak ada di gereja lainnya adalah adanya speaker Toa yang dipasang di atap gereja dan berfungsi untuk mengumumkan hal-hal yang penting untuk masyarakat sekitar seperti berita dukacita dan pengumuman-pengumuman lainnya.

Gereja ini dibangun dengan kerukunan, segala hal yang ada di desa ini selalu dilakukan secara bersama-sama baik orang Kristen maupun non Kristen. Bahkan masyarakat sekitar menerima dan mendukung keberadaan gereja ini. Tak hanya itu, TK yang dibangun pun banyak anak-anak non Kristen yang belajar di tempat ini turut mengikuti kegiatan belajar secara Kristiani. Kerukunan memang menjadi hal yang utama di desa ini.

Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid telah belajar tumbuh bersama Tuhan Yesus Kristus yang Empunya jemaat Genurid, sampai sekarang dan yang akan datang. Beberapa waktu yang lalu ketika tulisan ini akan dimuat dalam artikel profil gereja, Gembala Jemaat GIA Genurid bapak Pdt. Yahya Sawab, berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menyambutnya, “Sabaslah hamba-Ku yang setia”. (te-epd)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Lagi Viral

Fashion on the Street

citayam fashion week

Demam Citayam Fashion Show melanda anak muda di mana mana. Maka muncullah demam citayam seperti kota Semarang ini. Para model dan warga mengikuti Fashion on The Street di sisi selatan Lapangan Pancasila, atau lebih di kenal Simpang Lima Semarang, Minggu ( 24/7) pagi. (suaramerdeka.com / Maulana M Fahmi).

Kapankah Kaum Muda Isa Almasih berunjukgigi pada dunianihh… ditunggu lah yaoooww…
Baca juga artikel lainnya
Categories
Margin

Selalu Ada Harapan

Selalu Ada Harapan

Oleh Yonathan Subur

TheHope.id- Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar dengan langkah tegang.

“Istri Anda dalam keadaan baik . Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan . Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini”, setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang minus memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.

Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang mulutnya terbuka, gemetar setelah menerima berita itu. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Jakunnya bergerak naik turun. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata;

“Dokkkkter, …mmm… bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa”.

Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju, lalu sang dokter itu bergegas pergi.

Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu . Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tanganya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasana kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.

“Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, tapi sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya.”. Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.

Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crottt.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya, keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging,, utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.

Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah itu terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak yang bentuknya agak aneh. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas bulan telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannyapun miring seperti tiang hampir roboh.

Kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal. Manusia telah menyimpulkan bahwa hidup William Cutts sudah pada titik, namun Tuhan justru sedang memulai hal yang baru.

“Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada”, demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya.

Tepat pada waktu-Nya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, “Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna”, II Korintus 12: 9. Inilah dasar pengharapan baginya.

Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janji-Nya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya-sekarang namanya Papua, Indonesia. Papua yang masih berhutan, bukit dan lembah dengan sungainya, dijelajah oleh William Cutts yang jalannya miring dengan segala kelemahannya.Tuhan meneguhkan janji-Nya, dalam kelemahan kuasa-Nya nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. (ys)
Baca juga artikel lainnya
Categories
Muda Inspiratif

We walk by faith, not by sight

christopher

We walk by faith, not by sight

Oleh Eka Setia Dharma

TheHope.id- Siapapun orangnya kalau melihat sosok bayi terlahir premature, dalam usia 25 minggu, buta dan darahnya tercemar narkotik dan sederet efek lainnya yang ada di tubuhnya. Orang pasti berkata, “Tinggal tunggu waktunya” atau setidaknya;”Siapa yang mau mengasuhnya.”

Bayi tersebut tergeletak dirajang bayi di panti asuhan dinas sosial milik pemerintah AS. Oleh Christine dan Steven Duffley, diambil dan asuhnya dengan penuh kasih. Bayi yang diberi nama Christopher Duffley yang terlahir dari calon adik ipar Christine. Namun sebelumnya, Christine kehilangan kontak selama beberapa bulan dengan adik dan calon adik iparnya itu.

Sampai akhirnya, pada bulan ke 14 pasca kelahiran Christopher, Christine mengetahui dari pihak petugas sosial, bahwa keponakannya itu ada di panti asuhan. Ia buta dan lahir dengan banyak sekali masalah kesehatan, termasuk autis. Christine sempat merasa takut dan bingung mengenai apa yang harus dilakukannya setelah tahu keadaan keponakannya.

Melihat harapan setelah berdoa
Christopher yang terlahir buta, autis dan sederet kelemahan lainya telah membuat Christine takut dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Meskipun begitu, entah mengapa, hati Christine tergerak untuk berdoa pada Tuhan. Dalam doanya, dia bertanya kepada Tuhan. “Tuhan, apa yang Kau ingin aku lakukan?” Melalui hati kecilnya, suara Tuhan datang dan menjawabnya dengan lembut. “Jangan takut, Aku akan mengatur semuanya.” Akhirnya, Christine menganggap keponakannya sebagai anak sendiri. Keajaiban mulai terlihat saat anak tersebut lahir dengan sebuah talenta. Suara selembut malaikat Christopher telah membuat banyak orang tergerak hatinya.

Dalam usianya yang masih lima tahun, ia sudah bisa membaca Alkitab huruf braile. Dan ketika membaca suatu ayat dengan yang nyaring, keras sepenuh hati yang menyaksikan imannya;”We walk by faith, not by sight” – sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. 2 Korintus 5:7. Maka keluarganya yang mendengar hal itu, memastikan diri untuk mengajar dan mengasuh dengan penuh iman meski tidak mudah. Tetapi yang jelas berjalan dengan iman banyak sekali perkara yang terlihat mustahil menjadi tidak mustahil.

Setiap kali Christopher tampil di sebuah pertunjukan, dengan bahasa tubuhnya yang masih kaku dan gagu, suaranya mampu memenuhi setiap sanubari yang mendengarnya dan selalu membuat orang lain memberikan tepuk tangan sambil berdiri yang ditujukan padanya. Christopher menyanyikan pujian ‘Open the eyes of my heart’, orang yang menyaksikan tersentuh dan salah satu wujud hormat berdiri dan salut atas keberanian, keyakinan dan kemampuan Christopher yang jarang dimiliki oleh orang normal sekalipun.

Lewat penampilannya, Christopher menyanyikan lagu ‘I can only imagine’, dia mengajak ibu angkat dan seluruh orang yang menonton penampilannya, untuk melihat sesuatu tidak dengan mata biasa. Namun dengan hati, di mana Tuhan melihat segala sesuatunya. Meskipun dengan bahasa tubuh yang kaku dan gagu, tetapi suaranya memenuhi setiap hati

Hidup untuk Tuhan

Usia Christopher Duffley kini sekitar 14 tahun, dirinya telah menjadi salah satu sosok inspiratif yang membuat mata masyarakat terbuka. Dia menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan kesia-siaan. Semua akibat ada sebabnya, semua keberadaan, ada gunanya. Dan karena itulah, Christopher Duffley ada di dunia. Dia mampu menunjukkan bahwa dirinya sama seperti kita. Bahwa setiap orang lahir dengan kekurangan dan kelebihan, yang penting adalah bagaimana kita dapat menemukan “hadiah” yang diberi Tuhan dalam diri masing-masing.

Christopher Duffley, remaja penyandang autis dan buta yang mendapat perhatian masyarakat Amerika lewat bakat bernyanyinya yang mengesankan. Kini, ia sedang menyelesaikan album pujian terbarunya yang berisi lagu-lagu inspiratif dan patriotik.

Dalam proses produksi, Duffley dibantu oleh produser ternama Steven V. Taylor. Album tersebut akan berisi sejumlah lagu pujian, yakni ‘Open the Eyes of My Heart’, ‘Amazing Grace’ dan ‘I Can Only Imagine’ serta lagu-lagu patriotik dan inspiratif seperti ‘God Bless the USA’ dan ‘Lean on Me’.

Yang menjadikan penggarapan album ini berbeda, bukan karena bakat dan kekuatan suara yang dimilikinya, namun lebih kepada figur Christopher sebagai penyandang autis dan buta. Awal karirnya dimulai lewat video undahannya di Youtube ketika tampil bernyanyi dengan lagu “Open The Eyes of My Heart” di Capitol Center untuk Pertunjukan Seni di Concord, N.H. Video Youtube tersebut mencapai pengunjung sebanyak 2.4 juta, sehingga nama Christopher melejit sangat cepat.

Kondisinya tidak menghentikan bocah yang beranjak remaja ini untuk meningkatkan bakat musiknya. Ia berkata, “Meskipun keadaan sangat sulit dan kita mendapat rintangan, kita telah menemukan kebahagiaan dan begitu banyak berkat. Melalui keadaan itu, Tuhan menggunakan kehidupan ini untuk menyentuh dunia kepada Kristus,” seperti dilansir Christianpost.com, kamis (15/8).

Kekurangan yang dialami Christopher Duffley dipakainya sebagai berkat untuk menyadarkan dunia bahwa kekurangan tidak dapat membatasi manusia untuk melakukan yang terbaik bagi sesama dan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan memakai keadaannya untuk sebuah rencana besar.

Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You
Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You

Apakah kita sungguh ingin melihat Tuhan dengan matahati agar bisa menyembahnya? (esd)

To see You high and lifted up
Melihat Anda tinggi dan terangkat
Shinin’ in the light of Your glory
Shinin ‘dalam terang kemuliaanmu
Pour out Your power and love

Tuangkan kekuatan dan cintamu
As we sing holy, holy, holy
Saat kita bernyanyi suci, suci, suci

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Resensi Buku

Fokus pada satu hal yang dikerjakan

buku kekuatan fokus

Mengharapkan banyak hal didapat tapi tidak langkah dengan focus, sama saja mengerjakan yang sia sia atau paling sedikit hasil walau banyak hal yang dikerjakan. Efisien,berkualitas dan menyenangkan. Begitulah gambarannya yang diinginkan setiap kali mengerjakan sesuatu tugas atau proyek. Sehabis membaca buku ini, kita akan dibimbing untuk focus pengerjaannya. Jadi, kita dilatih untuk langsung membuat susunan daftar yang perlu dimiliki satu hal saja (one thing).

Gary Keller adalah seorang pendiri Franchise Real Estate bernama Keller William Realty. Kepemimpinan Keller sangat berpengaruh dalam bidang industri real estate. Dia telah memimpin perusahaannya hampir 30 tahun berturut-turut. Gary Keller, juga penulis buku laris: The Millionaire Real Estate Agent, The Millionaire Real Estate Investor, and SHIFT: How Top Real Estate Agents Tackle Tough Times.
Konsep One Thing

Gary Keller, penulis one thing melalui blognya “The1Thing.com”, mengatakan:
“Apa SATU HAL yang bisa saya lakukan yang dengan melakukannya segala sesuatu lainnya menjadi lebih mudah atau bahkan tidak diperlukan?”

Karena dengan berfokus pada satu hal yang prioritas, kita akan bisa lebih apik menuju yang lebih dan maksimal. Dan ini tentu saja bukan mustahil meraih suksus.

Kunci sukses adalah melakukan sesuatu lebih sedikit lebih baik.

Bukankah tugas kita memang banyak dan sedapatnya bisa dikerjakan juga dengan baik juga? Sekali dayung dua tiga pulau terlampuhi. Jadi, bukannya mengerjakan banyak hal (multi tasking). Kalau kita sadar, kita mengerjakan banyak hal sekaligus, sudah pasti perhatiannya akan terbagi.

“Jika kita mengejar dua kelinci sekaligus, kita tidak akan mendapatkan keduanya” — Pepatah Rusia

Ini yang papatah yang dikutip dalam buku ini dan ada peringatannya darinya. Jadi akan sulit bagi kita untuk mencapai focus dan hasil maksimal atau jangan-jangan malah berantakan karena ada banyak hal yang kita mau kerja bersama sama. Kita harus kembali pada prinsip, kerjakan satu hal demi satu dengan focus dan target tertentu.

Perhatikanlah, setiap orang dan bisnis yang sukses meninggalkan jejak. Perhatikan bisnis yang sukses. Mereka fokus pada satu hal. Satu produk, satu layanan pada satu waktu. Apple dengan mac-nya (kemudian lanjut ke ipod, iphone, dan ipad). Southwest Airlines dengan penerbangan murahnya. Perhatikan orang-orang yang sukses. Mereka fokus pada satu hal. Bill Gates dengan Microsoft-nya. Russell Brunson dengan ClickFunnel-nya. Marshal Goldsmith dengan leadership coaching-nya.

Berhadapan dengan kebiasaan yang bisa jadi terbentuk oleh mitos-mitas diyakini benar tetapi jika kita pikir secara rasional kebiasaan – kebiasaan itu hanya bisa dipatahkan mengupas secara jujur dan rasional.

Pertama, semua hal bernilai setara

Kita menuliskan semua pekerjaan yang mungkin dan bisa kita lakukan. Kita mencampurkan antara apa yang mungkin dilakukan, bisa dilakukan dan harus dilakukan. Bila ingin sukses, fokuslah pada hal yang harus dilakukan dan lupakan sisanya.

Memang, ketika semua hal bersifat penting dan mendesak, semua terasa setara. Kenyataannya tidak demikian. Ada hal yang benar-benar penting dan itu sedikit. Sebagian besar hal lainnya adalah hal yang tidak penting, hal yang remeh temeh. Joseph Juran mengistilahkannya dengan vital few dan trivial many. Seperti yang prinsip Pareto katakan, 80% hasil yang kita dapatkan hanya berasal dari 20% usaha kita. Vital few yang 20% inilah the most important thing kita.

Kedua, multitasking mempercepat pekerjaan

Ini juga mitos. Faktanya, tidak ada yang namanya multitasking. Apa yang kita sebut dengan multitasking sebenarnya bukan benar-benar multitasking. Kita hanya berpindah dari satu fokus ke fokus lainnya.

Tentu saja, ada hal yang harus dibayar dengan melakukan multitasking seperti ini. Mulai dari pekerjaan yang justru selesai lebih lama, keputusan buruk yang dihasilkan, meningkatnya risiko kesalahan, hasil kerja berkualitas rendah, sampai potensi munculnya stress yang mengganggu.

Untuk sukses kita perlu meluangkan waktu untuk fokus mengerjakan satu hal. The most important thing, satu hal yang terpenting dalam pekerjaan/bisnis/hidup kita.

Ketiga, sukses memerlukan kedisiplinan

Kita tidak perlu disiplin untuk sukses. Orang sukses terlihat disiplin, padahal belum tentu demikian. Mereka memiliki kebiasaan sukses yang membuat mereka terlihat seperti orang yang disiplin. Jadi, bangunlah kebiasaan sukses bukan kedisiplinan. Kita hanya memerlukan disiplin sampai kebiasaan terbentuk. Orang sukses berhasil karena ia menjadikan the most important thing-nya sebagai kebiasaan. Mereka melakukannya secara fokus setiap hari.

Keempat, kita memiliki willpower tak terbatas

Ini juga mitos. Willpower – keinginan yang kuat, bekerja seperti baterai. Di awal hari, levelnya ada di atas. Di akhir hari levelnya berkurang drastis. Kita hanya mampu fokus dan mengambil keputusan baik saat level willpower di atas.

Kelima, keseimbangan hidup itu ada, perlu dan baik

Hidup seimbang artinya hidup rata-rata. Sukses yang luar biasa membutuhkan fokus dan ketidakseimbangan yang disengaja. Maka, tak perlu mengejar keseimbangan. Apa yang perlu kita lakukan adalah “menyeimbangkan” — counterbalancing. Satu waktu fokus habis-habisan pada pekerjaan. Satu waktu fokus habis-habisan untuk kehidupan pribadi.

Keenam, besar itu buruk

Inilah sebabnya kita takut menjadi besar, bertindak besar, berpikir besar. Padahal, besar bisa baik, kecil bisa buruk. Besar-kecil tidak terkait dengan baik-buruk. Mimpikanlah hasil besar. Awali dengan berpikir besar. Lanjutkan dengan bertindak besar.

Focus

Kunci sukses adalah melakukan sesuatu lebih sedikit lebih baik. Lakukan satu hal ini dengan fokus dan abaikan hal-hal lain yang mendistraksinya. Untuk itulah, kita perlu membiasakan diri untuk memfokuskan pikiran pada satu hal kita. Satu hal terpenting dalam hidup kita. Satu hal yang bila dilakukan akan membuat kita lebih mudah dalam melakukan hal-hal lainnya. Inilah pentingnya focusing question — pertanyaan untuk berfokus.

Pertanyaan menentukan jawaban. Pertanyaan yang salah menghasilkan jawaban yang salah. Pertanyaan yang tepat menghasilkan jawaban yang tepat. Pertanyaan yang hebat menghasilkan jawaban yang hebat.
Sayangnya, kita sibuk mencari jawaban. Namun tidak pernah benar-benar memikirkan pertanyaan yang kita ajukan. Bagaimana dengan dunia pelayanan? Apakah ada prioritas dan bagaimana pengerjaannya? (red.)

Judul buku: The ONE Thing: Kekuatan Fokus untuk Mendorong Produktivitas
Judul asli buku:The ONE Thing: The Surprisingly Simple Truth Behind Extraoordinary Results
Penulis/Penyusun: Gary Keller with Jay Papasan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Ukuran buku: 14 x 21 cm
Tebal buku: 306 halaman

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Teropong

MENGHARAPKAN ATAS IMAN

Mengharapkan atas Iman

Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20)

Oleh Daniel Dwi Sumantoro

Manusia sering tidak menyadari betapa dahsyat kekuatan sebuah iman. Yesus berkata, ”…Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai imansebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini kesana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20), hal ini juga didukung oleh perkataan Paulus di Surat 1 Korintus 13:2, ”… dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,…”

Di negara Mesir secara khusus di kota Kairo ada gereja dinamakan Gereja Sampah atau Simon the Tanner, penamaan ini tak terlepas dari sejarah yang terjadi di masa lampau. Simon The Tanner merupakan seorang Orthodox yang hidup sekitar abad ke-10. Simon muda merupakan seorang pengrajin kulit yang memiliki kepribadian yang sangat saleh. Pada kisahnya diceritakan, setiap pagi Simon selalu berkeliling menggendong kendi berisi air dan mengunjungi orang-orang yang membutuhkan air.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, pada abad ke-10 wilayah Mesir termasuk kota Kairo merupakan daerah kekuasaan kekhalifahan Islam yang dipimpin oleh Khalifah Al – Muizz. Pada waktu itu terjadi sebuah perdebatan antara sang Khalifah dan Ibnu Killis dengan salah satu Paus yang bernama Abraham. Ibnu Killis merupakan seorang pejabat negara sekaligus pemuka Yahudi yang cenderung membela sang Khalifah hanya untuk mempertahankan jabatannya.

Dalam perdebatan Ibnu Killis mengatakan kepada sang Khalifah bahwa ada ayat di kitab orang Kristen di Perjanjian Baru Injil Matius 17:20 yang berbunyi: ‘Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu’.

Jika kebenaran tersebut tidak bisa dibuktikan, sang Khalifah tidak akan segan-segan membasmi penganut Kristen Orthodox dengan pedang. Paus Abraham lalu terkejut sekaligus panik mendengar permintaan Sang Sultan, lalu ia meminta waktu 3 hari untuk membuktikannya.

Simon yang masih kebingungan, kemudian diajak ke Gunung Muqattam oleh Paus Abraham beserta seluruh umat Orthodox untuk berdoa memohon mukjizat kepada Tuhan. Sang Khalifah beserta rombongannya pun ikut hadir ke Gunung Muqattam untuk melihat pembuktian dari sang Paus sebelumnya.

Setelah itu di depan mata sang Khalifah, Tuhan memberikan mukjizat kepada umat Orthodox dan terjadi longsor yang sangat dahsyat yang memindahkan Gunung Muqattam sejauh 3 Km dari posisi awalnya. Dengan terkejut sang Khalifah memeluk Paus Abraham dan meminta maaf kepada sang Paus. Dengan kejadian tersebut sang Khalifah memilih untuk memeluk agama Kristen Orthodox.

Untuk mengenang Simon The Tanner dibangunlah gereja di salah satu goa yang terbentuk akibat longsor yang memindahkan gunung tersebut. Kemudian nama Simon The Tanner didedikasikan menjadi nama gereja tersebut hingga saat ini.

Dari kedua perkataan ini membuktikan bagi kita bahwa betapa dahsyatnya sebuah iman yang dimiliki jika dipraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.Manusia mengisi kehidupannya dengan sebuah dan berbagai macam pengharapan. Manusia mengharapakan hal-hal yang baik bagi kehidupan pribadi, keluarga, karier, bisnis, pendidikan, dll. baik di masa kini dan di masa depan bahkan iman juga dipercayai mampu membawa kehidupan manusia sampai kepada kehidupan kekal.

Segala daya upaya dilakukan manusia untuk menggapai semua harapan yang dirancangnya dengan bekal ilmu yang diraih dalam studinya, pengalaman yang berharga selama hidupnya, intuisi bahkan juga insting yang dia miliki barangkali. Tapi daya upaya manusia di harapkan menjadi harapan yang menolong hidupnya dan bisa menjawab apa yang diharapkan. Akan tetapi harapan dari segala upaya manusia seperti bangunan yang dasarnya goyah dan diomang-ambingkan bisa ambruk karena tidak mempunyai dasar yang kokoh kuat dan pasti menjamin.

Sebagai manusia yang rohani, ingat bangsa Indonesia diakui sebagai bangsa yang religius dengan bukti adanya banyak agama dan kepercayaan spiritual yang ada, dianut serta diyakini dan dihidupi oleh rakyat Indonesia. Manusia rohani ini mengenal yang namanya Iman. Iman dipercayai mampu mewujudkan semua harapan yang digagas oleh umat manusia yang percaya yang memiliki iman. Artinya manusia rohani mengharapkan atas imannya untuk mewujudkan semua harapan ataupun cita-citanya.

Mengaharapkan atas iman pada kehidupan yang kekal. Manusia menaruh iman sebagai landasan untuk mempercayai keberadaan Tuhan (Ibrani 11:6). Tuhan yang bersifat kekal dipercayai mampu membawa kehidupan manusia secara kekal setelah kehidupan dibumi yang fana ini berakhir dan diharapkan manusia bisa berkumpul hidup bersama dengan Tuhan di tempat Tuhan bersemayam. Pada umunya, menekankan perbuatan utama dmanusia yaitu supaya berkenan kepada Tuhan adalah melakukan dengan perbuatan amal baik dan beribadah sesuai petunjuk kepercayaan yang dianut. Namun, manusia yang berdosa sangat kesulitan memperoleh perkenanan Allah oleh sebab perbuatan amal ibadah baik manusia selalu berkecenderungan melakukan perbuatan tidak baik; harapan tidak selaras dengan kenyataan (Roma 7:15).

Iman bekerjasama dengan perbuatan. Iman dipergunakan untuk menerima kasih karunia keselamatan di dalam pengorbanan Kristus (Yohanes 3:16). Keselamatan datang daripada Allah yang turun menjadi manusia. Tugas manusia adalah tetap berusaha berbuat dan melakukan perbuatan baik bukan untuk memperoleh perkenanan pembenaran Allah melainkan sebagai bentuk ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus di atas salib.

Mengaharapkan atas iman pada kehidupan yang fana. Sebagai pekerja yang mendapatkan mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi dengan segala isinya secara baik, manusia berhak mendapatkan upah yakni kehidupan yang sangat layak selama hidup di bumi berlangsung. Tuhan sang pemilik mandat berjanji memberikan berkat yang berlimpah ruah kepada pekerja-Nya (Matius 6:25-33). Iman bekerjasama dengan perbuatan. Semua hasil karya manusia di bumi bisa dikerjakan dengan bekal ilmu dan pengalaman manusia dan menghasilkan karya yang baik. Namun, oleh karena manusia bekerja di bumi bukan untuk dirinya sendiri maka manusia bekerja berdasarkan nasihat petunjuk dari Tuhan. Kebudayaan manusia terlihat canggih dan modern namun tanpa Tuhan kebudayaan berpotensi menghancurkan kehidupan manusia dan tempat dia bekerja, misal potensi kehancuran umat manusia oleh penemuan teknologi nuklir, bio teknologi, Internet, dll.

Milikilah iman walaupun nampaknya kecil, karena dengannya, karya yang menanti kehidupan saudara. (DDS)
Baca juga artikel lainnya
Categories
Kupas

Tuhan Telah Mengaruniakan Ukuran Iman yang Berbeda-beda kepada Setiap Orang

John Piper

Tuhan Telah Mengaruniakan Ukuran Iman yang Berbeda-beda kepada Setiap Orang

Oleh John Piper

Founder & Teacher, desiringGod.org
Di dalam pesan saya tentang Roma 12:3-8, saya menjelaskan dari ayat 3 bahwa Tuhan mengaruniakan ukuran iman yang berbeda-beda kepada umat-Nya. Paulus berkata bahwa kita mesti, “berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Dalam konteks ini, tidaklah hanya terbatas pada iman sebagai karunia unik dari Roh Kudus (1 Kor. 12:9). Karena Paulus berkata, “Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan; tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

“Kepada kamu masing-masing” mengacu kepada “setiap orang di antara kamu”. Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang Kristen ukuran iman yang berbeda-beda. Ini adalah iman yang kita gunakan untuk menerima dan memanfaatkan karunia kita yang berbeda-beda. Ini adalah iman yang biasa kita jumpai sehari-hari yang kita gunakan untuk hidup dan melayani.

Dalam konteks ini, Paulus merasa prihatin bahwa orang-orang “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan”. Upaya terakhirnya untuk mengobati kesombongan ini adalah dengan mengatakan bahwa bukan saja karunia Roh Kudus adalah karya anugerah Tuhan dalam hidup kita, tetapi demikian juga iman, yang dengannya kita menggunakan karunia-karunia tersebut. Ini berarti bahwa setiap celah kemungkinan untuk menyombongkan diri telah dihapus. Bagaimana kita bisa sombong jika hal yang membuat kita menerima hadiah – adalah juga hadiah?

Ini menunjukkan betapa pentingnya kerendahan hati di mata Tuhan. Ini adalah tujuan yang sama persis dengan tujuan Allah yang disebutkan di dalam Efesus 2:8-9 di mana Paulus menekankan bahwa iman yang menyelamatkan adalah hadiah: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Iman adalah pemberian dari Allah, sehingga tidak ada orang yang dapat memegahkan diri. Atau, seperti dikatakan di dalam Roma 12:3, Agar kita tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan. Benteng pertahanan terakhir dari kesombongan adalah keyakinan bahwa kita adalah pemrakarsa iman kita.

Paulus tahu bahwa kasih karunia Allah yang berlimpah adalah sumber dari imannya sendiri. Ia mengatakan di dalam 1 Timotius 1:13-14, “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” Semula Paulus adalah seorang yang tidak percaya. Tetapi kasih karunia melimpah ke dalam dirinya dengan iman.

Maka Paulus tahu bahwa inilah yang dialami oleh setiap orang percaya lainnya. Ia berkata kepada jemaat di Filipi, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29). Inilah mengapa ia bersyukur kepada Allah dan bukan kepada kecerdikan manusia atas iman yang dilihatnya di jemaat-jemaatnya: “Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah” (2 Tes. 1:3). Kita bersyukur kepada Allah karena pertambahan iman kita karena “Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang [masing-masing] ukuran iman yang berbeda-beda” (Rm. 12:3).

Kebenaran ini memberikan dampak besar pada cara kita berdoa. Yesus memberikan contoh kepada kita di dalam Lukas 22:31-32. Sebelum Petrus menyangkal-Nya tiga kali, Yesus berkata kepadanya, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Yesus berdoa agar iman Petrus dikuatkan sekalipun dalam dosa, karena Ia tahu bahwa Allahlah yang memelihara iman.

Oleh karena itu, kita harus berdoa seperti itu untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Maka ayah dari anak yang menderita sakit ayan berseru, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24). Ini adalah doa yang baik. Doa ini mengakui bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat menjadi percaya sebagaimana seharusnya. Demikian pula para rasul berdoa kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5). Mereka berdoa seperti ini karena hanya Yesus satu-satunya yang dapat melakukannya.

Pengajaran tentang iman sebagai karunia Allah menimbulkan banyak pertanyaan. Allah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan itu. Bahkan sekalipun kita tidak mempunyai jawabannya, mari kita berusaha menempatkan pengajaran ini dalam manfaat praktisnya yang alkitabiah, yaitu merendahkan kesombongan diri kita, dan menyemangati doa-doa kita. Dengan kata lain, mari kita berdoa setiap hari: “Ya Tuhan, terima kasih untuk imanku. Peliharalah. Kuatkanlah. Perdalamlah. Jangan biarkan ia gagal. Jadikan ia kekuatan dalam hidupku, sehingga dalam setiap hal yang kulakukan Engkau dipermuliakan sebagai Sang Pemberi. Amin.”
John Piper (@JohnPiper) is founder and teacher of desiringGod.org and chancellor of Bethlehem College & Seminary. For 33 years, he served as pastor of Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. He is author of more than 50 books, including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and most recently What Is Saving Faith?
Baca juga artikel lainnya
Categories
Cermin Nurani

Kukenangkan Baju Hidupku Tanpa Ragu Sedikitpun

Kukenangkan Baju Hidupku
tanpa Ragu Sedikitpun

Tentu saja itu melibatkan resiko, karena bukan mustahil yang diminta Tuhan dari saya ternyata bertentangan dengan keinginan egois saya.
Philip Yancey

Oleh Dian Yuliani

TheHope.id – Kenangan pertama aku tentang doa kepada Allah yang sampai mencucurkan air mata, saat malam setelah adikku yang meninggal dikuburkan. Aku hanya memiliki waktu untuk berbicara dari hati dan seluruh keberadaanku. Aku datang kepada-Nya, apa adanya diriku tanpa ada yang bisa aku sembunyikan. Aku bebas, sebebasnya,mengungkapkan semua isi hatiku dan hidupku. Aku benar-benar mengelontorkan isi hatiku termasuk rasa takut dan kegalauanku. Pokoknya, ngak ada yang tersisa. Ibarat orang nguras bak air di kamar mandi. Bak air itu sampai kering-ring, tandas tanpa sisa.

Esoknya, aku jalani hidup ini, apa adanya tanpa ragu barang sedikitpun. Aku bisa lega, bebas tanpa beban. Segala ukuran yang dunia buat dan patut dikenakan, aku anggap bukan prioritas nomor satu yang harus ku kejar.

Bagiku, damai dengan diriku sendiri karena Tuhan itu yang menjadikan batinku rasa tenang. Aku tak senewen, manakala belum meraih sesuatu yang harus menjadi ukuran hidup seperti dikejar orang saat ini. Dan hal itu dahulu, diriku sendiri bisa mengejarnya, mengapa tidak?. Itulah hidupku dahulu, selalu dihela sampai lelah karena ukuran yang tertinggi adalah apa yang ditentukan dunia pada umumnya. Namun sejak Kristus ada di hati dan hidupku, semua itu menjadi bukan hal yang utama.

Maka penampilkan diriku sesuai dengan apa yang kupandang baik dan nyaman menjadi nilai baru. Artinya, aku membiasakan diriku menikmati yang baik yang dipercayakan oleh Tuhan.

Sampai suatu saat ada hal mengenai pandangan hidup “Semakin tinggi ilmu semakin sederhana penampilannya. Semakin tinggi ilmu semakin sederhana bahasanya??” Mungkin bagiku ungkapan ini mengandung separuh kebenaran, bisa juga salah. Bagiku, orang yang sederhana itu terlahir dari hatinya dan mengalir dan nampak dalam hidupnya keseharian.

Jadi ceriteranya begini, suatu kali aku bertemu dengan sekumpilan orang. Kelihatannya orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berkelas. Aku lihat, gaya bicara, penampilan dengan berpakaian dan tempat di mana mereka berbincang sambil menikmati makanannya. Ehmm… berkelas dan terlihat eksklusif, menurutku.

Tiba-tiba aku melihat seorang nyonya yang nampak berpenampilan heboh… wow. Dandanannya wahh banget. Make-upnya serba cling kinclong. Asesoris yang dikenakan..menyala.. woww.. keren. Dari yang menempel di wajah, leher dan kedua tangan dan jemari terlihat gemerlap dan gebyar. Mirip satu estalasi perhiasan terpakai. Mahal banget… astaga merinding. Dan kemudian, dari mulutnya keluar pembicaraan dengan pasangannya, suatu nada tinggi dalam bahasa asing bercampur bahasa negeri. Membuat mata orang, sekitarnya pada melotot dan mulut ternganga. Mulut ternganga bukan kagum tapi sebaliknya antara aneh dan ngak percaya, norak. Penampilan yang heboh justru terlihat konyol hanya karena tingkah dan ucapannya.

Jadi, penampilan bisa menipu, gaya ucapan bisa tidak jujur. Lain di mulut lain di hati. Namun orang yang benar-benar sederhana dan cerdas nampak nyata dalam hidupnya yang tidak eksklusif. Menurutku karena ada nilai yang kokoh di dalam dirinya yang tidak merasa minder atau terjajah. Berfikir sederhana yang menampakkan kedalaman kecerdasannya.

Sederhana bertutur kata karena dari hatinya yang sederhana. Berpenampilan sederhana bukan asal yang dikenakan menempel. Tapi ia tidak ditentukan merk atau kelasnya. Ia merdeka seperti jiwanya. Ia bisa solider di manapun berada, seperti yang disaksikan Frans Magnis Suseno bahwa kemerosotan moral berawal dari orang yang sikap eksklusif.

Menurutku, orang yang tidak haus akan mencari pengakuan dan mengejar akan nilai yang terpandang adalah kunci kesederhanaan.

Sebab orang yang dipandang tidak ada apa-apanya justru menunjukkan bahwa orang itu memiliki segalanya. Malahan dari ucapannya, orang terlihat sulit dan rumit diterima untuk bisa dicerna oleh akal sehat dan sederhana ini, jangan-jangan orang itu hidupnya juga rumit. (dy)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.