Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Liputan Seputar Sinode

Penahbisan Gembala Jemaat GIA Ketitang Wetan

Penahbisan Gembala Jemaat GIA Ketitang Wetan

Dalam suasana yang penuh sukacita dan kehangatan rohani, Gereja Isa Almasih (GIA) Ketitang Wetan menggelar Ibadah Penahbisan Gembala Jemaat, sebuah momen yang menjadi tonggak penting dalam sejarah pelayanan gereja lokal di wilayah Batangan, Kabupaten Pati. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 22 Mei 2025, bertempat di Gedung Gereja Isa Almasih Ketitang Wetan, dan dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam lingkup Gereja Isa Almasih.

Acara ini tidak hanya menjadi sebuah seremoni peneguhan tugas gembala, tetapi juga menjadi wujud nyata penyertaan dan kasih Tuhan atas kehidupan dan pertumbuhan jemaat-Nya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menahbiskan Pdt. Timotius Bejo, M.Th. sebagai Gembala Jemaat GIA Ketitang Wetan, menggantikan kepemimpinan sebelumnya dan melanjutkan estafet pelayanan di tengah jemaat.

Kehadiran Majelis dan Pemimpin Gereja

Ibadah penahbisan ini dihadiri secara langsung oleh jajaran Majelis Pusat Harian Gereja Isa Almasih, sebagai bentuk dukungan struktural dan rohani terhadap pelayanan yang akan dijalani oleh Pdt. Timotius Bejo. Turut hadir pula Majelis Daerah III, Hamba-Hamba Tuhan dari berbagai gereja di wilayah Daerah III, serta seluruh jemaat GIA Ketitang Wetan yang menyambut acara ini dengan antusias dan penuh pengharapan.

Kehadiran tokoh-tokoh penting dalam struktur organisasi GIA menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara lokal, melainkan bagian dari gerak sinergis gereja secara keseluruhan dalam meneguhkan para pelayan yang telah dipanggil dan diperlengkapi Tuhan.

Firman Tuhan oleh Ketua Umum Sinode GIA

Salah satu bagian paling istimewa dari kegiatan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dilayani langsung oleh Ketua Umum Sinode GIA, Pdt. Budi C. Hartono, S.Th. Dalam kotbah yang penuh pengurapan dan inspirasi rohani, Pdt. Budi menyampaikan pesan yaitu: “Kasih sebagai Dasar Kekristenan.”

Dalam renungan yang mendalam, beliau mengingatkan bahwa kasih bukan hanya sekadar emosi atau sikap baik hati, tetapi merupakan inti dari identitas umat percaya dan dasar pelayanan gereja. “Kasih adalah kekuatan yang memulihkan hubungan antara Allah dan gereja-Nya, dan juga antar jemaat satu dengan yang lain,” ujarnya. Firman ini menjadi bekal dan dasar utama bagi Pdt. Timotius dalam menapaki panggilan gembala yang baru.

Prosesi Penahbisan: Sakral dan Penuh Penghayatan

Setelah firman Tuhan disampaikan, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi penahbisan. Dalam suasana yang penuh hikmat, Pdt. Timotius Bejo menerima penumpangan tangan dari para pemimpin gereja, sebagai tanda pengutusan dan pengakuan atas panggilan pelayanan yang telah ia jalani dan akan teruskan. Doa-doa syafaat dan ungkapan harapan pun dilayangkan, agar Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah pelayanan yang akan ditempuh ke depan.

Penahbisan ini tidak hanya mengukuhkan status jabatan, melainkan juga merupakan momentum rohani yang menandai peralihan tanggung jawab dan komitmen pelayanan yang suci di hadapan Allah dan jemaat-Nya.

Kebersamaan dalam Kasih: Sajian Lokal dan Suasana Kekeluargaan

Setelah ibadah selesai, seluruh tamu undangan dan jemaat diajak untuk menikmati waktu kebersamaan dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Disajikan berbagai hidangan khas lokal, seperti nasi gandul—makanan berkuah gurih khas Pati—dan ikan manyung, yang memberikan rasa syukur dalam bentuk yang sederhana namun sangat bermakna.

Momen makan bersama ini bukan hanya sekadar mengisi perut, tetapi menjadi wujud nyata dari persekutuan tubuh Kristus yang penuh kasih, tanpa sekat, dan saling melayani satu sama lain.

Harapan dan Doa untuk Masa Depan Pelayanan

Dengan ditahbiskannya Pdt. Timotius Bejo, M.Th., sebagai Gembala Jemaat GIA Ketitang Wetan, diharapkan gereja ini akan semakin bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan. Kehadirannya di tengah jemaat membawa semangat baru untuk terus menyuarakan Injil, merawat persekutuan, dan melayani masyarakat sekitar.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus terus meneguhkan setiap pelayan-Nya dan memakai GIA Ketitang Wetan sebagai terang dan garam di tengah dunia.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Penahbisan Gembala dan Pendeta di Jatimalang, Sukoharjo: Teguhkan Komitmen Pelayanan Lewat Kebersamaan

Penahbisan Gembala dan Pendeta di Jatimalang, Sukoharjo: Teguhkan Komitmen Pelayanan Lewat Kebersamaan

Dalam upaya memperkuat struktur pelayanan dan memperlengkapi para pelayan Tuhan di berbagai wilayah, Gereja Isa Almasih (GIA) menyelenggarakan kegiatan penting bertajuk Penahbisan Gembala dan Pendeta, yang dilangsungkan pada Minggu, 13 April 2025 di Gereja Isa Almasih Jatimalang, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Acara ini menjadi momentum spiritual dan organisasi yang strategis bagi GIA, khususnya di wilayah Daerah IV, serta menjadi simbol dari regenerasi dan keberlanjutan pelayanan di tengah jemaat. Prosesi penahbisan berlangsung dalam suasana penuh hikmat, diiringi rasa syukur, doa, dan komitmen yang mendalam dari seluruh jemaat dan pemimpin gereja yang hadir.

Kehadiran Jajaran Pimpinan dan Jemaat: Dukungan Penuh untuk Pelayanan Baru

Kegiatan ini dihadiri oleh Jajaran Majelis Pusat Harian Gereja Isa Almasih, yang memberikan dukungan langsung terhadap keberlangsungan pelayanan di daerah. Selain itu, turut hadir pula Majelis Daerah IV, para hamba-hamba Tuhan dari seluruh wilayah Daerah IV, dan tentu saja jemaat GIA Jatimalang sebagai tuan rumah sekaligus komunitas inti yang akan dilayani oleh para pemimpin rohani yang ditahbiskan.

Hadirnya berbagai unsur kepemimpinan dari pusat hingga daerah menunjukkan sinergi kuat dalam tubuh gereja, serta menjadi wujud nyata dukungan menyeluruh atas pelayanan yang sedang dibangun dan dikembangkan.

Pesan Firman Tuhan oleh Ketua Umum GIA: Membangun Pelayanan dalam Kebersamaan

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum Sinode GIA, Pdt. Budi C. Hartono, S.Th., yang secara khusus hadir untuk melayani dalam momen istimewa ini. Dalam khotbah yang disampaikan dengan penuh kuasa dan kasih, beliau mengangkat tema: “Pentingnya Membangun Kebersamaan dan Kerjasama dalam Mengembangkan Pelayanan.”

Dalam pesan yang mendalam tersebut, Pdt. Budi menegaskan bahwa pelayanan dalam gereja bukanlah tugas individu semata, melainkan panggilan kolektif seluruh tubuh Kristus. “Pelayanan tidak bisa dilakukan sendiri. Kita butuh bekerja sama, saling menopang, dan membangun relasi yang sehat di antara sesama pelayan dan jemaat. Tanpa kebersamaan, pelayanan bisa kehilangan arah dan kekuatan,” ujarnya.

Beliau juga mengajak seluruh jemaat untuk tidak hanya mendukung para gembala dan pendeta secara spiritual, tetapi juga menciptakan iklim pelayanan yang kondusif, penuh kasih, dan saling menghormati satu sama lain.

Prosesi Penahbisan: Simbol Pengutusan dan Pengakuan Panggilan Ilahi

Setelah penyampaian firman Tuhan, acara dilanjutkan dengan prosesi penahbisan para gembala dan pendeta. Dengan penuh hikmat, para pelayan yang telah menjalani masa pembinaan dan ujian pelayanan secara resmi ditahbiskan melalui penumpangan tangan oleh para pemimpin gereja, disertai doa pengutusan dan pernyataan komitmen.

Suasana ibadah pada saat penahbisan berlangsung dalam keheningan yang khusyuk, mencerminkan kekhidmatan dan kesungguhan semua pihak dalam menyambut pemimpin rohani yang baru. Jemaat menyambut para gembala dan pendeta yang baru ditahbiskan dengan penuh sukacita dan pengharapan.

Simbol Pertumbuhan dan Regenerasi Pelayanan GIA

Kegiatan ini tidak hanya menandai pengangkatan pemimpin baru, tetapi juga menjadi simbol pertumbuhan dan regenerasi dalam tubuh Gereja Isa Almasih secara keseluruhan. Dengan ditahbiskannya para gembala dan pendeta baru, diharapkan pelayanan di GIA, khususnya di wilayah Daerah IV, dapat semakin berkembang, relevan, dan menjawab kebutuhan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Injili.

“Penahbisan ini bukan hanya tentang jabatan, tapi tentang tanggung jawab. Kami percaya bahwa Tuhan telah memanggil mereka, dan sekarang gereja mengutus mereka untuk melayani, menggembalakan, dan membimbing umat Tuhan,” ungkap salah satu anggota Majelis Daerah IV.

Kebersamaan sebagai Warisan Pelayanan

Setelah seluruh rangkaian ibadah penahbisan selesai, acara dilanjutkan dengan waktu persekutuan bersama seluruh jemaat dan tamu undangan. Dalam suasana yang penuh kehangatan, terlihat bahwa tema kebersamaan yang diangkat dalam firman Tuhan benar-benar tercermin dalam interaksi antar jemaat, pelayan, dan pimpinan gereja. Makan bersama, saling menyapa, dan berbagi cerita pelayanan menjadi bagian akhir yang memperkuat semangat kekeluargaan gereja.

Penutup dan Harapan ke Depan

Dengan diselenggarakannya kegiatan Penahbisan Gembala dan Pendeta ini, Gereja Isa Almasih Jatimalang memasuki babak baru dalam sejarah pelayanannya. Kepemimpinan yang baru diharapkan membawa semangat segar, visi yang tajam, dan pelayanan yang berakar dalam kasih Kristus.

Kegiatan ini juga mempertegas peran Gereja Isa Almasih secara nasional sebagai lembaga yang terus memperlengkapi para pelayan Tuhan, membangun gereja yang sehat dan bersatu, serta menjangkau masyarakat dengan kasih dan kebenaran Injil.

Categories
Liputan Seputar Sinode

“Love In Action”: Paskah Gabungan PRBK Daerah I Penuhi Tanah Mas dengan Sukacita, Kasih, dan Kolaborasi

“Love In Action”: Paskah Gabungan PRBK Daerah I Penuhi Tanah Mas dengan Sukacita, Kasih, dan Kolaborasi

Semarang, 26 April 2025. Semangat Paskah terasa begitu nyata di tengah persekutuan hangat jemaat-jemaat dari berbagai gereja di bawah naungan Daerah I Sinode Gereja Isa Almasih. Bertempat di Gereja Isa Almasih Jemaat Tanah Mas, acara Paskah Gabungan PRBK Daerah I berlangsung dengan penuh kemeriahan dan kekhidmatan. Dengan mengangkat tema “Love In Action” (Kasih dalam Tindakan), kegiatan ini bukan hanya menjadi perayaan kebangkitan Kristus, tetapi juga momentum untuk membangun relasi dan kolaborasi yang lebih erat antar gereja lokal serta pengurus PRBK Daerah I.

Sejak jam 5 kurang , para partisipan dari berbagai jemaat mulai berdatangan. Suasana penuh antusiasme tampak dari senyum dan sapaan hangat antar jemaat yang datang dari latar belakang pelayanan yang berbeda, namun bersatu dalam semangat Paskah.

Pujian dan Penyembahan: Mengalirkan Damai dan Sukacita

Acara dimulai dengan sesi pujian dan penyembahan yang dipimpin oleh tim Praise and Worship GIA Jemaat Tanah Mas. Musik mengalun lembut, mengajak seluruh jemaat masuk dalam hadirat Tuhan. Lagu-lagu yang dibawakan bukan hanya menggugah perasaan, tetapi juga menyampaikan pesan iman yang kuat: bahwa kasih Kristus nyata dan harus dinyatakan dalam tindakan.

Atmosfer ruang ibadah pun terasa syahdu dan hening dalam penyembahan, namun penuh kuasa dalam nyanyian syukur. Jemaat terlihat larut dalam setiap bait lagu, menyatukan hati untuk memuliakan Tuhan yang bangkit. Dalam momen ini, suasana ibadah tak hanya terasa hikmat, tapi juga penuh damai dan kebersamaan.

Tujuan Mulia: Menyatukan Gereja-Gereja Lokal dalam Semangat Kasih

Panitia pelaksana menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perayaan rutin, tetapi memiliki tujuan strategis dan spiritual: mempererat hubungan antar gereja lokal di Daerah I, serta membangun jejaring kolaborasi antara pengurus PRBK Daerah I dengan jemaat. Melalui perjumpaan seperti ini, diharapkan pelayanan lintas gereja bisa tumbuh lebih kuat, dinamis, dan saling mendukung.

Semangat “Love In Action” juga menjadi refleksi konkret dari nilai-nilai yang ingin dihidupi oleh PRBK Daerah I: kasih yang tak berhenti pada kata-kata, tapi dinyatakan melalui perbuatan nyata dalam pelayanan, kebersamaan, dan kepedulian.

Game Interaktif: Kreativitas, Tawa, dan Semangat Tim

Salah satu bagian yang paling memikat dari acara ini adalah game interaktif menggambar estafet. Permainan ini melibatkan partisipan dalam tantangan menggambar secara bergantian, dengan satu aturan unik: setiap orang hanya boleh membuat satu coretan, kemudian diteruskan oleh peserta berikutnya.

Hasilnya? Gambar-gambar yang lucu, unik, tak terduga dan tentu saja menimbulkan tawa dan keceriaan yang membangun keakraban. Bukan sekadar permainan, aktivitas ini menggambarkan pentingnya kerjasama dan kepercayaan dalam membentuk satu kesatuan, seperti tubuh Kristus yang utuh oleh kontribusi setiap anggotanya.

Sebagai penghargaan, peserta dengan hasil gambar terbaik mendapatkan hadiah telur Paskah khusus, simbol kemenangan dan kehidupan baru. Hadiah ini menambah semangat para peserta dan menghidupkan suasana kebersamaan.

Firman Tuhan yang Menyentuh: Menghidupi Kasih, Bukan Sekadar Memperingati

Puncak acara terjadi saat Firman Tuhan disampaikan. Meskipun diselingi dengan gelak tawa dari sesi sebelumnya, saat Firman Tuhan mulai dikhotbahkan, ruangan kembali hening dan fokus. Pesan yang dibawakan menyentuh hati banyak orang: bahwa Paskah bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi ajakan untuk menghidupi kasih Kristus setiap hari di rumah, dalam pelayanan, dan di tengah masyarakat.

Wajah-wajah jemaat memancarkan respons yang beragam ada yang merenung, ada yang tersenyum penuh harapan, dan beberapa bahkan meneteskan air mata haru. Pesan Paskah menggugah kembali semangat pelayanan dan pengabdian dalam kasih.

Akhir Acara yang Mengenyangkan dan Meninggalkan Kesan Mendalam

Menjelang penutupan, panitia membagikan makanan dan minuman dalam paket praktis untuk dibawa pulang. Ini bukan hanya bentuk perhatian logistik, tetapi wujud kasih konkret yang menyentuh, makan bersama sebagai simbol persekutuan, meskipun tidak dilakukan secara langsung.

Semua peserta pulang dengan hati yang bersukacita, penuh tawa dan berkat. Acara ini bukan hanya menjadi catatan kalender kegiatan tahunan, tetapi meninggalkan kesan spiritual yang dalam dan hubungan yang diperkuat.

Penutup: Kasih dalam Aksi, Gereja yang Bergerak Bersama

“Love In Action” dalam Paskah Gabungan PRBK Daerah I ini menjadi bukti bahwa kasih Kristus terus hidup dan bekerja di tengah gereja-Nya. Melalui ibadah yang kuat, kegiatan kreatif, dan relasi yang dibangun, setiap peserta diajak untuk tidak hanya percaya, tetapi juga melakukan kasih dalam bentuk yang paling nyata dan sederhana.

Acara ini menjadi tonggak penting bagi pelayanan PRBK Daerah I, membuktikan bahwa kolaborasi antar gereja lokal dapat terwujud dengan semangat yang sama: melayani Tuhan dan sesama, dengan kasih yang hidup, aktif, dan penuh tindakan nyata.

Categories
Seputar Sinode

Paskah Bersama Gereja Isa Almasih Daerah VIII: Perayaan Kebangkitan Kristus dalam Kebersamaan, Pujian, dan Generasi

Paskah Bersama Gereja Isa Almasih Daerah VIII: Perayaan Kebangkitan Kristus dalam Kebersamaan, Pujian, dan Generasi

Ladangan, 25 April 2025  Dalam rangka memperingati momen kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, Majelis Daerah VIII Sinode Gereja Isa Almasih menyelenggarakan Ibadah Paskah Bersama pada hari Jumat, 25 April 2025. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan kekhidmatan di Gereja Isa Almasih Jemaat Ladangan Pal 20, dan dihadiri oleh perwakilan serta jemaat dari berbagai gereja lokal di bawah naungan Daerah VIII.

Perayaan ini tidak hanya menjadi simbol kemenangan iman atas kematian dan dosa, namun juga menjadi momen penting dalam mempererat kebersamaan antarjemaat lokal dan majelis daerah. Kehadiran para pelayan Tuhan dan seluruh jemaat memberi kesaksian tentang kesatuan tubuh Kristus yang nyata, dengan semangat saling mendukung dan membangun dalam kasih.

Pelayanan Ibadah yang Terstruktur dan Penuh Roh Kudus

Rangkaian ibadah dimulai pada pagi hari dengan suasana penuh antusiasme. Pelayanan Firman Tuhan (FT) dipercayakan kepada Pdt. Nehemia Sulistyanto, yang menyampaikan khotbah inspiratif bertema kebangkitan. Dalam penyampaian Firman, beliau menekankan bahwa kebangkitan Kristus merupakan dasar iman Kristen yang memberi kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan, menghadapi tantangan hidup, dan terus melayani dalam pengharapan yang tidak pudar.

Suasana pujian dan penyembahan dipimpin dengan penuh semangat oleh WL (Worship Leader) Ermelinda Mean. Ia memimpin jemaat masuk dalam hadirat Tuhan dengan nyanyian yang menyentuh hati. Lagu-lagu yang dibawakan mengundang jemaat untuk menaikkan syukur dan pengagungan kepada Tuhan. Didukung oleh para singer yang terdiri dari Kristian, Martin, Evi, dan Dany, pujian menjadi hidup dan membangkitkan semangat kebersamaan rohani.

Pelayanan persembahan dikoordinasikan oleh Pdt. Edi Hari dan istri serta Pdm. Edi Susanto dan istri, yang melayani dengan penuh keteladanan dan tanggung jawab. Kehadiran mereka dalam pelayanan ini menunjukkan keterlibatan aktif para pemimpin dalam seluruh aspek ibadah.

Sementara itu, para user atau penyambut tamu, yakni Pdt. Zakaria Sudir dan istri serta Pdt. Thomas Efendy dan istri, turut mengambil bagian penting dalam menyambut jemaat yang hadir. Senyum hangat dan sapaan ramah dari mereka menjadi wujud nyata pelayanan yang melayani dengan kasih, menciptakan suasana akrab dan kekeluargaan sejak awal kedatangan.

Persembahan Spesial: Musik Angklung oleh Anak Sekolah Minggu

Salah satu momen istimewa dan paling berkesan dalam perayaan Paskah kali ini adalah penampilan persembahan musik angklung dari Anak-anak Sekolah Minggu. Di tengah rangkaian ibadah yang hikmat, anak-anak tampil dengan sukacita, memainkan angklung dengan harmoni yang memukau.

Dengan lagu-lagu rohani yang dibawakan secara musikal oleh suara angklung yang merdu, persembahan ini mencuri perhatian jemaat dan menghadirkan kegembiraan tersendiri. Momen ini menjadi simbol keterlibatan generasi muda dalam ibadah, sekaligus pengingat akan pentingnya regenerasi iman dalam gereja.

Persembahan ini bukan hanya hiburan, melainkan juga sarana edukatif dan spiritual yang memperlihatkan bahwa sejak usia dini, anak-anak diajak untuk terlibat aktif dalam pelayanan dan penyembahan. Ini menjadi nilai tambah yang memperkaya acara Paskah dan menyentuh hati jemaat secara mendalam.

Tujuan dan Dampak: Kebersamaan yang Menguatkan

Tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kebersamaan antara jemaat-jemaat lokal dan Majelis Daerah VIII, serta mempererat hubungan antara para pelayan Tuhan dan umat. Dan tujuan tersebut benar-benar tercapai. Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana kekeluargaan, sukacita, dan kebersamaan yang kental.

Setiap elemen ibadah memberikan dampak rohani yang dalam. Jemaat merasa diberkati melalui pujian dan penyembahan, dikuatkan oleh Firman yang menggugah iman, dan terhibur oleh penampilan puji-pujian dari anggota jemaat dan anak-anak. Tidak sedikit jemaat yang terlihat menitikkan air mata haru dalam ibadah ini—sebuah bukti bahwa kasih Tuhan bekerja melalui persekutuan yang sejati.

Penutup

Acara Paskah Bersama Daerah VIII tahun 2025 ini menjadi kesaksian akan kesatuan dan kehidupan gereja yang bertumbuh dalam kasih dan kebenaran. Ibadah yang dipersiapkan dengan baik, pelibatan yang menyeluruh dari berbagai kalangan, serta nuansa sukacita dan pengharapan menjadikan kegiatan ini sebagai momen yang akan dikenang dan menjadi inspirasi pelayanan ke depan.

Melalui perayaan ini, jemaat diingatkan bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi realitas iman yang memberi kekuatan, arah, dan semangat baru untuk terus melayani dan bersaksi. Semoga kebersamaan ini terus terpelihara, dan semangat Paskah terus menyala dalam hidup setiap jemaat di wilayah Majelis Daerah VIII.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Perayaan Paskah Wanita Daerah VII Sinode GIA: Sukacita Kebangkitan Kristus Menguatkan dan Menyatukan

Perayaan Paskah Wanita Daerah VII Sinode GIA: Sukacita Kebangkitan Kristus Menguatkan dan Menyatukan

Jakarta, 3 Mei 2025 — Dalam suasana yang sarat makna dan penuh sukacita, Wanita Gereja Isa Almasih Daerah VII menggelar Perayaan Paskah pada hari Sabtu, 3 Mei 2025, bertempat di Gereja Isa Almasih Menteng Pulo, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ajang persekutuan yang mempertemukan perwakilan dari seluruh gereja lokal yang tergabung dalam wilayah pelayanan Daerah VII Sinode Gereja Isa Almasih, dengan tujuan mempererat kebersamaan serta memperingati kebangkitan Kristus yang menjadi dasar iman Kristen.

Dengan mengusung semangat “Kebangkitan yang Menghidupkan dan Memberdayakan”, acara ini secara keseluruhan ditata dan dipersembahkan oleh kaum wanita, menjadikannya sebuah perayaan yang bukan hanya indah secara liturgis, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional. Wanita-wanita dari Gereja Isa Almasih Menteng Pulo, GIA Kega, dan GIA Jatinegata berperan aktif sebagai pengisi acara. Mereka menghadirkan rangkaian penampilan dan pelayanan yang mencerminkan semangat perjuangan, kerjasama, dan dedikasi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.

Acara dimulai sejak pagi dengan penyambutan hangat kepada para peserta dari gereja-gereja lokal. Raut wajah para wanita yang hadir tampak bersinar penuh antusiasme. Mereka datang dengan semangat persekutuan, membawa harapan untuk dikuatkan dan diberkati bersama dalam suasana kebangkitan.

Pujian, Penyembahan, dan Firman yang Menguatkan

Rangkaian acara diawali dengan pujian dan penyembahan yang penuh semangat dan pengurapan. Lagu-lagu kebangkitan dinyanyikan dengan penuh semangat dan keyakinan, membangkitkan suasana perayaan iman yang kuat dan menyentuh. Para wanita dari berbagai jemaat menyatu dalam satu suara, satu semangat, dan satu hati untuk meninggikan Kristus yang telah bangkit.

Setelah pujian dan penyembahan, acara dilanjutkan dengan pelayanan Firman Tuhan. Firman disampaikan dengan penuh kuasa dan penguatan, menyoroti makna kebangkitan Kristus sebagai sumber kekuatan bagi perempuan Kristen dalam menghadapi kehidupan. Firman meneguhkan bahwa wanita-wanita percaya dipanggil bukan hanya untuk menjadi penerima kasih karunia, tetapi juga menjadi alat Tuhan untuk membawa pemulihan, pengharapan, dan pembaruan di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.

Pesan kebangkitan dikaitkan secara relevan dengan tantangan-tantangan nyata yang dihadapi kaum wanita dalam kehidupan modern, termasuk peran sebagai ibu, istri, pekerja, dan pelayan Tuhan. Firman ini menjadi napas baru yang menyegarkan jiwa dan membangkitkan semangat pelayanan.

Penampilan Kreatif dan Kolaboratif Antar Jemaat

Kegiatan ini juga diramaikan oleh penampilan-penampilan kreatif yang dipersembahkan oleh wanita-wanita dari tiga gereja utama: Menteng Pulo, Kega, dan Jatinegata. Setiap gereja membawa kontribusi yang khas: mulai dari drama singkat bertema kebangkita dan Penampilan Pujian dari Kaum Wanita yang luar biasa. Penampilan-penampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan iman secara mendalam dan menyentuh.

Keindahan acara ini tidak hanya terletak pada isi acaranya, tetapi juga pada semangat pelayanan dan pengorbanan waktu, tenaga, dan hati dari setiap pengisi acara. Latihan yang dilakukan jauh-jauh hari, koordinasi lintas jemaat, serta kerja sama yang terjalin menunjukkan bahwa pelayanan wanita GIA Daerah VII bukan hanya hidup, tetapi juga semakin berkembang dalam kualitas dan dampaknya.

Wajah Sukacita dan Persekutuan yang Erat

Sepanjang acara, suasana penuh kegembiraan dan kehangatan sangat terasa. Para peserta tidak hanya menikmati setiap bagian acara, tetapi juga terlibat aktif dalam persekutuan. Pelukan, tawa, obrolan akrab, dan sesi foto bersama menjadi pemandangan umum yang memperlihatkan eratnya persaudaraan di antara para wanita Daerah VII.

Momen ini menjadi ruang jeda dari kesibukan pelayanan harian, sekaligus kesempatan emas untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam iman. Kebersamaan seperti ini menjadi bukti nyata bahwa kebangkitan Kristus tidak hanya mengubah hidup secara pribadi, tetapi juga membangkitkan relasi yang sehat dan membangun antar sesama pelayan Tuhan.

Penutup Penuh Harapan

Acara ditutup dengan doa bersama dan pengutusan, yang menandai bahwa perayaan ini bukanlah akhir, melainkan permulaan semangat baru dalam pelayanan wanita. Peserta kembali ke gereja masing-masing dengan membawa sukacita, penguatan, serta semangat untuk terus bersinar dan memberkati.

Melalui kegiatan Paskah Wanita GIA Daerah VII ini, terlihat dengan nyata bahwa wanita adalah tiang penopang yang kuat dalam kehidupan jemaat. Diharapkan semangat kebangkitan Kristus yang telah dirayakan ini terus menyala dalam setiap aspek hidup dan pelayanan mereka, membawa dampak yang nyata bagi keluarga, gereja, dan masyarakat luas.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Persekutuan Hamba Tuhan D II

Persekutuan Hamba Tuhan D II

Pada hari Senin, 28 April 2025, sebuah kegiatan rohani yang sarat makna telah berlangsung dengan penuh sukacita dan kekhidmatan, yaitu Persekutuan Hamba Tuhan Daerah II Sinode Gereja Isa Almasih. Acara ini digelar di Gereja Isa Almasih Kridonggo, Semarang dan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, dengan dihadiri oleh para Hamba Tuhan dari berbagai gereja lokal yang tergabung dalam Daerah II Sinode GIA.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Daerah II sebagai bagian dari upaya membangun kebersamaan dan mempererat relasi antara sesama pelayan Tuhan. Dalam realitas pelayanan sehari-hari, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap Hamba Tuhan menghadapi dinamika, tantangan, bahkan pergumulan yang berbeda-beda di ladangnya masing-masing. Oleh karena itu, persekutuan ini menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman, memperkuat jaringan komunikasi rohani, serta membangun semangat kesatuan tubuh Kristus di antara gereja-gereja lokal.

Acara dimulai dengan sesi pujian dan penyembahan yang dipimpin dengan penuh pengurapan. Nyanyian-nyanyian rohani yang dinaikkan bukan hanya menjadi pembuka acara, tetapi juga menjadi waktu penyegaran rohani bagi setiap peserta. Dalam atmosfer hadirat Tuhan yang kuat, para hamba Tuhan larut dalam penyembahan, membuka hati mereka untuk dipenuhi kembali oleh kasih dan kekuatan dari Tuhan yang mereka layani.

Setelah sesi penyembahan, acara dilanjutkan dengan persekutuan inti dan pembekalan, yang menjadi fokus utama dari kegiatan ini. Pembekalan ini disusun secara khusus untuk memberikan pencerahan dan pemahaman baru kepada para Hamba Tuhan mengenai berbagai isu strategis dalam pelayanan zaman kini.

Yang membuat pembekalan kali ini sangat luar biasa dan berbeda dari biasanya adalah topik yang diangkat, yaitu mengenai “Manfaat dan Bahaya Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Pelayanan Gereja.” Di era digital yang berkembang sangat pesat, pemanfaatan AI dalam berbagai aspek kehidupan  termasuk dalam konteks pelayanan menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk memahami apa itu AI, bagaimana AI bekerja, serta sejauh mana teknologi ini dapat digunakan secara positif dalam mendukung pelayanan, seperti dalam pengolahan data jemaat, penyusunan materi khotbah, manajemen keuangan gereja, media digital gereja, dan pelayanan pastoral secara online.

Namun demikian, pembekalan ini juga mengingatkan akan potensi bahaya yang bisa timbul jika teknologi digunakan secara tidak bijaksana. Misalnya, ketergantungan berlebihan terhadap AI bisa menggeser nilai-nilai spiritual dan ketulusan pelayanan. Ada pula risiko tersebarnya informasi rohani yang tidak akurat jika tidak disaring dengan hikmat. Oleh karena itu, peserta dibekali dengan prinsip-prinsip teologis dan etis dalam memanfaatkan teknologi ini, agar AI menjadi alat bantu, bukan pengganti sentuhan pribadi dalam pelayanan yang sejati.

Selain pembekalan, persekutuan ini juga memberikan waktu untuk berdiskusi dan bertanya jawab, sehingga suasana menjadi dinamis dan partisipatif. Banyak peserta mengungkapkan pengalaman mereka secara langsung dalam menghadapi perkembangan teknologi dalam pelayanan, baik di lingkungan jemaat yang urban maupun pedesaan.

Secara keseluruhan, kegiatan Persekutuan Hamba Tuhan Daerah II Sinode Gereja Isa Almasih ini berlangsung dengan sangat baik, penuh kehangatan, dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi seluruh peserta. Tidak hanya menjadi sarana penyegaran rohani dan kebersamaan, tetapi juga menjadi titik tolak bagi gereja-gereja lokal untuk bergerak secara lebih kontekstual dan relevan di tengah dunia yang terus berubah.

Harapan besar tersemat dari kegiatan ini: kiranya para Hamba Tuhan semakin diperlengkapi, bersatu hati dalam pelayanan, dan terus mengandalkan Tuhan dalam setiap musim perubahan yang terjadi, termasuk dalam era teknologi yang semakin kompleks ini.

Categories
Liputan Seputar Sinode

Peresmian TPI Tebo Jambi

Peresmian TPI Tebo Jambi

Di tengah-tengah hijaunya hamparan alam Tebo, Jambi, tepatnya di Jalan Poros 48, sebuah momen bersejarah terjadi pada tanggal 31 Maret 2025. Hari itu bukan sekadar hari biasa bagi warga sekitar, khususnya bagi jemaat yang telah lama merindukan hadirnya sebuah tempat ibadah yang tetap dan representatif. Hari itu, GIA TPI Tebo resmi diresmikan, sebuah peristiwa yang bukan hanya menjadi bukti pertumbuhan gereja, tetapi juga kesaksian tentang kesetiaan dan kebaikan Tuhan di tengah ladang pelayanan yang belum banyak disentuh.

 

Ibadah peresmian ini digelar dengan penuh sukacita dan pengharapan. Sejak pagi hari, suasana di sekitar lokasi ibadah sudah dipenuhi dengan semangat pelayanan. Jemaat lokal, panitia, dan tim pelayanan dari berbagai daerah tampak bahu-membahu mempersiapkan segala sesuatu dengan antusias. Tidak tampak rasa lelah, meskipun sebagian besar dari mereka harus menempuh perjalanan panjang dan menantang selama hampir 10 jam dari Pekanbaru—melintasi jalanan yang berkelok-kelok, rusak, bahkan berlubang. Medan yang berat itu justru menjadi bagian dari kesaksian iman, bahwa pelayanan sejati lahir dari semangat yang tidak mudah menyerah.

Salah satu hal yang menonjol dalam kegiatan ini adalah kehadiran para tokoh penting dalam pelayanan GIA. Pendeta Julianus Ginting, S.Th., selaku Ketua Majelis Daerah IX, datang langsung untuk menghadiri dan memberkati peresmian ini. Beliau tidak hanya hadir secara seremonial, tetapi ikut terlibat secara aktif dalam membangun semangat bersama, menyapa jemaat dengan hangat, serta menyuarakan dukungan penuh terhadap pelayanan di TPI ini.

Tak kalah penting, hadir pula Pendeta Nehemia Sulistiyanto, M.Th., salah satu anggota Majelis Pusat Harian (MPH) GIA. Dalam atmosfer ibadah yang begitu hangat dan penuh kasih, beliau menjadi pembawa firman Tuhan dengan penuh pengurapan. Pesan yang disampaikan menggugah hati jemaat: agar mereka tetap berakar dalam iman, tidak goyah oleh keadaan, dan terus menjadi alat Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa di sekitar mereka. Dengan gaya penyampaian yang lembut namun mengakar kuat dalam kebenaran firman, pesan itu menggema dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh yang hadir.

Kehadiran para hamba Tuhan dari GIA Pekanbaru, serta rekan-rekan pelayanan dari sekitar Tebo, juga menambah semarak ibadah ini. Dukungan mereka bukan hanya secara kehadiran, tetapi juga secara rohani, dalam doa, pujian, dan semangat kebersamaan yang terasa begitu kuat. Seluruh elemen dalam acara ini menunjukkan bahwa pelayanan bukanlah kerja individu, melainkan gerakan bersama dari tubuh Kristus.

GIA TPI Tebo sendiri merupakan bagian dari program kerja sama GIA di wilayah MD IX, yang mencakup daerah-daerah seperti Riau, Jambi, dan sekitarnya. TPI atau Tempat Pertumbuhan Iman ini dirancang sebagai titik awal dari pertumbuhan sebuah gereja yang mandiri, dimulai dari kelompok kecil yang dibina, dilayani, dan diarahkan agar kelak berkembang menjadi gereja lokal yang kokoh dan aktif menjangkau masyarakat.

Bagi masyarakat dan jemaat lokal, kehadiran TPI ini menjadi jawaban doa yang telah lama dinaikkan. Tidak sedikit keluarga yang sebelumnya beribadah di tempat-tempat terbatas, bahkan berpindah-pindah rumah karena keterbatasan fasilitas. Kini, dengan berdirinya TPI ini, mereka memiliki rumah rohani yang tetap di mana mereka bisa bertumbuh bersama dalam kasih, pengajaran, dan persekutuan. Harapannya jelas: banyak orang dimenangkan bagi Kristus, keluarga-keluarga dipulihkan, dan komunitas Kristen bertumbuh dalam semangat pelayanan yang berdampak.

Selain khidmatnya ibadah, suasana akrab dan kekeluargaan terasa begitu kental di sela-sela acara. Jemaat saling menyapa, berbagi cerita, dan menjalin hubungan baru. Tidak sedikit dari mereka yang merasakan bahwa peristiwa ini bukan hanya peresmian gereja secara struktural, tetapi juga perjumpaan batiniah sebagai keluarga Allah yang baru dipersatukan. Anak-anak, remaja, orang tua hingga lansia tampak menikmati setiap bagian dari acara, dari pujian yang semarak, penyembahan yang mengalir, hingga pemberitaan firman yang menguatkan.

Setelah ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah sederhana namun penuh makna. Makanan khas lokal disajikan, dan senyum-senyum hangat dari para jemaat menjadi penutup yang indah bagi hari yang luar biasa tersebut. Perjalanan panjang yang ditempuh para tamu dari luar daerah seolah mendapatkan balasannya dalam bentuk sukacita, harapan baru, dan semangat pelayanan yang menyala.

Ibadah Peresmian GIA TPI Tebo ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah bagi gereja lokal, tetapi juga menjadi simbol dari kerinduan GIA untuk terus menjangkau wilayah-wilayah yang belum terjamah. Dalam kerja sama antara pusat, daerah, dan gereja lokal, peristiwa ini menunjukkan bahwa di tengah segala keterbatasan, Tuhan tetap bekerja dan membuka jalan bagi pertumbuhan umat-Nya.

Dengan berdirinya TPI ini, satu terang baru dinyalakan di tengah Tebo. Dan terang itu akan terus bersinar melalui jemaat yang setia, pemimpin yang melayani, dan Tuhan yang tak pernah berhenti berkarya

Categories
Liputan Seputar Sinode

KEGIATAN RETREAT PRBK DAERAH IX

KEGIATAN RETREAT PRBK DAERAH IX

Pada tanggal 27 hingga 29 Maret 2025, telah berlangsung sebuah kegiatan penting dan inspiratif yang mempertemukan para pemuda dan remaja gereja dari berbagai penjuru wilayah Majelis Daerah IX (DAERAH IX) dalam acara Retreat PRBK DAERAH IX. Acara ini diadakan di kawasan wisata alam Henferd Land, Bangkinang, Riau—sebuah tempat yang dikenal dengan suasana alamnya yang tenang, hijau, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suasana ini memberikan nuansa yang sangat kondusif untuk merenung, belajar, mempererat kebersamaan, dan mengalami perjumpaan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Partisipasi Gereja-gereja Wilayah DAERAH IX

Kegiatan retreat ini diikuti oleh peserta dari berbagai gereja yang tergabung dalam PRBK (Persekutuan Remaja dan Pemuda Kristen) di bawah naungan GIA (Gereja Injili di Indonesia). Adapun gereja-gereja yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi: PRBK GIA Pekanbaru, PRBK GIA Murini, PRBK Tanjung Medan, PRBK GIA Kasang Bangsawan dan POUK Padasa

Kehadiran peserta dari berbagai gereja ini memperlihatkan semangat keterbukaan dan kolaborasi lintas jemaat yang menjadi ciri khas pelayanan PRBK. Total peserta yang hadir mencapai lebih dari seratus orang, terdiri dari remaja dan pemuda dengan latar belakang, pengalaman, dan karakter yang beragam.

Tujuan dan Semangat Retreat

Retreat ini digagas dengan tujuan utama untuk membekali dan menyinergikan seluruh PRBK GIA yang ada di bawah koordinasi DAERAH IX. Dalam menghadapi tantangan zaman dan dinamika generasi muda masa kini, sinergi antargereja menjadi penting agar pelayanan pemuda tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dan memperkuat dalam visi bersama.

Selain itu, retreat ini juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya peran pemuda Kristen di era digital. Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul generasi muda yang tidak hanya aktif secara rohani, tetapi juga relevan secara sosial dan digital.

Konsep Acara yang Kekinian dan Inklusif

Salah satu keunikan dari retreat ini adalah konsep kegiatan yang sangat ramah Generasi Z. Seluruh peserta dikelompokkan secara acak tanpa mempertimbangkan asal gereja, agar mereka terdorong untuk berbaur dan menjalin relasi lintas komunitas. Proses ini mencairkan sekat-sekat yang ada dan membuka ruang dialog serta keakraban sejak hari pertama.

Rangkaian acara disusun dengan sangat dinamis, memadukan unsur spiritual, edukatif, rekreatif, dan sosial. Panitia dengan cermat merancang setiap sesi agar tidak monoton, melainkan beragam dan interaktif. Mulai dari sesi pembinaan rohani, diskusi kelompok, kuis Alkitab, penampilan bakat (talent show), malam pujian dan penyembahan, hingga turnamen game online yang menjadi magnet tersendiri bagi peserta muda. Turnamen ini dirancang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga untuk menanamkan nilai kerjasama, sportivitas, dan pengelolaan emosi dalam konteks kekristenan.

Materi dan Pembicara

Retreat ini juga menghadirkan dua tokoh penting dalam lingkup pelayanan GIA sebagai pembicara utama, yaitu:

  1. Pdt. Julianus Ginting, S.Th. (Ketua DAERAH X)

Beliau membawakan materi dengan topik “Dasar-Dasar Iman Kristen”. Dalam penyampaiannya yang lugas dan penuh semangat, Pdt. Ginting menekankan pentingnya pemahaman teologis yang kuat di kalangan generasi muda. Ia mengajak para peserta untuk tidak hanya mengandalkan perasaan atau tradisi, tetapi memahami dan menghidupi kebenaran iman Kristen secara menyeluruh—dari doktrin keselamatan, kejatuhan manusia, karya salib, hingga panggilan hidup sebagai pengikut Kristus.

  1. Pdt. Nehemia Suilistiyanto, M.Th. (Ketua Departemen Penelitian, Informasi, dan Komunikasi – PIK)

Membawakan sesi yang sangat relevan berjudul “Garam dan Terang di Era Digital”, Pdt. Nehemia mengajak peserta menyadari bahwa kehadiran media sosial tidak bisa dihindari, tetapi harus diisi dengan nilai-nilai Kristiani. Ia menjelaskan bagaimana seorang pemuda Kristen bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan kabar baik, membangun komunitas sehat, dan menjadi suara kasih di tengah dunia maya yang sering kali penuh ujaran kebencian dan hoaks.

Materi-materi ini tidak hanya informatif tetapi juga transformatif, disampaikan dengan gaya yang dekat dengan anak muda dan dibumbui dengan kisah-kisah nyata serta ilustrasi visual yang menarik.

Suasana dan Kesan Peserta

Selama tiga hari dua malam, para peserta tidak hanya belajar, tetapi juga mengalami transformasi personal dan spiritual. Suasana kekeluargaan begitu terasa di setiap sesi. Tawa, air mata, pelukan, dan doa bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual mereka dalam retreat ini.

Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang iman mereka, dengan relasi yang baru dan berharga, serta dengan semangat yang diperbarui untuk kembali melayani di jemaat masing-masing.

Penutup

Retreat PRBK DAERAH IX bukan sekadar sebuah acara tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kesatuan, pembekalan, dan peneguhan identitas generasi muda Kristen di DAERAH IX. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, pemuda-pemudi GIA semakin disiapkan untuk berdiri teguh sebagai terang dan garam, tidak hanya di gereja, tapi juga di tengah dunia yang mereka hadapi sehari-hari—baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Retreat ini menjadi titik tolak bagi perjalanan PRBK DAERAH IX menuju pelayanan yang lebih bersinergi, inklusif, dan berdampak. Harapannya, benih-benih yang ditabur selama tiga hari ini akan terus bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan para peserta dan komunitas mereka masing-masing.