Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Profil Gereja

GIA Kuripan – Keajaiban Tuhan di Masa Pandemi

– PROFIL GEREJA –

GIA Kuripan – Keajaiban Tuhan di Masa Pandemi

“Gereja Kuripan, keajaiban Tuhan karena gereja ini dibangun saat pandemic bulan Maret 2019”, Pdt. Silas Sariman
Wawancara kepada Pdt. Silas
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Mazmur 8:2
Oleh: Thomas Esha
TheHOPE – Udara sore itu menyapa agak basah. Kulit pipi dan lengan terasa mengkerut, dingin. Sebentar ada rasa enggan bersiul merdu merayu, untuk membatalkan janji hari itu. Tapi rasa ingin berjumpa dengan hamba Tuhan gereja Kuripan, terlalu kuat mengalahkan rasa enggan karena gerimis yang sejak siang hari membasahi kota Semarang.

Maka kupegang dengan sepenuh hati kemudi kendaraan. Mobilpun melaju mengantar ke Gereja Isa Almasih Kuripan. Sementara hati meluap syukur pujian, membungkam suara minta batal. Kendaraanpun menghela perlahan menyusuri jalanan yang penuh sesak dengan berbagai kendaraan yang merayap nyaris memacetkan jalanan.

Waktu menunjuk pukul 16.20, lebih 20 menit dari jam yang ditentukan karena jalanan ada yang macet akibat gerimis dan berbarengan jam pulang kerja. Sampailah ke tujuan, dengan wajah yang ramah tapi serius, ciri khas Pdt. Silas, mengajak penulis ke kantor gereja yang sekaligus ruang tamu.
Anda bisa mewarisi iman dan panggilan di GIA Kuripan, bagaimana prosesnya?
Bapak Gembala penggemar nasi goreng ini, dengan keramahannya mengawali wawancara dengan berkisah bagaimana proses beliau mewarisi iman dan panggilan di GIA Kuripan.

“Duapuluh tahun yang lalu, GIA Kuripan dalam keadaan vakum tanpa gembala dan kondisi gereja memprihatinkan, rusak hampir roboh. Terdiam sejenak dan bola mata yang menerawang ke masa lalu.Dan Jemaatpun makin berkurang. Ketika tutup tahun, saya diminta kepastiannya untuk menjadi gembala. Setelah berunding dengan istri dan bergumul dalam doa, saya pun memberi jawaban bersedia. Meskipun waktu itu keadaan jauh dari cukup secara ekonomi maupun tempat ibadah, tapi dengan iman saya memutuskan untuk menjadi gembala”.

“Saya siap membangun gereja ini,” tegasnya disertai senyum keramahan seperti mengajak untuk masuk ke peristiwa masa itu yang tidak mudah.

Dan tanpa terasa sudah 24 tahun saya menjadi gembala, ditahbiskan 21 Mei 1998, saat itu Jakarta membara ketika pak presiden 32 tahun, lengser, dan bersamaan dengan Kenaikan Yesus ke Surga. Dengan iman yang teguh, bapak 2 anak, Natanael Devianto dan Philia Natalia, berangkat mengawali dari keadaan gereja minus menjadi baik, maju dan bertumbuh. Nama Yesus sangat dipermuliakan lewat sentuhan tangan dan hati beliau, karena cintanya yang luar biasa kepada Kepala Gereja, Tuhan Allah Semesta Alam.

Cara Tuhan sangat ajaib lewat berbagai jalan, misal suatu siang tiba tiba ada mobil plat L yang masuk kehalaman gereja. Saya tidak kenal orang tersebut, tetapi dia memberikan persembahan untuk gereja. Dan banyak hal lain yang menakjubkan terjadi yang terpikirkan. Bukti Tuhan yang Empunya Gereja-Nya itu hidup dan berkuasa. Terpujilah Tuhan sampai selama-lama-Nya.
Masa sulit karena Covid dan disusul dengan ekonomi inflasi. Bagaimana Anda melihat pelayanan gereja?
Mula mula kaget, karena peristiwa ini datang secara tiba tiba. Ibadah dan semua kegiatan gereja berhenti. Kemudian majelis rapat dan memutuskan ibadah tetap berjalan tetapi di rumah rumah jemaat, secara berkelompok. Kelompok yang kecil supaya tidak mencolok(karena lingkungan), yang penting jemaat tetap beribadah.

Yang menarik dan bisa dipelajari dari pertitiwa covid ini, lanjut suami dari Ibu Sulistiya Diana Mira, adalah kita harus selalu siap menghadapi kondisi yang diluar prediksi. Seperti covid yang tiba tiba datang dan mengejutkan semua bangsa di dunia. Jemaat sekarang harus siap menghadapi kondisi sulit seperti itu.

Jangan sampai pelayanan dan pengembangan misi Tuhan terhalang. Kami juga harus terus menggandalkan dan bergantung kepada Tuhan, nanti Tuhan yang akan menunjukkan jalan yang terbaik. Karena kita semua lemah , terbatas bahkan tidak mampu.
Menurut anda, apakah yang perlu mendapat perhatian dalam menyiapkan jemaat saat ini dan akan datang dimasa sulit ekonomi?
Menurut saya, kita harus bijak dalam mengelola keuangan. Baik gereja maupun perorangan, tegasnya . Kalau tidak penting jangan beli. Juga program kerja, kita lihat mana yang urgen yang harus dijalankan, sehingga pelayanan dan kehidupan jemaat tetap berjalan dengan baik.

Kemudian saya menekankan jemaat untuk giat mencari “sumber berkat”, bukan mencari berkat, tetapi mencari sumbernya. Karena kalau mencari berkat, berkat bisa berhenti, tetapi kalau mencari sumber berkat, takkan pernah habis. Carilah Kerajaan Surga dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan. Firman Tuhan yang ajaib ini harus terus diterapkan oleh kita semua, karena secara luar biasa akan benar benar terjadi.

Selanjutnya kita harus memohon anugerah dan pertolongan Tuhan , karena segala upaya kita tak berguna tanpa Anugerah-Nya serta pertolongan Tuhan. Godaan semakin banyak disekeliling kita. Dengan anugerah Tuhan kita akan kuat menghadapi godaan dunia dan kita bisa selalu bersyukur dalam segala keadaan.
Melihat gereja gereja dengan segala kesulitannya menghadapi masa masa sekarang ini. Adakah satu dasar dan prinsip yg harus dipegang dan dijalankan?
Kita harus berpegang pada Firman Tuhan, dasarnya harus Firman Tuhan, bukan yang lain. Bukan pada pandangan ekonomi dunia, pendapat para pakar ekonomi dan lain-lain, ujarnya dengan penuh percaya.

Seperti dikatakan Yeremia 17 : 7 “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang harapannya hanya kepada Tuhan”. Gereja dan umat Tuhan yang ingin terus menikmati kebaikan Tuhan, harus terus mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada Tuhan bukan yang lain.

Kemudian Mazmur 62 : 2 . “Daud berkata hanya dekat Allah saja aku tenang”. Bagi Daud dekat dengan Tuhan itu segala galanya. Dalam mazmur yang lain, Daud berkata satu hal yang kuminta adalah diam di rumah Tuhan. Daud tidak menginginkan hal yang lain, kedudukan, kekayaan, ketenaran, tapi yang diingininya adalah diam di ruman Tuhan. Bukan berarti diam di gereja, melainkan diam dalam hadirat Tuhan seumur hidupnya. Jemaat dan gereja Tuhan harus berpegang pada Firman Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Dekat dengan Tuhan berarti dekat dengan berkat serta pertolongan-Nya
Tantangan yang utama dan terus menjadi motivasi untuk terus berbenah itu apa sih pak?
Pertama, kita harus focus untuk berbenah yaitu menyiapkan diri untuk menjadi pelayan pelayan yang takut akan Tuhan, yang berkenan. Bukan pelayan yang terkenal atau hebat. Tuhan tidak mecari pelayan yang terkenal atau gereja yang besar. Tuhan mencari pelayan yang takut akan Tuhan , taat, setia dan hidup berkenan di hadapan Tuhan. Prinsip itu harus menjadi pergumulan gereja Tuhan.

Tiap gereja lokal menghadapi tantangannya sendiri sendiri, pergumulannya berbeda beda. Dalam setiap pergumulan dan pelayanan, selalu taat dan setia serta bergantung pada Tuhan. Niscaya anugerah dan pertolongan Tuhan akan diberikan , kita dimampukan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan.

Kita adalah hamba, saat kita diutus dan menghadapi kesulitan kita datang pada Tuan kita yang mengutus. Tanpa pertolongan Tuhan kita tidak akan kuat. Terlebih lagi hamba hamba Tuhan yang banyak sekali menghadapi tantangan, baik dari jemaat maupun persoalan pribadi.

Jemaat bisa datang pada hamba Tuhan untuk curhat dan didoakan, tetapi hamba Tuhan datang pada siapa untuk meminta solusi, kecuali hanya pada Tuhan. Gereja lokal kadang juga enggan untuk meminta nasehat pada Sinode, karena takut diketahui dan sebagainya. Sebab itu bila hamba Tuhan tidak melatih diri untuk dekat dengan Tuhan pasti tidak akan kuat. Tidak sedikit hamba Tuhan yang jatuh, terlebih yang sudah terkenal.

Makin terkenal, tantangannya semakin berat. Makin tinggi seseorang, angin yang bertiup makin kencang. Hal penting lainnya adalah saling memperhatikan. Antara Jemaat, pengerja dan hamba Tuhan. Kurangnya perhatian, kadang kita bisa merasa sepi dan merasa seorang diri. Ketika ada yang menyapa dan menanyakan, rasanya sudah berbeda.

Kemudian yang ke dua, hidup dekat dan selalu mengandalkan Tuhan. Bila dua hal ini tertanam dalam pola pikir jemaat, maka pada saat jemaat menghadapi masalah dan tantangan, mereka akan berharap dan berseru hanya kepada Tuhan, bukan pada manusia. Karena hanya Tuhanlah yang dapat memberikan pertolongan, dengan cara yang ajaib. Bukan manusia.
Adakah hal praktis yang membuat gereja Kuripan bisa bagikan dan saksikan tentang pemikiran itu?
Pertama, mendorong jemaat untuk menjadi saksi Tuhan. Ditengah masalah dan kesulitan, tetap dan selalu menjadi saksi Tuhan. Semua orang pasti mengalami kesulitan, baik umat Tuhan maupun orang dunia. Apakah mereka dapat melihat beda antara umat Tuhan dan orang dunia dalam menghadapi kesulitan.Kita harus berbeda dengan mereka.

Kita harus menjadi terang dan saksi Tuhan lewat hidup yang tetap tenang meski dalam kesulitan. Karena kita punya Tuhan yang hidup dan penuh pengharapan. Kita harus jadi saksi bagi dunia. Kemudian yang kedua kita harus berdoa untuk jiwa jiwa baru dan dengan cara yang ajaib Tuhan kirim jiwa jiwa dan jemaat baru. Banyak juga jiwa baru yang datang dari seberang.
Jadi menurut bapak tugas misi gereja sekarang bagaimana?
“Tugas misi gereja tidak pernah berubah, “ujar bapak yg memiliki motto hidup, sestia sampai akhir ini dengan tegas, dulu dan sekarang. Hadirnya gereja harus menjadi berkat dan sarana keselamatan bagi umat manusia. Di tengah segala tantangan dan pergumulan yang berbeda pada setiap jamannya, tetapi misi gereja tetap sama.

Gereja hadir di tengah dunia harus menampakan terang di tengah kegelapan, harus menyampaikan berita keselamatan. Gereja terus memberitakan Injil, umat Tuhan terus bertambah, baik kualitas hidup jemaat yang sudah percaya, rohaninya makin mantap, juga yang baru akan terus bertumbuh dalam kebenaran. Jangan berputar-putar pada diri sendiri.
Apa yang masih perlu anda sampaikan khususnya dalam kesinodean Gereja Isa Almasih?
Untuk Sinode, perlu adanya sinkronisasi antara departemen departemen dengan program di MD, karena kadang ada program yang hampir sama. Bahkan antar departemen sendiri terjadi rebutan, misalnya program pembinaan, siapa yang menangani, PAJ atau Pendidikan.

Hal itu terjadi pada kepengurusan yang lalu, sebab itu pada kepengurusan yang baru ini seharusnya lebih sinkron dan berjalan baik, sehingga program program tersebut bisa menjadi berkat.

Tugas untuk pengurus sinode yang baru, adalah menyelesaikan Tata Laksana. Sinode gereja ada Tata Dasar, Tata Gereja dan tata Laksana. Tata Laksana sampai sekarang belum selesai, khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan Hamba Tuhan. Harus segera dipikirkan dan diputuskan, berhasil atau tidak yang penting terus diperjuangkan. Hal tersebut dirasakan oleh Hamba Tuhan khusus di daerah daerah, karena tidak ada standarisasi. Tergantung gereja local masing masing. Kalau gerejanya mampu, ya enak. Kalau sebaliknya ya susah.
Adakah semacam proyek percontohan di GIA Kuripan.
Di Natal kali ini dengan cara, mulailah memiliki kerinduan untuk memenangkan jiwa, itu yang pertama, kedua doakan jiwa jiwa itu, ketiga lakukan relasi hubungan dengan mereka dan ke empat ajak mereka saat momentum natal nanti, mereka datang ke rumah Tuhan dan berjumpa dengan Tuhan.

Nanti Tuhan sendiri yang akan berbicara dan membuat mereka bertobat dan menjadi anak Tuhan.

Kami mengakhiri perbincangan dengan berfoto di depan yang baru, Jemaat GIA Kuripan, Karangawen, Demak, Jawa Tengah. Tuhan sangat memberkati GIA Kuripan, karena dengan ajaib gereja ini dibangun pada saat Pandemi. Secara manusia mustahil , tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.(te)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Profil Gereja

Mengenal Lebih Dekat GIA Jemaat Genurid

Mengenal Lebih Dekat GIA Jemaat Genurid

Oleh Thomas Esha & Eka Pusaka Dharma

"Jika Anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Jika Anda tidak dapat melakukannya dengan cinta yang besar, lakukan dengan sedikit cinta. Jika Anda tidak bisa melakukannya dengan sedikit cinta, lakukan saja."
Ibu Teresa
TheHope.id – Tas ransel segera kukenangkan. Pak Thomas anggota team redaksi telah bersiap diri di depan kemudi. Bunyi mesin kendaraan yang akan membawa kami berdua terasa kurang sabar menanti. Akhirnya dari kota Semarang, kami meluncur ke desa Genurid. Sudah satu jam perjalanan kami dengan kendaraan roda empat menuju GIA Genurid, Ungaran. Kami berdua seperti menelusur jalan yang berhias aneka pohon layaknya desa di Jawa Tengah, hhmm…asri. Dalam perjalanan banyak disuguhkan pemandangan yang luar biasa terutama di jalan toll Banyumanik, kanan kiri sisi jalan yang memukau mata kami karena melewati lembah dan perbukitan. Saat keluar toll Banyumanik perjalanan dilanjutkan menuju Ungaran, memasuki jalan yang hanya bisa dilalui oleh dua kendaraan yang berlawanan dan melewati perkebunan karet yang sangat asri dan memukau mata.

Sambutan ‘Selamat Datang’ dari Gapura Desa Kawengen membuat kami harus segera bersiap-siap karena akan segera tiba ke tempat yang akan kami kunjungi. Kawengen adalah sebuah desa di kecamatan Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Di Desa Kawengen inilah lebih spesifik ada suatu kawasan bernama Genurid. Tibalah kami ke tempat yang kami kunjungi yaitu Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid. Udara desa Genurid menerpa tubuh kami, rasa segar dan terasa sapaan kasih dari saudara yang menyambut kami.

Gereja Genurid adalah benih perjuangan iman dan ketaatan untuk memberitakan berita injil. Berawal dari pengabaran Injil seorang pendeta dari Ungaran di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo sebagai pelindung GIA Jemaat Pringgading sekitar tahun 1977 yang melayani di daerah Genurid melalui sebuah persekutuan di rumah kepala dusun. Seiring berjalannya waktu persekutuan ini harus dihentikan karena dianggap kegiatan yang liar dan gelap, karena tidak memiliki ijin dari bapak lurah setempat. Pdt. Paulus yang melakukan perintisan di Genurid dari GIA Jemaat Sidomulyo meyakinkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter demi kesejahteraan masyarakat dengan membangun mental yang baik.

Setelah melalui pergumulan doa dan tindakan kasih, benih iman dan penginjilan mulai menampakkan hasilnya. Dimulai dari tetangga yang mulai merasakan kasih dan sukacita dari Tuhan yang disaksikan. Bersyukur ada tetangga-tetangga yang bersedia meminjamkan tempatnya untuk dapat melaksanakan kegiatan ibadah kalaupun para tetangga ini non Kristen. Misalkan Minggu ini di rumah Pak Sadini, lalu Minggu berikutnya di rumah Pak Sukardi. Satu tahun lamanya harus melaksanakan kegiatan ini berpindah-pindah. Akhirnya merasa bahwa tempat yang dipakai pada waktu itu bukan tempat untuk ibadah, maka tempat permanen menjadi pergumulan utama pada saat itu. Puji Tuhan, ada jawaban atas pergumulan doa, hingga akhirnya sekitar tahun 1978 ada lahan yang dapat dibangun walau sederhana menggunakan kayu dan bilik dari anyaman bambu.

Yahya Sawab seorang pemuda berasal dari desa tersebut dan aktif yang sejak awal mengikuti kegiatan ini merasa terpanggil oleh Tuhan untuk belajar theologia pada tahun 1981 di Sekolah Tinggi Theologia Berea, Salatiga dan selesai hingga tahun 1984. Pada tahun 1982, Bapak Slamet seorang Hamba Tuhan yang selama ini melayani di Tempat Pembinaan Iman (TPI) Genurid harus pindah pelayanannya ke GIA Jemaat Bawen, Semarang.

Akhirnya pada tahun 1982 setelah dua tahun belajar di STT Berea, Yahya Sawab harus bersedia bolak balik dari Salatiga ke Genurid setiap minggunya untuk membantu melayani TPI Genurid yang pada saat itu mengalami Pada saat itu, dana yang harus dimiliki oleh jemaat untuk membangun rumah ibadah setelah dianggarkan sebesar Rp. 19 juta. Angaran tersebut ditolak oleh gereja yang menuangi karena terlalu besar.

Tak habis akal, masalah tersebut dikomunikasikan dengan Pak Suh yang hamba Tuhan dari Korea, supaya lebih sering berkhotbah di TPI Genurid. Lalu dibuatlah jadwal yang rutin supaya dapat melayani di sana. Untuk mewujudkan pergumulan ini, pak Suh menyarankan supaya membangun sekolah Taman Kanak-kanak (TK) terlebih dahulu. Hal ini karena untuk membangun rumah Taman Kanak-kanak (TK) tidak terlalu besar anggarannya, baru selanjutnya fokus kepada gereja.
Pdt. Yahya Sawab
Pada tahun 1992 pembangunan TK mulai dilaksanakan dan menghabiskan anggaran sekitar 2,8 juta. Setelah pembangunan TK selesai mulailah fokus pembangunan gereja. Segeralah dibuat panitia pembangunan gereja. Kembali lagi, jemaat yang kecil berdoa kepada Allah yang besar yang empunya langit dan bumi serta Allah mereka.

Ketika pembangunan gereja selesai, sekitar 60 orang rombongan misi Korea hadir untuk meresmikan gereja sekaligus memberikan persembahan kasih untuk mendirikan pastori. Puji Tuhan di luar dugaan, selain membangun TK ternyata dalam satu tahun bisa membangun gereja bahkan sekaligus secara bertahap membangun pastori hingga selesai awal tahun 1993. TPI Genurid yang secara langsung di bawah naungan GIA Jemaat Sidomulyo dan didukung oleh GIA Jemaat Pringgading didewasakan menjadi GIA Jemaat Genurid pada tahun 2007 dengan Gembala Jemaat pertama Pdt. Yahya Sawab. Jumlah jemaat saat itu berjumlah sekitar200 orang yang terdaftar walau yang aktif sekitar 80 orang jemaat.

Berbaur dengan masyarakat sekitar adalah juga hal yang utama supaya dapat terus diterima di tengah masyarakat. Turut aktif dalam kegiatan sosial menjadi hal yang penting seperti bermain bola voli yang dilakukan oleh Yahya Sawab, bahkan pernah juga diikutsertakan untuk menjadi calon lurah. Satu hal yang unik yang dimiliki oleh GIA Jemaat Genurid dan mungkin tidak ada di gereja lainnya adalah adanya speaker Toa yang dipasang di atap gereja dan berfungsi untuk mengumumkan hal-hal yang penting untuk masyarakat sekitar seperti berita dukacita dan pengumuman-pengumuman lainnya.

Gereja ini dibangun dengan kerukunan, segala hal yang ada di desa ini selalu dilakukan secara bersama-sama baik orang Kristen maupun non Kristen. Bahkan masyarakat sekitar menerima dan mendukung keberadaan gereja ini. Tak hanya itu, TK yang dibangun pun banyak anak-anak non Kristen yang belajar di tempat ini turut mengikuti kegiatan belajar secara Kristiani. Kerukunan memang menjadi hal yang utama di desa ini.

Gereja Isa Almasih Jemaat Genurid telah belajar tumbuh bersama Tuhan Yesus Kristus yang Empunya jemaat Genurid, sampai sekarang dan yang akan datang. Beberapa waktu yang lalu ketika tulisan ini akan dimuat dalam artikel profil gereja, Gembala Jemaat GIA Genurid bapak Pdt. Yahya Sawab, berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menyambutnya, “Sabaslah hamba-Ku yang setia”. (te-epd)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Profil Gereja

GIA Dr. Cipto, Sub-Wilayah Bandarharjo, Semarang

GIA Barutikung

GIA Dr. Cipto, Sub-Wilayah Bandarharjo, Semarang

Ditempa menjadi Jemaat yang Kuat

Oleh: Thomas Esha
Dalam menghadapi penganiayaan, ketidaktahuan dan pemusuhan, Gereja perlu mempertahankan praktek hidup dan imannya, The Story of Christianity
Terang Injil ada di daerah ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’


Barutikung. Tepatnya Kampung Barutikung, di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, tahun 1970-1980, kampung yang dikenal sebagai kantong kriminal, sarang penjahat, sarang preman, dan memiliki slogan ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’.

Sejak awal, Gereja berhadapan dengan berbagai tantangan, tulis Michael Collins seorang peneliti dan sejarahwan gereja dari American University di Roma. Rupanya tantangan yang hebat itu mulai diawali karena ada benih gereja yang tertabur oleh berita Injil di daerah Kampung Baru Tikung. Berita Injil lewat persekutuan doa yang terdiri dari lima keluarga dari Bala Keselamatan Korps Semarang II, jl. Dr. Cipto 64 Semarang. Mereka ingin berbakti di Bandarharjo karena jarak yang cukup jauh dari jalan dr. Cipto. Kerinduan selama
empat tahun yang tak terwujud, mereka berinisiatif untuk berkumpul dan mengadakan kebaktian di rumah salah seorang jemaat, bapak Jumeno jl. Lodan Raya 13. Selama lima tahun mereka dilayani
secara konsulen oleh Pdt. Soetojo dari Gereja Baptis Citarum Semarang. Sejak saat itu, daerah yang kental dengan teriakan kebencian dan sumpah serapah, ada suara “Halleluya, puji Tuhan”. Suara pujian bagi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan itu seperti sinar terang menyuarak di kegelapan Kampung Baru Tikung, Bandarharjo.

D
Awal tidak mudah tapi bukan mustahil

Allah tidak pernah berjanji akan selalu memberi kemudahan di setiap gerak anak-anak Tuhan, tetapi Dia berjanji akan selalu memberi kekuatan untuk menghadapi tantangan. Dari persekutuan keluarga yang mengalami tempaan keras oleh lingkungan Kampung Baru Tikung, kehidupan mulai memancarkan kasih Kristus dan hanya karena kemurahan-Nya, kekristenan itu tumbuh. “Dalam niat mulia mendirikan sebuah gereja, di tengah alam ‘liar’ orang orang yang anti gereja. Menyebut nama wilayah itu, orang sudah bergidik; seram. Sebab identik dengan kata yang tidak sedap di dengar preman”, tutur Erry Suryo salah seorang saksi sejarah sekaligus salah seorang pendiri gereja GIA Baru Tikung. Tidak mudah namun tidak mustahil.

Meski badai cercaan bertubi menghantam keluarga demi keluarga, seperti batang besi ditempa secara terus menerus untuk tujuan menjadi alat yang mulia, demikianlah keluarga bakal jemaat gereja yang ada di Baru Tikung di tempa. Bersama ayahanda bapak Urip Suryo yang lebih 40 tahun yang lalu, terus melangkah pasti, menata gereja dari bentuk hanya berupa benih persekutuan keluarga menjadi sebuah gereja dalam arti yang sesungguhnya; persekutuan orang-orang percaya dan bernaung dalam wadahnya karena Tuhan yang mengulurkan tangan-Nya bekerja dan menjadikan Gereja ada di daerah Baru Tikung. Puji Tuhan!

Dengan tidak adanya hamba Tuhan yang tetap semua kegiatan berjalan apa adanya. Dalam situasi seperti itulah Tuhan menggerakan hati ibu Lydia, seorang guru agama Kristen SD Barutikung II, terbeban melayani di tempat ini. Perkenalan ibu Lydia dengan Pdt. Andreas Kristianto pada waktu mengikuti mengikuti training guru-guru agama sekolah dasar yang diadakan oleh GIA dr. Cipto membawa bapak Pdt. Andreas Kristianto membantu pelayanan di tempat ini. Pada tahun 1980, secara resmi jemaat Bandarharjo memisahkan diri dari Gereja Baptis Citarum dan bergabung dengan GIA dr. Cipto dengan jumlah anggota 20 jiwa sebagai Pos PI Barutikung.

Seiring dengan perkembangan struktur organisasi pusat, Pos PI ini berubah menjadi Permata (Persekutuan Rumah Tangga), dan kemudian meningkat menjadi Gereja Sub Wilayah,. Pdt. Andreas Kristianto dibantu bapak Pdt. Yonathan Yamidi (alm), dan ibu Lydia mengembangkan pelayanan setempat dengan membuka Kebaktian Anak-Anak dan Pemuda. Antara tahun 1983-1986 berturut-turut ada di bawah tanggung jawab Pdt. Jairus Hasugian, bapak Paulus Soepeno, Pdt. Stefanus Soebiyantoro, Pdt. Titus Suheri dan bapak Herry Dwi Soetrina. Sejak tahuh 1986 Jemaat Bandarharjo digembalakan oleh Pdt. (alm) Kartomo Suryo Nugroho. Dengan program- program yang lebih mantap dan terarah, jemaat dibawa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengiring Yesus.

Seiring dengan kesungguhan dalam mengiring Yesus. Mulailah tantangan dan kesulitan hebat yang ditimbulkan oleh penduduk sekitar. Intimidasi tak henti henti menimpa jemaat. Lemparan, maaf, kotoran manusia sering dialami. Kalau jemaat tidak berakar sangat dalam di dalam Kristus, iman mereka bisa goyah. Salah satu resep yang dimunculkan juga adalah kerendahan hati berupa; mengalah dan bersikap ramah disamping Allah terus bekerja dengan luar biasa. Ini terlihat saat suasana menimbulkan ketegangan, manakala tempat untuk beribadah dilempar dengan kotoran. Ingin hati membalas, namun tentu bukan itu teladan yang dikehendaki Tuhan. Roh Tuhan terus bekerja, membuat hati jemaat sedia mengalah bukan berarti kalah sebab itulah terladan Kristus saat sudah di salib masih menghadapi olokkan, dan Yesus di kayu salib itu mengampuninya. Dan luar biasa, dengan prinsip yang terasa aneh bagi dunia, mereka bukannya lemah tetapi semakin kuat dan terus bertumbuh. Saat itu jemaat sudah bertambah menjadi 140 jiwa.

Dalam masa kepemimpinan Pdt. Kartomo Suryo Nugroho, mulai direncanakan pembangunan gereja. Ijin sudah didapat, namun warga menolak. Penolakan warga sangat kuat karena dimotori oleh Camat setempat. Tapi, Tuhan yang ada bagi Gereja-Nya membela, jemaat mulai tekun berdoa. Akhirnya, tahun 1998, gereja pun berdiri. Tokoh tokoh yang menolak gereja, di’aman’kan sendiri oleh Tuhan. Ada yang meninggal, dipindahkan, sakit, dan sebagainya. Bapak Yesaya Sampan, salah seorang jemaat yang sudah 33 tahun turut berjuang di sana, menyaksikan kehebatan kuasa Tuhan. Pelopor doa pagi ini menuturkan bagaimana Tuhan bekerja menjangkau jiwa-jiwa di tengah lingkungan yang keras. Sebagai tukang becak beliau dengan cara yang unik mengajak sesama pembecak ikut doa malam di GIA dr. Cipto tiap Kamis malam. Dan merekapun bertobat menjadi anak-anak Tuhan yang setia.

Setelah Pdt. Kartomo dipanggil Tuhan, penggembalaan dipegang oleh beberapa hamba Tuhan, sampai akhirnya putra almarhum yaitu Pdt. Victor menjadi Gembala Jemaat sampai sekarang. Jemaat tercatat 300 orang. Kehadiran rata rata 150 orang.
Sebuah monumen


Sebuah tanda berupa “monumen” penolakan warga masih berdiri sampai sekarang berupa wc umum dan tempat pembuangan sampah dibangun tepat di depan gereja. Tak terbayang, rasa hati saat beribadah, bau tak sedap dan pemandangan kurang nyaman menghantar jemaat datang kepada Tuhan. Namun realita yang menyakitkan itu, tidak menyurutkan niat hati jemaat untuk bertemu Tuhan dan mengasihi sekitarnya. Maka tak heran, tiap kali ada aksi sosial, jemaat selalu memberi bingkisan atau pengobatan gratis dengan kasih dan ketulusan.

Doa adalah penopang dan yang melekat dalam hidup jemaat maka predikat sebagai jemaat yang menjadi pendoa, terus berlanjut. Mereka tidak memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk berdoa dan mencari Tuhan. Kesadaran hati, betapa Tuhan telah membayar harga yang tak ternilai, menyediakan rumah yang kekal, di surga yang mulia, lewat tetes tetes darah di Golgota, mendorong jiwa lebih mengasihi- Nya.

Gereja sering mengadakan bakti sosial, pengobatan gratis, bazar murah dll. Juga PPA. Warga dengan antusias menyambut dan merespon.

Emil Brunner menulis, agama-agama lain memberi kita perendahan paling besar dengan menelanjangi dan menyatakan diri gagal total di hadapan Allah, tetapi kita tak punya hasrat yang lebih besar dari pada yang disaksikan oleh Paulus; “Aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,… Galatia 6:14. -te

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.