Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Kilas Berita

Himne Be Thou My Vision: Sejarah dan Asal Usul Melodi Tradisional Irlandia Slane

- KILAS BERITA -

Himne Be Thou My Vision: Sejarah dan Asal Usul Melodi Tradisional Irlandia Slane

Baca tentang sejarah lagu pra paskah yang paling dicintai sepanjang masa, Himne Be Thou My Vision. Himne ini memiliki akar yang kuat di dalam sejarah Irlandia dan menghadirkan gambaran perbukitan dan dataran tinggi Skotlandia.

Himne Be Thou My Vision merupakan salah satu lagu pra paskah yang paling dicintai sepanjang masa.

Himne Be Thou My Vision
(KAULAH, YA TUHAN, SURYA HIDUPKU)

High King of heaven, my victory won
May I reach heaven’s joys, O bright heaven’s sun
Heart of my own heart, whatever befall
Still be my vision, O ruler of all
Heart of my own heart, whatever befall
Still be my vision, O ruler of all


Teks lagu: Mary E. Byrne, Eleanor H. Hull

Oleh Thomas Esha

Menjelang prapaskah, thehope.id menghadirkan lagu yang dilatar belakangi kisah nyata tentang perjuangan penegakkan iman di Irlandia bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Meskipun perjuangan yang tidak mudah namun iman kepada ‘Yesus Tuhan Allah yang hidup dan berkuasa’, itu pasti menang.

Berikut saya sajikan berdasarkan sumber informasi yang dapat dipercaya, kiranya menjadi berkat. Selamat memasuki pra paskah, kiranya minggu ini tetap teguh dalam iman; Tuhan Yesus Hidup dan Berkuasa.

Sejarah Himne Be Thou My Vision

Himne Be Thou My Vision merupakan salah satu lagu pra paskah yang paling dicintai sepanjang masa. Lagu ini memiliki akar yang kuat di dalam sejarah Irlandia. Dalam lagu yang berciri irama musik khas Irlandia. Ada melodi abad pertengahan menghadirkan gambaran perbukitan dan dataran tinggi Skotlandia, menyebabkan orang menangis saat mendengarnya, dan jutaan lainnya memintanya untuk iringan pemakaman jika mereka meninggal, himne Be Thou My Vision menjadi iringan pemakaman.

Puncak Bukit Slane, Irlandia.
Puncak bukit Slane, Irlandia.

Saat menyanyikan lagu itu Be Thou My Vision, atau Kaulah Ya Tuhan Surya Hidupku (Kidung Jemaat No 405) kita akan langsung merasakan liukan musik tradisional Irlandia. Tidak aneh, sebab nada lagu itu memang diambil dari melodi tradisional Irlandia, yang disebut sebagai melodi Slane. Slane sendiri adalah nama salah satu perbukitan di Irlandia, tempat biara kristen pertama kali dibangun di negeri itu.

Bukit Slane

Bukit-bukit lokal besar selalu dilihat sebagai “tempat-tempat khusus”, baik untuk tujuan ritual maupun militer. Legenda mengatakan bahwa raja Fir Bolg Sláine mac Dela dimakamkan di tempat ini. Kemudian disebut Druim Fuar dengan cepat berganti nama menjadi Dumha Sláine, Bukit (Raja) Slane.

Ada dua batu berdiri di bukit (di kuburan), tanda-tanda kemungkinan tempat penyembahan berhala lainnya. Dengan demikian, bukit woude telah menjadi pilihan yang hampir alami sebagai tempat sebuah gereja Kristen dahulunya tempat kuil-kuil kafir, yang ada di mana “peperangan” iman antara gereja Kristen melawan kuil-kuil kafir berlansung.

St. Patric menyalakan api Paskah karya Peter Gavigan (sumber wikipedia)

Pada abad ke-7, tidak lepas dari “Kehidupan Patrick” pertama kalinya memperkenalkan kekristenan di Irlandia. Dalam hagiografi ini, Hill of Slane adalah “titik kuat” atau penanda bagi Kristen melawan Bukit Tara di dekatnya, masih dalam tangan Pagan – penyembahan berhala-dari Raja Tinggi Kerajaan Irlandia.

Sekitar waktu Paskah (ketika festival musim semi Pagan juga diadakan), Raja Laoire mengamati tradisi malam tanpa api – semua pembakaran atau nyala api di Irlandia akan dipadamkan. Kemudian api unggun besar menyala di Bukit Tara, di hadapan dan atas perintah Raja Tinggi. Dari ini, semua pembakaran pertama yang menyala dan yang lain tidak dijinka menyala. Ritual musim semi ini mengubah Raja Tinggi menjadi Raja-Dewa, musim semi akan mulai atas perintahnya, dilambangkan dengan api unggun.

Dengan berdoa semalam-malaman Patrick yang berani menyaksikan bahwa memang ia tidak bisa memiliki Dewa-Raja, tapi imannya yang menyasikan bahwa Kristus adalah Raja segala raja di Irlandia. Jadi dengan jelas menentang kebiasaan kuno, dia membangun api unggunnya sendiri, Api Paskah, di Bukit Slane. Menyalakannya sebelum api King Laoire dinyalakan. Karena Hill of Slane hanya sekitar sepuluh mil (seperti burung gagak terbang) dari Bukit Tara, api ini akan dilihat oleh Raja Tinggi dan para bangsawannya, belum lagi para petani. Kesaksian Api Paskah menjadi tamparan di wajah King Laoire, bagaimanapun, juga dia membiarkan Patrick melanjutkan misinya. Jelas bahwa misionaris itu tidak bisa dihentikan karena takut akan hukuman mati sebab imannya.

Melodi

Kisah di balik Be Thou My Vision dimulai dengan St. Patrick (St. Pattrick Breastplate). Ketika dia baru berusia enam belas tahun, perompak menculik Patrick dan menjualnya sebagai budak di Irlandia. Ini menyebabkan dia memasuki usia dewasa dengan mengetahui bahasa Gaelik dan adat istiadat Irlandia. Dia juga menjadi seorang Kristen selama ini. Bertahun-tahun kemudian, dia berhasil melarikan diri dan pulang ke keluarganya di Inggris. Sementara sebagian besar akan tinggal di rumah selamanya, Patrick memilih untuk kembali ke Irlandia dan menjadi misionaris!

Apa hubungannya semua ini dengan Be Thou My Vision? Pada Minggu Paskah tahun 433, saat orang-orang Irlandia kuno terbangun, mereka semua bisa melihat pembangkangan Patrick terhadap raja. Dia tidak bisa menyembunyikan cahayanya. Patrick ingin menunjukkan kepada dunia bahwa terang Tuhan bersinar dalam kegelapan, dan hanya Dia yang pantas dipuji.

Bertahun-tahun kemudian, seorang komposer tak dikenal menulis melodi untuk menghormati kepahlawanan iman Patrick. Disebut, “Slane,” komposer yang sekarang terlupakan menamainya dari bukit tempat Patrick menyinari cahayanya: Bukit Slane. Orang-orang masih mengenali nada hari ini.

Lirik

Sementara kisah di balik melodi itu melegenda, sejarah di balik liriknya jauh lebih tidak jelas. Tradisi memberi tahu kita bahwa seorang penyair Irlandia dari abad ke-6 bernama St. Dallán Forgaill menulis puisi Gaelik berjudul Rop tú mo Baile, untuk menghormati St. Patrick. Meminjam dari puisi abad pertengahan lainnya, St. Patrick’s Breastplate, lirik Forgaill menyebut Tuhan sebagai “perisai pertempuran” dan “menara tinggi”, frasa yang masih ada dalam versi modern saat ini.

Sedihnya, salinan puisi Forgaill tertua yang ada berasal dari abad ke-14, yang tidak mencantumkan indikasi penulisnya. Karena tidak ada bukti sejarah lain yang menghubungkan Forgaill dengan puisi tersebut, tidak mungkin untuk memverifikasi asal sebenarnya dari lirik Be Thou My Vision. Akibatnya, sebagian besar himne mengaitkan lagu itu dengan “Anonim”.

Seiring berlalunya waktu, Slane, dan Rop tú mo Baile jatuh ke dalam ketidakjelasan. Penulis mereka, begitu dikenal, menghilang ke dalam kabut waktu.

Penemuan Lagu

Namun pada tahun 1905, hampir seribu lima ratus tahun setelah St. Patrick menyalakan api di Slane Hill, himne yang terlupakan muncul kembali dari kabut waktu. Mary Byrne, seorang mahasiswa berusia 25 tahun, menemukan salinan Rop tú mo Baile abad ke-14 dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya.

Pada saat itu, lirik yang sekarang dikuduskan, “Be thou my vision… oh Lord of my heart” muncul dari halaman waktu yang terlupakan dan masuk ke dunia modern. Kemudian pada tahun 1912, seorang wanita Irlandia bernama Eleanor Hull mengatur kata-kata tersebut menjadi musik. Melodi yang dia atur tidak lain adalah “Slane”, lagu abad pertengahan yang ditulis untuk menghormati St. Patrick. Himne tersebut menjadi terkenal dalam semalam dan muncul dalam himne pertamanya pada tahun 1919. Pada tahun 2019, dunia merayakan ulang tahun ke-100 versi modern Be Thou My Vision.

Mengapa Penting

Kisah di balik Be Thou My Vision adalah kisah Injil. Dalam waktu Tuhan, Dia mengambil apa yang diabaikan dunia dan menjadikannya sesuatu yang indah. Bagi manusia, musik seperti Rop tú mo Baile dan Slane sudah mati—tidak lebih dari fragmen yang tidak relevan dari zaman kuno. Tetapi Allah mengambil yang mati dan menghidupkannya kembali. Dia mengambil apa yang kuno dan menjadikannya baru.

St. Patrick di Irlandia saat ini
St. Patrick di Irlandia saat ini

Jadi Be Thou My Vision lagu lama? Iya dan tidak. Sama seperti Dia mengambil halaman-halaman lirik yang berdebu dan memasukkannya ke dalam kehidupan baru, Dia mengambil kita dan daging kita yang berdosa dan memasukkan kita dengan Roh-Nya.

Be Thou My Vision adalah lagu kehidupan baru. Itu adalah lagu kehidupan baru St. Patrick, yang memancarkan terangnya bagi Kristus. Ini adalah lagu kehidupan baru di Irlandia, di mana paganisme yang mati digantikan oleh iman yang hidup selama berabad-abad. Itu adalah lagu kehidupan baru di hati penyanyi, di mana Tuhan memancarkan pengampunan-Nya dalam jiwa yang berdosa. Dan itu adalah lagu kehidupan baru untuk himne itu sendiri, yang sekarang dinikmati jutaan orang lagi setelah berabad-abad tidak dikenal.

Tidak ada lagu yang terlalu tua sehingga tidak dapat dinyanyikan lagi dalam paduan suara anugerah Tuhan. Be Thou My Vision adalah pengingat bahwa jalan manusia bukanlah jalan Tuhan. Meskipun sampai sekarang di Irlandia, peringatan menjelang hari Paskah atau hari St. Patric telah bercampur dengan hal-hal yang bersifat mitos. Namun rahmat Tuhan bersinar terang, seperti yang terjadi di Bukit Slane pada zaman St. Patrick. Selamat minggu pra Paskah. (T.E)

Sumber:
Wikipedia: https://en.wikipedia.org › wiki ›Be_Thou_My_Vision
https://www.classicfm.com › discover-music
Be Thou My Vision > Lyrics | Dallan Forgaill – Timeless Truth
https://library.timelesstruths.org › music ›
The Story Behind “Be Thou My Vision” – Bayview Bible Church
https://www.bayviewbiblechurch.org › post

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Kilas Berita

Pangeran Harry Ungkap Detail Pribadinya dalam Buku Autobiografinya ‘Spare’

- KILAS BERITA -

Pangeran Harry Ungkap Detail Pribadinya dalam Buku Autobiografinya ‘Spare’

Pangeran Harry mengejutkan dunia dengan pengungkapan rinci tentang keluarga kerajaan Inggris dalam buku autobiografinya ‘Spare’. Baca selengkapnya tentang keluarga kerajaan Inggris dan pengungkapan pribadi Pangeran Harry di artikel ini.

Skandal Keluarga Kerajaan Inggris: Pangeran Harry mengungkap detail pribadinya dalam buku autobiografi 'Spare'

Jangan memahitkan hidup dengan mengumbar cerita miring di masa lalu

Redaksi TheHOPE.id menyarikan serta menyeleksi berita dari berbagai sumber yang dapat dipercaya seperti REUTERS, dan bagikan untuk Anda dengan harapan belajar akan kehidupan ini. Harian Kompas, Minggu (15/1/2023) publik Eropa, Amerika dan Kanada secara khusus Inggris dibuat tersentak dengan ceritera yang blak-blakan pangeran Harry soal sisi-sisi kehidupan pribadinya dan Kerajaan Inggris melalui bukunya berjudul Spare. Buku “Spare” dari Pangeran Harry dalam versi Spanyol sudah dijual, beberapa hari sebelum tanggal penerbitan resminya.

Mengutip Reuters, Jumat, buku itu mengungkapkan detail mengenai hubungan Harry dangan ayahnya, Raja Charles, kakaknya, Pangeran William, dan anggota kerajaan Inggris lain yang belum pernah dipublikasikan. Seperti yang sudah-sudah, juru bicara untuk Charles Memoar Pangeran Harry “Spare” telah menjadi buku non-fiksi dengan penjualan tercepat di Inggris, kata penerbit buku Penguin Random House pada Selasa (10/1) waktu setempat.

Menurut penerbit itu, sejauh ini buku “Spare” telah terjual 400.000 eksemplar dalam format hardback, ebook, dan audio. Catatan ini didasarkan pada penjualan di Inggris.

“Kami selalu tahu buku ini akan ‘terbang’ tetapi rupanya melebihi ekspektasi yang kami harapkan,” kata Managing Director Transworld Penguin Random House Larry Finlay dalam sebuah pernyataan, mengutip Reuters yang disiarkan Selasa (10/1) waktu setempat dan William menolak berkomentar.

Buku tersebut telah menarik perhatian di seluruh dunia karena mengungkap tuduhan Harry tentang ayahnya, Raja Charles; ibu tirinya, Camilla; dan kakak laki-lakinya, Pangeran William. Bagi tradisi yang ketat seperti kerajaan Inggris yang menjunjung tinggi tata aturan rumah tangga keluarga kerajaan hal yang dilakukan pangeran Harry adalah hal tercela, meski pernah terjadi dalam kasus lain ketika hal kelam mendiang putri Diana almahum.

Pertengkaran dengan William

Harry mengatakan William, penerus tahta, memukulnya hingga jatuh ke lantai pada 2019. Saat itu mereka berargumen tentang istri Harry, Meghan Markle. William menyebut aktris Amerika itu “sulit”, “tidak sopan”, dan “kasar”, tulis Harry.

Gara-gara pukulan William, Harry jatuh dan menimpa mangkuk anjing yang kemudian retak akibat bobot tubuhnya. Harry mengaku dia menolak tantangan William untuk balas memukul dan kemudian kakaknya meminta maaf atas insiden tersebut. Pertengkaran ini menjadi perhatian public Inggris yang menjaga nama baik keluarga kerajaan.

Camilla

Harry sangat mencintai mendiang ibunya yang meninggal agar pangeran Charles tidak menikahi Camila Parker. Harry dan William meminta ayahnya untuk tidak menikahi Camilla Parker-Bowles yang kini menjadi pasangan Charles. Namun, pada akhirnya Harry menulis dia dan William akhirnya mendoakan pernikahan kedua ayahnya diwarnai kebahagiaan dan bersimpati atas hubungan mereka.

Memakai kostum Nazi

Harry mengklaim dia didorong oleh Pangeran William dan Kate untuk memakai kostum Nazi ke pesta kostum pada 2005, momen yang disebut Harry “salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Rumor anak hasil perselingkuhan

Akibat kegilaan para wartawan yang melakukan paparazi (fotografer yang sering membuntuti orang terkenal) dan kegiatan jurnalis yang hanya mencari berita sensasi yang belum tentu ada kebenarannya terhadap keluarga kerajaan Inggris, khususnya mendiang putri Diana. Akibatnya rasa tertekan terus menghantui pangeran Harry. Harry membantah rumor media bahwa dia adalah anak hasil perselingkuhan antara Putri Diana dan Mayor James Hewitt, juga bahwa ayahnya sering bergurau tidak tahu siapa ayah kandung Harry. Menurut sang pangeran, rumor itu tidak masuk akal karena ibunya baru bertemu Hewitt jauh setelah dia lahir.

Pertengkaran terkait tempat pernikahan

Harry mengklaim kerajaan menunda tanggal dan lokasi pernikahannya dengan Meghan. Ketika meminta saran dari kakaknya tentang kemungkinan menikah di Westminster Abbey atau Katedral St.P Paul, William mengatakan Harry tidak bisa menikah di sana karena itu sudah jadi lokasi pernikahan Charles dan Diana juga William dan Kate.

William mengusulkan kapel di dekat rumah Charles di Highgrove House, Inggris. Akhirnya Harry dan Meghan menikah di Kapel St. George, Kastil Windsor, pada Mei 2018.

Obat terlarang

Harry mengaku pernah ditawari kokain saat berusia 17 tahun di rumah seseorang. Dia mengonsumsi obat terlarang beberapa kali, meski dia menegaskan laporan media bahwa dia pencandu obat terlarang tidak benar dan Harry tidak menikmatinya.

“Rasanya tidak menyenangkan dan tidak membuat saya bahagia seperti yang dirasakan orang lain, tapi itu membuat saya merasa berbeda, dan itulah tujuan utama saya.”

Harry juga mengaku, saat masih sekolah di Eton College, dia sering merokok ganja di kamar mandi di kediamannya sementara polisi Thames Valley yang jadi pengawalnya, berpatroli di luar gedung.

Bertemu peramal

Harry mendeskripsikan pertemuan dengan perempuan yang punya “ilmu” yang mengatakan dia bisa merasakan spirit Putri Diana. Harry mengatakan perempuan itu direkomendasikan oleh teman-temannya, meski Harry sangsi, saat dia baru duduk “saya merasa ada energi di sekitarnya.”

“Ibumu mengatakan kau menjalani hidup yang tak bisa ia lalui, hidup yang ia inginkan untukmu,” Harry mengutip apa yang diucapkan perempuan itu.

Akibat terbitnya buku Spare

Pangeran Harry menolak berjanji datang ke penobatan ayahnya, Raja Charles, berdasarkan cuplikan wawancara dengan ITV mendatang. Harry mengatakan tutup mulut soal masalahnya dengan keluarga kerajaan Inggris juga takkan membantu.

Saat ditanya apakah ia akan menghadiri penobatan jika diundang, Harry mengatakan: “Ada banyak hal yang terjadi dulu dan sekarang. Tapi, pintu selalu terbuka, sekarang bola ada pada mereka.”

“Saya tidak paham bagaimana bersikap diam bisa membuat hal lebih baik,” kata Harry.

Saat ditanya tentang reaksi William tentang kritik dari Harry sejak mundur dari tugas kerajaan pada 2020, Harry menjawab: “Dia mungkin bicara macam-macam.”

“Ada banyak yang harus didiskusikan dan saya harap mereka mau duduk bersama dan membicarakannya,” kata Harry dalam wawancara, dikutip oleh Reuters.

Pemikiran pembeli buku Spare

“Saya tahu mungkin beberapa hal yang dia katakan telah membuat orang lain salah paham. Dan saya tahu, pasti, ada banyak orang yang beranggapan bahwa dia tidak seharusnya mengatakan hal-hal yang dia katakan, tetapi saya yakin Harry harus diberi kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan,” kata Lai Jiang, seorang pembeli lain yang membeli buku tersebut di Singapura.

Buku Spare harus menjalani editing yang tidak mudah sehingga hamper separuh halamannya yang kini berjumlah 400 halaman.

Bagaimana dengan para pembaca thehope.id yang juga memiliki keluarga, masihkah menutupi-nutupi kisah yang miring dimasa lalu? Bisa jadi akan membesar menjadi bola liar yang bisa merobohkan tiang rumah tangga yang dibangun jika tidak segera diselesaikan.(red)

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Kilas Berita

Tapi bagi saya pemeliharaan Tuhan itu lebih dari hidup

Tapi bagi saya pemeliharaan Tuhan itu lebih dari hidup

Udara pagi agak sumringah. Ada angin pagi yang sekelebatan menenangkan saya usai minum secangkir teh hangat sebelum melakukan bincang-bincang dengan seorang yang akan hadir dalam ruang majalah thehope.id. Maklum dalam pergantian cuaca, semalam kota Semarang diguyur hujan dan pagi ini meski cuaca agak cerah tapi keramahannya masih dapat saya rasakan. Sayapun akhirnya berangkat ke alamat yang dituju, dalam kendaraan yang sudah siap. Saya ikut menyenandungkan alunan lagu pujian pun yang keluar dari soundsystem “Sujud kepada-Mu”-Layaklah Segala Bangsa sujud kepada-Mu mengalun, perjalanan terasa nyaman.


Pewawancara: Thomas Esha
Kendaraan saya pelankan lalu memasuki area rumah yang berhadapan dengan sebuah bengkel mobil. Dengan gembira, raut wajah segar bapak Yudhi, menerima penulis dan mempersilahkan masuk ke kantor pribadinya. Bapak yang dikenal dari nama kecil Akhiang adalah teman penulis ketika masih sama sama aktif di PBK, Pemuda Bagi Kristus sekarang Yoth For Christ (YFC). Sedikit mengenang masa kecil yang tidak mudah, masa yang akrap bergelut dengan kekurangan, sampai beliau pernah makan nasi saja dengan lauknya garam.

Bapak dari dua orang anak ini lahir di Pontianak, Kalimantan Barat 14 Agustus 1960, pindah ke semarang tahun 1976. Menikah dengan wanita seiman dan sama sama satu gereja, Maria Agustina Wulandari, pada tahun 1989. Bapak Yudhi, seperti dikatakan Alkitab dikaruniani membagi-bagikan sesuatu (Roma 12:8. red) dalam hal berbagi kasih kepada siapapun yang membutuhkan, terutama Hamba Tuhan, jemaat dan saudara seiman.

Setelah kami berbagi pengalaman hidup sejenak, kami berbincang-bincang, beberapa pertanyaan mulai kami perbincangkan.
Thehope.id-Pemburukan ekonomi global dan ancaman resesi berdampak bagi Indonesia (Kompas, 13 Oktober 22). Masa sulit sebaiknya masa berhemat dan mengefektifkan segala bidang yang bisa dikerjakan. Menurut pendapat anda?

Menurut saya, masa yang sulit ini secara dunia memang berpengaruh untuk dunia bisnis saya, tapi bagi saya pemeliharaan Tuhan itu lebih dari hidup, saya bisa melakukan hal ini karena saya tahu, dengan pertolongan Tuhan saya bisa melewati masa pandemi ini. Sudah 3 tahun saya melewati masa sulit, kerja boleh dikata tidak dapat apa apa, omzet turun 80 persen. Hanya dengan doa dan pertolongan Tuhan, saya tetap bisa membiayai perusahaan, gaji karyawan dll. Saya tidak merumahkan karyawan dan tidak memotong sepeserpun gaji mereka. Memang tahun pertama rasanya sulit sekali, sehingga saya sempat putus asa dan kemudian mengumpulkan karyawan serta mengatakan bila 3 bulan kedepan keadaan masih sepeti ini, terpaksa perusahaan tutup, ungkap bapak penggemar bakso ini dengan nada yang hamper tertahan.

Tapi karena dorongan kasih yang selalu ada dalam hati dan dengan pertolongan Tuhan, sampai hari ini perusahaan terus berjalan baik. Tidak pernah memotong gaji karyawan atau mengurangi hari kerja untuk efisiensi.. Prinsip saya, saya sebagai anak Tuhan, harus berbeda dengan orang dunia. Seandainya saya seperti orang dunia, modal saya taro di bank dan saya tidak usah kerja, perusahaan saya tutup, saya bisa hidup lebih baik Tapi apakah itu jalan keluar. Karyawan saya pasti juga membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Terlebih masa kerja mereka sudah lama, ada yang 40 tahun, 35 tahun. Meskipun secara kedagingan , apa yang saya kerjakan tidak seimbang dengan pendapatannya. Saya membangun perusahaan dengan dasar kasih. Saya katakan pada karyawan, kita harus saling mengisi, saya tidak mampu kerja seperti mereka dan merekapun tidak mampu di posisi saya. Kami sama, saling terbuka, tidak ada perbedaan antara karyawan dan majikan.

Dalam masa sulit ini saya merasakan pertolongan Tuhan yang ajaib. Di saat tidak ada jalan dan semua tertutup, Tuhan datang memberi pertolongan. Dalam melewati masa sulit, berhati hati boleh tapi tidak boleh ketakutan. Kalau kita tidak bisa berbuat kasih seperti itu, ya jangan jadi orang Kristen, katanya sambil tertawa.

Anak Tuhan harus berbeda dengan orang dunia. Teman teman bisnis saya yang sebagian besar orang dunia, tiap hari isinya mengeluh dan mengeluh.

Dalam hitung hitungan anda sebagai orang percaya, bagaimana sih dalam hal perbuatan kasih itu?

Saya sebagai pengusaha yang mempunyai Tuhan, sambil gesture kedua tangan yang menunjukkan gairah olah raga renang dan jogging, perbuatan kasih itu bukan pada saat semuanya berlimpah, tapi pada masa kekeringan ini , tetap berbuat kasih, meskipun rasanya berat. Tuhan mengingatkan saya untuk menengok ke belakang bagaimana berkat Tuhan melimpah selama puluhan tahun, saat ini baru mengalami kesulitan seperti ini, mau menyerah.

Akhirnya dengan kasih Tuhan saya kembali kuat dan tetap berbagi kasih, sampai sekarang. Saya diberi talenta untuk berbagi kasih. Tidak semua orang mempunyai talenta seperti itu, sebab itu dengan kekuatan dari Tuhan saya terus berbuat kasih kepada siapa yang membutuhkan. Bagi saya tidak ada hitung hitungan, saya berjalan, mengalir dan nyatanya Tuhan terus memelihara saya dan perusahaan ini.

Perbuatan kasih itu menurut anda sebaiknya yang bagaimana ? Dan apa yang menjadi motivasi anda?

Kasih. Kasih yang memberi dan tersembunyi artinya kalau memberi dengan tangan kanan, tangan kiri jangan sampai tahu. Dan jangan dipamer pamerkan, memberi bukan untuk mencari pujian, tapi untuk memuliakan Tuhan dan berbuah bagi Kerajaan Surga. Saya sudah diselamatkan dan diberkati, saya harus memberkati orang lain. Menyekolahkan anak anak dari keluarga tidak mampu, sampai lulus S1, S2. Berbagi juga untuk Hamba Tuhan dan lain-lain, menurut bapak yang mempunyai tekad setiap tahun membaca Alkitab satu kali dari Kejadian sampai Wahyu ini.

Motivasi saya dalam berbagi kasih adalah untuk membalas kasih Yesus yang tak terhingga dalam hidup saya. Saya sudah diselamatkan dari dosa dan diangkat dari hidup miskin menjadi berkelimpahan.

Bisa diceritakan atau semacam kesaksian pribadi yang membuat anda tetap setia melayani dalam berbuat kasih?

Ayah dari anak Hosea Teddy Yudhiputra dan Daniel Evan Yudhiputra, menceritakan salah satu kesaksian pribadinya. Suata hari, Sorang anak pembantu saya dari desa, mau sekolah. Dari kecil sudah ditinggal ayahnya. Datang menemui saya dan menangis, cerita kalau mau sekolah tapi tidak ada uang. Tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya menjawab bahwa saya bersedia menyekolahkan kalau anak itu memang mau sekolah. Ketika daftar, uang pendaftarannya puluhan juta, sekolah Farmasi. Anak dan ibunya menangis lagi, karena rasanya mustahil mendapatkan uang sebesar itu, saya katakana tidak apa apa, saya bayari semua, yang penting mau sekolah sampai lulus. Akhirnya anak itu tinggal di rumah saya dan sekolah sampai selesai.

Penulis merasa heran, bahwa tindakan kasih itu ternyata rumah pak Yudhi terbuka untuk siapapun. Saya tidak membeda bedakan orang, ujar beliau. Setelah lulus anak itu mendapat pekerjaan dan harus training di Bogor. Mau naik pesawat tapi tidak pernah, jadi tidak tau caranya. Anak itu kembali minta tolong saya untuk mengajari naik pesawat, maklum orang desa , miskin lagi.

Sayapun membantunya, mengantar ke bandara dan mengajari dia naik pesawat. Ajaibnya di bandara saya yang seharusnya tidak boleh masuk, malah dipanggil oleh petugas jaga dan disuruh masuk, sehingga bisa ngajari anak itu naik pesawat. Banyak anak anak orang tidak mampu yang saya sekolahkan sampai lulus S 1 dan S 2. Saya berbuat kasih untuk membalas kasih Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya.

Tapi dalam berbagi kasih, ada juga yang memanfaatkan , jemaat yang mampu datang nangis nangis minta disekolahkan anaknya, padahal jemaat itu punya rumah, punya mobil. Sebab itu harus berhikmat dan berhati hati juga dalam memberi.

Jadi apa yang anda harus pegang dalam pelayanan ini, dan bagaimana praktisnya?

Saya sudah ditebus dan diselamatkan serta diberkati Tuhan, diberi keluarga, istri, anak, cucu. Sebab itu saya terus berbuat kasih kepada siapapun yang membutuhkan. Satu hal yang saya minta bila diberi umur panjang, saya terus melakukan pelayanan ini, bukan hanya bicara tetapi praktek, artinya bukan cuma punya wacana tapi action. Saya tidak suka banyak rapat tapi tidak ada actionnya. Banyak wacana tapi tidak ada hasilnya, membuat lelah.

Apalagi kalau rapat sampai larut malam, terlalu banyak teori tapi hasilnya boleh dikata tidak ada. Pengalaman waktu jadi pengurus Sekolah Alkitab Abdiel, rapat sampai jam 2 pagi. Banyak sekali wacana, tapi prakteknya sangat kurang. Rapat seperti itu membuat pekerjaan saya esoknya menjadi tidak focus. Padahal kerja sangat penting. Pekerjaan harus dilakukan dengan sungguh sungguh. Saya tidak suka banyak teori, saya lebih suka action. Pelayanan hampir semuanya seperti itu. Rapat boleh, tapi jangan terlalu bertele-tele. Secara praktis, sebagai sesama pelayan Tuhan kita harus saling mengisi, sesuai talenta masing masing. Ada yang jadi tangan, jadi kaki, dan sebagainya.

Akhirnya waktu berbincang harus kami sudahi bersama. Kami mengakhiri dengan foto bersama di depan kantor, dengan latar belakang tumpukan kayu yang siap dipasarkan. Saya merasakan apa yang saya lihat cerminan Tangan Tuhan terus mengalirkan berkat-Nya kepada sahabat saya pak Yudhi dan keluarganya. Bapak Yudhi memberi arti kasih yang terus berbuat khususnya di masa sukar ini. Kembali lagu pujian ini mengalun “Layaklah segala bangsa sujud kepada-Mu-Sebab Kau Allah yang kudus layak disembah”. Wawancara Sabtu, jam 10, 22 Oktober 22. (t.e)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Categories
Kilas Berita

KEPERCAYAAN TUHAN, AKAN SAYA LAKUKAN SEBAIK-BAIKNYA

WAWANCARA SEKUM SINODE GIA - PERIODE 2022-2026

KEPERCAYAAN Tuhan, akan saya lakukan sebaik-baiknya

“Membuat Gereja Isa Almasih mencintai Sinode, dan membuat sinode semakin berkiprah pada jemaat lokal, artinya bisa betul-betul berkarya bagi jemaat lokal”, Pdt, Andreas Mulyadi-Sekum Sinode Gereja Isa Almasih.

Pewawancara & penulis: Thomas Esha

TheHOPE.id – Udara sore yang cerah itu, penulis berkunjung ke GIA Banyumanik. Kendaraan yang membelah suasana keramaian jalan, dengan diiringi bunyi musik lagu Kupercaya Janji-Mu Ajaib yang mengalun lembut dari soundsystem yang ada, mengantar perjalanan itu. Banyumanik suatu daerah yang berkembang pesat di wilayah selatan Semarang.

Setelah empat puluh lima menit lebih sedikit berkendaraan, sampailah di gereja Banyumanik, yang kita kenal Gereja Isa Almasih Jemaat Banyumanik, untuk berjumpa dengan Pdt, Andreas Mulyadi. Dengan ramahnya beliau menyambut penulis dan kami mengobrol untuk wawancara tentang posisi Sekum (Sekretaris Umum) di Sinode Gereja Isa Almasih.

Perlu pembaca ketahui, setelah Sidang Sinode, tgl. 26-28 Juli 2022 di Jakarta yang lalu, Pdt. Andreas Mulyadi terpilih sebagai sekretaris umum di Sinode GIA. Dan tanggal 21 Sepetember 2022, baru bisa ditemui untuk wawancara karena padatnya jadwal tugas masing-masing.

Kedudukan dalam kesinodean, Sekretaris Umum memiliki peranan yang amat penting. Dalam sistem organisasi tugas Sekretaris Umum yang biasa dijabat oleh seorang Gembala Jemaat (GJ) terpilih di sidang, dengan jabatan gembala di gereja dan fulltime di tugas sinode. Tetapi dalam sistem saat ini bersifat parttime yang dibantu oleh Wasekum dan staff MPH. Dengan demikian tugas Sekum tidak harus tiap hari bertugas di kantor sinode atau secara fulltime.
Penulis: Apakah ada yang menonjol di gereja yang bapak pimpin ini? Motto hidup dan ayat favorit, yang sekiranya dapat dibagikan untuk para pembaca?

Sekum: Penekanan di dalam pelayanan di GIA Jemaat Banyumanik adalah pemuridan, karena dengan pemuridan, kerohanian jemaat akan bertumbuh dan mampu menjadi dewasa dalam iman, sehingga mereka bisa terlibat dalam pelayanan. (Ini yang menolong dalam tugas sehari-hari secara khusus dalam tugas baru kami sebagai sekum sinode, Tuhan seperti menyiapkan segala sesuatu dengan indah pada waktu-Nya). Saat awal pelayanan, Tuhan mempercayakan sekitar 70-an jemaat, sekarang sudah berkembang menjadi hampir 300-an. Kebaktian yang dulunya hanya sekali, sekarang sudah 3 kali, jam 07, jam 09 dan jam 17. Jadi di GIA Banyumanik, yang menonjol adalah pemuridan yang melibatkan sebanyak mungkin jemaat untuk terlibat di dalam pelayanan. Dan itu sangat efektif. Khotbah minggu atau persekutuan sudah bisa dilayani oleh jemaat.

Motto hidup saya adalah melakukan apa yang dipercayakan Tuhan dan mengerjakan sebaik baiknya tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan. Artinya saya berusaha melakukan yang terbaik, supaya berkenan dihadapan Tuhan.

Sedang ayat favorit saya adalah seperti yang dikatakan Rasul Paulus: Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Seperti Ahok, ‘cletuk’ penulis sambil tersenyum, dan diiyakan oleh beliau. Sejak awal dalam segala perjuangan karena saya tahu Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang akan menolong dan bertanggung jawab atas kehidupan saya dan juga akan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Jika memang Tuhan panggil, mati pun saya siap. Ada pengalaman saya saat penginjilan di daerah Baduy, Bandung. Saya memang gemar mengabarkan Injil, saat ditangkap polisi dan diinterogasi, dimarahi bahkan dimaki-maki, tetapi saat itu saya tidak takut kalau harus mengalami kematian. Tetapi pada saat Tuhan masih memberikan kepercayaan untuk saya hidup, saya akan berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pelayanan. Saya meninggalkan pekerjaan dan usaha saya dengan tujuan melayani Tuhan oleh sebab itu saya akan melakukan apa yang terbaik bagi Kemuliaan nama Tuhan.
Pdt. Andreas Mulyadi didampingi oleh istri yang bernama Erna Noviati dikaruniai dua orang anak, yang sulung Agatha Christian Bella Mulder yang bungsu Yeshua Christian Arauna Mulder. Si Sulung, Aga panggilan akrabnya, sekolah di Abdiel semester 7, sedang yang bungsu, Yesa panggilan akrabnya masih SMK kelas 1 atau kelas 10.

Hidup saya yang berlatar belakang menjadi pengusaha ayam potong terbilang sukses. (terdiam sejenak sambil menerawang ke depan)

Tetapi dalam hati suara panggilan melayani Tuhan terus menerus semakin kuat maka langkah pertama, usahanya harus ditinggakan meski itu tidak mudah. Akibatnya, setelah itu, saya sering menyendiri di tepi sungai Kenci Ungaran untuk menyendiri dalam pergumulan. Ada perasaan bergejolak dalam hati menyesali, rasa bersalah dan keputusan yang sudah saya buat, tapi disana Tuhan berbicara bahwa ini merupakan proses Tuhan untuk membentuk dan mengarahkan terhadap rencana Tuhan dalam kehidupan.

Dalam pembentukan itu ada harga yang harus dibayar dan harganya sangat mahal. (Dalam kasih Tuhan yang mengarahkan ke jalan dan cara-Nya yang tak pernah keliru atau salah, Dia di dalam waktu-Nya dan cara-Nya memimpin juga mempelengkapinya selalu baik dan sempurna untuk masa kini dan nanti).

Singkat cerita saat itu saya mendapat tawaran untuk melayani di pusat rehabilitasi narkoba, tawaran yang sangat mengerikan bagi saya, terpaksa saya menerimanya karena memang tawaran itu adalah satu- satunya kesempatan untuk saya. Melalui pelayanan di pusat rehabilitasi ini dan perjalanan yang cukup panjang akhirnya, pada waktu-Nya, saya diangkat Tuhan menjadi Gembala di GIA Jemaat Banyumanik. “Sekarang malah jadi Sekum ya pak Mul” ujar penulis yang disambut tertawa oleh bapak Gembala yang juga penggemar swieke ini.
Sebagai Sekum, apakah majelis dan jemaat GIA Banyumanik tidak berkeberatan, lanjut penulis

Dengan lugas, beliau menegaskan bahwa majelis dan jemaat GIA Banyumanik tidak berkeberatan bahkan mendukung saya menjadi Sekum, apalagi sekum sekarang ini tidak fulltime, tetapi parttime, sehingga saya bisa mengatur waktu sebagai Gembala dan Sekum. Ditambah Jemaat Banyumanik yang sudah mengikuti program pemuridan sehingga lebih mandiri dalam setiap pelayanan.
Apa yang menjadi prioritas sebagai Sekum

Saya memprioritaskan untuk membenahi team saya di Sinode, baik itu staf ataupun pengurus. Saya memperjelas jobdisc masing masing supaya tidak terjadi salah paham dalam bekerja. Tugas sekum yang sangat kompleks dan berat, akan menjadi ringan pada saat seluruh team bekerja dengan solid. Kemudian sebagai prioritas kedua adalah melaksanakan apa yang sudah dimandatkan dalam Sidang Sinode yang ke-23, berkenaan dengan amandemen tata gereja dan sinkronisasi keputus keputusan sidang.

Kemudian juga bagaimana jemaat jemaat lokal yang saat ini saya lihat acuh tak acuh dan agak tidak peduli dengan sinode, bagaimana membuat mereka mencintai sinode, demikian juga sebaliknya sinode dapat lebih berkiprah pada jemaat lokal, artinya bisa betul betul berkarya bagi mereka. Itu yang menjadi prioritas ke dalam. Untuk keluar saya mencoba membina hubungan dengan organisasi organisasi di luar, seperti dengan Korea atau dengan sinode gereja lain. Kita bisa belajar dari mereka yang sudah lebih berpengalaman.

Gembala jemaat lulusan Abdiel ini, telah banyak berperan dalam tugas-tugas di jemaat, salah satu yang berat adalah menjadi ketua panita pembangunan gereja yang harus menyelesaikan pembangunan yang terkatung-katung karena ada berbagai masalah. Dengan iman, kesatuan hati dan hati yang murni, pembangunan bisa diselesaikan.
Pernah terpikirkan menjadi Sekum sebelumnya?

“Saya tidak pernah bermimpi menjadi Sekum,” ujar beliau sambil tertawa. Tetapi dalam benak pikiran saya, apa yang sudah dipercaya oleh Tuhan, saya akan lakukan dengan sebaik-baiknya, dan saya juga yakin Tuhan pasti akan menolong saya dan memberi kemampuan.”

Bagaimana dengan prakteknya dalam keseharian tugas Sekum dan Gembala?

Dalam praktek sebagai Sekum dan Gembala, bagi beliau tidak bermasalah. Karena Sekum hanya sebagai partime, disamping ada teknologi yang memudahkan untuk berkomunikasi. “Saya dapat melakukan pekerjaan dari Banyumanik. Lewat WhatsApp saya bisa memberi tugas pada staf di MPH. Saya ke kantor cukup seminggu dua kali. Sehingga saya tetap dapat melakukan tugas sebagai Gembala. Mengunjungi jemaat dll .“
Sekum adalah jabatan strategis, ia menjadi “mata dan tangan“ sinode keseharian. Komentar Anda?

Memang benar, sekum adalah jabatan strategis, sebagai motor penggerak organisasi. Sebelum jadi sekum, saya sudah biasa berkecimpung dalam organisasi, sebagai ketua panitia atau sekretaris. Pada intinya, tugas sebagai ketua atau sekretaris adalah sama, sehingga saya sudah terbiasa . Artinya pekerjaan sebagai sekum, merupakan pekerjaan yang biasa dilakukan sebelumnya. Jadi Tuhan sudah menyiapkan sebelumnya, sehingga saya mudah beradaptasi dan menjalan tugas sebagai seorang sekum, tentu dengan pertolongan Tuhan.

Anda belum pernah menjabat tugas pemimpin dalam lingkungan Sinode – MPH, komentar Anda?

Meskipun saya belum pernah menjabat di lingkungan sinode, tetapi saya sudah biasa berorganisasi di luar. Pada prinsipnya organisasi dimana- mana sistem dan bentuknya hampir sama.

Apa perlu meminta nasehat dari mantan sekum? Apakah ada sinyal akan hal itu?

Saya orangnya terbuka dan siap berkomunikasi dengan siapapun. Bila menghadapi kesulitan, saya tidak segan untuk meminta nasehat dan masukan dari sekum yang lama. Terlebih saya dekat dengan beliau, saat di Abdiel saya dan beliau satu angkatan.
GIA Banyumanik ada semacam tradisi menjadi Sekum? Menurut Anda?

Sebetulnya bukan tradisi, hanya kebetulan saja, Gembala Jemaat sebelum saya pernah menjabat jadi Sekum.

Tantangan sekaligus peluang era informasi. Melihat di lingkup Gereja Isa Almasih yang masih banyak gaptek di era informasi khususnya “dikalangan kota kecil” bagaimana disingkapinya?

Sebenarnya bukan hanya di kota kecil jemaat yang gaptek, dikota besar pun banyak yang masih gaptek. Teknologi memang sangat mendukung kemajuan dalam pelayanan. Merupakan sarana kerja yang sangat efektif, karena jangkauannya sangat luas, kerjanya sangat cepat dan biaya sangat murah. Disatu sisi juga kalau diperhatikan gembala jemaatnya banyak yang sudah sepuh, kalau dipaksakan mereka bisa stress.
Sebagai solusi kita harus mempersiapkan generasi milenial, generasi alpha.
Bagi mereka akan enjoy dalam dunia digital saat ini, sehingga Sinode GIA ke depan bisa lebih maju. Orientasi kita saat ini bukan pada generasi tua, tetapi pada generasi muda. Kita harus memaksimalkan mereka.
Pada saat kita membina mereka, bukan saja kita bisa memakai sarana tersebut, kita malah bisa memanfaatkan sarana-sarana yang ada, bisa mendulang keuangan, kekayaan dan sebagainya. Generasi muda tersebut meskipun tidak bekerja di perusahaan, dengan adanya teknologi yang ada mereka bisa menghasilkan pasif income atau penghasilan tetap tanpa harus kerja keras, tetapi kerja cerdas.
Tantangan yang utama dan terus menjadi motivasi untuk terus berbenah

Tantangan yang utama adalah sikap terhadap teknologi. Teknologi atau gadget bisa membuat orang meninggalkan gereja, bahkan meninggalkan Tuhan. Karena melihat gadget jauh lebih menyenangkan daripada aktivitas di gereja. Terlebih lagi tontonan atau game di gadget bisa menyesatkan orang yang terikat. Sekarang bagaimana kita bisa mengembalikan jemaat untuk intim dengan Tuhan, membangun jemaat untuk tetap beriman kepada Tuhan. Gadget dapat membuat jemaat tersesat dan semakin jauh dari Tuhan. Terlebih sesudah Covid, jemaat terbiasa ibadah lewat online yang lebih santai. Mengembalikan jemaat untuk ibadah di gereja tidaklah mudah, membutuhkan perhatian khusus.
Apa pemikiran yang bisa bapak berikan?

Pemikiran saya untuk menghadapi tantangan yang ada, kita harus fokus didalam pengajaran dan pembinaan kepada jemaat. Sinode harus memiliki peran yang besar dalam menghadapai tantangan tersebut.

Jadi gereja-gereja lokal penekanannya pada action-nya atau tinggal mempraktekkan apa yang telah disiapkan oleh sinode. Dengan cara tersebut, gereja bisa melakukan antisipasi pada pengajaran-pengajaran yang menyesatkan lewat teknologi digital yang setiap hari dinikmati oleh jemaat.

Kalau tidak diantisipasi Iman jemaat bisa menyimpang, bukan lagi pada Tuhan tetapi pada teknologi. Lewat pembinaan dan pemuridan Iman jemaat dapat dibimbing dijalan yang benar. Teknolgi hanya berfungsi sebagai saranan saja, bukan sebagai fokus dalam kehidupan, sehingga melalui pembinaan yang mempergunakan teknologi bisa menyegarkan jiwa dan mengembalikan hubungan yang intim dengan Tuhan.

Apa yang masih perlu bapak sampaikan khususnya dalam kesinodean Gereja Isa Almasih?

Masalah kesinodean yang perlu mendapat perhatian yaitu kita seringkali meributkan sesuatu yang tidak penting, sehingga energi positif kita habis untuk meributkan sesuatu yang tidak penting tersebut. Kita harus meningkatkan persatuan untuk kemajuan Sinode. Thema Sidang yang lalu, menjadi kirbat dan anggur yang baru benar-benar dapat kita terapkan bersama.

Mungkin ada rencana bagi GIA Banyumanik membuat semacam proyek pelayanan atau apa, agar nilai yang didapat ditularkan.

Proyek yang sedang saya bidik dan sedang saya kerjakan adalah pemuridan. Karena di dalam pemuridan selain ada pembinaan tetapi juga salah satu bentuk perhatian, karena semua orang membutuhkan perhatian, cinta kasih, dan pada saat setiap orang bisa tercover, dia tidak akan cari yang lainnya.

Kalau gereja tidak menerapkan pemuridan dan membiarkan jemaat hanya datang beribadah, maka terjadi kekeringan pada jemaat. Jemaat tidak bertumbuh dengan baik, tidak menjadi jemaat yang dewasa. Paket komplit dalam pemuridan, ada pembinaan, pendampingan, perhatian, cinta kasih dan keteladaan.

Kalau sinode dapat menerapkan sistem pemuridan ini pada semua gereja gereja lokal, maka pertumbuhan jemaat akan lebih baik.

Bagaimana dengan acara libur bersama dengan keluarga untuk menyegarkan diri bersama-sama?

“Kalau libur keluarga tidak pernah saya lakukan,” ujar pak Andre, panggilan akrab lainnya. Saya lebih suka makan bareng di angkringan sambil ngobrol. Itu lebih asik buat kami. Lebih menyegarkan, kata beliau mengakhiri wawancara.

Latar belakang Pdt. Andreas Mulyadi dari GKJ- Gereja Kristen Jawa, gereja yang tertata rapi dan teratur. Berbeda dengan Gereja Isa Almasih, menurutnya. Tetapi apa yang tidak disukai justru Tuhan mengarahkannya kesana, dan akhirnya studi di Abdiel dan melayani di Gereja Isa Almasih Banyumanik sampai jadi Gembala Jemaat.

Jam menunjukkan pukul 18.30, waktu sudah menunjukkan batas perbincangan telah habis. Segera kami pun mengakhiri pertemuan itu. Wawancara penuh rasa kekeluargaan dan ada tertawa itu berakhir dengan santap malam bersama di warung ayam goreng pinggir jalan. Ehmm.. enak juga makan malam bersama pak Sekum yang baru itu. (-te)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Kilas Berita

Leadership di Lingkup Sinode GIA

WAWANCARA EKSLUSIF

Leadership di Lingkup Sinode GIA

Wawancara Eksklusif Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih, Pdt. Dr. Goenawan Susanto M.Th.
(Periode 2016-2020 dan penambahan masa jabatan 2020-2022, karena masa Covid-19)
Oleh Agus Santoso & Thomas Esha
“Pemimpin ke depan, sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan pendekatan ke gereja gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabar dan bertahan”.
Pdt. Dr. Goenawan Susanto, M.Th
Ketum MPH Sinode GIA 2015-2020 + 2021-2022

SEMARANG, TheHope.id – Waktu menunjukkan pukul 20.20 wib, Kamis, 7 Juli 2022, saat usai doa malam di GereJa Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang baru selesai. Kami dari team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA mengikuti langkah Pdt. Goenawan Susanto sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih sekaligus juga sebagai Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang. Kami diterima di salah satu ruangan dalam gereja untuk melakukan wawancara khusus. Malam itu masih terdengar suara perbincangan beberapa jemaat yang baru saja selesai mengikuti ibadah doa malam. Suara itu semakin lama semakin terdengar lamat-lamat karena mereka menuju tempat parkir untuk meninggalkan gereja pulang ke rumah masing-masing. Suasana doa yang masih terasa masuk menyelimuti pertemuan kami. Ruangan pertemuan untuk wawancara itu seperti tidak menjadi kaku, meskipun suasananya sepi. Gaya ‘semarangan’ mulai terasa saat Pdt. Goenawan Susanto menempati tempat duduk santai dan rileks.

Team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA, mulai mewawancarai Pdt. Goenawan Susanto menjelang akhir masa tugas jabatannya sebagai ketua Sinode Gereja Isa Almasih dalam Sidang Sinode ke 23 tanggal 26-28 Juli di Gereja Isa Almasih Jemaat Pegangsaan Jakarta. Topik yang kami angkat adalah “LEADERSHIP DI LINGKUP SINODE GEREJA ISA ALMASIH”. Sinode Gereja Isa Almasih adalah salah satu Lembaga Gereja yang besar yang berada di Indonesia dengan 156 jemaat lokal dewasa dan sudah berusia lebih dari tiga perempat abad. Saat ini memiliki jemaat lokal dewasa yang tersebar di dalam negeri dan di luar negeri. Kita tahu peran seorang pemimpin sangat menentukan perjalanan suatu sinode yang dipimpinnya.

Menurut bapak, apa kerinduan mengenai pemimpin yang akan datang secara khusus visi dan misinya bagi Gereja Isa Almasih?

Pdt. Goenawan Susanto selanjutnya redaksi menyingkat PGS untuk keperluan peredaksian sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih yang menjabat selama 4 tahun ditambah perpanjangan selama 2 tahun akibat pandemic virus Covid 19.
Kepemimpinan di lingkup Gereja Isa Almasih itu bersifat jamak, artinya kepemimpinan satu team, tidak satu orang oleh sebab itu sebaiknya pemimpin yang akan datang itu mempunyai kesatuan. Khususnya Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus orang yang satu visi, satu hati, punya chemistry yang sama, kalau sampai tidak cocok sungguh akan sangat merepotkan sekali. Sebaiknya dalam pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus menjadi satu paket sama seperti pemilihan Presiden dan Wakil Presiden jangan di pilih sendiri-sendiri.

Dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih selama ini Ketua Umum dan Sekretaris Umum terjadi pemilihan sendiri-sendiri, sehingga Ketua Umum belum tentu akan cocok dengan Sekretaris umumnya, meskipun kalau sudah terpilih harus berusaha untuk bisa cocok dan sejalan. Tetapi lebih baiknya dari awal pemilihan sudah menjadi satu paket antara Ketua Umum dan Sekretaris Umum sehingga bisa lebih mudah untuk sejalan dan bekerja sama. Kemudian ketua-ketua departemen yang lainnya harus mengikuti kebijkan ketua umum dan sekretaris umum. Jangan membuat kebijakan sendiri serta berjalan sendiri-sendiri, karena mereka dipilih oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Mereka harus mengikuti arahan dari Ketua umum dan Sekretaris umum. Itulah yang sama alami selama menjabat sebagai Ketua Umum selama ini, ujar bapak PGS yang memiliki dua orang putri.

Praktisnya bagaimana?
PGS hening sejenak. Bapak PGS yang berkacamata plus dan gemar membaca buku ini melanjutkan pembicaraannya sambil sekali-kali membetulkan letak kaca matanya.

Selanjutnya dalam konteks saat ini, masalah yang menghadang atau menjadi tantangan terbesar adalah pemimpin gereja Lokal yang merasa memiliki otonomitas besar maunya berjalan sendiri-sendiri, kurang mengikuti arahan Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih. Juga ada kepentingan-kepentingan pribadi yang kadang lebih menonjol dari pada kepentingan bersama, sehingga sering kali muncul konflik-konflik di gereja lokal. Konflik antara Gembala Jemaat dengan Majelis atau dengan jemaatnya. Tidak jarang konflik ini bisa memicu perpecahan Gereja atau eksedus ke Gereja yang lain. Bahkan membuat Gereja tandingan. Kemudian kesulitan lainnya adalah masalah ketaatan dalam memberi persepuluhan dari Gereja Lokal kepada Sinode Gereja Isa Almasih. Tidak semua Gereja Lokal taat dalam memberi persepuluhan. Demikian pula apabila ada tenaga aktivisnya diminta untuk melayani di tingkat Sinodal. Mereka cenderung memiliki keberatan dan menutup diri terhadap hal ini.
Bagaimana seharusnya pemimpin Sinode ke depan itu?
Pemimpin ke depan sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah-tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan-pendekatan ke gereja-gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabra dan bertahan.
Dalam dunia yang serba tsunami informasi tentu bukan hal mudah, kecil dan sederhana. Ketermasing-masingan atau polarisasi dalam pengajaran, masalah pengajaran, masalah pembinaan generasi muda dan masalah visi Isa Almasih di masing masing gereja menjadi tantangan, adakah yang menjadi pandangan bapak untuk diharapkan bagi pemimpin kedepan itu?
PGS, memang di dunia sekarang ini banyak orang bisa mengikuti pengajaran-pengajaran yang sangat mudah diperoleh melalui medsos, youtube dan lain-lain. Pengajaran-pengajaran tersebut tidak bisa dihindari, tetapi Sinode Gereja Isa Almasih harus memiliki ciri khas dan mempertahankan pengajaran serta pengakuan imannya. Majelis Harian Pusat Sinode Gereja Isa Almasih ke depan harus memperkuat bidang pengajaran atau teologia sehingga ke khasan teologia Gereja Isa Almasih bisa terlihat jelas. Sarana media komunikasi juga penting, seperti majalah sinode, misalnya. Sinode GIA harus memiliki chanel youtube tersendiri yang selalu update, sehingga bisa memberikan ajaran-ajaran atau teologia Gereja Isa Almasih. Saat ini kita masih lemah dalam hal ini tertinggal dari sinode Gereja yang lainnya.
Menurut bapak bagaimana dengan Sidang Sinode ke 23 yang akan datang di Jakarta nanti?

Sebagai pendeta juga Sarjana Psikologi ini mengatakan, bahwa Sidang Sinode ke 23 sangat penting untuk memperkuat persatuan secara organisasi. Sidang Sinode yang dilakukan selama 4 tahun sekali ini paling tidak akan menentukan masa depan Gereja Isa Almasih lewat keputusan-keputusan bersama dalam sidang. Sayangnya karena masih suasana pandemi covid, maka jumlah pesertanya sangat dibatasi, maksimal dua peserta buat setiap gereja lokal dan waktunya juga diperpendek hanya 3 hari saja. Sayang sekali masih banyak juga gereja lokal yang tidak bisa hadir untuk mengutus wakilnya.

Apa yang harus dipegang oleh masing-masing Gereja Isa Almasih saat ini?

Sambil membetulkan letak duduknya, melanjutkan bahwa pengakuan iman Gereja Isa Almasih dan komitmen untuk mendukung Sinode harus kembali diingatkan kepada masing-masing gereja lokal dalam lingkup Sinode Gereja Isa Alamsih. Hal ini sesuai dengan hasil kesepatan kita bersama dalam bersinode.

Apakah dukungan gereja lokal kepada Sinode karena kurangnya komitmen atau karena tidak ada dana yang disediakan sehingga mempengaruhi ketaatan mereka?

Kata bapak PGS, pertama masalah komitmen yang kurang. Juga karena ada sakit hati dimasa lalu. Misalnya, ada pemimpin Gereja Lokal yang merasakan sakit hati, terus menutup diri terhadap kepemimpinan sinode yang ada. Hal ini menunjukkan pemimpin yang tidak dewasa kalau hal seperti itu dibiarkan terjadi, masalalu biarlah berlalu, kita saat ini harus melihat kie depan karena ini pekerjaan Allah bukan perasaan pribadi. Pemimpin tidak boleh mengikuti perasaan sendiri. Komitmen sebagai bagian dari Sinode, tentu harus mendukung sinode.

Sebagai Ketua Sinode yang harus meletakan jabatannya, apa rencana bapak dan bagi Gereja Isa Almasih dr. Cipto Semarang?
Dalam candaan yang halus, penulis mengatakan kemungkinan bapak Goen, panggilan akrab sehari-harinya dari beliau, bisa jadi dapat terpilih kembali sebagai ketua sinode.

PGS berujar sambil tertawa dengan ciri khasnya menjawab candaan tersebut, tetap rendah hati meskipun menjadi ketua sinode adalah merupakan orang tertinggi dalam lingkup Gereja Isa Almasih. Begitulah beliau menanggapi candaan dengan hanya senyuman.Kita hanya mereka-reka arti senyuman itu yang ada di bibir pria yang memang selalu nampak low profile.

Banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah di Gereja Isa Almasih dr. Cipto yang belum diselesaikan, ujar suami dari Ibu Evi ini, seorang wanita yang sudah sekian puluh tahun setia mendampingi. Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan seperti program pemuridan yang belum berjalan dengan baik. Banyak hal yang harus dibenahi pada gereja ini. Saya harus konsentrasi, gantian orang lain yang harus memimpin Sinode Gereja Isa Almasih, ujarnya.
Dalam Sidang Sinode di Pontianak 6 tahun lalu, ada agenda yang disusun, berapa persenkah dari agenda tersebut yang berhasil dilaksanakan?
PGS, berujar agak sulit dibuat prosentase karena ada agenda yang merupakan proses, seperti menyatukan Gereja-Gereja Lokal. Yang penting agenda tersebut sudah dikerjakan semaksimal mungkin. Disamping itu juga kita tidak mempunyai pejabat sinode yang fulltime. Sehingga sulit untuk diharapkan keberhasilan utuh dalam melaksanakan agenda yang sudah disusun.Demikian ucapan beliau, mengakhiri wawancara.

Malam telah berlari membuat gelapnya suasana di luar Gereja mulai dirasakan. Kami berdoa Bersama dan saling bersalaman untuk berpamitan. Kami melangkahkan kaki keluar ruangan Gereja yang mulai sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 wib. Kami jadi teringat kepada kata-kata Neale Donald Walsch, “Pemimpin sejati bukan orang yang mempunyai banyak pengikut, tetapi yang menciptakan banyak pemimpin.” Kiranya menjadi penyemangat dalam suasana sidang sinode ke 23 yang akan berlangsung di akhir juli nanti di Jakarta. (-as/te)

Baca juga artikel lainnya