Tindakan Bukan Jadi Omongan
Tuhan berilah aku kekuatan untuk meneladani Yesus dihidupku selama Engkau bisa ditiru. Dr. David LivingStone, doanya ketika menebos hutan Afrika
Dalam Story of Amazing Grace, dituliskan, setelah sekian waktu yang berliku dan gelap. William Wilberforce, seorang politikus pejuang kebebasan budak bertemu dengan John Newton. Di ruang kerjanya, John Newton mantan pedagang budak diperlihatkan sudah tua dan hampir buta, dimakan usia itu, berkata kepada William Wilberforce,
“Di sinilah aku tulis pengakuanku. Dengan mataku sendiri melihat, bagaimana manusia yang menjadi budak. Mereka mengalami perlakuan keji, penyiksaan dan kematian lalu di jual sebagai budak. Mereka seperti bukan manusia. Dua hal aku terus ingat dengan jelas bahwa aku adalah pendosa besar dan Kristus Juruselamat yang sejati. Dan anugerah telah mencelikkan mataku. Dulu aku buta sekarang melihat.“
Mulut John Newton masih belum terkatub. Lalu ia berdiri goyah. William Wilberforce menyaksikan hal itu dengan sigap memegang kedua lengannya John Newton. Sedetik kemudian John Newton tangannya menyentuh lembar-lembar kertas yang warnanya kusam, dimakan waktu. Nampaknya kertas dokumen yang berisi catatan nama-nama budak yang pernah dijualnya. Ia menangis dihadapan William Wilberforce, dan dengan suara yang bergetar menitipkan pesan agar dia memperjuangkan penghapusan perbudakan. Perjuangan penghapusan budakpun dimulai.
Tanpa bisa melihat apalagi mengalaminya kasih Allah, mungkinkah orang bahkan orang kristen sekalipun bisa menyatakan kasih? Atau lebih tepatnya buah Roh seperti yang di tulis oleh Paulus, tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan. Mungkinkah bisa diwujudkan apalagi dibagikan dalam kehidupan sehari-hari?. Atau hanya cukup jadi bahan diskusi?.
Seperti halnya pengakuan John Newton, buta tidak bisa melihat manusia itu adalah manusia. Jika manusia masih buta dan lebih tepatnya lagi terbelenggu dosa yang membuatnya buta. Mereka mustahil bisa menyatakan buah Roh dalam perbuatan nyata.
Karena itu Paulus menulis dengan tegas dan jelas; “ Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu…”Galatia 5:1-2. (ys)
“Di sinilah aku tulis pengakuanku. Dengan mataku sendiri melihat, bagaimana manusia yang menjadi budak. Mereka mengalami perlakuan keji, penyiksaan dan kematian lalu di jual sebagai budak. Mereka seperti bukan manusia. Dua hal aku terus ingat dengan jelas bahwa aku adalah pendosa besar dan Kristus Juruselamat yang sejati. Dan anugerah telah mencelikkan mataku. Dulu aku buta sekarang melihat.“
Mulut John Newton masih belum terkatub. Lalu ia berdiri goyah. William Wilberforce menyaksikan hal itu dengan sigap memegang kedua lengannya John Newton. Sedetik kemudian John Newton tangannya menyentuh lembar-lembar kertas yang warnanya kusam, dimakan waktu. Nampaknya kertas dokumen yang berisi catatan nama-nama budak yang pernah dijualnya. Ia menangis dihadapan William Wilberforce, dan dengan suara yang bergetar menitipkan pesan agar dia memperjuangkan penghapusan perbudakan. Perjuangan penghapusan budakpun dimulai.
Tanpa bisa melihat apalagi mengalaminya kasih Allah, mungkinkah orang bahkan orang kristen sekalipun bisa menyatakan kasih? Atau lebih tepatnya buah Roh seperti yang di tulis oleh Paulus, tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan. Mungkinkah bisa diwujudkan apalagi dibagikan dalam kehidupan sehari-hari?. Atau hanya cukup jadi bahan diskusi?.
Seperti halnya pengakuan John Newton, buta tidak bisa melihat manusia itu adalah manusia. Jika manusia masih buta dan lebih tepatnya lagi terbelenggu dosa yang membuatnya buta. Mereka mustahil bisa menyatakan buah Roh dalam perbuatan nyata.
Karena itu Paulus menulis dengan tegas dan jelas; “ Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu…”Galatia 5:1-2. (ys)
Facebook
WhatsApp