“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”
Ia manusia biasa
Era teknologi informasi melahirkan gejala budara crazy rich. Anak-anak muda pada menyenangi dan memuja kaum muda yang suka dan menjadi crazy rich. Kaya, muda dan terkenal. Kemana ia pergi, selalu ada yang memujanya. Budaya crazy rich seolah menawarkan kemudahan dan kekayaan walaupun ada segelintir anak muda yang dikatakan orang crazy rich, namun untuk mereka lain. Mereka ada yang hidup dengan budaya kebersahajaan, salah satu Grace Tahir, orang Glodok menjadi perbincangan publik setelah ayahnya Dato Sri Tahir menduduki peringkat 16 orang terkaya di dunia 2021 versi Forbes.
Negara tempat Lucy bertugas adalah Timor Leste. Negara tetangga Indonesia itu merupakan salah satu negara termiskin di Asia. Berdasarkan kabar yang beredar, dia dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dengan hanya memiliki dua set pakaian.
Lucy merupakan putri dari Paul dan Cecilia Darmoko. Dia termasuk ke dalam keluarga Hartono dari garis keturunan ibunya yang merupakan saudara sepupu Robert Budi Hartono. Seperti dirilis Grid.ID, ada yang unik dari seorang suster Lucy, bahwa Robert Budi Hartono bos perusahaan rokok terkemuka Djarum, maka Lucy merupakan yang cucu dari pemilik dari konglomerasi Djarum. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah pemilik restoran Ayam Bulungan.
Orang melihat semua ada dan tersedia, namun siapa yang bisa menyediakan apa yang dibutuhkan oleh hati orang. Jika hati orang yang membutuhkan “air yang hidup”, dan jika ia sudah mendapatkan hal itu, mungkinkah ia akan mencari hal lain yang telah melepaskankan dahaga jiwanya? Bahkan di hidupnya air yang hidup itu akan terus mengalir berlimpah dan orang-orang yang kehausan akan membutuhkan air yang hidup itu sedang menantinya? < br>
Maka saat Lucy bertekad untuk menjadi biarawati itu muncul saat dia dan keluarga berlibur ke Hongkong. Dia merasa iba dan hatinya tergerak untuk membantu para tunawisma yang keadaannya memprihatinkan. Keibaan dan tergerak hati membantu mereka sebenarnya itu ada hal yang jauh lebih besar dari rasa iba dan tergerak, yaitu kasih. Kasih bukan kasih manusia yang terbatas, tapi kasih yang membutuhkan jiwa dan hidupnya yang terbakar oleh belas kasihan Tuhan. Dari sinilah kasih Ilahi yang terus mengalir dan mengairi hati manusia yang percaya kepada-Nya.
Menjadi biarawan untuk orang yang tersingkir
Ia juga tanpa ragu dengan sabar dan kasih mau mencabuti belatung-belatung dari luka-luka membusuk di tubuh dan kepala pasien. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih. Rasa kasih telah membuat dirinya belajar untuk mengerti, saat aku kelaparan, kamu ada memberiku makan. Saat aku menderita kamu datang merawat aku yang luka.
Gadis yang telah akrap dengan kesederhanaan ini yang kerap disapa Suster Lucy itu memilih mengabdikan dirinya untuk membantu orang tidak mampu karena rasa iba melihat banyak tunawisma. Para warganet pun tersentuh melihat kehidupan yang dijalani oleh Lucy. Mereka menilai, kemampuan Lucy dalam mengalahkan nafsu duniawi patut diacungi jempol.
“Aku kagum.. Meninggalkan semua kemewahan dunia memilih jalan Tuhan,” tulis akun di kolom komentar. “Tuhan Memberkati Suster Lucy.tidak perduli dgn harta kekayaan tapi memilih menjadi suster dan melayani bersama,” kata akun TikTok De. Tetapi ia sebenarnya apa yang disaksikan dalam hidupnya dan yang dikerjakan bukan untuk membuat orang kagum atas dirinya karena Kristus Yesus yang Kasih adanya, itulah yang “nampak” dalam semua tindakan dan hidupnya.
Keputusan dan pilihan
Lucy sempat menjalani pendidikan S2 di Amerika Serikat, ia sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya saat ini. Sekadar diketahui, Biarawati dalam agama Katolik merupakan seorang wanita yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius. Di Indonesia, para biarawati seringkali dipanggil suster yang biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum.
Sifat sederhana Suster Lucy sudah terlihat sejak remaja. “Saat masih SMA, kalau dibelikan orang tuanya tas-tas mahal, dia enggak mau pake,” kata kerabatnya. Seperti Tuhan sedang menyiapkan keadaan untuk hidupnya tapi suatu keadaan bukanlah suatu pilihan untuk panggilan. Setiap kali rasa keterbatasan diri sebagai manusia yang melayani di kalangan orang-orang yang sangat terbatas. Hatinya timbul rasa ketidakmampuan dalam segala hal maka sebagai manusia ia mengingat kembali akan kata-kata ibu Teresa yang disaksikan saat ia melangkah sedia memenuhi panggilannya. “Letakkan tanganmu dalam Tangan-Nya, dan berjalanlah sendirian bersama-Nya”, itu nasehat ibunya kepada seorang anak yang berumur delapan belas tahun yang dikenal sekarang ibu Teresa. Maka tidak ada lagi atau kalau ada ia belajar, melepaskan kepada Kristus. Ya, mungkinkah hati Yesus tidak merasakan kegundahan dan kegelisahan kita? Mustahil, bukan?
Suster Lucy Agnes yang seperti di foto sederhana dalam balutan jubah khas pengikut Bunda Teresa. Terlihat aura kedamaian dari dirinya. Kerabat Suster Lucy Agnes tidak bersedia diekspose jati dirinya. “Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”, ucapnya. Kita bisa menatap bening sinar matanya beningya hati. (ED)
Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV
Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528



Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya
JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569



Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas
Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460



Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri
Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.
