Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Muda Inspiratif

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

Suster Lucy
Oleh: Eka Setia Dharma

Ia manusia biasa

Era teknologi informasi melahirkan gejala budara crazy rich. Anak-anak muda pada menyenangi dan memuja kaum muda yang suka dan menjadi crazy rich. Kaya, muda dan terkenal. Kemana ia pergi, selalu ada yang memujanya. Budaya crazy rich seolah menawarkan kemudahan dan kekayaan walaupun ada segelintir anak muda yang dikatakan orang crazy rich, namun untuk mereka lain. Mereka ada yang hidup dengan budaya kebersahajaan, salah satu Grace Tahir, orang Glodok menjadi perbincangan publik setelah ayahnya Dato Sri Tahir menduduki peringkat 16 orang terkaya di dunia 2021 versi Forbes.

Namun yang lain dari yang berbeda itu yang mungkin disebut “crazy”, oleh dunia. Lucy Agnes, putri keluarga bos Djarum yang menolak hidup mewah, jadi biarawati di negara termiskin, Timor Leste. Benarlah, nats Alkitab yang menyatakan “Dunia ini tidak layak bagi mereka…(Ibr 11:38). Gadis pemilik nama lengkap Maria Donna Dewiyanti Darmoko ini adalah keponakan dari Robert Budi Hartono pemilik BCA dan Djarum.

Negara tempat Lucy bertugas adalah Timor Leste. Negara tetangga Indonesia itu merupakan salah satu negara termiskin di Asia. Berdasarkan kabar yang beredar, dia dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dengan hanya memiliki dua set pakaian.

Lucy merupakan putri dari Paul dan Cecilia Darmoko. Dia termasuk ke dalam keluarga Hartono dari garis keturunan ibunya yang merupakan saudara sepupu Robert Budi Hartono. Seperti dirilis Grid.ID, ada yang unik dari seorang suster Lucy, bahwa Robert Budi Hartono bos perusahaan rokok terkemuka Djarum, maka Lucy merupakan yang cucu dari pemilik dari konglomerasi Djarum. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah pemilik restoran Ayam Bulungan.

Orang melihat semua ada dan tersedia, namun siapa yang bisa menyediakan apa yang dibutuhkan oleh hati orang. Jika hati orang yang membutuhkan “air yang hidup”, dan jika ia sudah mendapatkan hal itu, mungkinkah ia akan mencari hal lain yang telah melepaskankan dahaga jiwanya? Bahkan di hidupnya air yang hidup itu akan terus mengalir berlimpah dan orang-orang yang kehausan akan membutuhkan air yang hidup itu sedang menantinya? < br>
Maka saat Lucy bertekad untuk menjadi biarawati itu muncul saat dia dan keluarga berlibur ke Hongkong. Dia merasa iba dan hatinya tergerak untuk membantu para tunawisma yang keadaannya memprihatinkan. Keibaan dan tergerak hati membantu mereka sebenarnya itu ada hal yang jauh lebih besar dari rasa iba dan tergerak, yaitu kasih. Kasih bukan kasih manusia yang terbatas, tapi kasih yang membutuhkan jiwa dan hidupnya yang terbakar oleh belas kasihan Tuhan. Dari sinilah kasih Ilahi yang terus mengalir dan mengairi hati manusia yang percaya kepada-Nya.

Menjadi biarawan untuk orang yang tersingkir

Menurut rekan-rekannya, Suster Lucy yang kuliah S2 di Amerika Serikat ini sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya. Di Kalkuta, India, di mana ia pernah menjadi sekretaris pimpinan kongregasi Missionaris Claris , konon Lucy paling sedia jika harus mendampingi orang-orang yang sekarat.

Ia juga tanpa ragu dengan sabar dan kasih mau mencabuti belatung-belatung dari luka-luka membusuk di tubuh dan kepala pasien. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih. Rasa kasih telah membuat dirinya belajar untuk mengerti, saat aku kelaparan, kamu ada memberiku makan. Saat aku menderita kamu datang merawat aku yang luka.

Gadis yang telah akrap dengan kesederhanaan ini yang kerap disapa Suster Lucy itu memilih mengabdikan dirinya untuk membantu orang tidak mampu karena rasa iba melihat banyak tunawisma. Para warganet pun tersentuh melihat kehidupan yang dijalani oleh Lucy. Mereka menilai, kemampuan Lucy dalam mengalahkan nafsu duniawi patut diacungi jempol.

“Aku kagum.. Meninggalkan semua kemewahan dunia memilih jalan Tuhan,” tulis akun di kolom komentar. “Tuhan Memberkati Suster Lucy.tidak perduli dgn harta kekayaan tapi memilih menjadi suster dan melayani bersama,” kata akun TikTok De. Tetapi ia sebenarnya apa yang disaksikan dalam hidupnya dan yang dikerjakan bukan untuk membuat orang kagum atas dirinya karena Kristus Yesus yang Kasih adanya, itulah yang “nampak” dalam semua tindakan dan hidupnya.

Keputusan dan pilihan

Keputusan untuk hidup dan melayani menjadi seorang suster dan membantu banyak orang tidak mampu. Meskipun berasal dari keluarga orang paling kaya di Indonesia, Lucy Agnes nyatanya memilih hidup sederhana dan melayani umat dan bertugas di Timor Timur yang merupakan salah satu negara paling miskin di Asia.

Lucy sempat menjalani pendidikan S2 di Amerika Serikat, ia sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya saat ini. Sekadar diketahui, Biarawati dalam agama Katolik merupakan seorang wanita yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius. Di Indonesia, para biarawati seringkali dipanggil suster yang biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum.

Sifat sederhana Suster Lucy sudah terlihat sejak remaja. “Saat masih SMA, kalau dibelikan orang tuanya tas-tas mahal, dia enggak mau pake,” kata kerabatnya. Seperti Tuhan sedang menyiapkan keadaan untuk hidupnya tapi suatu keadaan bukanlah suatu pilihan untuk panggilan. Setiap kali rasa keterbatasan diri sebagai manusia yang melayani di kalangan orang-orang yang sangat terbatas. Hatinya timbul rasa ketidakmampuan dalam segala hal maka sebagai manusia ia mengingat kembali akan kata-kata ibu Teresa yang disaksikan saat ia melangkah sedia memenuhi panggilannya. “Letakkan tanganmu dalam Tangan-Nya, dan berjalanlah sendirian bersama-Nya”, itu nasehat ibunya kepada seorang anak yang berumur delapan belas tahun yang dikenal sekarang ibu Teresa. Maka tidak ada lagi atau kalau ada ia belajar, melepaskan kepada Kristus. Ya, mungkinkah hati Yesus tidak merasakan kegundahan dan kegelisahan kita? Mustahil, bukan?

Suster Lucy Agnes yang seperti di foto sederhana dalam balutan jubah khas pengikut Bunda Teresa. Terlihat aura kedamaian dari dirinya. Kerabat Suster Lucy Agnes tidak bersedia diekspose jati dirinya. “Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”, ucapnya. Kita bisa menatap bening sinar matanya beningya hati. (ED)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Muda Inspiratif

Suara Anak Desa di Forum Internasional

Suara Anak Desa di Forum Internasional

Jangan buang mimpimu. Jangan sia-siakan perjalanan mimpi karena dirasa mustahil. Jangan pula hal itu dikatakan tidak mungkin karena mimpi kamu disemai pada tempat “penuh keterbatasan dan udik”.

Oleh: Eka Dharma

Kita tidak akan pernah tahu di tempat yang kurang menjanjikan itu atau manusia mana yang tahu akan munculnya benih perubahan dari sebuah mimpi di tempat terpencil seperti Sumba Timur, bukan di Jakarta.

Tepatnya Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), tempat benih mimpi tertabur. Di tempat itu letak Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seorang gadis Roslinda Tamo Ina (15th) dari keluarga sederhana, diundang berpidato sampai dua kali di forum Internasional. Oslin begitulah panggilan akrabnya, merupakan anak keempat dari 4 bersaudara. Ia adalah putri dari pasangan Talu Popo dan ibunya bernama Maria Ytu. Ayahnya adalah guru pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu Sekolah Dasar.

Ia merupakan warga Kampung Paurat, Desa Kombapari, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Sumba Timur. Meskipun berasal dari desa, hal itu tidak mengendurkan niatnya untuk menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki seorang aktivis muda yang sangat gigih menyuarakan hak-hak anak. Roslinda Tamo Ina atau akrab disapa Oslin ialah anggota dari forum anak.
Memperjuangkan Identitas Diri-Kartu Akta lahir

Kegigihan Oslin yang terbentuk setelah mengikut bimbingan dan pelatihan Wahana Visi Indonesia–organisasi kemanusiaan Kristen di bidang pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selain permasalahan akta lahir, kasus kekerasan anak di desanya juga kerap terjadi. “Kadang anak dipukul, ada juga anak-anak yang dikasih cacian maki. Itu sangat berpengaruh di mental anak. Anak itu tidak pantas mendapatkan hal seperti itu. Ini yang saya perjuangkan sama teman-teman, supaya para orangtua sadar bagaimana mengasuh anak itu bisa mengasuh anak dengan cinta,” katanya. Oslin bersama forum anak melakukan edukasi dengan menarik, salah satunya lewat pementasan drama.

Oslin mengungkapkan mimpinya bahwa setiap anak bisa memiliki identitas diri-akta lahir. “Banyak anak yang tidak punya akta lahir. Akibatnya tidak bisa bersekolah dengan baik, ada teman saya yang mau ikut lomba, lombanya dari pemerintah. Tapi tidak bisa karena dia tidak punya identitas sehingga potensi dan bakatnya tidak tersalurkan karena tidak punya identitas,” ujarnya dalam acara Kick Andy yang tayang Minggu (20/3).

Berbagai faktor pun Oslin sebutkan yang membuat banyaknya anak-anak tidak memiliki akta lahir di desanya di antaranya faktor jarak, biaya, dan kurangnya kesadaran para orangtua akan pentingnya akta lahir. Lewat forum anak, Oslin bersama rekan-rekannya mulai mendorong para orangtua untuk menyelesaikan permasalahan akta lahir anak. Tidak hanya itu, mereka pun melakukan pendekatan ke pemerintah desa dan mengajukan pembuatan akta kelahiran anak massal. “Pemerintah desa buat gugus tugas untuk fokus urus akta lahir anak, mendata anak-anak yang belum punya akta lahir terus diurus secara massal di kota. Akhirnya 99% anak-anak di Desa Kombapari sudah punya akta lahir,” paparnya.

“Di forum anak itu, waktu Natalan, kita buat acara terus kita undang, orangtua, guru, elemen masyarakat, dan pemerintah, di situ kita tampilkan drama singkat tentang anak yang mendapatkan kekerasan dan dampaknya,” ucapnya. Berkat Oslin dan rekan-rekannya, suara anak mulai dilihat sama pentingnya dengan suara masyarakat dewasa dan memiliki andil dalam pemerintahan desa.
Suara di Forum Internasional

“Perubahannya terasa, lebih banyak anak-anak yang mau sama-sama berjuang untuk haknya dipenuhi, terus pemerintah juga sudah mau melibatkan kami dalam pengambilan keputusan dan sidang DPRD, dan sudah mau mendengarkan suara kami. Sudah buat peraturan desa tentang perlindungan anak,” papar mantan Ketua Forum Anak Desa Kombapari itu. Oslin kemudian didapuk menjadi perwakilan kabupaten untuk menyebarkan ilmu ke puluhan desa di Kabupaten Sumba Timur soal pemenuhan hak anak. Pada 2019, ia juga ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia untuk menjadi pembicara di forum PBB di New York. Oslin kembali menyampaikan suara anak Indonesia secara online ke perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat, pada Oktober 2020.

Di forum internasonal itu, Oslin menuturkan tentang penghapusan kekerasan terhadap anak dalam Forum Politik Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 9 hingga 18 Juli 2019. Saat itu Oslin masih bersekolah di SMP Negeri Satu Atap Matawai Iwi. Kemudian, ia kembali menyampaikan suara anak Indonesia secara online ke perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat pada Rabu (8/10/2020).

“Saya pertama menjadi pembicara dalam kegiatan High Level Political Forum di New York pada tahun lalu,” kata Oslin kepada Kompas.com di Waingapu, Minggu pagi. “Dan, pada tanggal 8 Oktober 2020 menjadi pembicara perwakilan anak Asia, khususnya Indonesia di Forum PBB menyampaikan tentang perubahan yang dialami akibat pandemi Covid-19,” lanjutnya. Ia menuturkan, dirinya mengikuti seleksi bersama anak-anak dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) di seluruh Indonesia pada tahun 2019.

Ia kemudian terpilih sebagai pembicara dalam kegiatan High Level Political Forum di New York. “Seleksinya buat video. Dalam video itu kami menceritakan hal-hal yang sudah dilakukan forum anak terkait penghapusan kekerasan terhadap anak di Desa Kombapari. Akhirnya saya yang terpilih untuk ikut kegiatannya di New York,” kisah Oslin. Pada tahun ini, ia kembali ditunjuk untuk berpidato secara virtual di forum PBB. “Mungkin karena saya sudah pernah berbicara di PBB, jadi diminta lagi untuk mewakili anak-anak Asia untuk menyampaikan suara anak-anak,” papar mantan Ketua Forum Anak Desa Kombapari itu.

Ia mengungkapkan masih banyak temannya yang belum memiliki ponsel cerdas (smartphone). Hal itu karena kondisi perekonomian orangtua mereka yang tidak berkecukupan akibat pandemi Covid-19. Selain itu, ada keluhan soal jaringan internet yang tidak ada di desa-desa. Ada juga teman-temannya yang tidak memahami materi yang disampaikan pada saat live meeting via zoom. Pada saat menyampaikan pertanyaan kepada guru tentang materi tersebut, tiba-tiba ada gangguan jaringan. Hal itu sangat mempengaruhi tingkat konsentrasi siswa.

Harapan Oslin yang masih ada ialah pemerataan akses internet agar anak-anak bisa mengikuti belajar daring dengan nyaman. “Jadi, harapannya akses internet yang lebih merata khususnya di desa-desa. Supaya mereka juga bisa merasakan apa yang anak-anak kota rasakan. Penyebaran jaringan internet yang merata dan memadai untuk semua,” ujar Oslin. Ia juga meminta kepada peserta dalam forum tersebut untuk memberikan solusi tentang masalah-masalah yang disampaikannya.

Bagaimana dengan kamu anak muda, apakah masih berdalih lagi untuk maju melangkah mewaujudkan mimpimu? -ed

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/479363/roslinda-tamo-ina-suara-yang-memengaruhi-kebijakan

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.