Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Opini

Keteguhan Hati & Tindakan sebagai Hamba Tuhan

Keteguhan Hati & Tindakan sebagai Hamba Tuhan

“Masalah utama dari zaman kita bukan liberalisme atau modernisme, atau Katolik Roma yang lama atau Katolik Roma baru, maupun ancaman komunisme, atau bahkan ancaman rasionalisme dan konsensus monolitik yang mengelilingi kita. Semua ini berbahaya tapi tidak ancaman utama. Masalah sebenarnya adalah ini: Gereja Tuhan Yesus Kristus, secara individu, secara Bersama-sama, cenderung untuk melakukan pekerjaan Tuhan dengan alam kekuatan daging bukannya dengan (kuasaq) Roh. Masalah sentral selalu di tengah-tengah umat Allah, tidak dalam keadaan di sekitar mereka”.
Francis Schaeffer

OLEH YONATHAN SUBUR / Juli 2022

Terlempar di dunia yang menjerit
Dalam mini seri film perang dunia dua yang diambil dari kisah nyata pengalaman-pengalaman para prajurid, berjudul “Only Few Second” (2016), digambarkan manusia yang berperang itu, sebenarnya sosok manusia yang rapuh; mengalami takut, ingat pada orang yang dikasihi, bersembunyi di balik senjata. Dan sisi lain ada rasa kemanusiaan di balut rasa berani karena tujuan berperang yang lain. Semua historitas perang menjadi mimpi buruk dan akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia.

Namun kini dunia menjerit kembali oleh perang yang disebabkan oleh manusia. Perang di wilayah negara Ukrania yang sebenarnya yang ikut berperang Uni Eropa dan Amerika lawan Rusia dan kroninya. Perang kembali membuat manusia menjerit. Pedih, suram dan nyaris pasrah. Dunia menjadi krisis. Itulah kata-kata yang sering muncul sekelibat di media masa cetak dan elektronik maupun media informasi digital, dalam mengetengahkan situasi saat ini. Gereja terlempar di dunia yang menjerit seperti saat ini.

Perang menjadikan krisis pangan dan energi, negara Srilangka dinyatakan bangkrut dan terjadi krisis dengan demo besar rakyatnya. Harga-harga bahan pangan meroket. Di belahan lain, orang antri minyak, sampai ada yang pasrah saat belanja di pasar harga cabe sudah naik. Dan ditambah lagi kebangkitan covid 19 dengan berbagai varian muncul, dan itu ada di mana-mana. Sementara sisi lain, di dunia maya dibarengi dengan tehnologi informasi, yang menggelontorkan berbagai informasi yang menjanjikan cerdas, apakah itu berupa informasi “kebenaran” yang bisa dipilih untuk dikonsumsi, semua ada digenggaman tangan; handphone.

Paradoks, inkonsistensi, atau polaritas pada dasarnya untuk menggambarkan situasi yang yang bertentangan sesuatu yang acap kali disebut sebagai ironi. Itulah situasi dunia saat ini.

Keteguhan hati
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Kor 4:1

Paulus membentangkan isi hatinya dengan menuliskan yang mendasar dari motiv yang utama dalam melayani orang-orang yang telah percaya di Korintus, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini”. Motivasi yang mendasar dari Paulus diragukan oleh para pengajar palsu. Seperti halnya di saat ini, dalam era postmodern, manusia sangat individulis, percaya diri dan mempertanyakan segala sesuatu, karena ia kurang percaya pada apapun. Dari situasi yang demikian muncul aksi berbagai hal salah satunya orang Kristen tanpa gereja. Mengapa? Salah satunya penyebab krisis saat ini justru gereja Ortodoks Rusia berusia 75 tahun mendukung perang serangan ke Ukraina, menyebutnya perang spiritual, bukan menjadi pembawa suara damai.

Natalie Golderg (2015) mengajak menikmati microbreak dalam merenungkan tulisan Paulus. Membiarkan diri dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih untuk bisa melihat bahwa Paulus yang menulis “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati itu” telah terangkai dengan pengalaman hidupnya yang berat (2 Kor 1: 8) yang menyatu dengan nasehatnya yang saling berkaitan. Namun, Paulus tidak tawar hati atau putus asa (4:11). Apa rahasianya? Paulus meyakini bahwa Tuhan kelak akan mengganjar kesetiaannya dalam pelayanan dengan kemuliaan yang kekal (4:5, Why 3:10b).

Paulus sampai mengatakan bahwa penderitaannya yang sangat berat jadi terasa ringan karena dibandingkan dengan kemuliaan yang begitu megah dan indah dari Tuhan baginya kelak (ay. 17).Perkataan “ilah zaman ini” menunjuk kepada Iblis (bd. Yoh 12:31; Yoh 14:30; 16:11; Ef 2:2; 1Yoh 5:19) yang memegang kuasa atas banyak kegiatan pada zaman sekarang ini. Akan tetapi, pemerintahannya itu bersifat sementara dan bersyarat. Dia melangsungkan pemerintahannya hanya dengan kehendak Allah yang mengizinkan sampai akhir sejarah (Wahy 19:11-20:10). Mereka yang tidak tunduk kepada Yesus Kristus, tetap berada di bawah kekuasaan Iblis. Karena keyakinan yang teguh, Paulus menyadari panggilan dan bisa pelaksanaanya semata-mata hanya oleh Roh dan bukan karena diri sendiri (2 Kor 1:9).

Namun bagaimana dengan mengkomunikasikan sehingga orang percaya mengerti dan memahaminya bahwa situasi yang terjadi saat ini membutuhkan pengertian yang dalam bahwa situasi yang pelik dan temporer itu, selalu membutuhkan Roh Kudus terus menerus bukan hanya untuk dimengerti melalui firman-Nya tapi juga percaya kehadirannya. Seperti ditegaskan oleh Francis A Schaeffer (1995:169) ; “The answers in the realm of the intellect should make us overwhelm-ingly excited. But more than this we are returned to a personal relationship with the God who is there”. Jadi, sebagai mana Roh Kudus meneguhkan Paulus, Ia juga hadir meneguhkan orang percaya di segala zaman dan berbagai situasinya. Sehingga orang percaya bisa melihat terang telah terbit. (4:6)

Pelaksanaan seorang hamba
Dari motif yang terdalam munculah tindakan yang nampak dan disaksikan dalam tulisannya Paulus, bahwa dalam situasi yang sulit dan temporer itu, konsistensi Paulus dalam ketulusan, kemurnian dari Allah dalam melaksanakan tugas pelayananannya (ay.12). Ia menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan di tengah-tengah “kesaksian hidup” para pengajar palsu yang terus meragukan kerasulan Paulus (4:2, John Drane. 1996. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm 360-361.)

Dalam situasi yang demikian sulit, sebaiknya para hamba, orang percaya tidak gampang terpancing untuk bertindak terburu-buru apalagi mengatas namakan Tuhan. Sisi lain, “mencari celah”atas nama agama atau identitas dengan mencari keuntungan pribadi. Paulus memakai istilah “tidak berlalu licik” sebab lawan-lawannya sekian lama yang mengaku rasul dan melayani jemaat Korintus memakai cara-cara licik (bd.4:2). Tetapi setiap keadaan yang diperhadapkan kepada orang percaya yang mentaati firman Tuhan dengan penuh ketulusan, ia mengerti dan percaya Allah ada dan bertindak dalam kesulitan yang paling pelik sekalipun seperti di kemukakan oleh David Roper dalam bukunya “Seeing Through”,(1995:18), but God is never at loss. He provides eventuality. When things loot most dark and dangerous, when evil men and women have done their worst, then God can begin”. Tuhan justru baru memulai di waktu yang paling jelek dan tidak mungkin. Perhatikanlah, bukankankah Tuhan bertindak saat orang berkata sudah tamat ketika orang Isreal di tepi laut Teberau dan orang Mesir mengejarnya? Bukankah janda miskin dan anaknya di Sarfat akan mati sebab di rumahnya hanya ada segenggam tepung dan minyak beberapa tetes, lalu Elia datang dengan mujizat Tuhan? Ketika gereja sudah di ambang kehancuran, zaman sudah gelap itulah saat Tuhan bertindak melalui Martin Luther dengan gerakan reformasinya? Saat dunia menjertit dan putus asa Allah memulai bertindak dengan segala kuasanya malalui Saudara.

Karena itu, tetap jaga motif panggilan dengan benar, tampillah sebagai hamba, di manapun melayani, dalam situasi apapun dan model yang menawarkan “keuntungan” atas nama agama yang bagaimanapun. Tetap jaga teguh “Keteguhan Hati dan Tindakan sebagai Hamba Tuhan”. Diakhir tulisan ini, John Stott dalam bukunya “Mengapa Saya Seorang Kristen”, menulis, “Kekristenan tidak menawarkan jawaban yang dangkal atas pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan ini. Namun yang ditawarkan adalah bukti dari kasih Allah, yang adil dalam sejarah dan objektiv sebagai bukti yang sepertinya menyangkalnya, namanya adalah salib. Salib tidak menenangkan badai, namun itu memberi kita landasan kokoh untuk melihat dan menanggungnya” (2003, h:65). Selamat melayani dan hidup sebagai para hamba Tuhan dan milik-Nya. (ys)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.