Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Teropong

J. I. Packer (1926-2020)

J. I. Packer (1926-2020)

Suatu tulisan sepintas tentang contoh hidup seorang hamba Tuhan

TheHope.id – J.I Packer pergi untuk bersama dengan Tuhan pada 17 Juli 2020. Dia berusia 93 tahun. Packer adalah seorang anggota gereja Anglikan seumur hidup yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di Inggris dan paruh kedua di Kanada tetapi yang mungkin paling populer di Amerika Serikat. Ia dikenal luas sebagai salah satu tokoh terkenal teologis yang paling berpengaruh di abad ke-20.

Lahir dari keluarga menengah ke bawah
Packer mengaku terlahir dari keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga itu tinggal di bagian tengah Gloucester, sebuah kota katedral di barat daya Inggris. Kecenderungan religius di rumah dan gerejanya adalah Anglikanisme nominal daripada kepercayaan evangelis dalam Kristus sebagai Juru Selamat (sesuatu yang tidak diajarkan kepada Packer di gereja asalnya). Orang tua Packer menjelaskan bahwa pendidikan lanjutan apa pun akan bergantung pada beasiswa. Packer menerima beasiswa yang memungkinkannya menempuh pendidikan di Universitas Oxford.

Packer masuk Oxford University, dia menganggap dirinya sebagai seorang Kristen karena dia telah membela agama Kristen dalam debat intelektual di sekolah. Saat menghadiri kebaktian penginjilan yang disponsori oleh kelompok kampus InterVarsity pada 22 Oktober 1944, dia menyadari bahwa dia bukanlah seorang Kristen sejati. Dengan anugerah Allah, dia pulang dari kebaktian sebagai orang Kristen yang percaya dan diselamatkan.

Dia terus menggumuli kecenderungan pertama ialah pikiran orang Kristen telah disesuaikan dengan roh kehidupan modern. Roh yang menyebarluaskan pemikiran-pemikiran besar manusia, tetapi hanya sedikit ruang untuk memikirkan Allah. Cara orang modern menempatkan Allah, jika tidak menyangkal Allah sama sekali adalah dengan menjaga jarak dengan-Nya. Ironisnya banyak orang Kristen modern, melakukan praktek religious dan membiarkan Allah berada jauh dari mereka. Jerat lain yang tak kalah mematikan abad modern ini adalah orang Kristen terjerat dan terbelenggu skeptisme modern. Mulai menyangkal control Allah atas dunia ini bersifat langsung dan sempurna. Undangan yang paling tepat dan terbaik untuk orang Kristen saat ini, Kembali ke jalan Tuhan seperti yang diungkapkan Tuhan dalam Yermia 6:16 ;”Beginilah firman TUHAN: ”Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya.”

Pada 17 Juli 1954, Packer menikahi seorang wanita Welsh, Kit Mullett, seorang perawat muda yang dia temui setelah ceramah di Surrey pada akhir musim semi tahun 1952. Bersama-sama mereka kemudian mengadopsi tiga anak: Ruth, Naomi, dan Martin. Keluarga Packer pindah ke Bristol pada tahun 1955, di mana Packer bertugas sebagai dosen di Tyndale Hall selama enam tahun ke depan.

Memberi penekanan pentingnya dasar hidup Kristen yang benar dan saleh
Selama hampir 70 tahun menulis dan melayani, ia menekankan pentingnya mengenal, berdoa, dan berkomunikasi dengan Allah Tritunggal. Dia menyerukan agar gereja menganggap serius kekudusan dan pertobatan dengan berjalan dalam Roh dan berjuang melawan dosa yang ada di dalam diri. Dia membela otoritas Alkitab dan memperjuangkan prinsip katekisasi pemuridan. Orang-orang yang mengenal Allah menunjukkan keberanian yang besar bagi Allah. Daniel dan teman-temannya adalah orang-orang yang teguh pendiriannya. Ini bukanlah kekerasan hati yang bebal. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan. Mereka telah menghitung harga yang harus dibayar. Mereka telah mengukur resikonya. Mereka menyadari apa akibat tindakan mereka, kecuali jika Allah turut campur tangan, dan memang itulah yang Ia lakukan.

Orang-orang yang mengenal Allah memiliki kepuasan yang besar dalam Allah. Kepuasan kita yang komprehensif merupakan ukuran lain untuk menilai apakah kita sungguh-sungguh mengenal Allah. Jadi, Mengenal Allah merupakan hubungan emosional, intelektual dan kehendak. Dan ini didasari oleh kasih karunia. Jadi, mengenal Allah; Allahlah yang pertama kali mengenal orang percaya dan memampukan Dia dengan menyatakan kasihnya kepada orang percaya.

Pengenalan orang percaya kepadanya Allah, berdasarkan kebenaran ini yang di aplikasikan ke dalam fakta pribadi adalah fakta yang lebih besar yang mendasar yaitu fakta bahwa Ia mengenal saya. Saya diukir dalam telapak tangan-Nya. Saya tidak pernah keluar dari pikiran-Nya. Seluruh pengetahuan saya akan Dia tergantung pada inisiatif-Nya secara terus menerus dalam mengenal saya. Saya mengenal Dia karena Dia mengenal saya dan terus menerus mengenal saya. Ia , seorang mengenal saya sebagai seorang sahabat yang mengasihi saya; dan tidak sesaat pun mata-Nya dan perhatian-Nya terlepas dari saya, dan karena itu pemeliharaan-Nya tidak pernah terputus sesaatpun.

Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang sangat penting. Ada penghiburan yang tidak terkatakan – yaitu penghiburan yang menghasilkan energi, dapat dikatakan demikian, bukannya melemahkan – dalam kesadaran bahwa Allah terus-menerus mengenal saya dalam kasih, dan mengawasi saya demi kebaikan saya. Namun ada doronngan yang sama besarnya untuk menyembah dan mengasihi Allah karena menyedari bahwa karena alasan yang tidak dapat dimengerti, Ia menghendaki saya menjadi sahabat-Nya. Ia ingin menjadi sahabat saya dan Ia telah memberikan Anak-Nya untuk mati bagi saya agar saya menyadari rencana-Nya itu.
Kasih Allah
Bagi JI Packer, I Yohanes 4:8,16, merupakan salah satu ucapan yang paling indah dalam Alkitab. Tetapi juga merupakan salah satu ucapan yang paling sering disalah pahami. Packer menulis dalam kalimat yang mengawali frasa “Allah adalah kasih” dan yang kedua, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”(ayt.16). Mengenal kasih Allah sesungguhnya sorga turun di bumi. Dan, Perjanjian Baru mengemukakan pengetahuan ini, bukan hanya sebagai hak beberapa orang yang disukai saja, melainkan sebagai normal dari pengalaman Kristen sehari-hari.

Ketika Paulus berkata, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”( Roma 5:5), yang ia maksudkan bukanlah kasih kepada Allah, seperti yang dipikirkan Agustinus, melainkan pengetahuan tentang kasih Allah kepada kita. Meskipun ia tidak pernah bertemu dengan orang Kristen di Roma yang ia kirimi surat, ia merasa yakin bahwa pernyataan akan berlaku untuk mereka seperti halnya untuk dia.

Jadi, kasih Allah yang dicurahkan berarti “dituangkan atau ditumpahkan”. Kata ini yang sama yang dipakai sama untuk “pencurahan” Roh Kudus dalam Kisa Rasul 2:17, yang menunjukkan aliran yang deras dalam jumlah yang besar atau banjir. Jadi kasih Allah telah membanjiri hati kita terdalam.

Kata kerja dalam bentuk perfect yang menyiratkan kondisi yang sudah mapan setelah Tindakan tertentu selesai dilakukan. Maksudnya, pengetahuan akan kasih Allah yang telah membanjiri hati kita, sekarang memenuhinya dan sekarang masih memenuhinya.

Pelayan regular Roh Kudus kepada orang-orang yang menerima Dia – bagi semua orang yaitu orang yang dilahirkan baru, semua orang yang merupakan orang percaya sejati. Kita seharusnya dapat mengharapkan bahwa aspek peyanan-Nya dihargai lebih tinggi dari pada saat ini.
Masa yang tidak mudah
Sebagai hamba yang bertekun dan intelektual, ia tahu persis pergumulan pergumulan orang percaya, terutama hal doktrin, Ada esai ulasan yang berjudul “‘Keswick’ and Reformed Doctrine of Sanctification (Doktrin Keswick dan Doktrin Reformed tentang Pengudusan – Red) (Evangelical Quarterly 27 [1955]: 153 -157), menuduh ajaran Kehidupan Lebih Tinggi tentang pengudusan ini sebagai Pelagianisme (paham yang meyakini bahwa dosa asal tidak merusak hakikat manusia, dan bahwa dengan kehendaknya yang fana manusia masih sanggup memilih yang baik atau yang buruk tanpa pertolongan ilahi – Red.) yang menyeluruh. Ini adalah masa Packer yang paling polemik, sebagian karena pengalaman pribadinya dan hati pastoralnya bagi orang lain untuk menghindari “kecerobohan pietistik” yang hampir membuatnya putus asa sebagai mahasiswa. Dia kemudian menulis:
“Tidak banyak rekomendasi ketika yang dapat Anda katakan adalah bahwa ajaran ini dapat membantu Anda jika Anda tidak menganggap perinciannya terlalu serius. Sangatlah memberatkan untuk mengatakan, seperti dalam kasus ini saya pikir kita harus, bahwa jika Anda benar-benar memerhatikan perinciannya, itu akan cenderung tidak membantu Anda tetapi malah menghancurkan Anda.”

Penulis biografinya, Alister McGrath, melihat kembali efek dari artikel ini dan menulis: ”Di sana…tidak ada tanggapan dari kelompok Keswick yang menolak kritik yang diberikan oleh Packer. Secara luas disepakati bahwa tinjauan Packer menandai berakhirnya dominasi pendekatan Keswick di kalangan kaum Injili yang lebih muda. Sebagian besar kritik teologis dari kritik Packer terbukti tidak dapat dijawab.”

Pada bulan Maret 1958, pada usia 31, Packer menerbitkan buku pertamanya, “Fundamentalism” and the Word of God (“Fundamentalisme” dan Firman Allah -Red.) (IVP di Inggris; Eerdmans di AS), sebuah pembelaan dari sikap Protestan bersejarah mengenai otoritas Kitab Suci.
Michael Reeves menulis:
“Ini berfungsi sebagai seruan untuk meningkatkan semangat para kaum Injili dengan pandangan yang tinggi tentang Alkitab, itu menaikkan tingkat kecanggihan dan nuansa yang dapat mereka pikirkan tentang Kitab Suci, dan itu menjadikan Packer sebagai pemimpin teologis dari gerakan itu.”

Tetap setia menjadi hamba

Buku pertama Packer terjual sebanyak 20.000 eksemplar pada tahun pertamanya dan terus dicetak sejak saat itu. Sebuah ceramah yang diberikan Packer kepada sebuah kelompok pelajar di London pada tahun 1957 menarik perhatian editor InterVarsity, yang meminta agar Packer mengubah ceramah tersebut menjadi sebuah buletin. Sebagai gantinya, Packer mengerjakan materi itu selama delapan belas bulan dan menyerahkan manuskrip sepanjang buku kepada editor. Buku itu berjudul “Fundamentalism and the Word of God” (Fundamentalisme dan Firman Allah – Red.).

Packer menghasilkan begitu banyak sehingga tidak mungkin menyusun bibliografi dari tulisannya. Baik dalam berbicara maupun menulis, Packer mengikuti kebijakan memasuki hampir setiap pintu yang terus terbuka di hadapannya. Daftar publikasinya menentang tabulasi, sebagian karena banyaknya jumlah item, sebagian karena kisaran genre yang begitu luas sehingga sulit untuk mengetahui apa yang merupakan publikasi dibandingkan dengan dokumen yang dicetak secara pribadi, sebagian karena Packer sering menerbitkan buku yang sama di Amerika Serikat dan Inggris dengan judul yang berbeda, dan sebagian karena banyak dari tulisannya telah diterbitkan ulang, terkadang dengan judul baru.

Sumber: “The Gospel Coalition” Judul asli artikel :J.I. Packer (1926 — 2020) penulis: Justin Taylor , https://www.thegospelcoalition.org/blogs/justin-taylor/j-i-packer-1926-2020/

Baca juga artikel lainnya
Categories
Teropong

The Blessing

The Blessing

Oleh: Pdt. Hendra Londa

Pada umumnya banyak orang Kristen memahami “berkat” dalam keterkaitan kelimpahan, kesuksesan, kesembuhan dan hal-hal yang memberikan janji tentang sesuatu yang lebih baik. Dalam Perjanjian Lama kata berkat diterjemahkan dari kata Ibrani “berakhah” berasal dari kata kerja “barakh” yang bermakna memberkati, terpujilah,diberkatilah, mendapat berkat, pujilah , mohon berkat,memberkati berlimpah-limpah dan masih banyak arti yang lainnya. Kata berkat itu sendiri dalam PL digunakan sebanyak 640 kali. Dan dalam Perjanjian Baru kata berkat diterjemahkan dari Bahasa Yunani “oilogeo” yang artinya perkataan yang baik yang digunakan biasanya untuk kata-kata pujian syukur yang memuliakan Tuhan. Dalam Lukas 24:50-53, kata “oilogeo” disejajarkan dengan seorang imam besar saat memberkati bangsanya. Seperti yang tertulis dalam Imamat 9:22 “Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka,…” Kristus memberkati murid-murid sebagai seorang yang memiliki wewenang untuk itu, dengan memerintahkan berkat kepada murid-murid-Nya (Mat. 28:18). Dia memberkati mereka, seperti Yakub memberkati anak-anaknya.

Apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga adalah suatu “berkat yang istimewa” yaitu berkat “penyertaan” untuk meyakinkan murid-murid bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu, dan Ia berjanji menyertai mereka selamalamanya (Mat.28:20b). Berkat penyertaan ini adalah berkat yang sifatnya kekal karena penyertaan Yesus tidak bersifat sementara, tetapi kekal. Artinya ketika murid-murid taat pergi melakukan perintah-Nya untuk memberitakan Injil, bukan saja Ia berjanji menyertai selama-lama-Nya, Ia juga melengkapinya dengan kuasa Roh Kudus untuk membuktikan bahwa mereka tidak ditinggalkan sendiri. Dan janji yang sama itu juga berlaku bagi orang-orang hasil dari pelayanan mereka, yaitu jemaat mula-mula (Kis.2:41). Para rasul, dan sejumlah orang percaya lain seperti: Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus, melalui orang-orang ini Firman Allah semakin tersabar dan jumlah murid di Yerusalem semakin bertambah banyak karena sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya kepada Yesus (Kis. 6:5,7). Juga ada anak-anak rohani para rasul yang dipercayakan untuk memelihara jemaat seperti Timotius, Titus, Filemon, Apfia, Arkhipus dan ke tujuh jemaat di Asia kecil (1 Ptr.1:1; Why.1:4), hingga Eropa dan seluruh dunia. Kalau gereja hadir dan terus berkembang hingga hari ini, dapat dipastikan karena berkat penyertaan Tuhan bagi pribadi-pribadi yang mau percaya dan taat untuk pergi memberitakan Injil. Sehingga menjadi bukti dari penggenapan janji penyertaan Tuhan atas gereja-Nya saat ini. Bahwa dengan mengangkat tangan memberkati murid-murid sebelum Ia terangkat, membawa dampak yang sangat besar hingga hari ini.

Berkat penyertaan yang diberikan kepada para murid, tidaklah diberikan secara cuma-cuma dan bukan untuk kepentingan pribadi mereka saja. Tetapi berkat itu untuk kepentingan pemberitaan Injil. Dari pengutusan para murid hingga gereja Tuhan (orang percaya) saat ini, janji penyertaan Tuhan Yesus tidak berkesudahan. Supaya berita keselamatan dapat tersebar semakin meluas hingga ke ujung bumi. Maksudnya, para murid dan semua orang percaya dibekali dengan berkat penyertaan tersebut supaya mereka pergi memberitakan Injil. Dan menghasilkan murid yaitu orang-orang percaya yang kemudian dilatih untuk melakukan hal yang sama. Supaya sebagaimana gereja mula-mula, sekalipun banyak menghadapi tantangan dan penganiayaan tidak menyurutkan semangat pemberitaan Injil yang diwariskan hingga saat ini. Namun yang lebih luar biasa lagi, Yesus tidak hanya menyatakan akan menyertai tetapi Ia melakukan melalui pimpinan Roh Kudus yang Ia janjikan (Kis.1:8). Roh Kudus inilah yang akan memimpin, melengkapi dan menyertai setiap pemberita Injil. Kita patut bersyukur bahwa hadirnya Roh Kudus sebagai penolong, akan memampukan setiap orang percaya untuk melakukan pemberitaan Injil. Roh Kudus akan melengkapi setiap pemberita Injil dengan kuasa untuk bersaksi di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis.1:8). Bagi Gereja dewasa ini, kita harus memahami bahwa berkat penyertaan itu tidak berhenti sampai pada masa rasul-rasul saja. Tetapi hal itu berlangsung terus tanpa henti sebagaimana janji Tuhan ketika Ia akan terangkat ke sorga. Namun perlu digaris bawahi bahwa berkat tersebut atau berkat penyertaan itu diberikan bagi mereka yang “mau pergi” yakni berkaitan dengan pengutusan untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat.28:19). Hal ini berbicara mengenai ketaatan untuk pergi memberitakan Injil, maka Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai (Matius 28:20).

Jadi menerima berkat kekal, yaitu penyertaan harus dalam kaitan untuk pergi menjadi pemberita Injil. Bagi setiap orang percaya dewasa ini, janji berkat kekal tersebut berlaku dalam kesadaran bertanggung jawab menjadi saksi di marketplace, kantor, sekolah dan di manapun kita berada. Diharapkan dari pengutusan dan kesaksian itu menghasilkan orang-orang percaya yang dibentuk menjadi murid kembali untuk menerima janji yang sama. Sebagai Gereja Tuhan/orang percaya di zaman ini, mari sama-sama kita teruskan tugas pemberitaan Injil yang telah dimulai di Yerusalem dan terus bergerak kepada orang-orang terdekat hingga orangorang yang Tuhan pertemukan dengan setiap kita. Selain memperoleh berkat penyertaan itu, kita juga menjadi berkat dan berdampak lebih luas. Mari kita senantiasa percaya akan janji Tuhan, yaitu “… Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20b). (-hl)

Facebook
WhatsApp
Categories
Teropong

Paskah dan Pengharapan Kehidupan

Paskah dan Pengharapan Kehidupan

Oleh: Yonathan Subur

“Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.” Markus 16:6

Nikolai Ivanovich Bukharin, seorang pemimpin Komunis Uni Soviet yang ikut terlibat dalam Revolusi Bolshevik tahun 1917. Paskah di area Kota Kiev, tahun 1930 dia dijadwal memberi pidato kepada ribuan pekerja di Kota Kiev. Nikolai akan berbicara mengenai ateisme. Pidato itu menjadi kesempatan baginya untuk menghina dan merendahkan kekristenan. Selama kurang lebih satu jam, Nikolai Ivanovich Bukharin yang berdiri di panggung, dengan percaya diri melontarkan kata-kata penuh dengan sinisme menyerang iman kekristenan. Ia berusaha meyakinkan pikiran ateistik ke dalam pikiran massa rakyat yang mendengarkan.

Selesai berpidato, pandangannya masih diarahkan kepada ribuan pendengarnya. Dengan ponggahnya karena merasa begitu yakin, bahwa Tuhan yang diimani orang Kristen itu kini benar-benar telah dia matikan. Ribuan orang yang mendengarnya pidato itu terdiam dan suasana menjadi hening. Area kota Kiev menjadi begitu sunyi. Di akhir pidatonya, Nikolai bertanya kepada pendengarnya, apakah ada antara mereka yang ingin mengajukan pertanyaan? Suasana diam, sunyi. Tampaknya tidak ada seorangpun yang berani bertanya. Harapan pada iman kekristenan sudah mati, pikirnya.

Tetapi tiba-tiba, dari tengah kesunyian, seorang lelaki setengah baya berdiri dan berteriak sekencang-kencangnya, katanya, “Kristus sudah bangkit!” Dan di luar dugaan, ribuan massa yang menghadiri pidato itupun berdiri dan ikut berteriak, “Benar sekali! Kristus sudah bangkit!”.
Massapun menyambut teriakan Kristus bangkit tanpa takut. Suasana diam, takut berganti teriakan penuh kemenangan “Kristus sudah bangkit!”.

Ribuan orang di lapangan di Kiev yang telah lama mengalami penderitaan dan kehilangan harapan berseru dan bersorak “Kristus sudah bangkit”. Mereka menjadi hidup. Hidup dengan api pengharapan yang tadinya padam oleh ketakutan, penderitaan dan segala sinisme komunis
atheis yang berusaha memudarkan, menginjak-injak dan mematikan kekristenan selama puluhan tahun lalu itu. Paskah membangkitkan dan menghidupkan ; kembali, pengharapan itu ada!

Paskah bagi ribuan bahkan jutaan orang yang hidup di bawah rezim komunis adalah kebangkitan, keberanian, bahwa setelah penderitaan selalu ada kemenangan. Setelah dicekam kematian penderitaan selalu ada bangkit dari kematian penindasan. Penderitaan panjang yang dialami mengandung bahaya bahwa orang Kristen lupa pada harapan akan kebangkitan. Salib dan jalan penderitaan dapat menguburkan dan mengaburkan pengharapan akan kemenangan, akan sukacita, kegembiraan hari Minggu Paskah.

Paskah harus berani mengatakan, bahwa Kristus sudah bangkit. Dia telah mengalahkan maut dan membuat kita menjadi yakin akan kemenangan dan sukacita karena Salib.


Jangan takut!

Dari Injil Markus 16:1-8.
Dikisahkan, pagi-pagi benar, beberapa perempuan Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, serta Salome bermaksud mengurapi Yesus, dingin. Hari baru suasana rembang matahari dan sunyi. Perempuan-perempuan itu yang dengan setia turut mengantar mayat Yesus ke kubur. Mereka dengan mindset kematian. Suatu pikiran dan tingkah laku tentang kematian adalah akhir
segalanya dan sudah tidak ada kehidupan. Segala yang ada di dalam pikiran perempuan-perempuan itu yang sehari-hari turut mendengar, melayani dan bersama Yesus, tinggal kenangan (Lukas 8:1-3). Belum ada mindset kebangkitan; kehidupan Kristus.

Harapan sukacita kehidupan tidak nampak, yang nampak adalah masalah mindset kematian; siapa menggulingkan batu kubur, caranya bagaimana lalu merempahi mayat sesuai dengan tradisi kematian menguasahi mereka.

Setibanya di sana, batu besar penutup makam ternyata sudah digulingkan. Dan ketika menengok ke dalam makam, mereka melihat seorang muda yang mengenakan pakaian putih. Ini mengejutkan mereka, tetapi orang itu meminta mereka untuk tidak takut. Dia memastikan bahwa para perempuan itu mencari Yesus, dan karena itu Dia meminta mereka untuk tidak mencari-Nya, karena Ia sudah bangkit. Ia bahkan menyuruh para perempuan itu pergi memberitahukan para murid bahwa Tuhan sudah bangkit dan pergi mendahului mereka ke Galilea.

Di tengah-tengah ketakutan Paskah terjadi. Kebangkitan menyeruak hebat dalam diri wanita yang dipinggirkan. Dalam pemikiran kesedihan bercampur ketakutan; bagaimana tradisi merempahi mayat yang tertutup kuburnya, masih mencengkeram. Dan mereka lemah serta tak mampu
menggulingkan batu kubur, teryata kebangkitan Yesus telah mengalahkan segala-galanya semua ketakutan akan pemikiran itu lenyap! Suasana kejiwaan, hati yang masih berkecamuk, Yesus hidup tidak perlu lagi merempahi dan pergi ke kubur.

Para perempuan yang tadinya mindset kematian; ada rasa takut dan pesimisme – terutama setelah Yesus Tuhan yang dilayani itu ternyata mati secara mengerikan. Perasaan itu begitu mendalam, sedih dan takut begitu menguasai sehingga sulit mempercayai, dan lupa akan perkataan Yesus sewaktu masih bersamanya, bahwa Tuhan sendiri sudah mengatakannya, bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga.

Padahal perempuan-perempuan tidak usah sedih dan takut. Yesus sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa Ia akan bangkit. Dan tanda-tanda itu sebenarnya juga telah diperlihatkan-Nya kepada para perempuan di hari Minggu pagi itu. Batu penutup makam telah digulingkan, seorang pemuda mengenakan pakaian putih, dan suara pemuda itu yang meminta mereka untuk tidak takut karena Yesus dari Nazareth itu sudah bangkit.

“Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia”. Markus 16:6

Minggu pagi itu Paskah sungguh terjadi. Hari itu yang mencekam, menjadi hari penuh kegentaran bercampur sukacita. Ketakutan akan peristiwa yang baru terjadi dan sukacita berita bangkitnya Yesus telah menjadi warna dari jiwa perempuan perempuan itu. Itulah warna paskah yang pertama.

Jadi, Paskah bukan saja suatu berita atau suatu narasi cerita kehidupan tapi suatu fakta sejarah mengenai kebangkitan Yesus dari kematian. Bukan saja fakta kebenaran mengenai pengharapan bagi iman orang percaya di masa lalu tapi juga berita kehidupan dimasa kini dan nanti karena ada pengharapan,Yesus itu hidup. Paskah bagi masa lalu, masa kini tapi juga masa yang datang, berita kuasa kehidupan untuk orang percaya. Yesus hidup bagi semua orang percaya. Ia Tuhan bagi orang percaya dan Ia Tuhan yang Alfa dan Omega.

Paskah dan Pengharapan

Pada 14 Mei 2013, artis Angelina Jolie menerbitkan sebuah artikel di New York Times tentang keputusannya menjalani mastektomi ganda. Jolie sudah hidup bertahun-tahun di bawah bayang-bayang kanker payudara dan karena ibu dan neneknya meninggal akibat penyakit kangker payudara. Sekalipun pada saat itu Jolie tidak mengindap penyakit kanker. Namun keputusan kuat untuk menjalani mastektomi ganda.

Dunia memuji keputusan dan keberaniannya yang berdasarkan ilmu pengetahuan modern. Joli dan orang-orang yang lebih percaya dan mendengarkan gen-gen yang termanifestasi dalam angka-angka. Mereka hanya percaya pada pengetahuan dan studi mutakhir. Yuval Noah Harari dalam bukunya yang menjadi best seller, Homo Deus, menuliskan agama baru manusia adalah Silicon Valley (2018:405). Segalanya terhubung dengan tehnologi dan menyisakan sedikit dengan Tuhan. Adakah hal semacam itu, berita kehidupan KristusTuhan masih menjadi berita Paskah dan pengharapannya? Adakah orang lebih percaya hati nurani yang suaranya berasal dari angka-angka yang diambil dari hasil riset, penelitian dan para pakar dan bukan hati nurani yang telah lemah dalam menjerit suara Tuhan Roh Kudus? Bahwa Yesus Kristus Tuhan yang Empunya hidup adalah sang Alfa dan Omega?

Seberapa sukarnya, katakanlah di langkah-langkah hidup yang berat dan sukar dalam kehidupan ini, tidak ada suatu yang terjadi atas kita di bumi ini dimasukkan dalam kategori “langkah terakhir”. Jika Allah telah membawa Anak-Nya melalui ujian-ujian yang berat dan paling menyakitkan
dan mengambil kembali Anak-Nya melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sudah barang tentu Dia melalui peristiwa Paskah itu berkuasa membawa kita ke dalam suatu kehidupan penuh pengharapan (1 Petrus 1:3)

Karena itu, jika saat ini kita digodai untuk menyerah karena kita bertanya-tanya siapa yang berhak uparaca merempahi mayat segala yang baik, lalu siapa yang menggulingkan batu besar yang menutup harapan untuk maju dan hidup penuh kesukaan itu? Jawabannya tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. -ys