Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Kupas

Mengapa John Stott Hidup Menekankan dengan Kesederhanaan

- KUPAS -

Mengapa John Stott Hidup Menekankan dengan Kesederhanaan

Redaksi TheHOPE.id mencoba mengetengahkan pemikiran tentang kehidupan seorang Hamba Tuhan menurut John Stott asal Inggris yang dihormati di dunia. Beliau alumi Trinity College, Cambridge, Ridley Hall Theological College. John Stott, aktif menulis buku dan meninggal 27 Juli 2011 (umur 90h), Lingfield, Surrey, Inggris.

Stott mendedikasikan seluruh bab untuk kesederhanaan dalam bukunya The Radical Disciple.
Oleh Andy Jones

Saya (Andy Jones) menyimpan salinan Afrika Bible Commentary di sebelah Alkitab saya. Itu membantu saya memahami Kitab Suci, dan memberi saya kesempatan untuk belajar dari saudara-saudari di seluruh dunia. Komentar itu ada, sebagian, karena kemurahan hati John Stott. Selama perjalanannya keliling dunia, dia terinspirasi untuk “meningkatkan standar khotbah alkitabiah” di tempat-tempat yang kekurangan sumber daya. Dia kehilangan semua royalti dari buku-bukunya untuk melihat gereja diperkuat dengan ilmu alkitabiah dan sumber daya seperti komentar di nakas saya.

Pada 27 Juli 2011, Stott memasuki hadiah abadinya dan bertemu langsung dengan Juruselamatnya. Banyak orang Kristen mengetahui tulisan Stott dan pelayanan publik, tetapi Stott merahasiakan keputusan yang dia buat tentang keuangan pribadi dan standar hidupnya selama hidupnya. Karena saya telah belajar lebih banyak tentang sisi iman Stott itu dalam beberapa tahun terakhir, saya telah menemukan bagaimana hidupnya mencontoh pola pikir kerajaan di tengah budaya yang digerakkan oleh konsumen.

Pengorbanan di Dunia Material


Kita hidup di zaman yang berlebihan. Kurangnya penyangkalan diri dan moderasi meluas ke belanja, makan, dan seberapa banyak hiburan yang kita konsumsi. Kehidupan Stott sangat kontras dengan kecenderungan budaya kita.

Kita hidup di zaman yang berlebihan. Kehidupan Stott sangat kontras dengan kecenderungan budaya kita.

Setiap umat yang saya temui yang beribadah bersama Stott di All Souls Church—dari asisten studinya hingga mereka yang menemaninya dalam perjalanan internasional—berbicara tentang kemurahan hatinya dan gaya hidupnya yang sederhana, cara dia tertarik pada pengorbanan daripada kegemaran.

Stott mendedikasikan seluruh bab untuk kesederhanaan dalam bukunya The Radical Disciple. Di sana dia berkata, Materialisme—keasyikan dengan hal-hal materi—dapat mencekik kehidupan rohani kita. Yesus memberi tahu kita untuk tidak menimbun harta di bumi dan memperingatkan kita terhadap ketamakan. Begitu pula rasul Paulus, sebaliknya mendesak kita untuk mengembangkan gaya hidup kesederhanaan, kemurahan hati, dan kepuasan, berdasarkan pengalamannya sendiri belajar untuk menjadi puas dalam keadaan apa pun (Filipi 4:11).

Inilah tiga kebenaran yang saya pelajari tentang kesederhanaan dari mempelajari kehidupan dan tulisan Stott.

1. Kesederhanaan itu Alkitabiah.


Hati nurani seorang Kristen harus dibimbing oleh Kitab Suci, dan ketika berbicara tentang kepemilikan materi, ini berarti menjauh dari kesalahan kembar asketisme (Kol. 2:20–23) dan materialisme. Seperti yang ditulis Lukas, “Berhati-hatilah, dan waspadalah terhadap semua keserakahan, karena hidup seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta miliknya” (Lukas 12:15).

Kita masuk dan keluar dunia tanpa apa-apa. Di sela-sela itu, seorang Kristen harus dapat berkata seperti Paulus, “Jika kami mempunyai makanan dan pakaian, cukuplah dengan itu” (1 Timotius 6:8). Seperti yang dikatakan Stott, “Hidup di bumi adalah ziarah singkat antara dua momen ketelanjangan. Jadi, sebaiknya kita melakukan perjalanan ringan.

Membatasi gaya hidup kita memiliki banyak keuntungan. Orang Kristen yang hidup sederhana dapat memberi lebih banyak (1 Tim. 6:18) dan mengungkapkan rasa syukur yang lebih mendalam atas pemberian yang tak terduga (1 Tim. 4:4–5). Ini adalah cara nyata bagi mereka yang kaya di dunia ini untuk mematuhi perintah Paulus “untuk tidak menjadi angkuh, atau menaruh harapan mereka pada kekayaan yang tidak pasti, tetapi pada Tuhan, yang dengan kaya menyediakan segala sesuatu untuk kita nikmati” (1 Tim. 6:17). Kovenan Lausanne, sebuah dokumen pengakuan dosa di mana Stott adalah kepala arsiteknya, merangkum tanggung jawab ini: “Kita yang hidup dalam keadaan berkecukupan [harus] menerima tugas kita untuk mengembangkan gaya hidup sederhana untuk berkontribusi lebih murah hati baik untuk bantuan maupun penginjilan.”

2. Kesederhanaan itu disengaja.


Kesederhanaan tidak datang secara alami dalam budaya konsumen. Mereka yang hidup dalam masyarakat yang bergerak ke atas harus membuat pilihan yang bertujuan. Bagi Stott, ini berarti tinggal di flat kecil dan menikmati makanan sederhana. Teman-teman mengatakan dia menolak porsi makanan ekstra karena rasa solidaritas dengan orang miskin. Blazer biru yang biasa dia kenakan hampir usang, dan dia pernah merasa malu saat mengakui bahwa dia telah membeli sepasang sepatu kedua. Pilihan-pilihan ini memperjelas bahwa hidupnya tidak ditentukan oleh kekayaan materi.

Kehidupan di bumi adalah ziarah singkat antara dua momen ketelanjangan. Jadi, sebaiknya kita bepergian dengan cahaya.

Stott memperluas minimalisnya ke barang-barang pribadi (tidak termasuk buku). Retret menulisnya adalah pertapaan kecil tanpa listrik di pantai Wales tempat dia menghabiskan banyak waktu untuk menulis bukunya dengan tangan.

Meskipun Stott menyangkal kenyamanan dan kemudahan kecil, dia sangat sadar bahwa gaya hidupnya di London masih berkecukupan dibandingkan dengan rata-rata orang Kristen di dunia. Jadi, Stott mengerem untuk mengejar lebih banyak dan sebaliknya mempraktikkan kepuasan dan rasa syukur alkitabiah.

3. Kesederhanaan adalah pengorbanan.


Perwakilan dari kepercayaan sastra John Stott melaporkan bahwa dia adalah bagian dari setidaknya 60 proyek penerbitan di mana dia berhak atas royalti. Sebagian besar adalah jilid tunggal yang dia tulis seperti Basic Christianity atau The Cross of Christ; yang lain adalah seri yang dia edit.

Stott menolak menerima royalti dari mereka semua. Sebaliknya, Stott tidak dapat ditarik kembali memberikan penghasilannya ke sebuah perwalian di mana dana tersebut digunakan untuk melipatgandakan sarjana Alkitab, pelatihan pastoral, dan komentar yang ditulis secara lokal di seluruh Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hadiah jutaan dolar yang sekarang untuk apa yang akan menjadi Kemitraan Langham adalah hadiah yang terus berdampak melalui sumber daya seperti Komentar Alkitab Afrika.

4. Kesederhanaan untuk Anda


Kesederhanaan tidak akan terlihat sama bagi setiap orang Kristen. Pendekatan keluarga besar di pedesaan akan berbeda dengan pria lajang yang tinggal di kota seperti Stott. Ini adalah masalah kebebasan, dan orang percaya dapat melakukan apa yang didiktekan oleh hati nurani mereka.

Tetapi bagaimanapun keadaan kita, mengikuti Kristus berarti bertahan melawan pengaruh materialisme yang mencekik jiwa. Mari gunakan ketiga prinsip dari kehidupan John Stott ini sebagai model untuk memeriksa kehidupan kita sendiri. Tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Apa yang dapat saya kurangi, hilangkan, atau batasi dalam gaya hidup saya yang akan memampukan saya untuk berinvestasi dengan sengaja dan berkorban dalam pertumbuhan gereja Kristus?”.(diperiksa kembali red)

Andy Jones, an ordained teaching elder in the Presbyterian Church in America, is the founder and managing director of Roundtree, a marketing agency serving Christian organizations. You can follow him on Twitter.

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Kupas

Memiliki Roh Natal

– KUPAS –

Memiliki Roh Natal

Kata-kata menantang tentang apa artinya benar-benar memiliki “Roh Natal” yang memuliakan Tuhan. Ini yang menjadi perenungan kita.
TheHOPE – Semoga Allah suatu hari nanti mengatakan tentang kita apa yang seperti Dia katakan tentang Raja Yosia: “Dia membela kepentingan orang miskin dan membutuhkan, dan semuanya berjalan dengan baik. Bukankah itu artinya mengenal saya?”. (Yermia 22:16)

Kami berbicara dengan fasih tentang “semangat Natal”, yang jarang berarti lebih dari kegemberiaan sentimental dalam keluarga. Tetapi…itu harus berarti mereproduksi dalam kehidupan manusia dari temperamen Dia yang demi kita menjadi miskin pada Natal pertama. Dan semangat Natal itu sendiri harus menjadi tanda bagi setiap orang Kristen sepanjang tahun.

Ini adalah rasa malu dan malu sebagian orang Kristen atau banyak orang Kristen-yang paling ortodoks-menjalani kehidupan di dunia ini dalam semangat imam dan orang Lewi seperti perumpamaan yang di ajarkan Tuhan Yesus (Lukas 10:30-37), melihat semua kebutuhan manusia di sekitar mereka tetapi (setelah keinginan tuntutan “saleh dan mungkin doa”, agar Tuhan dapat memenuhi kebutuhan itu lebih penting), mengalihkan pandangangan mereka dan lewat dari sisi lain. Itu bukan semangat natal. Juga bukan semangat orang-orang Kristen-sayangnya mereka atau jumlah mereka banyak-yang ambisinya dalam hidup ini tampak terbatas pada membangun rumah Kristen kelas menengah yang bagus dan berteman dengan orang Kristen kelas menengah yang baik dan membesarkan anak-anak mereka di kelas menengah yang baik itu. Cara-cara Kristen dan yang meninggalkan bagian kelas menengah dari komunitas, Kristen dan non Kristen, untuk melanjutkan hidup dilingkunganya sendiri.

Semangat Natal tidak terpancar dalam diri orang Kristen yang sombong. Karena semangat Natal adalah semangat orang-orang seperti Tuannya menjalani seluruh hidupnya dengan prinsip membuat mereka miskin-menghabiskan dan dihabiskan – untuk memperkaya sesame manusia; memberikan waktu, perhatian dan kebutuhan untuk berbuat baik kepada yang lain – dan bukan mereka sendiri-dengan cara yang tampaknya dibutuhkan.

Tidak banyak yang menunjukkan semangat ini sebagaimana mestinya. Jika Tuhan dalam belas kasihan menghidupkan kita kembali, salah satu hal yang akan Dia lakukan adalah bekerja bekerja lebih banyak dari roh untuk memberi diri bagi orang lain, ini di dalam hati dan hidup kita.

Jika kita menginginkan percepatan rohani bagi diri kita sendiri secara individu, satu langkah yang hendaknya kita ambil adalah berusaha mengembangkan roh ini;

“Kamu tahu kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus bahwa meskipun Dia kaya, tetapi karena kita Dia menjadi miskin, sehingga kamu menjadi kaya karena kemisnikinanya”(2 Korintus 8:9). “Hendaklah sikapmu sama seperti sikap Yesus Kristus Yesus”. (Filipi 2:5). “Aku akan menjalankan perintah-perintah-Mu, Ketika Engkau melapangkan hatiku”.(Mazmur11932 Mazmur 119:32). Amin (red)


J. I. Packer (1926–2020) menjabat sebagai Guru Besar Teologi Dewan Gubernur di Regent College. Dia menulis banyak buku, termasuk buku terlaris klasik Knowing God. Mengetahui Tuhan. Packer juga menjabat sebagai editor umum untuk English Standard Version Bible dan sebagai editor teologis untuk ESV Study Bible.

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Kupas

Menjadi Orang Kristen

Menjadi Orang Kristen

Apa Artinya Menjadi Orang Kristen

Seseorang dapat memahami hal-hal yang penting bagi iman dan kehidupan Kristen dan namun ia masih hidup tetap terpisah darinya. Untuk mengetahui kasih Allah bagi Anda, Anda perlu mengenal dan mengasihi Yesus Kristus, dan menyerahkan diri Anda kepada-Nya sebagai murid seumur hidup-Nya dalam komunitas-Nya, Gereja.
Apakah Anda dibesarkan di Gereja atau tidak? Itu bukan hal utama, untuk menjadi seorang Kristen membutuhkan komitmen pribadi yang disengaja kepada Yesus Kristus, seperti komitmen yang dibuat seseorang dalam pernikahan. Menjadi seorang Kristen adalah proses untuk terus maju dalam kesetiaan kepada Yesus sejak saat itu. Untuk membuat komitmen ini kepada Yesus, Anda perlu mengetahui hal-hal penting tentang siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan untuk Anda. Ini adalah Injil (“kabar baik”) dari Yesus Kristus.
Tuhan menciptakan dunia dan membuat kita berada dalam hubungan cinta dengan-Nya. Meskipun diciptakan dengan baik, sifat manusia menjadi cacat fatal, dan sekarang kita semua tidak sejalan dengan Tuhan. Dalam bahasa Alkitab, kita adalah orang berdosa, bersalah di hadapan Allah dan terpisah dari-Nya. Kabar baik dari Injil adalah bahwa Allah mengambil tindakan kasih di dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari situasi yang mengerikan ini.

Fakta kunci dari pemulihan ilahi ini adalah sebagai berikut: Allah Bapa mengutus Putra-Nya yang kekal ke dunia ini untuk mendamaikan kita dengan diri-Nya, membebaskan kita untuk mengasihi dan melayani Dia, dan untuk mempersiapkan kita berbagi kemuliaan-Nya dalam kehidupan yang akan datang.

Yesus lahir dari Perawan Maria melalui Roh Kudus, menjalani kehidupan yang sempurna, mati untuk dosa-dosa kita, dan bangkit secara jasmani dari kematian untuk memulihkan kita kepada Allah. Diberi wewenang oleh Bapa-Nya, Yesus sekarang memerintah di surga sebagai Raja atas segala sesuatu, memajukan kerajaan Allah di seluruh dunia. Dalam waktunya sudah genap, Yesus akan kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya dalam kemuliaannya di bumi, dan segala sesuatu akan diperbarui.

Berkuasa di surga atas segala sesuatu, Yesus Kristus terus menarik orang berdosa kepada diri-Nya sendiri. Dia memampukan kita dengan Roh Kudus-Nya untuk berbalik dengan sepenuh hati dari jalan-jalan hidup kita yang penuh dosa dan egois , dan untuk mempercayakan diri kita kepada-Nya untuk hidup dalam persatuan dan persekutuan dengan-Nya (iman). Dalam istilah rohani, dosa adalah jalan kematian, dan persekutuan dengan Kristus adalah jalan kehidupan.

Beralih

Kepada Kristus

Berpaling kepada Kristus membawa kita ke dalam persekutuan dengan Allah. Baptisan, yang merupakan ritus masuk ke dalam persekutuan Gereja, menandai awal dari kehidupan baru di dalam Kristus. Rasul Petrus, yang memberitakan Injil, berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kisah Para Rasul 2:38).
Melalui iman, pertobatan, dan Pembaptisan kita secara rohani dipersatukan dengan Yesus dan menjadi anak-anak Allah Bapa. Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Ketika kita datang kepada Bapa melalui Yesus Kristus, Allah Roh Kudus menerangi pikiran dan hati kita untuk mengenal Dia, dan kita dilahirkan kembali secara rohani untuk hidup baru. Untuk terus hidup setia sebagai orang Kristen, kita harus bersandar pada kuasa dan karunia yang diberikan Roh Kudus kepada umat Allah.

Ketika murid Tomas bertemu dengan Yesus yang bangkit, dia mengakuinya dengan mengatakan, “Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Untuk menjadi seorang Kristen Anda harus, seperti Thomas, dengan sepenuh hati tunduk kepada Kristus yang hidup sebagai Tuhan dan Allah Anda. Mengenal Tuhan Yesus berarti secara pribadi percaya kepada-Nya, menyerahkan hidup Anda kepada-Nya melalui pertobatan dan Pembaptisan, dan hidup sebagai salah satu pengikut-Nya yang penuh sukacita.

Cara yang jelas untuk membuat komitmen iman dan pertobatan ini adalah dengan memanjatkan doa kepada Tuhan di mana Anda mengakui dosa-dosa Anda kepada Tuhan, sespesifik mungkin, dan bertobatlah dengan berbalik darinya; bersyukur kepada Allah atas belas kasihan dan pengampunan-Nya yang diberikan kepada Anda dalam Yesus Kristus; berjanji untuk mengikuti dan menaati Yesus sebagai Tuhanmu; mintalah Roh Kudus untuk membantu Anda setia kepada Yesus saat Anda bertumbuh menuju kedewasaan rohani.
Salah satu contoh doa tersebut adalah sebagai berikut:
Bapa Yang Mahakuasa, saya mengaku bahwa saya telah berdosa terhadap Anda dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan saya (terutama ____). Saya benar-benar menyesal dan dengan rendah hati bertobat. Terima kasih telah mengampuni dosa-dosa saya melalui kematian Putra-Mu, Yesus. Saya berpaling kepada Anda dan memberi Anda hidup saya. Penuhi dan kuatkan aku dengan Roh Kudus-Mu untuk mengasihi-Mu, mengikuti Yesus sebagai Tuhanku dalam persekutuan Gereja-Nya, dan menjadi lebih seperti Dia setiap hari. Amin.

Dalam istilah rohani, dosa adalah jalan kematian, dan persekutuan dengan Kristus adalah jalan kehidupan.
Langkah selanjutnya
Menjadi seorang Kristen berarti dimasukkan dalam keluarga Allah, Gereja. Tidak seorang pun harus mencoba menjadi seorang Kristen sendirian. Jika Anda membuat komitmen ini untuk pertama kalinya—atau belum menjadi orang Kristen yang taat selama beberapa waktu—berikut adalah beberapa langkah lebih lanjut yang harus diambil:

Bagikan komitmen Anda sesegera mungkin dengan satu atau lebih orang Kristen dan dengan seorang pendeta yang ditahbiskan, sehingga mereka dapat berdoa untuk Anda.

Jika Anda tidak terhubung dengan gereja, bergabunglah dengan gereja yang setia secara alkitabiah. Jika Anda terhubung tetapi tidak terlibat, cari cara untuk memperdalam partisipasi Anda.

Jika Anda sekarang menjadi pengikut Yesus Kristus dan belum pernah dibaptis, penting bagi Anda untuk berbicara dengan seorang pendeta tentang persiapan Pembaptisan. Penting juga untuk berdoa memohon bantuan Tuhan dan perlindungan spiritual.

Jika Anda adalah orang Kristen yang dibaptis tetapi belum menghidupi iman Anda, sudah sepatutnya Anda mengakui dosa-dosa Anda dan menegaskan kembali iman Anda di hadapan seorang pendeta.

Untuk bertumbuh dalam kehidupan baru Anda di dalam Kristus, sangatlah penting bagi Anda untuk terlibat dalam penyembahan secara teratur, pendalaman Alkitab, doa, dan persekutuan Kristen.

Datang ke iman pribadi dalam Kristus adalah keputusan penting yang sering tidak dibuat dengan cepat. Jika Anda belum siap untuk mengambil langkah ini, tetapi Anda terus mencari Tuhan, Anda mungkin ingin berdoa seperti berikut ini:

“Ya Tuhan, tolong tunjukkan diri-Mu padaku. Mendekatlah padaku saat aku mencari-Mu. Buka mata saya untuk melihat kebenaran Tuhan. Tunjukkan pada saya hal-hal dalam pikiran dan hati saya yang membuat saya tidak percaya kepada-Mu Tuhan. Bantu saya untuk mengenal dan mempercayai Yesus Kristus. Dan tuntunlah saya kepada orang-orang yang dapat membantu saya ketika saya berusaha untuk mengenal Engkau Tuhan”.

Tuhan akan selalu menjawab doa-doa seperti itu dengan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati. Saat Anda melangkah maju, teruslah berdoa agar Anda semakin mengenal Tuhan
Artikel ini diadaptasi dari To Be a Christian: An Anglican Catechism yang diedit oleh J. I. Packer dan Joel Scandrett.

J. I. Packer (1926–2020) menjabat sebagai Guru Besar Teologi Dewan Gubernur di Regent College. Dia menulis banyak buku, termasuk buku terlaris klasik Knowing God. Mengetahui Tuhan. Packer juga menjabat sebagai editor umum untuk English Standard Version Bible dan sebagai editor teologis untuk ESV Study Bible.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Categories
Kupas

Melihat Dunia dalam Tugas Misi abad 21

Misi bagi generasi millenial

Melihat Dunia dalam Tugas Misi abad 21

#

Tugas Misi Abad 21

Suatu pendekatan kepada Generasi Millenial dalam tugas misi di abad 21 yang memberi harapan.

Oleh Dr. Detlef Blöcher dari DMG – Damit Menschen Gott begegnen – Sehingga orang bertemu Tuhan *).

Sejak Yesus ada di dunia, mati dan bangkit serta kembali ke Sorga, Ia memberikan tugas amanat agungnya kepada para murid-Nya dan sampai sekarang tugas itu diteruskan kepada gereja-orang yang percaya; “ Pergi dan Beritakanlah Injil “.

Sekarang abad ke 21, bagaimanakah wajah dunia saat ini dan bagaimana amanat agung tersebut bisa dilaksanakan sehingga orang bisa mengenal Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat itu?. Untuk hal itu maka gereja perlu mempersiapkan generasi mudanya-generasi millenial untuk melihat, Dunia dalam Tugas Misi abad 21 suatu tema yang ditulis oleh Dr. Detlef Blöcher, berikut ini beberapa point penting yang patut gereja ketahui;

#01

Generasi Baru untuk Zaman Modern

Generasi hari ini sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka dibesarkan dalam masa perubahan politik, sosial, budaya dan teknologi yang cepat. Mereka juga akrab dengan teknologi IT modern. Mereka telah menerima pelatihan yang sangat baik, mereka telah melakukan perjalanan secara luas dan bertemu dengan banyak budaya. Mereka terbuka untuk dunia, memberi penekanan kuat pada hubungan pribadi, masuk akal, kritis terhadap diri sendiri, sangat kreatif, antusias dan bersedia bekerja di bawah budaya baru kepemimpinan. Tetapi banyak dari mereka datang dari rumah tangga yang hancur dan membawa bekas luka pada jiwa mereka.

Mereka mencari persekutuan. Persekutuan yang menerima dan bersama-sama mereka. Karena itu, keberadaan misi sebagai organisasi harus lebih fleksibel. Bagi mereka yang ingin terlibat dalam misi, membutuhkan konsep pelatihan yang berbeda, penugasan pekerjaan yang disesuaikan dengan hati-hati tugas yang dipilih untuk waktu yang terbatas, gaya kepemimpinan kooperatif, struktur yang fleksibel, kehidupan dan pelayanan dalam tim, pengawasan pribadi yang simpatik, administrasi sederhana dan gaya hidup pembelajaran berkelanjutan. Mereka membutuhkan agen misi jenis baru.

#02

Pekerjaan Misi Jangka Pendek itu Penting

Pekerjaan misi jangka pendek telah tersedia untuk waktu yang lama (seperti lembaga misi OM), dan mempersiapkan kaum muda untuk misi dunia. Generasi sebelumnya akan pergi ke pekerjaan misionaris bahkan tanpa paparan ini – tetapi tidak demikian dengan generasi muda. Mereka sangat realitis dengan keterbatasannya sehingga mereka tidak memaksakan untuk berkomitmen pada pekerjaan misi jangka panjang. Mereka perlu mengalami secara pribadi bahwa Allah dapat membawa mereka melalui dan menggunakan karunia dan pengalaman mereka untuk melakukan sesuatu yang bermakna dan memberkati orang-orang. Kaum muda terutama belajar dari pengalaman (dengan melakukan dan keterlibatan pribadi) dan tidak begitu banyak melalui pemikiran dan wawasan rasional. Karena itu pekerjaan misi jangka pendek sangat penting saat ini. Tuhan menggunakannya untuk meningkatkan pelayanan yang signifikan dan secara bersamaan Tuhan memanggil orang-orang ke dalam pekerjaan misi jangka panjang.

#03

Gereja-gereja pengirim tenaga misi ingin terlibat secara langsung

Misi mengalir dari hati Tuhan dan Dia telah memilih gereja sebagai alat utama dalam misi dunia. Gereja mengutus misionarisnya untuk membangun gereja Kristus di negara yang menjadi pelayanannya dan gereja pengirim sebagai balasannya, menerima banyak berkat. Kebenaran mendasar ini tidak selalu diakui oleh gereja dan lembaga misi.

Saat ini, gereja tidak suka dibatasi untuk berdoa dan memberi tetapi mereka ingin terlibat langsung dalam kehidupan dan pelayanan misionaris mereka, menggunakan karunia dan pengalaman mereka, mendapat informasi dan terlibat aktif dalam pengambilan keputusan. Dengan bekerjasama antara gereja dan lembaga misi dalam tugas misi, gereja menjadi sangat maju. Pelayanan misionaris mereka menjadi proyek mereka sendiri dan gereja pengirim adalah mitra aktif dari tim misionaris. Ini membutuhkan komunikasi yang erat antara gereja dan lembaga misi. Ini membutuhkan struktur yang efektif, pemikiran global, administrasi sederhana, pendelegasian tugas dan komitmen terhadap kemitraan.

#04

Barat Sekuler: Krisis dan peluang untuk misi

“Kristen Barat” adalah sesuatu dari masa lalu dan telah digantikan oleh zaman post-modern. Saat ini perasaan pribadi adalah penting, semua pendapat dan gaya hidup sama-sama dapat diterima yang mengarah pada penghancuran konsensus dalam masyarakat: setiap orang memiliki kebenaran dan gaya hidupnya sendiri, itu seperti supermarket ideologi. Di kota Leipzig hanya 8% dari populasi milik gereja Kristen. Karakteristik waktu postmodern ini juga hadir di gereja-gereja kita hari ini. Keunikan Yesus dipertanyakan dan misi dunia, klaim Allah atas seluruh dunia, dianggap sebagai pelanggaran. Kesalehan umat Islam dan Budha dikagumi.

Banyak orang menganggap diri mereka sebagai orang Kristen bahkan jika mereka tidak mengenal Injil – dan tampaknya tidak terpikirkan untuk mempertanyakan kepercayaan mereka.. Saat ini sebagian besar orang yang belum terjangkau di dunia tinggal di hutan kota besar dan tidak lagi di hutan asli.

Jika misionaris ingin mencapai hati ini, kegiatan harus diarahkan kepada orang-orang dan kebutuhan serta nilai-nilai mereka. Mereka perlu mengatasi masalah mereka untuk hari ini. Ini relevan untuk pertemuan gereja, literatur, kursus korespondensi Alkitab, program radio dll. Metode yang sukses di masa lalu mungkin sudah ketinggalan zaman hari ini. Para misionaris perlu terus-menerus merefleksikan pelayanan mereka, mengambil alih tugas-tugas baru, terus-menerus melatih kembali, mengembangkan sikap belajar seumur hidup.

#05

Komunikasi modern menawarkan peluang besar

Teknologi komunikasi baru telah merevolusi dunia kita. Berita dan gambar menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Satu klik mouse dan seluruh dunia tahu – tempat paling terpencil di dunia terhubung – dan hal yang sama berlaku untuk pekerjaan misionaris.

Ada bentuk-bentuk baru pekerjaan misi: penginjilan melalui TV satelit, film-film Kristen dalam DVD, Alkitab, dan literatur teologis yang tersedia di Internet bahkan di negara-negara “tertutup”, ruang obrolan menyediakan putaran diskusi rahasia dengan orang-orang dari semua negara, program penginjilan dengan halaman web interaktif dan pelatihan teologis melalui email. Ini adalah peluang misionaris yang luar biasa tetapi itu bukan pengganti bagi contoh hidup seorang duta besar untuk Kristus.

Kehidupan misionaris juga telah berubah secara dramatis: energi matahari dan pemurnian air, telepon satelit di pegunungan terpencil, navigasi satelit di hutan, pembelajaran bahasa melalui CD, sekolah anak-anak misionaris melalui Internet, akses instan ke semua perpustakaan di dunia. Tiket pesawat murah memungkinkan kunjungan dari teman atau kunjungan singkat di rumah.

Komunikasi dengan gereja-gereja asal dan para pendukung menjadi lebih mudah. Hanya satu email dan ratusan teman dapat berdoa secara khusus. Gambar yang dikirim melalui email menggambarkan pelayanan beberapa menit kemudian di papan informasi di gereja, panggilan telepon dengan ponsel selama layanan gereja memberikan informasi terkini, klip video dll … Hampir tidak ada batasan imajinasi Anda dan kemungkinan teknis. Ini menghasilkan harapan yang tinggi dari para pendukung di rumah sehubungan dengan berita reguler dan kualitas presentasi – dan misionaris perlu bersaing dengan informasi yang berlebihan. Pada akhirnya komunikasi bukanlah masalah kemungkinan teknis tetapi kepribadian.

#06

Misi lebih dari sekadar penginjilan

Dalam beberapa tahun terakhir gerakan doa yang kuat untuk orang-orang yang belum terjangkau telah muncul dan Tuhan telah melakukan hal-hal besar melalui mereka. Namun demikian ada kesadaran yang berkembang bahwa komisi besar itu lebih dari sekadar teknik, rencana operasi, penginjilan yang dangkal dan sejumlah pertobatan yang mengesankan. Bagian utama dari Amanat Agung menurut Matius 28 adalah perintah: “jadikan murid”. Ini lebih dari sekadar pemberitaan Injil atau memimpin orang kepada keputusan untuk Yesus. Semua bidang kehidupan harus berada di bawah kepemimpinan Kristus dan setiap orang percaya harus menemukan tempat di gereja lokal. Ini tidak dapat dicapai melalui media massa meskipun mereka mungkin sangat efektif dalam penginjilan. Kita membutuhkan teladan hidup tentang apa yang dapat dilakukan kasih karunia Allah dalam kehidupan seseorang, pemuridan perlu dilaksanakan dalam kehidupan. Kehidupan pribadi kita perlu transparan untuk mendorong orang untuk mengikuti Kristus.

Karena itu gereja-orang percaya menyaksikan hidupnya untuk juga menjawab atau terlibatdalam mengatasi tantangan disebabkan bencana besar: banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, kekerngan, AIDS, epidemi, konflik etnis, pengungsi, penderitaan luar biasa di daerah kumuh, penganiayaan terhadap orang Kristen, orang-orang yang terikat secara spiritual, negara-negara yang tertutup dan hati yang tertutup bagi Injil di dunia Barat. Di sini kita membutuhkan tanda-tanda kasih Allah dan kreativitas besar untuk membuka pintu bagi pemberitaan Injil. Yesus selalu berbicara kepada seluruh pribadi. Keselamatan hanya dapat ditemukan dalam iman pribadi kepada Yesus Kristus. Tetapi pesan ini harus dikomunikasikan melalui kata, perbuatan dan kepribadian duta besar. Itu harus dimulai dari kebutuhan dasar dan kepentingan rakyat. Gereja Kristus dipanggil untuk menjadi berkat bagi kota dan negaranya.

Oleh karena itu pentingnya jaringan kerjasama yang dibangun melalui antar lembaga gereja, lembaga misi dan jaringan-jaringan pelayanan misi senada dan memanfaatkan penggunaan tehnologi. Sebab tantangan dunia ini begitu besar sehingga tidak ada gereja, lembaga misi atau inisiatif yang dapat menghadapinya sendirian.

Berbagai pengetahuan, sumber daya, pengalaman, dan staf dibutuhkan. Semua upaya perlu dikoordinasikan. Yesus berdoa terutama untuk persatuan murid-muridnya (Yohanes 17). Ini dimulai ketika misionaris Barat bekerja dengan rekan-rekan dari Selatan, seringkali dalam tim multikultural. Mereka dapat saling menguatkan, saling melengkapi keahlian dan pemberian hadiah, belajar dan mendorong satu sama lain – tetapi juga membutuhkan komunikasi yang cermat, kemauan untuk berkompromi dan berkah sehingga perbedaan.

Hanya bersama-sama kita dapat mencapainya – dan Tuhan misi akan melakukannya. Tuhan mencapai tujuannya. (edt.ys)
*) Dr. Detlef Blöcher (lahir 15 Januari 1953 di Frankfurt) telah menjadi Direktur The Christian Relief and Missionary Work DMG Interpersonal di Sinsheim dekat Heidelberg dari tahun 2000 hingga Mei 2018. Damit Menschen Gott begegnen adalah lembaga misi Kristen yang bertujuan untuk memberikan bantuan holistik dan memperkenalkan pesan Alkitab kepada orang lain. DMG berbasis di Sinsheim dekat Heidelberg, Jerman. Lembaga ini sudah bekerja sama Internasional dan berdasar pada iman kepada Yesus dan doa. Lembaga ini juga membantu gereja-gereja lokal untuk mengirim pekerja mereka ke masyarakat dan budaya lain dan berkomitmen untuk memastikan bahwa kasih Allah dengan tujuan pada mandat misi dari Tuhan Yesus; jadi orang bertemu Tuhan.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Kupas

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.
John Piper

Tulisan di bawah ini adalah wawancara dengan John Piper yang dimuat disini. Ini adalah salah satu artikel, di mana ada peserta studi mengambil program D.Th/Ph.D. Berikut di bawah ini adalah terjemahan bebas, ketika di wawancarai:

Sebagai orang yang sudah melewati studi Ph.D, apakah anda akan merekomendasikan hamba Tuhan lain untuk mengambil pendidikan di jalur itu juga?

Maksud anda, hamba Tuhan yang sudah menggembalakan di gereja atau yang masih berencana untuk menggembalakan? Saya John Piper, akan menjawab untuk keduanya.

Jika anda sudah menjadi gembala, saya tidak menyarankan untuk mengambil Ph.D. Anda harus bekerja sangat keras untuk itu dan hasilnya sangat kecil. Sangat kecil.

Ketika saya mengatakan sangat kecil, saya tidak berarti mempelajari Alkitab akan kecil hasilnya. Tetapi karena anda harus membaca begitu banyak sampah untuk mendapatkan Ph.D. Anda harus menjadi ahli dalam apa yang dikatakan oleh orang lain, yang kebanyakan adalah salah.

Kebanyakan yang ditulis di dunia ini tidak benar. Dan seorang Ph.D harus menjadi seorang ahli. Maka anda harus membaca banyak sekali materi yang sama sekali tidak menolong.

Saya pikir harus ada orang yang melakukan itu. Saya senang ada seorang Don Carson yang seperti sudah membaca segala sesuatu di bawah matahari, maka punya kapasitas untuk berespon dengan baik.

Saya sangat setuju ada kebutuhan lapisan akademis yang sadar apa yang terjadi di luar sana dan bisa mengajar dan menulis. Maka, ya dan amin.

Tetapi penggembalan bukanlah itu. Penggembalaan terutama bukanlah tempat dimana anda harus tahu semua hal salah yang pernah dikatakan orang tentang sepotong kecil biblical theology. Penggembalaan adalah menggembalakan orang dari Firman.

Sekarang kembali ke hal yang positif: Jika program Ph.D disusun -dan ada beberapa yang seperti itu!- untuk membuat anda mempelajari Alkitab selama tiga atau empat tahun dan mengerti implikasinya yang lebih besar untuk kehidupan dan realitas, maka, dalam perjalanan anda menuju ke penggembalaan, itu bisa sangat bernilai.

Tapi program Ph.D saya tidak disusun seperti itu. Dan ketika saya selesai dengan tiga tahun itu, saya hanya mendapat selembar kertas, bahasa Jerman, dan apresiasi kepada teologi yang akademis; tetapi saya tidak bertumbuh banyak, kecuali yang saya bisa peroleh sendiri.

Maka adalah mungkin untuk mengambil Ph.D yang bodoh untuk selembar kertas. Saya jauh lebih suka anda mengambil Ph.D yang bijaksana – yaitu, pergi ke tempat dimana mereka mengizinkan anda terutama mempelajari Alkitab. Ya, anda akan harus membaca materi lain. Tetapi anda ingin keluar setelah tiga tahun dengan pengertian yang besar, dalam, kuat, mantap, akan Allah dan jalan-jalanNya di dalam dunia, bukan hanya sepotong kecil apa yang ribuan orang ngaco katakan tentang sepotong kecil ayat di dalam Alkitab. Itu adalah cara menggunakan tiga tahun yang sangat menyedihkan.

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.

Saya bahkan tidak pernah membuka tabung tempat ijazah saya sejak 1974! Saya belum membukanya! Ada di laci. Tidak ada orang yang tanya tentang itu. Itu tidak ada artinya lagi. (Mungkin itu berlebihan).

Di manakah pemikiran kristiani sangat dibutuhkan saat ini?

Saya kira ada sebuah panggilan kekal bagi gereja Kristen untuk menjalani kehidupan intelektual yang alkitabiah, kemudian memahami dan membelanya.

Saya pikir kita mengalami banyak tantangan. Kita mengalami masa ketika Alkitab menimbulkan persoalan. Alkitab dikritik habis-habisan, tetapi Tuhan membangkitkan pembela-pembela. Lalu kita mengalami masa ketika Alkitab bisa diterima apa adanya. Namun, saya kira pasang surut itu pasti terjadi. Kita memerlukan cendekiawan-cendekiawan yang menunjukkan bahwa Alkitab itu riil dan bisa dibuktikan secara ilmiah dan intelektual.

Dan di luar konteks tersebut, saya ingin mengatakan bahwa seluruh aspek kehidupan membutuhkan pemikiran kristiani.

Media menjadi sarana penting, termasuk Internet, komputer, dan email. Bagaimana semua itu bisa mengubahkan gereja dan cara penyembahan? Saya baru saja membaca buku karya Quentin Schultze tentang pemakaian teknologi presentasi yang bijaksana dalam kegiatan penyembahan. Ternyata ada orang yang sungguh-sungguh mendedikasikan kepandaiannya untuk meneliti sesuatu yang dipakai banyak orang, tetapi luput dari perhatian kita. Jadi, seluruh aspek teknologi memengaruhi kerohanian, dan pengaruhnya pada jemaat yang melakukan penyembahan merupakan salah satu aspek dalam pemikiran kristiani.

Namun, sesungguhnya saya masih sulit memahami hal-hal yang lebih spesifik karena mengira bahwa banyak aspek dalam kehidupan masyarakat — seperti politik, hiburan, bisnis, hubungan internasional, peperangan, dan masalah sosial seperti aborsi, kemiskinan, tunawisma, narkotika, dan pernikahan — menuntut pemikiran atau dukungan intelektual. Tidak satu pun yang bisa diselesaikan dengan cara emosional atau represif. Namun, kita seharusnya memiliki orang-orang yang mempelajari Alkitab dan memakai kecerdasan untuk menyampaikan kebenaran dan memberi solusi yang tepat terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dunia.

Jadi, saya hanya ingin mengatakan, marilah kita menghargai kehidupan, kehidupan yang selalu memedulikan setiap aspeknya.

John Piper (@JohnPiper) is founder and teacher of desiringGod.org and chancellor of Bethlehem College & Seminary. For 33 years, he served as pastor of Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. He is author of more than 50 books, including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and most recently What Is Saving Faith?

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Kupas

Tuhan Telah Mengaruniakan Ukuran Iman yang Berbeda-beda kepada Setiap Orang

John Piper

Tuhan Telah Mengaruniakan Ukuran Iman yang Berbeda-beda kepada Setiap Orang

Oleh John Piper

Founder & Teacher, desiringGod.org
Di dalam pesan saya tentang Roma 12:3-8, saya menjelaskan dari ayat 3 bahwa Tuhan mengaruniakan ukuran iman yang berbeda-beda kepada umat-Nya. Paulus berkata bahwa kita mesti, “berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Dalam konteks ini, tidaklah hanya terbatas pada iman sebagai karunia unik dari Roh Kudus (1 Kor. 12:9). Karena Paulus berkata, “Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan; tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

“Kepada kamu masing-masing” mengacu kepada “setiap orang di antara kamu”. Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang Kristen ukuran iman yang berbeda-beda. Ini adalah iman yang kita gunakan untuk menerima dan memanfaatkan karunia kita yang berbeda-beda. Ini adalah iman yang biasa kita jumpai sehari-hari yang kita gunakan untuk hidup dan melayani.

Dalam konteks ini, Paulus merasa prihatin bahwa orang-orang “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan”. Upaya terakhirnya untuk mengobati kesombongan ini adalah dengan mengatakan bahwa bukan saja karunia Roh Kudus adalah karya anugerah Tuhan dalam hidup kita, tetapi demikian juga iman, yang dengannya kita menggunakan karunia-karunia tersebut. Ini berarti bahwa setiap celah kemungkinan untuk menyombongkan diri telah dihapus. Bagaimana kita bisa sombong jika hal yang membuat kita menerima hadiah – adalah juga hadiah?

Ini menunjukkan betapa pentingnya kerendahan hati di mata Tuhan. Ini adalah tujuan yang sama persis dengan tujuan Allah yang disebutkan di dalam Efesus 2:8-9 di mana Paulus menekankan bahwa iman yang menyelamatkan adalah hadiah: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Iman adalah pemberian dari Allah, sehingga tidak ada orang yang dapat memegahkan diri. Atau, seperti dikatakan di dalam Roma 12:3, Agar kita tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan. Benteng pertahanan terakhir dari kesombongan adalah keyakinan bahwa kita adalah pemrakarsa iman kita.

Paulus tahu bahwa kasih karunia Allah yang berlimpah adalah sumber dari imannya sendiri. Ia mengatakan di dalam 1 Timotius 1:13-14, “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” Semula Paulus adalah seorang yang tidak percaya. Tetapi kasih karunia melimpah ke dalam dirinya dengan iman.

Maka Paulus tahu bahwa inilah yang dialami oleh setiap orang percaya lainnya. Ia berkata kepada jemaat di Filipi, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29). Inilah mengapa ia bersyukur kepada Allah dan bukan kepada kecerdikan manusia atas iman yang dilihatnya di jemaat-jemaatnya: “Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah” (2 Tes. 1:3). Kita bersyukur kepada Allah karena pertambahan iman kita karena “Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang [masing-masing] ukuran iman yang berbeda-beda” (Rm. 12:3).

Kebenaran ini memberikan dampak besar pada cara kita berdoa. Yesus memberikan contoh kepada kita di dalam Lukas 22:31-32. Sebelum Petrus menyangkal-Nya tiga kali, Yesus berkata kepadanya, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Yesus berdoa agar iman Petrus dikuatkan sekalipun dalam dosa, karena Ia tahu bahwa Allahlah yang memelihara iman.

Oleh karena itu, kita harus berdoa seperti itu untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Maka ayah dari anak yang menderita sakit ayan berseru, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24). Ini adalah doa yang baik. Doa ini mengakui bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat menjadi percaya sebagaimana seharusnya. Demikian pula para rasul berdoa kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5). Mereka berdoa seperti ini karena hanya Yesus satu-satunya yang dapat melakukannya.

Pengajaran tentang iman sebagai karunia Allah menimbulkan banyak pertanyaan. Allah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan itu. Bahkan sekalipun kita tidak mempunyai jawabannya, mari kita berusaha menempatkan pengajaran ini dalam manfaat praktisnya yang alkitabiah, yaitu merendahkan kesombongan diri kita, dan menyemangati doa-doa kita. Dengan kata lain, mari kita berdoa setiap hari: “Ya Tuhan, terima kasih untuk imanku. Peliharalah. Kuatkanlah. Perdalamlah. Jangan biarkan ia gagal. Jadikan ia kekuatan dalam hidupku, sehingga dalam setiap hal yang kulakukan Engkau dipermuliakan sebagai Sang Pemberi. Amin.”
John Piper (@JohnPiper) is founder and teacher of desiringGod.org and chancellor of Bethlehem College & Seminary. For 33 years, he served as pastor of Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. He is author of more than 50 books, including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and most recently What Is Saving Faith?
Baca juga artikel lainnya
Categories
Kupas

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Oleh John Piper

TheHope.id – Merupakan diiadaptasi dari “Don’t Waste Your Cancer,” apendiks dalam Suffering and the Sovereignty of God (Crossway), copyright 2006 oleh Desiring God Penerjemah: Elisabeth Chandra (elsandra@gmail.com) Diterjemahkan dan didistribusikan secara gratis untuk kalangan sendiri dengan izin tertulis dari Desiring God Foundation.

Pengantar Awalnya saya menuliskan perenungan-perenungan ini pada malam sebelum saya menjalani operasi kanker prostat. Saat itu saya percaya – sampai sekarang pun saya masih percaya – pada kuasa Allah yang sanggup menyembuhkan, baik melalui mukjizat maupun melalui pengobatan.

Saya percaya sungguh benar dan baik untuk berdoa bagi kedua cara penyembuhan itu. Kanker bukanlah sesuatu yang sia-sia ketika penyakit itu disembuhkan Tuhan. Dia dimuliakan, dan karena itu kanker diizinkan-Nya ada. Jadi, tidak berdoa untuk kesembuhan justru menyia-nyiakan kanker yang kita alami. Namun, kesembuhan bukanlah rencana Tuhan bagi setiap orang dalam hidup ini. Dan ada banyak cara lainnya untuk menyia-nyiakan kanker yang kita hadapi.
Sembari terus berdoa untuk diri saya sendiri, saya juga berdoa bagi Saudara, supaya kita semua tidak akan menyia-nyiakan penyakit yang kita alami. Lima tahun setelah operasi yang saya jalani hari itu, hasil‐hasil pemeriksaan seolah menunjukkan bahwa penyakit saya telah teratasi oleh tim medis. Namun saya belajar bahwa hari ini kita bisa berpikir bahwa kita baik-baik saja, dan esok harinya kita menemukan kenyataan yang sangat berbeda.

Jadi sekarang, ketika orang bertanya kepada saya, “Bagaimana kondisi kesehatan Anda?” saya pun menjawab, “Saya merasa baik, dan menurut para dokter kondisi saya baik-baik saja.” Yang sebenarnya berarti: “Saya tidak tahu persis bagaimana sebenarnya kondisi saya; hanya Tuhan yang tahu.” Mengetahui bahwa Tuhan memahami, peduli, dan berdaulat atas segala situasi, itu cukup. Satu bagian firman Tuhan yang melintas di benak saya ketika sedang menunggu hasil biopsi adalah 1 Tesalonika 5:9-10: “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” Itu cukup. Allah memilih saya bukan untuk dihukum, tetapi untuk hidup bersama dengan Dia. Sampai kelak kita bertemu dengan Tuhan, biarlah Tuhan menolong kita untuk tidak menyia-nyiakan, baik kesehatan kita maupun penyakit kanker kita.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin yang penuh pengharapan dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Segala penderitaan bermuara pada kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Allah telah membiarkan dunia ini menjadi kesia-sian karena ketidaktaatan manusia itu (Roma 8:20). Jadi, dalam satu pengertian, semua penderitaan adalah penghakiman. Namun, karena Kristus telah menanggung penghakiman kita, penderitaan tidak lagi berarti demikian bagi kita yang sudah percaya kepada-Nya. Bagi kita, segala keluhan karena penyakit telah menjadi “sakit bersalin” dalam penantian akan kelahiran ciptaan yang baru. “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Roma 8:22-23).

Ketika Allah membiarkan dunia ini menjadi kesia‐siaan, Dia melakukannya “dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:21). Jadi, keluhan rasa sakit saat kita mengalami kanker memiliki arti ganda. Rasa sakit itu menunjukkan betapa mengerikannya dosa, sekaligus menunjukkan bahwa kemerdekaan yang mulia kelak akan datang. Kita akan menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin bagi kelahiran ciptaan yang baru. Sakit bersalin menandakan ada sesuatu yang luar biasa yang akan segera datang. Itulah arti kanker kita. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala- galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” (2 Korintus 4:17). Jangan salah mengartikan keluhan Anda sendiri. Jangan sia-siakan kesaksian yang diberitakan oleh kanker Anda sendiri.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak percaya bahwa kanker itu dirancangkan Allah untuk kita Janggal rasanya untuk berkata bahwa Allah hanya menggunakan kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apa yang diizinkan Allah ada, diizinkan-Nya untuk suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangan-Nya. Jika Allah sudah mengetahui sebelumnya bahwa ada sel-sel yang akan berkembang menjadi kanker, Dia dapat menghentikannya atau tidak menghentikannya. Jika Dia tidak menghentikannya, Dia memiliki tujuan. Karena Dia maha bijak, sah‐sah saja kalau kita menganggap tujuan ini sebagai apa yang memang sudah dirancangkan‐Nya.

Iblis benar ada dan bisa menyebabkan banyak kenikmatan serta penderitaan. Namun, ia tidak mahakuasa. Jadi, ketika ia membuat Ayub menderita banyak borok yang busuk (Ayub 2:7), Ayub tetap menganggap penyakit itu datang dari Allah (Ayub 2:10), dan penulis kitab yang diinspirasikan Allah ini juga sependapat: “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancangkan Allah bagi kita, kita akan menyia-nyiakannya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita percaya bahwa kanker itu adalah kutukan, bukan karunia. Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita lebih berusaha mencari penghiburan dari pemikiran kita yang terbatas dan bukan dari Allah.

Seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya bertanya kepada saya, “Dapatkan sebuah keluarga Kristen kena kutuk?” Ada begitu banyak hal yang telah terjadi pada orang ini. Jawaban saya adalah tidak, namun semua yang menimpanya jelas bisa terasa seperti kutukan. Iblis berusaha menghancurkan sebagian dari kita dengan memberikan kesehatan yang baik dan kekayaan yang melimpah, yang dapat menghimpit iman kita (Matius 13:22). Dan, ia juga berusaha untuk menghancurkan sebagian yang lain dengan memperbanyak kesusahan mereka (Lukas 13:16).

Namun alasan saya mengatakan bahwa umat Allah tidak bisa ditimpa kutuk adalah karena Allah sendiri berfirman kepada umat-Nya, “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). Dan yang lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus telah dipersatukan di dalam Dia, dan di dalam Dia tidak ada penghukuman (Roma 8:1). Tidak ada kutukan. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia 3:13). Kristus telah menanggung kutuk penghukuman dan penyakit yang seharusnya menimpa kita. Itu berarti penyakit yang masih harus kita tanggung bukanlah kutukan. Kondisi itu telah diubah dari jalan penghukuman menuju neraka menjadi jalan pemurnian menuju sorga. Kita tidak dikutuk. Sesulit apa pun rasanya, kita percaya bahwa Allah tidak menahan kebaikan. Dia melakukan apa yang baik. Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. (Mazmur 84:12)

Rancangan Allah melalui kanker kita bukanlah untuk melatih kita dalam pemikiran yang rasional dan pertimbangan manusiawi akan suatu masalah. Dunia mendapatkan penghiburan dari pemikiran-pemikirannya sendiri. Orang Kristen tidaklah demikian. Ada orang yang mengandalkan kereta perangnya (kemungkinan bertahan hidup), ada pula yang mengandalkan kudanya (dampak pengobatannya), tetapi kita mengandalkan kuasa TUHAN, Allah kita (Mazmur 20:8). Rancangan Tuhan sangat jelas dalam 2 Korintus 1:9: “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang‐orang mati.” Tujuan Allah melalui kanker kita (di antara ribuan hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan segala hal lain yang kita andalkan dalam hati, supaya kita benar-benar bergantung penuh pada-Nya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menolak untuk memikirkan tentang kematian Kita semua akan mati jika Tuhan Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak memikirkan bagaimana jika kita kelak mati dan bertemu Allah adalah sebuah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”

Bagaimana kita bisa memperhatikannya jika kita bahkan tidak pernah memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari kita berarti memikirkan bahwa hari-hari itu singkat dan akan berakhir. Bagaimana kita dapat memperoleh hati yang bijaksana jika kita tidak mau memikirkan hal ini? Betapa sia-sianya jika kita tidak memikirkan tentang kematian.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita berpikir bahwa “melawan” kanker berarti bertahan hidup, bukannya mengasihi dan bersukacita karena Kristus Iblis dan Allah memiliki rancangan yang berbeda melalui kanker kita. Iblis bermaksud menghancurkan kasih kita kepada Kristus. Allah bermaksud memperdalam kasih kita kepada Kristus. Kanker tidak menang ketika kita mati. Kanker menang ketika kita tidak lagi mengasihi dan bersukacita karena Kristus. Allah bermaksud menyapih kita dari air susu dunia dan membawa kita berpesta dengan segala kelimpahan dalam Kristus.

Melalui kanker Dia menolong kita untuk berkata dan merasakan: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Filipi 3:8) dan karena itu, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menghabiskan terlalu banyak waktu membaca tentang kanker dan tidak punya cukup waktu untuk membaca tentang Allah Tidaklah salah untuk mengetahui seluk beluk kanker. Tidak mau tahu bukanlah sikap yang baik. Namun, besarnya keinginan untuk terus-menerus mencari tahu tentang kanker yang dibarengi dengan kurangnya gairah untuk mengetahui lebih banyak tentang Allah, adalah gejala-gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita tentang siapa Allah. Kanker dimaksudkan untuk meletakkan perasaan dan keinginan di belakang perintah, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN” (Hosea 6:3).

Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita akan kebenaran dari Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksudkan untuk menumbuhkan kita seperti pohon yang kokoh dan tak terguncangkan: “[Orang] yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Betapa kita menyia-nyiakan kanker kita, jika siang malam kita membaca tentang kanker dan bukan tentang Allah.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita membiarkannya membawa kita dalam kesepian dan bukannya memperdalam hubungan-hubungan kita dengan kasih yang nyata. Ketika Efaproditus mengantarkan pemberian jemaat di Filipi bagi Paulus, ia jatuh sakit dan hampir mati. Paulus memberi tahu jemaat di Filipi, “[Efaproditus] sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh sikap yang mengagumkan! Tidak dikatakan di sini bahwa jemaat Filipi bersusah hati karena dia jatuh sakit, tetapi sebaliknya, dikatakan bahwa Efaproditus yang bersusah hati karena mereka mendengar bahwa dia jatuh sakit. Hati semacam inilah yang hendak Allah bentuk melalui kanker: hati yang penuh kasih dan kepedulian bagi sesama. Jangan sia-siakan kanker Anda dengan menarik diri dari orang lain.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita bersedih hati seperti orang yang tidak berpengharapan. Paulus menggunakan ungkapan yang menggambarkan kesedihan hati seperti orang yang tak berpengharapan ini ketika ia berbicara kepada jemaat yang kehilangan orang-orang yang dikasihi mereka: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita saat kematian. Orang percaya sekalipun mengalami kehilangan sementara saat meninggal: kehilangan tubuh, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun dukacita orang percaya berbeda karena dipenuhi dengan pengharapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker dengan berduka sama seperti orang-orang yang tidak memiliki pengharapan ini.

Pikirkanlah juga bagaimana berperang bersama kanker. Segala dosa yang disebutkan tadi adalah musuh-musuh yang lebih berbahaya daripada kanker. Jangan sia- siakan kekuatan kanker yang dapat menghancurkan semua musuh ini. Biarkan sudut pandang kekekalan membuat dosa-dosa tampak tidak menarik sama sekali bagi kita, karena sesungguhnya dosa memang tidak menarik. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita gagal memakainya sebagai sarana untuk menyaksikan kebenaran dan kemuliaan Kristus Orang-orang Kristen tidak pernah ada dalam suatu situasi karena kebetulan. Selalu ada alasan mengapa kita berada di dalam suatu situasi. Pikirkanlah apa yang Yesus katakan mengenai situasi yang tidak enak dan tidak pernah direncanakan para murid: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara- penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Demikian juga kanker. Kanker akan menjadi kesempatan untuk bersaksi.

Kristus sangatlah berharga dan tidak ada bandingannya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa Dia jauh lebih berharga daripada hidup Anda. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ingatlah, Anda tidak dibiarkan sendiri. Anda akan mendapatkan pertolongan yang Anda butuhkan. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Di situs desiringGod.org, Anda akan menemukan hampir semua tulisan dan khotbah John Piper, termasuk lebih dari 30 buku yang dipublikasikannya. Kami telah membuat khotbah-khotbahnya selama 25 tahun tersedia gratis secara online untuk Anda baca, dengar, unduh, dan sebagian lagi dapat dilihat dalam bentuk video.

Baca juga artikel lainnya