Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Sapaan Gembala

Dikerjakan Oleh Roh Kudus

Dikerjakan oleh Roh Kudus

Oleh: Henrawaty Siregar

Kasih dan kemurahan dari Allah Bapa dan Tuhan Kita Yesus Kristus senantiasa memenuhi hati kita, sebab kita adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan dan sesuai janji-Nya, Ia tidak pernah meninggalkan kita seorang diri. Ia sudah memberikan Roh-Nya yang kudus berdiam bahkan bekerja di dalam kita sehingga segala maksud kudus Allah terlaksana melalui hidup kita.

Puji Syukur kita naikkan juga kepada Tuhan karena kita sudah memasuki bulan Mei, bulan yang terkenal dengan may day-nya atau kita kenal juga sebagai Hari Buruh Sedunia yang digunakan untuk memperingati perjuangan dan pencapaian para buruh di Amerika mendapatkan hak-hak para pekerja dan delapan jam kerja per hari. Di Indonesia May Day ini juga dijadikan sebagai Hari Buruh Nasioanal dan biasa digunakan oleh pekerja sebagai momen untuk meyerukan hak-hak mereka. Berbeda dengan para pekerja yang yang hanya bekerja delapan jam per hari ada pribadi yang bekerja di dalam diri orang percaya dan tidak dibatasi oleh waktu. Ia adalah Roh kudus. Di bulan Mei ini juga geraja Tuhan akan merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga sekaligus memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya tanpa batas.

Roh kudus berperan penting dalam diri orang percaya untuk mengubahkan mereka sehingga segala maksud kudus Allah dalam diri orang percaya, yakni keserupaan dengan Kristus bisa terlaksana. Hidup orang percaya dapat mencerminkan Tuhan seperti yang ditulis dalam 2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Jadi, Roh-lah yang telah mengubah orang percaya. Dia yang berdiam dalam diri orang percaya, menginsafkan dari dosa dan mengingatkan mereka akan kebenaran serta memampukan orang percaya untuk bertindak benar seperti yang dikehendaki Kristus.

Tanpa Roh Kudus mustahil manusia bisa mengubah dirinya, sebab ia sudah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, di mana dia punya keinginan untuk berbuat baik namun kenyataannya yang jahatlah yang jadi. Perubahan karakter menjadi serupa dengan Kristus hanya dimungkinkan terjadi oleh pekerjaan Roh Kudus. Dialah yang mengerjakan segala perubahan dalam diri orang percaya.

Jadi, betapa bergantungnya orang percaya kepada Roh kudus. Dia adalah Pribadi yang memang disediakan Allah untuk menjadi penolong. Orang percaya harus bersedia menerima pimpinan dari Roh Kudus yang dinyatakan lewat ketaatan dalam melakukan Firman Tuhan. Saat bersedia, maka hal yang sulit bahkan mustahil pun pasti bisa diubahkan. Sebuah tayangan televisi bertajuk Solusi mengisahkan kehidupan orang-orang yang diubahkan oleh Tuhan. Mereka yang tadinya hidup dalam kejahatan berubah menjadi pribadi yang berkenan dan mempermuliakan Tuhan. Mereka mengakui bahwa kalau bukan Tuhan yang bekerja melalui Roh Kudus sendiri, maka mustahil mereka berubah. Kebiasaan-kebiasaan hidup yang lama digantikan dengan kebiasaan baru yang benar.

Jadi, perubahan karakter yang sesuai dengan kehendak Kristus adalah karya Roh Kudus. Karena itu tidak seorang pun bisa bermegah dan justru seharusnya kita menaikkan syukur kepada Allah karena Ia telah memberikan Roh Kudus sebagai Penolong yang mengubahkan kita dari dalam.
Kehadiran Roh Kudus membawa harapan bagi kita untuk bisa hidup berkenan kepada Tuhan dan menjadi cermin Tuhan yang nyata di dunia. Orang-orang di sekitar kita akan bisa melihat Tuhan melalui karakter-karakter baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Categories
Muda Inspiratif

Suara Anak Desa di Forum Internasional

Suara Anak Desa di Forum Internasional

Jangan buang mimpimu. Jangan sia-siakan perjalanan mimpi karena dirasa mustahil. Jangan pula hal itu dikatakan tidak mungkin karena mimpi kamu disemai pada tempat “penuh keterbatasan dan udik”.

Oleh: Eka Dharma

Kita tidak akan pernah tahu di tempat yang kurang menjanjikan itu atau manusia mana yang tahu akan munculnya benih perubahan dari sebuah mimpi di tempat terpencil seperti Sumba Timur, bukan di Jakarta.

Tepatnya Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), tempat benih mimpi tertabur. Di tempat itu letak Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seorang gadis Roslinda Tamo Ina (15th) dari keluarga sederhana, diundang berpidato sampai dua kali di forum Internasional. Oslin begitulah panggilan akrabnya, merupakan anak keempat dari 4 bersaudara. Ia adalah putri dari pasangan Talu Popo dan ibunya bernama Maria Ytu. Ayahnya adalah guru pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu Sekolah Dasar.

Ia merupakan warga Kampung Paurat, Desa Kombapari, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Sumba Timur. Meskipun berasal dari desa, hal itu tidak mengendurkan niatnya untuk menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki seorang aktivis muda yang sangat gigih menyuarakan hak-hak anak. Roslinda Tamo Ina atau akrab disapa Oslin ialah anggota dari forum anak.
Memperjuangkan Identitas Diri-Kartu Akta lahir

Kegigihan Oslin yang terbentuk setelah mengikut bimbingan dan pelatihan Wahana Visi Indonesia–organisasi kemanusiaan Kristen di bidang pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selain permasalahan akta lahir, kasus kekerasan anak di desanya juga kerap terjadi. “Kadang anak dipukul, ada juga anak-anak yang dikasih cacian maki. Itu sangat berpengaruh di mental anak. Anak itu tidak pantas mendapatkan hal seperti itu. Ini yang saya perjuangkan sama teman-teman, supaya para orangtua sadar bagaimana mengasuh anak itu bisa mengasuh anak dengan cinta,” katanya. Oslin bersama forum anak melakukan edukasi dengan menarik, salah satunya lewat pementasan drama.

Oslin mengungkapkan mimpinya bahwa setiap anak bisa memiliki identitas diri-akta lahir. “Banyak anak yang tidak punya akta lahir. Akibatnya tidak bisa bersekolah dengan baik, ada teman saya yang mau ikut lomba, lombanya dari pemerintah. Tapi tidak bisa karena dia tidak punya identitas sehingga potensi dan bakatnya tidak tersalurkan karena tidak punya identitas,” ujarnya dalam acara Kick Andy yang tayang Minggu (20/3).

Berbagai faktor pun Oslin sebutkan yang membuat banyaknya anak-anak tidak memiliki akta lahir di desanya di antaranya faktor jarak, biaya, dan kurangnya kesadaran para orangtua akan pentingnya akta lahir. Lewat forum anak, Oslin bersama rekan-rekannya mulai mendorong para orangtua untuk menyelesaikan permasalahan akta lahir anak. Tidak hanya itu, mereka pun melakukan pendekatan ke pemerintah desa dan mengajukan pembuatan akta kelahiran anak massal. “Pemerintah desa buat gugus tugas untuk fokus urus akta lahir anak, mendata anak-anak yang belum punya akta lahir terus diurus secara massal di kota. Akhirnya 99% anak-anak di Desa Kombapari sudah punya akta lahir,” paparnya.

“Di forum anak itu, waktu Natalan, kita buat acara terus kita undang, orangtua, guru, elemen masyarakat, dan pemerintah, di situ kita tampilkan drama singkat tentang anak yang mendapatkan kekerasan dan dampaknya,” ucapnya. Berkat Oslin dan rekan-rekannya, suara anak mulai dilihat sama pentingnya dengan suara masyarakat dewasa dan memiliki andil dalam pemerintahan desa.
Suara di Forum Internasional

“Perubahannya terasa, lebih banyak anak-anak yang mau sama-sama berjuang untuk haknya dipenuhi, terus pemerintah juga sudah mau melibatkan kami dalam pengambilan keputusan dan sidang DPRD, dan sudah mau mendengarkan suara kami. Sudah buat peraturan desa tentang perlindungan anak,” papar mantan Ketua Forum Anak Desa Kombapari itu. Oslin kemudian didapuk menjadi perwakilan kabupaten untuk menyebarkan ilmu ke puluhan desa di Kabupaten Sumba Timur soal pemenuhan hak anak. Pada 2019, ia juga ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia untuk menjadi pembicara di forum PBB di New York. Oslin kembali menyampaikan suara anak Indonesia secara online ke perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat, pada Oktober 2020.

Di forum internasonal itu, Oslin menuturkan tentang penghapusan kekerasan terhadap anak dalam Forum Politik Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 9 hingga 18 Juli 2019. Saat itu Oslin masih bersekolah di SMP Negeri Satu Atap Matawai Iwi. Kemudian, ia kembali menyampaikan suara anak Indonesia secara online ke perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat pada Rabu (8/10/2020).

“Saya pertama menjadi pembicara dalam kegiatan High Level Political Forum di New York pada tahun lalu,” kata Oslin kepada Kompas.com di Waingapu, Minggu pagi. “Dan, pada tanggal 8 Oktober 2020 menjadi pembicara perwakilan anak Asia, khususnya Indonesia di Forum PBB menyampaikan tentang perubahan yang dialami akibat pandemi Covid-19,” lanjutnya. Ia menuturkan, dirinya mengikuti seleksi bersama anak-anak dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) di seluruh Indonesia pada tahun 2019.

Ia kemudian terpilih sebagai pembicara dalam kegiatan High Level Political Forum di New York. “Seleksinya buat video. Dalam video itu kami menceritakan hal-hal yang sudah dilakukan forum anak terkait penghapusan kekerasan terhadap anak di Desa Kombapari. Akhirnya saya yang terpilih untuk ikut kegiatannya di New York,” kisah Oslin. Pada tahun ini, ia kembali ditunjuk untuk berpidato secara virtual di forum PBB. “Mungkin karena saya sudah pernah berbicara di PBB, jadi diminta lagi untuk mewakili anak-anak Asia untuk menyampaikan suara anak-anak,” papar mantan Ketua Forum Anak Desa Kombapari itu.

Ia mengungkapkan masih banyak temannya yang belum memiliki ponsel cerdas (smartphone). Hal itu karena kondisi perekonomian orangtua mereka yang tidak berkecukupan akibat pandemi Covid-19. Selain itu, ada keluhan soal jaringan internet yang tidak ada di desa-desa. Ada juga teman-temannya yang tidak memahami materi yang disampaikan pada saat live meeting via zoom. Pada saat menyampaikan pertanyaan kepada guru tentang materi tersebut, tiba-tiba ada gangguan jaringan. Hal itu sangat mempengaruhi tingkat konsentrasi siswa.

Harapan Oslin yang masih ada ialah pemerataan akses internet agar anak-anak bisa mengikuti belajar daring dengan nyaman. “Jadi, harapannya akses internet yang lebih merata khususnya di desa-desa. Supaya mereka juga bisa merasakan apa yang anak-anak kota rasakan. Penyebaran jaringan internet yang merata dan memadai untuk semua,” ujar Oslin. Ia juga meminta kepada peserta dalam forum tersebut untuk memberikan solusi tentang masalah-masalah yang disampaikannya.

Bagaimana dengan kamu anak muda, apakah masih berdalih lagi untuk maju melangkah mewaujudkan mimpimu? -ed

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/479363/roslinda-tamo-ina-suara-yang-memengaruhi-kebijakan

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Profil Gereja

GIA Dr. Cipto, Sub-Wilayah Bandarharjo, Semarang

GIA Barutikung

GIA Dr. Cipto, Sub-Wilayah Bandarharjo, Semarang

Ditempa menjadi Jemaat yang Kuat

Oleh: Thomas Esha
Dalam menghadapi penganiayaan, ketidaktahuan dan pemusuhan, Gereja perlu mempertahankan praktek hidup dan imannya, The Story of Christianity
Terang Injil ada di daerah ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’


Barutikung. Tepatnya Kampung Barutikung, di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, tahun 1970-1980, kampung yang dikenal sebagai kantong kriminal, sarang penjahat, sarang preman, dan memiliki slogan ‘Jalmo Moro Jalmo Mati’.

Sejak awal, Gereja berhadapan dengan berbagai tantangan, tulis Michael Collins seorang peneliti dan sejarahwan gereja dari American University di Roma. Rupanya tantangan yang hebat itu mulai diawali karena ada benih gereja yang tertabur oleh berita Injil di daerah Kampung Baru Tikung. Berita Injil lewat persekutuan doa yang terdiri dari lima keluarga dari Bala Keselamatan Korps Semarang II, jl. Dr. Cipto 64 Semarang. Mereka ingin berbakti di Bandarharjo karena jarak yang cukup jauh dari jalan dr. Cipto. Kerinduan selama
empat tahun yang tak terwujud, mereka berinisiatif untuk berkumpul dan mengadakan kebaktian di rumah salah seorang jemaat, bapak Jumeno jl. Lodan Raya 13. Selama lima tahun mereka dilayani
secara konsulen oleh Pdt. Soetojo dari Gereja Baptis Citarum Semarang. Sejak saat itu, daerah yang kental dengan teriakan kebencian dan sumpah serapah, ada suara “Halleluya, puji Tuhan”. Suara pujian bagi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan itu seperti sinar terang menyuarak di kegelapan Kampung Baru Tikung, Bandarharjo.

D
Awal tidak mudah tapi bukan mustahil

Allah tidak pernah berjanji akan selalu memberi kemudahan di setiap gerak anak-anak Tuhan, tetapi Dia berjanji akan selalu memberi kekuatan untuk menghadapi tantangan. Dari persekutuan keluarga yang mengalami tempaan keras oleh lingkungan Kampung Baru Tikung, kehidupan mulai memancarkan kasih Kristus dan hanya karena kemurahan-Nya, kekristenan itu tumbuh. “Dalam niat mulia mendirikan sebuah gereja, di tengah alam ‘liar’ orang orang yang anti gereja. Menyebut nama wilayah itu, orang sudah bergidik; seram. Sebab identik dengan kata yang tidak sedap di dengar preman”, tutur Erry Suryo salah seorang saksi sejarah sekaligus salah seorang pendiri gereja GIA Baru Tikung. Tidak mudah namun tidak mustahil.

Meski badai cercaan bertubi menghantam keluarga demi keluarga, seperti batang besi ditempa secara terus menerus untuk tujuan menjadi alat yang mulia, demikianlah keluarga bakal jemaat gereja yang ada di Baru Tikung di tempa. Bersama ayahanda bapak Urip Suryo yang lebih 40 tahun yang lalu, terus melangkah pasti, menata gereja dari bentuk hanya berupa benih persekutuan keluarga menjadi sebuah gereja dalam arti yang sesungguhnya; persekutuan orang-orang percaya dan bernaung dalam wadahnya karena Tuhan yang mengulurkan tangan-Nya bekerja dan menjadikan Gereja ada di daerah Baru Tikung. Puji Tuhan!

Dengan tidak adanya hamba Tuhan yang tetap semua kegiatan berjalan apa adanya. Dalam situasi seperti itulah Tuhan menggerakan hati ibu Lydia, seorang guru agama Kristen SD Barutikung II, terbeban melayani di tempat ini. Perkenalan ibu Lydia dengan Pdt. Andreas Kristianto pada waktu mengikuti mengikuti training guru-guru agama sekolah dasar yang diadakan oleh GIA dr. Cipto membawa bapak Pdt. Andreas Kristianto membantu pelayanan di tempat ini. Pada tahun 1980, secara resmi jemaat Bandarharjo memisahkan diri dari Gereja Baptis Citarum dan bergabung dengan GIA dr. Cipto dengan jumlah anggota 20 jiwa sebagai Pos PI Barutikung.

Seiring dengan perkembangan struktur organisasi pusat, Pos PI ini berubah menjadi Permata (Persekutuan Rumah Tangga), dan kemudian meningkat menjadi Gereja Sub Wilayah,. Pdt. Andreas Kristianto dibantu bapak Pdt. Yonathan Yamidi (alm), dan ibu Lydia mengembangkan pelayanan setempat dengan membuka Kebaktian Anak-Anak dan Pemuda. Antara tahun 1983-1986 berturut-turut ada di bawah tanggung jawab Pdt. Jairus Hasugian, bapak Paulus Soepeno, Pdt. Stefanus Soebiyantoro, Pdt. Titus Suheri dan bapak Herry Dwi Soetrina. Sejak tahuh 1986 Jemaat Bandarharjo digembalakan oleh Pdt. (alm) Kartomo Suryo Nugroho. Dengan program- program yang lebih mantap dan terarah, jemaat dibawa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengiring Yesus.

Seiring dengan kesungguhan dalam mengiring Yesus. Mulailah tantangan dan kesulitan hebat yang ditimbulkan oleh penduduk sekitar. Intimidasi tak henti henti menimpa jemaat. Lemparan, maaf, kotoran manusia sering dialami. Kalau jemaat tidak berakar sangat dalam di dalam Kristus, iman mereka bisa goyah. Salah satu resep yang dimunculkan juga adalah kerendahan hati berupa; mengalah dan bersikap ramah disamping Allah terus bekerja dengan luar biasa. Ini terlihat saat suasana menimbulkan ketegangan, manakala tempat untuk beribadah dilempar dengan kotoran. Ingin hati membalas, namun tentu bukan itu teladan yang dikehendaki Tuhan. Roh Tuhan terus bekerja, membuat hati jemaat sedia mengalah bukan berarti kalah sebab itulah terladan Kristus saat sudah di salib masih menghadapi olokkan, dan Yesus di kayu salib itu mengampuninya. Dan luar biasa, dengan prinsip yang terasa aneh bagi dunia, mereka bukannya lemah tetapi semakin kuat dan terus bertumbuh. Saat itu jemaat sudah bertambah menjadi 140 jiwa.

Dalam masa kepemimpinan Pdt. Kartomo Suryo Nugroho, mulai direncanakan pembangunan gereja. Ijin sudah didapat, namun warga menolak. Penolakan warga sangat kuat karena dimotori oleh Camat setempat. Tapi, Tuhan yang ada bagi Gereja-Nya membela, jemaat mulai tekun berdoa. Akhirnya, tahun 1998, gereja pun berdiri. Tokoh tokoh yang menolak gereja, di’aman’kan sendiri oleh Tuhan. Ada yang meninggal, dipindahkan, sakit, dan sebagainya. Bapak Yesaya Sampan, salah seorang jemaat yang sudah 33 tahun turut berjuang di sana, menyaksikan kehebatan kuasa Tuhan. Pelopor doa pagi ini menuturkan bagaimana Tuhan bekerja menjangkau jiwa-jiwa di tengah lingkungan yang keras. Sebagai tukang becak beliau dengan cara yang unik mengajak sesama pembecak ikut doa malam di GIA dr. Cipto tiap Kamis malam. Dan merekapun bertobat menjadi anak-anak Tuhan yang setia.

Setelah Pdt. Kartomo dipanggil Tuhan, penggembalaan dipegang oleh beberapa hamba Tuhan, sampai akhirnya putra almarhum yaitu Pdt. Victor menjadi Gembala Jemaat sampai sekarang. Jemaat tercatat 300 orang. Kehadiran rata rata 150 orang.
Sebuah monumen


Sebuah tanda berupa “monumen” penolakan warga masih berdiri sampai sekarang berupa wc umum dan tempat pembuangan sampah dibangun tepat di depan gereja. Tak terbayang, rasa hati saat beribadah, bau tak sedap dan pemandangan kurang nyaman menghantar jemaat datang kepada Tuhan. Namun realita yang menyakitkan itu, tidak menyurutkan niat hati jemaat untuk bertemu Tuhan dan mengasihi sekitarnya. Maka tak heran, tiap kali ada aksi sosial, jemaat selalu memberi bingkisan atau pengobatan gratis dengan kasih dan ketulusan.

Doa adalah penopang dan yang melekat dalam hidup jemaat maka predikat sebagai jemaat yang menjadi pendoa, terus berlanjut. Mereka tidak memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk berdoa dan mencari Tuhan. Kesadaran hati, betapa Tuhan telah membayar harga yang tak ternilai, menyediakan rumah yang kekal, di surga yang mulia, lewat tetes tetes darah di Golgota, mendorong jiwa lebih mengasihi- Nya.

Gereja sering mengadakan bakti sosial, pengobatan gratis, bazar murah dll. Juga PPA. Warga dengan antusias menyambut dan merespon.

Emil Brunner menulis, agama-agama lain memberi kita perendahan paling besar dengan menelanjangi dan menyatakan diri gagal total di hadapan Allah, tetapi kita tak punya hasrat yang lebih besar dari pada yang disaksikan oleh Paulus; “Aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,… Galatia 6:14. -te

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Teropong

Paskah dan Pengharapan Kehidupan

Paskah dan Pengharapan Kehidupan

Oleh: Yonathan Subur

“Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.” Markus 16:6

Nikolai Ivanovich Bukharin, seorang pemimpin Komunis Uni Soviet yang ikut terlibat dalam Revolusi Bolshevik tahun 1917. Paskah di area Kota Kiev, tahun 1930 dia dijadwal memberi pidato kepada ribuan pekerja di Kota Kiev. Nikolai akan berbicara mengenai ateisme. Pidato itu menjadi kesempatan baginya untuk menghina dan merendahkan kekristenan. Selama kurang lebih satu jam, Nikolai Ivanovich Bukharin yang berdiri di panggung, dengan percaya diri melontarkan kata-kata penuh dengan sinisme menyerang iman kekristenan. Ia berusaha meyakinkan pikiran ateistik ke dalam pikiran massa rakyat yang mendengarkan.

Selesai berpidato, pandangannya masih diarahkan kepada ribuan pendengarnya. Dengan ponggahnya karena merasa begitu yakin, bahwa Tuhan yang diimani orang Kristen itu kini benar-benar telah dia matikan. Ribuan orang yang mendengarnya pidato itu terdiam dan suasana menjadi hening. Area kota Kiev menjadi begitu sunyi. Di akhir pidatonya, Nikolai bertanya kepada pendengarnya, apakah ada antara mereka yang ingin mengajukan pertanyaan? Suasana diam, sunyi. Tampaknya tidak ada seorangpun yang berani bertanya. Harapan pada iman kekristenan sudah mati, pikirnya.

Tetapi tiba-tiba, dari tengah kesunyian, seorang lelaki setengah baya berdiri dan berteriak sekencang-kencangnya, katanya, “Kristus sudah bangkit!” Dan di luar dugaan, ribuan massa yang menghadiri pidato itupun berdiri dan ikut berteriak, “Benar sekali! Kristus sudah bangkit!”.
Massapun menyambut teriakan Kristus bangkit tanpa takut. Suasana diam, takut berganti teriakan penuh kemenangan “Kristus sudah bangkit!”.

Ribuan orang di lapangan di Kiev yang telah lama mengalami penderitaan dan kehilangan harapan berseru dan bersorak “Kristus sudah bangkit”. Mereka menjadi hidup. Hidup dengan api pengharapan yang tadinya padam oleh ketakutan, penderitaan dan segala sinisme komunis
atheis yang berusaha memudarkan, menginjak-injak dan mematikan kekristenan selama puluhan tahun lalu itu. Paskah membangkitkan dan menghidupkan ; kembali, pengharapan itu ada!

Paskah bagi ribuan bahkan jutaan orang yang hidup di bawah rezim komunis adalah kebangkitan, keberanian, bahwa setelah penderitaan selalu ada kemenangan. Setelah dicekam kematian penderitaan selalu ada bangkit dari kematian penindasan. Penderitaan panjang yang dialami mengandung bahaya bahwa orang Kristen lupa pada harapan akan kebangkitan. Salib dan jalan penderitaan dapat menguburkan dan mengaburkan pengharapan akan kemenangan, akan sukacita, kegembiraan hari Minggu Paskah.

Paskah harus berani mengatakan, bahwa Kristus sudah bangkit. Dia telah mengalahkan maut dan membuat kita menjadi yakin akan kemenangan dan sukacita karena Salib.


Jangan takut!

Dari Injil Markus 16:1-8.
Dikisahkan, pagi-pagi benar, beberapa perempuan Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, serta Salome bermaksud mengurapi Yesus, dingin. Hari baru suasana rembang matahari dan sunyi. Perempuan-perempuan itu yang dengan setia turut mengantar mayat Yesus ke kubur. Mereka dengan mindset kematian. Suatu pikiran dan tingkah laku tentang kematian adalah akhir
segalanya dan sudah tidak ada kehidupan. Segala yang ada di dalam pikiran perempuan-perempuan itu yang sehari-hari turut mendengar, melayani dan bersama Yesus, tinggal kenangan (Lukas 8:1-3). Belum ada mindset kebangkitan; kehidupan Kristus.

Harapan sukacita kehidupan tidak nampak, yang nampak adalah masalah mindset kematian; siapa menggulingkan batu kubur, caranya bagaimana lalu merempahi mayat sesuai dengan tradisi kematian menguasahi mereka.

Setibanya di sana, batu besar penutup makam ternyata sudah digulingkan. Dan ketika menengok ke dalam makam, mereka melihat seorang muda yang mengenakan pakaian putih. Ini mengejutkan mereka, tetapi orang itu meminta mereka untuk tidak takut. Dia memastikan bahwa para perempuan itu mencari Yesus, dan karena itu Dia meminta mereka untuk tidak mencari-Nya, karena Ia sudah bangkit. Ia bahkan menyuruh para perempuan itu pergi memberitahukan para murid bahwa Tuhan sudah bangkit dan pergi mendahului mereka ke Galilea.

Di tengah-tengah ketakutan Paskah terjadi. Kebangkitan menyeruak hebat dalam diri wanita yang dipinggirkan. Dalam pemikiran kesedihan bercampur ketakutan; bagaimana tradisi merempahi mayat yang tertutup kuburnya, masih mencengkeram. Dan mereka lemah serta tak mampu
menggulingkan batu kubur, teryata kebangkitan Yesus telah mengalahkan segala-galanya semua ketakutan akan pemikiran itu lenyap! Suasana kejiwaan, hati yang masih berkecamuk, Yesus hidup tidak perlu lagi merempahi dan pergi ke kubur.

Para perempuan yang tadinya mindset kematian; ada rasa takut dan pesimisme – terutama setelah Yesus Tuhan yang dilayani itu ternyata mati secara mengerikan. Perasaan itu begitu mendalam, sedih dan takut begitu menguasai sehingga sulit mempercayai, dan lupa akan perkataan Yesus sewaktu masih bersamanya, bahwa Tuhan sendiri sudah mengatakannya, bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga.

Padahal perempuan-perempuan tidak usah sedih dan takut. Yesus sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa Ia akan bangkit. Dan tanda-tanda itu sebenarnya juga telah diperlihatkan-Nya kepada para perempuan di hari Minggu pagi itu. Batu penutup makam telah digulingkan, seorang pemuda mengenakan pakaian putih, dan suara pemuda itu yang meminta mereka untuk tidak takut karena Yesus dari Nazareth itu sudah bangkit.

“Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia”. Markus 16:6

Minggu pagi itu Paskah sungguh terjadi. Hari itu yang mencekam, menjadi hari penuh kegentaran bercampur sukacita. Ketakutan akan peristiwa yang baru terjadi dan sukacita berita bangkitnya Yesus telah menjadi warna dari jiwa perempuan perempuan itu. Itulah warna paskah yang pertama.

Jadi, Paskah bukan saja suatu berita atau suatu narasi cerita kehidupan tapi suatu fakta sejarah mengenai kebangkitan Yesus dari kematian. Bukan saja fakta kebenaran mengenai pengharapan bagi iman orang percaya di masa lalu tapi juga berita kehidupan dimasa kini dan nanti karena ada pengharapan,Yesus itu hidup. Paskah bagi masa lalu, masa kini tapi juga masa yang datang, berita kuasa kehidupan untuk orang percaya. Yesus hidup bagi semua orang percaya. Ia Tuhan bagi orang percaya dan Ia Tuhan yang Alfa dan Omega.

Paskah dan Pengharapan

Pada 14 Mei 2013, artis Angelina Jolie menerbitkan sebuah artikel di New York Times tentang keputusannya menjalani mastektomi ganda. Jolie sudah hidup bertahun-tahun di bawah bayang-bayang kanker payudara dan karena ibu dan neneknya meninggal akibat penyakit kangker payudara. Sekalipun pada saat itu Jolie tidak mengindap penyakit kanker. Namun keputusan kuat untuk menjalani mastektomi ganda.

Dunia memuji keputusan dan keberaniannya yang berdasarkan ilmu pengetahuan modern. Joli dan orang-orang yang lebih percaya dan mendengarkan gen-gen yang termanifestasi dalam angka-angka. Mereka hanya percaya pada pengetahuan dan studi mutakhir. Yuval Noah Harari dalam bukunya yang menjadi best seller, Homo Deus, menuliskan agama baru manusia adalah Silicon Valley (2018:405). Segalanya terhubung dengan tehnologi dan menyisakan sedikit dengan Tuhan. Adakah hal semacam itu, berita kehidupan KristusTuhan masih menjadi berita Paskah dan pengharapannya? Adakah orang lebih percaya hati nurani yang suaranya berasal dari angka-angka yang diambil dari hasil riset, penelitian dan para pakar dan bukan hati nurani yang telah lemah dalam menjerit suara Tuhan Roh Kudus? Bahwa Yesus Kristus Tuhan yang Empunya hidup adalah sang Alfa dan Omega?

Seberapa sukarnya, katakanlah di langkah-langkah hidup yang berat dan sukar dalam kehidupan ini, tidak ada suatu yang terjadi atas kita di bumi ini dimasukkan dalam kategori “langkah terakhir”. Jika Allah telah membawa Anak-Nya melalui ujian-ujian yang berat dan paling menyakitkan
dan mengambil kembali Anak-Nya melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sudah barang tentu Dia melalui peristiwa Paskah itu berkuasa membawa kita ke dalam suatu kehidupan penuh pengharapan (1 Petrus 1:3)

Karena itu, jika saat ini kita digodai untuk menyerah karena kita bertanya-tanya siapa yang berhak uparaca merempahi mayat segala yang baik, lalu siapa yang menggulingkan batu besar yang menutup harapan untuk maju dan hidup penuh kesukaan itu? Jawabannya tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ”Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. -ys

Categories
Motivasi

Sebuah Jari Telunjuk

Sebuah Jari Telunjuk

Oleh Yotam Sugihyono (Warrior of Life)

Ketika fisik kita lemah, tak berdaya atau bahkan menderita cacat permanen, banyak orang hampir pasti mengira bahwa hidupnya akan segera berakhir. Bagaimana bila seluruh anggota tubuh kita lumpuh dan yang berfungsi hanyalah sebuah jari telunjuk saja? Apakah seseorang dapat tetap mampu melakukan sesuatu yang besar?

manhattan bridge, bridge, bridges-4615576.jpg

            John Augustus Roebling lahir 12 Juni 1806 di Mühlhausen Jerman. Ia adalah seorang arsitek genius, kreatif dan memiliki impian besar yang tak seorangpun pada saat itu pernah memikirkannya. Pada tahun 1865 ketika ia berusia 59 tahun, ia memiliki ide “gila” yang menghenyak semua orang. Ia bercita-cita membangun sebuah jembatan gantung di atas East River yang merupakan bagian dari Samudera Atlantik. Saat itu belum ada seorangpun yang sempat memikirkan membangun jembatan di atas sungai besar ini.

            Ketika ia memaparkan kepada para ahli, semua ahli pada saat itu sepakat untuk menolak ide gila yang ia sampaikan. Kesulitan menempatkan pondasi di sungai dengan cara menggantungkan jembatan yang demikian panjang merupakan pekerjaan yang mustahil dilakukan pada waktu itu, namun ia percaya dapat melakukannya. Ketika itu tidak ada seorang pun yang mendukung rencananya tersebut kecuali anaknya sendiri Washington Roebling yang juga seorang Insinyur.

            Pada tahun 1869, ketika John Roebling telah berusia 63 tahun, ia memulai pembangunan jembatan super dahsyat setelah mendapat ijin dan dukungan dari konggres. Tetapi fakta berbicara lain, tepat tanggal 28 Juni 1869 saat ia bekerja di lokasi pembuatan jembatan, ia tertabrak kapal ferry dan terpaksa diamputasi kakinya. Namun setelah diamputasi ia terserang tetanus dan akhirnya pada tanggal 22 Juli 1869 ia meninggal dunia. Semua orang mengira bahwa impian jembatan tersebut ikut terkubur bersama meninggalnya John Roebling. Tetapi tiga tahun setelah kejadian itu, anaknya yang bernama Washington Roebling melanjutkan apa yang menjadi impian dari ayahnya. Hanya dirinyalah yang mempercayai semua yang dikatakan ayahnya bahwa jembatan itu dapat dibangun.

            Washington Reobling yang saat itu berusia 32 tahun berusaha melanjutkan apa yang ayahnya impikan. Iapun kemudian memulai pembangunan jembatan tersebut. Untuk membangun fondasi jembatan, maka digunakan ruang kedap air. Suatu hari saat ia bekerja di dalam ruang kedap air dengan tekanan udara tinggi, ia terlalu cepat naik ke permukaan sehingga mengakibatkan Washington Roebling menderita kerusakan otak permanen, tuli dan seluruh badannya lumpuh kecuali hanya sebuah jari telunjuk kanan saja yang dapat ia gerakkan.

            Tentu tidak ada yang menyangka bahwa dirinya tetap memiliki semangat yang sama untuk membangun jembatan. Namun apa yang dilakukannya patut diacungi jempol karena ia tidak patah semangat meskipun ia menderita kelumpuhan kecuali hanya sebuah jari telunjuk saja. Ketika ia berkeinginan untuk melanjutkan proyek ini, semua orang memiliki pendapat yang sama bahwa proyek ini harus dihentikan. Namun ia tidak putus asa. Di tengah cibiran orang, ia terus saja mengerjakan proyek dengan memberi perintah kepada para karyawannya hanya dengan sebuah jari telunjuk saja.

Ia dibantu istrinya Emily Roebling dalam membaca dan menganalisa semua permasalahan yang timbul dari pembangunan jembatan tersebut.

brooklyn bridge, river, manhattan-1392285.jpg

            Tahukah apa yang dihasilkannya hanya dengan sebuah jari telunjuk saja? Setelah dikerjakan selama 14 tahun lamanya dan memakan korban 27 jiwa, pada tahun 1883 jembatan inipun selesai dibangun. Jembatan ini kemudian diberi nama “Jembatan Brooklyn” yang menghubungkan kota New York dengan Brooklyn. Jembatan ini melintasi East River dan dibuka pada 24 Mei 1883. Jembatan megah ini memiliki panjang 1.825 meter dan lebar 26 meter yang membentang di atas East River. Saat diresmikan, ribuan penduduk Brooklyn dan Pulau Manhattan menyaksikan hal yang sebelumnya merupakan “ide gila” namun sekarang mereka melihat keajaiban itu menjadi kenyataan. Presiden USA Chester A. Arthur dan Gubernur New York Grover Cleveland memimpin upacara peresmian jembatan ini.

            Dari sebuah jari telunjuk saja seseorang dapat memberikan perintah membangun jembatan yang begitu fenomenal ini, bagaimana dengan diri kita yang memiliki sepuluh jari? Sudah seharusnya kita melebihi orang ini. -yts

“Pemenang tidak akan pernah menyerah dan orang yang menyerah tidak akan pernah menjadi pemenang”

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Margin

Bahagia

Bahagia

Tidak lama sebelum ajalnya, novelis Graham Greene, menjadi semakin kecewa sampai titik putus asa. Ia telah menjalani kehidupan bebas yang panjang. Jiwanya seperti pengembara di padang gersang kehidupan. Dibayangi kerinduan tentang Allah, ia merenungkan sebuah dunia modern yang berada dalam bahaya kehilangan jiwa; bahagia. Ia coba mengais-ngais kata-kata untuk disusun dalam sebuah ceritera pendek terakhirnya yang berjudul “Dunia Terakhir”. Ia menulis satu kalimat dalam isi cerita pendeknya dengan nada ironi, jika kekristenan kehilangan terangnya, bagaimana orang bisa menemukan kebahagiaan di dalam gelapnya dunia?
freedom, woman, road-2940655.jpg

Di berbagai gereja pada umumnya, saya melihat Tuhan dianggap seperti apa yang dilakukan papan iklan pada Coca-Cola; mereka menyoroti kehausan tanpa memuaskannya. John Updike

Oleh: Yonathan Subur

Bahagia.  Tepatnya, menjadi sosok bahagia. Apa sih yang harus di perbuat agar hidup bahagia?  Di benak ini, pasti berlompatan kata-kata, seperti; kasih, peduli, kebaikan, berhasil, sukses, melayani dan masih banyak lagi. Wow, sekeranjang kata-kata yang enak di dengar dan kita masih boleh menambahkan. Namun, mungkinkah, jika ada orang yang hidupnya mengalami kelangkaaan dengan hal yang baik tersebut bisa memberi percikan kebahagiaan kepada sesamanya? Atau setidaknya,  jika ada orang yang pengalaman hidupnya berseberangan dengan hal-hal yang ideal dalam kategori bahagia,  bisakah orang tersebut mewarnai kebahagiaan yang dirindukan oleh setiap orang atau anggota keluarga pengejar kebahagiaan?.

Doroty Sayers, seorang penulis yang dikagumi banyak orang. Doroty Sayers mengagumi kasih setia dari Allah dengan cara yang berbeda. Dalam bukunya, ”The Mind of the Maker”, menuliskan demikian; ”Tuhan tidak berjanji untuk memecahkan semua masalah kita, sekurang-kurangnya tidak dengan cara pemecahan yang kita inginkan. (tidak ada tokoh di Alkitab yang hidupnya steril dari masalah). Bagi-Nya semua permasalahan yang sedang kita hadapi dapat dijadikan sebagai bahan mentah. Katakanlah bahan mentah itu berupa kegagalan, aib, otak yang pas-pasan, ketidak puasan, kepedihan, gerutuan kita kepada Tuhan. Atau berupa cacad fisik, kedunguan yang menjengkelkan orang. Semua itu bisa digunakan untuk membangun kita dalam hal-hal yang paling berarti bagi Tuhan.”

Doroty Sayers melihat selalu ada anugerah  Tuhan dalam semua tragedi yang paling pahit sekalipun.

Ia melihat anugerah itu demikian jelas setiap hari walaupun penderitaan belum tuntas berakhir. Bahkan masih baru dijalani. Karena anugerah, kasih setia-Nya yang diingat maka semua yang pahit dalam hidup dapat mendorongnya kepada Tuhan dan mendorongnya untuk menghasilkan karya bagi kemulian-Nya. Sebaliknya, jika kita hanya melihat tragedi adalah kepahitan maka hidup adalah pahit yang akan mendorong pada tindakan yang menyakitkan.

Doroty Sayers menyimpulkan demikian karena ia sendiri mengalaminya, dua kali gagal menikah meninggalkan aib, terlibat dalam kehidupan yang bebas. Kegagalan, kesalahan dan dosa, seperti lekat dalam hidupnya. Namun ketika Kristus memulihkan hidupnya, semua tragedi yang dialaminya menjadi bahan mentah untuk menghasilkan karya bagi kemulian-Nya. Buku-buku hasil karangannya banyak dibaca orang dan menyegarkan jiwa, memberi harapan dan yang penting adalah orang menemukan anugerah dari Tuhan. Bahkan pesan-pesan dari bukunya menjadi petunjuk pasangan-pasangan yang ingin membangun keluarga bahagia. Doroty Sayers hidupnya yang jauh dari sempurna untuk bisa mengecap bahagia menurut ukuran dunia ini, namun di dalam Tuhan yang melimpah anugerah dan kasih setia, ia telah dipakai-Nya menjadi terang memancarkan kebahagiaan. -ys

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444IMG-20260420-WA0040IMG_20260504_211544IMG-20260420-WA0072IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Cermin Nurani

Hidup adalah Mujizat

Hidup adalah Mujizat

“Ada dua cara untuk menjalani hidup ini: Anda dapat hidup seolah olah tidak ada keajaiban dan Anda dapat hidup seolah olah segala sesuatu adalah keajaiban“.Albert Einstein, ahli fisika
daisy, shell, nature-5009532.jpg
Oleh: Dian Yuliani
TheHOPE.id – Aku menyitir kalimat yang dibuat Albert Einstein dalam mengawali tulisan ku untuk mencurahkan pemikiranku yang sederhana ini dan membagikan kepada kita. Aku tahu ini terlalu naif, namun bagi kamu yang setuju tulisan terkesan polos, terimakasih telah menikmatinya. Sebagai seorang yang memiliki hobi menulis dan bercita-cita menjadi host layaknya yaa… di Kick Andy memang tidaklah mudah. Namun itu mimpiku. Aku akan terus menulis, menulis dan menulis serta belajar , belajar dan sampai tulisanku, berkenan kamu baca. Hmm… ini tidak mudah dan butuh kegigihan dan ekstra keberanian.

Karna bagiku, setiap hari, hidup itu adalah mujizat. Mulai aku terlahir dari ketidak mungkinan keadaan, namun selalu saja Tuhan menyisipkan mujizat; aku diinjinkan hidup. Membuka mata untuk meneruskan hidup ini. Langkah hidup terus sampai ceritera yang tak kuketahui alurnya, hidup ini selalu ada mujizat Tuhan yang mengarahkan alurnya. Sampai hidup itu seperti perahu yang bergoncang, tiang layarnya berderak derik dipermainkan ombak. Maju selangkah mundur dua langkah kemudian terseok-seok, maju lagi. Langkah nyaris putus asa. Kembali lagi mujizat-Nya menuntun, mesti tak kusadari datang menghampiri. Lalu, aku dipertemukan teman-teman yang bersama-sama diajak untuk menulis.

Maka hari-hari yang ada adalah sebuah kesempatan bagi diriku untuk bisa terus melanjutkan mimpiku.

Terlalu banyak waktu yang terus terbiarkan mengilas dan menghanyutkan kesempatan, tak sempat bagiku berlama-lama untuk menyesalinya, sebab bagiku untuk waktu menyesali, merenungkan yang sudah terlanjur salah dalam bertindak dan mengabaikannya adalah mungkin. Semua kujadikan yang sia-sia itu menjadi bagian cara Tuhan untuk merenda hari-hariku dengan mujizat-Nya. Sehingga kita kadang tidak menyadari mujizat yang sedemikian nyata dan ada di sekitar kita untuk kita syukuri, tapi kita diam, bisu dan seolah Ia tidak menyapanya dengan mujizat-Nya. Malahan mujizat itu seolah tidak ada dan hanya sewaktu waktu saja. Tuhan memberi kita untuk pelajaran yang indah, yaitu untuk mengetahui dan peka bahwa hidup tidak hanya menggelinding dan yang kita harap itu belum ada. Tidak, dan itu adalah tidak mungkin. Hidup adalah menanggapi Tuhan menyediakan mujizat dengan cara kesediaan kita bekerja, berkarya dengan hati yang tulus dan kadang pengorbanan yang ikhlas. Di masa-masa pandemi, selalu saja ada moment yang luar biasa; kita masih hidup dan bisa bekerja, ditempat lain ada yang harus kehilangan pekerjaan, usahanya tutup. Belum lagi datang Omicron, lalu tiba-tiba minyak goreng menguap dari pasaran dan menjadi mahalnya, tahu tempe, daging dan kebutuhan pokok lain di bumi Ungaran, tempat tinggal daerahku. Media menumpahkan berita orang antri untk beli minyak goreng dimana-mana. Di kota besar kota kecil, di daerah ibu kota DKI sampai pelosok negeri. Gelombang gerutuan, omelan serta rasa marah. Padahal mereka yang baru saja tersenyum gembira karena survey prestasi pemerintah; berhasil. Suasana berganti cepat, hawa kenyinyiran. Rasa omelan karana kebutuhan minyak menghalangi kita semua atau setidaknya yang termakan kenyataan itu termasuk diriku, sulit melihat hidup adalah mujizat Tuhan. Seperti bangsa Israel yang marah, nyinyir karena air minum habis, dan cepat melupakan mujizat yang sudah sudah. Akibatnya, aku harus memutar otak kembali. Dalam kengiluan tubuh dan sendi-sendi tulang ini. Di situ aku belajar apa artinya berdoa. Mujizat bukan tidak ada tapi kita tidak mau tahu itu ada. Bagi orang dewasa yang lain, naiknya harga kebutuhan “pokok” tidak masalah tapi jangan minyak goreng, seakan menggucangkan sendi ekonomi dan membuat orang murka. Sungguh ironi.

Kepekaan akan kehadiran Tuhan dengan mujizat-Nya, seperti dikatakan FX Nguyen Van Thuan, “Allah ada di dalam aku dan dekat maka ada kebahagian meski keadaan yang sulit”. Dengan kata lain, Allah selalu dekat dan ada mujizat supaya aku bisa menyelesaikan karyaku ini untuk rekan-rekan semua.

Kutegaskan diriku dengan menyakini kutipan Albert Einstein, hidup ada munjizat. Meraih sarjana, terlalu tinggi harapanku itu, seperti katak merindukan bulan kata ayahku. Di tengah-tengah peristiwa meninggalnya adikku di pulau Batam yang mustahil kuurus sendirian sampai kubawa pulang di Salatiga bersamaan dengan berkejaran dengan batas waktu untuk berjuang menyelesaikan studi. Kembali aku menyadari mujiazat hidup itu adalah wujud dari bagian anugerah-Nya. Hampir saja dalam kurun waktu 9.5 tahun aku menjadi mahasiswa abadi di kampusku. Semua berkuliah maksimal 4 sampai 5 tahun dan aku hampir 10 tahun.

Aku diingatkan kembali, waktu-waktu yang berlalu dan akan datang, Tuhan terus melatih langkahku, mentalku dan semuanya yang diperlukan hidup ini. Gagal berhasil, mengerti dan lagi kesulitan untuk bisa mengulang belajar, seperti anak diajar naik sepeda, jatuh dan kembali tegak lagi belajar sampai untuk mengerti bagaimana mengendarainya. Dan dari semua peristiwa itu sang ayah ada di sisinya sehingga belajar itu terlatih tidak terhenti. Sekali lagi, semua karena rencana Tuhan, akhirnya gelar sarjana aku sandang.

Aku belajar sesuatu dalam hal ini, bahwa proses apapun yang kita jalani itu tidaklah luput dari pandangan mata Tuhan dan mujizatnya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah dalam rancangan-Nya yang indah dan ada mujizat selalu. Sekalipun kemarin adalah waktu yang tidak mudah. Saya optimis tahun ini tahun depan, terus ada kebaikan-kebaikan Tuhan dan ada mujizat di dalam hidup ini bagi kita semua. “Hope springs eternal in the human breast. Man never is, but always to be blest – Harapan terpancar abadi di dada manusia. Manusia tidak pernah ada, tetapi selalu diberkati.” Alexsandar Pope. Amin – dy

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Seputar Sinode

Pentahbisan Hamba Tuhan diterima oleh Wakil Walikota

Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti (Ibu Ita) memberikan sambutan dalam momentum pentahbisan Pdt. Yusak SW. dan Pdm. Samuel Santoso di GIA Pandean Lamper Semarang pada hari Minggu, 10 April 2022. Sementara Pdt. Jairus Hasugian selaku Sekretaris Umum MPH Sinode GIA memberikan doa pentahbisan kepada kedua Hamba Tuhan yang dibimbing pertumbuhan pelayanannya oleh GJ, Pdt. Andreas Soeroto.

Categories
Seputar Sinode

Yayasan Pendidikan Kranggan Semarang (YPKS) Menjadi Anggota MPK

Melalui Kongres XVI MPH tahun 2022 yang dilaksanakan di Hotel Puri Saron Seminyak Bali (7-9 April 2022), maka Yayasan Pendidikan Kranggan secara sah diakui sebagai anggota baru Majelis Pendidikan Kristen. Jadi YPKS menjadi salah satu anggota baru diantara anggota MPK yang menurut data tahun 2021 jumlah anggota MPK sebanyak 383 yayasan/badan penyelenggara pendidikan Kristen di seluruh Indonesia dengan jumlah satuan pendidikan kurang lebih 6.000 (PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK).