Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Margin

Rumah Tangga Bukan Rumah-Rumahan

Rumah Tangga Bukan
Rumah-Rumahan

Oleh Yonathan Subur P.

"Ada mitos menyedihkan yang beredar hari ini - mitos netralitas. Menurut mitos ini, dunia sekuler memberi setiap sudut pandang kesempatan yang sama untuk didengar. Dan itu bekerja dengan cukup baik - kecuali jika Anda seorang Kristen."
Francis Schaeffer

TheHope.id – Di opini Kompas tanggal 26 Oktober 2015, Daoed Joesoef, melemparkan pemikirannya yang diberi judul Ekonomika SDG. Dalam pemikirannya, beliau mengingatkan kita tentang pilihan yang ditetapkan dalam mengambil jalan ekonomi untuk mencapai kemakmuran setinggi-tingginya. Kemakmuran yang tinggi akan bisa terpenuhinya kebutuhan yang sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, beliau memberi peringatan, bahwa gaya ekonomi tersebut terlihat dalam gejala globalisasi ekonomi dalam pencapaian kemakmuran setinggi-tingginya tidak menampik lebih banyak krisis yang ditemukan. Sebab krisis kehidupan justru ditemukan dalam kehidupan manusia.

Pertanyaannya, bukankah ekonomi yang baik akan berimpas pada kemakmuran? Mengapa pencapaian kemakmuran justru menimbulkan krisis kehidupan? Sebab kemakmuran tidak sama dengan kebahagiaan. Dalam teori ekonomi istilah kebahagiaan itu tidak ada dan tidak diketemukan.

Dalam mengadakan investigasi intensif mengenai kaitan antara kebahagiaan dan kehidupan. Daoed Joesoef menyitir kesimpulan Richard Layard, dalam bukunya yang best seller, “Happiness: Lessons from a New Science”, (2005),”There is a paradopx at the heart of our lives. Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier…if we can give no further external reason. It just obviously does matter”

Apa kaitannya dengan keluarga?, dalam buku “Belajar Menjadi Manusia”, Bernard Haring, menggaris bawahi kata “pilihan”. Sebab menjadi manusia ciri utama adalah manusia bebas memilih. Perhatikan pemikiran Daoed Joesoef, beliau memakai kata “pilihan”sangat penting dalam menegaskan kritik yang ditawarkan soal jalan ekonomi global masa kini. Bukankah sejak awal manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi kebebasan manusia untuk memilih? “Tetapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakankannya, pasti engkau mati” Kej 2:17. Perhatikan kebebasan memilih sekaligus akibatnya diperlihatkan Allah kepada manusia.

Dalam perikop Lukas 11:14-23. Konteks di mana Tuhan Yesus berbicara mengenai pertentangan antara Kerajaan Allah dan kuasa-kuasa kejahatan. Ini merupakan pertentangan di mana tidak ada seorangpun boleh bersikap netral, seseorang harus memilih. Karena Tuhan Yesus ditunjuk untuk memimpin peperangan melawan kuasa-kuasa kejahatan, maka barangsiapa ingin melihat kemenangan peperangan Allah, orang harus memilih; mengikuti Dia. Bila tidak demikian, maka apapun penilaian mereka tentang hidup ini, mereka tentu ada di pihak lawan.

Kata yang kemudian mengikuti pernyataan Tuhan Yesus tentang keberpihakan adalah “mengumpulkan” dan “mencerai-beraikan”. “Mengumpulkan” ialah pekerjaan Allah sedang “mencerai-beraikan” adalah pekerjaan Iblis. Apa yang menjadi tantangan rumah tangga masa kini? Memudarnya sikap untuk tetap memilih satu hati, satu tujuan berumah tangga sesuai dengan awalnya Allah membentuk rumah tangga. Saat membangun rumah tangga diawali dengan pernikahan kudus, dalam pemberkatan yang didasari firman Tuhan. Biasanya awal sesuatu tak terkecuali rumah tangga berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Setelah itu, dengan mengalirnya waktu dan kesibukan, rumah tangga tersebut berubah sebagai alat hanya untuk mencapai pemenuhan ekonomika saja. Dengan keyakinan, pencapaian ekonomika rumah tangga yang berhasil maka akan terpenuhinya kebutuhan hidup yang sebaik-baiknya. Dengan demikian seluruh anggota rumah tangga akan bahagia. Padahal tercapainya kemakmuran tidak secara otomatis meraih kebahagiaan. Rupanya pengaruh yang kuat dari filosofi ekonomika secara pelan namun pasti menekuk pemikiran sehat dan jernih dalam keutuhan manusia yaitu bahwa kemakmuran dan kebahagiaan itu adalah dua hal yang berbeda.

Rumah tangga bukan rumah-rumahan karena itu, jika pemikiran ekonomika secara perlahan merasuk dalam hidup keluarga kristen maka orang-orang di dalamnya hanya sekadar hidup berteduh tanpa hati dan tujuan yang Allah ingin dalam membangun rumah tangga.

Jadi dari hasil investigasi Daoed Joesoef soal pencapaian ekonomika dan kebahagiaan kehidupan terbukti tidak berbanding lurus artinya pencapaian kemakmuran tidak otomatis mencapai bahagia. Maka akibat kuatnya ekonomika bagi kehidupan keluarga, seperti perceraian diam-diam, anak-anak bukan berkumpul tapi tercerai dan masih banyak lagi makin kental terasa, seperti yang disimpulkan Richard Layard diatas, “,…Most people want more income and strive for it. Yet as Western societies have got richer, their people have become no happier.” -ys

Baca juga artikel lainnya
Categories
Kupas

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Jangan Sia-Siakan Kanker Anda!

Oleh John Piper

TheHope.id – Merupakan diiadaptasi dari “Don’t Waste Your Cancer,” apendiks dalam Suffering and the Sovereignty of God (Crossway), copyright 2006 oleh Desiring God Penerjemah: Elisabeth Chandra (elsandra@gmail.com) Diterjemahkan dan didistribusikan secara gratis untuk kalangan sendiri dengan izin tertulis dari Desiring God Foundation.

Pengantar Awalnya saya menuliskan perenungan-perenungan ini pada malam sebelum saya menjalani operasi kanker prostat. Saat itu saya percaya – sampai sekarang pun saya masih percaya – pada kuasa Allah yang sanggup menyembuhkan, baik melalui mukjizat maupun melalui pengobatan.

Saya percaya sungguh benar dan baik untuk berdoa bagi kedua cara penyembuhan itu. Kanker bukanlah sesuatu yang sia-sia ketika penyakit itu disembuhkan Tuhan. Dia dimuliakan, dan karena itu kanker diizinkan-Nya ada. Jadi, tidak berdoa untuk kesembuhan justru menyia-nyiakan kanker yang kita alami. Namun, kesembuhan bukanlah rencana Tuhan bagi setiap orang dalam hidup ini. Dan ada banyak cara lainnya untuk menyia-nyiakan kanker yang kita hadapi.
Sembari terus berdoa untuk diri saya sendiri, saya juga berdoa bagi Saudara, supaya kita semua tidak akan menyia-nyiakan penyakit yang kita alami. Lima tahun setelah operasi yang saya jalani hari itu, hasil‐hasil pemeriksaan seolah menunjukkan bahwa penyakit saya telah teratasi oleh tim medis. Namun saya belajar bahwa hari ini kita bisa berpikir bahwa kita baik-baik saja, dan esok harinya kita menemukan kenyataan yang sangat berbeda.

Jadi sekarang, ketika orang bertanya kepada saya, “Bagaimana kondisi kesehatan Anda?” saya pun menjawab, “Saya merasa baik, dan menurut para dokter kondisi saya baik-baik saja.” Yang sebenarnya berarti: “Saya tidak tahu persis bagaimana sebenarnya kondisi saya; hanya Tuhan yang tahu.” Mengetahui bahwa Tuhan memahami, peduli, dan berdaulat atas segala situasi, itu cukup. Satu bagian firman Tuhan yang melintas di benak saya ketika sedang menunggu hasil biopsi adalah 1 Tesalonika 5:9-10: “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” Itu cukup. Allah memilih saya bukan untuk dihukum, tetapi untuk hidup bersama dengan Dia. Sampai kelak kita bertemu dengan Tuhan, biarlah Tuhan menolong kita untuk tidak menyia-nyiakan, baik kesehatan kita maupun penyakit kanker kita.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin yang penuh pengharapan dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Segala penderitaan bermuara pada kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Allah telah membiarkan dunia ini menjadi kesia-sian karena ketidaktaatan manusia itu (Roma 8:20). Jadi, dalam satu pengertian, semua penderitaan adalah penghakiman. Namun, karena Kristus telah menanggung penghakiman kita, penderitaan tidak lagi berarti demikian bagi kita yang sudah percaya kepada-Nya. Bagi kita, segala keluhan karena penyakit telah menjadi “sakit bersalin” dalam penantian akan kelahiran ciptaan yang baru. “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Roma 8:22-23).

Ketika Allah membiarkan dunia ini menjadi kesia‐siaan, Dia melakukannya “dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:21). Jadi, keluhan rasa sakit saat kita mengalami kanker memiliki arti ganda. Rasa sakit itu menunjukkan betapa mengerikannya dosa, sekaligus menunjukkan bahwa kemerdekaan yang mulia kelak akan datang. Kita akan menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak mendengarkan dalam keluhan-keluhan kita, sakit bersalin bagi kelahiran ciptaan yang baru. Sakit bersalin menandakan ada sesuatu yang luar biasa yang akan segera datang. Itulah arti kanker kita. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala- galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” (2 Korintus 4:17). Jangan salah mengartikan keluhan Anda sendiri. Jangan sia-siakan kesaksian yang diberitakan oleh kanker Anda sendiri.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita tidak percaya bahwa kanker itu dirancangkan Allah untuk kita Janggal rasanya untuk berkata bahwa Allah hanya menggunakan kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apa yang diizinkan Allah ada, diizinkan-Nya untuk suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangan-Nya. Jika Allah sudah mengetahui sebelumnya bahwa ada sel-sel yang akan berkembang menjadi kanker, Dia dapat menghentikannya atau tidak menghentikannya. Jika Dia tidak menghentikannya, Dia memiliki tujuan. Karena Dia maha bijak, sah‐sah saja kalau kita menganggap tujuan ini sebagai apa yang memang sudah dirancangkan‐Nya.

Iblis benar ada dan bisa menyebabkan banyak kenikmatan serta penderitaan. Namun, ia tidak mahakuasa. Jadi, ketika ia membuat Ayub menderita banyak borok yang busuk (Ayub 2:7), Ayub tetap menganggap penyakit itu datang dari Allah (Ayub 2:10), dan penulis kitab yang diinspirasikan Allah ini juga sependapat: “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancangkan Allah bagi kita, kita akan menyia-nyiakannya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita percaya bahwa kanker itu adalah kutukan, bukan karunia. Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita lebih berusaha mencari penghiburan dari pemikiran kita yang terbatas dan bukan dari Allah.

Seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya bertanya kepada saya, “Dapatkan sebuah keluarga Kristen kena kutuk?” Ada begitu banyak hal yang telah terjadi pada orang ini. Jawaban saya adalah tidak, namun semua yang menimpanya jelas bisa terasa seperti kutukan. Iblis berusaha menghancurkan sebagian dari kita dengan memberikan kesehatan yang baik dan kekayaan yang melimpah, yang dapat menghimpit iman kita (Matius 13:22). Dan, ia juga berusaha untuk menghancurkan sebagian yang lain dengan memperbanyak kesusahan mereka (Lukas 13:16).

Namun alasan saya mengatakan bahwa umat Allah tidak bisa ditimpa kutuk adalah karena Allah sendiri berfirman kepada umat-Nya, “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). Dan yang lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus telah dipersatukan di dalam Dia, dan di dalam Dia tidak ada penghukuman (Roma 8:1). Tidak ada kutukan. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia 3:13). Kristus telah menanggung kutuk penghukuman dan penyakit yang seharusnya menimpa kita. Itu berarti penyakit yang masih harus kita tanggung bukanlah kutukan. Kondisi itu telah diubah dari jalan penghukuman menuju neraka menjadi jalan pemurnian menuju sorga. Kita tidak dikutuk. Sesulit apa pun rasanya, kita percaya bahwa Allah tidak menahan kebaikan. Dia melakukan apa yang baik. Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. (Mazmur 84:12)

Rancangan Allah melalui kanker kita bukanlah untuk melatih kita dalam pemikiran yang rasional dan pertimbangan manusiawi akan suatu masalah. Dunia mendapatkan penghiburan dari pemikiran-pemikirannya sendiri. Orang Kristen tidaklah demikian. Ada orang yang mengandalkan kereta perangnya (kemungkinan bertahan hidup), ada pula yang mengandalkan kudanya (dampak pengobatannya), tetapi kita mengandalkan kuasa TUHAN, Allah kita (Mazmur 20:8). Rancangan Tuhan sangat jelas dalam 2 Korintus 1:9: “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang‐orang mati.” Tujuan Allah melalui kanker kita (di antara ribuan hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan segala hal lain yang kita andalkan dalam hati, supaya kita benar-benar bergantung penuh pada-Nya.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menolak untuk memikirkan tentang kematian Kita semua akan mati jika Tuhan Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak memikirkan bagaimana jika kita kelak mati dan bertemu Allah adalah sebuah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”

Bagaimana kita bisa memperhatikannya jika kita bahkan tidak pernah memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari kita berarti memikirkan bahwa hari-hari itu singkat dan akan berakhir. Bagaimana kita dapat memperoleh hati yang bijaksana jika kita tidak mau memikirkan hal ini? Betapa sia-sianya jika kita tidak memikirkan tentang kematian.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita berpikir bahwa “melawan” kanker berarti bertahan hidup, bukannya mengasihi dan bersukacita karena Kristus Iblis dan Allah memiliki rancangan yang berbeda melalui kanker kita. Iblis bermaksud menghancurkan kasih kita kepada Kristus. Allah bermaksud memperdalam kasih kita kepada Kristus. Kanker tidak menang ketika kita mati. Kanker menang ketika kita tidak lagi mengasihi dan bersukacita karena Kristus. Allah bermaksud menyapih kita dari air susu dunia dan membawa kita berpesta dengan segala kelimpahan dalam Kristus.

Melalui kanker Dia menolong kita untuk berkata dan merasakan: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Filipi 3:8) dan karena itu, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita menghabiskan terlalu banyak waktu membaca tentang kanker dan tidak punya cukup waktu untuk membaca tentang Allah Tidaklah salah untuk mengetahui seluk beluk kanker. Tidak mau tahu bukanlah sikap yang baik. Namun, besarnya keinginan untuk terus-menerus mencari tahu tentang kanker yang dibarengi dengan kurangnya gairah untuk mengetahui lebih banyak tentang Allah, adalah gejala-gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita tentang siapa Allah. Kanker dimaksudkan untuk meletakkan perasaan dan keinginan di belakang perintah, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN” (Hosea 6:3).

Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita akan kebenaran dari Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksudkan untuk menumbuhkan kita seperti pohon yang kokoh dan tak terguncangkan: “[Orang] yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Betapa kita menyia-nyiakan kanker kita, jika siang malam kita membaca tentang kanker dan bukan tentang Allah.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita membiarkannya membawa kita dalam kesepian dan bukannya memperdalam hubungan-hubungan kita dengan kasih yang nyata. Ketika Efaproditus mengantarkan pemberian jemaat di Filipi bagi Paulus, ia jatuh sakit dan hampir mati. Paulus memberi tahu jemaat di Filipi, “[Efaproditus] sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh sikap yang mengagumkan! Tidak dikatakan di sini bahwa jemaat Filipi bersusah hati karena dia jatuh sakit, tetapi sebaliknya, dikatakan bahwa Efaproditus yang bersusah hati karena mereka mendengar bahwa dia jatuh sakit. Hati semacam inilah yang hendak Allah bentuk melalui kanker: hati yang penuh kasih dan kepedulian bagi sesama. Jangan sia-siakan kanker Anda dengan menarik diri dari orang lain.

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita bersedih hati seperti orang yang tidak berpengharapan. Paulus menggunakan ungkapan yang menggambarkan kesedihan hati seperti orang yang tak berpengharapan ini ketika ia berbicara kepada jemaat yang kehilangan orang-orang yang dikasihi mereka: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita saat kematian. Orang percaya sekalipun mengalami kehilangan sementara saat meninggal: kehilangan tubuh, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun dukacita orang percaya berbeda karena dipenuhi dengan pengharapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker dengan berduka sama seperti orang-orang yang tidak memiliki pengharapan ini.

Pikirkanlah juga bagaimana berperang bersama kanker. Segala dosa yang disebutkan tadi adalah musuh-musuh yang lebih berbahaya daripada kanker. Jangan sia- siakan kekuatan kanker yang dapat menghancurkan semua musuh ini. Biarkan sudut pandang kekekalan membuat dosa-dosa tampak tidak menarik sama sekali bagi kita, karena sesungguhnya dosa memang tidak menarik. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).

Kita menyia-nyiakan kanker kita jika kita gagal memakainya sebagai sarana untuk menyaksikan kebenaran dan kemuliaan Kristus Orang-orang Kristen tidak pernah ada dalam suatu situasi karena kebetulan. Selalu ada alasan mengapa kita berada di dalam suatu situasi. Pikirkanlah apa yang Yesus katakan mengenai situasi yang tidak enak dan tidak pernah direncanakan para murid: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara- penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Demikian juga kanker. Kanker akan menjadi kesempatan untuk bersaksi.

Kristus sangatlah berharga dan tidak ada bandingannya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa Dia jauh lebih berharga daripada hidup Anda. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ingatlah, Anda tidak dibiarkan sendiri. Anda akan mendapatkan pertolongan yang Anda butuhkan. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Di situs desiringGod.org, Anda akan menemukan hampir semua tulisan dan khotbah John Piper, termasuk lebih dari 30 buku yang dipublikasikannya. Kami telah membuat khotbah-khotbahnya selama 25 tahun tersedia gratis secara online untuk Anda baca, dengar, unduh, dan sebagian lagi dapat dilihat dalam bentuk video.

Baca juga artikel lainnya
Categories
Resensi Buku

Walking with God through Pain and Suffering

Walking with God through Pain and Suffering

TheHope.id – Dalam bulan Juli, ada peristiwa penuh ratap, tangis kedukaan. Sebagai seorang hamba Tuhan yang harus mengambil bagian untuk tugas menghibur dan menguatkan. Buku Timothy Keller menghibur dan menguatkan saya secara pribadi. Maka resensi buku yang sederhana ini, kiranya dapat menganguatkan kita.

Kehidupan di dunia yang telah jatuh dalam dosa, membuat manusia penuh keluhan dan tangisan. Keluhan, tangisan dan penderitaan ini dapat kita jumpai di mana-mana, manusia berada. Timothy Keller dengan sangat baik menuliskan bukunya yang berjudul “Walking with God through Pain and Suffering”, (2015). Tim Keller menuliskan bukan hanya sebagai hamba Tuhan yang mumpuni tetapi juga yang sedang mengalami apa yang sesungguhnya penderitaan di tengah pelayanannya – ia menderita kangker saat ini.

Penulisan secara bijak, hati-hati dan tanpa menghakimi tapi pemikiran dari kebenaran Alkitab. Ia menuliskan yang terjadi pada manusia umumnya juga orang Kristen pada umumnya, saat mengalami penderitaan, seperti pertanyaan ini mengapa ini terjadi padaku? Dimana Tuhan saat aku mengalami ini dan itu? Mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami hal yang berat dan menyakitkan seperti ini? Dan bukankah pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang normal ditanyakan oleh hampir seluruh umat manusia? Inilah penderitaan, tanpa definisi kita sudah tahu bahkan sudah mengalaminya.

Penderitaan di tangan Allah dapat menjadi sesuatu yang berbeda, penderitaan yang tak bermakna dan menyusahkan dapat menjadi hal yang paling bermakna dan meneguhkan iman, penderitaan yang merugikan bisa menjadi sesuatu yang dapat kita ambil manfaatnya, bahkan penderitaan inilah yang dapat menjadi salah satu jalan terbaik untuk dapat mengenal Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah yang diajarkan Tim Keller, mutiara-mutiara kehidupan yang ada dalam penderitaan itu.

Tim Keller membagi bukunya menjadi 3 bagian besar. Ia membandingkan Kekristenan dengan filosofi sekular barat dan juga filosofi agama-agama timur seperti Buddhisme, Hinduisme (Karma), termasuk ajaran-ajaran filsafat Yunani (Stoa) dalam meresponi sebuah penderitaan. Meskipun singkat, hanya dalam beberapa bab saja, namun Tim Keller menjelaskan perbedaan dan keunggulan filosofi Kristen dibanding filosofi-filosofi lain dengan sangat baik dan meyakinkan.

Ia juga mengulas mengenai masalah kejahatan (problem of evil) yang bukan hanya beban bagi Kekristenan saja untuk memberikan penjelasan, namun juga pada orang-orang yang memegang keyakinan berbeda dengan Kekristenan. Sekilas problem kejahatan tetap ada dan tetap belum terselesaikan saat kita menyangkali keberadaan Allah.

Menyangkali Allah yang di perkenalkan oleh Alkitab tidak menyelesaikan problem kejahatan dan penderitaan ini, penyangkalan ini malah akan membuat kita kehilangan sumber kekuatan terbesar untuk bertahan dan melihat hal-hal buruk tersebut sebagai hal yang bermakna dalam hidup kita. Dan luar biasanya lagi, Allah Kekristenan selalu mempunyai cara yang luar biasa untuk membuat kita dapat bertahan di tengah badai kehidupan yang pasti ada dalam kehidupan kita. Malahan penderitaan dan kejahatan dapat menjadi bukti yang kuat akan keberadaan Allah.

Pada bagian kedua, Tim Keller banyak mengajarkan pada kita untuk melihat penderitaan sebagai sebuah perapian; rasa sakit fisik atau mental yang tak tertahankan, inilah cara-Nya memurnikan hati kita. Satu-satunya yang dapat membuat kita kuat saat berada dalam perapian adalah pengetahuan, keyakinan, dan kesadaran bahwa Allah sendiri juga pernah merasakannya. Allah merasakan perapian yang sungguh besar, yang tidak pernah mungkin bisa kita tanggung, dan itu Ia lakukan untuk kita, umat-Nya. Inilah Allah kita dalam Yesus Kristus, Allah yang menderita bersama-sama dengan kita. Allah belajar kemanusiaan melalui penderitaan-Nya saat Ia berinkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus, begitupula kita, melalui penderitaan kita dapat mengenal siapa Allah kita. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Fil 3:10). Ayat ini seperti harta dan terindah saat orang percaya menderita bersama Kristus, Tuhannya. Namun ini sungguh kebenaran menghiburkan, memang kita, manusia mana yang nyaman dengan penderitaan?

Penghiburan dari semua ini adalah menyadari bahwa Tuhan kita pun membenci penderitaan dan kejahatan yang menyakiti umat-Nya, tapi Dia memilih untuk merengkuh penderitaan itu, menderita bersama kita, dan menderita untuk kita. Ia memulihkan relasi kita dengan diri-Nya sendiri. Dan perbuatan apalagi yang lebih hebat dan besar selain menyadari bahwa Allah yang berdaulat pencipta segala sesuatu, memilih membatasi kuasanya untuk menderita bagi kita.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita, para pembaca, pada bagian ketiga dalam bukunya tentang bagaimana kita berjalan dalam perapian kesusahan dan penderitaan hidup bersama Allah. Mau tak mau kita harus berjalan, kita tak dapat berhenti dan menolak penderitaan. Tuhan kita saja menjalani penderitaan dengan hati yang rela, dan bukankah Dia teladan bagi kita?

Ada juga momen-momen di mana kita hanya bisa menangis mengeluhkan semua perkara kita pada Tuhan, kita menyatakan dengan jujur emosi kita pada Tuhan. Tuhan tahu seperti apa kita, kita dikenal oleh-Nya, Tuhan mau mendengar keluhan kita bahkan keluhan-keluhan kita yang mungkin terkesan kasar atau emosional. Karena bukankah ini yang dilakukan Ayub, ia jujur dengan perasaan dan keadaannya, Tuhan tidak marah, Tuhan malah meneguhkan dan menguatkan dia. Pengalaman kesedihannya berujung menjadi pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan yang di ingat oleh hampir miliaran orang yang membaca kisahnya.

Tim Keller juga mengajarkan pada kita untuk tetap berdoa dan percaya sekalipun kita menderita. Ia mengutip John Newton yang berkata, “Jika anda merasa tidak mendapat apa-apa saat berdoa dan mendekatkan diri dari Tuhan, lebih lagi saat anda berusahan menjauh dari-Nya.” Ia tetap berharap pada Allah, ia tetap berdoa, ia mengeluh dalam doa sekalipun perasaannya tidak sesuai dengan kebenaran.

Sebagai musafir menuju negeri kekekalan, dunia ini bukan tujuan kita. Dunia ini hanya persinggahan saja oleh karena itu tidak boleh sedikitpun kita menyerah atau terpaku untuk tinggal selama-lamanya di dunia ini. Oleh karena itu walaupun hidup ini tidak pernah tenang, ada tangisan, ada penderitaan dan masalah silih berganti mencoba menggugurkan panggilan hidup di dalam Kristus, di dunia ini, namun ada sesuatu yang lain yang ada di dalam diri orang percaya yaitu sukacita di dalam Roh Tuhan yang terus setia menghibur dan memimpin hidup kita (bd. 1Tesalonika 1:6).

Buku ini luar biasa, membahas masalah penderitaan dari pikiran hingga ke hati. Buku ini menguatkan, menghibur dan meneguhkan orang percaya. Patut dibaca oleh orang Kristen, kalimat-kalimat mendatangkan penghiburan yang menyegarkan akal, hati dan kehidupan yang penuh sukacita besar, yang membuat Kekristenan sangat superior dibanding yang lain. Tuhan Yesus sungguh luar biasa.

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Margin

Tindakan Bukan Jadi Omongan

Tindakan Bukan Jadi Omongan

Tuhan berilah aku kekuatan untuk meneladani Yesus dihidupku selama Engkau bisa ditiru. Dr. David LivingStone, doanya ketika menebos hutan Afrika

Dalam Story of Amazing Grace, dituliskan, setelah sekian waktu yang berliku dan gelap. William Wilberforce, seorang politikus pejuang kebebasan budak bertemu dengan John Newton. Di ruang kerjanya, John Newton mantan pedagang budak diperlihatkan sudah tua dan hampir buta, dimakan usia itu, berkata kepada William Wilberforce,

“Di sinilah aku tulis pengakuanku. Dengan mataku sendiri melihat, bagaimana manusia yang menjadi budak. Mereka mengalami perlakuan keji, penyiksaan dan kematian lalu di jual sebagai budak. Mereka seperti bukan manusia. Dua hal aku terus ingat dengan jelas bahwa aku adalah pendosa besar dan Kristus Juruselamat yang sejati. Dan anugerah telah mencelikkan mataku. Dulu aku buta sekarang melihat.“

Mulut John Newton masih belum terkatub. Lalu ia berdiri goyah. William Wilberforce menyaksikan hal itu dengan sigap memegang kedua lengannya John Newton. Sedetik kemudian John Newton tangannya menyentuh lembar-lembar kertas yang warnanya kusam, dimakan waktu. Nampaknya kertas dokumen yang berisi catatan nama-nama budak yang pernah dijualnya. Ia menangis dihadapan William Wilberforce, dan dengan suara yang bergetar menitipkan pesan agar dia memperjuangkan penghapusan perbudakan. Perjuangan penghapusan budakpun dimulai.

Tanpa bisa melihat apalagi mengalaminya kasih Allah, mungkinkah orang bahkan orang kristen sekalipun bisa menyatakan kasih? Atau lebih tepatnya buah Roh seperti yang di tulis oleh Paulus, tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan. Mungkinkah bisa diwujudkan apalagi dibagikan dalam kehidupan sehari-hari?. Atau hanya cukup jadi bahan diskusi?.

Seperti halnya pengakuan John Newton, buta tidak bisa melihat manusia itu adalah manusia. Jika manusia masih buta dan lebih tepatnya lagi terbelenggu dosa yang membuatnya buta. Mereka mustahil bisa menyatakan buah Roh dalam perbuatan nyata.

Karena itu Paulus menulis dengan tegas dan jelas; “ Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu…”Galatia 5:1-2. (ys)
Facebook
WhatsApp
Categories
Muda Inspiratif

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

“Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”

Suster Lucy
Oleh: Eka Setia Dharma

Ia manusia biasa

Era teknologi informasi melahirkan gejala budara crazy rich. Anak-anak muda pada menyenangi dan memuja kaum muda yang suka dan menjadi crazy rich. Kaya, muda dan terkenal. Kemana ia pergi, selalu ada yang memujanya. Budaya crazy rich seolah menawarkan kemudahan dan kekayaan walaupun ada segelintir anak muda yang dikatakan orang crazy rich, namun untuk mereka lain. Mereka ada yang hidup dengan budaya kebersahajaan, salah satu Grace Tahir, orang Glodok menjadi perbincangan publik setelah ayahnya Dato Sri Tahir menduduki peringkat 16 orang terkaya di dunia 2021 versi Forbes.

Namun yang lain dari yang berbeda itu yang mungkin disebut “crazy”, oleh dunia. Lucy Agnes, putri keluarga bos Djarum yang menolak hidup mewah, jadi biarawati di negara termiskin, Timor Leste. Benarlah, nats Alkitab yang menyatakan “Dunia ini tidak layak bagi mereka…(Ibr 11:38). Gadis pemilik nama lengkap Maria Donna Dewiyanti Darmoko ini adalah keponakan dari Robert Budi Hartono pemilik BCA dan Djarum.

Negara tempat Lucy bertugas adalah Timor Leste. Negara tetangga Indonesia itu merupakan salah satu negara termiskin di Asia. Berdasarkan kabar yang beredar, dia dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dengan hanya memiliki dua set pakaian.

Lucy merupakan putri dari Paul dan Cecilia Darmoko. Dia termasuk ke dalam keluarga Hartono dari garis keturunan ibunya yang merupakan saudara sepupu Robert Budi Hartono. Seperti dirilis Grid.ID, ada yang unik dari seorang suster Lucy, bahwa Robert Budi Hartono bos perusahaan rokok terkemuka Djarum, maka Lucy merupakan yang cucu dari pemilik dari konglomerasi Djarum. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah pemilik restoran Ayam Bulungan.

Orang melihat semua ada dan tersedia, namun siapa yang bisa menyediakan apa yang dibutuhkan oleh hati orang. Jika hati orang yang membutuhkan “air yang hidup”, dan jika ia sudah mendapatkan hal itu, mungkinkah ia akan mencari hal lain yang telah melepaskankan dahaga jiwanya? Bahkan di hidupnya air yang hidup itu akan terus mengalir berlimpah dan orang-orang yang kehausan akan membutuhkan air yang hidup itu sedang menantinya? < br>
Maka saat Lucy bertekad untuk menjadi biarawati itu muncul saat dia dan keluarga berlibur ke Hongkong. Dia merasa iba dan hatinya tergerak untuk membantu para tunawisma yang keadaannya memprihatinkan. Keibaan dan tergerak hati membantu mereka sebenarnya itu ada hal yang jauh lebih besar dari rasa iba dan tergerak, yaitu kasih. Kasih bukan kasih manusia yang terbatas, tapi kasih yang membutuhkan jiwa dan hidupnya yang terbakar oleh belas kasihan Tuhan. Dari sinilah kasih Ilahi yang terus mengalir dan mengairi hati manusia yang percaya kepada-Nya.

Menjadi biarawan untuk orang yang tersingkir

Menurut rekan-rekannya, Suster Lucy yang kuliah S2 di Amerika Serikat ini sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya. Di Kalkuta, India, di mana ia pernah menjadi sekretaris pimpinan kongregasi Missionaris Claris , konon Lucy paling sedia jika harus mendampingi orang-orang yang sekarat.

Ia juga tanpa ragu dengan sabar dan kasih mau mencabuti belatung-belatung dari luka-luka membusuk di tubuh dan kepala pasien. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih. Rasa kasih telah membuat dirinya belajar untuk mengerti, saat aku kelaparan, kamu ada memberiku makan. Saat aku menderita kamu datang merawat aku yang luka.

Gadis yang telah akrap dengan kesederhanaan ini yang kerap disapa Suster Lucy itu memilih mengabdikan dirinya untuk membantu orang tidak mampu karena rasa iba melihat banyak tunawisma. Para warganet pun tersentuh melihat kehidupan yang dijalani oleh Lucy. Mereka menilai, kemampuan Lucy dalam mengalahkan nafsu duniawi patut diacungi jempol.

“Aku kagum.. Meninggalkan semua kemewahan dunia memilih jalan Tuhan,” tulis akun di kolom komentar. “Tuhan Memberkati Suster Lucy.tidak perduli dgn harta kekayaan tapi memilih menjadi suster dan melayani bersama,” kata akun TikTok De. Tetapi ia sebenarnya apa yang disaksikan dalam hidupnya dan yang dikerjakan bukan untuk membuat orang kagum atas dirinya karena Kristus Yesus yang Kasih adanya, itulah yang “nampak” dalam semua tindakan dan hidupnya.

Keputusan dan pilihan

Keputusan untuk hidup dan melayani menjadi seorang suster dan membantu banyak orang tidak mampu. Meskipun berasal dari keluarga orang paling kaya di Indonesia, Lucy Agnes nyatanya memilih hidup sederhana dan melayani umat dan bertugas di Timor Timur yang merupakan salah satu negara paling miskin di Asia.

Lucy sempat menjalani pendidikan S2 di Amerika Serikat, ia sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannya saat ini. Sekadar diketahui, Biarawati dalam agama Katolik merupakan seorang wanita yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius. Di Indonesia, para biarawati seringkali dipanggil suster yang biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum.

Sifat sederhana Suster Lucy sudah terlihat sejak remaja. “Saat masih SMA, kalau dibelikan orang tuanya tas-tas mahal, dia enggak mau pake,” kata kerabatnya. Seperti Tuhan sedang menyiapkan keadaan untuk hidupnya tapi suatu keadaan bukanlah suatu pilihan untuk panggilan. Setiap kali rasa keterbatasan diri sebagai manusia yang melayani di kalangan orang-orang yang sangat terbatas. Hatinya timbul rasa ketidakmampuan dalam segala hal maka sebagai manusia ia mengingat kembali akan kata-kata ibu Teresa yang disaksikan saat ia melangkah sedia memenuhi panggilannya. “Letakkan tanganmu dalam Tangan-Nya, dan berjalanlah sendirian bersama-Nya”, itu nasehat ibunya kepada seorang anak yang berumur delapan belas tahun yang dikenal sekarang ibu Teresa. Maka tidak ada lagi atau kalau ada ia belajar, melepaskan kepada Kristus. Ya, mungkinkah hati Yesus tidak merasakan kegundahan dan kegelisahan kita? Mustahil, bukan?

Suster Lucy Agnes yang seperti di foto sederhana dalam balutan jubah khas pengikut Bunda Teresa. Terlihat aura kedamaian dari dirinya. Kerabat Suster Lucy Agnes tidak bersedia diekspose jati dirinya. “Panggil saja, Suster Lucy Agnes…”, ucapnya. Kita bisa menatap bening sinar matanya beningya hati. (ED)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Komik

“Ojo Wedi”

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Sapaan Gembala

Olimpiade Kehidupan

Olimpiade Kehidupan

Apakah ada di antara kita yang menyaksikan perhelatan olahraga terbesar di dunia yaitu Olimpiade 2020 yang bertempat di Tokyo? Setidaknya ada 8 (delapan) cabang olahraga baru yang dipertandingkan disana: skateboard, surfing, baseball, softball, karate, climbing, basket 3x3 dan BMX freestyle. Setiap perhelatan Olimpiade ada saja cabang baru, namun bukan itu yang menjadi sorotan dalam Olimpiade 2020.

Oleh: Steeven Adrian
Secara luar biasa Cina berhasil keluar sebagai juara umum Olimpiade 2020, tercatat sebagai negara dari Benua Asia yang berhasil menjadi juara umum, bukan 1 kali, tetapi 2 kali (terakhir tahun 2008). Olimpiade yang berawal dari tahun 1896, sudah 28 kali olimpiade dilaksanakan dan juara umum didominasi oleh negara Amerika yang menjadi juara umum sebanyak 17 kali. Amerika sudah siap juara umum di tahun 2020 namun kemudian disusul Cina. Mengapa bisa demikian? Kalau kita mencari dari berbagai media di internet banyak artikel yang mengulas bagaimana negara Cina mempersiapkan atlet-atlet ini sejak kecil. Mereka ‘dipaksa’ sedemikian rupa untuk menjadi yang terbaik. Didikan yang keras namun demi sebuah hasil yang terbaik. Olimpiade Tokyo 2020 menjadi saksi keberhasilan didikan calon-calon atlet Cina.

Sebagaimana perhelatan olimpiade, bukankah hidup kita pun seringkali diasosiasikan sebagai gelanggang pertandingan? Apakah kita cukup mempersiapkan diri kita untuk memenangi pertandingan itu dan layak untuk menerima mahkota kehidupan yang tersedia bagi kita? Jawaban hal-hal tersebut ada dalam pertanyaan: “Apakah kita menerima didikan Allah dengan baik?”, 1 Korintus 11:32 menyatakan, “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Ada didikan-didikan Tuhan dalam hidup ini. Firman Tuhan yang kita baca dan renungkan setiap hari adalah patokan untuk kita dapat memenangkan pertandingan hidup. Namun seringkali ada kalanya kita keluar dari patokan tersebut sehingga Tuhan harus ‘menghajar’ kita bukan untuk menghancurkan hidup ini, melainkan untuk mendidik kita supaya di kemudian hari kita keluar sebagai pemenang-pemenang.

Di dalam ayat yang yang kita renungkan tersebut, nampak sekali bahwa Tuhan sangat tidak mau kita kalah dan kemudian dihukum bersama-sama dengan dunia ini. Ia mau kita menang dan bersama-sama merayakan kemenangan itu di Surga yang kekal. Kuncinya hanya satu: yaitu terima didikan dari Allah dengan respon yang benar, dan semoga kita dapat memenangkan perhelatan ‘olimpiade’ hidup ini dan keluar sebagai orang-orang yang bukan hanya menang, namun mengukir sejarah yang akan diteruskan sebagai warisan iman bagi generasi-generasi selanjutnya.
Facebook
WhatsApp
Categories
Teropong

The Blessing

The Blessing

Oleh: Pdt. Hendra Londa

Pada umumnya banyak orang Kristen memahami “berkat” dalam keterkaitan kelimpahan, kesuksesan, kesembuhan dan hal-hal yang memberikan janji tentang sesuatu yang lebih baik. Dalam Perjanjian Lama kata berkat diterjemahkan dari kata Ibrani “berakhah” berasal dari kata kerja “barakh” yang bermakna memberkati, terpujilah,diberkatilah, mendapat berkat, pujilah , mohon berkat,memberkati berlimpah-limpah dan masih banyak arti yang lainnya. Kata berkat itu sendiri dalam PL digunakan sebanyak 640 kali. Dan dalam Perjanjian Baru kata berkat diterjemahkan dari Bahasa Yunani “oilogeo” yang artinya perkataan yang baik yang digunakan biasanya untuk kata-kata pujian syukur yang memuliakan Tuhan. Dalam Lukas 24:50-53, kata “oilogeo” disejajarkan dengan seorang imam besar saat memberkati bangsanya. Seperti yang tertulis dalam Imamat 9:22 “Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka,…” Kristus memberkati murid-murid sebagai seorang yang memiliki wewenang untuk itu, dengan memerintahkan berkat kepada murid-murid-Nya (Mat. 28:18). Dia memberkati mereka, seperti Yakub memberkati anak-anaknya.

Apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga adalah suatu “berkat yang istimewa” yaitu berkat “penyertaan” untuk meyakinkan murid-murid bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu, dan Ia berjanji menyertai mereka selamalamanya (Mat.28:20b). Berkat penyertaan ini adalah berkat yang sifatnya kekal karena penyertaan Yesus tidak bersifat sementara, tetapi kekal. Artinya ketika murid-murid taat pergi melakukan perintah-Nya untuk memberitakan Injil, bukan saja Ia berjanji menyertai selama-lama-Nya, Ia juga melengkapinya dengan kuasa Roh Kudus untuk membuktikan bahwa mereka tidak ditinggalkan sendiri. Dan janji yang sama itu juga berlaku bagi orang-orang hasil dari pelayanan mereka, yaitu jemaat mula-mula (Kis.2:41). Para rasul, dan sejumlah orang percaya lain seperti: Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus, melalui orang-orang ini Firman Allah semakin tersabar dan jumlah murid di Yerusalem semakin bertambah banyak karena sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya kepada Yesus (Kis. 6:5,7). Juga ada anak-anak rohani para rasul yang dipercayakan untuk memelihara jemaat seperti Timotius, Titus, Filemon, Apfia, Arkhipus dan ke tujuh jemaat di Asia kecil (1 Ptr.1:1; Why.1:4), hingga Eropa dan seluruh dunia. Kalau gereja hadir dan terus berkembang hingga hari ini, dapat dipastikan karena berkat penyertaan Tuhan bagi pribadi-pribadi yang mau percaya dan taat untuk pergi memberitakan Injil. Sehingga menjadi bukti dari penggenapan janji penyertaan Tuhan atas gereja-Nya saat ini. Bahwa dengan mengangkat tangan memberkati murid-murid sebelum Ia terangkat, membawa dampak yang sangat besar hingga hari ini.

Berkat penyertaan yang diberikan kepada para murid, tidaklah diberikan secara cuma-cuma dan bukan untuk kepentingan pribadi mereka saja. Tetapi berkat itu untuk kepentingan pemberitaan Injil. Dari pengutusan para murid hingga gereja Tuhan (orang percaya) saat ini, janji penyertaan Tuhan Yesus tidak berkesudahan. Supaya berita keselamatan dapat tersebar semakin meluas hingga ke ujung bumi. Maksudnya, para murid dan semua orang percaya dibekali dengan berkat penyertaan tersebut supaya mereka pergi memberitakan Injil. Dan menghasilkan murid yaitu orang-orang percaya yang kemudian dilatih untuk melakukan hal yang sama. Supaya sebagaimana gereja mula-mula, sekalipun banyak menghadapi tantangan dan penganiayaan tidak menyurutkan semangat pemberitaan Injil yang diwariskan hingga saat ini. Namun yang lebih luar biasa lagi, Yesus tidak hanya menyatakan akan menyertai tetapi Ia melakukan melalui pimpinan Roh Kudus yang Ia janjikan (Kis.1:8). Roh Kudus inilah yang akan memimpin, melengkapi dan menyertai setiap pemberita Injil. Kita patut bersyukur bahwa hadirnya Roh Kudus sebagai penolong, akan memampukan setiap orang percaya untuk melakukan pemberitaan Injil. Roh Kudus akan melengkapi setiap pemberita Injil dengan kuasa untuk bersaksi di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis.1:8). Bagi Gereja dewasa ini, kita harus memahami bahwa berkat penyertaan itu tidak berhenti sampai pada masa rasul-rasul saja. Tetapi hal itu berlangsung terus tanpa henti sebagaimana janji Tuhan ketika Ia akan terangkat ke sorga. Namun perlu digaris bawahi bahwa berkat tersebut atau berkat penyertaan itu diberikan bagi mereka yang “mau pergi” yakni berkaitan dengan pengutusan untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat.28:19). Hal ini berbicara mengenai ketaatan untuk pergi memberitakan Injil, maka Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai (Matius 28:20).

Jadi menerima berkat kekal, yaitu penyertaan harus dalam kaitan untuk pergi menjadi pemberita Injil. Bagi setiap orang percaya dewasa ini, janji berkat kekal tersebut berlaku dalam kesadaran bertanggung jawab menjadi saksi di marketplace, kantor, sekolah dan di manapun kita berada. Diharapkan dari pengutusan dan kesaksian itu menghasilkan orang-orang percaya yang dibentuk menjadi murid kembali untuk menerima janji yang sama. Sebagai Gereja Tuhan/orang percaya di zaman ini, mari sama-sama kita teruskan tugas pemberitaan Injil yang telah dimulai di Yerusalem dan terus bergerak kepada orang-orang terdekat hingga orangorang yang Tuhan pertemukan dengan setiap kita. Selain memperoleh berkat penyertaan itu, kita juga menjadi berkat dan berdampak lebih luas. Mari kita senantiasa percaya akan janji Tuhan, yaitu “… Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20b). (-hl)

Facebook
WhatsApp
Categories
Seputar Sinode

MPH Sinode GIA Lantik Pdt. Mulyadi Kaleb Jadi Pejabat Gembala Jemaat (Pj. GJ) GIA Lengkong Besar Bandung

- SEPUTAR SINODE -

MPH Sinode GIA Lantik Pdt. Mulyadi Kaleb Jadi Pejabat Gembala Jemaat (Pj. GJ) GIA Lengkong Besar Bandung

Pdt. Mulyadi Kaleb resmi dilantik menjadi Pejabat Gembala Jemaat (Pj. GJ) di Gereja Isa Almasih Jemaat Lengkong Besar Bandung pada ibadah kedua pukul 10.00 WIB, Minggu 22 Mei 2022, oleh Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih Pdt. Dr. Jairus Hasugian. Pengangkatan Pj. GJ berdasarkan Surat Keputusan MPH Sinode GIA tentang Pengangkatan Pejabat Gembala Jemaat 05.282/SK-MPH/5/2022 dan disaksikan oleh jemaat GIA Lengkong Besar Bandung.

Pelantikan Gembala Jemaat GIA Lengkong Besar Bandung Pdt. Mulyadi Kaleb
Dalam pembacaan isi SK tersebut dinyatakan bahwa Pdt. Mulyadi Kaleb memenuhi syarat untuk diangkat sebagai Pejabat Gembala Jemaat dalam lingkungan Sinode GIA. Pengangkatan tersebut dilaksanakan oleh MPH Sinode pada 22 Mei 2022 di hadapan jemaat, dan sejak pengangkatan ini maka pejabat tersebut dapat berfungsi sesuai dengan jabatannya di lingkungan Sinode GIA khususnya di jemaat lokal yang memanggilnya dan bertanggung jawab terhadap MPH Sinode GIA. Tugas kedudukan dan wewenang berpegang kepada tata tertib Sinode GIA bab 4 pasal 19 a, c, dan d. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan berakhir pada 22 Mei 2024. Jika akan diperpanjang, maka MPH akan memberi surat keputusan, dan tidak perlu melakukan ibadah khusus lagi. Selanjutnya jika ada kesalahan dalam keputusan ini atau memerlukan perubahan, maka akan dibetulkan atau dicabut oleh MPH Sinode GIA. SK tersebut ditetapkan di Semarang dan ditandatangani oleh Ketua Umum MPH Sinode GIA Pdt. Gunawan Susanto, Th.d dan Sekum Pdt. Dr. Jairus Hasugian.
Penahbisan Pdm. Krisna Firnando
Penahbisan Pendeta Muda

Dalam kesempatan yang sama ditahbiskan Vic. Krisna Firnando menjadi Pendeta Muda (Pdm). Terlaksananya penahbisan ini berdasarkan surat permohonan dari Gereja Isa Almasih Jemaat Lengkong Besar no. 15002/MAJ/GIA-LB/2022 tanggal 15 Februari 2022 tentang Penahbisan Pendeta Muda.

Penahbisan jabatan menjadi Pendeta Muda untuk melengkapi pelayanannya di lingkup GIA Jemaat Lengkong Besar Bandung, khususnya di Rayon Arcamanik.
Majelis Jemaat GIA Lengkong Besar Bandung yang diwakili oleh Pnt. Danny Christiadi dan Dkn. Daniel Soekamto memberikan pernyataan atas nama Sidang Jemaat GIA Lengkong Besar dengan mengucapkan janji akan membantu serta mendukung Vic. Krisna Firnando sebagai Pendeta Muda dalam mengemban tugas pelayanannya.

Penahbisan dipimpin oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th. (Ketua MPH) dan selanjutnya doa penahbisan oleh Pdt. Jairus Hasugian (Sekum MPH). Dalam doanya Pdt. Jairus memohon kepada Tuhan supaya Pdm. Krisna Firnando diurapi dengan hikmat, kuasa, kemampuan yang baru supaya cakap dan mampu menunaikan tugas mulia sebagai hamba Tuhan.

Sarjana musik gerejawi Pdm. Krisna Firnando sejak bulan Januari 2022 telah ditugaskan oleh Majelis Jemaat GIA Lengkong Besar Bandung untuk memimpin jemaat Rayon Arcamanik-Ujung Berung menggantikan Pdt. Ratih Indrawati, M.Th. karena telah meninggal pada 14 Oktober 2021.

HUT GIA Arcamanik ke-25 dan Ujung Berung ke-12.
Momen Penting

Pelantikan Pejabat Gembala Jemaat Pdt. Mulyadi Kaleb dan Penahbisan Pdm. Krisna Firnando terasa istimewa khususnya bagi jemaat GIA Lengkong Besar Rayon Arcamanik Bandung, karena juga bertepatan dengan Perayaan HUT Ke 25 Rayon Arcamanik dan 12 tahun keberadaan Ujung Berung sebagai sub rayon Arcamanik.

Sebelumnya Pdt. Mulyadi Kaleb melayani sebagai Penanggung Jawab Rayon Arcamanik-Ujung Berung (tahun 2000-2015). Pada tahun 2015 Pdt. Mulyadi Kaleb melanjutkan pelayanannya ke Gereja Isa Almasih jemaat Lengkong Besar sebagai Wakil Gembala. Penanggung Jawab Rayon Arcamanik Ujung Berung dilanjutkan oleh Pdt. Ratih Indrawati hingga 14 Oktober 2021 karena kepergiannya dipanggil oleh Bapa di Surga. Dalam beberapa bulan jemaat Rayon Arcamanik Ujung Berung sempat mengalami kevakuman kepemimpinan. Pada bulan Januari 2022 Krisna Firnando melanjutkan tongkat kepemimpinan Rayon Arcamanik Ujung Berung. Dan pada tanggal 22 Mei 2022 ditahbiskan menjadi Pendeta Muda untuk memperlengkapi pelayanannya.

Empat momen penting yang terjadi dalam waktu bersamaan ini menjadi simbol ungkapan syukur kepada Tuhan, karena secara bersamaan jatuh pada bulan Mei (HUT ke-25 tahun Rayon Arcamanik, HUT ke-12 tahun Ujung Berung yang merupakan sub rayon dari Arcamanik yang selanjutnya dipakai menjadi ibadah kedua, pengangkatan Pdt. Mulyadi Kaleb menjadi Pejabat Gembala Jemaat (Pj. GJ) GIA Lengkong Besar Bandung, serta penahbisan Pdm. Krisna Firnando.

Oleh karenanya 2512 menjadi sebuah rangkaian tema “2day we 5erve Every1 in 2getherness” (baca: Today we serve everyone in togetherness) “Hari ini kita melayani semua orang dalam kebersamaan”. (-epd)

Facebook
WhatsApp

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

“Lebih dari Sekadar Selebrasi: Menemukan Kekuatan Salib dan Keberanian Diri di Goa Maria Kerep”

Semarang – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Goa Maria Kerep pada Sabtu, 11 April 2026 di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin pegunungan Ambarawa. Para wanita yang tergabung dalam D II Bagian Wanita berkumpul dengan satu tujuan: merayakan kemenangan iman dalam Ibadah Paskah 2026 yang diselenggarakan oleh GIA D II. Pagi itu, kompleks Goa Maria Kerep tidak hanya menjadi saksi bisu keheningan doa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para pengurus dan anggota D II wanita. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, menciptakan harmoni antara alam dan pujian yang dinaikkan. Puncak spiritualitas acara ini ditandai dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Victor Yudha Nugraha, M.Th. Mengusung tema “Kekuatan di Balik Salib” yang berlandaskan pada 1 Korintus 1:18, beliau mengingatkan bahwa bagi dunia salib mungkin dianggap sebagai kebodohan, namun bagi orang percaya, salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Pesan ini menyentuh hati para wanita yang hadir, menguatkan kembali peran mereka sebagai tiang doa baik di dalam keluarga maupun gereja lokal masing-masing. Namun, Paskah kali ini tidak hanya diisi dengan refleksi yang mendalam. Panitia menyisipkan sebuah kejutan yang mengubah suasana menjadi penuh tawa dan sorak-sorai. Sebagai upaya untuk membangun kepercayaan diri, sebuah acara “Fashion Show” Spontanitas pun digelar. Bukan sekadar pamer busana, tapi tentang bagaimana setiap wanita Tuhan berani tampil dengan identitasnya yang berharga di dalam Kristus. Acara unik ini berhasil mencairkan suasana, mempererat tali persaudaraan antar jemaat, dan membuktikan bahwa sukacita Paskah bisa diekspresikan dengan cara yang kreatif dan penuh percaya diri. Ibadah Paskah D II Wanita tahun 2026 ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membawa semangat “Kekuatan Salib” kembali ke rumah masing-masing. Ambarawa hari itu menjadi saksi bahwa iman dan kebersamaan adalah kombinasi indah yang menguatkan langkah setiap wanita yang hadir dalam melayani Tuhan. WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.32 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.31 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.30 PM (1) WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM WhatsApp Image 2026-04-22 at 9.54.29 PM (1)

Langkah Baru Menuju Kedewasaan: GIA Tanggungrejo Resmi Menjadi Jemaat Mandiri

Semarang – Langit Kota Semarang mulai meredup berganti senja pada Selasa, 31 Maret 2026, namun hangatnya sukacita justru terpancar dari sebuah gedung gereja di kawasan Tanggungrejo. Mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejarah baru diukir melalui Ibadah Pendewasaan GIA Jemaat Tanggungrejo, sebuah momentum sakral yang menandai kemandirian dan kematangan pelayanan jemaat setempat. Tak sekadar meresmikan status jemaat, Gembala dan Majelis baru juga dilantik dalam acara ini sebagai nakhoda yang siap membawa jemaat melangkah lebih jauh. Momen pelantikan ini disaksikan langsung oleh berbagai elemen penting dalam tubuh gereja dan pemerintahan. Kehadiran fungsionaris MPH Sinode GIA, pengurus MD II (Majelis Daerah II), serta perwakilan dari GIA Pringgading menunjukkan dukungan penuh bagi kepemimpinan yang baru dikukuhkan tersebut. Suasana ibadah pun terasa hangat dengan hadirnya Pendeta dari gereja-gereja sekitar, perwakilan Bamagnas Kota Semarang, hingga Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang yang memberikan dukungan formal sekaligus rohani bagi kelancaran acara serta pelayanan baru di GIA Tanggungrejo. Penyampaian pesan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono, S.Th. Mengambil nats dari Efesus 4:1-13, beliau menekankan tema “Bertumbuh Menuju Kedewasaan”. Dalam momen sakral tersebut, Pdt. Budi menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kedewasaan gereja. Beliau menekankan bahwa kemandirian harus dibangun di atas tiga pilar utama yaitu, menjaga kesatuan roh dalam harmoni, saling membangun dengan keberagaman talenta, serta menjadikan kebenaran dan kasih sebagai kompas utama pelayanan. Kedewasaan sebuah jemaat tidak hanya diukur dari usia atau kemandirian finansial,melainkan dari sejauh mana kasih dan kebenaran menjadi napas dalam pelayanan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat GIA Tanggungrejo bahwa kedewasaan sejati adalah tentang transformasi karakter dan ketulusan dalam melayani sesama. Suasana ibadah semakin semarak dengan kehadiran Paduan Suara Mazmur Bakti Pria GIA Pringgading. Kelompok paduan suara pria ini memberikan warna unik melalui harmoni vokal yang gagah namun menyentuh. Mereka membawakan dua buah pujian berjudul “Kasih” dan “Sorakkan Kidung Kemenangan”, yang seolah menjadi penutup manis sekaligus penyemangat bagi GIA Tanggungrejo untuk melangkah lebih jauh dalam misi pelayanan mereka ke depan. Ibadah ini berakhir dengan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bahwa menjadi dewasa berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan nama Tuhan. KLG04811 (1) KLG04780 (1) KLG04761 (2) KLG04749 KLG04741 (1) KLG04734 (2) KLG05112 KLG05110 KLG05105 KLG05048

Bersinar di Tengah Dunia: Sukacita dan Pembentukan Iman dalam Jambore Ke-7 PRBK GIA Daerah VIII Tahun 2026

Suasana penuh sukacita dan semangat mewarnai pelaksanaan Jambore Ke-7 Pemuda Remaja Bagi Kristus (PRBK) Gereja Isa Almasih Daerah VIII (Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah) yang berlangsung pada 19–21 Maret 2026 di Gereja Isa Almasih Jemaat Ngadan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian PRBK Daerah  VIII ini dihadiri oleh sekitar 130 orang, terdiri dari 99 peserta anak-anak PRBK, para hamba Tuhan dan panitia setempat. Sejak hari pertama, para peserta telah disambut dengan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak menginap di satu tempat terpusat, melainkan tersebar di rumah-rumah jemaat, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan kebersamaan yang erat. Dalam kesehariannya, para peserta menikmati kesederhanaan hidup, termasuk pengalaman mandi di sungai dengan air yang bersih. Hal ini menjadi sebuah momen yang sederhana namun berkesan. Setiap pagi, kegiatan diawali dengan doa bersama di rumah-rumah jemaat, dipimpin oleh hamba Tuhan. Momen ini menjadi dasar yang kuat sebelum peserta mengikuti rangkaian kegiatan rohani yang telah dipersiapkan. Firman Tuhan menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan, dimulai dari KKR 1 oleh Pdt. Ayub Suyono dengan tema “Shine Like Stars in the World” (Filipi 2:12–17) yang menekankan pentingnya hidup taat dan menjadi terang di tengah dunia. Seminar pertama diawali oleh Pdt. Denny Dwiatmadja Kristianto bertema “The Young Generation and the Challenges of the Times”, yang membukakan pemahaman tentang tantangan zaman serta mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Alkitab. Selanjutnya seminar 2 oleh Pdt. Wilson Butar Butar dengan tema “How Can a Young Person Stay Pure?” (Mazmur 119:9, 105) yang mengajak peserta menjaga hidup dalam kemurnian dengan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman utama. Ada pula sesi talk show bersama Pdt. Friskila Sunarsih yang dimoderatori oleh Pdm. Nancy Wayan bertema “Preparing Yourself for the Future”, memberikan pembekalan praktis dan rohani dalam mempersiapkan masa depan. Puncak kegiatan berlangsung dalam KKR ke 2 oleh Pdt. Lukas Wayan dengan tema “Young but an Example” (1 Timotius 4:7–8, 12) yang menegaskan bahwa generasi muda dapat menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Seluruh rangkaian ditutup melalui ibadah penutup oleh Pdt. Thomas Efendy dengan tema “Christ Lives in Me” (Galatia 2:20) yang mengajak peserta hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan, serta menghidupi iman kepada Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain kegiatan rohani, jambore ini juga dipenuhi dengan aktivitas kebersamaan yang menarik. Para peserta mengikuti perlombaan olahraga antar kelompok, termasuk lomba unik seperti bola tangan di sungai, yang menambah keceriaan dan kekompakan. Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kegiatan outbound dengan lima pos tantangan, yang tidak hanya menguji kekompakan tetapi juga mengandung nilai-nilai rohani. Keunikan lainnya terlihat dalam keterlibatan jemaat lokal, mulai dari penyediaan tempat tinggal hingga dukungan penuh dalam setiap kegiatan. Pelayanan musik dan pujian pun dipersiapkan dengan baik oleh tim dari berbagai gereja lokal, menciptakan suasana ibadah yang hidup dan penuh semangat. Sebagai penutup yang meriah, panitia mengadakan pemilihan “King and Queen” Jambore, serta pemberian berbagai penghargaan seperti juara outbound, juara pertandingan olahraga, yel-yel terbaik, dan kehadiran peserta terbanyak dari gereja lokal. Momen ini menjadi simbol sukacita sekaligus apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta. Jambore PRBK GIA Daerah VIII yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan menjadi wadah pembentukan iman, karakter, dan kebersamaan bagi generasi muda. Melalui setiap sesi, aktivitas, dan interaksi yang terjadi, para peserta diperlengkapi untuk menjadi generasi yang bersinar, murni, dan menjadi teladan, serta siap menghadapi masa depan bersama Kristus. 0-3840×2174-0-0# 0-4064×3074-0-0# IMG_2447.HEIC DSC02753 0-3840×2174-0-0# 0-3048×4064-0-0# 0-4064×3074-0-0# DSC03091 DSC02861

Melayani Sampai Garis Akhir: Peneguhan Seorang Hamba Tuhan

Ibadah penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan penahbisan Pendeta muda atas diri Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th pada 15 Maret 2026 di GIA Jemaat Bangsri. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi pribadi yang ditahbiskan, tetapi juga bagi jemaat dan pelayanan gereja secara keseluruhan. Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa kuat. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak di bawah koordinasi MD III sebagai penyelenggara. Para hamba Tuhan yang hadir pun disambut dengan hangat dan penuh keramahan oleh jemaat, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Prosesi peneguhan dipimpin oleh jajaran Majelis Daerah III, diantaranya pdt. Elisa Samuel C., S. Th. selaku ketua MD III, Pdt. Ishak Agus, S. Th. selaku calon PJ (Pejabat) Ketua MD 3 dan Pdt. Antonius Rahmihadi, S. Th. selaku calon PJ Sekretaris MD III. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan penuh bagi pelayanan yang akan diemban oleh pendeta muda yang ditahbiskan. Dalam khotbah yang disampaikan oleh hambaNya yaitu Pdt. Elisa Samuel Catur, S.Th , beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Rasul 20:24 mengenai panggilan pelayanan. Jemaat diajak memahami bahwa ada tiga hal penting dalam panggilan Tuhan. Hal yang pertama yaitu berani membayar harga sebagai kesiapan untuk berkorban demi panggilan ilahi. Hal yang kedua, melayani sampai garis akhir. Hal yang terakhir, menyelesaikan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Injil harus diberitakan dan dikobarkan. Rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib dan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini mencerminkan persiapan yang matang serta koordinasi yang baik dari panitia penyelenggara. Kondisi gedung gereja yang representatif dan nyaman turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk, sehingga jemaat dapat mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian dan kesungguhan. Penahbisan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan adalah hasil dari kerja bersama dalam tubuh Kristus. Dengan ditahbiskannya Sdr. Bezaliel Kris Nugroho, S.Th sebagai pendeta muda, diharapkan lahir semangat baru dalam pelayanan, serta komitmen yang semakin teguh untuk setia menjawab panggilan Tuhan hingga garis akhir. IMG_5818 IMG_5801 IMG_5768 IMG_5739 IMG_6826 IMG_6677 IMG_5905 IMG_5844 IMG_5831

Penahbisan Pendeta GIA Bawen Teguhkan Semangat Generasi Penerus

Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Gedung Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Bawen pada Minggu, 8 Maret 2026. Sejak pukul 14.00 WIB, jemaat dan para undangan mulai memenuhi ruangan ibadah untuk mengikuti Ibadah Khusus Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat, sebuah momentum penting dalam perjalanan pelayanan gereja. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan nuansa yang sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas komunitas. Ibadah penahbisan ini menjadi titik bersejarah bagi Bp. Pdm. Samuel Wasikin, S.Th., M.Ag yang secara resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan gembala jemaat GIA Bawen. Prosesi sakral tersebut dihadiri oleh MPH Sinode GIA, MD III, jajaran majelis, pengurus gereja, serta seluruh jemaat yang turut memberikan dukungan doa dan sukacita. Tidak hanya itu, kehadiran para pendeta dan hamba Tuhan dari berbagai wilayah seperti BKSAG Kabupaten Semarang, BKSAG Kecamatan Bawen, dan BKSAG Kecamatan Tuntang, serta Penyuluh Bimas Kristen Kecamatan Bawen semakin memperkuat makna persekutuan dalam tubuh Kristus. Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th dengan mengangkat tema “The Next Generation” yang berlandaskan pada Yosua 1:1-2 dan Bilangan 27:18-23. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah estafet pelayanan yang berkelanjutan. Ia menyoroti bagaimana Musa dan Yosua memiliki peran yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu tujuan ilahi, yaitu membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kegiatan ini adalah kehadiran tokoh masyarakat lintas agama, yakni Ketua RW 03 Tegalrejo, Bp. Karsono, serta Lurah Bawen, Bp. Agus Wibowo, SE. Meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, keduanya dengan penuh ketulusan mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam sesi sambutan, Bp. Agus Wibowo menyampaikan pesan yang menyejukkan tentang pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di lingkungan Tegalrejo, Kelurahan Bawen, tempat GIA Jemaat Bawen berada. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa nilai toleransi dan persaudaraan dapat terjalin dengan baik di tengah keberagaman. Ibadah penahbisan ini tidak hanya menjadi momentum rohani bagi jemaat, tetapi juga menjadi cerminan harmoni sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui penahbisan ini, diharapkan pelayanan GIA Jemaat Bawen semakin bertumbuh dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan semangat generasi penerus yang tetap berakar pada nilai-nilai iman dan kebersamaan. 1773437995608 1773437996180 1773437995916 1773437995645 1773437994791 1773437996708 1773437996562 1773437996298

Tonggak Baru Pelayanan: Pendewasaan Jemaat dan Penahbisan Gembala di GIA Rembang

Sukacita dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Pendewasaan GIA Jemaat Pati – TPI Rembang yang dirangkaikan dengan Penahbisan Pendeta dan Gembala Jemaat atas diri Pdm. Boedi Hartono pada 26 Februari 2026 di TPI Rembang. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanan jemaat sekaligus peneguhan panggilan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan umat dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIA Jemaat Pati – TPI Rembang ini dihadiri oleh MPH, MD III, hamba-hamba Tuhan GIA Daerah III, para Pendeta gereja sahabat, serta para undangan. Kebersamaan lintas pelayanan tersebut mencerminkan dukungan dan kesatuan tubuh Kristus dalam menguatkan jemaat yang memasuki fase kedewasaan pelayanan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Budi Cahyono Hartono diambil dari Yohanes 15:5 dengan tema “Hidup Melekat pada Kristus.” Dalam khotbahnya, beliau menegaskan tiga prinsip utama kehidupan pelayanan: terhubung dengan Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mempercayai Tuhan. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa melekat pada pokok anggur, demikian pula hamba Tuhan dan jemaat tidak dapat menghasilkan buah tanpa hidup yang intim dengan Kristus. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam momentum penahbisan Pdm. Boedi Hartono sebagai Pendeta dan Gembala jemaat. Penahbisan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen untuk terus hidup melekat pada Kristus dalam setiap keputusan, tantangan, dan tanggung jawab penggembalaan. Hal yang mengesankan dalam acara ini adalah semangat jemaat dan para undangan yang tetap antusias menghadiri ibadah meskipun di tengah tantangan cuaca berupa hujan dan kepadatan lalu lintas. Namun situasi tersebut tidak menyurutkan sukacita. Ibadah tetap berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh sukacita, seolah menjadi kesaksian bahwa penyertaan Tuhan nyata di tengah setiap tantangan. Melalui pendewasaan jemaat dan penahbisan ini, serta sebagai ungkapan syukur karena sudah berdirinya GIA Rembang, diharapkan pelayanan di GIA Rembang semakin bertumbuh, berbuah, dan menjadi terang bagi masyarakat sekitar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ketika jemaat dan gembala hidup melekat pada Kristus, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan menguatkan pelayanan-Nya. IMG_0590 IMG_0570 IMG_0782 WhatsApp Image 2026-02-28 at 3.30.10 PM IMG_0463 IMG_0549 IMG_0562 IMG_0570

Categories
Sapaan Gembala

Keluarga Elkana

Keluarga Elkana

Oleh: Stefani Dyah Wiworo

Apa yang kita ingat dari seorang tokoh bernama Elkana dalam 1 Samuel 1? Mungkin kita akan menjawab bahwa Elkana adalah seorang suami yang memiliki dua istri. Ya itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Elkana beristrikan Hana dan Penina. Jika kita membaca 1 Samuel 1:3, maka kita dapat melihat bahwa Elkana adalah kepala keluarga yang rajin datang kepada Tuhan.

Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1 Samuel 1:3
Apa yang kita ingat dari seorang tokoh bernama Elkana dalam 1 Samuel 1? Mungkin kita akan menjawab bahwa Elkana adalah seorang suami yang memiliki dua istri. Ya itulah kebenaran yang tertulis dalam Alkitab. Elkana beristrikan Hana dan Penina. Jika kita membaca 1 Samuel 1:3, maka kita dapat melihat bahwa Elkana adalah kepala keluarga yang rajin datang kepada Tuhan.

Bagaimana sikap Hana terhadap situasinya tersebut? Hana tidak membalas perbuatan Penina. Hana justru berseru kepada Tuhan di dalam kepedihan hatinya itu. Ia terus-menerus berdoa kepada Tuhan. Lalu bagaimana dengan Elkana, apakah ia tidak tahu kondisi hati Hana? Sejauh yang kita baca dari 1 Samuel 1:8 sepertinya Elkana kurang menyadari kondisi hati Hana, bahwa ia tidak hanya sedih karena belum memiliki anak. Hati Hana begitu pedih dan sakit oleh karena sikap dan perkataan Penina yang terus-menerus menyakiti hatinya.

Pada akhirnya, Tuhan menjawab seruan doa Hana dan memberikan anak kepadanya. Lalu Hana menyerahkan anak itu kepada Tuhan untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan.

Dari kehidupan dan pergumulan yang dihadapi keluarga ini. Ada beberapa hal yang patut menjadi pembelajaran bagi setiap kita.

Kesetiaan kepada Tuhan seharusnya mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita. Janganlah kita seperti Penina! Memang ia setia beribadah, tetapi sikapnya tidak menunjukkan perubahan dari tahun ke tahun, karena ia terus menyakiti hati orang lain. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita. Jangan sampai kita setia datang kepada Tuhan, tetapi sikap kita masih saja buruk, tidak memperlihatkan adanya perubahan. Jangan sampai kesetiaan kita datang kepada Tuhan hanya sebatas formalitas, karena tuntutan beribadah setiap hari minggu, karena tuntutan kegiatan kerohanian. Seharusnya kesetiaan kita datang kepada Tuhan mendatangkan perubahan yang benar dalam hidup kita.

Jangan menyerah dengan situasi. Hana yang terus disakiti oleh Penina, ia tetap menunjukkan sikap yang baik bahkan tidak meninggalkan Tuhan. Biarlah kita belajar dari Hana, jangan menyerah dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini. Sepedih apa pun keadaan yang kita alami. Sebanyak apa pun pergumulan yang sedang kita hadapi, tetaplah datang kepada Tuhan, berserulah kepada-Nya dan jangan tinggalkan Tuhan.